47
Artikel ini telah diterbitkan di Harian Media Indonesia, 8 Februari 2021
BUNGA RAMPAI
BAB III
186 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2
Amerika Serikat. Juga ada yang melakukan dalam bentuk larangan beraktifitas dalam beberapa jam sehari seperti pernah dilakukan di Kenya, Nigeria, Puerto Rico dan sebagian Thailand.
Berbagai bentuk lockdown pada tahun 2020 yang lalu tentu membawa dampak pada penduduk dunia. Data menunjukkan bahwa lockdown total atau sebagian dan juga pembatasan jam kegiatan berdampak pada kehidupan lebih dari 4,5 milyar orang (sekitar 58%
penduduk dunia) dan sekitar 2,7 milyar pekerja yang merupakan sekitar 81% dari jumlah pekerja di dunia.
Mikro
Di satu sisi kita tahu bahwa dengan makin berkurangnya interaksi masyarakat maka tentu kemungkinan penularan COVID-19 akan makin kecil, dan pandemi akan dapat dikendalikan. Tapi kita juga sadar bahwa lockdown berkepanjangan yang berskala nasional dan pada suatu daerah yang luas tentu punya berbagai dampak sosial ekonomi penting pula. Karena itu beberapa pihak mulai menganalisa lockdown yang lebih kecil areanya, yang antara lain disebut sebagai lockdown mikro. Aspek positif pendekatan ini adalah bahwa daerah di luar area lockdown tetap dapat beraktifitas, tentu tetap dengan protokol kesehatan. Juga karena daerahnya lebih kecil maka relatif lebih mudah ditangani secara manajerial, apalagi kalau memang harus menjamin logistik kalau masyarakat yang di lockdown memang sepenuhnya tidak boleh keluar rumah dan atau lingkungannya. Di sisi lain, kelemahan pendekatan ini adalah kalau pembatasannya dilakukan di area terlalu kecil padahal kasus yang ada sudah ada kontak dengan orang-orang lain di luar lingkungan mikro yang di lockdown.
Inggris misalnya pernah menerapkan lockdown amat mikro, mereka sebut sebagai “quite a micro level”. Contohnya adalah kalau ada laporan sejumlah kasus di suatu tempat kerja tertentu, atau di sekolah misalnya, maka lokasi itu yang kemudian dilakukan upaya lockdown ketat tapi terbatas lokasinya. Kota Karachi di Pakistan pada akhir 2020 juga pernah menerapkan yang mereka sebut sebagai
“smart and micro lockdown” yang diterapkan pada suatu jalan tertentu
atau beberapa rumah tertentu di suatu daerah kalau ada peningkatan kasus di kawasan itu. “Micro-smart lockdown” dilakukan sampai tidak ada lagi kasus baru dilingkungan itu. Selama masa lockdown maka logistik masyarakat akan diberikan oleh pemerintah setempat. New Delhi India juga pernah melakukan hal yang hampir sama, dimana suatu lingkungan dengan sekitar 20-30 rumah di lockdown karena ada kasus positif di kawasan itu, dan penduduk diminta tetap tinggal dirumahnya selama beberapa hari, seperti pengalaman tetangga saya beberapa bulan yang lalu.
Kita ketahui bahwa Indonesia memulai bentuk pembatasan interaksi antara masyarakat ini dengan program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada 31 Maret 2020 dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020, yang mengatur pembatasan sosial berskala besar sebagai respons terhadap COVID-19. Kemudian, pada Januari 2021 dikeluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 tahun 2021 tentang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Untuk Pengendalian Penyebaran COVID-19 yang berisikan tentang PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang dimulai pada tanggal 11 hingga 25 Januari 2021 di sebagian daerah Jawa dan Bali, dengan kriteria tertentu. Selanjutnya, kini diberlakukan PPKM berskala mikro. Di dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 3 tahun 2021 disebutkan bahwa PPKM diperpanjang dengan berbasis mikro dan dibentuk Posko Penanganan COVID-19 di level desa dan kelurahan.
Harus lakukan lima hal
Ada lima hal penting agar PPKM mikro ini dapat berjalan baik.
Pertama dan utama, harus ada peran serta aktif masyarakat setempat.
