DEIKSIS DAN TEKS NARAS
3. Konteks pragmatik
Pragmatik sebagai kajian konteks eksternal bahasa dengan mengamati berbagai aspek pemakaian bahasa dalam situasi yang konkret. Dalam pragmatik mengkaji empat aspek, yaitu tindak tutur (Speech Act)84, implikatur (Implicature)85, deiksis (Deixis),86 dan praanggapan (Presupposition)87, pada bagan (5) sebagai berikut:
83
Tama>m H{assa>n, al-Lughah al-‘Arabiyyah Ma’naha> wa mabna>ha> (Cairo: ‘Alam al-Kutub, 1998), 178.
84
John Austin (1911-1960), seorang ahli filsafat Inggris, orang pertama yang memberikan perhatian pada fungsi-fungsi yang terjadi yang dihasilkan oleh ujaran-ujaran sebagai bagian dari komunikasi interpesonal. Austin menunjukan bahwa banyak ujaran yang tidak menyampaikan informasi belaka, melainkan juga suatu tindakan. Ia membagi tindak tutur menjadi 3 (tiga) macam ketika seorang pengujar menghasilkan ujaran: (1) Tindak Lokusi (The Act of Sayying Something) merupakan tindak ujaran untuk menyatakan sesuatu, seperti: strawberry itu berwarna merah. Ujaran tersebut dingkapkan oleh pengujaran yang bertujuan untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu pada lawan biacarnya. (2) Tindak Ilokusi (The Act of Doing Something) yaitu ujaran yang berfungsi untuk menginformasikan sesuatu dan bertujuan untuk melakukan sesuatu, seperti saya tidak bisa datang. Kalimat tersebut diujarkan kepada teman yang baru saja merayakan ulang tahun. Informasi ketidakhadiran pengujar dalam ujaran tersebut mengisyaratkan tindakan permohonan maaf kepada lawan bicaranya tersebut. Dan (3) Tindak Perlokusi (The Act of Affecting Someone) merupakan sebuah ujaran yang diungkapkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi atau efek bagi lawan bicaranya, seperti: ujiannya mudah. Ujaran tersebut dilakukan oleh seseorang untuk memberikan pengaruh positif kepada lawan bicaranya yang pada saat itu belum mengikuti ujian, selain itu pengujar bermaksud untuk tidak frustasi menghadapi ujian sehingga ia dapat menerka bahwa soal-soal ujian akan mudah untuk dijawab. Lihat Louise Cummings, Pragmatics, a Multidisciplinary Perspective, 8-10.
85
Implikatur menekankan pada percakapan dalam peran kerja sama antara pembicara dan lawan bicara. Teori implikatur oleh Grice bahwa kerja sama membentuk struktur kontribusi-kontribusi pembicara terhadap percakapan dan menginterpretasikannya pada lawan bicaranya. Dalam hal ini pembicara menganggap lawan bicaranya mengetahui
Pragmatik
Tindak tutur Implikatur Deiksis Praanggapan
Pragmatik merupakan kesatuan utuh yang tercermin dalam empat aspek diatas. Untuk lebih menjelaskan posisi aspek-aspek tersebut perhatikan contoh berikut:
“Aku akan berkunjung kerumah barumu siang ini.”
Ujaran tersebut dalam tindak tutur merupakan ujaran performatif.88 Keadaan yang dalam ujaran ini – bahwa dia berjanji untuk mengunjunginya siang ini – sekaligus dapat menjadi landasan bagi ujaran konstatif sesuai pada tingkat keakuratannya. Tindakan pengujaran tersebut adalah tindak ilokusi dalam bentuk memperingatkan pada seseorang agar tidak bepergian hari itu karena akan dikunjungi. Secara implikatur ujaran tersebut jika di tambahkan dengan ujaran “kakakku sedang dirawat di rumah sakit”, maka konteks ini, ujaran kedua dapat diinterpretasikan dengan sejumlah tindak tutur yang berbeda. Mungkin pengujar pertama belum mengetahui perihal kakak pengujar kedua sakit. Mungkin dengan pengetahuan ini di benak
maksud dari percakapan yang di sampaikan oleh pembicara. Louise Cummings, Pragmatics, a Multidisciplinary Perspective, 13.
86
Deiksis mencakup ungkapan-ungkapan dari kategori gramatikal yang memiliki keragaman seperti kata ganti dan kata kerja, menerangkan berbagai entitas dalam konteks sosial, linguistik, atau ruang-waktu ujaran yang lebih luas. Acuan pada entitas berbagai konteks ini dapat diperoleh makna ungkapan-ungkapan deiksis. J.L. Austin, How To Do Thing With Words (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 109. Lihat pula, Louise Cummings, Pragmatics, a Multidisciplinary Perspective, 31.
