4.2. Gereja yang Berkomunikasi dalam Terang Teori Tindakan
4.2.3. Gereja Asia sebagai Gereja yang Berdialog
Usaha Gereja Asia untuk mewujudkan diri sebagai Gereja yang bertindak komunikatif tidak bisa dilepaskan dari cita-cita Gereja Asia yang mengusahakan diri sebagai Gereja yang berdialog. Dialog merupakan suatu proses komunikasi atau hubungan timbal balik antara dua subyek atau lebih yang mempunyai
kedudukan sama. Dalam teori tindakan komunikatif, Habermas menegaskan bahwa dalam proses komunikasi, masing-masing subyek berusaha untuk mencari ketersalingan pemahaman sehingga dapat dikatakan bahwa dialog yang terjadi dalam Gereja Asia bukan sekedar untuk mewujudkan pemahaman yang sudah dirancang sebelumnya tetapi berproses bersama sehingga dihasilkan suatu pemahaman baru yang mampu memenuhi kerinduan setiap subyek dialog. Usaha untuk menjadi Gereja yang berdialog hendak mematahkan suatu anggapan bahwa Gereja kadangkala bersikap arogan, asing dan kurang mengena pada masyarakat setempat.
Lebih lanjut, dalam Orientasi FABC juga disebutkan bahwa para Uskup yang berkumpul mempunyai cita-cita yang sama, yaitu mau menghilangkan jarak tersebut. Caranya adalah dengan semangat dialog. Dialog ini diharapkan dapat membebaskan Gereja dari kecenderungan menjadi benteng atau jemaat yang berpusat pada diri sendiri, dan dapat membuat Gereja terlibat dalam kehidupan dengan orang lain di segala bidang dan dimensi kehidupannya42. Menurut pandangan para Uskup, dialog harus dilaksanakan dalam tiga bidang kehidupan yang saling berkaitan, yakni dialog dengan agama-agama atau kepercayaan di Asia, dialog dengan kebudayaan Asia dan dialog dengan masyarakat kaum miskin yang menjadi penduduk di Asia43. Di sini, dialog dengan realitas kemiskinan, keberagaman budaya dan agama menjadi bagian mendasar dari realitas menggereja di Asia. Dialog tersebut bukan saja memuat aspek komunikasi dan
42 Federasi Konferensi-konferensi Para Uskup Asia/FABC, “Orientasi, Tantangan-tantangan, Dampak-Pengaruh”, dalam R. Hardawiryana SJ (penterjemah), Dokumen Sidang-Sidang Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup Asia, Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta, 1995, 11.
43 FABC-OSC BM IV, no. 3.1, dalam FAPA, Vol. 3, 167.
penghargaan namun pula suatu wujud kesaksian profetis sehingga ketiga dimensi dialogis tersebut semakin masuk ke dalam kenyataan misteri penyelamatan Allah.
Dialog sebagai tindak komunikasi Gereja diejawantahkan dalam tiga prioritas komunikasi, yaitu: komunikasi antar agama, komunikasi dengan budaya dan komunikasi dengan masyarakat miskin di Asia. Tindakan ini merupakan usaha revolusioner Gereja Asia karena Gereja Asia memberikan tempat bagi mereka-mereka yang kadangkala kurang diperhitungkan dalam masyarakat44. Melalui tindak komunikasi dengan penganut agama-agama lain, Gereja membuka diri akan keberadaan dirinya di tengah-tengah kompleksitas keragaman agama.
Asia merupakan tempat kelahiran dari banyak agama dunia, dan para penduduknya terdorong untuk senantiasa mencari Allah tanpa henti. Situasi ini menjadi titik awal kesamaan untuk mengusahakan komunikasi dan dialog antar agama. Tindak komunikasi yang tepat dalam dialog antar agama akan saling memperkaya sekaligus menawarkan kesempatan untuk memperkaya peserta dalam iman dan spiritualitas. Gereja berusaha menjadi partner komunikasi bersama dengan para penganut agama-agama lain yang juga berziarah menuju kepada Allah. Gereja Asia tiada henti-hentinya menyuarakan pentingnya dialog antar umat beragama lain. Dialog bukan lagi suatu pilihan hidup tetapi suatu cara hidup yang pantas untuk selalu dihidupi bersama karena pada dasarnya, jemaat kristiani mempunyai panggilan untuk mempromosikan Kerajaan Allah dan menghadirkannya pula di Asia45.
