ANALISIS DATA DAN INTERPRETAS
C. Analisa Partisipan III 1 Analisa Data
3. Data Wawancara Partisipan III a Gambaran Stroke Suami Partisipan
Suami partisipan menderita stroke disebabkan oleh adanya penyakit darah tinggi yang sudah lama dideritanya, selain itu suami partisipan juga suka minum, merokok, dan tidak menjaga pola makan.
“…Iyah, gara-gara darah tinggi dulu itu, satu tahun sblom stroke juga udah dilarang dokter dia tu minum, dulu dia peminum, jangan merokok, jangan makan daging, jangan minum kopi, tapi dia kan nggak tahan.” (R3.W1/b.19-24/hal.1)
Partisipan merasa capek selama mengurus suami dimana suami pernah jatuh sewaktu latihan berjalan. Sejak saat itu, suami partisipan menginginkan partisipan memapahnya setiap kali suami latihan berjalan. Hal ini membuat partisipan merasa capek. Suami mau berjalan sendiri sejak memiliki tongkat.
“…Dia pernah jatuh jalan, jadi dia nggak mau jalan lagi.” (R3.W1/b.104- 105/hal.3)
“…Trus namboru mikir, bah capek kali namboru gini terus kalo dia jalan pikirku, apalagi dia kan takut jatuh lagi, jadi harus dipapah terus, waktu tu kawan kami di pesawat ada yang punya tongkat. Jadi aku tanya beli..”(R3.W1./b.108-113/hal.3)
Awal suami terserang stroke, partisipan tidak menyadari bahwa suaminya telah lumpuh. Partisipan mengetahui suaminya stroke keesokan harinya setelah bangun tidur. Keesokan harinya setelah mengetahui suaminya tidak bisa bergerak lagi, partisipan merasa syok, partisipan mengingat kejadian temannya yang terserang
stroke tetapi tidak menyangka bahwa suaminya akan mengalami stroke karena gejala yang dialami suaminya hanya pening dan sakit kepala.
“…Trus syok namboru, mungkin dulu kan ada pendeta kami kekgitu, tapi itu kan karena mang udah lama sakit, jadi namboru nggak terpikir dia stroke. Karna cuma pening aja kan.” (R3.W1/b.154-157/hal.4)
“..Makanya ngurus orang sakit ini kadang stresslah, suntuk.” (R3.W1/b.279- 281/hal.7)
Partisipan melakukan banyak upaya perawatan untuk menyembuhkan penyakit suami. Salah satunya adalah dengan mendatangi orang pintar (dukun). Partisipan menghentikan berobat ke dukun setelah dukunnya meninggal.
“…Itulah, nggak lama lagi ninggallah dukunnya tuh, ya udah kubuang air-air yang dikasihnya tuh. Hahahaha nggak mau lari lagilah, nggak mau salah lagilah” …” (R3.W1/b.224-226/hal.6)
b. Gambaran Gejala Fisik dan Masalah Psikologis pada Partisipan III
Selama partisipan merawat suaminya, terdapat banyak gangguan fisik dan gangguan pikiran yang dirasakan partisipan seperti berat badan yang berkurang di awal suami stroke, badan pegal-pegal karena kebiasaan mengangkat dan memapah suaminya, dan gangguan pikiran. Untuk mengatasi kondisi fisik dan psikologisnya partisipan meminum obat yang diberikan oleh dokter.
“…Oo, iya, dulu awal-awal dia sakit. Tapi naik lagi.”(R3.W1/b.371- 372/hal.10)
“…Nggak, nggak pernah sakit. Paling badan aja yang kecapekan…” (R3.W1/b.354-355/hal.9)
“…Rasanya itu kek badan ini pegal-pegal waktu membawa dia ke kamar mandi ya kan, angkat kesana angkat kesini. Pegallah, capek badan itu. Sukur aja dia udah mulai pake tongkat udah berkuranglah capeknya. Kalo soal capeknya itu
luar biasalah. Hampir nggak ada istrirahat ya kan. Bidan juga dulu kan ngasih obat itu dia bilang, inang minum aja obatnya dikit-dikit, biar badannya nggak capek kali, ” (R3.W1/b.357-365/hal.9)
“… Jadi kalo namboru capek, pikiran juga capek, namboru minum matol itu perasaan itu keknya enak gitu, obat penenang mungkin yah, kekna peredaran darah itu lancar. ” (R3.W1/b.366-370/hal.9-10)
c. Gambaran Kepuasan Perkawinan Partisipan III
Partisipan sering menghayal dan menginginkan kesembuhan suaminya. Partisipan merindukan saat-saat berjalan bersama suaminya, saat-saat pergi ke pesta berdua. Partisipan menginginkan kebiasaan yang dulu sering dilakukan bersama suami.
