• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indeks daya penyebaran merefleksikan kemampuan suatu sektor produksi tertentu mempengaruhi sektor produksi yang lain, sedangkan indeks derajat kepekaan merefleksikan pengaruh terhadap pertumbuhan suatu sektor produksi tertentu yang diakibatkan oleh perkembangan-perkembangan dari sektor produksi yang lain. Hasil analisis lengkap tentang

indeks daya penyebaran dan derajat kepekaan dapat dilihat dalam Tabel 16 dan Tabel 17 dari Lampiran II.

Sektor-sektor produksi di Nusa Tenggara Timur yang memiliki indeks daya penyebaran tertinggi di atas rata-rata—memiliki kemampuan tinggi untuk mempengaruhi perkembangan sektor-sektor produksi yang lain, adalah: (1) bangunan (IDP = 1,317365), (2) industri pupuk, kimia dan barang dari karet (1,306274), (3) angkutan laut (1,268557), (4) angkutan sungai, danau dan penyeberangan (1,225559), (5) industri semen dan barang galian bukan logam (1,219710), (6) industri alat angkutan, mesin dan peralatannya (1,205260), (7) industri barang lainnya (1,193228), (8) angkutan udara (1,170785), (9) restoran (1,164295), (10) angkutan darat (1,125238), (11) industri kertas dan barang cetakan (1,124441), (12) jasa perusahaan (1,117761), (13) industri tekstil, barang kulit dan alas kaki (1,057026), (14) hotel (1,036550), (15) listrik dan gas kota (1,030988), (16) jasa penunjang angkutan (1,027701), (17) industri makanan, minuman dan tembakau (1,025623), dan (18) jasa perorangan dan rumahtangga swasta (1,020597). Sektor produksi yang memiliki indeks daya penyebaran tertinggi berarti mempunyai pengaruh terbesar di dalam menggerakkan perkembangan produksi secara keseluruhan. Meningkatnya permintaan terhadap produk dari sektor produksi yang disebutkan di atas, akan meningkatkan produksi secara keseluruhan di Nusa Tenggara Timur.

Sektor-sektor produksi yang memiliki indeks derajat kepekaan tertinggi melebihi rata-rata—sangat peka terhadap pengaruh dari sektor produksi yang lain, adalah: (1) bangunan (IDK = 2,895295), (2) tanaman perkebunan (1,876092), (3) perdagangan besar dan eceran (1,843996), (4) peternakan (1,643422), (5) pertambangan dan penggalian (1,516922), (6) tanaman bahan makanan (1,445892), (7) industri semen dan barang galian bukan logam (1,417799), dan (8) angkutan darat (1,368563). Sektor-sektor produksi yang disebutkan ini sangat peka terhadap pengaruh dari sektor produksi lain. Jika terjadi perubahan permintaan

produk dari sektor produksi lain, maka sektor-sektor produksi tersebut akan terkena dampak yang besar.

Untuk melihat hubungan secara keseluruhan antara daya penyebaran dan derajat kepekaan, maka dilakukan pengelompokan sektor-sektor produksi di Nusa Tenggara Timur ke dalam empat kelompok seperti ditunjukkan dalam Tabel III.4.

Jika dilihat dari indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan secara sekaligus, maka tampak dalam Tabel III.4 bahwa terdapat 15 sektor produksi yang memiliki efek penyebaran tinggi—memiliki kemampuan tinggi menggerakkan sektor-sektor produksi yang lain, tetapi tidak peka terhadap perubahan lingkungan—memiliki derajat kepekaan rendah (DP Tinggi dan DK Rendah). Sektor-sektor produksi ini memiliki karakteristik, apabila permintaan akhir terhadap produk dari 15 sektor produksi ini meningkat, maka akan memberikan efek penyebaran yang tinggi di dalam pertumbuhan produksi daerah NTT secara keseluruhan, sebaliknya 15 sektor produksi ini tidak terlalu peka terhadap pengaruh lingkungan.

