• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar-dasar Teologi Komunikasi Sosial Gereja

Pada dasarnya komunikasi sosial Gereja bisa dikaji dalam empat dimensi teologis. Dimensi tersebut mencakup 1) Komunikasi internal Allah Tritunggal, 2)

16 Frans-Josef Eilers, SVD., “Communication Theology: Some Considerations”, 2.

17 Frans-Josef Eilers, SVD., “Communication Theology: Some Considerations”, 3.

Pewahyuan, 3) Misteri inkarnasi dan 4) Gereja sebagai kelanjutan dari ketiga hal sebelumnya dalam konteks kekinian dan kesinian manusia. Pemaparan di bawah ini merupakan uraian dari masing-masing dimensi teologis komunikasi sosial Gereja.

3.4.1. Komunikasi Trinitaris

Frans-Josef Eilers mengemukakan gagasan bahwa sejak awal mula, komunikasi sosial dalam Gereja didasarkan pada konsep komunio Trinitaris. Dari dalam diri-Nya, Allah adalah komunikasi. Komunikasi Allah diwujudkan secara nyata kepada manusia dan kepada dunia melalui pribadi Yesus. Yesus Kristus menyatakan kepada manusia bahwa hidup ilahi merupakan suatu persekutuan Trinitaris. Bapa, Putra dan Roh Kudus tinggal di dalam misteri kesatuan tertinggi dan sempurna dalam rasa cinta yang akrab dan mesra. Kesatuan Trinitaris merupakan sumber dari semua cinta dan semua persekutuan yang memberi martabat dan keagungan bagi keberadaan manusia18.

Lebih lanjut, Frans-Josef Eilers juga mengutip pendapat Bernhard Haring yang melukiskan komunikasi batiniah ini dengan sangat jitu. Bernhard Haring mengungkapkan bahwa Yesus membagikan diri-Nya dan segala kebenaran yang muncul dari sharing total antara Bapa dan Putra dalam Roh Kudus. Komunikasi merupakan unsur konstitutif dalam misteri Allah. Masing-masing ketiga pribadi Ilahi memiliki segala sesuatu yang baik, segala sesuatu yang yang benar, segala sesuatu yang indah dalam pola komunio dan komunikasi. Tindakan penciptaan,

18 Frans-Josef Eilers, SVD., “Communication Theology: Some Considerations”, 3.

penebusan dan komunikasi muncul dari misteri ini, dan sasaran akhirnya ialah untuk menarik manusia ke dalam persekutuan dengan Allah berkat komunikasi itu sendiri19. Dengan menciptakan kita seturut gambar dan rupa-Nya, Allah menjadikan kita peserta komunikasi-Nya yang kreatif dan membebaskan dalam persekutuan, dan demi persekutuan20. Oleh karena itu, Alah Tritunggal yang berkomunikasi dan telah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya memampukan manusia untuk berkomunikasi pula.

3.4.2. Pewahyuan

Allah Tritunggal tidak tinggal di dalam diri-Nya sendiri, tetapi mewahyukan diri-Nya dan berkomunikasi dengan makhluk ciptaan-Nya, menjadikan mereka sebagai mitra-Nya. Ia mewahyukan diri-Nya melalui tata ciptaan dan rahmat. Seluruh Perjanjian Lama dapat dilihat sebagai sebuah risalah tentang komunikasi Allah dengan umat-Nya Israel. Dalam komunikasi ini, Ia mendayagunakan semua sarana dan menggunakan cara berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal yang tersedia dalam kebudayaan manusia21.

Kisah-kisah dalam Perjanjian Lama menunjukkan bagaimana Allah menguasai berbagai cara berkomunikasi mulai dari amarah hingga kasih penuh rayuan, melalui gempa bumi dan keheningan, melalui badai dan perlindungan melawan para musuh dan bencana alam. Ia berbicara secara langsung kepada para

19 Frans-Josef Eilers SVD., Berkomunikasi dalam Pelayanan dan Misi: Sebuah Pengantar Komunikasi Pastoral dan Komunikasi Evangelisasi, 25.

