• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V Analisis dan Pembahasan

B. Analisis Kesesuaian Lahan Pemrukiman, Tambak dan Konservasi

1. Kesesuaian Lahan Permukiman

Analisis yang digunakan untuk kesesuaian lahan permukiman menggunakan analisis SMCA untuk mengetahui kawasan yang dapat digunakan untuk pengembangan permukiman di wilayah pesisir Jeneponto yaitu Kecamatan Bangkala dan Kecamatan Tamalatea. Untuk menganalisis kesesuaian lahan permukiman terdapat beberapa indikator yang digunakan yang telah dirangkum dari beberapa literatur, peraturan terkait, dan pengamatan lapangan.

Gambar 5.14 Skema Tahapan Analisis Kesesuaian Lahan Permukiman di Kecamatan Bangkala dan Kecamatan Tamalatea Jeneponto

Potensi Kawasan

Analisis Kesesuaian

Kemiringan lereng

Tekstur tanah

Jarak dari daerah

banjir

Jarak dari pasang tertinggi

Zona resapan

air

Tingkat Kesesuaian Analisis AHP dan SMCA

122 a. Menentukan Fokus

Fokus dalam analisis ini adalah menganalisis tingkat kesesuaian kawasan sebagai kawasan permukiman di Kecamatan Bangkala dan Kecamatan Tamalatea dengan mempertimbangkan kriteria pemilihan lokasi dengan terlebih dahulu melakukan pembobotan dari masing-masing kriteria pemilihan lahan permukiman dengan menggunakan analisis AHP.

b. Identifikasi dan Pengelompokan Kriteria yang Berpengaruh

Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan kesesuaian lahan permukiman berdasarkan kajian literature dan hasil penelitian terkait pemilihan lokasi permukiman yang dimodifikasi berdasarkan kebutuhan data. Berikut adalah kriteria yang digunakan.

Tabel 5.5. Kriteria Kesesuaian Lahan Permukiman

No Kriteria Penilaian

1 Kemiringan Lereng Kemiringan lereng berada pada kisaran lereng <2% dengan kategori datar

2 Tekstur Tanah Pengelompokan kelas tektur tanah halus atau kasar untuk mengidentifikasi tingkat kekuatan tanah dalam

pembangunan permukiman 3 Jarak dari Daerah

Banjir

Tidak berada pada daerah rawan banjir 4 Jarak dari Pasang

Tertinggi

Bangunan tidak berada di atas permukaan air

5 Zona Resapan Air Sebuah daerah yang disediakan untuk masuknya air dari permukaan tanah ke dalam zona jenuh air sehingga membentuk suatu aliran air di dalam tanah.

Sumber: Modifikasi Penulis, 2017

c.

Analisis Faktor yang Berpengaruh terhadap Kesesuaian Lokasi Kawasan Permukiman di Pesisir Jeneponto

Pembobotan faktor yang berpengaruh terhadap kesesuaian lokasi permukiman adalah menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan software expert choice. Analisis AHP dilakukan dengan membandingkan kriteria-kriteria dalam pemilihan lokasi kawasan permukiman, sehingga hasil dari analisis AHP menghasilkan bobot dari masing-masing kriteria yang digunakan untuk analisis

123 selanjutnya dan hasill dari AHP dapat dilihat nilai innkonsistensinya. Jika nilai konsistensinya dari hasil olahan lebih 0,10 maka hasil tersebut tidak konsisten dan jika sebaliknya maka dianggap konsisten. Berikut adalah hasil analisis AHP dari masing-masing responden yang berprofesi sebagai akademisi dan pemerintahan.

,

12 Kelurahan di Pesisir Kec. Bangkala dan Kec. Tamalatea

Gambar 5.15 Penentuan Bobot

1) Responden dari Akademisi 1

Responden yang pertama merupakan akademisi dibidang Perencanaan Wilayah dan Kota. Hasil matriks untuk kesesuaian lahan kawasan permukiman dari perbandingan ke 5 (lima) kriteria menunjukkan bahwa kriteria yang paling berpengaruh adalah zona resapan air dengan persentase 42,8% dan selanjutnya jarak dari daerah banjir 34,5%, selanjutnya kemiringan lereng 13,7%. Untuk krietria tekstur tanah dan jarak dari pasang tertinggi secara berurutan memiliki nilai sebesar 5,3%, dan 3,7%. Kriteria jarak dari pasang tertinggi dianggap paling tidak berpengaruh untuk pembangunan kawasan permukiman. Dari hasil olahan dapat dilihat jika nilai inkonsitensi sebesar 0,10 sehingga dapat disimpulkan jika responden konsisten dalam menjawab kuesioner.

