ANALISIS DATA DAN INTERPRETAS
C. Analisa Partisipan III 1 Analisa Data
2) Kegiatan Mengisi Waktu senggang
Partisipan merasakan adanya waktu luang yang berkurang sejak suaminya menderita stroke. Waktu luang partisipan dimanfaatkan untuk pergi ke ladang dan untuk beristirahat. Bagi partisipan, pergi ke ladang dan bercerita dengan tetangganya dapat mengurangi pikiran dan rasa suntuk yang dirasakan partisipan.
“…Berkuranglah, kan harus banyak tinggal dirumah.” (R3.W1/b.440- 441/hal.11)
“…Apalah kerjaan, ke ladanglah, kadang kutinggalkan amangborumu dirumah, kadang kalo di rumah terus kan bisa jadi suntuk. Banyak pikiran. Badan kan sakit kalo tidur terus. Kadang cuma dua jam aja di ladang, tapi lumayan kan nggak banyak pikiran, menambah kegiatan.” (R3.W1/b.416-421/hal.11)
“…Masih lah, namboru apalah kerjaannya. Nggak ada juga banyak waktu kosong, tapi masih ada. Lagian namboru nggak suka tidur aja, namboru lebih senang ada kegiatan. “(R3.W1/b.434-438/hal.11)
“…Berkuranglah, kan harus banyak tinggal dirumah.“ (R3.W1/b.440- 441/hal.15)
“…Kalo ada waktupun namboru tidur, cerita-cerita sama tetangga buang suntuk ya kan, nggak menikmatilah berdua. Hahahaha…” (R3.W1/b.454- 456/hal.12)
Partisipan kurang menikmati waktu luang bersama dengan suaminya, dimana suami sering tidur sehingga jarang menikmati waktu luang bersama.
“…Kadang senang juga namboru sama amangborumu kalo dia lagi baik, tapi lebih seringlah nggak menikmati waktu. Kan dia tidur aja terus, namboru kan banyak kerjaan, ke ladang, masak, nyuci, smualah. Nggak sering juga sama. “ (R3.W1/b.449-453/hal.11)
3) Orientasi Keagamaan
Sejak suaminya stroke, partisipan menjadi semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, dimana partisipan semakin sering berdoa. Bagi partisipan, berdoa akan membuatnya lebih tenang. Partisipan sering berdoa sambil menangis di awal suaminya terserang stroke. Dalam doanya partisipan pernah meminta Tuhan memanggil suaminya karena tidak tahan dengan kondisi suaminya yang tidak sembuh-sembuh dan disebabkan oleh suami yang suka marah-marah pada partisipan.
“…Iyalah, makin seringlah berdoa. Kadang berdoa kita jadi lebih tenang, apalagi dulu awal-awal. Sampe nangis-nangislah berdoa. “(R3.W1/b.391- 393/hal.10)
“…Kalo namboru sama Tuhan minta, cepatlah panggil dia kubilang, hahaha..tapi kan bukan kita yang atur, ya diuruslah.. namboru nggak tahan dia yang suka marah-marah. ” (R3.W1/b.395-399/ha10)
“…Iyah, kalo dulu sering namboru minta sembuh, nggak sembuh-sembuh. Jadi udah capek mintanya. Ya terserah Tuhan ajalah. ” (R3.W1/b.401-402/hal.10)
Sadar dengan kesalahan yang dijalaninya, partisipan dan suami kemudian meminta pengampunan dosa dimana partisipan dan suami menyadari bahwa
mereka telah salah jalan. Pengampunan dosa dilakukan dengan cara meminta didoakan oleh pengetua-pengetua gereja.
“…Dia bilanglah, kita minta pengampunanlah sama Tuhan, kita udah salah jalan katanya, kami panggillah semua pengetua gereja, minta doa lah, didoakanlah pengampunan sama Tuhan.”(R3.W1/b.236-239/hal.6)
“…Iyalah, makin seringlah berdoa. Kadang berdoa kita jadi lebih tenang, apalagi dulu awal-awal. Sampe nangis-nangislah berdoa. …” (R3.W1/b.391- 393/hal.10)
Partisipan merasa bersyukur dengan kondisi keagamaannya saat ini karena partisipan merasa bahwa berkat Tuhanlah yang membuatnya mampu bertahan. Partisipan merasa puas dengan keagamaanya saat ini.
“…Bersukurlah namboru bisa tetap bertahan. Bersyukur karena namboru tahan. Ini juga mungkin karena berkat Tuhan ya kan makanya namboru sampe saat ini masih kuat. ” (R3.W1/b.405-408/hal.10)
“…Puaslah biarpun keadaannya kekgini namboru ambil positifnya aja. Masih banyak yang lebih parah kan kalo kita liat yang disana sana. ” (R3.W1/b.411- 413/hal.11)
4) Resolusi Konflik
Pengambilan keputusan dalam rumah tangga biasanya didiskusikan bersama dengan suami. Keputusan yang diambil bersama dengan suaminya kadang terpaksa diterima partisipan karena suami yang menganggap keputusannya yang paling benar.
