ANALISIS DATA DAN INTERPRETAS
A. Partisipan I 1 Analisa Data
3. Data Wawancara Partisipan
a. Gambaran Stroke Suami Partisipan I
Sejak suami terserang stroke, partisipan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk merawat suami. Suami partisipan mengalami kelumpuhan pada tubuhnya bagian kanan, tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara, pendengaran bagian kanan terganggu, dan memiliki gangguan mata sehingga suami tidak bisa lagi membaca.
“…Gejala fisiknya badannya mati sebelah kanan, Dia udah nggak bisa jalan ia setengah badannya mati, sebelah kanan nggak bisa ngomong, telinga sebelah nggak bisa mendengar, terganggulah pokoknya matanya juga nggak bisa membaca lagi…” (R1.W1/b.20-25/hal.1).
Menurut partisipan, suaminya terserang stroke saat suaminya memiliki masalah dengan temannya bekerja, dan kejadian tersebut terjadi 29 Agustus 2008. Selain itu suami partisipan juga adalah seorang suami yang tidak bisa membatasi diri dalam memakan makanan berlemak.
“…Iya masalah sama kawan-kawannya. Apalagi Dia makanannya nggak bisa dibatasi, makan daging trus, lemak trus. Jadi kekgitu kata dokter banyak lemak- lemaknya, jadi pembuluh darah itu pecah..” (R1.W1/b.33-37/hal.2).
b. Gambaran Gejala Fisik dan Masalah Psikologis pada Partisipan I
Kondisi suami yang stroke mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis partisipan. Partisipan selalu mengeluh dengan kondisi suaminya. Partisipan merasa kasihan melihat anak-anaknya yang tidak bisa dijaganya karena partisipan menghabiskan waktunya lebih banyak mengurus suami. Selama mengurus suami, partisipan mengalami gangguan kesehatan fisik seperti badan yang pegal-pegal ketika harus mengangkat suami sehari-hari, dimana biasanya partisipan harus mengangkat suaminya ke kamar mandi. Partisipan merasakan badannya kejang, seluruh tubuh terasa sakit, partisipan sering merasa sakit kepala, dan stress.
“…Sejauh ini Awak selalunya mengeluh, pastilah mengeluh cuma ya gimanalah udah kek gini, nggak mungkin sampe stress kali Awak, Awak mau tinggalin Dia, nggak tega kasian juga Awak liat anak-anak juga nggak ada yang jaga…” (R1.W1/b.61-65/ hal.2).
“…Ya banyak, badanku pegal-pegal smua. Dulu waktu baru kena Dia kan Awak sendirilah yang angkat Dia ke kamar mandi kan harus diangkat, badannya mati, nggak bisa bergerak. “(R1.W1/b.85-89/hal.3).
“…Kakiku dulu kejang, badan Awak semua sakit nggak bisa bergerak kek mau patah di dalam, sering pening, apalagi kalo nggak ada kerjaan, jadi menghayal, kapanlah kira-kira ini sehat ya, apalah yang harus kulalukan biar ekonomi kami bisa, mau kerja, Awak mikir, kekmanalah Dia nanti, siapa yang jaga, kasian kan? gara-gara banyak pikiran, stress lah Awak, pening, pusing kepala…”(R1.W1/b.98- 107/hal.2).
Selama partisipan merawat suaminya, partisipan mengalami pengurangan berat badan dan peningkatan berat badan setelah menyadari bahwa dia harus kuat dan sehat untuk merawat anak-anaknya. Partisipan sering memikirkan keadaan yang terjadi dan masih belum bisa menerima keadaan suaminya. Tetapi partisipan menyadari bahwa keadaan suaminya adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan.
“…Kalo sampe sakit nggak, tapi dulu aja badanku sempat kurus, dulu Awak 60 kg, sekarang udah 55 kg, itu aja karena udah naik karena kupikir toh Awak yang harus menghadapinya, Awak harus kuat, kekgitulah kalo kumaui Awak kek yang kemarin, bisa sakitlah Awak. Kekmana anak-anakku ini pikirku Dek..” (R1.W1/b.93-99/hal.4).
