ANALISIS DATA DAN INTERPRETAS
C. Analisa Partisipan III 1 Analisa Data
7) Keluarga dan teman
Sehari-hari partisipan memiliki banyak teman, dimana partisipan adalah seorang perempuan yang rajin ke gereja. Bagi partisipan memiliki banyak teman dan rajin pergi ke gereja merupakan pengobat hati satu-satunya. Bagi partisipan kondisi suami merupakan masalah dimana di awal suami terserang stroke waktu partisipan untuk berkumpul dengan teman-temannya menjadi berkurang.
“…Masihlah, banyak apalagi Namboru kan nggak mau nggak ke gereja, selalu gereja. Itulah obat satu-satunya yang ngobatin hati ya kan, orang-orang juga.” (R3.W1/b.269-271/hal.7)
“…Senang ya nggak jugalah, tapi nggak masalahlah kurasa. Biasa aja namboru. Kalo dulu awal-awal memang terasa udah nggak bisa keluar lagi. Nggak bisa lagi sering-sering ngumpul-ngumpul sama kawan-kawan.” (R3.W1/b.464- 468/hal.12)
Menghadapi suaminya, partisipan berusaha sabar dan melawan perasaannya. Partisipan memilih bercerita pada tetangga-tetangganya yang dianggap baik oleh partisipan.
“…Woo.. namboru mana mau nangis trus, nggak maulah. Masak harus diikutin, dilawanlah perasaan tuh, jangan diikutin. Ketawa-ketawa ajalah. Apalagi disini baik-baik semua. Sering jadi tempat cerita kan, (W2.R3./b.674- 678/hal.17)
Kehadiran anak-anak dan perannya sebagai orang tua adalah hal yang membuat partisipan bahagia. Bagi partisipan kehadiran anak-anaknya meringankan beban yang dirasakannya karena anak-anaknya yang peduli pada partisipan.
“…Senanglah, anak-anak namboru semua mengerti sama keadaan namboru. Mereka semua peduli sama amangboru, jadi namboru merasa beban itu berkurang. Senanglah pokoknya.” (R3.W1/b.482-486/hal.12)
Masa sulit dirasakan ketika partisipan harus merawat anaknya yang suka sakit- sakitan sekaligus merawat suaminya yang stroke. Saat ini anaknya tinggal bersama dengan salah satu anak partisipan yang tinggal di Jakarta. Partisipan mengatakan anaknya yang tinggal dijakarta merawat anak bungsunya karena kasihan dan ingin meringankan beban partisipan yang repot mengurus suaminya. “…Berkuranglah, kan harus banyak tinggal dirumah. Dulu sih masih ada anak Namboru yang belum kawin, sakit-sakitan. Dulu Namboru kesulitan juga ngurusnya. Sekarang dia udah diambil kakaknya yang di Jakarta. Karena kasihan liat Namboru ngurus Amangboru lagi kan. Aku ajalah yang jaga katanya.” (R3.W1/b.441-446/hal.11)
9) Kepribadian
Pascastroke partisipan merasakan adanya perubahan kepribadian suaminya. Partisipan merasa suaminya semakin manja, cerewet dan semakin kasar pada partisipan. Partisipan juga sering dimarahi oleh suaminya sejak suaminya terserang stroke. Perubahan ini membuat partisipan berusaha menyadarkan suaminya dengan cara mendengarkan radio tentang keagamaan di pagi hari. Selain perubahan tersebut partisipan juga merasakan suaminya menjadi semakin tidak sabar.
“…Iya, manja kali, cerewet lagi. Ooo dah berkurang banyak tu sejak namboru sering pasang radio tentang kebaktian itu yang pagi-pagi. ..Kalo sebelumnya dia kan suka marah-marah, kadang kebun binatang namboru dipangilnya, hahahaha anjing ini katanya, …” (R3.W1/b.286-288, 293-296/hal.8)
“…Sejak dia sakit maulah dia bilang kekgitu, kebun binatanglah keluar semua. Baru-baru sakit dulu kan harus cepat-cepat tu. Terlambat dikit kenalah. Kalo misalnya dia suruh ngambil air putih, dia maunya harus langsung ada di depan mata. Padahal kita kan masih harus ngambil ke dapur dulu. Kalo lama-lama gitulah, teriak lah dia, jadi kata-kata binatanglah yang keluar.…” (R3.W1/b.298-307/hal.8)
“..Kalo mau mandi misalnya dia kan, ambilah air. Harus cepat-cepatlah udah gitu kan harus air panas dia mandikan, cuci muka juga pake air panas, mandi juga. Gitu. (R3.W1/b.308-311/hal.8)
Partisipan tidak jarang marah ketika suaminya berbicara kasar. Suami bahkan mau berteriak memanggil partisipan dengan tidak sabar, hal ini membuat partisipan merasa malu kepada tetangga-tetangganya. Menghadapi suami partisipan kadang berusaha membujuk suaminya. Partisipan mengakui bahwa diawal perubahan kepribadian suami, partisipan tidak menerima dan sering menangis dengan perilaku suaminya.
