• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konteks Dunia Kehidupan (lifeworld) Gereja Asia

4.2. Gereja yang Berkomunikasi dalam Terang Teori Tindakan

4.2.1. Konteks Dunia Kehidupan (lifeworld) Gereja Asia

Dalam teori tindakan komunikatif, Habermas menegaskan bahwa tindakan komunikatif hanya bisa terjadi kalau pelaku-pelaku wicara memiliki konteks bersama31. Habermas menyebut konteks bersama sekelompok orang tersebut dengan istilah dunia kehidupan (lifeworld). Dunia kehidupan berfungsi sebagai konteks komunikasi dan merupakan basis tindakan komunikasi antar subyek. Dunia kehidupan membantu pencapaian kesepakatan karena berlaku sebagai basis bersama bagi para pelaku tindakan komunikatif32.

Konteks bersama yang didalami dalam tesis ini adalah Gereja Asia dengan segala pengetahuan latar belakang yang ada di dalamnya. Penelusuran dunia kehidupan dalam Gereja Asia sampai pada pemahaman akan keberadaan Gereja lokal Asia sebagai bagian dari Gereja Universal. Keberadaan Gereja Asia sebagai bagian dari Gereja Katolik Roma seringkali memunculkan tegangan dalam hal ajaran maupun praksis pastoral Gereja. Hal utama yang sangat mempengaruhi adalah latar belakang Asia yang sangat kompleks dengan keragaman agama, budaya, bahasa, suku dan lain-lainnya33. Hal ini ditegaskan pula oleh Krispurwana Cahyadi sebagaimana dipaparkan dalam bukunya Pastoral Gereja:

Paroki dalam Upaya Membangun Gereja yang Hidup. Krispurwana Cahyadi mengungkapkan bahwa universalitas Gereja tidak jarang ditempatkan pada kuatnya pengaruh kultur dan cara pikir Eropa, yang tentu dalam beberapa hal tidak selalu sesuai dengan budaya dan cara pikir Asia. Oleh karena itu, ada

31 Franz Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, 223.

32 Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action Vol. 2: Lifeworld and System, A Critique of Fungsionalist Reason, 119-126.

33 FABC-OSC BM I, dalam FAPA, Vol. 2, 186.

beberapa tegangan serta gesekan terkait persoalan tersebut karena bahasa, rumus, pendekatan yang dibuat Gereja Asia dipandang tidak selalu sesuai dengan gaya, pendekatan, cara pikir, dan kultur tradisi Eropa. Akan tetapi di sisi lain, apa yang dimaksud dengan muatan lokal pun tidak bisa sangat jelas untuk didefinisikan, terlebih di tengah masyarakat yang multikultur ini, disamping itu pengaruh dari luar berkat kecepatan akses terhadap media komunikasi bisa lebih mudah untuk memastikan identitas lokal setempat34.

Di sisi lain, Amalorpavadas menegaskan pula mengenai keberadaan Gereja lokal yaitu jika Gereja lokal dianggap hanya sebagai bagian dari Gereja universal dan sebagai unit administratif yang lebih rendah, kecenderungannya hanya akan mengimpor dan meniru, akan menerapkan aturan-aturan dan menyesuaikan diri dengan apa yang datang dari pimpinan secara pasif. Hal tersebut akan membuat wajah Gereja yang bersifat seragam dan sama namun tidak relevan. Pada pihak lain, jika setiap Gereja lokal mengandung misteri Kristus secara penuh dan mengungkapkannya dalam lingkungan sosial budayanya maka akan muncul kreativitas dan orisinalitas. Demikian juga untuk memenuhi fungsi demikian, Gereja lokal tidak bisa hanya menjiplak model-model asing atau meniru apa saja yang terdapat di Barat atau mempertahankan unsur-unsur Barat dalam banyak hal. Gereja lokal juga tidak bisa menjadi pengulangan model-model Gereja itu berasal. Situasi ini pantas untuk senantiasa direfleksikan dalam rangka

34 Krispurwana Cahyadi, SJ., Pastoral Gereja: Paroki dalam Upaya Membangun Gereja yang Hidup, Kanisius, Yogyakarta, 2009, 134-135.

mencari sarana untuk mengekspresikan pengalaman iman kristiani dan membaginya dengan sesama dalam realitas kehidupan Asia35.