“…Terkadang Awak pikirkan kok bisa kekginilah nasib Awak, mana bisa dielakkan lagi udah kekgini, terpaksa lah Awak terima..” (R1.W1/b.102- 104/hal.4).
Kondisi suami yang stroke membuat partisipan merasa tidak sanggup menghadapi keadaan suaminya, partisipan mengalami stress pikiran, dan merasa tidak tenang dalam menghadapi suaminya yang sakit. Suami partisipan semakin sering marah-marah, cepat tersinggung dan hal ini mempengaruhi perasaan partisipan.
“….Gimanalah kubilang, merasa tidak sangguplah menghadapi, sering suntuk, banyak pikiran, nggak tenang, kekmanalah menghadapi orang sakit ya kan..” (R1.W1/b.39-42/ hal.2).
“…Kadang nggak bisa terima juga Awak Dek, kenapalah harus Awak ya Tuhan, apa salahku kekgitulah Awak mikir..” (R1.W1/b.279-280/hal.7).
“…Sejak abangmu sakit Dia jadi lebih sering suka marah-marah, cepat tersinggung, merasa tidak diperhatikan, murah sakit hati, maunya dimanjaaaa aja trus, pusinglah pokokny Dek…” (R1.W1/b.55-59/hal.2).
Selama merawat suaminya, partisipan berusaha melakukannya sendiri dan berusaha untuk tidak meminta pertolongan orang lain. Partisipan merasa tidak enak ketika harus meminta pertolongan keponakannya untuk mengangkat suaminya ke kamar mandi, sehingga partisipan berdoa kepada Tuhan supaya suaminya bisa dia papah sendiri sehingga partisipan tidak akan merepotkan orang lain. Setelah dicoba dan ternyata bisa, partisipan bersyukur bisa mengangkat suaminya sendirian.
“…Awak minta tolonglah sama ponakan tapi kadang nggak enak juga Awak minta tolong trus itulah yang terpendam dihatiku berdoa Awak, Tuhan bisalah maunya Dia jalan, biar Awak bisa angkat sendiri. Kucoba kupapah ternyata bisa,
jadi Awak sendiri aja ngangkatnya. Makasih ya Tuhan kubilang…”” (R1.W1/b.90-98/hal.3).
“…Awak bersyukur Dek masih bisa meminta pada Tuhan Kakak senang bisa menumpahkan semua yang sesak di dada ini pada Tuhan, Dia juga mau mendengarkanku, membantuku, kekdulu waktu abangmu baru sakit, Awak berdoa supaya maunya Dia bisa jalan, supaya Awak bisa memapahnya sendiri dari kamar mandi, jadi Awak nggak harus minta bantuan sama orang lain, ternyata nggak lama setelah Awak berdoa, Dia udah mulai bisa kupapah sendirian. mertua Awak juga sampe heran melihat Awak sendiri mengangkat abangmu ke kamar mandi Awak bersyukur sekali pada Tuhan, Terima kasih ya Tuhan kubilang gitu dalam doa Awak…” (R1.W1/b.216-227/hal.6)
c. Gambaran Kepuasan Perkawinan Partisipan I
Partisipan menikah dengan suaminya 7 tahun yang lalu. Partisipan menikah di usianya yang ketigapuluh tahun. Sebelum menikah partisipan adalah salah seorang karyawaan di sebuah perkebunan di Tanjung Morawa. Partisipan tidak bekerja setelah menikah dengan suaminya. Tujuh tahun menikah, partisipan dikarunia dua orang anak. Anak pertama adalah anak laki-laki berusia 5 tahun bernama Harris, dan anak kedua adalah anak perempuan berusia 4 tahun. Saat ini partisipan berusia 37 tahun dan usia suaminya 43 tahun. Saat ini suami partisipan sedang menjalani perawatan karena penyakit stroke yang diderita suaminya. Suami partisipan telah terserang stroke 2 bulan sebelum bertemu dengan peneliti. Suami partisipan terserang stroke disebabkan oleh adanya hipertensi dan diabetes yang telah lama diderita suaminya.