“…Memang kadang namboru mau juga marah kalo dia kasar, kalo kita iya-iya aja kan, makin sering nanti dia kasar ma kita. Ya udah kadang namboru lawan jua dia, tapi mungkin liat situasilah. Kadang kuat kali lah suaranya teriak. Sampe malu sama tetangga. Kadang namboru ngalahlah, kadang namboru bujuk-bujuklah dia. Macamlah dek, kek anak-anak juga kurasa.. Ya kalo dulu waktu masih baru-baru sakit, sering nangis juga namboru kalo dia kekgitu, tapi lama-lama hilang juga. Udah terbiasalah. …” (R3.W1/b.318-329/hal.9)
“…Hahahah..kek mana lagi mau senang inang udah kekgitu. Nggak lah, itulah kadang yang buat namboru marah. Nggak terima dia kekgitu. Kasar, suka marah-marah, perasaan paling benar terus ya kan, nggak trimalah. …” (R3.W1/b.346-350/hal.9)
Partisipan berusaha memahami perubahan kepribadian suaminya dengan menyadari kondisi strokelah yang menyebabkan suaminya berubah, tetapi
kebiasaan suaminya yang kasar membuat partisipan merasa tidak tahan dan nggak terima. Partisipan berusaha menerima keadaan suaminya. Partisipan merasa capek merawat suaminya dan suaminya tidak menghargai perasaan dan usahanya. Partisipan menginginkan suaminya membujuk atau memuji dirinya.
“…Ya, mungkin karna dia sakitlah ya makanya kek gitu. Tapi namboru kadang ngak tahan juga. Kadang kumaafkan dia, nggak papa pikirku. Tapi lebih seringlah aku sedih ya kan? Nggak terima, namanya kita juga capek merawat, ya maunya dihargailah perasaan kita ya kan. Maunya baik-baiklah dia. Kita juga kadang pengen dibujuk, dipuji kalo kita baik. Gitu kan? Hahahaha…” (R3.W1/b.331- 338/hal.9)
Ketika suaminya mengucapkan terima kasih atas kebaikannya, partisipan merasa sedih dan senang karena merasa suaminya mengerti akan usaha partisipan.
“…Pernah, dibilangnya makasih ya, sabar kali kau menghadapi aku katanya kalo dia lagi baik. Ya namboru jadi sedih juga kek gitu. Tapi senang juga. Perasaan kita itu kita merasa dia ngerti, gitu.. …” (R3.W1/b.340-343/hal.9) Partisipan juga marah ketika partisipan merasa suaminya tidak mengerti bahwa partisipan sudah capek mengurus suami sementara suaminya selalu mencari cara untuk menarik perhatian partisipan. Partisipan pernah marah pada suaminya dan meninggalkan suaminya di rumah salah satu anaknya. Hal ini membuat suami partisipan menangis dan merindukan keberadaan partisipan disisinya.
“…Dia selalu kekgitu, kalo namboru udah capek kan kadang nggak tahan juga, marah juga namboru. Dia udah tau namboru capek pun dia nggak mau ngerti. Minta diperhatikan aja terus. Kan suntuk kek gitu. Daripada dia biasakan kek gitu. Kalo kau mau mati, mati aja, aku nggak takut mati. Tuhan yang atur itu semua kubilang gitu.” (W2.R3./b.598-605/hal.15)
“…Kalo namboru ada dimarah-marahinnya terus. Namboru kan pernah ninggalin dia di Jambi. Karna panen. Masih seminggu udah ditelponnya namboru. Nangis-nangis dia, kau tinggalkan aku katanya. Jemputlah aku katanya gitu. “(W2.R3./b. 625-630/hal.16)
“…Sedihlah, marah. Kadang namboru bilang sama amangborumu kalo kau masih marah-marah, kutinggalkan kau nanti kubilang gitu. Kadang kalo kita baik kan dia jadi minta diperhatikan trus..” (W2.R3./b.652-655/hal.16)
10) Peran Egalitarian
Saat ini partisipan merasa ada perubahan peran sejak suami terserang stroke. Semua kegiatan dilakukan sendiri oleh partisipan. Partisipan sudah terbiasa dengan kondisi suaminya karena suaminya sudah lama menderita stroke. Tetapi partisipan akan merasa suntuk dan marah ketika suaminya tidak bisa merubah kebiasaanya yang suka tidur dan ketika suaminya berusaha pura-pura mati untuk menakuti-nakuti partisipan.
