• Tidak ada hasil yang ditemukan

n Lilik Harijanto

Dalam dokumen Majalah Sinergi | Semen Indonesia (Halaman 62-64)

L

ilik, asal Desa

Sukoharjo, Dukuh Jarakan RT 02/RW 01, Kecamatan Rem- bang, Kabupaten Rembang, nyaris pa- tah semangat ketika usaha berjualan aneka jenis ikan laut yang dia tekuni kolaps. Bisnis itu se- jatinya sempat memberinya harapan besar. Pemasarannya bahkan sampai ke Surabaya dan Pekalongan.

Namun, karena terlalu percaya kepada pelanggan, usaha itu pun ambruk. “Barang sudah kita kirim, tapi pembayarannya macet,” kenang

Lilik, disambung geleng-geleng kepala. Ditemui awal Desember 2016 lalu, bapak dua anak ini pun berkisah tentang perkenalannya dengan bisnis lobster. Seorang teman yang sudah lama jadi pengepul lobster di Jakarta memberi saran agar dia beralih ke binatang laut bercapit itu.

Lilik tak butuh waktu lama untuk berpikir. Tahun itu juga, 2006, pria kelahiran Rembang, 22 Sep- tember 1970, ini mulai jadi pengepul. Dia hanya fokus pada lobster jenis Mutiara dan Pakistan,

yang memang sering didapat para nelayan dari Rembang dan sekitarnya. “Bisa dibilang saya ini pionir, soalnya ketika itu di Rembang belum ada pengepul lobster. Setahun kemudian perkembangannya luar biasa. Agen dan bakul tempat saya kulakan mulai berdiri sendiri,” imbuhnya.

Mengaku hanya pengepul kecil, kenya- taanya tiap hari dia menyiapkan uang minimal Rp 10 juta untuk membeli lobster dari sekitar 25 nelayan dan agen yang menjadi mitranya. Harga lobster Pakistan per kg Rp 300 ribu, sedangkan jenis Mutiara mencapai Rp 500 ribu per kg. “Itu kalau hidup. Kalau sudah mati harganya sama, Rp 130 ribu sekilo,” cetusnya.

Lobster-lobster itu lantas dikemas dalam kotak styrofoam dengan berat 25 kg per koli. Dalam sehari Lilik mampu mengirim dua koli lobster ke sejumlah kota, antara lain Jakarta, Surabaya, serta Batam. Pengepul di daerah tujuan lantas menyalurkannya ke sejumlah restoran besar. Mengirim lobster hidup, terang Lilik, lumayan rumit dan mahal. Hewan dari keluarga Nephropidae itu mesti dibius lebih dulu sebelum dima- sukkan ke kotak khusus yang diberi es batu. Setelah itu baru dikirim ke tujuan via pesawat terbang.

“Harus dengan pesawat karena kekuatan bius itu hanya 18 jam. Kalau sampai terlambat risikonya bisa mati. Mengirim lobster mati lebih gampang, cukup lewat bus atau kita paketkan,” terang bungsu dari enam bersaudara ini. Menilik prosesnya yang rumit, wajar kalau harga jual lobster begitu tinggi.

Lobster Pakistan yang dibeli Rp 300 ribu per kg, bisa laku Rp 370 ribu sampai Rp 400 ribu. Lobster jenis Mutiara, yang dikulak Lilik sekilo Rp 500 ribu, dihar- gai konsumen Rp 700 ribu. Sedang kan yang mati dibeli senilai Rp 130 ribu tiap

kg. Bila tiap hari Lilik mengirim dua koli lobster dengan berat 50 kg, berarti dalam sebulan volume penjualannya mencapai 60 koli dengan berat total 1.500 kg.

Taruh kata harga jual per kg rata-rata Rp 400 ribu, maka omzet pemasaran- nya dalam sebulan bisa mencapai 600 juta. Disodori hitung-hitungan ini, Lilik tertawa sebelum akhirnya menjawab, “Soal omzet nggak bisa dimatematika seperti itu. Bisnis ini risikonya besar. Saya pernah beli satu ekor lobster Mu- tiara, karena kurang hati-hati akhirnya mati. Ruginya sampai Rp 800 ribu, itu cuma satu ekor,” terang dia.

Toh Lilik tak memungkiri, usaha mengepul lobster yang telah dijalani selama 10 tahun telah membuatnya jadi jutawan. Rumah dan sebidang tanah telah dia milki, begitu pula ‘saham’ dalam usaha patungan budidaya benur udang dengan sejumlah temannya. “Selain itu ya untuk biaya nyalon kades kemarin,” aku Kepala Desa Sukoharjo ini.