Analisis Kesesuaian

Kemiringan

Lereng Tekstur

Tanah

Jarak dari banjir

Jarak dari pasang Tertinggi

Zona resapan

air

124 Gambar 5.16 Nilai Responden Akademisi 1

2) Responden dari Akademisi 2

Responden yang kedua merupakan akademisi dibidang Perencanaan Wilayah dan Kota. Hasil matriks untuk kesesuaian lahan kawasan permukiman dari perbandingan ke 5 (lima) kriteria menunjukkan bahwa kriteria yang paling berpengaruh adalah zona resapan air dengan persentase 30,4% dan selanjutnya kemiringan lereng 23%, selanjutnya jarak dari pasang tertinggi 23%. Untuk krietria jarak dari daerah banjir dan tekstur tanah secara berurutan memiliki nilai sebesar 19%, dan 4,6%. Kriteria tekstur tanah dianggap paling tidak berpengaruh untuk pembangunan kawasan permukiman. Dari hasi olahan dapat dilihat jika nilai inkonsitensi sebesar 0,03 sehingga dapat disimpulkan jika responden konsisten dalam menjawab kuesioner.

Gambar 5.17 Nilai Responden Akademisi 2

3) Responden dari Masyarakat

Responden dari pihak masyarakat adalah diwakili oleh 1 orang yang bekerja sebagai salah satu Dosen di Fakultas Administrasi Universitas Pepabri Makassar dengan latar belakang pendidikan yang tinggi. Hasil matriks untuk kesesuaian lahan kawasan permukiman dari perbandingan ke 5 (lima) kriteria menunjukkan bahwa kriteria yang paling berpengaruh adalah zona resapan air dengan persentase 40,8% dan selanjutnya jarak dari pasang tertinggi 19,6%, selanjutnya kemiringan lereng 17,8%.

125 Untuk krietria jarak dari daerah banjir dan tekstur tanah secara berurutan memiliki nilai sebesar 16,2%, dan 5,6%. Kriteria tekstur tanah dianggap paling tidak berpengaruh untuk pembangunan kawasan permukiman. Dari hasil olahan dapat dilihat jika nilai inkonsitensi sebesar 0,04 sehingga dapat disimpulkan jika responden konsisten dalam menjawab kuesioner.

Gambar 5.18 Nilai Responden Masyarakat

4) Responden dari Pemerintah

Responden yang keempat merupakan responden dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Hasil matriks untuk kesesuaian lahan kawasan permukiman dari perbandingan ke 5 (lima) kriteria menunjukkan bahwa kriteria yang paling berpengaruh adalah zona resapan air dengan persentase 40,7% dan selanjutnya jarak dari daerah banjir 36,9%, selanjutnya tekstur tanah 12,1%. Untuk krietria jarak dari daerah pasang tertinggi dan kemiringan lereng secara berurutan memiliki nilai sebesar 6,8%, dan 3,5%. Kriteria kemiringan lereng dianggap paling tidak berpengaruh untuk pembangunan kawasan permukiman. Dari hasi olahan dapat dilihat jika nilai inkonsitensi sebesar 0,10 sehingga dapat disimpulkan jika responden konsisten dalam menjawab kuesioner.

Gambar 5.19 Nilai Responden Pemerintah

5) Kombinasi Responden

Hasil dari matriks perbandingan kriteria kesesuaian lahan kawasan permukiman dari gabungan empat resonden menunjukkan bahwa dari 5 (lima) kriteria yang paling

126 berpengaruh adalah zona resapan air dengan nilai 41,9%, jarak dari daerah banjir 27,2%, kemiringan lereng dengan nilai 12,7%. Nilai selanjutnya jarak dari pasang tertinggi 11,3% dan tekstur tanah 7%. Dari hasil olahan dapat dilihat jika nilai inskonsistensi sebesar 0,02 sehingga dapat disimpulkan jika responden konsisten dalam menjawab kuesioner.