“…Kalo sekarang sih udah biasa aja semuanya, udah biasa dijalani kan, jadi udah terbiasa.” (W2.R3./b.564-565/hal.14)
“..Ooo..kalo gitu nggak masalah buat namboru. Nggak sama lagilah kek dulu. Dulu dia kan kerja, kami sama-sama ke ladang dulu. Skarang nggak lagi. Namboru ajalah yang ke ladang dia dirumah aja. Ya perannya berubahlah.” (W2.R3./b.779-784/hal.19)
Bagi partisipan pembagian peran yang tidak seimbang disebabkan oleh suaminya yang stroke merupakan sesuatu yang bisa diterima, mengingat suaminya sudah melakukan perannya sebagai suami sebelum mengalami serangan stroke. “…Nggak masalah itu buat Namboru. Nggak papalah. Namanya juga orang tua, dulu juga kan dia udah menjalankan peran sebagai suami. Namboru trima-trima ajalah.” (W2.R3./b.786-789/hal.20-21)
Hal yang tidak disukai partisipan dari suaminya adalah kebiasaan suaminya untuk menarik perhatian partisipan yang kadang berlebihan, dimana suami partisipan pernah berpura-pura mati untuk menarik perhatian partisipan, dan hal
ini membuat partisipan kesal dan marah pada suaminya. Partisipan juga tidak menyukai kebiasaan suaminya yang suka tidur dan malas melakukan terapi.
“…Hm…itulah kebiasaannya yang suka tidur. Namboru malas liatnya. Maunya dia rajinlah bergerak, jalan kalopun nggak ada namboru, jangan tidur aja, itulah yang buat namboru suntuk. Makanya kubilang, memang kau nggak ada semangatmu, mending kau mati aja. Dulu dia pernah pura-pura mati nakut- nakutin namboru,.” (W2.R3./b.582-588/hal.15
4. Interpretasi Data Partisipan III
Perkawinan selalu dianggap sebagai hal yang memuaskan dan berharga (Rini, 2001). Kepuasan hidup yang diperoleh dari perkawinan ini disebabkan oleh hampir seluruh dimensi kebutuhan manusia dipenuhi melalui perkawinan (Walgito dlam Domikus, 1999), bahwa dalam perkawinan manusia dapat memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan religius. Sementara itu, setiap kehidupan akan mengalami perubahan begitu juga ketika seseorang menikah akan ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan perkawinannya.
Partisipan III merasakan perubahan dalam perkawinannnya dimana secara tiba- tiba suami partisipan mengalami serangan stroke yang disebabkan oleh faktor resiko yang dimiliki oleh suami partisipan yaitu hipertensi. Perubahan ini dirasakan secara tiba-tiba oleh partisipan. Partisipan merasakan keadaan suaminya yang stroke mempengaruhi kehidupannya sehari-hari. Awal suami terserang stroke, membuat partisipan terkejut.
Partisipan III mengalami kesulitan selama merawat suaminya. Kesulitan dirasakan partisipan pada dua tahun pertama suami stroke, kemudian partisipan mengatakan bahwa dirinya terbiasa dengan kondisi suami setelah sekitar dua tahun. Di awal suami terserang stroke, partisipan mengalami gangguan emosional dimana sering
menangis dan merasa tidak menerima keadaan suaminya. Grant, Glandon, Elliot, Giger & Weaver ( 2004) mengatakan bahwa minggu dan bulan-bulan pertama bagi caregiver stroke adalah saat yang berubah-ubah, tidak jelas dan merupakan waktu yang mudah mendapat kecaman.