“…Diskusilah, kan nggak mungkin namboru ambil keputusan sendiri. Marahlah dia nanti. “(W2.R3./b.704-706/hal.18)
“…Kadang senang, karna cocok kurasa. Tapi kadang kan harus keinginannya yang diikuti, ya kadang namboru terpaksalah terima.” (W2.R3./b.710- 712/hal.18)
Partisipan merasakan banyak masalah yang muncul sejak suaminya stroke. Salah satu masalah adalah mengurus anaknya yang sakit-sakitan, dimana anaknya tersebut saat ini tinggal bersama anak partisipan di Jakarta. Masalah lain yang dirasakan partisipan adalah ketika suaminya marah-marah, dimana pascastroke suami partisipan semakin sering marah-marah.
“…Banyaklah masalah. Masalah kalo kek dulu masih ada anakku yang sakit itu kan, repot kali kurasa. Masalah kalo amangborumu marah-marah lagi, nggak enak perasaan ya kan.”(W2.R3./b.502-506/hal.13)
“…Dulu mau juga, tapi sejak sakit jadi makin seringlah. (W2.R3./b.524- 525/hal.13)
Selain berusaha mengatasi masalahnya dengan berdoa, partisipan juga menghadapi masalah suami yang sulit diurus, partisipan mengatasinya dengan bercerita atau meminta pertolongan pada anaknya.
“..Namboru berdoalah, sekalian cerita sama Tuhan. Kalo masalah amangborumu yang nggak bisa diurus kadang namboru ceritalah sama anak- anak namboru. Biar mereka ngomong sama bapaknya, ditelpon aja, gitu..”(W2.R3./b.680-685/hal.17)
5) Manejemen Keuangan
Kondisi pascastroke suami, suami jadi berhenti bekerja. Bagi partisipan hal ini sulit diterima di awal suami stroke. Tetapi karena usianya yang sudah lanjut, partisipan menganggap suaminya pension lebih cepat. Bagi partisipan keadaan ekonominya yang pas-pasan merupakan hal yang biasa dan tidak menjadi masalah dalam keluarganya.
“…Kek gitulah, awalnya dulu nggak terima juga. Kan enak kalo suami kita masih kerja. Tapi lama-lama namboru pikir nggak papalah, kan udah tua juga. Anggap aja pensiunnya dipercepat. Hahaha..ya kan? Kalo masalah ekonomi namboru udah biasa keadaannya kekgini. Pas-pasanlah menurut namboru, nggak terlalu masalahlah buat namboru.” (W2.R3./b.722-728/hal.18)
Saat ini partisipan merasakan keadaan ekonomi sebagai sesuatu yang bisa dianggap biasa. Bagi partisipan suami stroke tidak begitu mempengaruhi keadaan ekonomi keluarganya, dimana suami mendapatkan uang pensiunan suaminya setiap bulannya. Selain itu, keuangan partisipan juga dibantu oleh anak-anaknya.
“…Hahaha..ya gitu-gitulah. Amang boru dulu kan guru, ya masih dapat gaji. Pensiunanlah dia. Tapi kan nggak banyak. Itulah kami pake sikit-sikit. Kalo kurang kadang kan dikirim sama anak-anak namboru.” (W2.R3./b.715- 718/hal.18)
Setiap harinya sebelum berangkat ke ladang partisipan mendoakan dan menyerahkan suaminya yang ditinggalkan di rumah sendirian kepada Tuhan. Dengan keyakinan partisipan pulang dan menemukan suaminya dalam keadaan sehat, partisipan melakukan kegiatan sehari-harinya berangkat ke ladang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
“…Kalo namboru udah biasa aja. Kalo namboru pagi-pagi berdoalah. Tuhan jagalah dia, kutinggalkan sehat-sehat, kudapat juga sehat-sehat kubilang gitu. Ya sampe sekarang kutinggalkan pun dia, baik-baik aja. Hahaha Kalo namboru pergi, namboru yakin aja namboru pulang masih sehat” (W2.R3./b.760-764/hal. 19)
6) Hubungan Seksual
Partisipan telah memasuki dewasa madya saat suaminya terserang stroke. Kondisi suami yang stroke menyebabkan adanya perubahan dalam hubungan seksual. Bagi partisipan, perubahan seksual ini bukanlah sesuatu yang penting di usia partisipan saat ini.
“…Nggak masalah itu buat namboru. Nggak papalah. Namanya juga orang tua, dulu juga kan dia udah menjalankan peran sebagai suami. Namboru trima-trima ajalah.” (W2.R3./b.786-788/hal. 19-20)
“..Hahahaha..o gitu-gitu kalo udah tua nggak lagilah apalagi udah sakit. Nggak penting kalilah namboru rasa. Waktu dulu waktu masih sehatpun kan jarang- jarang karna udah tua. Yah sekarang nggak lagilah. (W2.R3./b.732-736/hal.18)