• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP

2. TINJAUAN TEORITIS

2.2 Degradasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan sebagai Penyebab Stagnasi Kinerja Perekonomian Wilayah

2.2.2 Deforestasi dan Aglomerasi Kegiatan Ekonom

Secara umum deforestasi juga dapat dimaknai sebagai merosotnya fungsi intrinsik wilayah hutan yang ditandai oleh menurunnya stok karbon, fungsi jasa hidroorologis, disertai oleh kemerosotan keanekaragaman hayati maupun kemerosotan amenitas lingkungan (Toman, 2003). Sedangkan aglomerasi seperti diungkapkan oleh Montgomery (1998) dapat difahami sebagai konsentrasi spasial aktivitas perekonomian yang disebabkan oleh perilaku para agen ekonomi untuk mencapai penghematan melalui pemilihan lokasi agar saling berdekatan (economies proximity). Perilaku ini dapat membentuk klaster spasial antara perusahaan, pekerja dan konsumennya.

Proses aglomerasi di suatu wilayah merupakan mekanisme yang menginisiasi bagi terbentuknya suatu kota ataupun wilayah urban yang utamanya digerakan oleh gaya sentrifugal. Ketika sekelompok warga urban tidak dapat

berperilaku secara efisien di wilayahnya ―terdesak‖ keluar ke wilayah pinggiran (periferinya). Gaya pendesak ini sering dikenal sebagai gaya sentripetal. Program transmigrasi merupakan salah satu proses migrasi yang digerakkan oleh gaya sentripetal wilayah asalnya, walaupun program itu dilaksanakan secara terencana. Memang transmigrasi tidak selalu berujung pada proses deforestasi, tetapi tidak sedikit yang menjadi inisiasinya. Fenomena migrasi secara lokal pun juga sering demikian, yang dapat diinisiasi oleh desakan gaya sentripetal sehingga para warga yang tidak mampu berperilaku efisien, tidak mampu bertahan atas desakan ekonomi seperti mahalnya biaya hidup, tidak dapat bertahan hidup secara subsisten, menjadi miskin dan akhir ―terdesak‖ ke luar wilayah urban dan terpaksa

menjadi perambah hutan. Sekalipun begitu, perlu disadari bahwa fenomena seperti itu seringkali esensinya disebabkan ketidakadilan struktural akibat leadership yang lemah dan institusi sosial yang tidak efektif.

Menurut Igliori (2008) pertumbuhan populasi dan migrasi seringkali menjadi variabel kunci yang dapat menjelaskan proses deforestasi maupun konversi lahan di berbagai negara berkembang yang dalam realitasnya deforestasi tersebut sangat tidak merata menurut wilayah atau ruang spasial. Dalam skala geografis, dapat ditemukan berbagai bentuk aglomerasi yang sangat berbeda. Pada satu sisi di pusat wilayah, aglomerasi dicerminkan oleh beragamnya jenis kota maupun wilayah-wilayah urban.

Menurut Krugman (1991, 2010ª, 2010b) pola spasial berbagai aktivitas perekonomian merupakan hasil dari berbagai proses yang melibatkan dua macam kekuatan yang saling berlawanan yaitu: kekuatan aglomerasi (centifugal) dan kekuatan dispersi (centripetal). Kedua kekuatan tersebut berkaitan dengan increasing return to scale (IRS), eksternalitas, dan ketidaksempurnaan pasar. Gagasan dasar dari literatur tentang aglomerasi merupakan suatu pergeseran dari fokus sistem industri ke fokus sistem produktif dan suatu pemahaman terhadap fenomena kekompetitifan sebagai hasil ketimbang sebagai keluaran (outcome) dari proses-proses individual. Penggunaan fenomena IRS menjadi kunci dalam menjelaskan berbagai proses aglomerasi dengan latarbelakang ilmu ekonomi tanpa memandang atribut geografi fisiknya. Namun menurut Igliori (2008) dalam hal aktivitas pertanian maupun lingkungan pedesaan, maka realitas fisik geografi juga dapat memegang peranan yang sangat penting dalam menjelaskan proses aglomerasi, terutama bila ingin memahami dampak dari aglomerasi dengan deforestasi lajutan yang mengarah ke wilayah periferalnya.

