3.5. Panorama Teologi Komunikasi Dilihat dalam Dokumen
3.5.1. Pokok-pokok Hasil Perjalanan Sidang
3.5.1.6. FABC-OSC Bishops’ Meet IV
Pokok pembahasan FABC-OSC Bishops‟ Meet IV berkaitan dengan tantangan-tantangan yang akan dihadapi Gereja Asia memasuki millenium ketiga.
Ada 10 subtema yang dibahas dalam setiap diskusi para peserta sidang, beberapa pokok diskusi tersebut antara lain:
a. Dari sebuah bangsa menuju jaringan
Persaingan dalam bidang politik tidak lagi banyak terjadi tetapi persaingan di dalam bidang ekonomi semakin tampak nyata. Beberapa negara di Asia membangun berbagai macam bentuk kerjasama dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, Gereja-gereja lokal di Asia dan juga para komunikator kristiani diharapkan untuk mengembangkan kerjasama antar paroki, antar keuskupan, maupun antar negara sehingga semakin mengenal satu sama lain. Iman kristiani perlu semakin diakarkan di tengah maraknya berbagai tawaran duniawi, sehingga umat kristiani semakin dapat merasakan at home dalam Gereja. Komunikasi kristiani perlu membantu umat kristiani di Asia untuk semakin memahami situasi ekonomi dengan berbagai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan ekonomi suatu negara seperti APEC, NAFTA dan lain-lainnya49.
49 FABC-OSC BM IV, no. 1, dalam FAPA, Vol. 3, 165-166.
b. Dari Ekspor menuju budaya konsumsi
Nilai ekspor Asia pernah turun dalam sejarah hingga benua Asia menjadi negara pengimpor untuk beberapa bahan kebutuhan pokok. Sekarang ini negara Jepang dan beberapa negara lain di Asia memiliki nilai jual eskpor untuk beberapa komoditas seperti alat-alat telekomunikasi, komputer dan mesin-mesin industri.
Prospek ekonomi beberapa negara di Asia sudah semakin maju namun tidak dapat disangkal bahwa masih banyak negara-negara berkembang di Asia yang masih menjadi negara konsumen. Perdagangan maupun usaha ekspor-impor suatu barang atau jasa hanya menitikberatkan pada kepentingan ekonomis semata.
Nilai-nilai kemanusiaan semakin ditinggalkan bahkan ditiadakan demi memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Komunikasi kristiani haruslah membantu setiap orang beriman untuk tetap menempatkan Allah dalam pusat kehidupan, media-media kristiani perlulah membantu umat kristiani untuk melihat kebutuhan-kebutuhannya yang sungguh nyata dan menghindarkan dari aneka macam bentuk manipulasi perdagangan. Untuk melawan dominasi budaya konsumsi, komunikasi kristiani perlu mengusahakan usaha-usaha ekonomi alternatif yang didasarkan pada spiritualitas komunikasi kristiani50.
c. Dari cara Barat menuju cara Asia
Pengaruh yang ditawarkan oleh budaya Barat telah mempengaruhi cara hidup umat Asia. Umat kristiani Asia perlu semakin menyadari tradisi dan
50 FABC-OSC BM IV, no. 2, dalam FAPA, Vol. 3, 166-167.
nilai Asia baik dalam identitas ekonomi, politik maupun sosio-kultural. Tiga bentuk dialog yang menjadi ciri khas FABC perlulah untuk semakin digalakkan melalui program-program komunikasi sosial. Dalam bidang peribadatan, perlulah untuk semakin dikembangkan konsep-konsep inkulturasi sehingga tata ibadat maupun perayaan sakramen ekaristi yang notabene berasal dari Barat semakin dapat diakrabi oleh umat kristiani Asia. Homili atau kotbah yang dibawakan oleh para pemimpin ibadat diharapkan semakin komunikatif dan menyentuh kerinduan dan perasaan jemaat yang mendalam51.
d. Dari kontrol pemerintah menuju kontrol pasar
Salah satu konsekuensi perkembangan ekonomi adalah munculnya investor asing yang menanamkan modal dalam suatu negara. Hal ini berpengaruh terhadap semakin lemahnya kontrol pemerintah dalam bidang ekonomi, dan biasanya kontrol ekonomi kemudian diberikan kepada pasar. Dalam situasi ekonomi yang berorientasi pada pasar, komunikasi kristiani perlu semakin berpihak kepada mereka yang miskin, tersingkir, minoritas, dan membela para buruh migran. Komunikasi kristiani perlu semakin menghargai dan mengangkat kembali nilai-nilai tradisi yang mati. Media-media kristiani haruslah menjadi suara dari kaum yang tidak mampu untuk bersuara. Komunikasi kristiani mempunyai tanggung jawab untuk melindungi pusat-pusat budaya dan keagamaan dan menjaganya dari komersialisasi pariwisata52.
