• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR DAN UPAYA GURU UNTUK MENGATASINYA

Dalam dokumen Professional Learning Untuk Indonesia Emas (Halaman 45-58)

Sri Wuryastuti

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

Abstrak: Anak yang mengalami fobia sekolah akan cenderung mengalami kesulitan dalam berhubungan secara sosial. Anak yang memiliki kemampuan berhubungan dengan teman sebaya cenderung lebih mudah untuk bergaul, bermain dan menyesuaikan diri. Sebaliknya anak yang tidak memiliki kemampuan untuk berhubungan sosial cenderung mengalami kesulitan berhubungan secara sosial dengan teman sebayanya. Anak usia sekolah dianggap lebih dewasa secara isik dan psikologis dan dalam hal kematanagan emosi. Sehingga ketika saat pertama masuk ke sekolah, seharusnya hal itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena anak akan melihat dan mengalami hal-hal yang baru. Misalnya anak akan memakai seragam, tas serta peralatan sekolah yang baru, teman-teman baru, guru baru serta lingkungan yang baru. Hal itu merupakan harapan dari orang tua dan guru. Harapan orang tua atau guru tersebut tidak selalu menjadi kenyataan, karena ada beberapa anak yang mengalami kekhawatiran atau ketakutan untuk ke sekolah. Ketakutan pada anak untuk bersekolah sebenarnya merupakan suatu hal yang biasa terjadi. Rasa takut anak pada umumnya sebagai tanggapan untuk melindungi diri dari suatu hal. Namun pada beberapa anak, ketakutan tersebut dapat menjadi suatu hal yang irrasional dan berdampak sangat besar pada keinginan untuk tidak sekolah. Hal irrasional seperti inilah yang dinamakan fobia sekolah. Kata kunci: Fobia Sekolah, Upaya Guru

Pendahuluan

Selain masalah konlik sosial, anak yang mengalami Attention

Deicit Hyperactivity Disorder (ADHD) juga dapat mengalami kesulitan berperilaku dan kesulitan bersosialisasi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Kosasih (2012: 7) bahwa ADHD memberikan gambaran tentang suatu kondisi medis yang mencakup disfungsi otak. Jika terjadi pada seorang anak, keadaan tersebut dapat menyebabkan berbagai kesulitan belajar, kesulitan berperilaku dan kesulitan bersosialisasi.

Selain masalah konlik sosial, masalah perkembangan sosial lainnya yang terjadi pada anak-anak adalah gejala fobia sosial (social auxiety disorder). Anak yang mengalami gejala fobia sosial, merasakan kecemasan sosial yang irrasional, rasa takut dan malu yang berlebihan dalam interaksi sehari-hari. Menurut Tirtojiwo (2002), ganngguan kecemasan sosial mempengaruhi emosi dan perilaku. Hal ini juga dapat menyebabkan gejala isik yang signiikan. Tanda-tanda gejala emosi dan perilaku kecemasan sosial termasuk:

1) Takut secara berlebihan ketika berinteraksi dengan orang lain. 2) Takut situasi dimana orang tersebut merasa dinilai.

3) Takut memalukan diri sendiri

4) Takut bahwa orang lain akan melihat bahwa dirinya cemas 5) Kecemasan yang mengganggu rutinitas, sekolah atau pekerjaan

lain.

6) Menghindari melakukan sesuatu atau berbicara dengan orang karena takut malu.

7) Menghindari situasi dimana yang bersangkutan menjadi pusat perhatian.

8) Kesulitan membuat kontak mata. 9) Kesulitan berbicara.

Sedangkan menurut Ayub, fobia sosial merupakan gangguan yang biasanya mulai timbul sejak dini dan bersifat kronik. Bila tidak diobati akan cepat menimbulkan berbagai keterbatasan dalam kehidupan sosial, aktiitas profesional, kemampuan mencari nafkah dan berkontribusi pada masyatakat luas. Sedangkan menurut Stravynski (2007) orang yang mengalami fobia sosial mempunyai gejala-gejala yaitu detak jantung lebih cepat, pernafasan lebih cepat, otot tegang, dan ingin buang air kecil. Menurut Soemanto (2012:188), kecemasan- kecemasn tersebut yang menggambarkan keadaan emosional peserta didik dapat meyebabkan anak menolak untuk pergi ke sekolah atau fobia sekolah.

kesulitan dalam berhubungan secara sosial. Anak yang memiliki kemampuan berhubungan dengan teman sebaya cenderung lebih mudah untuk bergaul, bermain dan menyesuaikan diri. Sebaliknya anak yang tidak memiliki kemampuan untuk berhubungan sosial cenderung mengalami kesulitan berhubungan secara sosial dengan teman sebayanya.