Eksternalitas dari proses aglomerasi juga punya peran yang mendasar untuk mendeskripsikan maupun untuk memahami konsentrasi aktivitas perekonomian maupun konsentrasi penduduk. Ditinjau dari sisi mekanisme bekerjanya dalam mempengaruhi konfigurasi spasial ekonomi tersebut, maka ada dua macam ekternalitas yaitu eksternalitas teknologi (spillover) dan pecuniary (financial) externality. Eksternalitas teknologi berkaitan langsung dengan utilitas individual maupun fungsi produksi setiap perusahaan. Sedangkan eksternalitas

finansial adalah hasil by product dalam interaksi pasar, yang mana eksternalitas ini sangat berkaitan bila pasar beroperasi dengan tidak bersaing secara sempurna. Idenya adalah bahwa kota-kota, sistem-sistem produksi, ataupun aglomerasi dari berbagai macam ekternalitas mulai terkonsentrasi di suatu wilayah. Utamanya yang sangat penting adalah peranan dari eksternalitas komunikasi dan face to face interaction dalam peningkatan proses belajar maupun proses inovasi (Fujita dan Thisse, 2002), yang melandasi berlangsungnya proses penempaan jiwa entrepreneurship (lihat Hien, 2010).

Menurut Igliori (2008) pemahaman awal dari eksternalitas positif ini dipandang sebagai suatu rangkaian yang pertamakali ditemukan dalam karya Alfred Marshall pada dekade 1920-an. Bahwa spesialisasi merupakan implikasi dari adanya pembagian tenaga kerja secara internal yang menjadi pengendali utama dalam peningkatan efisiensi, pengingkatan mutu proses produksi, maupun pertumbuhan perusahaan yang sering disebut sebagai penghematan internal (internal economies). Tetapi ketiga peningkatan (improvement) ini juga dipelihara (di-nurturing) oleh adanya konsentrasi geografi dari berbagai perusahaan maupun oleh penghematan eksternal (external economies) yang dibangkitkan karena integrasi dari berbagai pelaku (agent) ekonomi. Marshall mengidentifikasi ada 3 faktor yang berkaitan dengan penghematan eksternal, yang dapat menstimulasi konsentrasi yaitu (i) adanya pasar tenaga kerja yang terspesialisasi sangat lanjut, (ii) terjadi imbas teknologi (spill over technology) dan (iii) munculnya perdagangan susulan (ikutan). Dalam keadaan itu, konsentrasi industri bisa dipertahankan untuk tetap berkesinambungan sedangkan penghematan eksternal sangat menjadi pendorong kekompetitifannya.

Marshall sangat memperhatikan eksternalitas yang dibangkitkan oleh perusahaan-perusahaan di dalam industri tertentu walaupun menurut Jacob (1984 dikutip Igliori, 2008) bahwa argumen yang sama bisa diterapkan untuk menderivasi proses aglomerasi dimana eksternalitas positif berlangsung itu kemudian dapat menjelaskan mengapa orang mau membayar biaya yang lebih mahal untuk hidup di perkotaan (Glaesser et al., 1992).

Dewasa ini penjelasan tentang fenomena aglomerasi umumnya dengan menggunakan model-model formal, yaitu bahwa IRS (increasing return to scale)

dalam fungsi produksi perusahaan telah menyebabkan berbagai penghematan finansial maupun penghematan teknologi eksternal (Krugman, 1991, 2010ª; 2010b; dan Rendding, 2009). Literatur baru tersebut dikenal sebagai New Economics Geography (NEG). Hasil karya besar dari NEG adalah Core- Periphey Model yang pertamakali diperkenalkan Krugman (1991). Walaupun penemukenalan (recognizing) terhadap peranan dari ketiga sumber eksternalitas tersebut pertamakali diajukan oleh Marshall, tetapi dalam Core-Periphery Model tersebut Krugman (1991, 2010a, 2010b) menggunakan suatu bentuk model yang sangat hemat (parsimonious) yang difokuskan pada IRS, pecuniary externality dan biaya-biaya transportasi.