Kesulitan yang dirasakan oleh partisipan III pada dua tahun pertama suami terserang stroke disebabkan oleh kondisi stroke suami yang parah dan berkaitan dengan kemampuan partisipan dalam adaptasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Zillmer & Spiers, (2001) yang mengatakan semakin tinggi ketidakmampuan stroke, semakan tinggi juga peran dan kemampuan adaptasi caregiver, dimana partisipan mebutuhkan waktu 2 tahun untuk beradaptasi terhadap keadaan suaminya. Fultner & Raudonis, (2000) Mcbarry & Arthur, (2001) mengatakan bahwa kejang-kejang, mengangkat, memindahkan merupakan perawatan yang sulit dilakukan oleh caregiver yang sudah tua. Hal ini sejalan dengan gangguan fisik yang dirasakan oleh partisipan selama merawat suaminya.
Kondisi fisik suami di awal serangan stroke menyebabkan partisipan kehilangan peran suaminya sebagai tulang punggung keluarga dan keadaan yang demikian mempengaruhi partisipan. Partisipan III tidak mengalami adanya perubahan pemikiran dan harapan tentang perkawinannya disebabkan oleh harapan dan kebutuhannya sebelum menikah akan perkawinan telah dicapai oleh partisipan sebelum suami menderita stroke. Pasangan yang merawat pasien stroke akan mengalami stress pada hubungan yang tidak dapat dihindarkan (Cavanaugh & Blanchard, 2006). Hal ini sesuai dengan partisipan III dimana partisipan mengalami stress ketika merawat suaminya yang stroke. Dalam kasus partisipan
III, tingkat depresi yang dirasakan caregiver tinggi, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hartke & King (2002) yang mengatakan bahwa tingkat depresi yang dirasakan caregiver dipengaruhi oleh tingkat keparahan stroke, kerusakan, level depresi yang dimiliki pasien seperti karakteristik kepribadian pasien yang berhubungan dengan pengalaman depresi caregiver.
Tingkat depresi caregiver yang tinggi juga disebabkan oleh kepribadian suami yang sering membuat partisipan menangis di awal serangan terjadi. Partisipan mengatakan bahwa keadaan kepribadian suami yang semakin sering marah, semakin kasar, cepat tersinggung dan selalu minta perhatian partisipan membuat partisipan merasakan hal ini sebagai masalah yang tidak bisa diterima oleh partisipan. Partisipan merasa malu kepada para tetangganya dengan kebiasaan suaminya yang sering berteriak ketika marah. Partisipan juga merasa suaminya tidak menghargai usahanya untuk merawat suaminya ketika partisipan dimarahi oleh suaminya. Kondisi suami yang demikian menimbulkan munculnya rasa marah, dendam, rasa tidak suka yang muncul dalam diri partisipan terhadap suaminya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Hartke & King, (2002) bahwa kecemasan, depresi, merasa bersalah, marah seperti dendam secara diam-diam, mungkin merupakan pengalaman caregiver selama merawat suaminya yang stroke.
Terdapat perubahan komunikasi sejak suami partisipan III terserang stroke, perubahan komunikasi ini bukan disebabkan oleh kondisi fisik suami yang berubah dimana suami partisipan tidak mengalami kesulitan atau gangguan berbicara. Partisipan merasa kesulitan dan malas berkomunikasi dengan suami
disebabkan oleh kepribadian suami yang berubah. Partisipan merasa suaminya selalu merasa pasrtisipan tidak tahu apa-apa dan menganggap dirinyalah yang paling benar. Hal ini membuat partisipan tidak berkomunikasi dengan baik dengan suami. Partisipan juga tidak terbuka pada suami. Hal ini membuat partisipan tidak merasakan adanya kesulitan berkomunikasi dengan suami. Partisipan merasa tidak bisa bercerita dengan suami, tidak bisa mencurahkan perasaan dengan suami sehingga komunikasi dirasakan berubah berkaitan dengan serangan stroke yang terjadi pada suaminya. Hal ini mempengaruhi penilaian partisipan terhadap aspek komunikasi dalam perkawinannya.
Waktu senggang yang dirasakan partisipan juga berubah. Tetapi partisipan masih memiliki waktu untuk beristirahat dimana partisipan hanya merawat suami sehari-harinya. Sejak suami terserang stroke, partisipan merasakan adanya pengurangan waktu luang berkumpul dengan teman-temannya. Partisipan mengisi banyak waktu berdua dengan suami di rumah dimana pasrtisipan kebanyakan menghabiskan waktunya di rumah untuk merawat suaminya. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa partisipan menikmati waktunya bersama suaminya. Partisipan mengakui suaminya lebih banyak tidur dan jarang menikmati waktu luang bersama suami. Partisipan sering mengisi waktu senggang dengan memasak, tidur atau istirahat atau pergi ke ladang. Partisipan adalah seorang yang aktif dan tidak suka bermalas-malasan, sehingga partisipan menganggap bahwa waktu senggangnya yang berkurang bisa diterima. Partisipan merasakan adanya pengurangan waktu senggang yang dinikmati bersama teman-temannya sejak suaminya stroke. Bagi partisipan, berkumpul dengan keluarga dan sahabat adalah
hal yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Paul & Stephanie (2008) bahwa istri sebagai perawat suami akan merasakan berkurangnya waktu luang untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan dibandingkan ketika suami belum terserang stroke.
