• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kenapa PCR COVID-19 Ada yang Positif Berkepanjangan

31

Artikel ini telah diterbitkan di Beritasatu.com, 8 Februari 2021

PENCEGAHAN, DETEKSI & TERAPI

BAB II

120 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2

17 hari sesudah infeksi terjadi, dan hasil penelitian ini mendapatkan waktu terlama virus masih ditemukan adalah sampai 83 hari sesudah infeksi. Kalau masih ada RNA virus maka hasil PCRnya memang masih positif, walaupun adanya hanya RNA tidak bisa dikatakan bahwa virusnya masih “hidup”, yang ditemukan hanya materi genetik saja. Hasil lain laporan ilmiah ini menunjukkan bahwa tidak ada virus hidup yang masih ditemukan sesudah 9 hari mulai sakit, walaupun jumlah viral loads masih tinggi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jumlah virus COVID-19 tertinggi terjadi pada minggu pertama sakit, sementara pada penyakit SARS angka tertingginya pada hari ke 1- - 14 dan pada MERS CoV pada hari ke 7-10.

10 hari isolasi

Hasil penelitian ini menunjukkan 3 hal penting. Pertama, ternyata sesudah 9 hari maka tidak ditemukan lagi virus korona hidup pada ribuan kasus yang dilaporkan. Artinya, sesudah 9 hari maka pasien sudah tidak menular lagi. Hal ini sejalan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No HK.01.07/MENKES/413/2020 yang menyatakan bahwa seorang pasien dinyatakan elesai isolasi apabila memenuhi salah satu kriteria berikut:

a. Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dengan ditambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi.

b. Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

Dalam bagian lain Keputusan Menteri Kesehatan ini juga dibahas tentang tata laksana klinis pasien terkonfirmasi COVID-19, yang juga mengambil cut off 10 hari. Disebutkan bahwa pada prinsipnya pasien terkonfirmasi COVID-19 yang tanpa gejala tidak memerlukan rawat inap di Rumah Sakit, tetapi pasien harus menjalani isolasi selama 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi, baik isolasi

mandiri di rumah maupun di fasilitas publik yang dipersiapkan pemerintah.

Penelitian lain tentang hal ini antara lain menyebutkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat mulai ditemukan 1 sampai 2 hari sebelum gejala timbul dan lalu dapat menetap sampai 7-12 hari pada kasus sedang dan sampai 2 minggu pada kasus yang berat.

Puluhan hari masih positif

Hal kedua yang dapat diambil dari laporan penelitian ini bahwa ternyata memang hasil PCR dapat saja masih postif walaupun pasien sudah sembuh, bahkan maksimal ada yang sampai 80an hari masih bisa saja positif.

Penelitian lain tentang hal ini antara lain dilakukan di Singapura, yang menemukan virus COVID-19 masih ditemukan sampai 24 hari sesudah gejala timbul. Peneliti di Jerman juga pernah melaporkan ditemukannya virus dalam waktu lama sesudah gejala, walaupun mereka tidak melakukan kultur sehingga tidak tahu apakah virus itu masih hidup atau tidak. Juga ada penelitian yang masih menemukan virus sampai 22 hari pada anak-anak yang sembuh dari COVID-19 ringan.

Ini tentu tidak berarti bahwa semua pasien yang sembuh dari COVID-19 masih akan positif PCRnya. Sebagian besar pasien hasil PCRnya juga akan negatif sesudah sembuh. Hanya saja, laporan penelitian di jurnal Lancet itu bahwa RNA virus korona masih dapat ditemukan sampai 83 hari, walaupun pasien sudah tidak sakit dan juga tidak menularkan penyakit. Tentu jangan pula cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa kalau PCR masih positif maka artinya sudah sepenuhnya sembuh dan tidak menular lagi, tetap saja perlu kajian medis yang tepat. Jadi, kalau ada kasus yang masih ber-ulang tetap PCR positif maka baik untuk berkonsultasi secara mendalam dengan dokter dan petugas kesehatan yang menangani, mungkin sekali itu adalah “virus mati” yang kebetulan masih terdeteksi walaupun penyakitnya sudah sembuh. Diskusi dan pemahaman yang menyeluruh juga perlu dilakukan apabila hasil PCR ini menjadi salah

122 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2

satu dasar seseorang dapat masuk bekerja kembali, yang dalam hal ini tentu lebih banyak lagi pertimbangan lain yang diperhatikan.

Hal ke tiga yang dapat ditarik dari hasil laporan ilmiah ini adalah bahwa memang untuk menentukan kebijakan harus berdasar pada penelitian ilmiah yang valid, “evidence based”.

Jadi, di tengah kesibukan menangani pasien COVID-19 sehari-hari maka memang data harus terus dikumpulkan secara sistematis dan dianalisa mendalam, didukung dengan data laboratorium serta data epidemiologi yang lengkap. Penyakit COVID-19 ini baru sekitar setahun “umurnya”, masih banyak yang perlu diteliti agar didapat cara penanggulangan yang tepat.

Untuk kita semua, sekali lagi tidak bosan-bosannya diingatkan bahwa kita semua harus selalu menjaga protokol kesehatan, 3 M dan berbagai M lainnya, karena kita tidak tahu pasti ada tidaknya sumber penularan disekitar kita. Selalulah Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga jarak, Menghidari kerumunan, Mematuhi etiket batuk dan memberi salam, serta Menjalankan pola hidup bersih sehat.

COVID-19 masih terus jadi masalah dunia. Sampai akhir Januari 2021 sudah ada lebih dari 100 juta kasus di dunia dengan lebih dari 2 juta kematian pula. Data Indonesia juga masih terus meningkat. Kasus baru kita sudah mencapai lebih dari 14000 orang per hari, dan angka kepositifan (positivity rate) sudah lebih dari 20% pula dan bahkan ada yang mendekati 30%. Hal ini menunjukkan penularan yang tinggi di masyarakat, suatu hal yang amat perlu diwaspadai dan ditangani dengan seksama. Kita tahu bahwa peningkatan kasus di negara kita mungkin saja terjadi karena dampak libur akhir tahun yang lalu.

Mungkin juga karena “pandemic fatigue” dimana protokol kesehatan jadi tidak ketat dilakukan lagi. Juga mungkin terjadi karena belum cukup banyak orang yang di tes dan juga dilacak sehingga situasi di masyarakat belum terkendali. Di luar itu, perlu pula diperhatikan kemungkinan mutasi yang terjadi.

Kita tahu bahwa COVID-19 disebabkan oleh virus SARS CoV-2.

Virus pada umumnya memang selalu bermutasi dari waktu ke waktu.

Kita kenal ada mutasi D614G virus COVID-19 yang sudah dikenal sejak Februari 2020. Mutasi ini disebutkan lebih mudah menular dibanding dengan yang asal mula ditemukan di Wuhan. Dalam perkembangan waktu maka mutasi D614G menjadi cukup banyak di berbagai belahan dunia dan menjadi bagian dari pandemi sepanjang 2020.

Pada Desember 2020 pemerintah Inggris melaporkan mutasi jenis