• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK SPILLOVER PUSAT-PUSAT PERTUMBUHAN DI KALIMANTAN

KAPET Khatulistiwa

6. DAMPAK SPILLOVER PUSAT-PUSAT PERTUMBUHAN DI KALIMANTAN

Pengukuran terhadap besaran dampak spillover menggunakan proxy terhadap tiga model pertumbuhan (output/Y1, tenaga kerja/Y2, dan investasi/Y3). Model pertumbuhan secara general di estimasi melalui model persamaan simultan spasial dengan Generalized Spatial Two Stage Least Square (GS2SLS). Langkah selanjutnya adalah menguji model pertumbuhan yang dihasilkan untuk memastikan bahwa model dapat digunakan dalam jangka panjang (stasioner). Penggunaan panel data memungkinkan untuk mendapatkan model pertumbuhan secara spesifik untuk masing-masing kabupaten/kota se-Kalimantan. Aplikasi ArcView digunakan untuk menggambarkan sebaran dampak spillover pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan.

Model Pertumbuhan Output, Tenaga Kerja dan Investasi

Hasil uji spatial dependency menunjukkan adanya interaksi spasial, baik menggunakan W-Neighborhood, maupun W-Customized. Penggunaan model spatial fixed effect menghasilkan kesimpulan yang konsisten terhadap uji LM untuk 3 (tiga) persamaan endogen Y1, Y2, dan Y3 yaitu bahwa model adalah

spatial lag. Langkah selanjutnya adalah melakukan estimasi parameter dengan menggunakan model spatial fixed effect terhadap model spatial lag pertumbuhan output, pertumbuhan tenaga kerja, dan pertumbuhan investasi. Hasil estimasi model dengan menambahkan spasial fixed effect memberikan intepretasi bahwa model yang dibentuk mempertimbangkan efek dari wilayah yang dianggap memiliki efek tetap dalam mempengaruhi pertumbuhan output, tenaga kerja dan investasi di suatu wilayah.

Model Pertumbuhan Output Kabupaten/Kota se-Kalimantan

Hasil estimasi parameter terhadap model pertumbuhan output dengan metode spasial fixed effect pada Tabel 7 menunjukkan bahwa spatial lag dependent (pertumbuhan output dari pusat-pusat pertumbuhan terdekat) memberikan pengaruh terbesar diikuti oleh variabel-variabel lain yang bersama- sama juga mempengaruhi pertumbuhan output wilayah-wilayah di Kalimantan. Penggunaan bobot W-Neighborhood dan W-Customized menunjukkan perbedaan hasil baik pada tanda maupun variabel independent yang signifikan.

Koefisien spatial lag dengan W-Neighborhood menghasilkan tanda positif yang menunjukkan bahwa kedekatan suatu wilayah dengan pusat pertumbuhan menimbulkan dampak penyebaran (spread effect) terhadap pertumbuhan output wilayah sekitar. Tanda yang sama juga ditunjukkan oleh koefisien spatial lag dengan W-Customized yang bertanda positif (spread effect) namun dengan koefisien spatial lag yang lebih besar. Hal ini disebabkan adanya aliran ekonomi dari pusat-pusat pertumbuhan ke wilayah terdekat yang membuktikan bahwa pertumbuhan output di suatu wilayah bukan semata-mata disebabkan karena kedekatan dengan pusat-pusat pertumbuhan melainkan lebih kepada interaksi ekonomi antarwilayah di Kalimantan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di wilayah Appalachia (Wood, 1999) yang menghasilkan simpulan bahwa spread effect tidak menyebar secara merata, bahkan daerah yang dekat

dengan pusat perkotaan tidak selalu mendapatkan keuntungan. Hal ini ditengarai karena adanya pengaruh globalisasi ekonomi di mana daerah perkotaan sering berbagi konektivitas justru dengan daerah-daerah di luar batas wilayah bahkan batas negara.

Perbedaan hasil koefisien spatial lag antara W-Neighborhood dan W Customize perlu diuji untuk mendapatkan model terbaik. Dari hasil pengamatan terhadap uji AIC dan SC menunjukkan bahwa model spasial terbaik adalah model spatial fixed effect dengan bobot W-Customize untuk ketiga model pertumbuhan Y1, Y2, dan Y3. Koefisien determinasi terkoreksi (corrected R2) dengan nilai

terbesar yaitu 69,67 persen didapat dengan W-Customized, sedangkan W- Neighborhood hanya sebesar 65,64 persen. Dengan demikian, penggunaan bobot W-Customized dalam melakukan estimasi parameter lebih baik dibandingkan penggunaan bobot W-Neighborhood.

