• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN INTERPRETAS

B. Analisa Partisipan II 1 Analisa Data

4. Interpretasi Partisipan

Perkawinan selalu dianggap sebagai hal yang memuaskan dan berharga (Rini, 2001). Kepuasan hidup yang diperoleh dari perkawinan ini disebabkan oleh hampir seluruh dimensi kebutuhan manusia dipenuhi melalui perkawinan (Walgito dlam Domikus, 1999), bahwa dalam perkawinan manusia dapat memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan religius. Sementara itu, setiap kehidupan akan mengalami perubahan begitu juga ketika seseorang menikah akan ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan perkawinannya.

Partisipan mengakui bahwa pascastroke, banyak perubahan yang terjadi dalam keluarganya. Termasuk perubahan tujuan pernikahan yang direncanakan sebelumnya, seperti keinginan untuk membangun rumah bertingkat sesuai dengan cita-citanya dulu, selain itu banyak rencana dan cita-cita partisipan yang berubah pascastroke suami. Perubahan tersebut merupakan penyebab munculnya masalah dalam perkawinan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sawitri ( 2005).

Kondisi fisik dan psikologis suami mempengaruhi partisipan dalam merawat suami. Gejala fisik yang dialami oleh suami partisipan adalah kelumpuhan pada tubuh bagian kanan yaitu pada bagian tangan kanan suami partisipan, tidak ada gangguan bicara, tidak ada gangguan pendengaran, suami partisipan bisa berjalan, mulut sedikit mencong dan mampu melakukan hampir semua aktivitasnya sehari-

hari tanpa bantuan partisipan. Kondisi fisik suami tidak membuat partisipan mengalami kesulitan dalam merawat suami. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Hartke & King (2002) yaitu bahwa dalam beberapa kasus, tingkat depresi yang dirasakan caregiver dipengaruhi oleh tingkat keparahan stroke, kerusakan, level depresi yang dimiliki pasien seperti karakteristik kepribadian pasien yang berhubungan dengan pengalaman depresi caregiver. Selain itu, tingkat depresi yang dirasakan oleh caregiver juga dipengaruhi oleh self esteem caregiver yang tinggi, tugas yang banyak, dengan ketidakmampuan pasien.

Partisipan mengakui bahwa dirinya merasakan kesulitan pada bulan pertama suaminya terserang stroke, dimana hal ini sesuai dengan pendapat Grant, Glandon, Elliot, Giger & Weaver, (2004) yang mengatakan bahwa minggu dan bulan-bulan pertama bagi caregiver stroke adalah saat yang berubah-ubah, tidak jelas dan merupakan waktu yang mudah mendapat kecaman.

Pascastroke suami, dalam diri partisipan juga muncul kecemasan akan masa depan keluarga dan anak-anaknya. Hal ini muncul di awal suami terserang stroke, pernyataan ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh (Hartke & King, 2002) dimana kecemasan, depresi, merasa bersalah, marah seperti dendam secara diam- diam, mungkin merupakan pengalaman caregiver. Rasa bersalah sering muncul dalam diri partisipan ketika tidak sengaja membuat suaminya tersinggung. Rasa marah pada suami juga muncul ketika partisipan merasa suami tidak memahami keinginan partisipan.

Partisipan merasa bahwa kondisi suaminya yang tidak terlalu parah menyebabkan partisipan mampu menghadapi kondisi suami, disebabkan oleh kemampuan adaptasi partisipan yang baik, dan kemampuan suami dalam mengatasi masalah yang dihadapinya tanpa harus mengaharapkan partisipan. Hal ini sesuai dengan pernyataan O’Connel, Baker & Prosser, (2003) yang mengatakan bahwa tingkat depresi yang dirasakan oleh caregiver juga dipengaruhi oleh tugas yang banyak, dengan ketidakmampuan pasien dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.