Lebih lanjut, Krispurwana Cahyadi mamaparkan bahwa Gereja Asia memiliki rasa kultural, rasa bahasa, dan juga cara berfikir, cara bertindak yang tidak selalu dapat disamakan dengan yang lain. Ungkapan yang sesuai di tempat tertentu tidak selalu dirasa menyentuh di tempat lain. Oleh karena itu bagaimana bahasa dan ungkapan iman sungguh yang sungguh menyentuh dan menggerakkan hati, budi, dan langkah untuk bertindak di tengah masing-masing konteks menjadi permasalahan yang tidak mudah ditemukan solusinya36. Berulangkali para Uskup Asia menandaskan bahwa dialog adalah cara hidup menggereja di Asia, sedangkan Vatikan lebih berbicara tentang kepentingan serta kemendesakan pewartaan akan Yesus Kristus sebagai satu-satunya penyelamat. Asia lebih mau menekankan pentingnya Gereja semakin berintegrasi dalam masyarakat, menjadi semakin dialogis dan solider dengan masyarakat setempat. Paus Yohanes Paulus II dalam Ecclesia in Asia memang menekankan pula dialog sebagai cara hidup menggereja di Asia. Dialog tersebut ditandai dengan dua faktor yaitu faktor gerejawi, bahwa Gereja pun adalah persekutuan umat beriman yang tersebar, dan faktor sosial: keberagaman sosial, budaya, politik dan agama. Berdialog dijalankan dalam prinsip harmoni dan saling melengkapi satu sama lain.

Betapapun menempuh jalan dialog, bagi Gereja Barat penekanan dialog tetap pada usaha memperkenalkan iman akan Kristus. Hal ini menjadi sebuah permenungan

35 DS. Amalorpavadas, Injil dan Kebudayaan, dalam Georg Kirchberger (ed.), Gereja Berwajah Asia, 126-127.

36 Krispurwana Cahyadi, SJ., Pastoral Gereja: Paroki dalam Upaya Membangun Gereja yang Hidup, 175-176.

bagi Gereja Asia bagaimana menempatkan keunikan Kristus Sang Penyelamat ini dalam situasi multi religius di Asia37.

Dunia Kehidupan Gereja Asia ternyata selalu diwarnai dengan tegangan antara penekanan evangelisasi atau dialog. Michael Amalados malah lebih menekankan aspek Kerajaan Allah yaitu bahwa Gereja melayani Allah, termasuk di dalamnya Kristus Pribadi Ilahi, kerajaan damai, kebenaran, dan keadilan dan pembaptisan bukanlah syarat mutlak untuk itu. Oleh karena itu, evangelisasi tidak akan berbicara banyak jika Gereja masih tetap asing dan jauh dari realitas nyata kehidupan masyarakat Asia. Memang perkara pewartaan Injil bukan hanyalah perkara teologis, namun soal budaya, bahasa, dan realitas konkret setempat, maka terlalu memberi penekanan secara teologis dan dogmatis akan aspek evagelisasi tanpa mendorong hadir dan hidupnya Gereja sebagai tanda kesaksian di tengah konteks sejarah umat manusia hanya akan tetap menjadikan Gereja dipandang datang dari luar, tidak terbuka dan arogan.

Faktor pembentuk dunia kehidupan Gereja Asia juga datang dari luar Gereja yaitu dengan kemunculan berbagai macam bentuk media komunikasi modern. Kemunculan media komunikasi baru yang notabene membawa suatu budaya baru (new culture) dalam kehidupan mendapatkan perhatian serius dari Gereja. Beberapa kali pertemuan FABC-OSC mengangkat tema yang berhubungan dengan media komunikasi baru dan tantangannya bagi karya komunikasi Gereja. Disadari bahwa kemunculan media komunikasi baru tersebut membawa suatu peluang bagi karya pewartaan iman kristiani namun tidak

37 Krispurwana Cahyadi, SJ., Gereja dan Pelayanan Kasih, Kanisius, Yogyakarta, 2010, 193-194.

menutup kemungkinan akan berbagai dampak negatif yang bisa timbul dari pemakaian aneka media komunikasi baru tersebut. Aneka ketegangan dan tantangan yang muncul dari tubuh Gereja sendiri maupun dari pihak luar Gereja begitu mewarnai pertemuan baik dalam Bishops’ Meet maupun BISCOM. Para Uskup yang menjadi bagian dari Biro Komunikasi Sosial FABC meletakkan konteks bersama tersebut sebagai pemahaman latar belakang yang mewujud melalui tema-tema yang didiskusikan dalam setiap pertemuan.