di kantor SMI, The East Building, Jakarta. Penyerahan sertiikat terse- but disaksikan Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Per- industrian Achmad Sigit Dwihanjono; Staf Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar; Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strate- gis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno; serta perwakilan
dari Swedish Energy Agency(SEA) dan
Sindicatum Carbon Capital. Sertiikat itu diberikan atas kerja nyata SMI dalam mengurangi emisi
gas buang serta penggunaan bahan substitusi batu bara dengan biomas di Pabrik Tuban. Nah, keberhasilan itu mendapat pengakuan dari UNFCCC lewat sertiikat CER. Dalam program CDM, sertiikat itu tak semata berarti
pengakuan. Tetapi sekaligus menjadi bukti transaksi jual beli karena mencan- tumkan berapa ton emisi gas buang yang mampu dikurangi Pabrik Tuban. Di sertiikat itu tertera, pada periode 25 Februari 2012–29 Februari 2016 jumlah
emisi yang mampu ditekan sebanyak 213.717 ton CO2 equivalent (lihat di: https://cdm.unfccc.int/Issuance/ cers_iss.html).
Dirut SMI Rizkan Chandra men- jelaskan, melalui upaya penurunan emisi gas buang yang terintegrasi dan diterapkan di seluruh pabrik, perseroan pada 2015 telah berhasil menurunkan
emisi 12,7 persen dari baseline 2009, lalu ditargetkan turun 22 persen pada
2020. ”Kontribusi ini jauh lebih tinggi dari peraturan menteri per-
industrian tentang peta panduan pengurangan emisi CO2 industri di Indonesia sebesar 2 persen pada 2015 dan 3 persen pada 2020,” ujarnya.
Emisi gas buang CO2 di pabrik semen berasal dari tiga sumber. Yakni proses kalsinasi bahan baku, penggunaan bahan bakar fosil dan batu bara, serta pemakaian energi listrik di pabrik. ”Untuk hal pertama, target perseroan adalah mengurangi persentase clinker dalam produksi se- men sehingga mengurangi emisi CO2 dengan penggunaan material adiktif substitusi. Kami menjadi produsen semen pertama yang memproduksi
slag di Cigading, Banten, dan terbukti
mampu menurunkan penggunaan clink
SMI RAIH SERTIFIKAT CER-CDM
PROJECT DARI UNFCCC
Tekan
Emisi Gas Buang,
Kantongi Rp 10,2 M
dari Pemerintah
Swedia
JEMPOL
er hingga 30 persen. Kedua, dengan
mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk mengurangi CO2 di Pabrik Tuban melalui proyek CDM yang ditan- dai dengan diterbitkannya sertiikat UNFCCC,” papar Rizkan.
Selain itu, lanjut dia, SMI meman- faatkan gas buang sebagai sumber
energi dengan membangun waste heat
recovery power generator (WHRPG) di Pabrik Indarung sebesar 8 megawatt pada 2014. Sehingga per tahun meng- hasilkan penghematan operasional sebesar Rp 33 miliar dan mengurangi emisi CO2 sebesar 42 ribu ton. ”Ini yang pertama dilakukan pabrik semen di Indonesia,” ucapnya.
SMI juga sedang merampungkan fasilitas WHRPG serupa di Tuban dengan kapasitas 30 megawatt dan berkontribusi terhadap penghematan biaya operasional sebesar Rp 120 miliar serta mengurangi emisi CO2 sebe- sar 122 ribu ton per tahun. ”Di masa mendatang, seluruh pabrik di Semen Indonesia Group akan menggunakan WHRPG sebagai komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan yang lebih baik,” beber Rizkan.
Sejak 2009, SMI dibantu konsultan ahli di bidang CDM, yakni Sindicatum Carbon Capital, telah merintis pengurangan emisi gas buang yang berkelanjutan. Pada Mei 2015, dilakukan penandatanganan Emission Reduction Purchase Agree- ment (ERPA) antara SMI dan pemerintah Swedia untuk periode enam tahun, yakni 2013-2018. Berdasar ERPA, jumlah CER yang telah diperjualbelikan pada tahap pertama sebesar 193.536 ton CO2eq.
Issuance CER itu oleh UNFCCC telah dikirimkan kepada SMI sebagai penjual dan Swedia (Swedish Energy Agency) selaku pembeli. Kenapa Swedia? Seba- gaimana diketahui, negara-negara di dunia telah sepakat untuk mengurangi perubahan lingkungan yang disebab- kan efek rumah kaca lewat CDM. Dalam mekanisme itu diatur, negara-negara industri yang tidak mampu mengenda- likan emisi gas buang diharuskan mem- beri apresiasi atau membeli kepada negara-negara atau perusahaan yang mampu mengurang iemisi gas buang pada proses produksinya.