Suami partisipan adalah anak bungsu dalam keluarganya, sehingga partisipan tinggal bersama dengan orang tuanya dimana dalan budaya partisipan, anak bungsu akan tinggal bersama dengan orang tuanya. Partisipan tidak memiliki rumah dan menumpang di rumah mertuanya. Partisipan mengatakan bahwa sejak suaminya stroke, banyak perubahan yang dirasakan dalam kehidupan
perkawinannya, dimana keinginan partisipan untuk memiliki rumah sudah tidak dipikirkan lagi melihat kondisi suaminya yang stroke.
1). Komunikasi
Komunikasi dalam perkawinan partisipan juga berubah, dimana kondisi fisik suaminya mengakibatkan kemampuan suami yang tidak bisa berbicara, selain itu partisipan juga tidak pintar menggunakan bahasa isyarat. Partisipan berkomunikasi dengan suami dengan cara menebak-nebak keinginan suaminya. Dengan perubahan komunikasi ini, partisipan sering merasa pening karena tidak bisa bercerita dengan suaminya. Keadaan suami yang demikian merupakan masalah bagi partisipan.
“…Kalo abang nggak bisa ngomong, gimanalah Kakak mau berkomunikasi yah kekgitulah jadi Awak tebak-tebak aja aa.a..aa ajalah, kalo Dia angguk berarti betul, kalo salah kutanya lagi, sampe betul, kekgitulah…”(R1.W1/b.123-12/hal.4). “…Nggak ngerti Dia isyarat-isyarat, tebak-tebak ajalah, yah semua berubahlah, Kakak udah nggak bisa lagi cerita-cerita perasaanku pening juga, suntuk juga Awak…”(R1.W1/b.130-133/hal.4).
“…Yah masalahlah udah nggak bisa ngomong…”(R1.W1/b.136/hal.4).
Partisipan merasa pening, ingin marah tetapi tidak tahu harus marah pada siapa dengan kondisi suaminya yang tidak bisa berkomunikasi. Partisipan mengatasi komunikasi dengan cara mengikuti semua kemauan suaminya. Partisipan merasa malas bercerita pada suaminya disebabakan oleh keadaan suaminya yang lambat mengerti dan adanya gangguan pendengaran. Kondisi suami membuat partisipan merasa harus lebih bersabar. Partisipan juga kadang dimarahi oleh suaminya ketika partisipan tidak mengerti kemauan suami. Hal ini mempengaruhi keadaan psikologis partisipan.
“…Ya pening juga Awak, mau marah, nggak tau mau marah sama siapa..” (R1.W1/b.139-140/hal.4)
“…Cara mengatasi masalah komunikasi, yah Awak ikutin ajalah apa maunya Dia, iya-iyakan ajalah…”(R1.W1/b.143-144/hal.4)
“…Kadang gimana ya, ya Awak sendirilah yang hadapi, kadang ada yang salah, yah sendirilah hadapi sendiri nggak ada teman untuk cerita…” (R1.W1/b.147-149/hal.4).
“…Gimanalah Awak bilang ya, kadang Awak cerita Dia susah kali mengerti, harus dijelaskan baik-baik. Dia udah lambat ngerti Dek, kadang Dia juga nggak dengar jadi Kakak malas cerita…”(R1.W1/b.152-155/hal.4).
“…Yah, suntuk juga Awak, mau bilang apa lagi harus sabar-sabarlah, tebak- tebaklah, kalo Dia marah karena Awak nggak ngerti, yah trima-trima ajalah udah bawaan penyakitnya kekgitu, kadang stress juga Awak..” (R1.W1/b.158- 163/hal.5).
2). Kegiatan Mengisi Waktu Senggang
Waktu senggang partisipan berkurang sejak suaminya terserang stroke. Partisipan merasa tidak memiliki waktu kosong dimana partisipan harus menjaga anak dan suaminya. Waktu untuk istirahat juga dirasakan berkurang.
“…Sejak sakit udah nggak ada lagilah waktu kosong, jaga anak, masak, anakku kan masih kecil-kecil jaga Dia lagi, udah nggak ada lagilah waktu untuk istirahat aja susah..”(R1.W1/b.165-167/hal.5).