20 Frans-Josef Eilers, SVD., “Mission in Social Communication: Challenges for the Church in Asia”, www.fabc.org, diunduh pada 30 April 2009, 3.

21 Frans-Josef Eilers, SVD., “Mission in Social Communication: Challenges for the Church in Asia”, 4.

nabi dan raja, dari muka ke muka dengan Musa, dengan berbagai kelompok orang dan individu. Ia memanggil Musa masuk dalam pengabdian istimewa dari dalam semak bernyala, yang barangkali ia dekati hanya karena terdorong rasa ingin tahu.

Allah mendayagunakan kebutuhan dan hasrat akan berita yang dipunyai manusia guna membangun relasi dan meneruskan amanat serta keprihatinan-Nya22.

Kisah-kisah tentang komunikasi Allah dengan Israel yang tertuang dalam Perjanjian Lama antara lain: Allah memberkati, membebaskan, menyelamatkan, menuntun di jalan-jalan berbahaya, memberi nasihat-nasihat yang menyelamatkan hidup (melalui Musa); Ia ingin hidup di tengah-tengah umat-Nya namun juga menentang mereka dalam keberdosaan mereka; Ia mengadakan sebuah perjanjian dengan umat-Nya dan membiarkan mereka mengalami pengampunan dari-Nya yang menyanggupkan mereka memulai kembali secara baru. Janji-janji-Nya termuat dalam sebuah buku, yakni Alkitab, yang adalah Kitab Perjanjian (Kel 24:7) yang memaparkan bahwa Allah telah mengikat diri-Nya sendiri sebagai Allah kebenaran dan belas kasih dengan Israel. Begitulah, Allah berkomunikasi dalam banyak cara, baik secara verbal maupun non verbal, dan akhirnya komunikasi-Nya disajikan, dilestarikan dan dimeteraikan dalam sebuah kitab yang menjadi sebuah sarana komunikasi dan bukti tentang tindakan komunikatif Allah23.

22 Frans-Josef Eilers, SVD., “Communication Theology: Some Considerations”, 4-5.

23 Frans-Josef Eilers SVD., Berkomunikasi dalam Pelayanan dan Misi: Sebuah Pengantar Komunikasi Pastoral dan Komunikasi Evangelisasi, 25-26.

3.4.3. Misteri Inkarnasi

Peristiwa penjelmaan Allah menjadi manusia merupakan titik puncak makna komunikasi24. Instruksi Pastoral Communio et Progressio menginterpretasikan misteri ini dalam konteks teologi komunikasi sebagai berikut:

“While he was on earth Christ revealed himself as the perfect communicator. Through his incarnation he utterly identified himself with those who were to receive his communication and he gave his message not only in words but in the whole manner of his life. He spoke from within, that is to say, from the press of his people. He preached the Divine Message without fear and compromise. He adjusted to his people’s way of talking and to their pattern of thought. And he spoke out of the predicament of their time.(CP 11)”

Dalam surat kepada jemaat Ibrani dipaparkan bagaimana misteri inkarnasi secara langsung telah menempatkan Yesus sebagai pengantara Allah dan manusia.

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang

Yesus adalah pribadi komunikator sejati. Dalam sabda-sabda-Nya, Ia berbicara mengenai situasi kehidupan-Nya. Penjelmaan-Nya menjadi manusia dalam Roh Kudus, kelahiran di dalam sebuah palungan, tahun-tahun tersembunyi di Nazaret, 40 hari di padang gurun, penderitaan-Nya di Kalvari dan kematian pada kayu salib serta kebangkitan-Nya pada hari ketiga, semuanya ini adalah bentuk ungkapan perutusan serta komitmen-Nya terhadap perutusan Bapa serta penebusan umat manusia. Komunikasi Yesus bukan melulu penyampaian informasi atau pesan belaka. Komunikasi Yesus merupakan komitmen pribadi yang mendalam kepada Bapa dan amanat-Nya, yang menuntut pribadi seluruhnya.

