38
Artikel ini telah diterbitkan di Sindonews.com, 7 Desember 2020
BUNGA RAMPAI
BAB III
146 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2
kontak sama sekali, walaupun memang yang demam tentu belum tentu sakit COVID-19.
Hal lain yang juga amat perlu adalah himbauan agar mereka yang sedang sakit, demam, batuk dan berbagai keluhan gangguan pernapasan lain sebaiknya tidak datang ke tempat pemungutan suara.
Mungkin akan ada issue tentang bagaimana suara mereka tersalurkan, tetap kan memang selama ini mereka yang sedang sakit memang selalu dianjurkan untuk tidak keluar rumah, tidak bepergian. Jadi disini ada pertimbangan matang antara aspek kesehatan dan kemungkinan penularan pada sekitar dengan aspek hak memberikan suara, dan aspek kesehatan seyogyanyan perlu dapat prioritas penting kalau bukan yang utama. Tentu himbauan ini juga berlaku pada petugas pemungutan suara, sehingga “plan B” untuk kemungkinan petugas cadangan perlu dipersiapkan.
Melepas APD
Aspek ke dua, dari berita di media massa maka kita lihat juga bahwa petugas akan dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD).
Tentu ini upaya yang baik, hanya saja semua petugas perlu amat menguasai cara mengenakan dan -lebih penting lagi- cara melepas dan membuang APD. Masyarakat luas memang sudah mengetahui cara mengenakan dan melepas masker dengan benar, sudah banyak sekali informasi tentang hal ini. Tapi, kalau petugas pemungutan suara mungkin menggunakan sarung tangan dan bahkan hazmat maka ada prosedur khusus yang perlu mereka kuasai, dan pengetahuan ini perlu diberikan dalam beberapa hari terakhir ini untuk dikuasai dengan baik.
Sudah banyak kita ketahui bahwa melepas (dan membuang APD) tidak sesuai prosedur akan dapat menularkan penyakit. Hal ini mulai banyak dibicarakan sejak penyakit Ebola berkecamuk di Afrika sampai ke COVID-19 sekarang ini. Usulan praktisnya adalah di setiap tempat pemungutan suara di siapkan poster tentang prosedur melepas APD dengan baik dan aman untuk mencegah kemungkinan penularan. Juga perlu diatur rinci bagaimana mekanisme pembuangan APD di tempat pemungutan suara, serta bagaimana nanti bekas APD
ini dapat dibawah ke tempat sampah yang permanen di sekitar lokasi.
Tentu kita sadari bahwa risiko di TPS jauh lebih rendah dibandingkan dengan risiko penularan di bangsal perawatan COVID-19 di Rumah Sakit misalnya, tetapi walaupun demikian upaya kehati-hatian yang memadai -tentu tidak berlebihan- tetap perlu dapat perhatian penting.
Pasien di Rumah Sakit
Hal ke tiga adalah tentang mekanisme pemungutan suara bagi pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, dan atau tempat isolasi lainnya. Kalau bukan di era COVID-19 maka kita lihat petugas pemungutan suara masuk ke dalam rumah sakit dengan membawa kotak suara, lalu pasien melakukan pencoblosan di samping tempat tidurnya. Ini upaya yang baik agar semua orang memang dapat menyalurkan hak konstitusional nya. Hanya saja untuk situasi sekarang maka mungkin perlu pertimbangan yang jauh lebih matang, jauh lebih hati-hati.
Kemungkinan pertama adalah petugas pemungutan suara tetap masuk ke kamar-kamar pasien, tentu dengan menggunakan APD secara amat lengkap. Hanya saja harus diakui bahwa ini tentu memberi risiko cukup tinggi bagi petugas. Juga perlu dipertimbangkan matang-matang bagaimana perlakuan terhadap tempat alas pencoblosan, alat pencoblos, kotak suara dll. Kemungkinan lain adalah bahwa petugas Rumah Sakit lah yang masuk ke kamar pasien dan memberi kesempatan pasien mencoblos untuk memberikan suaranya. Dari kacamata kesehatan dan kemungkinan penularan maka hal ini lelas lebih aman karena petugas rumah sakit sudah amat menguasai cara-cara pencegahan infeksi, tetapi dari kacamata aturan hukum per undang-undangan memang perlu ada kajian seksama dan keputusan yang memadai dalam waktu singkat ini. Tentu ada kemungkinan lain bahwa para pasien dikecualikan dari proses pemungutan suara, hanya saja memang ini akan lebih banyak pro kontra nya.
Memang tadinya ada berbagai pendapat tentang kegiatan pemilihan kepala daerah dan pertimbangan aspek kesehatan. Tetapi
148 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2
beberapa hari lagi, maka yang dapat kita lakukan kini adalah upaya lebih keras lagi agar penularan COVID-19 dapat dicegah secara maksimal.
Pandemi COVID-19 masih belum dapat diatasi di dunia, dan juga di negara kita. Penyakit ini dapat mengenai siapa saja, termasuk wanita hamil dan menyusui. Dalam hal ini, World Heath Organization (WHO) merekomendasikan bahwa ibu yang suspek atau sudah confirmed COVID-19 dapat tetap memberikan air susu ibu (ASI) pada bayinya. Pada Ibu harus dijelaskan bahwa manfaat memberi ASI jauh lebih besar daripada risiko tertular penyakit.
WHO memberikan rekomendasi itu sesudah melakukan analisa dari berbagai jurnal ilmiah yang ada, sampai saat rekomendasi dikeluarkan. Data yang dikaji adalah 46 Ibu menyusui dengan COVID-19 positif yang ASInya di cek untuk COVID-19 yang dilaporkan di kepustakaan. Hasilnya pada 43 ASI ternyata tidak ditemukan virus COVID-19. Pada 3 lainnya memang hasil PCR nya positif, hanya tidak ada informasi yang pasti apakah itu memang virus hidup atau tidak.
Dari 3 bayi yang mendapat ASI yang positif virus COVID-19, ternyata dua diantaranya negatif COVID-19 dan satu bayi postif, hanya saja tidak jelas apakah bayi yang positif ini tertular lewat ASI atau lewat kontak erat/droplet waktu Ibunya menyusui bayinya, dan tidak ada informasi juga tentang apakah Ibu nya menggunakan masker serta mencuci tangan dengan benar atau tidak. Di sisi lain, juga pernah ada laporan ditemukannya secretory immunoglobulin A (sIgA) terhadap COVID-19 pada ASI, hanya saja dampaknya pada kemungkinan penularan belumlah jelas.