Partisipan menginginkan adanya waktu senggang, dimana partisipan ingin pulang ke kampungnya dan bertemu dengan keluarganya. Partisipan ingin membawa suaminya disembuhkan dikampung. Karena kondisi tidak memungkinkan untuk membawa suami ke kampung membuat partisipan banyak berfikir sehingga membuatnya pusing dan sakit kepala.
“…Kakak ingin kali pulang kampung, biar Awak bisa ketemu adikku yang laki-laki Dia nelepon Awak bilang dikampung ada orang pintar yang bisa sembuhkan stroke, Awak pingin kali bawa Dia kesana, itulah tadi sambil tidur kupikirkan, jadi sakit kepala sakin dipikirkan jadi terbawa mimpi Awak tadi orang pintarnya bilang kalo pengobatanya ini lama gara-gara mimpiku itu Awak jadi pusing, sakit kepala…” (R1.W1/b.177-185/hal.5).
Partisipan menghabiskan banyak waktu bersama suaminya tetapi partisipan mengatakan bahwa dia tidak menikmati waktu bersama dengan suaminya karena menurut partisipan kondisi suaminya yang membuat suaminya kebanyakan tidur dan partisipan tidak bisa bercerita dengan suaminya. Kondisi suami yang tidak bisa berjalan membuat partisipan suntuk. Dengan kondisi waktu senggang yang terbatas, partisipan merasa tidak puas dengan waktu senggangnya.
“…Ya Awak mang selalunya sama Dia, jaga Dia, tapi ya kek gitulah Dek kami sama teruspun gaklah dibilang kami menikmati waktu berdua. Dia tidur ajanya terus, Awakpun nggak bisa cerita-cerita sama Dia…” (R1.W1/b.187-191/hal.5).
“…Ya suntuk juga Awak Dek, kapanlah maunya Dia bisa jalan, biar bisa kubawa ke kampung, pikirku gitu…” (R1.W1/b.194-196/hal.7).
“…Nggak lah Dek, gimana lagi Awak bisa puas kalo istirahat aja udah nggak cukup, kadang tidur ajapun Awak nggak bisa…” (R1.W1/b.198-200/hal.5-6).
3). Orientasi Keagamaan
Saat ini kegiatan keagamaan partisipan mengalami perubahan. Partisipan tidak pernah ke gereja sejak suaminya stroke disebabkan oleh keadaan suaminya yang harus dijaga partisipan. Kegiatan keagamaan dilakukan partisipan dengan banyak berdoa.
“…Nggak, sejak Abangmu sakit, nggak pernah aku gereja. Apalagi di rumah sakit, dia kan nggak bisa ditinggalkan.” (R1.W2/b.531-533/ hal.14).
“..Ya gitulah, banyak berdoalah awak sekarang.” (R1.W2/b.527-528/hal.14)
Dalam menghadapi masalah, partisipan biasanya bercerita dengan cara berdoa pada Tuhan. Partisipan sering berdoa untuk mengurangi beban pikirannya. Tidak jarang juga partisipan menangis sewaktu berdoa. Partisipan merasa pasrah dengan rencana Tuhan.
“…Awak cuma bisa cerita sama Tuhanlah Dek …”(R1.W1/b.203/hal.6).
“…Ya jadi sering berdoalah Awak, lebih banyak berdoalah skarang ini, jadi Awak merasa bebanku lebih ringan, kadang Awak nangis kalo Awak merasa udah nggak tahan lagi, kuceritakan semua pada Tuhan. Awak pasrah aja dengan rencana Tuhan, kalo Awak apalah kan Tuhan yang atur semua ini sering berdoalah waktu ada masalah, Awak pasrahkan ajalah, kekmana rencana Tuhan pasrah aja…” (R1.W1/b.206-213/hal.6).
