4.2. Gereja yang Berkomunikasi dalam Terang Teori Tindakan
4.2.4. Usaha Terus Menerus untuk Membangun Diskursus Gereja
Habermas menegaskan bahwa tidak semua proses komunikasi bisa berjalan lancar artinya bahwa kadangkala dalam proses komunikasi setiap pelaku wicara sering tidak mengindahkan atau meniadakan salah satu klaim kesahihan sehingga keputusan bersamapun tidak tercapai. Atau dalam proses komunikasi, pemahaman bersama yang telah disepakati tidak mampu lagi menjawab permasalahan yang sedang dihadapi oleh para pelaku wicara. Menanggapi situasi ini, Habermas kembali memberikan suatu metode untuk menebus tindak komunikasi supaya mampu melibatkan setiap orang dan dapat berlaku universal.
Diskursus merupakan suatu bentuk refleksi dari tindakan komunikatif. Diskursus merupakan suatu kelanjutan tindakan komunikatif dengan memakai sarana lain, yakni sarana argumentatif. Jika demikian, pelaku wicara juga dapat mengatakan bahwa diskursus menandai bentuk komunikasi modern yang memungkinkan seseorang tidak begitu saja menerima sesuatu dengan pemahaman-pemahaman yang berkembang lewat tradisi, melainkan pertama-tama menguji hal itu dengan pertimbangan rasional. Dalam arti ini, diskursus merupakan bentuk komunikasi yang bersifat kritis dan terbuka.
Implementasi diskursus Gereja Asia mengundang diri Gereja untuk selalu mau memperbarui diri sehingga mampu untuk senantiasa sosial dan kontekstual.
Gereja bukanlah sesuatu yang mati dan beku atau proses sekali jadi kemudian selesai, tetapi Gereja Asia selalu berusaha untuk menghidupi semangat cara baru menggereja di Asia (new way being church in Asia)48. Gereja senantiasa bertumbuh dan berproses tanpa henti. Tentu proses tersebut berjalan di tengah segala benturan dan goncangan juga. Akan tetapi, hal itu merupakan sesuatu hal yang wajar. Yang dibutuhkan adalah bagaimana Gereja dalam menapaki proses hidupnya itu senantiasa memiliki semangat hati yang mau terbuka, termasuk pula mengakui segala kesalahan dan keterbatasan, kegagalan dan kelemahannya, sekaligus juga terbuka, akan segala macam hal-hal baru, pun dalam perkembangan ilmu pengetahuan sehingga semua itu dipakai untuk membantu Gereja menemukan jati diri hidup serta tugas perutusannya.
Perwujudan diskursus Gereja diupayakan melalui berbagai tema yang diusung untuk dibicarakan dalam sidang tahuan FABC-OSC maupun dalam BISCOM. Gereja Asia pertama-tama berusaha mematahkan pandangan bahwa Gereja Asia adalah Gereja yang asing, arogan dan jauh dari realitas kehidupan jemaat setempat. Pandangan ini tentunya menghambat proses komunikasi yang terjalin di dalam tubuh Gereja sendiri maupun kehadiran Gereja di tengah realitas keberagaman Asia. Pandangan yang terlanjur sudah melekat dengan wajah Gereja Asia ini coba dilihat kembali melalui diskursus yang dikembangkan oleh Gereja.
Proses diskursus Gereja Asia menghantar pada pemahaman baru bahwa proses komunikasi Gereja Asia perlu semakin diarahkan baik di antara jemaat sendiri
48 FABC-OSC BM II, dalam FAPA, Vol. 3, 157.
namun terlebih juga bagi mereka yang berada di luar Gereja yang mencakup penganut agama lain maupun masyarakat Asia pada umumnya.
Dari alur tema diskursus Gereja Asia, ditemukan tiga hal yang menjadi arah komunikasi Gereja. Arah komunikasi tersbeut menjadi salah satu unsur bagaimana Gereja mengembangkan kerangka berfikir dalam tugas perutusannya melanjutkan karya komunikasi iman kristiani. Tiga hal tersebut mencakup:
a) Semangat Dasar Komunikasi Kristiani
Diskursus Gereja memunculkan berbagai macam pokok perhatian yang pantas untuk senantiasa diperhatikan dalam tindak komunikasi iman kristiani.
Tema-tema sidang FABC-OSC senantiasa menyelipkan tema spiritualitas komunikasi kristiani. Hal ini menjadi tanda bahwa Gereja Asia secara serius menekankan bahwa tindak komunikasi iman harus berpegang pada semangat dasar komunikasi kristiani sendiri yang bersumber pada komunikasi Trinitaris.