Koefisien spatial lag dependent dengan bobot spasial W-Customized menunjukkan nilai 0,5429 yang berarti bahwa pertumbuhan output suatu wilayah bertambah sebesar 0,5429 persen yang disebabkan oleh pertumbuhan output pada pusat-pusat pertumbuhan terdekat yang memiliki aliran ekonomi ke wilayah tersebut. Dengan kata lain jika pertumbuhan output pada pusat pertumbuhan naik sebesar 1 persen, maka pertumbuhan output wilayah yang menerima aliran ekonomi dari pusat-pusat pertumbuhan terdekat juga akan mengalami kenaikan sebesar 0,5429 persen.

Perbedaan hasil dan signifikansi koefisien spatial fixed effect antar kabupaten/kota ditunjukkan pada Lampiran 5. Hampir seluruh kabupaten/kota menunjukkan hasil yang signifikan pada a=5% bila menggunakan bobot W- Customized. Efek spasial tertinggi dengan W-Customized untuk yang bertanda positif adalah Kota Bontang, Kota Balikpapan, dan Kabupaten Berau, sedangkan terendah (bertanda negatif) adalah Kabupaten Malinau, Melawi dan Pulang Pisau. Variabel-variabel independent yang signifikan mempengaruhi pertumbuhan output (a=5%) adalah rasio pendapatan asli daerah terhadap total pengeluaran (X2) dan pertumbuhan investasi (Y3). Keduanya memiliki hubungan yang positif

terhadap pertumbuhan output dan memiliki koefisien masing-masing sebesar 0,4954 dan 0,2815. Dengan demikian, setiap pertambahan satu satuan rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap total pengeluaran akan menambah output suatu wilayah sebesar 0,4954 persen dan setiap satu persen pertumbuhan investasi akan menambah pertumbuhan output suatu wilayah sebesar 0,2815 persen. Adapun variabel pertumbuhan tenaga kerja, persentase kebakaran lahan, persentase panjang jalan yang baik, serta laju penduduk menunjukkan hasil yang tidak signifikan mempengaruhi pertumbuhan output.

Secara umum model pertumbuhan output di Kalimantan dengan spatial fixed effect model menggunakan bobot W-Neighborhood adalah:

̂ =-4,00+0,477WY1jt+0,004X1it+0,371X2it+0,001X3it+0,014X4it+0,160Y2it+0,302Y3it

Sedangkan model pertumbuhan output di Kalimantan dengan spatial fixed effect yang menggunakan bobot W-Customize adalah

̂ =5,391+0,543WY1jt+0,005X1it+0,495X2it+0,001X3it-0,006X4it+0,149Y2it+0,282Y3it

Penjabaran akan model pertumbuhan output kabupaten/kota se-Kalimantan yang memiliki spasial fixed effect yang signifikan dengan menggunakan bobot W- Customize diuraikan dalam Lampiran 8.

62

Untuk memastikan bahwa model pertumbuhan output dengan menggunakan metode spatial dependency di atas sudah bebas dari masalah

heterogeneity (keberagaman antarwilayah), maka dilakukan pengujian

heteroscedasity (Lampiran 11). Pengujian tersebut menggunakan metode Glejser, dan membuktikan bahwa model memiliki p-value lebih besar dari 0,05 (tidak signifikan). Dengan demikian kesimpulannya adalah menerima H0 yang berarti bahwa bahwa model sudah bebas dari masalah heteroscedasity.