Tabel III.4 Pengelompokan Sektor-sektor Produksi di Nusa Tenggara Timur Berdasarkan Daya Penyebaran dan Derajat Kepekaan

DP Rendah dan DK Rendah DP Tinggi dan DK Rendah DP Rendah dan DK Tinggi DP Tinggi dan DK Tinggi 1. Bank 2. Lembaga Keuangan Bukan Bank 3. Industri Barang

Kayu dan Hasil Hutan Lainnya 4. Air Bersih 5. Sewa Bangunan 6. Jasa Hiburan dan

Rekreasi Swasta 7. Jasa Pemerintahan Umum dan Pertahanan 8. Jasa Sosial Kemasyarakatan Swasta 9. Komunikasi 10. Perikanan 11. Kehutanan 1. Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 2. Industri Barang Lainnya

3. Industri Kertas dan Barang Cetakan 4. Hotel

5. Industri Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki

6. Angkutan Laut

7. Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet 8. Industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya 9. Jasa Penunjang 1. Tanaman Perkebunan 2. Perdagangan Besar dan Eceran 3. Peternakan 4. Pertambangan dan Penggalian 5. Tanaman Bahan Makanan 1. Bangunan 2. Industri Semen dan Barang Galian Bukan Logam 3. Angkutan Darat

Angkutan 10. Restoran

11. Listrik dan Gas Kota 12. Angkutan Udara 13. Jasa Perusahaan 14. Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan

15. Jasa Perorangan dan Rumahtangga Swasta

11 Sektor Produksi 15 Sektor Produksi 5 Sektor Produksi 3 Sektor Produksi

Sumber: Hasil Studi (Analisis Data). DP = Daya Penyebaran dan DK = Derajat Kepekaan. Rendah apabila berada di bawah rata-rata, sedangkan Tinggi apabila berada di atas rata-rata

Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur seyogianya mempertimbangkan dalam jangka panjang untuk mengembangkan sektor-sektor produksi ini di daerah Nusa Tenggara Timur. Tampak pula bahwa beberapa sektor produksi yang tergolong ke dalam kelompok ini merupakan industri pengolahan (industri sekunder) yang pada saat studi ini dilakukan belum berkembang di NTT, malahan merupakan sektor-sektor yang memiliki tingkat ‘ self-sufficiency’ yang rendah sehingga masih perlu diimpor dari daerah lain di luar NTT (lihat Tabel III.3). Sektor-sektor produksi yang dimaksud di sini adalah : (1) industri makanan, minuman dan tembakau, (2) industri barang lainnya, (3) industri alat angkutan, mesin dan peralatannya, (4) industri tekstil, barang kulit dan alas kaki, dan (5) industri pupuk, kimia dan barang dari karet. Industri-industri ini memang merupakan industri yang padat teknologi sehingga membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang handal, namun pengembangan industri ini di masa depan secara bertahap akan membebaskan daerah Nusa Tenggara Timur dari ketergantungan impor, malahan akan mampu mendorong peningkatan ekspor yang sangat besar. Pada saat studi ini dilakukan, produk-produk dari kelima jenis industri ini masih diimpor dari daerah di luar NTT dengan nilai total impor dari kelima sektor produksi ini adalah sebesar Rp 2,143 trilyun atau sekitar 64 persen dari nilai total impor daerah NTT pada tahun 2001 yang sebesar Rp 3,325 trilyun (lihat Tabel III.2).