Berdasarkan penelitian Ahman (Aianti, 2014) diketahui bahwa siswa sekolah dasar cenderung lemah dalam kemampuan menghargai teman sebaya, belum memiliki kemampuan untuk bersaing dengan teman sebaya secara sportif dan kurang setia kawan. Padahal disisi lain anak memiliki keinginginan untuk diperhitungkan dan mendapatkan mendapatkan tempat dalam kelompok sebayanya. Kondisi yang dikemukakan Ahman dari hasil penelitiannya tersebut menurut penulis dapat menimbulkan terjadinya konlik sosial yang terjadi diantara teman sebaya. Dari konlik sosial akan menyebabkan terjadinya bulying dan dampak selanjutnya adalah fobia sekolah.

Anak usia sekolah dianggap lebih dewasa secara isik dan psikologis dan dalam hal kematanagan emosi. Sehingga ketika saat pertama masuk ke sekolah, seharusnya hal itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena anak akan melihat dan mengalami hal-hal yang baru. Misalnya anak akan memakai seragam, tas serta peralatan sekolah yang baru, teman-teman baru, guru baru serta lingkungan yang baru. Hal itu merupakan harapan dari orang tua dan guru. Harapan orang tua atau guru tersebut tidak selalu menjadi kenyataan, karena ada beberapa anak yang mengalami kekhawatiran atau ketakutan untuk ke sekolah. Ketakutan pada anak untuk bersekolah sebenarnya merupakan suatu hal yang biasa terjadi. Rasa takut anak pada umumnya sebagai tanggapan untuk melindungi diri dari suatu hal. Namun pada beberapa anak, ketakutan tersebut dapat menjadi suatu hal yang irrasional dan berdampak sangat besar pada keinginan untuk tidak sekolah. Hal irrasional seperti inilah yang dinamakan fobia sekolah.

Menurut Tridhonanto (2014) fobia sekolah biasanya terjadi pada masa transisi seperti menjelang kenanikan kelas, awal tahun ajaran atau masuk sekolah baru (TK/ SD). Epidemiologi fobia sekolah terjadi antara 1% sampai 5% terjadi pada hampir semua sekolah, presentase kejadian sama, antara anak laki-laki dengan anak perempuan, walauppun fobia sekolah terjadi pada semua umur sekolah tetapi hanya terjadi pada usia 5, 6, 7, 8, 9, 10 dan 11 tahun, tidak ada perbedaan sosial ekonomi yang memengaruhi fobia sekolah ( Fremont dalam Handayanti dkk, 2007).

lebih banyak mengalami fobia sekolah. berkisar sekitar 75% dibandingkan anak laki-laki yang hanya 25%. Hal ini terjadi karena anak perempuan biasanya lebih memperlihatkan rasa takutnya akan sekolah dibandingkan anak laki-laki. Sedangkan menurut Davidson (1960) kemungkinan terjadinya fobia sekolah pada anak laki-laki dan perempuan adalah sama.

Pengertian Fobia Sekolah

Secara lebih detil Miller, Barret dan Hamped (Rini; 2013: 4.11) mendeinisikan fobia sebagai jenis tertentu dari ketakutan yang tidak proporsional terhadap realitas dari situasi, tidak dapat dikontrol secara disengaja, menyebabkan individu menghindari situasi yang di takuti, bertahan dalam periode waktu yang lama, dan bersifat maladaptif.