Orientasi keagamaan yang dirasakan partisipan juga berubah sejak suaminya terserang stroke. Partisipan menjadi semakin banyak berdoa dan semakin aktif dalam kegiatan keagamaan. Mengisi waktu senggang dengan kegiatan keagamaan akan mampu mengurangi beban pikiran partisipan, memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang akan mempengaruhi penilaian istri terhadap perkawinannya. Kemampuan istri dalam menemukan kesenangannya dari agama akan mempengaruhi penilaian yang dirasakannya terhadap perkawinan. Dengan keagamaan partisipan membuat partisipan lebih mampu menerima keadaan kepribadian suaminya. Bagi partisipan, keagamaan adalah satu-atunya pengobat hatinya yang sering terluka oleh kondisi kepribadian suaminya. Keagamaan partisipan memegang peranan penting dalam kehidupannya saat ini dalam menghadapi keadaan suaminya. Partisipan menemukan agama sebagai sumber kebahagiaan yang diperoleh dibandingkan dengan apa yang telah diperolehnya sebelumnya, hal ini sejalan dengan pernyataan Hurlock (1999).
Setelah suami stroke, partisipan berusaha memecahkan masalahnya sendiri, ketika partisipan merasa bahwa masalah tersebut harus dibicarakan dengan suami, partisipan biasanya menyelesaikan masalah bersama dengan suaminya karena partisipan takut suaminya akan marah ketika akan mengambil kesimpulan sendiri, dimana suami partisipan merasa hanya pendapatnyalah yang benar. Dalam
resolusi konflik partisipan tidak terbuka dengan suaminya. Seperti pendapat (Henslin, 1985), kemampuan untuk mengatasi konflik bisa diwujudkan bila semua anggota keluarga saling mendukung dalam mengatasi masalah dan mendiskusikan dengan baik. Partisipan mendapat dukungan dari anak-anaknya yang telah menikah tetapi kurang mampu mendiskusikannya dengan baik dengan suami. Dengan demikian Partisipan III kurang mampu dalam mengatasi masalah disebabkan oleh kondisi suaminya.ketika memiliki masalah, partisipan biasanya meminta dukungan anak-anaknya.
Manejemen keuangan partisipan juga mengalami perubahan. Bagi partisipan, keadaan suami yang tidak bekerja mempengaruhi peran suaminya dalam rumah tangga sebagai tulang punggung keluarga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mc Garry (2004) yang berpendapat bahwa mayoritas penderita stroke dikatakan pengangguran dan tidak dapat bekerja kembali pada pekerjaannya yang lama. Meskipun demikian, partisipan menginginkan suaminya memiliki status sebagai pekerja. Partisipan menginginkan melihat suaminya seperti dulu pergi bekerja di pagi hari dan pulang saat sore hari. Saat ini, partisipan mendapatkan bantuan keuangan dari gaji pensiunan suaminya yang dulu adalah seorang guru, selain itu partisipan juga mendapatkan bantuan dari ke enam anaknya. Partisipan pergi ke ladang untuk mengurangi beban pikiran dan mengalihkan perhatiannya dari kondisi suami yang stroke, selain itu berladang merupakan kesenangan partisipan. Dengan kondisi keuangan keluarga yang demikian menyebabkan partisipan tidak merasakan masalah dibidang ekonomi setelah suaminya stroke, berbeda dengan apa yang telak dikemukakan oleh Anderson & Batista (2008) yang mengatakan
bahwa istri penderita stroke merasakan penurunan pendapatan ketika harus membiayai pengobatan suami dan tanggung jawab yang bertambah setelah suami mereka terserang stroke. Dimana menurut partisipan, partisipan sudah menikmati keluarga yang pas-pasan sejak mereka menikah sehingga partisipan sudah terbiasa dengan kondisi ekonomi saat ini.
