• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 4 Persentase Pernyataan Indikator Diri Sendiri Sub In-

Dalam dokumen Professional Learning Untuk Indonesia Emas (Halaman 32-43)

dikator Nomor Pernyataan Pernyataan Persentase (%) Kriteria Minat 5

Saya tertarik den- gan mata pelaja- ran kimia. 75 Tidak Ber- pengaruh 10 Saya selalu mengerjakan sendiri latihan soal pada saat pembelajaran disekolah.

71,88 Tidak Ber-pengaruh

11 Untuk melatih kemampuan, saya selalu menger- jakan sendiri tugas/PR yang diberikan oleh guru, terutama pada materi laru- tan penyangga. 71,88 Tidak Ber- pengaruh 8 Menurut saya pembahasan larutan penyang- ga lebih sulit dibandingkan dengan pemba- hasan yang lain dalam pembelaja- ran kimia. 51,88 Cukup Berpenga- ruh Motivasi 9 Saya selalu mencatat materi larutan penyang- ga selama proses pembelajaran.

80 Tidak Ber-pengaruh

20

Saya yakin dapat memahami konsep larutan penyangga.

76,88 Tidak Ber- pengaruh

Kesia- pan dan

Perha- tian

3

Saya bisa berkon- sentrasi dengan baik/fokus sela- ma pembelajaran berlangsung. 71,88 Tidak Ber- pengaruh 4

Saya selalu men- gumpulkan tugas yang diberikan oleh guru dengan tepat waktu.

80 Tidak Ber- pengaruh

6

Saya mempun- yai buku catatan khusus untuk mata pelajaran kimia. 74,38 Tidak Ber- pengaruh 12

Saya selalu mem- persiapkan materi atau bahan pela- jaran yang akan dibahas sebelum materi tersebut diajarkan. 57,5 Cukup Berpenga- ruh 13 Saya mempunyai alat tulis lengkap yang dibutuhkan saat pembelajaran larutan penyang- ga. 77,5 Tidak Ber- pengaruh Fisiologi 1

Saya tidak men- dengar materi yang disampai- kan oleh guru dengan jelas.

68,75 Tidak Ber-pengaruh

2

Saya tidak me- lihat apa yang ditulis/digam- barkan oleh guru dengan jelas.

Berdasarkan Tabel diatas, dapat dideskripsikan bahwa secara umum masing-masing dari sub indikator memiliki persentase yang termasuk dalam kualiikasi tidak berpengaruh. Namun, pada pernyataan nomor 8 yakni “Menurut saya pembahasan larutan penyangga lebih sulit dibandingkan dengan pembahasan yang lain dalam pembelajaran kimia” memiliki nilai persentase 51,88%. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa pembahasan larutan penyangga lebih sulit dibandingkan dengan pembahasan yang lain dalam pembelajaran kimia, sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualiikasi cukup berpengaruh.

Pada pernyataan nomor 12 yakni “Saya selalu mempersiapkan materi atau bahan pelajaran yang akan dibahas sebelum materi tersebut diajarkan” memiliki nilai persentase 57,5%. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa kurang mempersiapkan materi atau bahan pelajaran yang akan dibahas sebelum materi tersebut diajarkan, sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualiikasi cukup berpengaruh.

b. Lingkungan Keluarga

Indikator lingkungan keluarga terdiri dari sub indikator perhatian dan dukungan orang tua. Dibawah ini disajikan tabel persentase indikator lingkungan keluarga untuk setiap butir pernyataan sebagai berikut:

Tabel 5. Persentase Pernyataan Indikator Lingkungan Keluarga Sub Indi- kator Nomor Per- nyataan Pernyataan Persentase (%) Kriteria Perhatian dan Du- kungan orang tua 16

Orangtua Saya sering menyuruh saya menger- jakan tugas rumah ke- tika Saya sedang belajar.

61,88

Tidak Berpen-

garuh

17

Saudara Saya sering mengalihkan konsen- trasi saya ketika belajar, sehingga saya menghen- tikan kegiatan belajar.