Berikut ini pengertian fobia sekolah oleh beberapa pakar. Harlock (1993) mendeskripsikan fobia sekolah sebagai keengganan bersekolah secara total atau sebagian dan dinyatakan dengan gejala isik misalnya rasa mual, tidak ingin makan, dan sedikit demam. Anak itu mungkin pergi kesekolah lalu mengeluh tentang masalah somatik seperti sakit perut atau sakit kepala. Sedangkan Kelly (2005) berpendapat bahwa school phobia berkenaan dengan rasa keengganan yang luar biasa dari anak untuk pergi ke sekolah yang merupakan dampak dari kecemasan yang hebat dan rasa takut yang tidak wajar. Hal ini disertai dengan gejala somatik yang selalu digunakan sebagai alasan untuk tetap dirumah dan sering hilang setelah anak tersebut yakin bahwa dia tidak harus bersekolah. Sedangkan menurut C’soti (2013) fobia sekolah bukanlah “fobia” sebenarnya. Hal ini jauh lebih kompleks dan melibatkan gangguan termasuk “separation anxiety”, “agora phobia” dan fobia sosial, meskipun kecemasan ini berpusat disekitar lingkungan sekolah. Pada kenyataannya, anak fobia sekolah takut meniggalkan rumah yang aman.

Jadi fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah. Anak merasakan tidak aman, sensitif dan seringkali tidak tahu bagaimana harus menghadapi emosi yang mereka rasakan. Mereka merasa tegang dan sakit secara isik setiap saat masuk sekolah. Proses Terjadinya Fobia Sekolah

Menurut Mahendratto dalam Armaliani (2008), fobia sekolah dapat terbentuk oleh sugesti negatif yang terjadi di sekolah, adanya serangkaian peristiwa yang sangat buruk, menakutkan ataupun menyakitkan di masa lalu. Semakin ekstrim intensitas peristiwanya, semakin kuat potensi fobianya. Kebanyakan fobia terjadi pada masa

kanak-kanak walaupun dapat juga terjadi saat dewasa. Ciri-ciri psikis antara lain muncul rasa cemas atau takut, tetapi tanpa dasar yang jelas dan cenderung panik. Ciri isik antara lain gemetar, nafas menjadi cepat dan jantung berdebar debar. Saat seseorang mengalami serangkaian peristiwa buruk (traumatis) ataupun ekstrim, timbul ketegangan luar biasa. Karena tubuh manusia tidak mungkin terus menerus tegang, upaya peredaan ketegangan biasanya dilakukan manusia secara tanpa sadar melalui mekanisme pertahanan diri dengan cara penekanan (repression) gangguan tersebut ke bawah sadar.

Jika seseorang tidak mampu mengatasi peristiwa traumatis tersebut, praktis pertumbuhan normal mentalnya mengalami penurunan (degradasi) ataupun terhenti (iksasi). Pada peristiwa iksasi tersebut, mental kita membentuk konigurasi tertentu dan relatif permanen. Di kemudian hari jika terdapat stimulan yang sama atau mirip, maka pola respon yang akan dipakai adalah pola respon yang terakhir dikenal atau biasa disebut regresi. Pada kebanyakan orang, fobia dianggap tidak penting ataupun mengganggu dirinya. Sesungguhnya fobia sangat merugikan pertumbuhan normal mental seseorang dan biasanya kerugian tersebut baru disadari saat semuanya sudah sangat terlambat (kehilangan waktu, kesempatan dan kehidupan sosial).

Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci yang disebabkan oleh ketidak mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya.

Faktor-faktor penyebab terjadinya fobia sekolah

1) Bullying

Bullying mengarah pada tindakan yang menggagu orang lain, dilakukan secara sengaja dan sifatnya tekanan isik ataupun psikologis. Agar lebih lengkap pemahaman tentang bullying penulis kemukakan tentang bullying dari beberapa pakar. Erling Rolland (Brendan Bryne,1994:13) berpendapat bahwa bullying adalah kekerasan yang terjadi dalam waktu lama, secara isik atau psikologi yang dikondisikan secara individu atau kelompok yang tidak dapat membela dirinya sendiri dalam situasi yang nyata. Sedangkan Delwyin Tattum (Brendan Bryne,1994:12) menyatakan bahwa bullying mencakup tindakan anti sosial seperti serangan, pemerasan, intimidasi dan kekerasan. Bullying merupakan kekerasan yang terjadi secara kontinum dan dilakakukan secara sadar dan disengaja.