Lilik menjadi kades sejak 2007, dan kini telah memasuki jabatan periode kedua. “Masa jabatan saya berakhir sampai 2019 nanti,” beber suami Siti Naimah ini. SAINGAN MAKIN BANYAK

Lain dulu lain sekarang, begitulah situ- asi bisnis lobster di Kabupaten Rembang. Bila dulu jumlah pengepul lobster hanya beberapa, sekarang sudah mencapai 10 orang. Akibatnya, menurut Lilik Harijanto, mencari barang dagangan tidak segam- pang sebelumnya.

“Kadang kita memberi uang panjar kepada nelayan, bisa pula dalam ben- tuk barang untuk mendukung opera- sional selama melaut. Tapi tetap saja lobster yang kita dapat tidak sebanyak dulu, karena harus dibagi-bagi dengan pengepul yang lain,” sebutnya. Paling berat kalau dia harus bersaing dengan

pemodal besar yang berani membeli ke nelayan dengan harga tinggi.

Beruntung, tahun 2015 Lilik menda- pat pinjaman modal dari Semen Indo- nesia senilai Rp 40 juta. Kata dia, uang tersebut sangat berarti untuk menjaga kontinuitas usahanya. Tapi masalah tidak berhenti di situ saja. Lilik dan para pengepul lobster lainnya dihadang persoalan yang tak kalah pelik, yaitu ke- luarnya surat edaran Nomor: 72/MEN- KP/II/2016 tentang pembatasan peng- gunaan alat penangkapan ikan cantrang di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Negara Republik Indonesia.

Dalam surat edaran bertanggal 11 Februari 2016 yang diteken Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu, toleransi penggunaan cantrang tersebut hanya sampai 31 Desember 2016. “Selama ini nelayan di Rembang pakai cantrang untuk menangkap lob- ster. Kalau benar-benar dilarang, solusi satu-satunya ya harus mengganti alat tangkap,” ujar ayah dua anak, Hayas Ahmada dan Ahmad Nabih, ini.

Pria yang mengawali bisnis lobster dengan modal awal hanya Rp 5 juta ini telah menyiapkan ‘sekoci’ bila usaha yang ditekuninya surut akibat keluarnya peraturan Menteri Susi. Tak jauh-jauh dari hasil laut, Lilik dan empat teman- nya tengah merintis usaha budidaya benur udang. Pembeli dari Paciran, Lamongan, sudah siap menampung benih yang dihasilkan.

Di sisi lain, sebagai kades, Lilik juga kepikiran nasib warganya yang kesulitan mengembangkan usaha karena tidak punya akses ke lembaga keuangan. “Ada yang usaha ternak burung, kon- veksi, dan lainnya. Kasihan, mereka se- mua pengusaha kecil. Semoga Semen Indonesia nanti mau turun tangan,” harapnya. (lin/ir)

S

aat ditemui tim Sinergi, Arif tengah sibuk mengurus ribuan tanaman di halaman rumahnya yang terletak di kawasan ring 1 Semen Tonasa. Pria paro baya itu tam- pak telaten memeriksa ”hartanya” itu satu per satu, mulai daun hingga akar. Tak boleh ada satu bibit tanaman pun yang cacat karena bakal berpengaruh terhadap harga jual.

Arif berkisah, usaha pembibitan itu bermula dari kegemarannya mena- nam berbagai tanaman buah. Waktu itu, tahun ’80-an, dia masih menjadi petani padi.

”Pertama kali saya coba menanam jeruk bali, baik bijinya maupun dengan cara mencangkok,” katanya. Siapa sangka, tindakan coba-coba itu mem- buahkan hasil bagus. Bibit jeruk bali itu

tumbuh subur dan membuat banyak tetangganya tertarik.

Arif kian bersemangat mengem- bangkan bibit tanaman bernama Latin

Citrus grandistersebut. Pelan-pelan namanya makin dikenal sebagai pem- budi daya tanaman buah, terutama jeruk bali.

”Permintaan makin banyak, teruta- ma pada musim hujan. Pembeli itu dari desa tetangga juga tambah banyak,” sambungnya.

Tapi, sebagaimana jenis usaha lain- nya, budi daya tanaman yang dilakoni Arif juga mengalami pasang surut. Tan- tangan terberat dirasakan ketika musim kemarau berkepanjangan karena bibit-bibit tanaman sangat membu- tuhkan air. Terjangan kemarau pernah membuat banyak tanamannya mati.

BERAWAL

Dalam dokumen Majalah Sinergi | Semen Indonesia (Halaman 62-64)

Dokumen terkait