Partisipan merasa keadaan suaminya harus diterima. Ada saat-saat partisipan tidak menerima keadaan suaminya yang stroke. Partisipan merasa suaminya terserang stroke bukan pada saat yang tepat. Partisipan merasa akan lebih mampu menghadapi kondisi suami seandainya suami terserang stroke setelah anak- anaknya tumbuh besar tidak seperti saat ini dimana anak-anaknya masih kecil dan tidak bisa diajak bercerita. Partisipan pernah merasakan bahwa Tuhan tidak adil. Tetapi partisipan juga menyadari bahwa suaminya stroke adalah rencana Tuhan.
“…Gimanalah Awak bilang ya, yah gimana ini semua rencana Tuhan Awak harus terima dengan sabar, kadang Awak masih nggak bisa terima kenapa harus sekarang ya Tuhan kubilang kekgitu, kenapa nggak waktu anak-anakku udah besar kadang Awak mikir kekgitu Dek, mungkin kalo anak-anakku udah besar, mungkin Awak ada tempat bercerita, jadi nggak kek sekarang ini disimpan- simpan terus, kadang Awak merasa Tuhan itu nggak adil, tapi kadang Awak juga merasa ini semua rencana Tuhan, …”(R1.W1/b 231-242/hal.6-7).
Bagi partisipan keadaan suaminya stroke adalah cobaaan dari Tuhan yang harus dihadapi. partisipan merasa harus menghadapi sampai partisipan merasa harus menyerah.
“…Kadang Awak mikir, ini semua cobaan Tuhan harus dihadapi, Tuhan pasti memberikan cobaan sejauh kita sanggup menghadapinya, jadi Awak hadapi aja semuanya sampe Awak merasa harus menyerah…” (R1.W1/b.312-316/hal.8)
Ketika merasakan ada masalah yang harus dibicarakan dengan suami, partisipan memilih untuk bercerita pada suaminya tetapi suami partisipan sering marah ketika partisipan berusaha mencurahkan perasaannya pada suami.
“…Kadang kalo udah nggak tahan lagi, kubilang sama Dia, kadang Dia mau terima tapi kadang Dia juga marah sama Awak…” (R1.W1/b 246-248/hal.7). Dalam, perkawinannya setelah suami stroke, partisipan merasakan banyak muncul masalah. Bagi partisipan masalah muncul ketika berhadapan dengan pihak keluarga suaminya. Partisipan sering merasa tersinggung dengan kata-kata keluarga suaminya, dimana menurut partisipan keluarga suaminya terlalu mencampuri urusan rumah tangganya. Apalagi setelah suaminya stroke, suami partisipan kurang mampu memahami dan mendengarkan dengan baik, sehingga partisipan harus menghadapi sendiri segala permasalahan yang muncul.
“…Masalah banyak yang Awak pikirkan, namanya juga orang batak yang berkeluarga ini ya kan, keluarga ini yang jadi masalah, kakak-kakaknya, abangnya, keluarganya terlalu mengurusi keluargaku, sedikit salah ngomongnya kan tersinggung Awak, karena abang kan ga bisa ngomong, jadi smua Awaklah sendiri yang dengar semuanya apa yang dibilang bapaknya, iya-iyakan ajalah namanya juga orangtua…”(R1.W1/b.25-2591/hal.7).
Untuk mengatasi masalah yang dihadapinya partisipan biasanya berdoa pada Tuhan. Ketika partisipan ingin cerita dan menumpahkan semua bebannya partisipan memanggil adiknya untuk dijadikan tempat bercerita. Partisipan mengakui bahwa dirinya mudah menangis.
“…Awak sering-sering berdoalah, sabar-sabar ajalah, pasrah aja sama Tuhan kadang kalo Awak udah nggak tahan pingin cerita, Awak panggil aja adekku yang di simalingkar datang kesini. Kalo Dia datang, kutumpahkan lah semuanya yang sesak didada susah Dek, Kakak gampang nangis...” (R1.W1/b.304-310/hal.8).
Dalam mengatasi masalah keuangan keluarga, partisipan mengharapkan mertuanya mengerti kondisi ekonomi keluarganya dengan cara memberikan kede mertuanya untuk dikelola oleh partisipan. Dengan demikian partisipan bisa merawat suaminya dirumah sekaligus juga merwat anak-anaknya, dimana sebelum suaminya stroke mertua partisipan telah berjanji akan memberikannya pada partisipan.