Sebagai korban bullying, secara psikologis akan merasa cemas dan takut. Dampak lain yang dirasakan oleh korban bullying adalah:

depresi, rendahnya kepercayaan diri atau minder, pemalu dan penyendiri, merosotnya prestasi akademik, merasa terisolasi dalam pergaulan, terpikir atau mencoba untuk bunuh diri.

Penderita mental yang dirasakan menyebabkan anak korban bullying mempunyai kenginan untuk terus menerus tinggal di rumah dan mogok ke sekolah, kerena masa ketakutan dan kecemasan yang sangat mendalam kepada pelaku bullying. Jadi bullying yang terjadi di sekolah menyebabkan anak korban bullying mengalami fobia sekolah.

Selain bullying, ada kekerasan lain yang terjadi pada anak yang dinamakan Child abuse. Child abuse adalah tindakan melukai yang berulang-ulang baik secara isik maupun emosinal kepada anak yang harusnya dilindungi, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi, dan cemoohan yang permanen, atau kekerasan seksual dimana hal ini biasanya dilakukan oleh para orang tua atau pihak lain yang seharusnya merawat dan melindungi anak-anak itu (Suyanto, 2013:90). 2) Tidak suka pada guru

Terdapat beberapa anak yang tidak menyukai perilaku guru terutama guru yang galak. Sebagai bentuk rasa ketidaksukaannya pada guru maka ia menjadi malas ke sekolah. Dalam hal ini guru harus mengintropeksi diri. Guru harus mengubah perilaku tersebut, guru harus bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka kepada peserta didik. Seperti yang diungkapkan oleh Mulyasa (2005: 172) bahwa guru harus bersikap positif dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan di sekolah dan melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran. Jika guru tidak bersikap demikian berarti guru tersebut tidak bertanggung jawab dan membiarkan peserta didik malas ke sekolah.

3) Tidak bisa lepas dari ibu

Hal ini terjadi pada anak-anak yang memppunyai ibu yang tinggal di rumah. Berbeda dengan anak yang mempunyai ibu yang bekerja, anak sudah terbiasa dan menyadari bahwa mereka harus ditinggal untuk bekerja. Seandainya ibu sering di rumah, maka ia seringkali kalah melawan kemauan anaknya yang selalu ingin dekat dengan anaknya. Dalam hal ini ibu tidak berhasil meyakinkan anak bahwa pergi ke sekolah adalah suatu yang menyenangkan.

4) Merasa tak mampu

Karena kemampuan kognitif yang tidak mempu untuk menerima pelajaran dari guru, maka anak akan butuh waktu yang lebih lama

dalam menangkap apa-apa yang diberikan guru. Akibatnya ia menolak semua tugas yang diberikan pedanya dan jika kondisi ini tidak teratasi maka ia tidak segan untuk mogok sekolah. 5) Beban sekolah yang terlalu berat

Menurut Seto Mulyadi, dalam Har (2008) akibat beban kurikulum yang terlalu berat tidak mengherankan bila sebagian anak saat ini mengidap fobia sekolah. Manifestasinya bisa bermacam- macam, misalnya anak sering mengaku pusing/ tidak enak badan menjelang sekolah serta “sejuta” alasan lain agar tidak sekolah pada hari itu. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Diana Patter (2008) bahwa kecemasan pada anak yang menimbulkan fobia sekolah disebabkan oleh tuntutan sekolah seperti tes, tugas pekerjaan rumah dan adanya pengganggu.

6) Pola asuh orang tua.

Hubungan anak dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial sekolah anak. Sejumlah ahli mempercayai bahwa kasih sayang orang tua merupakan kunci utama perkembangan sosial anak (Desmita, 2012: 144).

Fobia sekolah dapat disebabkan dari faktor orang tua yang selalu memanjakan atau sangat menyayangi anaknya. Akibatnya anak tidak mandiri dan tergantung pada orang tua. Hal ini ikut menyumbang perilaku anak yang menolak pergi ke sekolah. Hal senada diperkuat oleh pendapat Richard M. Suinn (1970) bahwa perilaku menyimpang seperti fobia sekolah dilakukan oleh anak-anak dan diperkuat oleh orang lain yang masih terkait.

Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan), rasa kurang percaya diri dan kekawatiran yang berlebihan (Meilina, 2010). Hal ini didukung oleh pernyataan Inger Olsen dan H. Coleman (1964) bahwa fobia sekolah yang terjadi pada anak-anak biasanya disebabkan oleh kecemasan untuk berpisah dan ketergantungan antara orang tua dan anak (terutama ibu).