Komunikasi dengan suami berjalan dengan baik setelah serangan stroke, dimana suami tidak mengalami gangguan bicara. Partisipan dan suami adalah pasangan yang menjaga keterbukaan dalam perkawinan, sehingga stroke tidak mempengaruhi komunikasi yang dirasakan oleh partisipan. Partisipan tidak merasakan adanya masalah komunikasi berkaitan dengan kondisi suami yang terserang stroke. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Nancy & Peter dalam Shimberg (1998) bahwa ketika suami mengalami stroke, akan menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi karena pasien yang mengalami gangguan bicara. Hal ini mempengaruhi penilaian partisipan terhadap aspek komunikasi dalam perkawinannya.

Partisipan memiliki banyak kegiatan sejak suami mengalami stroke, dimana kegiatannya bertambah. Ketika partisipan memiliki waktu senggang, partisipan memanfaatkan waktunya untuk membuat kue-kue kering, menonton televisi, tidur, dll. Partisipan sering membawa kue-kue masakannya ke arisan atau

tempatnya mengaji. Hal ini dilakukan partisipan untuk memenuhi kebutuhan keuangan, dimana setelah serangan stroke, suami partisipan tidak lagi bekerja. Partisipan merasakan adanya pengurangan waktu senggang sejak suaminya terserang stroke. Partisipan adalah sosok yang aktif dan memilih mempunyai kegiatan dibandingkan dengan bermalas-malasan. Partisipan menginginkan suaminya mengerti akan keinginannya untuk menikmati waktu bersama dengan keluarganya, dimana partisipan merasa suaminya cemburu bila partisipan menghabiskan waktu luangnya bersama dengan teman maupun keluarga pasrtisipan. Berkumpul dengan keluarga dan teman adalah hal yang menyenangkan bagi partisipan. Hal ini sesuai dengan apa yang telah diungkapkan oleh Paul & Stephanie (2008) yang mengatakan bahwa istri sebagai perawat suami yang menderita stroke akan merasakan berkurangnya waktu luang untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan dibandingkan ketika suami belum terserang stroke.

Waktu senggang sering dinikmati partisipan dengan suaminya, dimana partisipan dan suaminya sering bersama berdua dirumah saat anak-anaknya sekolah. Kegiatan yang dilakukan bersama mulai dari santai bersama sampai dengan kegiatan keagamaan yang dilakukan berdua dengan suaminya. Newman & Newman (2006), mengatakan bahwa pasangan yang mengisi waktu senggang bersama-sama menunjukkan tingkat kepuasan perkawinan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan yang mengatakan kebahagiaanya menikmati waktu bersama degan suaminya.

Sejak suami stroke, partisipan merasakan adanya perubahan dari segi keagamaan yang dimilikinya. Partisipan meningkatkan kegiatan keagamaan dengan mengikuti pengajian-pengajian dan meningkatkan ibadah kepada Tuhan. Partisipan dan suaminya berasal dari latar belakang keluarga yang taat beragama. Bagi partisipan, keagamaan berpengaruh kepada penilaiannya terhadap kondisi stroke suami. Partisipan ingin menjadi contoh bagi adik-adiknya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pendapat Landis & Landis (dalam Wahyuningsih, 2002), dimana orientasi keagamaan memiliki peran penting dalam perkawinan karena tingkat keagamaan seseorang akan mempengaruhi pola pikir dalam kehidupannya sehari-hari termasuk dalam menjalani kehidupan perkawinan.

Keagamaan membuat partisipan merasa harus menerima keadaan suaminya dan kondisi perkawinan saat ini adalah cobaan dari Tuhan. Landis & Landis (dalam Wahyuningsih, 2006) juga mengatakan bahwa keyakinan beragama sangat mempengaruhi kepuasan terhadap perkawinan dalam jangka waktu yang panjang. Partisipan dan suami juga mengisi waktu senggang untuk kegiatan keagamaan, dimana menurut Hurlock (1999), yaitu bahwa mengisi waktu senggang dengan kegiatan keagamaan akan mampu mengurangi beban pikiran istri, memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang akan mempengaruhi penilaian istri terhadap perkawinannya. Dengan demikian kondisi keagaamaan saat ini akan sangat mempengaruhi penilaian partisipan terhadap perkawinannya.