Tabel 7. Hasil Estimasi Parameter Model Spatial Lag Pertumbuhan Output

VARIABEL

Y1

W NEIGHBORHOOD W-CUSTOMIZE

NILAI P-VALUE NILAI P-VALUE

W*PERTUMBUHAN OUTPUT WY1 0,4770 0,0000** 0,5429 0,0000**

LAJU PENDUDUK X1 0,0045 0,5632 0,0055 0,5169

RASIO PAD THDP TOTAL PENGELUARAN X2 0,3712 0,1093 0,4954 0,0454**

% PANJANG JALAN BAIK X3 0,0011 0,3415 0,0013 0,2915

PERSENTASE KEBAKARAN LAHAN X4 0,0137 0,6892 -0,0065 0,8606

PERTUMBUHAN TENAGA KERJA Y2 0,1605 0,2378 0,1490 0,3136

PERTUMBUHAN INVESTASI Y3 0,3023 0,0003** 0,2815 0,0016** INTERCEPT 4,0002 0,0064** 5,3910 0,0007** VARIANCE σ2 0,0165 0,0192 AIC 168,0055 157,8334 SC 154,7835 144,6115 R-SQUARE R2 0,9911 0,9923 CORRECTED R2 corr2 0,6564 0,6967

Keterangan: *) Signifikan pada α = 10 persen.

**)Signifikan pada α =

5 persen.

Model Pertumbuhan Tenaga Kerja Kabupaten/Kota se-Kalimantan

Model pertumbuhan tenaga kerja yang diestimasi dengan metode spatial fixed effect memberikan hasil yang signifikan untuk beberapa variabel independent dan juga spatial lag dependent. Perbedaan tanda koefisien spatial lag dependent ditunjukkan melalui penggunaan bobot W-Neighborhood yang menghasilkan tanda negatif dan W-Customized yang menghasilkan tanda positif (Tabel 8). Hasil yang saling berlawanan tersebut selanjutnya diuji untuk mendapatkan model terbaik. Model terbaik dihasilkan dari pengujian terhadap AIC dan SC untuk mendapatkan nilai yang terkecil serta koefisien determinasi terkoreksi (corrected R2) dengan nilai terbesar. Ketiga uji ini menghasilkan keputusan bahwa penggunaan bobot W-Customized merupakan model spasial terbaik dibanding bobot W-Neighborhood. Hal ini sejalan dengan teori migrasi yang menyatakan bahwa perpindahan tenaga kerja lebih disebabkan adanya tarikan dari wilayah-wilayah lain yang memiliki aktifitas ekonomi yang tinggi sehingga terbuka lapangan usaha seluas-luasnya. Pertumbuhan tenaga kerja di wilayah sekitar pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan akan meningkat apabila

pusat-pusat pertumbuhan tidak hanya menyerap tenaga kerja namun memiliki interaksi ekonomi yang tinggi dengan wilayah sekitarnya.

Penggunaan spatial lagdependent memberikan keputusan Tolak H0 dengan nilai koefisien sebesar 0,0781yang menunjukkan bahwa jika pertumbuhan tenaga kerja pada pusat pertumbuhan mengalami peningkatan sebesar 1 persen, maka pertumbuhan tenaga kerja wilayah sekitarnya akan naik sebesar 0,0781 persen. Koefisien WY2 yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan koefisien WY1 yang didapat dari estimasi model pertumbuhan output. Hal ini menandakan masih lebih besarnya peranan pertumbuhan output ketimbang pertumbuhan tenaga kerja pada pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan.

Perbedaan hasil estimasi spatial fixed effect model pertumbuhan tenaga kerja pada masing-masing kabupaten/kota di Kalimantan ditunjukkan oleh tiap- tiap kabupaten/kota baik melalui tanda spatial fixed effect maupun tingkat signifikannya. Spatial Fixed effect model pertumbuhan tenaga kerja menurut kabupaten/kota disajikan dalam Lampiran 2. Sebagian besar kabupaten/kota menunjukkan koefisien spasial fixed effect yang tidak signifikan pada a=5% bila menggunakan bobot W-Customized. Spasial efek tertinggi untuk yang bertanda positif adalah Kabupaten Kutai Kertanegara, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Sambas, sedangkan terendah (bertanda negatif) adalah Kabupaten Sukamara, dan Kabupaten Lamandau.

