7
Artikel ini telah diterbitkan di Harian Media Indonesia, 5 Januari 2021
VAKSIN
BAB I
30 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2
kuat, keputusan yang selalu berbasis ilmu pengetahuan, akuntabel dan mampu bekerjasama dengan komponen kesehatan lainnya. Ini berhubungan langsung dengan prinsip yang kedua, yaitu keberadaan program imunisasi nasional yang berfungsi baik dan responsif terhadap kemungkinan perkembangan di lapangan.
Kita ketahui bahwa negara memang sudah lama mempunyai program imunisasi nasionalnya, khususnya untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Seyogyanya program vaksinasi COVID-19 ini dilaksanakan juga oleh program imunisasi yang ada, dengan melihat pengalaman panjang selama ini, walau tentu perlu perkuatan yang memadai dari berbagai sektor terkait. Hanya saja karena tantangan vaksinasi COVID-19 ini akan jauh lebih besar dari program imunisasi yang selama ini berjalan maka prinsip responsif menjadi amat penting, tentu didasari pertimbangan ilmiah yang terkini.
Prinsip ke tiga adalah jaminan berjalan baiknya lima kegiatan dasar vaksinasi. Tiga dasar pertama adalah meliputi tersedianya sumber daya manusia yang terlatih dan termotivasi, komunikasi publik yang tepat tentang vaksin baru ini dan jaminan rantai dingin (cold chain) serta sistem distribusi lainnya. Lalu dua dasar selanjutnya adalah perlu ada jaminan cara pemberian vaksinasi yang aman dan pengelolaan kemungkinan efek samping serta monitoring dan evaluasi yang bermutu tinggi dimana termasuk didalamnya surveilans penyakit dan monitoring cakupan imunisasi.
Seperti diketahui kini ada beberapa jenis vaksin COVID-19 yang sudah dalam fase tiga, dan jumlahnya mungkin akan terus bertambah.
WHO bahkan menyebut vaksin COVID-19 ini sebagai “world’s largest and most diverse portfolio of vaccine candidates”. Negara dapat saja memilih beberapa jenis vaksin sekaligus untuk digunakannya, dan untuk ini harus diingat bahwa tiga sistem mungkin harus dipersiapkan secara terpisah karena masing-masing vaksin berbeda dalam berbagai aspeknya. Tiga sistem yang perlu spesifik untuk jenis vaksin tertentu itu adalah pelatihan sumber daya manusia, sistem penyimpanan dan distribusi serta sistem monitoring kemungkinan
efek samping, di tambah lagi mungkin adalah perbedaan pola komunikasi ke masyarakatnya
Masalah kesehatan
Prinsip ke empat adalah akuntabilitas sumber daya, manajemen dan keberhasilan program. Hal ini berhubungan dengan upaya maksimal agar vaksinasi COVID-19 merupakan bagian integral bersama program penyuluhan kesehatan nasional yang intensif serta program pencegahan dan pengendalian penyakit. Maksudnya tentu agar program vaksinasi COVID-19 dapat berjalan dalam kerangka paket program nasional yang efektif, layak dan terjangkau. Semtara prinsip ke lima adalah jaminan ketersediaan sumber daya manusia dan anggaran yang memadai sehingga vaksinasi COVID-19 dapat berjalan sukses tanpa harus mengganggu program pelayanan kesehatan lain di negara itu.
Prinsip ke empat dan ke lima ini seperti mengingatkan kita bersama bahwa walaupun sekarang prioritas dan perhatian penuh diberikan pada COVID-19, tetapi masalah kesehatan lain tetaplah ada dan tetap harus ditanggulangi. Jadi, jangan sampai program pengendalian COVID-19 mengorbankan program kesehatan lain. Sudah banyak kita lihat contoh bahwa pada suatu wabah maka korban yang jatuh akibat penyakit lain dapat saja lebih besar daripada penyakit wabah itu, apalagi kalau mau dilihat kemungkinan efek jangka panjangnya.
Prinsip ke empat juga membawa pesan yang amat penting, tentang penyuluhan kesehatan yang tentunya ujungnya adalah penerimaan publik untuk mau disuntik vaksin. Walau panjang rantai yang sudah di lalui dalam vaksin COVID-19 ini, mulai dari penelitian amat canggih membuat vaksin dalam waktu satu tahun, proses persetujuan regulasi yang ketat, kegiatan penyimpanan dan distribusi yang rumit, tetapi pada akhirnya vaksin baru akan bermanfaat kalau sudah disuntikkan ke tubuh manusia. Jadi akseptabilitas publik merupakan aspek amat penting dalam suksesnya vaksinasi COVID-19 ini, dan penyuluhan kesehatan merupakan salah satu modal utamanya.