Gambar 5.20 Nilai Hasil Gabungan Responden

d. Analisis Spasial Multi Kriteria (Spatial Multi Criteria Analysis/SMCA) Analisis Spasial Multi Kriteria dilakukan dengan menggabungkan kriteria-kriteria yang berpengaruh terhadap tingkat kelayakan lokasi industri. Sebelum menggabungkan kriteria-kriteria yang berpengaruh maka diberikan penilaian terlebih dahulu berdasarkan hasil AHP. Uraian masing-masing kriteria sebagai berikut;

1) Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng mempengaruhi kesetabilan lahan, lereng yang terjal cenderung kurang stabil. Pada lereng terjal sering terjadi longsor dan rawan terhadap erosi. Jika lahan mempunyai karakteristik demikian maka akan berbahaya bagi lokasi permukiman. Selain itu kemiringan juga berpengaruh terhadap kecepatan aliran dan volume air permukaan yang dapat mengakibatkan banjir. Kemiringan lereng yang sangat sesuai untuk kawasan permukiman <2% dengan kategori datar di lokasi penelitian seluas 485 Ha. Sementara itu untuk kemiringan lereng dengan kategori sesuai berada pada kemiringan 2-8% dengan kategori landai seluas 1991 Ha.

Kemiringan lereng 21-40 % dengan kategori kurang sesuai dengan kondisi curam seluas 388 Ha. Kawasan dengan kondisi kemiringan lereng curam berada di Kelurahan Tonrokassi Barat. Berikut adalah penilaian kisaran lereng dengan tingkat kesesuaian bagi kawasan permukiman;

127 Tabel 5.6 Penilaian Kriteria Kemiringan Lereng

Kelas Lereng

Kisaran Lereng (%)

Kategori Keterangan Bobot (%)

Hasil Nilai Kelas x Bobot

5 0-2 Datar Sangat Sesuai 12.7 0,635

4 2-8 Landai Sesuai 12.7 0,508

3 8-21 Agak curam Cukup Sesuai 12.7 0,381

2 21-40 Curam Kurang Sesuai 12.7 0,254

1 >40 Sangat curam Tidak Sesuai 12.7 0,127

Sumber: Analisis, 2017

Berdasarkan tabel 5.6, diketahui jika berdasarkan hasil analisis AHP bahwa kemiringan lereng memiliki bobot 12.7% dan hasil nilai perkalian kelas dengan bobot tertinggi dengan nilai 0,635 dan nilai terendah bernilai 0,127.

2) Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah bagian dari klasifikasi secara kualitatif mengenai kondisi suatu tanah berdasarkan tekstur fisiknya. Salah satu keuntungan mengetahui tekstur tanah adalah untuk memudahkan mengetahui jenis penggunaan lahan mana yang cocok untuk kawasan tersebut. Tekstur tanah yang sangat sesuai untuk permukiman ialah tekstur tanah dengan kategori geluh. Tekstur tanah yang sangat sesuai di lokasi penelitian seluas 3409 Ha. Sementara itu tekstur tanah yang sesuai dengan kategori geluh berpasir di lokasi penelitian seluas 1001 Ha. Tekstur tanah yang cukup sesuai dengan kategori geluh berlempung dan tekstur tanah yang tidak sesuai dengan kategori pasir berturut turut seluas 3166 Ha dan 247 Ha. Kawasan yang tidak sesuai untuk permukiman berada di Kelurahan Punaga dan Kelurahan Mallasoro. Berikut adalah penilaian tekstur tanah dengan tingkat kesesuaian bagi kawasan permukiman;

Tabel 5.7 Penilaian Kriteria Tekstur Tanah Kelas Kategori Keterangan Bobot

(%)

Hasil Nilai Kelas x Bobot

5 Geluh Sangat Sesuai 7 0,35

4 Geluh berpasir Sesuai 7 0,28

3 Geluh Berlempung

Cukup Sesuai 7 0,21

2 Lempung Berpasir

Kurang Sesuai 7 0,14

1 Lempung, Pasir

Tidak Sesuai 7 0,07

Sumber: Analisis, 2017

128 Berdasarkan tabel 5.7, diketahui jika berdasarkan hasil analisis AHP bahwa tekstur tanah memiliki bobot 7% dan hasil nilai perkalian kelas dengan bobot tertinggi dengan nilai 0,35 dan nilai terendah bernilai 0,07.