Partisipan merasakan munculnya konflik dalam perkawinannya berkaitan dengan kondisi suaminya yang stroke. Bagi partisipan masalah yang muncul

masih bisa dihadapinya sendiri. Masalah yang muncul yang dirasakan berkaitan dengan kondisi suami yang tidak bisa sembuh dan tidak bisa bekerja. Partisipan merasa suami yang tidak bekerja sebagai masalah dalam perkawinannya, dimana partisipan menginginkan suami yang memiliki status sebagai pekerja.

Ketika partisipan memiliki masalah dan merasa tidak sanggup memecahkannya sendiri, bisanya partisipan menceritakan masalahnya pada suaminya. Selain cerita dan diskusi dengan suami, biasanya partisipan menceritakannya pada adik ipar atau mertuanya. Partisipan memilih melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat ketika suaminya marah. Bagi partisipan, menghindari suami yang sedang marah dengan melakukan kegiatan lain lebih bermanfaat dibandingkan dengan melawan suami. Partisipan melakukan hal ini untuk menghindari suami terserang stroke lagi. Dalam resolusi konflik partisipan terbuka dengan suaminya.

Partisipan tidak mengalami adanya masalah berkaitan dengan resolusi konflik dalam perkawinannya karena kemampuan partisipan dan juga dukungan yang diterimanya dari keluarga dan suami. Sesuai dengan pendapat Henslin, (1985) yang mengatakan bahwa kemampuan untuk mengatasi konflik bisa diwujudkan bila semua anggota keluarga saling mendukung dalam mengatasi masalah dan mendiskusikan dengan baik.

Partisipan mengakui kemampuan adaptasinya yang cepat dalam menghadapi perubahan yang terjadi pada perkawinan dan kondisi suaminya. Partisipan menutupi kekurangan ekonomi dengan cara menjalankan hobbynya memasak. Partisipan merasakan peningkatan penghasilan disebabkan oleh keadaan suami yang stroke menuntut partisipan menjadi lebih berusaha dalam mencari nafkah,

kondisi suami yang stroke menyebabkan partisipan mendapatkan ide-ide baru untuk menghasilkan uang. Kondisi keuangan keluarga yang meningkat menyebabkan partisipan tidak merasakan adanya gangguan dalam ekonomi keluarga saat ini. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan oleh Emmanuel et all, (2000) yaitu adanya masalah kesehatan menimbulkan kesulitan dalam bidang ekonomi, mengurangi pendapatan keluarga.

Keadaan ekonomi bertumpu pada partisipan sebagai pencari nafkah bagi keluarga, dimana suaminya tidak lagi bekerja. Hal ini sesuai dengan pendapat Mc Garry (2004) yang mengatakan bahwa mayoritas penderita stroke dikatakan pengangguran dan tidak dapat bekerja kembali pada pekerjaannya yang lama Penderita stroke mempunyai dampak pada pendapatannya (Richard & Gordon, 2006). Begitu pula dengan keluarga partisipan. Partisipan merasakan dampak stroke dalam pendapatan keluarga. Keadaan ini menyebabkan partisipan mencari penambahan penghasilan bagi keluarganya dan suaminya juga mendapat bantuan ekonomi dari keluarga suaminya.

Partisipan mengatakan bahwa kondisi suaminya yang stroke tidak menyebabkan adanya gangguan dibidang seksual dalam perkawinannya. Partisipan mengatakan bahwa suaminya masih normal sama seperti laki-laki yang lain, sehingga aktivitas hubungan seksual partisipan ini berlangsung secara normal disebabkan oleh sarafnya yang tidak terganggu. Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bray & Humprey (dalam Lumbantobing, 2003) menemukan bahwa kegiatan seksual setelah serangan stroke menurun. Hal ini juga berbeda dengan apa yang telah dikemukakan oleh Mathias et al., (1997) yaitu

hubungan seksual adalah prediktor yang baik dalam memprediksi kepuasan perkawinan pada istri. Partisipan merasa hubungan seksual bukanlah hal yang paling penting dalam perkawinan.

