DEIKSIS DAN TEKS NARAS
1. Deiksis persona (al-Isha>rah al-Shakhs}iyyah)
Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon, yang artinya “topeng” (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara), berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa.109 Deiksis perorangan (person deixis), menunjuk peran dari partisipan dalam peristiwa percakapan misalnya pembicara, yang dibicarakan, dan entitas yanng lain.
Deiksis persona ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa.110 Kajian persona mencakup 3 (tiga) macam, yaitu persona pertama
(P1) atau al-Mutakallim (ﻢّﻠﻜﺘﻤﻟا), persona kedua (P2) atau al-Mukha>t}ab (ﺐﻃﺎﺨﻤﻟا), dan persona ketiga (P3) atau al-Ga>ib (ﺐﺋﺎﻐﻟا). Deiksis persona pertama dan persona kedua rujukannya bersifat kataforis atau deiktis. Hal ini berarti bahwa rujukan persona pertama dan persona kedua pada situasi pembicaraan.111 Sedangkan, deiksis persona ketiga adalah jenis persona yang rujukannya lebih bersifat anaforis daripada deiktis atau disebut “weak
106
Bambang Kaswanti Purwo, Deiksis dalam Bahasa Indonesia, 19 dan 103.
107 Bambang Kaswanti Purwo,
Deiksis dalam Bahasa Indonesia, 21.
108
Bambang Kaswanti Purwo, Deiksis dalam Bahasa Indonesia, 22.
109
John Lyons, Semantics 2 (Cambridge: Cambridge University Press, 1988), 638.
110
http://suluhpendidikan.blogspot.com/2009/01/deiksis-dalam-kajian- pragmatik.html. Oleh I wayan Pariawan pada 24 januari 2009.
111
deistics”.112 Oleh karena itu, persona ketiga tidak termasuk dalam kajian penelitian ini.
D{ami>r (ﺮﯿﻤﺿ) atau pronomina113 merupakan kata benda tetap yang mengacu pada P1, P2 dan P3114 dan terdiri dari 2 (dua) bentuk morfemis, yaitu d}ami>r munfas}il (ﻞﺼﻔﻨﻣ ﺮﯿﻤﺿ) atau pronomina leksikal atau dan d}ami>r muttas}il (ﻞﺼّﺘﻣ ﺮﯿﻤﺿ) atau pronomina afiksal. Adapun, fi’il (ﻞﻌﻓ) atau verba. Verba ma>d}i merupakan verba yang terjadi pada waktu sebelum terjadi pengujaran. Sedangkan, verba mud}a>ri’ adalah peristiwa yang terjadi pada saat pengujaran dan waktu setelah terjadi pengujaran.
Bahasa Arab tergolong tipe bahasa inflektif115 dan derivatif116. Yang pertama berupa perubahan bentuk yang tidak merubah makna dasarnya, dengan menambahkan morfem terikat pada morfem bebas.117 Misalnya: perubahan muslim {ﻢﻠﺴﻣ} menjadi muslima>ni {نﺎﻤﻠﺴﻣ} atau muslimu>na
{نﻮﻤﻠﺴﻣ}. Sementara, derivatif, berupa tambahan, yakni perubahan yang terdapat dalam verba, seperti pronomina leksikal ana akan menjadi sufiks - tu {ُت -} atau a- { -أ }apabila berafiks verba ma>d}i dan verba mud}a>ri’, seperti jalasa {َﺲَﻠَﺟ} menjadi jalastu {ُﺖْﺴَﻠَﺟ} dan ajlisu {ُﺲِﻠْﺟأ}. Hal ini terkait dalam kajian morfologi (s}araf) dalam afiksasi. Afiksasi merupakan
112
Rita Prasetiani, “Deiksis dalam Bahasa Arab”, Tesis (Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2004), 26.
113
Pronomina disebut juga kata ganti persona atau kata ganti diri, karena berfungsi menggantikan diri orang, sehingga menjadi kata ganti orang. Hakikatnya diantara ketiga kata ganti persona itu hanya kata ganti persona pertama dan kedua yang menyatakan orang. Sedangkan, kata ganti persona ketiga dapat menyatakan orang atau benda (termasuk binatang). Lihat Bambang Kaswanti Purwo, Deiksis dalam Bahasa Indonesia, 21-22.
114
Fuad Ni’mah, Mulakhas Qawa>’id al-Lughah al-‘Arabiyyah (Damaskus: Da>r al-Hikmah, T.t), 113.