Rasio belanja modal terhadap PAD (X5) secara signifikan (a=5%) memiliki hubungan negatif terhadap pertumbuhan tenaga kerja dengan nilai koefisien sebesar 0,340. Koefisien X5 yang negatif menunjukkan bahwa setiap pertambahan satu satuan rasio belanja modal terhadap PAD justru akan mengurangi pertumbuhan tenaga kerja sebesar 0,340 persen. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan tenaga kerja melalui peningkatan belanja modal oleh pemerintah daerah bukan merupakan keputusan yang tepat. Rata lama sekolah (X7) juga secara signifikan memiliki hubungan positif terhadap pertumbuhan tenaga kerja dengan nilai koefisien sebesar 0,068. Dengan demikian, untuk setiap penambahan satu tahun rata lama sekolah akan menambah pertumbuhan tenaga kerja sebesar 0,068 persen.

Efek umpan balik antara pertumbuhan tenaga kerja dan pertumbuhan output tidak terjadi. Dengan kata lain, pertumbuhan output tidak secara langsung mempengaruhi pertumbuhan tenaga kerja, begitu juga sebaliknya. Hasil ini sejalan dengan laporan studi yang ditulis oleh Mc. Leod (2014) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak akan cukup cepat menciptakan lapangan pekerjaan untuk angkatan kerja yang makin membesar (jobless growth). Kemungkinan penyebab tidak sensitifnya pertumbuhan tenaga kerja terhadap pertumbuhan output adalah karena pertumbuhan output di Kalimantan bukan didorong dari sektor padat karya. Alasan yang sama dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa kepadatan penduduk juga tidak signifikan mempengaruhi pertumbuhan tenaga kerja di Kalimantan.

Secara umum model pertumbuhan tenaga kerja di Kalimantan dengan spatial fixed effect model menggunakan bobot W-Neighborhood adalah:

̂ =11,088-0,055WY2jt-0,358X5it+0,066X7it+0,0004X9it+0,019Y1it

Sedangkan model pertumbuhan tenaga kerja di Kalimantan dengan spatial fixed effect yang menggunakan bobot W-Customize adalah

64

Penjabaran akan model pertumbuhan tenaga kerja kabupaten/kota se-Kalimantan yang memiliki spatial fixed effect yang signifikan dengan menggunakan bobot W- Customize diuraikan dalam Lampiran 9.

Pengujian bahwa model pertumbuhan tenaga kerja terbebas dari masalah heteroskedastisitas dengan menggunakan metode Glejser membuktikan bahwa model memiliki p-value tidak signifikan (Lampiran 12). Dengan demikian kesimpulannya adalah menerima H0 yang berarti bahwa bahwa model sudah bebas dari masalah heteroscedasity (varian residual konstan).

Tabel 8. Hasil Estimasi Parameter Model Spatial Lag Pertumbuhan Tenaga Kerja

VARIABEL Y2 W NEIGHBORHOOD W CUSTOMIZE

NILAI P-VALUE NILAI P-VALUE

W*PERTUMBUHAN TENAGA KERJA WY2 -0,0550 0,0641* 0,0781 0,0591*

RASIO BELANJA MODAL THDP PENDAPATAN X5 -0,3582 0,0516* -0,3397 0,0648*

RATA LAMA SEKOLAH X7 0,0665 0,1197 0,0685 0,0628*

KEPADATAN PENDUDUK X9 0,0004 0,3585 0,0006 0,1566 PERTUMBUHAN OUTPUT Y1 0,0193 0,7448 0,0048 0,9353 INTERCEPT 11,0878 0,0000 10,3177 0,0000** VARIANCE σ2 0,0201 0,0201 AIC 158,9215 157,0677 SC 150,9883 149,1345 R-SQUARE R2 0,9752 0,9752 CORRECTED R2 corr2 0,2688 0,2698 Keterangan: *) Signifikan pada α = 10 persen.

**)Signifikan pada α =

5 persen.

Model Pertumbuhan Investasi Kabupaten/Kota se Kalimantan

Penggunaan bobot W-Neighborhood dan W-Customized pada model pertumbuhan investasi memberikan hasil estimasi yang hanya berbeda pada besaran koefisien parameter. Dari hasil pengamatan terhadap uji AIC, SC dan corrected R2 didapat model spasial terbaik adalah dengan W-Customized.