Komunikasi Trinitaris merupakan model komunikasi iman yang ideal. Allah berkehendak mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia melalui pewahyuan Putera-Nya Yesus. Tindak komunikasi Allah yang mencipta manusia memampukan manusia pula untuk berkomunikasi baik dengan Allah maupun kepada sesama. Tindak komunikasi manusia diinspirasikan dari Yesus sendiri sebagai model komunikator kristiani yang sempurna.
b) Gereja yang Terlibat dan Menjadi Tanda Kesaksian
Diskursus Gereja hanya akan berhenti di tengah jalan kalau tidak sampai pada tindakan konkret. Gereja Asia berusaha mengembangkan diri dan melayani dengan menjadi tanda profetis bagi dunia. Gereja mengarahkan tindak komunikatifnya dengan membangun dan memberikan kesaksian hidup kepada semakin banyak orang. Hidup Gereja senantiasa berhadapan dengan situasi kehidupan konkret jemaat yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragama lain, maka Gereja Asia berusaha untuk melibatkan diri dengan segala keprihatinan dan kegembiraan masyarakat setempat. Gereja membuka diri dengan membangun kerjasama dan memberikan kesaksian hidup bahwa Gereja hadir bersama-sama dengan mereka dalam sikap dasar penuh penghormatan dan kepercayaan kepada mereka. Aneka bentuk karya karitatif yang diusahakan Gereja Asia, solidaritas kepada mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir; serta usaha untuk menyuarakan perdamaian di tengah keberagaman kehidupan masyarakat Asia yang kadangkala memicu konflik, menjadi wujud nyata bahwa Gereja terlibat dalam perjuangan hidup masyarakat setempat dan menjadi tanda kesaksian nilai-nilai kerajaan Allah. Gereja Asia tiada henti-hentinya mengusahakan pelayanan yang dilandasi akan cinta kasih kepada sesama.
c) Gereja yang Tanggap Akan Perkembangan Jaman
Gereja Asia senantiasa peka jaman, artinya bahwa Gereja tidak menutup kemungkinan akan arus-arus utama perkembangan jaman, selalu melihat peluang
dan tantangan demi semakin berkembangnya karya komunikasi Gereja. Tiada henti-hentinya Gereja Asia melalui FABC-OSC menekankan supaya jemaat-jemaat kristiani membuka dirinya akan perkembangan-perkembangan baru dalam dunia. Perkembangan baru tersebut meliputi kemunculan berbagai macam teknologi komunikasi modern yang tiada henti. Gereja sudah menyadari peluang dan tantangan yang ada melalui kemunculan teknologi komunikasi modern ini dalam dokumen FABC-OSC Bishops’ Meet I. Dalam perjalanan waktu, Gereja semakin meyakini akan pengaruh yang ditimbulkan melalui berbagai teknologi komunikasi modern. Teknologi komunikasi modern membawa serta sebuah budaya baru (new culture) yang membuat orang semakin individualis, perubahan dalam cara berfikir, bertindak maupun berbahasa, tetapi media komunikasi baru tersebut juga memberikan peluang yang signifikan bagi karya komunikasi Gereja.
Gereja Asia mengambil peluang ini pertama-tama dengan memberikan pendidikan media bagi para komunikator kristiani maupun bagi jemaat Asia, dan mendorong jemaat untuk mendayagunakan media komunikasi sebagai cara baru berdialog maupun pewartaan iman. Kemunculan berbagai macam sarana komunikasi modern bukan semata-mata menjadikan Gereja lalu memanfaatkannya untuk mewartakan Injil tetapi hal yang lebih penting adalah bagaimana mengintegrasikan pesan tersebut dengan budaya baru yang dibawa oleh sarana komunikasi modern. Di samping itu, Gereja berusaha untuk peka terhadap kemunculan aneka budaya baru tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Gereja tetap mempertahankan budaya-budaya tradisional yang khas Asia sebagai media pewartaan iman kristiani.
Perkembangan teknologi membuka cara baru bermisi melalui dunia maya.
Namun perlu disadari pula bahwa perkembangan teknologi baru disatu sisi menjadi suatu kemajuan bagi bidang komunikasi Gereja tetapi jangan sampai teknologi ini lalu menyingkirkan peran manusia bahkan sampai meniadakan relasi personal antar manusia. Relasi pribadi, sapaan personal, penyediaan waktu untuk sesama tetap menjadi suatu hal yang penting. Harapannya, kemunculan teknologi baru jangan sampai merusak atau mengurangi intensitas perjumpaan pribadi antar manusia dan menggeser sarana-sarana komunikasi tradisional yang menjadi kekhasan Gereja Asia. Dalam rangka untuk memberi kesaksian yang lebih luas kepada masyarakat, sarana komunikasi Gereja Asia memberi kemungkinan bagi para komunikator kristiani untuk mengeksplorasi cara-cara baru yang dapat menjangkau dunia komunikasi lebih luas. Aneka bentuk program komunikasi seperti: pers, radio, televisi, internet dan media alternatif lainnya menjadi sarana yang lebih efektif dalam pelayanan misi kristiani.