32 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2
Pilihan vaksin
Prinsip ke enam adalah yang banyak dibicarakan sekarang, yaitu bagaimana pilihan vaksin yang tepat untuk suatu negara. Tentu harus aman dan tinggi efikasinya, dan juga harus terjamin ketersediaannya untuk mencakup jumlah populasi yang ditargetkan di negara itu, tanpa ada masalah kekurang vaksin di tengah jalan.
Memang pasti tidak mudah untuk menentukan mana yang benar-benar paling tepat untuk satu negara, apalagi kalau negaranya luas, penduduknya banyak dan lebarnya variasi antar daerah serta disparitas yang ada. Setidaknya ada tiga hal yang dapat jadi patokan. Pertama, keamanan dan efikasi vaksin, ke dua kemudahan penyimpanan dan distribusi serta ke tiga jaminan ketersediaan sehingga jumlah yang divaksin memungkinkan terbentuknya herd immunity di negara itu.
Tentu ada hal lain yang juga perlu jadi pertimbangan, seperti misalnya bagaimana kelompok umur yang akan dicakup, kita sudah dengar misalnya bahwa orang pertama di muka bumi yang mendapat vaksin COVID-19 berumur 90 tahun. Hal lain adalah harga, walaupun ini tentu dapat dinegosiasikan dalam kerangka diplomasi internasional.
Juga amat perlu dipertimbangkan faktor sensitif lain, misalnya aspek halal bagi negara seperti Indonesia.
Akhirnya, kegiatan monitoring dan evaluasi keamanan dan efikasi vaksin perlu dipersiapkan secara matang, setidaknya karena tiga hal. Pertama, vaksin ini baru dan bahkan izin edarnya pun masih bersifat sementara, jadi memang perlu monitoring yang seksama. Ke dua, sebagian vaksin ini menggunakan metode yang betul-betul baru, belum ada pengalaman yang bermakna sebelum ini. Hal ke tiga, kita tahu bahwa uji klinik fase tiga dilakukan pada ribuan atau puluhan ribu orang, sementara yang akan diberikan vaksin adalah ratusan juta orang bahkan sampai milyaran untuk tingkat dunia, sehingga mungkin saja ada efek yang berlum terdeteksi pada uji klinik.
Semua ini mengharuskan persiapan secara matang tentang metode monitoring dan evaluasi dengan menggunakan metode epidemiologi yang didesain dengan amat baik, dan ini harus dirancang sejak sekarang.
COVID-19 masih jadi masalah utama dunia dan juga negara kita. Vaksin diharapkan dapat memberi perannya untuk ikut menanggulangi pandemi ini. Diberitakan Indonesia akan memulai vaksinasi COVID-19 di awal 2021, sesudah nanti mendapat izin edar sementara (emergency use of authorization EUA) dari Badan POM dan pendapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang aspek kehalalannya.
Kalau vaksin sudah akan digunakan maka tentu aspek keamanan sudah terjamin. Selain keamanan maka ada setidaknya tujuh aspek yang perlu dijadikan pertimbangan dalam memilih vaksin yang akan dipakai di suatu negara. Pertama adalah efikasi vaksin, berapa persen perlindungan yang dapat diberikan. Sampai akhir Desember setidaknya sudah ada tiga laporan resmi efikasi vaksin yang dipublikasikan. Vaksin BNT162b2 buatan Pfizer & BioNTech hasilnya dilaporkan di jurnal kesehatan internasional New England Journal of Medicine 10 Desember 2020, dengan angka efikasi 95%.
Vaksin Astra Zeneca ChAdOx1 nCoV-19 yang dilaporkan di jurnal ilmiah internasional Lancet 8 Desember 2020 menyampaikan angka efikasi berkisar 70% sampai 90%. Sementara itu dokumen Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menyebutkan efikasi vaksin Moderna mRNA-1273 adalah 94,1%. Vaksin yang lain memang belum sepenuhnya mengeluarkan angka efikasi karena penelitian dan atau analisanya nampaknya masih berjalan. Kita membaca di media bahwa ada berita tentang efikasi vaksin Sinovac di Turki, dan dengan