RANAH
R
atusan orang mengikuti acaraperesmian Sanggar Budaya Turiolo di Kampung Borong Untia, Desa Biringere, Rabu silam (16/11/2016). Sanggar seni tersebut dibangun selama tiga bulan dengan anggaran Rp 86 juta dari CSR Semen Tonasa. Upacara menre baruga hari itu berlangsung semarak.
Kedatangan tamu dan undangan
disambut dengan tari paduppa dan
atraksi mangngaru, pernyataan sumpah
setia dengan menghunus badik. Menre
baruga merupakan ritual adat sebelum menempati suatu bangunan. Banyak sekali prosesi yang harus dilakukan. Antara lain mengelilingi bangunan sanggar seni sebanyak tujuh kali den- gan diiringi tabuhan gendang serta alat musik lokal lain, membakar kemenyan,
lalu dipungkasi dengan sabung ayam. Acara yang dihadiri Bupati Pangkep Syamsuddin A. Hamid, Wabup Syahban Sammana, Ketua DPRD Pangkep Andi Ilham Zainuddin, dan petinggi kepoli- sian setempat itu ditandai dengan pe- nyerahan sertiikat dari Semen Tonasa kepada tetua Kampung Borong Untia AS Simpuang Ago.
Bupati Pangkep Syamsuddin A. Hamid mengungkapkan, budaya khas Biringere tidak boleh hilang, bahkan harus menjadi identitas dan karakter warga. ”Apa lagi yang bisa kita bang- gakan selain budaya ini? Masyarakat memahami toleransi, sipakatau, saling menghargai, saling memberi ruang untuk hidup sesuai dengan potensi sosial dan ekonominya, juga karena budaya. Karena itu, budaya harus hidup
Menre BaUGa
Di BOOnG Untia
SEMPAT MUNCUL
KEKHAWATIRAN BAHWA
INDUSTRIALISASI BAKAL
MENGGERUS HABIS
BUDAYA LOKAL. NYATANYA,
ITU TIDAK TERJADI DI
KAWASAN RING 1
PT SEMEN TONASA.
JUSTRU SEBALIKNYA,
BUDAYA KHAS WARGA
DESA BIRINGERE,
KECAMATAN BUNGORO,
PANGKEP, SULSEL,
SEMAKIN BERKEMBANG.
SALAH SATUNYA MENRE
BARUGA, RITUAL ADAT
SEBELUM MENEMPATI
SEBUAH BANGUNAN.
RANAH
terus. Dan, acara sekarang ini adalah bagian dari upaya menghidupkan budaya,” paparnya.
Tokoh adat masyarakat Kampung Borong Untia Simpuang Ago mengatakan, sanggar seni tersebut bakal berfungsi sebagai tempat belajar bagi anak-anak tentang budaya, juga sebagai tempat pertemuan masyarakat. ”Bisa jadi tempat tudang sipulung, pertemuan, majelis taklim, serta pelatihan kesenian dan budaya,” kata Puang Ago.
”Yang penting dari belajar budaya adalah mengetahui kearifan masa lalu dan mengasah kecerdasan spiritual yang sekarang sudah diang- gap tidak penting,” lanjutnya. Sementara itu, Direktur Produksi Semen Tonasa Joko Sulisti-
yanto mengatakan, pembangunan baruga adat
tersebut adalah bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar pabrik.
Dia berharap, dengan adanya bantuan itu, hubungan antara Semen Tonasa dan warga semakin erat. ”Ini bentuk kepedulian kita di To- nasa kepada warga sekitar. Semoga dengan ada
baruga adat ini, hubungan kekeluargaan yang sudah terbangun semakin baik dan semakin erat,” kata Joko, didampingi Kadep CSR dan Umum Ferry Djufri.
”Biringere haruslah menjadi warna lokal yang terus melengkapi kearifan pengelolaan peru- sahaan. Biringere tidaklah diistimewakan dari yang lain, tapi ia menjadi istimewa karena unsur budaya dan kearifan lokal, termasuk potensi ketenagakerjaan di dalamnya,” sambung Joko.