57,5

Cukup Berpen- garuh

Berdasarkan Tabel 5. dapat dideskripsikan bahwa secara umum memiliki persentase yang termasuk dalam kualiikasi tidak berpengaruh. Namun, pada pernyataan nomor 17 yakni “Saudara Saya sering mengalihkan konsentrasi saya ketika belajar, sehingga saya menghentikan kegiatan belajar” memiliki nilai persentase 57,5%. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa lingkungan keluarga dapat mengganggu konsentrasi mereka saat belajar, sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualiikasi cukup berpengaruh.

c. Lingkungan Sekolah

Indikator lingkungan sekolah terdiri dari sub indikator sarana dan prasarana. Dibawah ini disajikan tabel persentase indikator lingkungan sekolah untuk setiap butir pernyataan sebagai berikut:

Tabel 6. Persentase Pernyataan Indikator Lingkungan Sekolah Sub Indi- kator Nomor Pernyata- an Pernyataan Persentase (%) Kriteria Sarana dan Prasarana 7

Saya memilik buku cetak/LKS kimia SMA kelas XI. 80 Tidak Berpenga- ruh 14

Menurut saya alat-alat dan bahan untuk prak- tikum kimia terutama pada materi larutan penyangga dilabo- ratorium IPA cukup lengkap. 63,13 Tidak Berpenga- ruh 18

Orang tua saya selalu memberi perhatian keti- ka saya belajar dirumah.

80,63

Tidak Berpen-

garuh 19

Orang tua saya selalu mengingatkan saya un- tuk mengulang pelaja- ran dirumah.

73,75

Tidak Berpen-

Berdasarkan Tabel 6. dapat dideskripsikan bahwa secara umum memiliki persentase yang termasuk dalam kualiikasi tidak berpengaruh, artinya bahwa siswa memiliki bahan ajar yang dapat menunjang pembelajaran kimia dan siswa merasa alat-alat yang digunakan di laboratorium cukup lengkap.

d. Lingkungan Masyarakat

Indikator lingkungan masyarakat terdiri dari sub indikator wilayah tempat tinggal. Dibawah ini disajikan tabel persentase indikator lingkungan sekolah untuk setiap butir pernyataan sebagai berikut:

Tabel 7. Persentase Pernyataan Indikator Lingkungan Masyarakat Sub Indi- kator Nomor Pernyata- an Pernyataan Persen- tase (%) Kriteria Wilayah tempat tinggal 15

Saya sering terganggu dengan suara bising yang ada disekitar rumah saya ketika belajar.

56,88

Cukup Berpen- garuh

Berdasarkan Tabel 7. pada pernyataan nomor 15 yakni “Saya sering terganggu dengan suara bising yang ada disekitar rumah saya ketika belajar” memiliki nilai persentase 56,88%. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa sering terganggu dengan suara bising yang ada disekitar rumah mereka ketika belajar, sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualiikasi cukup berpengaruh.

Berdasarkan penjelasan dari tiap pernyataan di masing-masing sub indikator, kemudian ditentukan persentase rata-rata untuk mendapatkan kriteria tiap indikator yang kemudian disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 8. Persentase Rata-Rata Tiap Indikator

No Indikator Persentase

Rata-Rata (%) Kriteria

1. Diri Sendiri 72,4 Tidak Berpengaruh

2. Lingkungan Keluarga 68,44 Tidak Berpengaruh

3. Lingkungan Sekolah 71,56 Tidak Berpengaruh

4. Lingkungan Masyara-kat 56,88 Cukup Berpengaruh Dari Tabel 8. didapatkan persentase rata-rata pada setiap indikator sebagai berikut:

a. Diri Sendiri

Pada indikator diri sendiri persentase rata-rata yang didapatkan yakni 72,4%. Hal ini menunjukkan bahwa indikator diri sendiri termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh.

b. Lingkungan Keluarga

Pada indikator lingkungan keluarga persentase rata-rata yang didapatkan yakni 68,44%. Hal ini menunjukkan bahwa indikator lingkungan keluarga termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh. c. Lingkungan Sekolah

Pada indikator lingkungan sekolah persentase rata-rata yang didapatkan yakni 71,56%. Hal ini menunjukkan bahwa indikator lingkungan sekolah termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh. d. Lingkungan Masyarakat

Pada indikator lingkungan masyarakat persentase rata-rata yang didapatkan yakni 56,88%. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria indikator lingkungan masyarakat termasuk dalam kriteria cukup berpengaruh.