115
Maksudnya bahasa yang mempunyai sejumlah perubahan bentuk, baik bertalian morfologi dengan aturan pembentukan kata baru maupun bertalian dengan fungsi sintaksis tiap kata, sehingga bahasa yang memiliki sistem pembentukan kata yang amat kompleks. Lihat Aziz Fahrurrozi dan Muhajir, Gramatika Bahasa Arab (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, T.t.), i-ii. Lihat pula Moh. Matsna, Orientasi Semantik al- Zamakhsyari: Kajian Makna Ayat-Ayat Kalam, 84.
116 Moh. Matsna,
Orientasi Semantik al-Zamakhsyari: Kajian Makna Ayat-Ayat Kalam, 84.
117
Infleksi ini dapat ditandai dengan h}uruf dan dapat ditandai dengan h}arakah. Lihat Ahmad Sholihuddin, “Kesalahan Gramatika Dalam Berbahasa Tutur: Studi Kasus Mahasiswa Ma’had ‘Ali> Hasyim Asy’ari PP Tebuireng Jombang”, tesis, (Ciputat: Sekolah PascaSarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), 25.
penggabungan akar atau pokok dengan afiks,118 terbagi dalam 4 (empat) macam : Prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks.119
Kebahasaan terkecil yang bersifat konkret dalam morfologi disebut
morf dengan bentuk abstraksinya yang disebut morfem.120 Sebagai contoh: d}arabtu {ُﺖﺑﺮﺿ}, qara’ani> {ﻰﻧأﺮﻗ}, dan adhhabu {ُﺐھذأ}. Ketiganya adalah bentuk konkret morfem yang mempunyai satu makna, yaitu “melakukan sesuatu”. Bentuk-bentuk morfem pada ketiga contoh di atas dinamakan morf dan bentuk-bentuk perubahan morfem seperti -tu {ُت -}, -nun + -i { - ﻰﻧ}, a- {- } dinamakan alomorf. Esensi dari ketiga contoh tersebut adalah أ bentuk perwujudan dari morfem ana {ﺎﻧأ} sebagai subjek verba ma>d}i dan verba mud}a>ri’.
Dalam proses morfologis bahasa Arab dijelaskan dalam bagan (8) sebagai berikut:
Konjugasi (V) Fleksi
Deklinasi (N) Akar kata + pola leksem
Mazid (V)
Derivasi
Istiqo>q (N)
Maksud dari akar kata dalam bahasa Arab adalah bentuk huruf konsonan sebagai contoh: k {ك}, t {ت}, b {ب}. Kemudian dipadukan dengan pola atau huruf vokal yaitu ka {َك}, ta {َت}, ba {َبَ} sehingga membentuk leksem
kataba {َﺐَﺘَﻛ}. Perubahan esensi leksem tersebut dapat berupa fleksi121
118
Imam Asrori, Sintaksis Bahasa Arab (Malang: Misykat, 2004), 22.
119
Prefiks adalah imbuhan di sebelah kiri dasar dalam proses ‘prefiksasi’, seperti belajar, membeli, dan sebagainya. Sufiks merupakan imbuhan di sebelah kanan dasar dalam proses ‘sufiksasi’, seperti wartawan, kelihatan, dan sebagainya. Sementara, Infiks ialah imbuhan dengan penyisipan di dalam dasar itu dalam proses ‘infiksasi’, seperti gemetar, telunjuk, dan sebagainya. Dan Konfiks atau simulfiks, ambifiks, sirkumfiks, adalah imbuhan untuk sebagian di sebelah kiri dasar dan untuk sebagian di sebelah kanannya dalam proses ‘konfiksasi’ atau ‘simulfiksasi’, ‘ambifiksasi’, ‘sirkumfiksasi’. Lihat J.W.M. Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, 107.
120
Imam Asrori, Sintaksis Bahasa Arab (Malang: Misykat, 2004), 22.
121
Fleksi (flection) merupakan proses atau hasil penambahan afiks pada dasar atau akar untuk membatasi makna gramatikalnya. Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta: Gramedia, 2009), 61.
berupa konjugasi dalam verba dan deklinasi dalam nomina, sedangkan derivasi berupa mazid dalam verba dan istiqo>q dalam nomina.