51 FABC-OSC BM IV, no. 3, dalam FAPA, Vol. 3, 167.
52 FABC-OSC BM IV, no. 4, dalam FAPA, Vol. 3, 168.
e. Dari perkampungan menuju kota-kota besar
Beberapa kota di Asia menjadi semakin berkembang karena banyaknya migrasi dari negara-negara di sekitarnya. Mayoritas kota besar di dunia pada abad ke-21 akan ditempati oleh benua Asia. Banyaknya kaum urban yang berpindah dari daerah satu menuju daerah lain menjadi tantangan komunikasi kristiani untuk membantu banyak umat beriman yang anonim menjadi umat beriman yang hidup dalam komunitas. Umat kristiani yang masih tinggal di daerah-daerah terpencil harus senantiasa disapa supaya mereka merasa tidak sendirian atau tidak punya kekuatan. Komunikasi pada tingkat akar rumput harus senantiasa dikembangkan terutama untuk memupuk kesadaran dan menjaga nilai-nilai persaudaraan yang sudah tumbuh di pedesaan53.
f. Dari sistem kerja buruh menuju teknologi modern
Penemuan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi mau tidak mau menekan benua Asia untuk merevolusi sistem kerja yang sudah berjalan.
Sistem kerja buruh yang selama ini dikembangkan di benua Asia sedikit demi sedikit digantikan oleh mesin berteknologi canggih. Oleh karena itu, komunikator kristiani perlu memberikan pendidikan bidang teknologi maju bagi umat beriman secara khusus bagi kaum muda. Para pemimpin Gereja perlu menyadari akan kemungkinan dan pentingnya penggunaan alat-alat komunikasi modern untuk kegiatan-kegiatan dalam komunitas mereka terutama bagi kaum muda perlu
53 FABC-OSC BM IV, no. 5, dalam FAPA, Vol. 3, 168.
melihat perkembangan ini sebagai kesempatan untuk semakin mengkomunikasikan iman kristiani54.
g. Dari yang kaya menuju yang miskin
Pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam membawa dampak kesenjangan yang sangat mencolok dan tidak dapat ditolak antara kaum kaya dengan kaum miskin. Para komunikator kristiani perlu memupuk kesadaran bagi kaum miskin untuk menyadari situasi yang mereka hadapi dan mempromosikan berbagai macam program alternatif yang dapat mendongkrak tingkat kesejahteraan ekonomi mereka. Gereja perlu memberikan bantuan pendidikan bagi umat beriman dalam masalah-masalah ekonomi secara khusus berbagai masalah yang yang ditimbulkan oleh globalisasi secara obyektif dan mengkaji akibat baik maupun buruknya globalisasi55.
h. Dari tradisi menuju ke opsi
Pada masa lalu, kaum muda bertumbuh dalam lingkungan yang disadarkan pada budaya, tradisi moral dan spiritual tetapi sekarang tradisi-tradisi ini digantikan oleh berbagai kemungkinan pilihan baru baik secara individu maupun komunitas. Komunikasi kristiani perlu memperlihatkan nilai-nilai suatu tradisi sekaligus membantu untuk melihat berbagai nilai positif dari perkembangan dunia. Terutama bagi kaum muda, mereka perlu didampingi untuk melihat
54 FABC-OSC BM IV, no. 6, dalam FAPA, Vol. 3, 168-169.
55 FABC-OSC BM IV, no. 7, dalam FAPA, Vol. 3, 169.
berbagai macam pilihan nilai yang ditawarkan oleh dunia secara lebih bijak.
Dalam situasi komunikasi modern, yang salah satunya ditandai dengan kemudahan banyak orang mengakses berita secara langsung, maka jurnalis dan para pemimpin Gereja bukan lagi menjadi penjaga gawang yang memutuskan boleh atau tidaknya aneka berita tersebut diakses namun terlebih memposisikan diri sebagai pendamping atau pembimbing bagi mereka untuk memasuki belantara berita yang menawarkan aneka macam pilihan nilai-nilai, dalam hal ini pilihan nilai yang diinspirasikan dari prinsip-prinsip dan visi iman kristiani perlu diutamakan56.
i. Pembelaan terhadap martabat kaum perempuan
Seringkali posisi kaum perempuan banyak direndahkan oleh kaum laki-laki, mereka mengalami situasi yang tidak menguntungkan karena penindasan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual dan lain-lainnya. Para pemimpin Gereja perlu memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk duduk dalam kepengurusan Gereja terutama sebagai pemimpin atau koordinator bukan sekedar sebagai sekretaris atau pembantu. Komunikator kristiani perlu membuat program-program yang dimungkinkan terjadinya dialog antara nilai-nilai tradisional dengan budaya-budaya baru yang dapat memfasilitasi peningkatan derajat dan martabat kaum perempuan57.
56 FABC-OSC BM IV, no. 8, dalam FAPA, Vol. 3, 169.
57 FABC-OSC BM IV, no. 9, dalam FAPA, Vol. 3, 170.
j. Dari kepercayaan menuju fundamentalisme
Munculnya fundamentalisme dan sekularisme menimbulkan situasi yang tidak aman bahkan konfrontasi di antara berbagai macam kelompok dari beberapa negara maupun komunitas. Gereja dan para pemimpinnya perlu menyadari segala sesuatu yang mengarahkan orang menjadi begitu fanatik. Komunikasi kristiani perlu membantu mengembangkan semangat kerjasama dan dialog dalam lingkup komunitas maupun dalam masyarakat dan mencari kesamaan nilai-nilai dari suatu agama tanpa harus meninggalkan kekhasan agama masing-masing58.