129 Gambar 5.21 Peta Parameter Kemiringan Lereng di Lokasi Penelitian untuk Kesesuaian Lahan Permukiman

Sumber: Hasil Analisis, 2017

130 Gambar 5.22 Peta Parameter Tekstur Tanah di Lokasi Penelitian untuk Kesesuaian Lahan Permukiman

Sumber: Hasil Analisis, 2017

131 3) Jarak dari Daerah Banjir

Pengertian banjir adalah fenomena alam yang terjadi di kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai. Sedangkan secara sederhana, banjir didefinisikan sebagai hadirnya air pada suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut.

Kawasan penelitian sebagian besar wilayahnya memiliki kemiringan lereng rendah dan banyaknya alih fungsi lahan terhadap kawasan resapan air serta dilewati oleh Sungai Binanga Pangkajene dan Sungai Binanga Lumbua. Dari alasan tersebut dapat menimbulkan potensi banjir di kawasan penelitian yakni pesisir Kecamatan Bangkala dan Kecamatan Tamalatea. Sehingga potensi resiko banjir di kawasan penelitian harus diperhatikan dan menjadi indikator untuk kesesuaian lahan permukiman. Terjadinya alih fungsi lahan terhadap kawasan resapan air mengakibatkan banjir setiap tahun yang terjadi di Kelurahan Tamanroya, Kelurahan Tonrokassi Timur dan sebagian Kelurahan Punagaya. Banjir yang terjadi tidak terlalu parah dan genangan air tidak terlalu lama, akan tetapi hal ini harus menjadi pertimbangan untuk memilih lokasi permukiman.

Daerah yang sangat sesuai untuk kawasan permukiman dengan kategori jarak dari dari banjir >500 meter di lokasi penelitian seluas 6277 Ha. Sementara itu untuk daerah yang cukup sesuai untuk kawasan permukiman dengan kategori jarak dari daerah banjir 300-500 meter seluas 332 Ha. Sedangkan untuk kawasan yang tidak sesuai untuk permukiman dengan kategori jarak dari daerah banjir 0-300 meter seluas 1233 Ha. Berikut adalah penilaian jarak dari daerah banjir dengan tingkat kesesuaian bagi kawasan permukiman;

Tabel 5.8 Penilaian Kriteria Jarak dari Daerah Banjir Kelas Kategori Keterangan Bobot

(%)

Hasil Nilai Kelas x Bobot

5 >500 m Sangat Sesuai 27,2 1,36

3 300-500 m Cukup Sesuai 27,2 0,816

1 0-300 Tidak Sesuai 27,2 0,272

Sumber: Analisis, 2017

132 Berdasarkan tabel 5.8, diketahui jika berdasarkan hasil analisis AHP bahwa jarak dari daerah banjir memiliki bobot 27,2% dan hasil nilai perkalian kelas dengan bobot tertinggi dengan nilai 1,36 dan nilai terendah bernilai 0,272.

4) Jarak dari Pasang Tertinggi

Jarak dari pasang tertinggi adalah satu satu parameter yang berpengaruh untuk kesesuaian lahan permukiman. Kawasan permukiman sebaiknya tidak berada pada badan air ataupun daerah sempadan pantai. Jarak permukiman dari pasang tertinggi yang sangat sesuai untuk kesesuaian lahan permukiman dengan kategori >300 meter seluas 6823 Ha. Sementara itu jarak permukiman dari pasang tertinggi yang cukup sesuai dengan kategori 150-300 meter seluas 504 Ha. Sedangkan jarak permukiman dari pasang tertinggi dengan kategori 0-150 meter seluas 515 Ha. Berikut adalah penilaian jarak dari pasang tertinggi dengan tingkat kesesuaian bagi kawasan permukiman;

Tabel 5.9 Penilaian Kriteria Jarak dari Pasang tertinggi Kelas Kategori Keterangan Bobot

(%)

Hasil Nilai Kelas x Bobot

5 >300 m Sangat Sesuai 11,3 0,565

3 150-300 m Cukup sesuai 11,3 0,339

1 0-150 m Tidak Sesuai 11,3 0,113

Sumber: Analisis, 2017

Berdasarkan tabel 5.9, diketahui jika berdasarkan hasil analisis AHP bahwa jarak dari pasang tertinggi memiliki bobot 11,3% dan hasil nilai perkalian kelas dengan bobot tertinggi dengan nilai 0,565 dan nilai terendah bernilai 0,113.