Menurut Igliori (2008) mekanisme dari model NEG tersebut dikendalikan oleh 3 pengaruh yaitu: (i) akses kepada pasar, (2) biaya hidup, dan (3) crowding market. Pengaruh akses kepada pasar menggambarkan tendensi dari perusahaan- perusahaan monopoli dalam memilih lokasi untuk berproduksi di pasar yang besar dan mengekspor produknya ke pasar yang relatif lebih kecil (suatu perubahan eksogenus dalam lokasi demand mengarahkan kepada suatu yang lebih dari pada relokasi yang proporsional industri ke wilayah perluasan yang baru). Sedangkan pengendali yang ke dua, bahwa biaya hidup berdampak pada pemilihan lokasi perusahaan-perusahaan ke biaya hidup secara lokal (dimana barang-barang cenderung lebih murah di wilayah yang banyak industrinya karena para konsumen di wilayah ini akan mengimpor berbagai produk dalam jangkauan yang lebih dekat sehingga menekan biaya perdagangan). Adapun pengendali yang ke tiga, bahwa market crowding effect mencerminkan fakta bahwa perusahaan-perusahaan yang berkompetisi secara tidak sempurna punya kenderungan untuk berlokasi dalam wilayah-wilayah yang punya intensitas kompetisi yang relatif lebih rendah.

Efek dari akses kepada pasar dan efek biaya hidup mendorong terjadinya suatu konsentrasi spasial sendangkan crowding market cenderung mendorong dispersi. Kombinasi efek dari adanya akses pasar dan biaya hidup dengan migrasi antarwilayah akan menciptakan potensi circular causalty effect ataupun sering disebut cumulative causalty, atau backward and forward lingkages (Duranton dan Puga, 2003 dikutip Igliori, 2008). Akibat yang mendasar adalah bahwa biaya- biaya perdagangan (break point) kekuatan-kekuatan aglomerasi akan melampaui

kekuatan-kekuatan dispersi dan penguatan kembali (self-reinforcing) dari migrasi dan akhirnya menggeser semua industri ke satu wilayah (sering disebut catastrophic agglomeration). Di satu sisi, ketika biaya perdagangan sangat murah dan perekonomian menunjukkan catastrophic agglomeration, maka peningkatan biaya perdagangan tidak akan mengubah formasi geografi sampai ke level ambang dimana biaya perdagangan sebegitu tinggi (sustain point) untuk membangkitkan daya dispersi yang lebih besar ketimbang daya-daya aglomerasi dalam proses distribusi industri secara spasial yang simetris (Igliori, 2008).

Asumsi-asumsi perilaku dari Typical NEG belakangan ini telah diperluas ke penggabungan dengan beberapa alternatif pondasi mikro (micro-foundation) bagi penghematan aglomerasi. Duranton dan Puga (2003 dikutip Igliori, 2008) membedakan 3 jenis micro-foundations yaitu mekanisme sharing, matching, dan learning. Pondasi mikro dari berbagai bentuk penghematan aglomerasi di perkotaan terutama didasarkan pada mekanisme sharing, yang mungkin melibatkan: (i) sharing dalam pemanfataan fasilitas umum (indivisible public facility), sharing dalam memperoleh berbagai input yang dapat dipertahankan oleh suatu industri berproduk barang akhir yang besar jumlah outputnya, (ii) sharing dalam mendapatkan tingkat spesialisasi yang bersifat lanjut yang hanya dapat dipertahankan bila jumlah produksinya lebih besar; serta (iii) sharing dalam hal resiko.

Adapun dalam hal matching menurut Duranton dan Puga (2003 dikutip Igliori, 2008) ada 2 yang menjadi sumber penghematan ekonomi: (i) peningkatan jumlah pelaku ekonomi yang berupaya untuk meningkatkan dalam me-match-kan setiap aspek, dan (ii) kompetisi yang lebih kuat untuk meningkatkan pengematan (save) biaya tetap (fix cost) dengan cara membuat sejumlah perusahaan meningkat yang kurang proporsional terhadap tenaga kerja (labor force). Dalam hal matching yang ke dua tersebut berasal dari asumsi bahwa, ketika terjadi pertumbuhan tenaga kerja, sejumlah perusahaan meningkat secara kurang proporsional yang disebabkan oleh kompetisi yang lebih besar dalam pasar tenaga kerja. Akibatnya, setiap perusahaan menghentikan untuk pencarian (hiring) tenaga kerja dengan jumlah yang lebih banyak lagi, yang berarti bahwa dengan biaya tetap dalam produksi (output per tenaga kerja) yang lebih tinggi.