Hubungan seksual juga merupakan salah satu aspek dalam kepuasan perkawinan. Saat ini hubungan seksual partisipan sudah tidak aktif dilihat dari segi usia partisipan juga yang akan memasuki masa lansia. Hal ini bertentangan dengan apa yang telah dikatakan oleh Bray & Humprey (dalam Lumbantobing, 2003) yang mengatakan bahwa kegiatan seksual setelah serangan stroke menurun. Bagi partisipan III, aktivitas seksual yang menurun bukanlah sebagai sesuatu aspek penting dalam perkawinannya saat ini. Hal ini bertentangan dengan pendapat Mathias et al., (1997) yang mengatakan bahwa hubungan seksual adalah prediktor yang baik dalam memprediksi kepuasan perkawinan pada istri. Bagi partisipan, kesembuhan suami memegang peranan yang lebih penting dibandingkan dengan hubungan seksual. Partisipan mengatakan sebelum suaminya stroke, aktivitas seksual juga sudah jarang sekali dilakukan melihat factor usia suami dan usia partisipan.
Hubungan yang baik dengan keluarga dan teman akan menimbulkan perasaan bahagia (Hurlock, 1999). Kepuasan perkawinan istri yang memiliki pasangan stroke sangat membutuhkan dukungan dari keluarga. Ketika keluarga mendukung dan memberi bantuan, seorang istri akan merasa bahagia. Charlie (dalam Herra, 2008) mengatakan bahwa seorang istri mungkin akan bertahan dengan kondisi
suami yang terserang stroke ketika dia mendapat dukungan dari sahabatnya. Beberapa pernyataan diatas sesuai dengan apa yang dirasakan oleh partisipan III. Partisipan merasa bahagia memiliki keluarga yang peduli dengan kondisi perkawinannya saat ini. Partisipan mendapat dukungan penuh anak-anaknya yang telah berkeluarga, selain itu partisipan juga mendapatkan dukungan dari teman- teamannya di gereja, dan dukungan dari tetangga-tetangganta. Hal ini membuat partisipan merasakan bebannya berkurang dengan kehadiran keluarga dan teman- temannya.
Kehadiran anak dan pengasuhan anak juga merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan partisipan dalam perkawinannya saat ini. Peran pasangan akan semakin bertambah setelah memiliki anak. Masalah pengasuhan anak menimbulkan tekanan tersendiri (Rini, 2002) teori ini sesuai dengan kondisi partisipan yang merasakan kesulitan dengan kehadiran salah seorang anaknya yang sakit-sakitan. Saat wawancara ini dilakukan anaknya tersebut dirawat oleh salah satu anaknya yang tinggal di Jakarta. Meskipun demikian, partisipan tidak merasa tertekan tetapi merasakan bahagia dengan kehadiran anaknya, dimana partisipan memiliki anak-anak yang peduli dan menyayangi dirinya. Penelitian yang dilakukan oleh (Hendrick & Hendrick, 1992), menemukan bahwa kehadiran anak akan mengurangi waktu bersama pasangan. Hal ini akan mempengaruhi waktu senggang antara istri dengan suami mereka. Ketika anak menuntut perhatian dari istri, istri akan kesulitan membagi waktu antara mengurus suami yang menderita stroke dengan mengurus anak, hal ini dapat menimbulkan tekanan pada istri. Hal ini bertentangan dengan apa yang dialami oleh partisipan III,
dimana bagi partisipan kehadiran anak tidak menganggu atau mengurangi waktu senggang yang dimilikinya, disebabkan oleh suaminya terserang stroke setelah semua anaknya menikah. Tetapi partisipan merasakan kepuasan dengan kehadiran anak yang sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Rini, (2002), sehingga bagi partisipan kehadiran anak adalah berkah yang membatunya menghadapi masa-masa sulit menghadapi kondisi perkawinan pascastroke.
Salah satu masalah yang dianggap sulit dihadapi oleh partisipan adalah perubahan emosional suami setelah serangan stroke terjadi. Dimana partisipan merasakan perubahan tersebut mempengaruhi perasaan dan pemikirannya. Partisipan stress dengan kepribadian suami saat ini yang semakin sering marah, cepat tersinggung, manja dan egois. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Matthews (1996) tentang tingkah laku dan kepribadian suami yang berubah setelah serangan stroke dapat menyebabkan kekecewaan terhadap istri, namun jika tingkah laku suami ternyata sesuai dengan apa yang diharapkan akan