4.3. Rangkuman
Proses mendialogkan dokumen-dokumen komunikasi sosial FABC dengan pemikiran Habermas mengantar pada perumusan kerangka berfikir tindak komunikasi Gereja Asia. Teori tindakan komunikatif Habermas merupakan sumbangan berharga bagi tindak komunikasi sosial Gereja. Gereja Asia mampu melihat secara jernih dan mampu mengkritisi tindak komunikasi iman yang menjadi tanggung jawabnya di dalam situasi keragaman latar belakang benua Asia. Teologi komunikasi yang terangkum dalam aneka dokumen FABC-OSC
Bishops’ Meet dan BISCOM mencoba memberikan dasar-dasar bagi tugas perutusan warta iman kristiani yang khas Asia. Gereja hendak menampilkan jati dirinya sebagai Gereja yang universal namun juga dekat dengan konteks jemaat setempat dengan segala keberagaman latar belakangnya. Tentunya proses yang harus dilalui Gereja di Asia tidaklah mudah karena perlu mengkontekstualisasikan jati dirinya sebagai Gereja Asia. Proses menjadi Gereja Asia bukan sekedar menanamkan nilai-nilai iman kristiani di sekitar Asia namun kehadiran Gereja sungguh-sungguh menyapa masyarakat Asia.
Teori tindakan komunikatif Habermas membantu merumuskan kerangka berfikir komunikasi sosial Gereja yang cocok untuk diterapkan di Asia. Proses yang perlu ditempuh adalah usaha untuk senantiasa mengusahakan dialog dan menumbuh-kembangkan roh Gereja yang senantiasa memperbarui diri dengan menerapkan diskursus. Dalam proses dialog, tindak komunikasi Gereja ditegakkan. Tindak komunikasi merupakan usaha bersama yang saling melibatkan setiap pribadi di dalamnya untuk mencapai suatu tujuan bersama. Gereja semakin menyadari kehadiran dirinya di tengah kehidupan masyarakat Asia yang beragam dan membuka diri terhadap keberadaan mereka yang mempunyai keyakinan agama lain, terbuka terhadap aneka budaya yang menjadi ciri khas kehidupan Asia serta kepada mereka yang kadangkala tersingkir dari percaturan kehidupan Asia. Gereja Asia tidak lagi hanya mengurusi urusan internal Gereja sendiri namun berusaha keluar dari tembok-tembok yang membuat dirinya asing dan arogan. Dialog tersebut ditempuh Gereja melalui tiga bidang, yaitu: proses dialog dengan agama dan keyakinan lain baik dalam tingkat akademis maupun dialog
kehidupan dalam level akar rumput; dialog dengan budaya yang diusahakan melalui berbagai macam bentuk inkulturasi; dialog dengan masyarakat miskin yang diwujudkan dengan solidaritas dan melibatkan mereka yang tersingkir.
Tindak komunikasi Gereja juga diusahakan melalui diskursus Gereja.
Diskursus menandai bentuk komunikasi modern dimana orang tidak begitu saja menerima sesuatu dengan pemahaman-pemahaman yang berkembang lewat tradisi, melainkan pertama-tama menguji hal itu dengan pertimbangan rasional.
Dengan diskursus, Gereja berusaha untuk senantiasa merefleksikan tugas perutusannya, serta membarui diri agar senantiasa relevan dan signifikan dalam kehidupan bersama dengan masyarakat Asia. Dari dikursus Gereja, ada empat arah komunikasi yang perlu diperhatikan, yaitu: usaha untuk senantiasa berpegang pada spiritualitas dasar komunikasi kristiani yang diinspirasikan dari komunikasi Trinitaris; mengusahakan Gereja untuk senantiasa terlibat dan menjadi saksi Kerajaan Allah dalam kehidupan bersama baik dalam lingkup intern Gereja maupun dengan mereka yang menganut kepercayaan agama lain serta mereka yang tersingkir dalam kehidupan masyarakat; serta usaha untuk senantiasa terbuka akan perkembangan jaman yang ditandai dengan maraknya perkembangan teknologi komunikasi baru yang membawa pengaruh budaya baru (new culture) pula.