“…Itulah yang kemarin kuceritakan samamu. Awak mengharapkan maunya mertua Awak ngertilah keadaan ekonomi kami skarang ini. Maunya dikasihnya kede itu kujaga, biar Awak bisa rawat Dia dirumah sama anak-anakku juga. Tapi sampe skarang mertua Awak blom ada bilang sama Awak. Padahal Dia udah pernah janji…”(R1.W1/b 340-347/hal.9).
5). Manejemen Keuangan
Setelah suami stroke, partisipan merasakan adanya kesulitan dalam ekonomi keluarga. Dimana partisipan tidak bekerja dan juga tidak mendapatkan bantuan dari keluarganya. Sebelum terserang stroke, suami partisipan adalah pedagang snack keliling. Tetapi saat ini partisipan menunggu bantuan dari keluarganya karena tidak adanya yang mencari nafkah dalam perkawinannya.
“…Ekonomi ya nggak ada, kalo ada bantuan dari keluarga ya ada, kalo nggak ada ya nggak ada…”(R1.W1/b.320-321/hal.8)
“..Jualan yang keliling-keliling itu, jual ciki-ciki…”(R1.W1/b.325-326/hal.8-9).
Kondisi suami yang tidak lagi bekerja membuat partisipan merasa suntuk. Partisipan ingin sekali bekerja untuk mendapatkan gaji untuk membiayai anak- anaknya. Tetapi keinginannya tersebut tidak dapat dilakukan karena harus merawat suaminya yang stroke.
“…Itulah yang sering kupikirkan, jadi suntuk Awak, kadang Awak pikir, maunya Awak kerja, dapat gaji biar cukup untuk biayai anak-anakku, pingin kali
Awak dapat kerja lagi kek dulu tapi Awak pikir kalo Awak kerja siapa yang jagain Dia, serba salah lah pokoknya Dek…” (R1.W1/b.170-175/hal.5).
Dari segi keuangan keluarga partisipan merasakan ketidakpuasan. Partisipan sudah merasakan hal ini sejak menikah, dimana menurut partisipan suaminya adalah seorang yang pelit dan tidak mempercayakan keuangan pada istri.
“…Kekmanalah lagi mau puas kondisinya kekgini Dek, sebenarnya sejak kawinpun Awak udah nggak puas lagi, karena Dia itu orangnya pelit, nggak percaya sama istri, Awak aja nggak pernah dikasih megang uang…”(R1.W1/b.353-358/hal.9).
Manejemen keuangan merupakan tugas partisipan setelah suaminya stroke. Partisipan merasa stress karena kondisi keuangan keluarganyayang sudah tidak ada. Hal ini membuat partisipan selalu meminta bantuan kepada keluarga dan membuat partisipan ingin bekerja untuk menggantikan suaminya mencari nafkah.
“…Uang Awaklah yang ngatur, nunggu bantuanlah dari keluarga, karena nggak ada lagi yang nyari uang…” (R1.W1/b.331-333/hal.9)
“…Yah itulah Awak stress Dek, nggak ada uang, malu juga minta-minta bantuan orang lain. Makanya Awak pingin kerja, tapi mau gimana nggak bisa juga…”(R1.W1/b.343-346/hal.12).
6). Hubungan Seksual
Setelah suami terserang stroke, terdapat gangguan dalan hubungan seksual yang dirasakan partisipan. Partisipan kasihan pada keadaan suaminya. Bagi partisipan masalah dalam hubungan seksual bukanlah hal yang penting dimana partisipan lebih mementingkan kesehatan suaminya kembali pulih. Partisipan merasakan adanya perubahan dalam hubungan seksual.
“…Seksual ada juga, kekmanalah kubilang ya, ada juga, yah berubah nggak kek sehat dulu ya, mungkin apanya itu eceknya mungkin masih normal, kalo umpamanya mau pingin Dia, ditariknya Awak gitu, dulu kirain udah mati sebelah, udah nggak bisa lagi tapi yah gitu masih mau Dia narik Awak yah Awak apalah,
kasian juga Awak sama Dia, yah tapi berubah paling sekali-kali aja…”(R1.W2/b.363-370/hal.9-10).