Saat ini memang kejahatan terhadap anak semakin marak, seperti masalah penculikan atau penganiayaan anak. Namun perlu diketahui oleh orang tua agar jangan samapai kekawatiran itu terlalu berlebihan sehingga anak juga merasa cemas dan tidak tahu harus berbuat apa menghadapi masalah tersebut.

Selain hal-hal tersebut diatas menurut Nunik (2007) dari hasil penelitiannya, ada hubungan negatif antara harga diri dengan kecenderungan fobia sekolah pada anak sekolah dasar. Anak yang

memiliki harga diri tinggi akan memilki kecenderungan fobia sekolah yang rendah.

Penanganan Fobia Sekolah Pada Anak Sekolah Dasar

Setiap individu dalam kehidupannya pasti mengalami tantangan kesulitan ataupun masalah dan tidak ada seseorang yang hidup di dunia tanpa suatu masalah ataupun kesulitan terutama di zaman global ini. Tekanan akibat peristiwa hidup sehari-hari ketika terakumulasi akan menjadi sumber gangguan dalam diri seseorang (Mountheit dan Gilboe dalam Ariyani, 2012). Demikian juga dengan anak, dilingkungan sekolah anak akan mengalami berbagai peristiwa baik positif atau negatif. Peristiwa positif seperti kegiatan yang menyenangkan, guru dan teman yang baik. Sedangkan peristiwa yang negatif seperti teman yang bandel, guru yang galak dan tugas sekolah yang memberatkan, dan sebagainya. Jika peserta didik yang mendapat tantangan yang besifat negatif dan pulih kembali dari pengalaman tersebut serta meneruskan hidup dengan normal bahkan mampu meningkatkan kompetensinya, itulah yang diharapkan oleh orang tua dan guru.

Seperti sudah penulis paparkan di atas bahwa, dari beberapa kasus yang menimpa pada anak, baik itu kekerasan isik maupun psikologis atau beban tugas yang terlalu berat dapat mengakibatkan anak trauma untuk pergi ke sekolah. Hal ini tidak hanya terjadi pada anak usia sekolah dasar saja tetapi juga terjadi pada anak yang usianya lebih dewasa. Seperti yang diungkapkan oleh Antono (2012) yaitu fenomena yang ada pada anak MTs Al Uswah Kabupaten Semarang, antara lain masih banyak anak yang terlambat masuk sekolah karena takut belum mengerjakann pekerjaan rumah (PR). Kasus tersebut dapat memicu terjadinya fobia sekolah pada anak.

Secara kuantitas, berdasarkan hasil penelitian, kasus fobia sekolah sudah sangat meresahkan bagi orang tua dan guru. Untuk itu perlu penanganan yang serius, agar anak dapat melewati masa sekolah dengan nyaman tanpa kekerasan sehingga dapat menjadi anak yang mandiri, berkualitas dan berkarakter.

Sebelum membahas tentang penanganan fobia sekolah pada anak sekolah dasar, penulis perlu membahas dulu tentang persiapan mental pada anak untuk masuk ke jenjang sekolah dasar, menurut Al Tridhonanto (2014) sebagai berikut :

1) Teman baru

Memberitahukan kepada anak bahwa nanti di sekolah baru mereka akan bertemu dengan banyak teman sehingga anak akan

merasa dia tidak sendirian. Mereka akan bertemu dengan teman sebayanya sehingga rasa takut bertemu dengan orang asing, dan guru-guru serta lingkungan baru bisa sedikit dikurangi.

2) Baju sekolah baru

Biasanya jika anak dibelikan baju baru untuk sekolah maka ia akan termotivasi untuk segera berangkat ke sekolah dengan semangat dan rasa ingin tahu yang lebih.

3) Lingkungan sekolah

Pastikan anak sudah menganal daerah dan lingkungan sekolahnya sebelum sekolah dimulai. Hal ini dilakukan agar anak tidak merasa asing dan merasa sudah mengenal sekolahnya jauh lebih dulu dari teman-temannya dan ini bisa membangkitkan rasa percaya diri pada anak.

