• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Mutasi Virus COVID-19

32

Artikel ini telah diterbitkan di Harian Kompas, 4 Februari 2021

PENCEGAHAN, DETEKSI & TERAPI

BAB II

124 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2

ke World Health Organization (WHO) dikaitkan dalam kerangka International Health Regulation (IHR) karena memang mutasi kali ini tampaknya lebih serius dari mutasi sebelumnya. Sepanjang Desember 2020 kemudian dilaporkan pula berbagai mutasi virus COVID-19, dan satu yang paling banyak dikawatirkan adalah mutasi B.1.351 dan E484K serta 501.V yang terjadi di Afrika Selatan.

Penularan, keganasan & PCR

Mutasi/perubahan pada bagian virus akan menghasilkan virus dengan varian baru. Secara umum ada empat hal yang kini dikaitkan dengan mutasi virus COVID-19 ini. Pertama, yang secara umum disepakati para pakar, pimpinan negara dan organisasi internasional seperti WHO dll. adalah varian baru virus COVID-19 yang sudah bermutasi ini memang lebih mudah menular, bahkan ada laporan yang mengatakan peningkatannya sampai 70% lebih tinggi.

Beberapa negara melaporkan varian baru ini mungkin jadi penyebab peningkatan kasus di negaranya, seperti misalnya Vietnam. Seperti diketahui varian dengan mutasi B.1.1.7 ini sudah ditemui di berbagai negara tetangga kita di ASEAN selain Vietnam, seperti Singapura, Malaysia dan Filipina. Direktur Jenderal WHO beberapa waktu yang lalu juga menyampaikan bahwa mutasi yang menyebabkan varian baru ini akan meningkatkan jumlah kasus dan dapat memberi beban berat pada rumah-rumah sakit yang akan makin penuh dengan pasien. Artinya, kalau ada kenaikan kasus di suatu negara maka kita perlu mempertimbangkan mutasi ini sebagai salah satu faktor penyebabnya.

Hal kedua adalah apakah mutasi ini mempengaruhi beratnya penyakit. Bukti ilmiah yang ada memang tidak menunjukkan bahwa mutasi ini membuat varian baru virus menjadi lebih ganas dan membuat pennyakit jadi makin berat. Tetapi, dengan makin meningkatnya penularan maka tentu mereka yang berusia lanjut dan dengan komorbiditas akan mungkin sekali tertular, sementara kita ketahui bahwa COVID-19 pada usia lanjut dan komorbiditas dapat menjadi lebih berat keadaannya dan lebih tinggi kemungkinan terjadinya kematian. Di sisi lain, dengan kasus yang makin banyak

maka rumah sakit dapat kewalahan menangani pasien sehingga mungkin saja mempengaruhi angka kematian.

Hal ke tiga yang juga dibicarakan adalah tentang dampak mutasi pada akurasi tes PCR. Sejauh ini para pakar masih sepakat bahwa perubahan yang ada pada mutasi belum mempengaruhi akurasi pemeriksaan PCR secara bermakna. Kita masih tetap dapat bergantung pada hasil PCR untuk menyatakan seseorang sakit COVID-19 atau tidak.

Dampak pada vaksin

Yang paling banyak dibicarakan adalah apakah mutasi yan membentuk varian baru ini akan punya dampak terhadap efek proteksi vaksin COVID-19 yang kini mulai di gunakan di dunia. Pada waktu mutasi di Inggris dan Afrika Selatan ini baru mulai dilaporkan pada Desember 2020 para pakar sepakat bahwa vaksin yang ada akan tetap dapat memberi proteksi kekebalan pada varian baru ini.

Hal ini disebabkan mutasi yang terjadi hanya pada satu atau sedikit tonjolan (“spike”) virus korona, sementara vaksin akan bekerja pada beberapa tonjolan (“spike”) sekaligus, jadi vaksin masih akan mempan mencegah penyakit. Hanya saja para ahli ketika itu sudah menyatakan bahwa nampaknya virus mulai melakukan semacam langkah-langkah pertama ke arah perubahan yang mungkin saja lebih besar di waktu mendatang.

Dalam perkembangan di bulan Januari 2021 memang lalu ada beberapa data baru. Pada 28 Januari 2021 misalnya, vaksin Novovax melaporkan punya efikasi hampir 86% pada uji klinik di Inggris pada varian baru dinegara itu. Tetapi, ternyata efikasi vaksin Novovax pada uji klinik berskala kecil di Afrika Selatan turun sampai di bawah 50%.