Koefisien W*Y3 yang dihasilkan dengan menggunakan model SAR untuk Spatial Fixed Effect menunjukkan nilai yang positif yang berarti bahwa pertumbuhan investasi suatu wilayah dipengaruhi oleh pertumbuhan investasi wilayah lain yang memiliki interaksi ekonomi dengan wilayah tersebut. Penggunaan bobot W-Customize menghasilkan kesimpulan bahwa pertumbuhan investasi di suatu wilayah lebih disebabkan karena interaksi ekonomi yang tinggi dengan wilayah sekitarnya, baik terhadap pusat-pusat pertumbuhan maupun wilayah yang bukan merupakan wilayah pusat pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan teori pembentukan investasi (Artige, 2009) di mana investasi tumbuh di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat permintaan barang konsumsi yang tinggi. Sebaliknya, tingkat investasi suatu wilayah akan rendah apabila wilayah tersebut memiliki tingkat permintaan yang rendah.

Koefisien spatial lag dengan bobot spasial W-Customized menunjukkan nilai 0,5721 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi suatu wilayah

bertambah sebesar 0,5721 persen yang berasal dari pertumbuhan investasi pusat pertumbuhan terdekat yang memiliki aliran ekonomi ke wilayah tersebut. Dengan kata lain jika pertumbuhan investasi pada pusat pertumbuhan yang memiliki aliran ekonomi ke wilayah tersebut tumbuh sebesar 1 persen, maka pertumbuhan investasi wilayah yang menerima aliran ekonomi akan naik sebesar 0,5721 persen.

Perbedaan hasil estimasi spatial fixed effect model pertumbuhan investasi pada masing-masing kabupaten/kota di Kalimantan dengan menggunakan bobot W-Customized ditunjukkan oleh tiap-tiap kabupaten/kota baik melalui tanda spatial fixed effect maupun tingkat signifikannya. Spatial Fixed effect model pertumbuhan investasi menurut kabupaten/kota disajikan dalam Lampiran 3. Hampir seluruh kabupaten/kota menunjukkan hasil yang signifikan pada a=5%. Spasial efek tertinggi dengan W-Customized untuk yang bertanda positif adalah Kota Bontang, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Kapuas, sedangkan terendah (bertanda negatif) adalah Kabupaten Malinau, Kota Singkawang, dan Kabupaten Kapuas Hulu.

Estimasi model spatial lag pertumbuhan investasi dengan spatialfixed effect yang terdapat pada Tabel 9 membuktikan bahwa selain spatial lag dependent, seluruh variabel secara signifikan (a=5%) mempengaruhi pertumbuhan investasi dengan tanda yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan 1 satuan pada masing-masing variabel, ceteris paribus, akan menambah pertumbuhan investasi sesuai dengan besaran koefisien parameter yang dihasilkan. Untuk setiap 1 persen pertumbuhan upah akan menambah pertumbuhan investasi sebesar 0,0021 persen. Setiap penambahan rasio pajak terhadap PAD sebesar satu satuan akan menambah pertumbuhan investasi sebesar 0,4606 persen. Setiap penambahan pendapatan (PDRB/Kapita) sebesar satu satuan akan menambah pertumbuhan investasi sebesar 0,0017 persen. Setiap penambahan pertumbuhan output sebesar 1 persen akan menambah pertumbuhan investasi sebesar 0,0986 persen.

Tabel 9. Hasil Estimasi Parameter Model Spatial Lag Pertumbuhan Investasi

VARIABEL Y3 W NEIGHBORHOOD W CUSTOMIZED

NILAI P-VALUE NILAI P-VALUE

W*PERTUMBUHAN INVESTASI WY3 0,3820 0,0001** 0,5721 0,0001**

LAJU UPAH X6 0,0022 0,0593* 0,0021 0,0776*

RASIO PAJAK TERHADAP PAD X8 0,4717 0,0273** 0,4606 0,0381**

PDRB/KAPITA X10 0,0017 0,0000** 0,0017 0,0000** PERTUMBUHAN OUTPUT Y1 0,0851 0,0873* 0,0986 0,0506* INTERCEPT 7,4825 0,0000** 7,3642 0,0000** VARIANCE σ2 0,0204 0,0220 AIC 152,1373 147,8293 SC 144,2042 139,8961 R-SQUARE R2 0,9921 0,9927 CORRECTED R2 corr2 0,5779 0,6083

Keterangan: *) Signifikan pada α = 10 persen.