4) Hari pertama sekolah

Jangan membiarkan anak sendirian di hari pertama sekolahnya. Sehingga anak akan merasa canggung dengan lingkungan barunya meskipun ada juga sebagian anak yang sudah berani ditinggalkan orang tuanya. Orang tua bisa perlahan meninggalkan sekolah jika sudah memasuki hari kedua atau ketiga.

5) Mandiri

Sebelum anak masuk sekolah sebaiknya orang tua sudah mengajarkan konsep kemandirian semenjak di rumah. Orang tua bisa mulai mengajarkan memasang sepatu sendiri, dan memasang baju dan celana sendiri. Latihan ini dilakukan agar anak bisa melakukan sendiri tanpa bantuan orang tua.

Hal ini bertujuan untuk melatih kemadirian siswa karena seperti yang dikemukakan oleh Adawiyah (2012) bahwa kemandirian yang dimiliki oleh siswa diwujudkan melalui kemampuannya dalam mengambil keputusan sendiri tanpa pengaruh dari orang lain.

6) Motivasi

Orang tua sebaiknya selalu memberi pujian sebagai motivasi bagi anak setiap kali mau ke sekolah dan setiap kali ia pulang dari sekolah.

Selanjutnya, berikut ini adalah beberapa tindakan sekolah terutama guru, ketika ada kasus peserta didik yang mengalami fobia sekolah:

1) Berusaha mendapat kejelasan tentang penyebabnya dan meyakinkan bahwa hal tersebut bukan kesalahan anak.

2) Membantu peserta didik mengurangi ketidaknyamanan yang ia rasakan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah

dimengerti.

Peserta didik yang sudah merasa nyaman dengan dirinya sendiri akan membuat dia nyaman berhubugan dengan orang lain. Hal ini berkaitan erat dengan kecerdasan interpersonal. Menurut Erham Wildan (2014) bahwa kecerdasan interpersonal bukanlah tumbuh dengan sendirinya, tetapi merupakan kecakapan yang dipelajari yang memungkinkan orang berhubungan dengan orang lain dengan cara yang saling menguntungkan. Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan yang tidak bisa dilepaskan dari kecerdasan intrapersonal, karena anak yang bisa berhubungan secara baik dengan dirinya sendiri akan mampu memiliki kebutuhan pribadinya sehingga nyaman secara psikologis. Demikian juga apabila dia merasa terlindungi dalam situasi sosial dia akan mampu bertindak dengan cara yang tepat tanpa merasa terancam.

3) Meminta bantuan pihak ketiga yaitu konselor untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal jika dirasakan perlu. Untuk itu guru harus bisa menerima masukan dari pihak ketiga. Merupakan hal sangat penting apabila guru menerima masukan dari pihak konselor atau guru bimbingan dan konseling karena seperti yang di kemukakan oleh Ruff dalam Bau Ratu (2012) bahwa Asosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA) mendeskripsikan peran konselor adalah menyediakan pelayanan bagi pendidik, siswa, dan komunitas pendidikan untuk membentuk sekolah yang efektif. 80% dari waktu profesi konselor secara langsung berhubungan dengan pelayanan siswa, dan tujuan utama dari konselor adalah memaksimalkan prestasi siswa melalui peningkatan keadilan bagi siswa, kesempatan memperoleh pendidikan, dan menjamin keamanan dan kesehatan lingkungan belajar.

4) Dengan bekerja sama dengan pihak keluarga, mengamati perilaku dan emosi peserta didik. Guru perlu mewaspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan peserta didik di rumah dan di sekolah.

5) Membina kedekatan dengan peserta didik dan mau mendengarkan cerita mereka. Dari penjelasan diatas maka sangat wajar apabila dibutuhkan hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, seperti yang dikemukakan oleh Nana Syaodih (2013) bahwa hasil dan kemajuan belajar siswa ditentukan juga oleh bentuk hubungan antara guru dan siswa. Hubungan guru dan siswa menjadi syarat mutlak, bukan hanya dalam hubungan sebagai pembimbing dan yang dibimbing tetapi juga sebagai mitra belajar. Karena itu guru

harus memahami siswa yang dibimbingnya dan sebaliknya siswa

Dalam dokumen Professional Learning Untuk Indonesia Emas (Halaman 45-58)