Hampir semua relawan yang sakit pada uji klinik di Afrika Selatan berhubungan dengan varian baru virus COVID-19 yang bermutasi di negara itu, dan ini diduga menjadi penyebab turun tajamnya efikasi vaksin dalam uji klinik Novovax di Afrika Selatan.

Contoh lain adalah pada vaksin Johnson and Johnson yang pada 30 Januari 2021 menyampaikan hasil uji kliniknya. Dilaporkan efikasi

126 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2

Amerika Serikat, 66% di Amerika Latin dan 57% di Afrika Selatan.

Relatif rendahnya efikasi di Afrika Selatan diduga berhubungan dengan kenyataan bahwa 95% kasus yang ikut dalam penelitian ini disebabkan oleh varian baru virus COVID-19, yaitu B.1.351, yang mungkin saja membuat virus menjadi kurang reaktif terhadap respon imun antibodi, mungkin termasuk antibodi yang dihasilkan dengan vaksinasi

Sementara, beberapa produsen vaksin lain ada yang menyatakan bahwa vaksinnya cukup ampuh terhadap varian baru tapi belum meberi bukti yang betul-betul valid, ada juga yang menyebutkan bahwa kalau mutasi terus berkembang maka vaksinnya akan dapat di modifikasi dalam waktu beberapa minggu sehingga tetap ampuh. Ada pula produsen vaksin yang masih mengamati perkembangan yang ada dan akan mengambil langkah kalau nanti diperlukan.

Mencegah & Antisipasi

Tentu yang jadi penting kini adalah bagaimana mencegah atau mendeteksi apakah mutasi dan varian baru ini sudah ada di Indonesia. Dari kacamata lalu lintas penerbangan intgernasional memang sudah ada pengaturan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh masuk ke Indonesia. Hanya saja perlu diketahui bahwa sudah ada laporan dari negara lain, misalnya di South Carolina Amerika Serikat, bahwa ada kasus yang ditubuhnya ada virus dengan varian Afrika Selatan padahal yang bersangkutan tidak ada riwayat bepergian, jadi mungkin saja tertular di daerah dia sendiri. Kita juga tahu bahwa beberapa laboratorium di Indonesia sudah melakukan pemeriksaan sekuensing genomik dan sejauh ini belum menemukan varian baru virus COVID-19. Akan baik kalau kegiatan ini dapat lebih ditingkatkan lagi jumlah yang diperiksa dan cakupan pasiennya, tentu yang ideal adalah dilakukan dalam bentuk surveilans genomik yang sistematik dan terstruktur baik berskala nasional. Tentu harapan kita adalah agar varian baru ini tidak masuk Indonesia, dan kalau toh sudah masuk maka akan dapat segera diidentifikasi agar antisipasi dapat dilakukan dengan baik dan jangan makin membebani masalah COVID-19 di negara kita.

Dalam beberapa hari ini cukup banyak berita tentang mutasi vaksin COVID-19. Seperti kita ketahui bahwa virus COVID-19 ,seperti juga dengan virus-virus lainnya, memang akan dapat bermutasi dari waktu ke waktu. Sejak Februari 2020 sudah diketahui adanya mutasi D614G yang juga sudah dilaporkan di negara kita.

Sejak awal pandemi maka World Health Organization (WHO) sudah bekerja sama dengan jaringan laboratorium global yang meliputi banyak negara yang meng analisa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Kemudian dibentuklah WHO’s global SARS-CoV-2 laboratory network yang melibatkan SARS-SARS-CoV-2 Virus Evolution Working Group, yang tujuannya adalah mendeteksi mutasi secara cepat dan menilai kemungkinan dampaknya pada kesehatan masyarakat. WHO merekomendasikan agar negara-negara sedapat mungkin meningkatkan kemampuan sekuensing virus SARS-CoV-2, dan lalu membagikan ditanya secara internasional untuk membantu dunia untuk memonitor dan melakukan respon pada pandemi kini.

Pada Desember 2020 pemerintah Inggris melaporkan mutasi B.1.1.7 ke WHO dalam kerangka International Health Regulation (IHR) 2005. Yang juga banyak dibahas adalah mutasi B.1.351 di Afrika Selatan, apalagi sesudah ada laporanj uji klinik vaksin Johnson &

Johnson serta Novavax yang menunjukkan efikasi di Afrika Selatan lebih rendah dari negara lain, yang antara lain di duga karena pengaruh mutasi ini. Kita juga ketahui bahwa di Brazil ada mutasi