**)Signifikan pada α =

66

Secara umum model pertumbuhan investasi di Kalimantan dengan spatial fixed effect model menggunakan bobot W-Neighborhood adalah:

̂ =7,4825+0,382WY3jt-0,0022X6it+0,4717X8it+0,0017X10it+0,085Y1it+ui

Sedangkan model pertumbuhan investasi di Kalimantan dengan spatialfixed effect yang menggunakan bobot W-Customize adalah

̂ =7,3642+0,5721WY3jt-0,021X6it+0,4606X8it+0,0017X10it+0,0986Y1it

Penjabaran akan model pertumbuhan investasi kabupaten/kota se-Kalimantan yang memiliki spatial fixed effect yang signifikan dengan menggunakan bobot W- Customize diuraikan dalam Lampiran 10.

Uji Glejser untuk memastikan bahwa model pertumbuhan investasi sudah terbebas dari masalah heteroskedastisitas membuktikan bahwa model memiliki p- value tidak signifikan (Lampiran 13). Dengan demikian kesimpulannya adalah menerima H0 yang berarti bahwa bahwa model sudah bebas dari masalah heteroscedasity (keberagaman wilayah).

Dampak Spillover Pusat-Pusat Pertumbuhan di Kalimantan

Berdasarkan model spillover pertumbuhan output, pertumbuhan tenaga kerja dan pertumbuhan investasi Kabupaten/Kota se-Kalimantan yang terdapat dalam Lampiran 8-10, maka berikut disajikan analisis dampak spillover terhadap tujuhbelas kabupaten/kota yang merupakan pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan. Penjelasan dampak spillover untuk tiap-tiap pusat pertumbuhan di Kalimantan dimaksudkan agar dapat melihat secara spesifik model pertumbuhan baik terhadap output, tenaga kerja dan investasi dan dampak spillover masing- masing pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan terhadap wilayah sekitarnya.

1. Kabupaten Sambas;

Wilayah ini bertetangga dengan Kabupaten Bengkayang dan Singkawang, yang keduanya juga merupakan pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan Barat. Meskipun bertetangga, Kabupaten Sambas tidak memiliki ketergantungan spasial dengan kedua wilayah tersebut. Dengan kata lain, Kabupaten Bengkayang dan Singkawang belum dapat memberikan dampak spillover baik terhadap pertumbuhan output, tenaga kerja, maupun investasi bagi Kabupaten Sambas (Tabel10).

Sebaliknya, Kabupaten Sambas mampu memberikan dampak spillover pertumbuhan output bagi wilayah-wilayah sekitarnya tersebut, masing- masing sebesar 0,207 dan 0,220. Artinya, setiap kenaikan pertumbuhan output sebesar satu persen di Kabupaten Sambas, maka pertumbuhan output di Kabupaten Bengkayang, ceteris paribus, akan tumbuh sebesar 0,207 persen dan Kabupaten Singkawang sebesar 0,220 persen. Demikian juga untuk pertumbuhan tenaga kerja, dampak spillover yang dapat diberikan untuk Kabupaten Bengkayang dan Singkawang, masing-masing sebesar 0,030 dan 0,032. Dampak spillover terbesar diberikan oleh pertumbuhan investasi, dimana untuk setiap kenaikan pertumbuhan investasi sebesar satu persen di Kabupaten Sambas, ceteris paribus, maka pertumbuhan investasi di Kabupaten Bengkayang dan Singkawang akan tumbuh masing-masing sebesar 0,219 persen dan 0,232 persen.

Tabel 10. Dampak Spillover Kabupaten Sambas

Kab/Kota Spillover (diterima) Spillover (diberikan)

Y1 Y2 Y3 Y1 Y2 Y3 Bengkayang 0,000 0,000 0,000 0,207 0,030 0,219 Landak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sanggau 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Ketapang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sintang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kapuas Hulu 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sekadau 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Melawi 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Singkawang 0,000 0,000 0,000 0,220 0,032 0,232 Total 0,000 0,000 0,000 0,427 0,062 0,451 2. Kabupaten Bengkayang

Seperti dijelaskan pada poin pertama, bahwa Kabupaten Bengkayang bertetangga dengan Kabupaten Sambas. Selain itu, kabupaten ini juga bertetangga dengan kabupaten Landak, kabupaten Sanggau dan Kota Singkawang, yang juga merupakan pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan Barat. Kabupaten Bengkayang memiliki ketergantungan spasial dengan Kabupaten Sambas (0,207), Landak (0,041), dan Sanggau (0,022). Temuan yang menarik bahwa ternyata Kabupaten Bengkayang juga memiliki ketergantungan spasial dengan wilayah hinterland yang bukan merupakan pusat pertumbuhan yaitu Kabupaten Pontianak baik terhadap pertumbuhan output, tenaga kerja, maupun investasi masing-masing sebesar 0,050, 0,007, dan 0,053.