Penutup

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada kelas XI MIA Reguler SMA Al-Hasra, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat kesulitan pada materi larutan penyangga yang telah dilaksanakan dengan pemberian tes berupa soal pilihan ganda dengan jumlah 20 soal kepada siswa. Dari 40 siswa yang mengikuti tes, hanya 12 siswa yang dapat memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan 28 siswa lainnya belum dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Menurut Abin Syamsuddin (2005), jika mayoritas

siswa nilai prestasinya tidak dapat mencapai batas lulus (minimum acceptable performance), kita dapat menyimpulkan bahwa kelas yang bersangkutan patut diduga sebagai kasus yang mengalami kesulitan belajar.

Tes yang diberikan ke siswa terdiri dari 3 tingkat kognitif yang berupa pengetahuan (C1), pemahaman (C2) dan penerapan (C3). Berdasarkan jawaban siswa, diperoleh hasil bahwa dari 40 siswa ternyata secara keseluruhan siswa memperoleh nilai rata-rata sebesar 57,13. Kemudian, berdasarkan perhitungan hasil yang diperoleh siswa pada tiap-tiap aspek yang diukur yaitu berupa pengetahuan (C1) sebesar 55,56% dengan kriteria sedang. Pada aspek pemahaman (C2) sebesar 33,75% dengan kriteria rendah. Pada aspek penerapan (C3) sebesar 32,22% dengan kriteria rendah.

Menurut Suwarto (2013), kesulitan karena mata pelajaran mungkin berkenaan dengan keabstrakan konsep. Suatu mata pelajaran yang bersifat hierarki, yaitu dimulai dari yang paling mudah hingga yang paling sukar akan memerlukan pemahaman yang berkesinambungan. Apabila kesulitan di suatu konsep yang mendasar tidak diatasi, maka akan menimbulkan kesulitan untuk memahami konsep yang berikutnya. Berdasarkan pendapat ini, kesulitan belajar adalah kekurangmampuan siswa dalam menguasai materi.

Berdasarkan Tabel 3. persentase kesulitan tertinggi yaitu pada aspek pengetahuan (C1) yakni mengidentiikasi komponen dan sifat larutan penyangga. Dalam memahami konsep larutan penyangga, siswa sebelumnya harus mengetahui pengertian larutan penyangga, senyawa asam lemah, basa lemah, asam kuat dan basa kuat. Prasyarat tersebut perlu diketahui dan dipahami siswa agar tidak mengalami kesulitan dalam aspek ini.

Menurut Caryono dan Suhartono (2012), Kesulitan belajar sering terjadi karena siswa tidak mampu mengaitkan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan lamanya sehingga menimbulkan ketidakpahaman atau ketidakjelasan suatu pelajaran.

Pada hakikatnya pembelajaran yang sesuai untuk kelompok siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah dengan mendapatkan perlakuan analisis kesulitan belajar dan pelayanan remedial. Namun kenyataannya analisis kesulitan belajar dan pelayanan remedial ini tidak dilakukan oleh guru. Analisis kesulitan belajar siswa merupakan salah satu tugas guru dalam mengajar. Selain sebagai model yang dijadikan dasar dalam rangka menyesuaikan program pembelajaran

yang didasarkan atas individualitas siswa, juga untuk menemukan anak yang memerlukan analisis yang lebih rinci tentang kesulitan belajar mereka (Djamarah, 2011).

Selain pemberian tes, kesulitan belajar siswa dapat dilihat berdasarkan hasil pemberian angket tentang faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa berdasarkan beberapa indikator, diantaranya:

1. Indikator Diri Sendiri

Indikator diri sendiri memperoleh persentase sebesar 72,4% dengan kriteria tidak berpengaruh. Namun berdasarkan sub indikator Kesiapan dan Perhatian serta sub indikator Minat dalam indikator diri sendiri, memperoleh persentase sebesar 57,5% dan 51,88%. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator diri sendiri tidak berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa, tapi beberapa siswa merasa bahwa indikator diri sendiri berpengaruh dalam kesulitan belajar.

2. Indikator Lingkungan Keluarga

Indikator lingkungan keluarga memperoleh persentase sebesar 68,44% dengan kriteria tidak berpengaruh. Namun berdasarkan sub indikator Perhatian dan Dukungan Orang tua dalam indikator lingkungan keluarga, memperoleh persentase sebesar 57,5%. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator lingkungan keluarga tidak berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa, tapi beberapa siswa merasa bahwa indikator lingkungan keluarga berpengaruh dalam kesulitan belajar.