87
Praanggapan merupakan perkiraan atau sangkaan yang berkaitan dengan kemustahilan sesuatu bisa terjadi (defessbility). Hal ini berkaitan dengan inferensi kewacanaan, yaitu proses yang dilakukan oleh pembicara untuk mamahami makna wacana yang tidak diekspresikan langsung dala wacana. Inferensi kewacanaan diperlukan dalam memaknai wacana yang implisit atau tidak langsung mengacu ke tujuan. Namun tidak semua inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu merupakan praanggapan yang tepat terhadap suatu ujaran. Louise Cummings, Pragmatics, a Multidisciplinary Perspective, 42-43.
88
Ujaran performatif merupakan ujaran yang tidak menyatakan ‘benar’ atau ‘salah’ melainkan pengujaran kalimat untuk melakukan sesuatu. Hal ini berlawanan dengan ujaran konstatif yang mendeskripsikan atau melaporkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sehingga memunculkan kesimpulan ‘benar’ atau ‘salah’. Lihat Louise Cummings, Pragmatics, a Multidisciplinary Perspective, 8.
pengujar kedua, dia sedang berusaha mengingatkan pengujar pertama untuk tidak berkunjung siang ini karena ia sedang menemani kakaknya di rumah sakit. Asumsi bahwa pengujar kedua sedang bersikap penuh kerjasama dalam percakapan tersebut, sedangkan pengujar pertama dapat menyimpulkan bahwa tindak tutur yang dimaksudkan pengujar kedua merupakan penolakan terhadap informasi yang diberikan pengujar pertama. Sementara, dalam deiksis ujaran tersebut meliputi kata aku sebagai bentuk persona pertama, kata kamu bentuk persona kedua, ke-waktu-an mendatang pada kata akan, dan kata rumah sebagai bentuk tempat. Deiksis persona aku
dan kamu bersifat ekstralingual yang berfungsi menggantikan suatu acuan di luar ujaran, seperti siapa yang berkata aku dan kepada siapa aku
mengujarkan ujaran itu pada seseorang yang disebut kamu. Dalam hal ini penting untuk diketahui pada acuannya. Acuan waktu akan adalah pengujaran saat sebelum terjadinya peristiwa tersebut, karena bisa jadi pengujar itu melakukan tindak tutur pada waktu pagi ini atau menjelang siang ini. Adapun deiksis tempat pada kata rumah mengacu tempat berlangsungnya kejadian yang tidak berada dekat dengan pengujar. Praanggapan dalam ujaran tersebut bahwa lawan ujar menduga bahwa siang ini pengujar akan datang ke rumahnya dan ia akan mengetahui kebenarannya jika pengujar tersebut benar-benar datang.
Bagi Leech89 semantik dan pragmatik memiliki perbedaan dalam cara memberikan arti sebuah ujaran. Dalam pragmatik, ujaran merupakan kaitan antara 2 (dua) jenis arti yaitu makna (istilah Leech ‘harfiah’) dengan daya (ilokusi). Oleh karena itu, pragmatik mengkaji perilaku yang dimotivasi oleh tujuan-tujuan percakapan. Ada beberapa faktor yang menentukan apa yang dimaksud pengujar dengan ujarannya, antara lain kondisi-kondisi yang dapat diamati, ujaran, dan konteks.90 Berdasarkan faktor-faktor tersebut lawan ujar bertugas menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. Namun walaupun pengujar seorang penafsir yang baik, ia tidak selalu sanggup membuat suatu kesimpulan yang pasti mengenai maksud dari ujarannya. Dengan demikian, menafsirkan sebuah ujaran sama dengan membuat hipotesis,91 sebagaimana penjelasan contoh diatas.
89
Geoffrey Leech,The Principles of Pragmatics, 45.
90
Geoffrey Leech,The Principles of Pragmatics, 45-46.
91
B. Deiksis
Deiksis sebagai salah satu kajian pragmatik merupakan gejala semantik pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya kepada pembicara atau penulis dengan memperhitungkan waktu dan situasi pembicaraan. Sebuah ‘kata’ dikatakan bersifat deiksis apabila rujukan kata- kata itu berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu92 atau kata yang mengungkap makna tuturan (utterance) atau pengujaran kalimat pada konteks sesungguhnya.93 Maka, deiksis merupakan ekspresi atau ungkapan yang memiliki satu makna, namun mengacu pada entitas yang beragam sebagai perubahan konteks luar bahasa. Adapun kata-kata deiksis berfungsi sebagai pengacu, sedangkan unsur yang diacunya disebut referen94 atau anteseden.95 Bagi Cummings,96 deiksis memiliki 3 (tiga) macam, meliputi: (1) Deiksis persona ‘person deixis’, (2) Deiksis waktu ‘time deixis’, dan (3) Deiksis ruang ‘place deixis’. Berikut macam-macam deiksis dalam bagan (6):
Deiksis
Persona Waktu Ruang
Deiksis persona berhubungan dengan pemahaman mengenai peserta ujaran dalam situasi pengujaran dimana ujaran tersebut dibuat. Deiksis waktu berhubungan dengan pemahaman titik ataupun rentang waktu saat ujaran dibuat. Deiksis tempat berhubungan dengan pemahaman lokasi atau tempat yang dipergunakan pengujaran dalam situasi pengujaran.