Tabel 11. Dampak Spillover Kabupaten Bengkayang

Kab/Kota Spillover (diterima) Spillover (diberikan)

Y1 Y2 Y3 Y1 Y2 Y3 Sambas 0,207 0,030 0,219 0,000 0,000 0,000 Landak 0,041 0,006 0,043 0,000 0,000 0,000 Pontianak 0,050 0,007 0,053 0,000 0,000 0,000 Sanggau 0,022 0,003 0,024 0,000 0,000 0,000 Ketapang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sintang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kapuas Hulu 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sekadau 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Melawi 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Singkawang 0,000 0,000 0,000 0,008 0,001 0,008 Total 0,320 0,046 0,338 0,008 0,001 0,008

Sayangnya, Kabupaten Bengkayang hanya mampu memberikan dampak spillover ke Kota Singkawang, yaitu sebesar 0,008 (Y1), 0,001 (Y2),

68

dari kabupaten/kota tetangganya, besaran spillover yang diberikan sangatlah kecil. Artinya, setiap kenaikan pertumbuhan output sebesar satu persen di Kabupaten Bengkayang, maka pertumbuhan output di Kabupaten Singkawang, ceteris paribus, hanya akan tumbuh sebesar 0,008 persen dan di saat yang sama, Kabupaten Bengkayang menerima dampak spillover dari kabupaten tetangganya yaitu sebesar 0,320 persen. Demikian juga untuk pertumbuhan tenaga kerja, dan pertumbuhan investasi. Dengan demikian, sebagai pusat pertumbuhan, kabupaten Bengkayang belum dapat menjadi prime mover bagi daerah sekitarnya.

3. Kabupaten Landak

Memiliki ketetanggaan dengan Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sanggau, yang juga merupakan pusat-pusat pertumbuhan di Kalimantan Barat. Kabupaten Landak justru memiliki ketergantungan spasial dengan wilayah hinterlandnya yaitu Kabupaten Pontianak, yang bukan merupakan pusat pertumbuhan. Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa sebagai pusat pertumbuhan, Kabupaten Bengkayang belum dapat memberikan dampak spillover terhadap wilayah hinterlandnya, Kabupaten Pontianak, bahkan sebaliknya memiliki ketergantungan spasial dengan wilayah tersebut.

Disisi lain, kabupaten Landak dapat memberikan dampak spillover pertumbuhan output kepada Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sanggau masing-masing sebesar 0,041 dan 0,007. Dengan kata lain, peningkatan pertumbuhan output di Kabupaten Landak sebesar satu persen, akan meningkatkan pertumbuhan output kepada Kabupaten Bengkayang yaitu 0,041 persen, diikuti Kabupaten Sanggau sebesar 0,007 persen. Demikian pula terhadap pertumbuhan tenaga kerja dan pertumbuhan investasi (dapat dilihat pada Tabel12 ).

Tabel 12. Dampak Spillover Kabupaten Landak

Kab/Kota Spillover (diterima) Spillover (diberikan)

Y1 Y2 Y3 Y1 Y2 Y3 Sambas 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Bengkayang 0,000 0,000 0,000 0,041 0,006 0,043 Pontianak 0,031 0,004 0,033 0,000 0,000 0,000 Sanggau 0,000 0,000 0,000 0,007 0,001 0,007 Ketapang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sintang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kapuas Hulu 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sekadau 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Melawi 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Singkawang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Total 0,031 0,004 0,033 0,048 0,007 0,050 4. Kabupaten Sanggau

Wilayah ini memiliki ketergantungan spasial dengan Kabupaten Landak, Sintang dan Sekadau. Meskipun juga bertetangga dengan Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Ketapang, nyatanya, kedua daerah

ini saja yang menerima dampak spillover dari Kabupaten Sanggau. Adapun dampak spillover yang diberikan ke Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Ketapang untuk pertumbuhan output masing-masing sebesar 0,022 dan 0,034. Dengan kata lain, kenaikan pertumbuhan output di Kabupaten Sanggau sebesar satu persen, akan meningkatkan pertumbuhan output di Kabupaten Bengkayang sebesar 0,022 persen dan Kabupaten Ketapang sebesar 0,034 persen.