“…Kekmanalah kubilang ya, Awakpun nggak kesitu pikiran, yang penting sehat, kadang Dianya yang kepingin, kalo Awak ini, apalah udah nggak penting lagi yang kekgitu…”(R1.W2/b.373-376/hal.10).
Partisipan merasakan adanya gangguan dalam hubungan seksual. Ketika suami menginginkan hubungan seksual, partisipan mengikuti kemauan suaminya, karena rasa kasihan yang dimilikinya pada suaminya.
“…Ya terganggu, cuman kasian juga sama Dia, ya ikutin ajalah…”(R1.W2/b.379-380/hal.10)
“…Seksual yah nggaklah, tapi ya nggak kesitu lagi pikiranku, kalo Dia mungkinlah kalo Awak pikiranku udah hancurnya semua, yang penting sembuh ajalah…”(R1.W2/b.382-384/hal.10).
7). Keluarga danTeman
Partisipan masih mendapatkan dukungan dari adik-adiknya. Partisipan merasa bahwa keluarga suaminya tidak memberikannya dukungan. Partisipan juga merasakan bahwa sejak suaminya stroke, suaminya juga sudah tidak dihargai oleh pihak keluarga suaminya karena kondisi suaminya yang sudah tidak bisa berbicara.
“…Kalo adek-adekkku apalah ya kan kasiannya mereka sama Awak, sabar- sabarlah Kak katanya kekgitu, keluarga Dianya yang nggak enak sama Kakak, mereka keknya lain gitu, sblom sakit Dia nggak pa pa, masi dihargai abangmu, sejak abangmu sakit udah nggak ada lagi dihargai apa-apa apalagi udah nggak bisa ngomong udah nggak takut lagilah…”(R1.W1/b 260-267/hal.7)
“…Mana ada, mereka malah selalu buat Awak sakit hati kata-kata mereka semua menyinggung perasaanku terus. Apalagi sejak Abangnu ini nggak bisa ngomong, udah nggak ditakuti lagi jadi semua kata-kata mereka Awak yang mendengar, sakit hati…” (R1.W1/b 291-297/hal.8)
Masalah juga dirasakan partisipan ketika harus menghadapi kondisi keluarga suaminya , keadaan dimana dalam perkawinannya tidak ada yang mencari nafkah dimana partisipan hanya seorang ibu rumah tangga. Selain itu partisipan mengatkan dia tidak bisa bekerja karena suaminya tidak ada yang menjaga.
“…Banyak masalah menghadapi keluarganya, cari makan nggak ada lagi, dulu abang yang kerja. Kakak cuma ibu rumah tangga, apalah kerjaan Awak mau cari kerja juga nggak bisa, dulu abangmu kan naek kreta jualan, Awak nggak bisa naek kreta, yah apalah kerja Awak nanti Awak nyari kerjaan sapa yang jagain…”(R1.W1/b 269-275/hal.7).
Partisipan merasa mertuanya baik, tetapi merasakan hal yang berbeda ketika dibandingkan dengan keluarga suaminya yang lain seperti kakak dan adik suaminya. Partisipan juga menceritakan tentang keadaan dimana kakak iparnya sering menghasut mertuanya untuk tidak membantu partisipan.
“…Kalo mertua Awak sebenarnya baiknya Dek, cuma Kakak abangmu ini ada disamping rumah kami sekarang ini, Dia udah janda, nggak baiklah pokoknya Dia selalu mengurusi rumah tangga Awak, mertua Awak juga selalu dihasutnya. Mertua Awak juga percaya-percaya aja sama Dia kalo nggak gara-gara Dia mungkin mertua Awak udah ngasih kedainya kuusahakan…”(R1.W1/b.282- 290/hal.10).
Pendapat partisipan tentang pengaruh keluarga pihak suami adalah bahwa keluarga membuat partisipan merasa tidak betah dengan keadaan yang sedang dihadapinya, dimana partisipan tidak merasakan dukungan dari keluarga suaminya