44 BISCOM I, no. 5, dalam FAPA, Vol. 3, 186.
45 FABC-OSC BM IX dan BISCOM V, no. 3, dalam FAPA, Vol. 4, 244.
Proses untuk menjadi semakin kontekstual ditempuh pula oleh Gereja melalui inkulturasi. Inkulturasi merupakan sebuah proses perjumpaan Gereja dengan konteks budaya masyarakat setempat sehingga Gereja dapat menampilkan kekhasan wajah Asia sekaligus tidak meninggalkan jati dirinya sebagai bagian dari Gereja universal. Inkulturasi melalui budaya menjadi salah satu unsur penting dalam masyarakat Asia yang plural dengan aneka macam budaya yang ada.
Inkulturasi merupakan upaya komunikatif Gereja Asia terhadap aneka budaya tradisional yang hidup dan menjadi ciri khas masyarakat Asia. Inkulturasi bukanlah proses yang mudah untuk dijalani. Inkulturasi merupakan proses mengakarkan iman dan kehidupan menggereja dalam kultur setempat sehingga termuat kehidupan iman yang aktual, relevan, dan kontekstual, dengan tanpa menghindari aspek universalitas.
Kendati demikian, Gereja Asia tidak menafikan adanya perkembangan baru dalam bidang media komunikasi. Hal ini bisa ditandai dengan kemunculan aneka macam sarana komunikasi modern. Munculnya aneka macam sarana komunikasi yang modern tersebut merupakan suatu peluang sekaligus tantangan bagi karya komunikasi Gereja. Dalam beberapa pernyataan akhir sidang tahunan FABC-OSC disebutkan bahwa Gereja perlu mengimplementasikan sarana komunikasi baru tersebut dalam karya komunikasi Gereja tetapi perlu selektif dalam penggunaannya. Namun demikian, Gereja Asia masih tetap memberikan tempat bagi budaya-budaya tradisional khas Asia sebagai sarana pewartaan iman kristiani46. Hal ini merupakan suatu konkretisasi bagaimana Gereja tetap
46 BISCOM II, no. 2, 4, dalam FAPA, Vol. 3, 194.
memperhitungkan dan melibatkan media-media tradisional seperti seni kerakyatan, seni pertunjukan tari-tarian, drama, musik-musik daerah dan lain-lainnya sebagai media inkulturasi baik itu dalam liturgi peribadatan maupun sebagai sarana pewartaan nilai-nilai Injili.
Habermas menegaskan pula bahwa dalam tindak komunikasi harus diperhitungkan keterlibatan para pelaku wicara. Artinya bahwa dalam proses komunikasi tidak ada yang dikecualikan terutama para pelaku komunikasi yang kadangkala tidak diperhitungkan keberadaannya. Subyek-subyek komunikasi yang kadangkala tidak diperhitungkan keberadaannya oleh masyarakat adalah mereka yang miskin dan tersingkir dari percaturan kehidupan47. Gereja Asia menjembatani keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin dan tersingkir tersebut dengan menempatkan dialog yang berfokus kepada masyarakat miskin Asia dalam agenda pastoralnya.
Pilihan keberpihakan akan kaum miskin bukan terutama soal pelayanan walau memang pelayanan kepada mereka yang miskin, terlantar dan tertindas itu menjadi salah satu tolok ukur keberpihakan Gereja. Akan tetapi, bagaimana memberi tempat berharga kepada mereka bahkan mereka menjadi orientasi hidup bagi Gereja pun merupakan bagian tak terpisahkan dari panggilan keberpihakan Gereja akan kaum miskin. Keberpihakan Gereja ini diwujudkan pula kepada Gereja-gereja lokal yang tidak mampu atau tidak mempunyai akses penuh terhadap berbagai bentuk media komunikasi, terutama kepada Gereja-gereja lokal yang secara geografis terisolasi atau berada di pedalaman suatu teritori tertentu.
47 FABC-OSC BM II, dalam FAPA, Vol. 3, 158.
Gereja Asia menyapa mereka semua dan tetap mengupayakan kerjasama dan sikap berbagi antar konferensi para Uskup terutama menyangkut ketersediaan sumber daya manusia yang ahli dalam bidang komunikasi Gereja.