“…Hahahaha..seringlah. menghayallah namboru. Seandainyalah dia sembuh. Kami bisa jalan lagi sama-sama. Ke pesta sama-sama, naik kreta. Kadang namboru pengen naik kreta kek dulu. Kalo ke gerja kan kami sama naik kreta.” (W2.R3./b. 811-816/hal.20)
“…Iya kadang liat orang jalan sama suaminya, naik kreta kesana kemari.. kadang namboru pikir kapanlah aku kekgitu ya? Hahahaha..nggak mungkin lagilah ya ? udah tua ajapun namboru masih mikir kek gitu. Tapi angan-angan itu yang kek gitu-gitu seringlah muncul di pikiran namboru..” (W2.R3./b.817- 825/hal 20)
Partisipan merasakan adanya kesulitan yang dirasakan pada dua tahun pertama suaminya terserang stroke. Kondisi suami yang tidak sembuh-sembuh membuat partisipan sering menangis.
“…Ooo.. kalo kesulitan. Pasti kesulitan. Pertama-tama dululah. Kira-kira sampe 2 tahunlah kurasa itu aku masih nggak terima, masih sering nangis, setelah itu udah biasa aja kurasa. Mungkin jadi terbiasa kita menghadapinya. Nggak ada lagilah, kalopun ada namboru udah terlatih untuk menerimanya. Udah biasalah semua. Ya kadang nggak terima, kadang terima. Gitu..kalopun kadang namboru marah, ya lama-lama juga kan hilang. Kan? Hahahaha.. (W2.R3./b.795-799/hal.20)
“…jadi dulu masa-masa itu Namboru nangis aja trus. Kalo skarang air mata Namboru keknya udah nggak ada lagi.” (R3.W1/b.260-262/hal.9)
Dalam pergaulannya sehari-hari, partisipan menjaga perilakunya di depan masyarakat. Partisipan merasa bahwa dirinya harus membatasi perilakunya di depan masyarakat untuk menghindari penilaian negatif mengingat suaminya telah terserang stroke. Kondisi suami yang stroke menyebabkan partisipan merasa bahwa dirinya tidak sembarangan bersenang-senang di depan masyarakat. Partisipan merasa tidak sembarangan memasuki kelompok masyarakat tertentu melihat kondisinya yang memiliki suami penderita stroke.
“…Dulu ada opung kami pesta. Manortor kan, kupapah-papahlah dia. Nggak enak, udah nggak semangat lagilah kalo pesta. Mau manortor juga nggak enak, apa kata orang, masak suaminya udah stroke, dia masi senang-senang, kata orang pula gitu ya, ” (R3.W1/b.267-272/hal.9)
“...iyah, perasaan itu keknya kita dah nggak masuk lagi sama sembarangan sama orang, tau dirilah udah punya suami stroke. …” (R3.W1/b.259-263/hal.7) 1). Komunikasi
Partisipan malas bercerita dengan suaminya. Partisipan merasa suaminya merasa dirinya yang paling benar dan ketika partisipan IIngin bercerita pada suami, partisipan dimarahi oleh suaminya.
“…Nggak, dari dulu juga nggak, karena yang tadi namboru ceritakan. Amang borumu ni merasa dia yang paling benar, jadi kalopun namboru kadang cerita dia malah nyalahkan namboru. Jadi malas cerita. Kalo dulu anak-anakku masih ada, namboru cerita sama mereka ajalah.” (W2.R3./b.688-693/hal.17)
“…Nggak, malas namboru cerita sama dia. Karena dia merasa dia aja yang benar, yang namboru bilang itu salah semua. Kek namboru bilang stroke. Dia bilang namboru salah. Strop katanya. Hahahaha..”(W2.R3./b.546-549/14) .
Suami partisipan adalah seorang yang gampang marah pada partisipan. Partisipan sering dimarahi oleh suaminya dengan suara yang kuat. Hal ini membuat munculnya rasa malu pada diri partisipan terhadap tetangganya ketika
suaminya marah. Kondisi demikian membuat partisipan malas mengajak suaminya cerita, apalagi ketika suaminya melotot dan memegang kepala menunjukkan dia tidak suka pada sikap partisipan.
“…Stresslah, ngerilah pokoknya, apalagi sejak amangborumu ini sakit kan, namboru mau cerita kalo namboru tu sakit. Langsung marah dia. Kuat kali suaranya. Sampe namboru malulah sama tetangga disini. Kalo namboru ngomong kan, mau curhat, jangan kau buat aku panik katanya, dipegangnya kepalanya, matanya melotot. Hmmm…diamlah namboru.” (W2.R3./b.642- 649/hal.16)