Kasus pada morfem -nun pada {ﻰﻧ -} secara sintaksis (nah}wu) disebut nun al-waqa>yah {ﺔﯾﺎﻗﻮﻟا نﻮﻧ}122 yang memiliki 3 (tiga) ketentuan, antara lain: (1) jika pronomina sufiks –i{ -ي } pada persona pertama afiksal verba maka ditambahkan nun {ن} diantara keduanya sebagai nun verba, atau dengan kata lain nun {ن} tersebut sebagai verba genetif, sebagai contoh: khabbirni> {ﻲﻧﺮﺒﺧ} ‘beritahu aku’. (2) jika pronomina sufiks –i { - ي} pada persona pertama afiksal partikel inna wa akhwatuha {ﺎﮭﺗاﻮﺧأو ّنإ} maka dapat menggunakan nun {ن} sebelum pronomina sufiks –i{ -ي }. Dan (3) jika pronomina sufiks –i{ -ي } pada persona pertama afiksal partikel jar {ﺮﺟ} seperti min dan ‘an, maka diharuskan menggunakan nun al- waqa>yah {ﺔﯾﺎﻗﻮﻟا نﻮﻧ}.
Nomina atau al-Ism {ﻢﺳﻹا} mengenal perubahan bentuk bertalian dengan gender - mudzakar atau maskulin dan muannath atau feminin -, dan jumlah - mufrad atau singular, muthanna atau dual, dan Jamak atau plural -. Kedua perubahan bentuk tersebut disebut deklinasi.123 Sedangkan, verba memiliki kaidah pembentukan kata yang bertalian dengan kata dan pelaku dengan aturan konjugasi.124
Pronomina dual dan plural leksikal persona pertama, yakni nah}nu
{ﻦﺤﻧ}. Pronomina nah}nu bersifat eksklusif; artinya, pronomina tersebut mencakupi pembicara atau penulis dan orang lain dipihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar atau pembacanya. Sebaliknya, pronomina nah}nu dapat bersifat inklusif; artinya, pronomina tersebut mencakupi tidak saja pembicara atau penulis, tetapi juga pendengar atau pembaca, dan mungkin pula pihak lain. Dalam bahasa Indonesia, bentuk eksklusif adalah kami, sedangkan bentuk inklusif adalah kita. Bentukkan eksklusif, yaitu penggabungan persona pertama dengan persona ketiga, dan bentukkan inklusif, yaitu penggabungan persona pertama dengan persona kedua.125
Dalam pronomina afiksal memiliki bentuk terikat yang terbagi dalam 4 (empat) hal, yakni:
1. Pronomina afiksal pada verba berkedudukan sebagai subjek.
122
Fu’ad Ni’mah, Mulakhas} Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah, 120.
123
Aziz Fahrurrozi dan Muhajir, Gramatika Bahasa Arab, x.
124
Aziz Fahrurrozi dan Muhajir, Gramatika Bahasa Arab, x.
125
Bentuk pronomina ini adalah bentuk pronomina prefiks: a- {- }, أ na- (dual) {- }َ ـﻧ , na- (plural) {- }َ ـﻧ , ta- {- َ ـﺗ}. Sufiks: -tu {ُت-}, -ta {َت-}, -ti { - ِت}, -tuma> {ﺎﻤﺗ-}, -tum { -ﻢﺗ }, -tunna {ّﻦﺗ -}. Konfiks: ta-ina {ﻦﯾ- َـﺗ}, ta-ani
{نا- َـﺗ}, ta-una {نو- َـﺗ}, dan ta-na {ن - َـﺗ}.
Contoh: لﺎﻗ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ ﷲا لﻮﺳر ﻦﻋ : اﻮﻨﺴﺣﺄﻓ ﻢﺘﻠﺘﻗ اذﺈﻓ ،ﺊﯿﺷ ّﻞﻛ ﻰﻠﻋ نﺎﺴﺣﻹا ﺐﺘﻛ ﷲا ّنإ ﺣﺄﻓ ﻢﺘﺤﺑذ اذإو ،ﺔﻠﺘﻘﻟا ﮫﺘﺤﯿﺑذ حﺮﯿﻟو ﮫﺗﺮﻔﺷ ﻢﻛﺪﺣأ ّﺪﺤﯿﻟو ﺔﺤﺑّﺬﻟا اﻮﻨﺴ ) ﻢﻠﺴﻣ هاور .(
“ ‘an rasu>lillah saw. qa>la: innallah kataba al-ihsa>n ‘ala kulli shai-in, faidha> qataltum fa-ah}sanu> al-qitlah, wa idha> dhabah}tum fa- ah}sinu> al-dhibh}ah walyuh}idda ah}adakum shafratahu walyurih dhabi>h}atahu”.126
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal. Karena itu, jika membunuh (yang dibenarkan syari’at), bunuhlah dengan baik, dan jika menyembelih, sembelihlah dengan baik, tajamkan pisau dan jangan membuat hewan sembelihan itu menderita”.
Pronomona afiksal sufiks –tum { -ﻢﺗ } diatas merupakan subjek verba ma>d}i qatala {ﻞﺘﻗ} dan dhabah}a {ﺢﺑذ}.