Membandingkan antara besaran dampak spillover baik yang diterima maupun yang diberikan terhadap pusat-pusat pertumbuhan, terlihat bahwa Kabupaten Sanggau justru lebih banyak memiliki ketergantungan spasial ketimbang kemampuannya dalam memberikan dampak spillover. Hal ini ditunjukkan dengan besaran total dampak spillover pertumbuhan output yang diterima yaitu sebesar 0,124 melebihi total dampak spillover yang diberikan yaitu hanya sebesar 0,056. Temuan yang penting lainnya adalah bahwa ketergantungan spasial Kabupaten Sanggau dengan hinterlandnya yaitu Kabupaten Sekadau adalah yang paling besar mencapai 0,109. Hal ini berlaku pula untuk pertumbuhan tenaga kerja dan pertumbuhan investasi.

Tabel 13. Dampak Spillover Kabupaten Sanggau

Kab/Kota Spillover (diterima) Spillover (diberikan)

Y1 Y2 Y3 Y1 Y2 Y3 Sambas 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Bengkayang 0,000 0,000 0,000 0,022 0,003 0,024 Landak 0,007 0,001 0,007 0,000 0,000 0,000 Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Ketapang 0,000 0,000 0,000 0,034 0,005 0,035 Sintang 0,008 0,001 0,009 0,000 0,000 0,000 Kapuas Hulu 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sekadau 0,109 0,016 0,115 0,000 0,000 0,000 Melawi 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Singkawang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Total 0,124 0,018 0,131 0,056 0,008 0,059 5. Kabupaten Sintang

Berbatasan dengan lima kabupaten yaitu Sanggau, Ketapang, Kapuas Hulu, Sekadau, dan Melawi, wilayah ini hanya memiliki ketergantungan spasial dengan Kabupaten Sekadau (Tabel 14). Meskipun bukan merupakan daerah pusat pertumbuhan, Kabupaten Sekadau mampu menjadi penentu pertumbuhan bagi Kabupaten Sintang. Disisi lain, dampak spillover yang diberikan oleh Kabupaten Sintang kepada wilayah-wilayah lain di sekitarnya (Sanggau, Ketapang, Kapuas Hulu, dan Melawi) secara total masing-masing hanya mencapai 0,055 (Y1), 0,008 (Y2), dan 0,058 (Y3).

Bila dibandingkan dengan dampak yang diterima dari wilayah hinterlandnya maka hal ini jelas memperlihatkan adanya kebocoran baik terhadap output, tenaga kerja, maupun investasi.

Dampak spillover terbesar yang diberikan oleh Kabupaten Sintang ke wilayah sekitarnya adalah melalui pertumbuhan investasi, dimana untuk setiap kenaikan pertumbuhan investasi sebesar satu persen di Kabupaten

70

Sintang, ceteris paribus, maka pertumbuhan investasi di Kabupaten Kapuas Hulu, Ketapang, Sanggau dan Melawi akan meningkat masing-masing sebesar 0,024 persen, 0,024 persen, 0,009 persen dan 0,002 persen.

Tabel 14. Dampak Spillover Kabupaten Sintang

Kab/Kota Spillover (diterima) Spillover (diberikan)

Y1 Y2 Y3 Y1 Y2 Y3 Sambas 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Bengkayang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Landak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Sanggau 0,000 0,000 0,000 0,008 0,001 0,009 Ketapang 0,000 0,000 0,000 0,023 0,003 0,024 Kapuas Hulu 0,000 0,000 0,000 0,023 0,003 0,024 Sekadau 0,077 0,011 0,081 0,000 0,000 0,000 Melawi 0,000 0,000 0,000 0,002 0,001 0,002 Kota Pontianak 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Kota Singkawang 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Total 0,077 0,011 0,081 0,055 0,008 0,058

6. Kabupaten Kapuas Hulu

Wilayah ini selain berdekatan dengan Kabupaten Sintang, posisinya