Selain itu menurut Duranton dan Puga (2003 dikutip Igliori, 2008) bahwa micro-foundation yang ke tiga (yaitu learning) merupakan mekanisme yang didasarkan pada: (a) penciptaan, (b) difusi dan (c) akumulasi pengetahuan. Dalam setiap mekanisme itu, learning bukanlah suatu aktifitas yang berdiri sendiri (soliter). Melainkan bahwa learning merupakan aktivitas yang melibatkan interaksi dengan berbagai fihak lain dan seringkali berbagai interaksi tersebut pada awalnya berlangsung secara face-to-face. Menurut Igliori (2008) bahwa akibat dari karya asli dari Jacob (1969) banyak para pakar yang terus melakukan studi tentang bagimana berbagai kota dapat menyumbangkan kreasinya dengan berbagai macam ide baru. Selain itu, yang lebih penting lagi bahwa para pakar tersebut telah menekankan bahwa ada berbagai keuntungan bagi kota-kota yang belajar melibatkan diri bukan hanya pada cutting edge technologies, tetapi juga dalam melakukan akuisisi keahlian dan peningkatan hari demi hari dan sedikit demi sedikit dalam menangkap pengetahuan (everyday incrimental knowledge).

Akumulasi pengetahuan telah menjadi aspek utama dalam proses pembelajaran karena eratnya kaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana disebutkan Duranton dan Puga (2003 dikutip Igliori, 2008) bahwa ada 2 pendekatan utama yang berkaitan dengan akumulasi pengetahuan. Pertama, adalah seseorang melihat efek dinamis dari eksternalitas statis dan yang ke dua seseorang fokus pada ekternalitas dinamik. Pada pendekatan yang pertama itu, pertumbuhan dikendalikan hanya oleh eksternalitas dalam fungsi produksi kota ataupun wilayah. Sedangkan yang ke dua bahwa pertumbuhan dikendalikan oleh suatu eksternalitas di dalam akumulasi human capital yang ada dalam wilayah tersebut. Kedua macam eksternalitas ini berperan ganda (play dual role) yaitu sebagai mesin pertumbuhan dan juga sebagai kekuatan aglomerasi.

Model stándar NEG hanya fokus pada distribusi spasial aktivitas perekonomian dan tidak memperhatikan pertimbangan pertumbuhan. Namun, model-model tersebut telah dikembangkan kepada penggabungan pertumbuhan dengan geografi melalui kombinasi dengan aspeks ekternalitas teknologi dengan inovasi serta investasi. Pertumbuhan dan aglomerasi tidak mudah untuk dipisahkan dan korelasi positif antara keduanya telah banyak dilaporkan oleh berberapa peneliti dalam berbagai bidang(Fujita dan Thisse, 2002).

Model geografi dan pertumbuhan memperlihatkan adanya posibilitas dalam spatial equity efficiency trade off. Namun masalahnya adalah lebih pelik dan seringkali ambigious ketimbang situasi standar win-lose yang merupakan akibat dari proses aglomerasi dalam model geografi statik. Model dinamik dari pertumbuhan dan geografi semacam ini menunjukkan bahwa munculnya ketidakberimbangan regional, disebabkan oleh menurunnya biaya perdagangan disertai oleh pertumbuhan yang lebih cepat di semua wilayah dan oleh karena itu dapat membangkitkan suatu tensi antara static losses (relokasi aktivitas perekonomian) dan perolehan dinamik (pertumbuhan yang lebih cepat) di wilayah perbatasan atau periferi. Selain itu, dalam model tersebut pertumbuhan mempengaruhi geografi melalui penciptaan suatu growth-linked circular causalty, gaya-gaya yang membidani tumbuhnya lokasi industri dalam suatu wilayah dan juga merangsang untuk investasi. Terlebih lagi, berbagai proses aglomerasi dalam model-model tersebut beroperasi melalui penciptaan kutub-kutub pertumbuhan maupun kutub-kutub penyusutan. Umumnya perusahaan ingin berlokasi di wilayah yang sedang tumbuh, untuk kepentingan dalam melakukan investasi sehingga pada akhirnya perilaku inilah yang akan menyebabkan wilayah menjadi tumbuh lebih cepat lagi (Igliori, 2008).