Analisis dalam Tabel III.4 juga menunjukkan bahwa terdapat lima sektor produksi di Nusa Tenggara Timur yang memiliki derajat penyebaran rendah namun derajat kepekaan tinggi (DP Rendah dan DK Tinggi). Kelima sektor produksi ini adalah : (1) tanaman perkebunan, (2) perdagangan besar dan eceran, (3) peternakan, (4) pertambangan dan penggalian, dan (5) tanaman bahan makanan. Kelima sektor produksi ini, merupakan sektor-sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) NTT, di mana kontribusi total dari kelima sektor produksi ini terhadap PDRB NTT adalah sebesar Rp 4,323 trilyun atau sekitar 58 persen dari nilai total PDRB NTT tahun 2001 yang sebesar Rp 7,512 trilyun (lihat Tabel 6 pada Lampiran II). Studi ini menunjukkan secara tegas bahwa perekonomian Nusa Tenggara Timur pada saat sekarang ditopang oleh sektor-sektor produksi yang memiliki derajat penyebaran rendah—memiliki kemampuan rendah untuk menggerakkan perkembangan sektor-sektor produksi lain, namun sangat peka terhadap perubahan lingkungan—memiliki derajat kepekaan yang tinggi terhadap pengaruh dari sektor-sektor produksi lain. Kondisi ini sangat rawan bagi perekonomian NTT, karena memiliki struktur keterkaitan antar-sektor produksi yang lemah, namun sangat peka terhadap gejolak perubahan lingkungan. Padahal di masa mendatang diperkirakan bahwa perekonomian global akan semakin bergejolak yang sulit dikendalikan (turbulence), sehingga membutuhkan ketahanan ekonomi yang kuat melalui struktur perekonomian yang kuat dan dinamis. Dengan demikian tampak jelas bahwa upaya menuju masyarakat yang mandiri, maju dan sejahtera sesuai dengan cita-cita jangka panjang dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur, seyogianya dikembangkan melalui penguatan struktur perekonomian yang kuat dan dinamis, tidak peka terhadap gejolak lingkungan global, serta memiliki daya penyebaran yang tinggi sehingga mampu menggerakkan sektor-sektor produksi yang lain. Pilihan yang tepat bagi daerah Nusa Tenggara Timur adalah mengembangkan sektor agribisnis yang mampu mengintegrasikan secara terpadu dari hulu, ‘ on-farm ‘, sampai hilir.

Analisis dalam Tabel III.4 juga menunjukkan bahwa prioritas pengembangan sektor-sektor produksi di masa mendatang seyogianya diarahkan pada sektor-sektor-sektor-sektor bangunan, industri semen dan bahan galian bukan logam, serta angkutan darat, karena memiliki efek penyebaran yang tinggi—memiliki kemampuan menggerakkan pertumbuhan sektor-sektor produksi yang lain, meskipun ketiga sektor produksi ini juga memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap pengaruh lingkungan global. Pada saat studi ini dilakukan, ketiga sektor produksi ini masih rendah dalam memberikan kontribusi terhadap produk domestik regional bruto NTT, yaitu hanya sekitar Rp 954,765 milyar atau sekitar 12,7 persen dari nilai total PDRB NTT pada tahun 2001 yang sebesar Rp 7,512 trilyun.

Analisis dalam Tabel III.4 juga menunjukkan terdapat 11 sektor yang memiliki efek penyebaran rendah, menunjukkan bahwa keberadaan sektor-sektor ini di daerah Nusa Tenggara Timur belum memberikan kontribusi yang signifikan sebagai penggerak pembangunan bagi sektor-sektor produksi yang lain. Perlu dikaji lebih lanjut tentang kekurangefektifan dari keberadaan sektor-sektor ini di NTT, agar dapat diambil tindakan manajemen pembangunan yang tepat untuk meningkatkan efektivitas dari keberadaan sebelas sektor ini. Ke-11 sektor ini adalah : (1) bank, (2) lembaga keuangan bukan bank, (3) industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, (4) air bersih, (5) sewa bangunan, (6) jasa hiburan dan rekreasi swasta, (7) jasa pemerintahan umum dan pertahanan, (8) jasa sosial kemasyarakatan swasta, (9) komunikasi, (10) perikanan, dan (11) kehutanan.

Analisis tentang daya penyebaran dan derajat kepekaan di atas adalah konsisten dengan analisis tentang indeks MPM (multiplier product matrix) yang merepresentasikan pengaruh bersama dari daya penyebaran dan derajat kepekaan, seperti telah dilakukan dalam Tabel 18 dari Lampiran II.