5) Zona Resapan Air

Zona resapan air adalah daerah masuknya air dari permukaan tanah ke dalam zona jenuh air sehingga membentuk suatu aliran air tanah yang mengalir ke daerah yang lebih rendah. Secara tidak langsung daerah resapan air memegang peran penting sebagai pengendali banjir dan kekeringan di musim kemarau. Zona resapan air dalam penelitian ini ialah daerah sempadan sungai dan sempadan pantai dimana daerah konservasi tidak dapat dijadikan kawasan permukiman.

133 Kawasan yang tidak termasuk dalam zona resapan adalah kawasan yang sesuai untuk kawasan permukiman yakni seluas 7167 Ha. Sementara itu kawasan yang termasuk dalam zona resapan merupakan kawasan yang tidak sesuai untuk kawasan permukiman yakni seluas 639, 5 Ha. Berikut adalah penilaian zona resapan air dengan tingkat kesesuaian bagi kawasan permukiman;

Tabel 5.10 Penilaian Kriteria Zona Resapan Air Kelas Kategori Keterangan Bobot

(%)

Hasil Nilai Kelas x Bobot 5 Tidak

Termasuk dalam zona resapan air

Sangat Sesuai 41,9 2,095

1 Termasuk dalam zona resapan air

Sesuai 41,9 0,419

Sumber: Analisis, 2017

Berdasarkan tabel 5.10, diketahui jika berdasarkan hasil analisis AHP bahwa jarak dari daerah banjir memiliki bobot 41,9% dan hasil nilai perkalian kelas dengan bobot tertinggi dengan nilai 2,095 dan nilai terendah bernilai 0,419.

134 Gambar 5.23 Peta Parameter Jarak dari Daerah Banjir di Lokasi Penelitian untuk Kesesuaian Lahan Permukiman

Sumber: Hasil Analisis, 2017

135 Gambar 5.24 Peta Parameter Jarak dari Pasang Tertinggi di Lokasi Penelitian untuk Kesesuaian Lahan Permukiman

Sumber: Hasil Analisis, 2017

136 Gambar 5.25 Peta Parameter Zona Resapan Air di Lokasi Penelitian untuk Kesesuaian Lahan Permukiman

Sumber: Hasil Analisis, 2017

137 6) Penggabungan Indikator

Indikator-indikator dalam analisis kesesuaian lahan permukiman antara lain adalah kemiringan lereng, tekstur tanah, jarak dari daerah banjir, jarak dari pasang tertinggi dan zona resapan air. Sebelumnya diberikan bobot dan nilai, dari hasil perkalian bobot dan nilai akan didapat kisaran skor yang menentukan kelas kesesuaian terhadap permukiman di lokasi penelitian. Untuk skor minimum dan maksimum kesesuaian lahan permukiman di lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel 5.11 di bawah ini.

Tabel 5.11 Skor Min dan Skor Maks Kesesuaian Lahan Permukiman

No Indikator Bobot

(%)

Nilai Min.

Skor Maks (bobot X Nilai

Maks.)

Nilai Maks.

Skor Min (bobot X Nilai

Min.)

1 Kemiringan Lereng 12,7 1 0,635 5 0,127

2 Tekstur Tanah 7 1 0,35 5 0,07

3 Jarak dari Daerah Banjir

27,2 1 1,36 5 0,272

4 Jarak dari Pasang Tertinggi

11,3 1 0,565 5 0,113

5 Zona Resapan Air 41,9 1 2,095 5 0,419

Jumlah 5,005 1,001

Sumber: Hasil Analisis, 2017

Setelah menghasilkan skor minimal dan maksimal maka selanjutnya mencari kelas klasifikasi kesesuaian lahan permukiman dengan menggunakan metode aritmatika. Dengan rumus sebagai berikut:

IK= Range/K IK=5,005-1,001/3

IK= 1,334667

Keterangan: IK = Interval Kelas

Range = Skor maksimum – skor minimum K = Banyaknya kelas yang diinginkan

Dari perhitungan di atas maka diperoleh interval kelas kesesuaian lahan permukiman yaitu 1,334667 dan klasifikasi kesesuaian lahan permukiman terbagi

138 menjadi tiga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.12 kelas kesesuaian lahan permukiman.