Keunikan bangunan serta kegiatan budaya yang terselenggara dengan adanya sanggar seni itu mendapat apresiasi positif pada Malam Apresiasi CSR 2016 yang dihelat SINDO Media Group di Hotel Borobudur, Jakarta, 13 Desem- ber 2016 lalu.
Ada 22 perusahaan yang mendapatkan apresiasi CSR dengan 8 kategori. Yaitu kategori lingkungan, pendidikan, budaya, pemberdayaan ekonomi, sosial, kesehatan, inovasi program CSR, dan inovasi komunikasi CSR. Pembangu- nan sanggar seni di Biringere oleh Semen Tonasa berbuah apresiasi CSR untuk kategori budaya. Penghargaan itu diterima langsung oleh Dirut Semen Tonasa Andi Unggul Attas dari Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo.
Pemred SINDO Weekly Nevy Hetharia meng- ungkapkan, apresiasi CSR itu sudah menjadi agenda tahunan untuk mendorong program- program CSR yang lebih baik. Dengan begitu, dampaknya bisa lebih dirasakan masyarakat sekitar perusahaan. ”Pada praktiknya, inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan CSR sangat diperlukan, menyangkut pembagian komposisi dana yang disalurkan ke masing-masing pilar maupun jenis dan format kegiatan CSR di lapa- ngan,” ungkapnya. (far/ST)
J
oko Ade Saputra, 30, atau yang le bih akrab disapa Joe memiliki banyak hobi unik dan menantang. Karyawan Departemen Pengadaan Semen Padang itu selain gemar me nunggang mo- tor gede, bermusik (gitaris sebuah band), juga tergabung dalam klub mancing dan menyukai olahraga ekstrem menembak. ”Olahraga menembakini dapat meningkat- kan adrenalin yang menyebabkan aliran darah kita meningkat sehingga sumber energi di dalam tubuh juga bertambah,” tutur Wakil Ketua
Bidang Berburu Kombatsena itu ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Kombatsena didirikan pada 15 Juli 2011 di Sumbar dan berada di bawah payung Perbakin Sumbar. Di awal berdiri, Kom- batsena beranggota 20 orang. Kini jumlah anggotanya berkembang mencapai 600 orang. Joe bergabung dengan Kombatsena sejak November 2014. Kombatsena telah menjadi wadah bagi dia untuk me nyalurkan hobi dan melaksanakan aktivitas sosial kemasyarakatan.
”Saya suka menembak sejak kecil. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas V SD. Kemudian diajak ayah ke ladang, berburu
tupai dan kera menggunakan senapan angin. Pada saat itu tupai dan kera selalu merusak kelapa dan kakao,” tutur pria asal Lubukalung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, tersebut.
Joe menceritakan, di sela-sela berburu, sang ayah mengajarinya cara menggunakan senapan angin. Sejak saat itulah dia meng-
gilai kegiatan menem- bak. Bahkan, bersama sang ayah, hampir setiap libur akhir pekan dia pergi ke ladang untuk berburu hama dengan menggunakan senapan angin. ”Jadi, hobi menembak itu bukan untuk hura-hura, namun juga ber- manfaat bagi petani,” ucap pria yang oleh rekan-rekannya dijuluki Joe Sniper lantaran kepiawaiannya membidik sasaran itu.
Joe saat ini sudah mengoleksi tiga senapan tipe PCP (pre-charge pneumatic) cal 4.5 mm. Satu senapan dibelinya dengan harga sekitar Rp 10 juta. Meski harganya tergolong mahal, dia tidak terlalu memper- soalkan. ”Harga tidak jadi masalah karena di era digital ini semua teknologi tentu harus di-upgrade. Kalau tidak, kita akan kesulitan untuk mengimprovisasi kemam- puan dalam menembak tepat sasaran,” terang dia.