Masyarakat harus dilibatkan sejak awal sehingga kegiatan ini jadi milik masyarakat, untuk kepentingan masyarakat dan hanya akan sukses bila dilakukan bersama masyarakat. Kita kenal luas bahwa keberhasilan suatu program hanya akan dicapai bila masyarakat berperan sebagai subjek dan bukan semata menjadi obyek. Buku
“Managing Epidemic, key facts about major deadly diseases” terbitan WHO (World Health Organization) juga secara jelas menyebutkan
188 COVID-19 DALAM TULISAN PROF. TJANDRA | JILID 2
“Masyarakat, kalau dilibatkan akan berfungsi sebagai garda depan dalam deteksi dan pengendalian epidemi. Masyarakat adalah pihak yang paling terdampak dan punya peran utama dalam antisipasi dan persiapan pengendalian penyakit yang mewabah”. Artinya, bermulanya kegiatan PPKM mikro harus berjalan bersama dengan pemberdayaan dan kepastian peran serta aktifitas masyarakat setempat.
Hal ke dua adalah terbentuknya disiplin pembatasan sosial.
Dari pengalaman selama ini kita lihat bahwa kendati ada program tetapi sebagian jalan masih macet misalnya, atau kerumunan belum tertangani dengan seksama dll. Artinya, kemungkinan penularan berkepanjangan masih saja terjadi. Akan amat baik kalau disiplin dapat benar-benar terlaksana sehingga penularan melalui kontak antar manusia dapat ditekan secara maksimal. Pelaksanannya tentu tidak sederhana, meliputi pembatasan kegiatan kerja dan usaha dll.
yang mungkin harus ditunjang dengan dukungan logistik. Hal ketiga adalah bahwa perlu dijamin kegiatan tes dan telusur (test and trace) benar-benar dilakukan dengan maksimal. Artinya, jumlah tes perlu dilakukan maksimal, setidaknya sesuai standar yang ada, dan jaminan tersedianya kemudahan melakukann tes PCR dan atau tes antigen, dua tes yang memang sudah direkomendasikan WHO. Juga kalau ada kasus maka semua, atau setidaknya hampir semua kontak yang ada harus ditelusuri, ditemukan dan diperiksa.
Hal ke empat, bila tes dan telusur sudah dilakukan maka harus ada jaminan bahwa semua yang positif di isolasi dengan memadai.
Kalau kasusnya berat maka perlu dijamin bahwa pelayanan rumah sakit tersedia dengan baik. Kalau kasusnya tidak terlalu berat maka mungkin kasus dapat dikarantina di lokasi tertentu seperti hotel dan wisma. Kalau memang kasus tanpa gejala maka dapat diisolasi di rumah, hanya saja harus selalu dalam pengawasan petugas kesehatan setempat dan mungkin perlu alat penunjang seperti oximetri untuk mendeteksi kemungkin perburukan penyakit. Tentu akan tidak berdampak maksimal bagi pencegahan penularan kalau tes dan telusur yang baik tidak diikuti dengan isolasi atau karantina yang memadai.
Hal ke lima, sejak awal harus sudah ada perencanaan yang amat jelas dan rinci tentang apa yang akan dilakukan di daerah yang dilockdown, bagaimana memonitor perkembangannya, apa yang akan dilakukan kalau ada perburukan situasi misalnya, serta apa yang akan dilakukan kalau keadaan sudah terkendali. Tentu tidak ada yang ingin bahwa sesudah suatu lingkungan di lockdown selama beberapa waktu, lalu di lepaskan, tapi lalu kasus tidak terkendali lagi dan lockdown terpaksa kembali diberlakukan.
COVID-19 memang masih jadi tantangan utama kita. Prinsip dasar pengendaliannya adalah kasus harus dicegah, misalnya dengan 3 M dan vaksinasi. Kalau lolos tidak tercegah maka maka harus dapat ditemukan sedini mungkin dengan kegiatan tes dan telusur. Kalau kasus sudah ditemukan maka harus dilakukan dua hal penting, di isolasi agar tidak memperpanjang rantai penularan dan tentunya juga diobati agar sembuh dan menurunkan angka kematian. Semuanya harus berjalan bersama secara maksimal, dan hanya dengan itu pandemi dapat kita kendalikan.