Tabel 5.12 Kelas Kesesuaian Lahan Permukiman

No Klasifikasi Interval kelas

1 Sesuai 4,165001 - 5,005000

2 Cukup Sesuai 2,935001 - 4,165000

3 Tidak Sesuai 0,508000 – 2, 935000

Sumber: Hasil Analisis, 2017

Penggabungan variabel dilakukan dengan menggunakan aplikasi Arcgis untuk memperoleh hasil yang menunjukkan kesesuiam lahan. Hasil ini dilakukan dengan proses analisis overlay/superimpose, Penentuan kesesuaian lahan permukiman berdasarkan nilai dan bobot dari seluruh aspek setiap Indikator. Kemudian dilakukan penjumlahan semua skor indikator. Berikut persamaan untuk menghitung tingkat kesesuaian lahan permukiman. Hasil yang diperoleh akan menunjukkan kesesuaian lahan permukiman di lokasi penelitian.

Skor Variabel = (nilai Variabel x bobot Variabel)

Kesesuian Lahan Permukiman = Skor Kemiringan Lereng + Skor Tekstur Tanah + Skor Jarak dari Daerah Banjir + Skor Jarak dari Pasang Tertinggi + Skor Zona Resapan Air

139 Tabel 5.13 Indikator Kesesuaian Lahan Permukiman

No Variabel Bobot Nilai Skor Total

1 2 3 4 5

1 Kemiringan Lereng (%)

12,7 >40 21-40 8-21 2-8 <2 • 0,508000 – 2,

935000= tidak Sesuai

• 2,935001 - 4,165000

= cukup sesuai

• 4,165001 – 5,005000= Sesuai

2 Tekstur Tanah 7 Pasir, Lempung Lempung

Berpasir

Geluh Berlempung

Geluh Berpasir Geluh 3 Jarak dari Daerah

Banjir

27,2 0-300 - 300-500 - >500

4 Jarak dari Pasang Tertinggi

11,3 0-150 - 150-300 - >300

5 Zona Resapan Air 41,9 Termasuk dalam Zona Resapan AIr

- - - Tidak Termasuk dalam

Zona Resapan AIr Sumber: Hasil Analisis, 2017

140 Gambar 5.26 Peta Kesesuaian Lahan Permukiman

Sumber: Hasil Analisis, 2017

141 Dari hasil analisis maka dihasilkan 3 kelas kesesuaian lahan permukiman di Kecamatan Bangkala dan Tamalatea yaitu sesuai, cukup sesuai dan tidak sesuai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.14 dan gambar 5.26.

Tabel 5.14. Kesesuaian lahan permukiman di Kecamatan Bangkala dan Kecamatan Tamalatea

No Kelurahan Luas wilayah

(m2)

Klasifikasi Kesesuaian Sesuai Cukup

Sesuai

Tidak Sesuai

1 Bontorannu 9145397 88% 4,8% 7,2%

2 Punagaya 9033975 60,1% 35,5% 4,4%

3 Mallasoro 8902544 89,9% 1,2% 8,9%

4 Tonrokaasi Barat 6755545 94% 0,9% 5,1%

5 Tonrokassi 10940021 96,5% 1,2% 2,3%

6 Tonrokassi Timur 4880270 22,3% 72,3% 5,4%

7 Tamanroya 1797163 2,3% 68% 29,7%

8 Bontotangnga 8176514 50% 41,6% 8,4%

9 Turatea 4757368 94,8% 4,4% 0,8%

10 Bontojai 3282094 93,3% 0,6% 6,1%

11 Borongtala 5971263 99,7% - 0,3%

12 Bontosunggu 4819870 89% - 11%

Sumber: Hasil Analisis, 2017

Berdasarkan tabel 5.14, hasil analisis kesesuaian lahan permukiman di Kecamatan Bangkala dan Tamalatea yang menghasilkan tiga kelas kesesuaian lahan permukiman yakni sesuai untuk lahan permukiman, cukup sesuai untuk lahan permukiman dan tidak sesuai untuk lahan permukiman. Kelurahan yang memiliki kelas sesuai untuk lahan permukiman paling besar yakni kelurahan Tonrokassi sehingga kelurahan ini dapat direkomendasikan untuk menjadi lokasi prioritas pengembangan permukiman.

Dokumen terkait