SMI berdasar ERPA telah mengikat kerja sama dengan pemerintah Swedia dalam proyek CDM itu. Dalam kesepa- katan yang ditandatangani pada 6 Mei 2015, jumlah CER yang diperjualbelikan
untuk issuance CER tahap pertama sebe- sar 193.536 ton CO2eq dengan periode
monitoring Januari 2013–Februari 2016. Harga CER yang telah disepakati sebesar 3,75 euro per CER dengan durasi kontrak jual beli selama enam tahun mulai 2013. Pendapatan yang diperoleh SMI dari penjualan CER tersebut sebesar 725.760 euro atau sekitar Rp 10,2 miliar.
Dubes Swedia Johanna Brismar Skoog menilai CDM menjadi kunci yang penting dalam upaya mengatasi peru- bahan iklim yang makin terasa secara global. Dia mencontohkan peningkatan suhu serta sejumlah bencana alam yang terjadi akibat perubahan iklim. ”Peme- rintah Swedia terus berkolaborasi dengan negara-negara di dunia untuk mengatasi perubahan iklim. Kami hanya negara kecil, dan berpengaruh tidak luas bagi lingkungan global. Makanya, kami berinisiatif untuk keluar dan men- dukung negara lain,” tuturnya.
Sejak 1999, lanjut dia, pemerintah Swedia aktif mendukung berbagai inisiatif, menginisiasi 9 kumpulan dana internasional, dan memfasilitasi 130 proyek yang bernilai sekitar USD 300 juta. ”Dalam upaya penanggulangan perubahan iklim, dibutuhkan contoh yang benar dan Semen Indonesia adalah contoh itu. CER bisa memberi- kan contoh substitusi bahan bakar fosil dengan alternatif yang ramah lingkun- gan. Biomas yang sebenarnya diang- gap sebagai sampah dan menimbulkan masalah bagi pemerintah Indonesia dapat berubah menjadi sumber energi. Pemerintah Swedia mengapresiasi CER Semen Indonesia dan akan terus menja- lin kerja sama,” paparnya.
Bagaimana sisa CER yang tidak dibeli pemerintah Swedia? ”Sisa issuance CER sebesar 20.181 ton CO2eq akan ditawar- kan ke negara lain yang berminat untuk membeli dengan harga yang menarik,”
terang Rahadi Mahardika, salah satu penanggung jawab proyek itu.
Untuk diketahui, CER adalah satuan jumlah emisi gas rumah kaca (CO2) yang bisa diturunkan melalui peman- faatan biomas sebagai bahan bakar alternatif dan dikonversikan menjadi sebuah kredit (1 CER = 1 ton CO2eq). Jumlah CER itu diperoleh dari pemaka- ian biomas sebagai bahan bakar alter- natif untuk substitusi batu bara di Pabrik Tuban 1 dan Tuban 3 mulai Januari 2013 hingga Februari 2016. Jumlah biomas yang dipakai selama 4 tahun sebesar 275.778 ton. Jenis biomas yang terdaftar dalam PDD adalah sekam padi dan cocopeat. Sekam padi disuplai dari 4 kabupaten terdekat dengan pabrik. Yaitu Kabupaten Tuban, Lamongan, Rembang, dan Jombang. Plus Kecama- tan Cepu. Lalu, cocopeat disuplai dari Kabupaten Banyuwangi.
Dengan diperolehnya CER tersebut, langkah perseroan untuk turut serta dalam pengendalian emisi lingkungan dan pencegahan pemanasan global telah diakui dunia internasional. Perseroan mampu menurunkan emisi CO2 yang dibebakan pemakaian batu bara. Reduksi emisi CO2 secara langsung akan mengu- rangi emisi gas rumah kaca (GHG) yang dapat menimbulkan pemanasan global. Selain bermanfaat di bidang lingkun- gan, proyek CDM berkontribusi terhadap pengembangan masyarakat sosial. Hal itu terbukti dengan terbentuknya banyak vendor penyuplai sekam, di mana mereka bias membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat sekitar. Hingga saat ini, SMI menjalin kerja sama dengan 11 vendor penyuplai sekam. Selain itu, membuka lowongan pekerjaan untuk tenaga bongkar sekam di storage. Jumlah tenaga untuk membongkar sekam padi dari karung seki- tar 20–30 orang. Mereka berasal dari desa ring 1. (ram/rhd/andryanto/SG)
S
ekretaris HKDH Pri Dwi Haryanto mengatakan timnya tidak cuma berjuang untuk kepentingan internal perusahaan, melainkan juga mengharumkan nama Semen Tonasa sebagai pabrik semen yang mempunyai ‘pasukan’ produksi yang solid dan kuat.Pri menceritakan jika semula timnya merasa prihatin dengan proses kerja di lingkungannya yang masih mengguna- kan sistem kontrol konvensional. Hal ini sangat berpengaruh pada kelancaran produksi, utamanya di bagian bucket
silo. Jika ada gangguan, maka otomatis sistem akan berhenti dan harus segera dicari penyebabnya. “Butuh waktu lama untuk perbaikan sehingga otomatis akan mengganggu proses produksi, bahkan mengancam target harian,” tutur Pri yang ditemui pertengahan Maret lalu.