Dalam hal imbas pengetahuan (knowledge spillover), menurut Quah (2002) ada 2 macam model yang berbeda untuk menjelaskannya. Model pertama dengan global spillover dan yang ke dua dengan local spillover. Dalam global spillover model growth dapat berdampak geografis sebagaimana yang diuraikan di atas tetapi geografi tidaklah relevan bagi pertumbuhan karena transmisi pengetahuan dalam inovasi seringkali tidak dipengaruhi oleh jarak. Setiap wilayah belajar secara sama (equal) dari wilayah lain sebagai tempat asal munculnya suatu inovasi.

Dalam hal local knowledge spillover model endegenous growth, menurut Igliori (2008) akumulasi pengetahuan merupakan daya aglomerasi. Wilayah yang memelopori untuk memulai mencari setiap inovasi, mengakumulasikan pengalaman inovasi yang lebih cepat ketimbang wilayah lain. Dengan begitu akan mereduksi biaya modal yang pada gilirannya akan menarik sumberdaya yang lebih banyak, dan akan tumbuh secara cepat. Namun knowledge spillover

merupakan suatu daya dispersi: ketika spillover menjadi semakin kurang terlokalisir lagi, maka daya pertumbuhan yang dilecut oleh aglomerasi (the growth-linked agglomeration ) akan melemah.

Kombinasi dari kedua daya kekuatan tersebut kemudian membangkitkan suatu tensi baru yang berkaitan dengan integrasi antara wilayah yang kaya dengan wilayah yang miskin. Dengan kata lain, dalam local spillover model integration bisa distabilisir ataupun didestabilisir dimana core-periphery model integration tersebut selalu merupakan destabilizing (integrasi perekonomian akan berakhir ketika tercipta divergensi secara ekstrim terhadap initially symetric region, yaitu bahwa integrasi selalu membidani aglomerasi).

Pola penting lainnya dari local spillover model adalah bahwa ekonomi geografi dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Dengan menganggap intensitas konstan dalam proses learning spillovers, maka biaya inovasi akan menurun secara nyata (berbagai biaya inovasi menurun dengan ukuran perekonomian lokal) manakala perekonomian bergerak dari suatu keadaan semetri kepada keadaan yang berpola core-periphery. Karena itu, dengan memicu aglomerasi, maka integrasi perdagangan akan meningkatkan perekonomian sehingga pertumbuhan akan lebih cepat (growth take-off).

Aglomerasi umumnya dapat membangkitkan eksternalitas positif sehingga mampu meningkatkan RTS berbagai perusahaan (Krugman, 1991, 2010ª, 2010b), terbentuknya niche learning región (Quah, 2002), proses penempaan jiwa kewirausahaan (Hien, 2010) dan pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perekonomian lokal. Namun menurut Igliori (2008) aglomerasi seringkali juga membangkitkan eksternalitas negatif yang melebihi eksternalitas positifnya. Dalam keadaan ini berarti telah dicapai titik jenuh aglomerasi yang umumnya mulai terjandi fenomena congestion dan urban sprawl. Fenomena ini umum terjadi di berbagai wilayah urban di negara-negara berkembang seperti Brasilia. Selain itu, aglomerasi lebih jauh juga dapat menimbulkan tekanan pada terjadi deforestasi lebih lanjut utamanya kepada wilayah-wilayah hinterland-nya.

Tambahan pula, menurut Igliori (2008) tentang fenomena kongesti bukanlah fenomena pada kota-kota besar di berbagai belahan dunia. Kongesti juga dapat terjadi pada wilayah suburban maupun perdesaan. Deforestasi lanjutan

terutama terjadi di wilayah perbatasan (interface) antara wilayah pertanian dengan wilayah urban dimana aglomerasi telah mulai mencapai titik jenuhnya. Dalam keadaan itu kongesti atau excess demand bahan baku atau jasa amenitas lingkungan sering dapat terjadi. Dengan begitu bisa terjadi trade off antara eksternalitas positif terhadap eksternalitas negatif dari fenonema aglomerasi kegiatan perekonomian.

2.3 Stagnasi Capaian Indikator Kinerja Pembangunan Ekonomi Wilayah