Yesus berkomunikasi dengan seluruh diri-Nya hingga kematian-Nya pada salib25.

3.4.4. Perutusan Gereja

Gereja mempunyai panggilan dan perutusan untuk melanjutkan komunikasi Allah Tritunggal dalam pewahyuan dan penjelmaan ke dalam setiap waktu dan tempat di sini dan pada saat ini26. Dasar perutusan Gereja dilandaskan pada perutusan yang diberikan oleh Yesus: “Pergilah -wartakanlah, komunikasikanlah- jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka”

(Mat 28:19).

Gereja dilahirkan dalam tindak komunikasi Roh Kudus Allah pada hari Pentakosta27. Roh yang sama ini mengubah para murid yang ketakutan menjadi

25 Frans-Josef Eilers SVD., Berkomunikasi dalam Pelayanan dan Misi: Sebuah Pengantar Komunikasi Pastoral dan Komunikasi Evangelisasi, 26.

26 Frans-Josef Eilers, SVD., “Mission in Social Communication: Challenges for the Church in Asia”, 4.

27 Frans-Josef Eilers, SVD., “Communication Theology: Some Considerations”, 9-10.

pewarta yang gagah berani. Setiap orang yang datang dari segala penjuru bumi memahami bahasa mereka. Seperti yang dikatakan Konsili Vatikan II dalam dokumen misi Ad Gentes:

Pada hakekatnya Gereja peziarah bersifat misioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa. Adapun rencana itu bersumber pada “cinta” atau “kasih asali” Allah Bapa. Dialah Asal tanpa Asal; dari pada-Nyalah Putera lahir dan Roh Kudus berasal melalui Putera (AG 2).

Peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul merupakan contoh yang sangat mengesankan tentang komunikasi antar budaya, karena Allah melalui Roh Kudus mengkomunikasikan diri-Nya kepada semua bangsa dari berbagai macam kebudayaan pada zaman itu. Oleh karena itu, seluruh Kisah Para Rasul dapat dibaca sebagai risalah tentang kesinambungan serta komunikasi berkelanjutan dari Roh Kudus Allah pada permulaan Gereja28.

Akhirnya, dapat ditarik suatu benang merah bahwa seluruh sejarah keselamatan dapat dipandang sebagai sejarah komunikasi diri Allah kepada manusia. Dari komunikasi dalam Allah Tritunggal, Allah keluar menjangkau makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Ia menciptakan makhluk insani seturut gambar dan rupa-Nya, yang berarti mampu berkomunikasi dan hidup dalam persekutuan komunikasi. Allah berbicara dan mewahyukan diri-Nya sendiri kepada para makhluk insani yang dimulai dengan kisah Adam dan dalam sejarah-Nya bersama bangsa Israel. Komunikasi diri Allah mencapai titik puncak-Nya pada peristiwa penjelmaan Yesus Kristus ke dunia. Melalui pribadi Yesus, Allah menjadi sama

28 Frans-Josef Eilers SVD., Berkomunikasi dalam Pelayanan dan Misi: Sebuah Pengantar Komunikasi Pastoral dan Komunikasi Evangelisasi, 29.

seperti manusia dan mengkomunikasikan kasih Bapa kepada umat manusia. Kisah pewahyuan dan penjelmaan tersebut akhirnya bermuara dalam Gereja sebagai penerus komunikasi diri Allah hingga akhir zaman. Permulaan Gereja ditandai dengan kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta dan Gereja senantiasa dituntun oleh Roh Kudus sebagai pelaku komunikasi diri Allah.

3.5. Panorama Teologi Komunikasi Dilihat dalam Dokumen