Dengan alasan itu, sejak 2013 tim HKDH pelan-pelan melakukan perbaikan sistem kerja yang dianggap sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan pasar.
Mulailah tim teknis yang berang- gotakan lima orang, masing-masing Shabir sebagai fasilitator, Achmad selaku ketua, sekretaris Pri Dwi tHary- anto serta anggota Ilham dan Bachtiar, bekerja keras. “Kita hendak mengubah sistem kerja yang semula konvensional menjadi sistem kontrol dari relay ke PLC berbasis komputer,” tambahnya.
Diakui Pri, melakukan perubahan
seperti itu tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu kekompakan dan kerja keras, terutama perbaikan perang- kat lunak dan perangkat keras yang tida boleh mengesampingkan semangat eisiensi. Artinya tetap menggunakan peralatan yang layak pakai namun hasil kerjanya optimal.
Dalam praktiknya, tim HKDH menerapkan tujuh langkah atau tahap penerapan sistem baru di lingkungan
bucket silo semen Biringkassi. Dalam setiap tahap selalu ditemui kendala, terutama soal kemampuan mesin dan pengetahuan karyawan. “Kita berikan solusi yang nantinya menghasilkan peningkatan produksi,” ujar Pri.
Ia menambahkan, dengan sistem PLC berbasis komputer, petugas dengan mudahmya mengontrol semua sistem kerja di bucket silo Biringkassi hanya di depan komputer. Selain eisien waktu dan tenaga, ternyata hasilnya cukup memuas- kan. Terjadi peningkatan produksi bucket
1 silo Biringkassi untuk mendukung target semen curah 14.000 ton perhari, dari realisasi hanya 9.000 ton.
Hal ini sangat mendukung kelan- caran distribusi semen ke semua wilayah pemasaran semen Semen Tonasa dengan pintu distribusi melalui pelabuhan Biring- kassi. Dari pelabuhan ini, setiap harinya puluhan kapal dari berbagai wilayah ber- labuh untuk selanjutnya memuat semen ke berbagai pelosok negeri, terutama
di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan pelabuhan-pelabuhan kecil di nusantara lainnya. “Biringkassi juga menjadi keluar terdekat untuk mengirim semen ke pasar regional,” katanya lagi.
Ternyata nama HKDH juga mem- punyai ilosoi lain, bahwa tim teknis Semen Tonasa ini, meski setiap saat bergelut dengan sistem kerja mesin yang rumit dan keras, namun bisa juga menjadi tim yang penuh romantika dan kelembutan. Di samping itu, HKDH beberapa kali mengharumkan nama Se- men Tonasa di ajang kompetisi tingkat holding maupun regional.
Untuk prestasi, tim ini telah mengan- tongi berbagai peringkat terbaik, misal- nya juara 1 Semen Indonesia Award on Innovation (SMI-AI) 2015-2016 kategori Gugus Kendali Mutu, dengan inovasi berjudul ‘Meningkatkan Keandalan Bucket 1 Silo Semen Biringkassi untuk mendukung tercapainya Target Ang- kutan Semen Curah 14.000 Ton/Hari.’ “Kita juga pernah meraih peringkat keempat nasional,” bebernya.
Bermula dari tujuan yang mulia seba- gai bentuk loyalitas kepada perusahaan, tim HKDH mampu menjadi inspirasi bagi ribuan karyawan lainnya untuk memaju- kan perusahaan sebagai industri semen terbesar di KTI. Serta mampu mereali- sasikan target produksi perusahaan dan mendukung kelancaran pemasaran ke berbagai pelosok di nusantara. (rud/ST)