“wa ra-aita al-na>s yadkhulu>na fi> di>nillahi afwa>jan”.127
Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong- bondong.
Pronomina afiksal sufiks-ta {َت -} pada verba ma>d}i ra-a {ئار} merupakan subjek atau pelaku verba.
2. Pronomina afiksal pada verba berkedudukan sebagai objek.
Bentuk pronomina ini adalah bentuk pronomina sufiks: -nun + - i {ﻰﻧ -}, -i { -ي }, -ta {َت-}, -ti {ِت -}, -tuma> {ﺎﻤﺗ -}, -tum { -ﻢﺗ }, -tunna { - ّﻦﺗ}, -na> { -ﺎﻧ }, -ka { -َك }, -ki { -ِك }, -kuma> {ﺎﻤﻛ -}, -kum {ﻢﻛ -}, dan –
kunna {ّﻦﻛ -}. Contoh:
“Inna a’t}aina>ka al-kauthar”.128
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Pronomina afiksal sufiks –ka {َك -} tersebut merupakan objek verba ma>d}i a’t}a> {ﻰﻄﻋأ} dan subjek –na> {ﺎﻧ}.
126
Hadith ke-17 tentang berlaku Ihsan, 116.
127
Q.S. an-Nasr (110): 2.
128
لﺎﻘﻓ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ ﻲﺒّﻨﻟا ﻰﻟإ ﻞﺟر ءﺎﺟ : ﷲا ﻰﻨّﺒﺣأ ﮫﺘﻠﻤﻋ اذإ ﻞﻤﻋ ﻰﻠﻋ ﻰﻨّﻟد ،ﷲا لﻮﺳر ﺎﯾ سﺎﻨﻟا ﻰﻨّﺒﺣأو . لﺎﻘﻓ : سﺎﻨﻟا ﻚّﺒﺤﯾ سﺎﻨﻟا ﺪﻨﻋ ﺎﻤﯿﻓ ﺪھزاو ،ﷲا ﻚّﺒﺤﯾ ﺎﯿﻧّﺪﻟا ﻲﻓ ﺪھزا ) ﺚﯾﺪﺣ ﺔﻨﺴﺣ ﺪﯿﻧﺎﺳﺄﺑ هﺮﯿﻏو ﺔﺟﺎﻣ ﻦﺑا هاور ﻦﺴﺣ .(
“Ja>-a rajulun ila> al-nabiyyi> saw. Faqa>la: ya> rasu>lallah, dullani> ‘ala ‘amalin idha> ‘amaltuhu ah}abbaniyallah wa ah}abbani> al-na>s. faqa>la: izhad fi> al-dunya> yuh}ibbukallah, wa izhad fi>ma> ‘inda al-na>s yuh}ibbuka al-na>s”. 129
Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah tunjukan kepadaku suatu amalan yang apabila kulakukan, aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia”. “Rasulullah saw. bersabda, “zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu”.
Pronomina afiksal sufiks -nun + -i {ﻰﻧ -} pada verba ma>d}i dullu
merupakan objek dan begitupun pada afiksal sufiks –ka { -َك } berkedudukan sebagai objek verba mud}a>ri’ yuh}ibbu {ﺐﺤﯾ}.
3. Pronomina afiksal pada nomina.
Bentuk pronomina ini adalah bentuk pronomina sufiks: -i> { - ي}, -na> { -ﺎﻧ }, -ka { -َك }, -ki { -ِك }, -kuma> {ﺎﻤﻛ -}, -kum {ﻢﻛ -}, dan -kunna
{ّﻦﻛ-}.
Contoh:
؟ ﻲﺑﺎﺘﻛ ﻦﯾأ “Aina kitabi> ?”.
Dimana buku saya ?.
Pronomina afiksal sufiks –i> { -ي } pada nomina kitab. Yang dapat bermakna kepemilikan atau kepunyaaan.
4. Pronomina afiksal pada partikel (al-huru>f).
Bentuk pronomina ini adalah bentuk pronomina sufiks: -nun + -i
{ﻰﻧ-}, -i> { -ي }, -na> { -ﺎﻧ }, -ka { -َك }, -ki { -ِك }, -kuma> {ﺎﻤﻛ -}, -kum { - ﻢﻛ}, dan -kunna {ّﻦﻛ -}. Contoh:
“lakumdi>nukum wa liya di>n”.130
Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.
129
Hadith ke-31 tentang hakikat Zuhud, 248.
130
Partikel la merupakan inflektif bentuk li {ـﻟِ} yang berafiks pronomina sufiks –kum {ﻢﻛ -} bersifat nominatif .