Partisipan mendapatkan dukungan dari keluarga besarnya, keluarga partisipan dan juga keluarga suami. Selain itu, partisipan juga mendapatkan dukungan dari sahabat-sahabatnya yang dimilikinya sejak duduk di bangku kuliah. Dukungan ini membuat pasrtisipan bahagia dan mempengaruhi penilaiannya terhadap perkawinannya saat ini. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Hurlock, (1999) bahwa hubungan yang baik dengan keluarga dan teman akan menimbulkan perasaan bahagia. Sesuai juga demgan pernyataan Charlie (dalam Herra, 2008) yang mengatakan bahwa seorang istri mungkin akan bertahan dengan kondisi suami yang terserang stroke ketika dia mendapat dukungan dari sahabatnya.

Partisipan memiliki 2 orang anak yang sangat disayanginya. Partisipan tidak merasa kesulitan dalam mengurus anak disebabkan oleh anak-anaknya yang mandiri. Partisipan juga tidak merasa kesulitan dalam mengatur waktu antara mengurus anak dan mengurus suami yang stroke, disebabkan oleh suaminya yang mandiri dan tidak selalu diurus oleh partisipan. Hal ini berbeda dengan penelitian Hendrick & Hendrick, (1992), yang menemukan bahwa kehadiran anak akan mengurangi waktu bersama pasangan. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Rini, (2002) kehadiran anak juga dapat memberikan kepuasan bagi partisipan dimana partisipan merasakan kebahagiaan dan kepuasan dengan perannya sebagai orang tua.

Serangan stroke membuat suami partisipan memiliki perubahan kepribadian. Partisipan merasa suaminya juga semakin sensitif dengan kondisinya yang stroke. Partisipan berusaha menjaga perasaan suaminya supaya tidak tersinggung. Partisipan akan merasa sedih ketika suami sensitif dan tidak memahami perasaan partisipan.

Serangan stroke yang terjadi pada suami membuat suami menjadi lebih rendah hati. Selain itu partisipan merasa suaminya menjadi pribadi yang lebih sering marah dibandingkan sebelum terserang stroke. Partisipan juga merasakan suaminya menjadi lebih egois, dimana partisipan merasa suaminya menginginkannya untuk selalu bersama suami, sehingga partisipan kesulitan berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Matthews, (1996) tentang tingkah laku dan kepribadian suami yang berubah setelah serangan stroke dapat menyebabkan kekecewaan terhadap istri, namun jika tingkah laku suami ternyata sesuai dengan apa yang diharapkan akan menimbulkan perasaan puas pada istri. Dalam hal ini kepribadian suami kadang tidak sesuai dengan harapan partisipan, dimana hal ini mempengaruhi penilaian partsipan terhadap perkawinannya saat ini.

Partisipan membagi tugas rumah tangga dengan suami sehingga dirasakan bahwa pembagian peran dalam perkawinannya saat ini adalah seimbang. Partisipan merasakan suaminya dapat menjalankan perannya dengan baik. Partisipan juga merasakan bahagia dengan peran yang dihadapinya saat ini.

Selain perubahan yang membuat partisipan merasa sedih, partisipan juga menganggap banyak hal positif dari keadaan suaminya yang stroke dari segi

kepribadiannya dimana suaminya menjadi lebih rendah hati, sehingga partisipan merasa suaminya lebih gampang diajak berkomunikasi dibandingkan dengan sebelum stroke. Selain itu partisipan juga merasa kondisi suami yang stroke menyebabkan banyak waktu yang dinikmati berdua bersama di rumah.

C. Analisa Partisipan III