• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskursus dan Etika Diskursus

3.5. Panorama Teologi Komunikasi Dilihat dalam Dokumen

4.1.4. Diskursus dan Etika Diskursus

Habermas berpendapat bahwa sebuah pernyataan atau tindakan seseorang bersifat rasional sejauh alasannya dapat dijelaskan atau diakui secara intersubyektif. Penjelasan dan pemberian alasan adalah ciri dasar dari klaim-klaim kesahihan yang bersifat rasional tetapi tidak semua bentuk komunikasi memiliki ciri-ciri tersebut. Secara umum komunikasi dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu komunikasi naif dan komunikasi reflektif. Di dalam praksis kehidupan sehari-hari biasanya pelaku wicara menggunakan komunikasi naif. Komunikasi naif mempersoalkan alasan-alasan maupun kejelasan-kejelasan dari pernyataan-pernyataan pelaku wicara secara khusus. Klaim-klaim kesahihan yang dikeluarkan oleh pelaku wicara melalui pernyataan-pernyataannya tidak perlu dipersoalkan, melainkan kebenarannya diandaikan begitu saja. Pelaku wicara dapat saling bertukar informasi begitu saja. Bentuk komunikasi naif semacam ini menandai tindakan komunikatif di dalam dunia kehidupan. Di dalam percakapan naif sehari-hari, pembicara dan pendengar dapat menimba informasi maupun

pernyataan-pernyataan mereka begitu saja dari sumber-sumber dunia kehidupan mereka22. Dalam suatu pembicaraan tidak dipungkiri bahwa lawan bicara dapat menolak sama sekali pernyataan yang dilontarkan oleh pelaku wicara. Dengan kemampuan seorang lawan bicara untuk mengatakan tidak, pemahaman rutin para pelaku wicara menjadi terputus, dan konsensus yang diterima begitu saja mulai terganggu. Dalam hal ini, pelaku wicara perlu menafsirkan, menegaskan atau membenarkan sesuatu. Pelaku wicara diminta untuk mengeksplisitkan klaim-klaim kesahihan yang dikeluarkan oleh pelaku wicara yang notabene klaim-klaim-klaim-klaim kesahihan tersebut diandaikan begitu saja dalam tindakan komunikatif23. Dengan demikian, komunikasi sehari-hari menjadi kehilangan sifat naifnya karena pertukaran informasi diganti dengan pemberian alasan dan penjelasan. Para pelaku wicara tidak lagi dapat memakai pernyataan-pernyataan yang sudah diterima bersama begitu saja karena komunikasi yang terjadi telah menjadi reflektif dan menuntut paparan alasan-alasan yang bersifat rasional.

Suatu bentuk komunikasi yang memungkinkan klaim-klaim kesahihannya mengalami permasalahan atau dipermasalahkan, oleh Habermas disebut dengan diskursus. Di dalam diskursus, dunia kehidupan kehilangan cirinya sebagai pengetahuan latar belakang karena setelah dijadikan tema komunikasi, pengetahuan latar belakang ini berubah menjadi pengetahuan latar depan yang bersifat eksplisit. Para pelaku diskursus seakan-akan keluar dari dunia kehidupan mereka masing-masing untuk menyelesaikan secara rasional masalah-masalah

22 F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Teori Diskursus Habermas, 43.

23 F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Teori Diskursus Habermas, 44.

yang mereka ambil dari dunia kehidupan mereka. Seperti tindakan komunikatif pada umumnya, diskursus memiliki tujuan untuk mencapai sebuah konsensus intersubyektif melalui percakapan. Namun, sementara konsensus pada tindakan komunikatif telah diterima secara spontan dan dipakai oleh para peserta komunikasi tanpa berfikir panjang lagi, para peserta diskursus kali ini harus menghasilkan konsensus lagi tetapi pada taraf yang reflektif. Diskursus adalah bentuk refleksi tindakan komunikatif. Maksudnya adalah bahwa diskursus merupakan kelanjutan tindakan komunikatif dengan memakai sarana lain, yakni sarana argumentatif24. Jika demikian, pelaku wicara juga dapat mengatakan bahwa diskursus menandai bentuk komunikasi modern yang memungkinkan setiap orang tidak begitu saja menerima sesuatu dengan pemahaman-pemahaman yang berkembang lewat tradisi, melainkan pertama-tama menguji hal itu dengan pertimbangan rasional. Dalam arti ini, diskursus merupakan bentuk komunikasi yang bersifat kritis dan terbuka.