3. Indikator Lingkungan Sekolah

Indikator lingkungan sekolah memperoleh persentase sebesar 71,56% dengan kriteria tidak berpengaruh. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator lingkungan sekolah tidak berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa.

4. Indikator Lingkungan masyarakat

Indikator lingkungan masyarakat memperoleh persentase sebesar 56,88% dengan kriteria cukup berpengaruh. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator lingkungan masyarakat berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa.

Berdasarkan pembahasan dari hasil tes dan angket dapat dihubungkan bahwa rendahnya nilai siswa disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat, sehingga menyebabkan 70% siswa

mendapatkan nilai di bawah KKM. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan masyarakat saat ini dapat memberikan dampak buruk terhadap prestasi belajar siswa.

Menurut Sabri (2007), terdapat beberapa faktor yang dapat menyababkan kesulitan belajar bagi siswa, yaitu: rendahnya kemampuan intelektual atau kecerdasan anak, gangguan-gangguan perasaan atau emosi, kurangnya motivasi dalam belajar, kurangnya kematangan untuk belajar, latar belakang sosial yang tidak menunjang, kebiasaan belajar yang kurang baik, kemampuan mengingat yang lemah atau rendah, terganggunya alat indera, proses belajar mengajar yang tidak sesuai, dan tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar.

Menurut pendapat lain yaitu Djamarah (2011) menyatakan bahwa: “Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan, ataupun gangguan dalam belajar.” Oleh sebab itu, dapat dikatakan siswa kelas XI MIA Reguler SMA Al-Hasra cenderung mengalami kesulitan belajar karena mendapatkan gangguan dari lingkungan masyarakat yang tidak kondusif.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa adalah lingkungan masyarakat. Hal ini dapat terlihat dari persentase tiap-tiap indikator faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa yang meliputi :

1. Diri Sendiri dengan persentase 72,4% termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh.

2. Lingkungan Keluarga dengan persentase 68,44% termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh.

3. Lingkungan Sekolah dengan persentase 71,56% termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh.

4. Lingkungan Masyarakat dengan persentase 56,88% termasuk dalam kriteria cukup berpengaruh.

Daftar Pustaka

Caryono, Suhas dan Suhartono. (2012). Analisis Deskriptif Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Mata Pelajaran Matematika di SMA Negeri 8 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FMIPA UNY. Makalah di Presentasikan dalam seminar nasional matematika dengan tema “Kontribusi Pendidikan Matematika dan Matematika dalam Membangun Karakter Guru dan Siswa” pada tanggal 10 november 2012 di jurusan pendidikan matematika FMIPA UNY.

Djamarah, Syaiful Bahri. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Faika, Siti dan Side, Sumiati. (2011). Analisis Kesulitan Mahasiswa

dalam Perkuliahan Kimia Dasar di Jurusan Kimia. Jurnal Chemica Vol. 2 Nomor 2.

Kalsum, Siti dan Devi, Poppy K. (2009). KIMIA 2 SMA dan MA Kelas XI.

Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Kurnia, Feni, Zulherman dan Fathurohman, Apit. (2014). Analisis

Bahan Ajar Fisika SMA Kelas XI di Kecamatan Indralaya Utara Berdasarkan Kategori Literasi Sains. Jurnal Inovasi dan Pembelajaran Fisika Vol.1 No.1, ISSN : 2355-7109. Universitas Sriwijaya.

Marsita, Resti A, Priatmoko, Sigit dan Kusuma, Ersanghono. (2010). Analisis Kesulitan belajar Kimia Siswa SMA dalam Memahami Materi Larutan Penyangga dengan menggunakan Two- Tier Multiple Choice Diagnostic Instrument. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol. 4, No.1.

Permana, Irvan. (2009). Memahami Kimia SMA/MA Kelas XI Semester 1 dan 2 Program Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Sabri, Alisuf. (2007). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Sapuroh, Siti. (2010). “Analisis Kesulitan Belajar Siswa dalam

Memahami Konsep Biologi pada Konsep Monera”. Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Salmeto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Somadoyo, Samsu. (2013). Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sudijono, Anas. (2011). Pengantar Statistik Pendidikan.Jakarta: Rajawali Pers.

Suwarto. (2013). Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran (Penduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Syah, Muhibbin. (2010). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syamsudin, Abin. (2005). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Zuliani. (2009). Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta.

TANTANGAN

Dalam dokumen Professional Learning Untuk Indonesia Emas (Halaman 32-43)