Lebih lanjut, Habermas melihat bahwa tidak setiap diskursus dapat berjalan dengan sempurna, oleh karena itu diperlukan etika transformatif praktis melalui partisipasi, yakni etika diskursus. Etika diskursus Habermas bertitik tolak dari anggapan Kant bahwa sebuah norma hanya berlaku universal secara moral apabila dapat diuniversalisasikan. Namun Habermas menolak cara Kant memastikan keberlakuan universal itu. Menurut Kant, masing-masing orang harus memperhatikan apakah ia dapat menghendaki keberlakuan universal sebuah norma. Habermas mengkritik cara ini sebagai tindakan monologis.

24 F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Teori Diskursus Habermas, 45.

Anggapan Kant bahwa sebuah norma hanya berlaku secara moral apabila dapat diuniversalisasikan menjadi titik tolak etika diskursus Habermas. Namun Habermas tidak begitu saja menerima cara Kant dalam memastikan keberlakuan universal itu. Apakah sebuah norma dapat dikehendaki umum tidak tergantung dari kesadaran individual masing-masing orang sendiri karena manusia adalah makhluk sosial. Analisis Habermas terhadap rasionalitas komunikatif, khususnya terhadap implikasi kemampuan manusia untuk berwacana sudah memperlihatkan sesuatu yang sangat mendasar bahwa berbahasa selalu merupakan tindakan komunikatif bahkan kalau hanya berbahasa dalam pikiran dalam batin orang. Oleh karena itu, tidaklah memadai kalau kesadaran moral individu dijadikan tolok ukur pembenaran keharusan moral. Hal yang menentukan keberlakuan universal moral bukan apa yang dapat disepakati sebagai normatif dalam pembicaraan bersama25. Dengan demikian, Habermas melakukan suatu perubahan paradigma radikal yaitu dari filsafat subyek menuju filsafat komunikasi dan dari filsafat kesadaran menuju filsafat bahasa dan dari pemusatan perhatian subyek menuju pada komunikasi.

Habermas menggantikan imperatif kategoris Kant dengan prinsip penguniversalisasian “U”. Prinsip ini berbunyi, “sebuah norma moral hanya boleh dianggap sah kalau akibat-akibat dan efek-efek sampingan yang diperkirakan akan mempengaruhi pemuasan kepentingan siapa saja andaikata norma itu ditaati secara umum, dapat disetujui tanpa paksaan oleh semua”26.

Prinsip “U” dipakai secara khusus di dalam diskursus-diskursus untuk mencari pendasaran moral. Karena berkaitan dengan moral, Habermas

25 Franz Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, 225.

26Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, 65.

menyamakan “U” dengan prinsip moral. Dan untuk memastikan bahwa semua yang bersangkutan memang menyetujui akibat dan efek-efek norma itu kalau diberlakukan secara universal hanya ada satu cara yang wajar yaitu diskursus atau pembicaraan argumentatif bersama. Hal itu dirumuskan dalam prinsip Etika Diskursus “D”, yang berbunyi, “hanya norma-norma yang disetujui atau dapat disetujui oleh semua yang bersangkutan sebagai peserta sebuah diskursus praktis boleh dianggap sah”27.

Dengan rumusan lain, sebuah norma yang sahih tersebut harus sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang diuniversalkan. Dalam prinsip ini diandaikan sebuah sikap konfaktual, meskipun secara faktual tidak semua orang yang bersangkutan dengan norma tersebut bisa hadir dalam diskursus praktis, para peserta diskursus yang ada harus berusaha keras untuk menemukan konsensus yang seluas mungkin atas norma tersebut. Mereka harus membayangkan bahwa konsensus yang dicapai itu harus juga dapat diterima oleh mereka yang tidak hadir dalam diskursus tersebut28.

Etika diskursus tidak bermaksud untuk menguji keyakinan-keyakinan moral dari kehidupan atau memberikan norma-norma moral yang baru. Materi diskursus adalah norma-norma dunia kehidupan yang sudah mulai diragukan dan perlu dipastikan kembali. Dengan demikian, etika diskursus merupakan sebuah prosedur untuk memeriksa apakah norma-norma yang sudah dipersoalkan berlaku secara moral atau tidak. Diskursus diperlukan untuk memastikan sikap moral yang tepat terhadap masalah-masalah yang tidak tertampung dalam moralitas

27 Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, 66.

28 F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Teori Diskursus Habermas, 52.

tradisional. Dengan etika diskursus, para pelaku wicara dapat melihat kembali aneka macam kepentingan mereka yang tertampung dalam norma-norma dunia kehidupan serta diajak untuk mengubah keyakinan-keyakinan yang mulai diragukan semata-mata demi kebaikan dan kepentingan bersama.

4.2. Gereja yang Berkomunikasi dalam Terang Teori Tindakan