Paham deiksis mencakup pengertian dalam konteks yang lebih luas. Bagi Verhaar97 apa yang dimaksud dengan “deiksis” adalah semantik
92
Bambang Kaswanti Purwo, Deiksis dalam Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 1.
93 Bambang Kaswanti Purwo,
Deiksis dalam Bahasa Indonesia , 9.
94
J.W.M. Verhaar, Asas-Asas Linguistik Umum (Yogayakarta: Gadjah Mada University Press, 2010), 389.
95
Yayat Sudaryat, Makna dalam Wacana, 121.
96
Louise Cummings, Pragmatics, a Multidisciplinary Perspective, 31.
97
(meminjam istilah Purwo,98 bahwa semantik mempersoalkan tuturan luar, yang mengembalikan makna acuan di “dalam tuturan” tertentu) yang berakar pada identitas penutur. Berbeda dengan pengertian istilah deiksis menurut pandangan tradisional merupakan luar – tuturan, yang merupakan terjemahan dari istilah utterance-external. Menurut pandangan ini, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah si pembicara (unsur yang tidak ada di dalam bahasa itu sendiri). Hoed99 meninjau deiksis dalam cakupan waktu kebahasaan, yakni perwujudan secara kebahasaan konsep waktu dengan melibatkan peristiwa dengan saat pengujaran oleh “aku”.
Bagi Moeliono100 bahwa kata atau konstruksi yang bersifat deiksis hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhitungkan situasi pembicaraan. Identitas pengujar menjadi “akar” referensi untuk kata aku dan kata kamu. Selain itu, kata yang tidak bersifat deiksis adalah apabila acuan atau rujukan tidak berpusat orientasi pada pembicara. Adapun, Lyons101 mengemukakan prinsip deiksis sebagai suatu pernyataan berbeda dengan pesan dan menekankan pada referensi ucapan yang tergantung pada nosi (buah pikiran). Hulford dan Heasley,102 menyatakan bahwa kata bersifat deiktis adalah kata yang pemaknaannya tergantung pada situasi ujaran pada pembicara, lawan bicara, waktu, dan tempat.
Deiksis atau Kalimah Isha>rah (ةرﺎﺷإ ﺔﻤﻠﻛ),103 yakni penggunaan kata untuk menunjuk pada makna yang berkorelasi dengan waktu dan tempat berbicara, seperti sekarang, di sana, dan ini. Kata ber-deiktis merupakan bentuk kata yang membatasi pemaknaan posisi atau pemaknaan situasi dari kelompok serumpun dari setiap anggota atau posisinya. Kata deiktis dapat sebagai karakter, alat, pronoun (kata ganti nama atau benda) atau kata keterangan. Referen salah satu sifat makna leksikal yang dipandang sebagai unsur “kata”, terbagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu ekstralingual dan
intralingual. Berdasarkan posisi referennya, deiksis dibedakan atas
98
Bambang Kaswanti Purwo, Deiksis dalam Bahasa Indonesia, 7.
99
Benny H. Hoed, Kala dalam Novel, Fungsi dan Penerjemahannya (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1992), 56.
100
M. Anton Moeliono, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), 35.
101 John Lyons,
Semantics 1 (London, New York, Melbourne: Cambridge University Press, 1978), 180.
102
R. James Hurford, Heasley, Brendan dan Smith, Michael B., Semantics: a Coursebook ( Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 63.
103
Muhammad Ali> al-Khuli>, A Dictionary Of Theoretical Linguistics (Beirut: Librairie Du Liban, 1982), 67.
eksoforis (luar-tuturan) dan endoforis (dalam-tuturan). Deiksis eksoforis adalah yang mengacu pada referen yang berada di luar teks atau bersifat ekstralingual atau situasional. Meliputi deiksis persona, deiksis waktu, dan deiksis ruang. Sedangkan, deiksis endoforis adalah deiksis yang mengacu pada referen yang ada di dalam teks atau bersifat intralingual atau tekstual. Endoforis meliputi 2 (dua) bentuk referen, yaitu anaforis (anaphoric)104 dan kataforis (cataphoric).105 Perhatikan bagan (7) berikut ini:
Referen
Ekstralingual Intralingual
Eksoforis Endoforis
Anaforis Kataforis
Aras Pragmatik Aras Semantik
Contoh anaforis:
Firdaus itu suami saya. Kantornya berpusat di Cairo
Referen Anaforis
Contoh kataforis:
Karena nilainya sangat baik, maka Risty mendapat hadiah
Kataforis Referen
104
Dikatakan anaforis apabila referen yang dimaksud telah disebutkan sebelumnya.
105
Dikatakan kataforis apabila referen diletakkan setelahnya atau mengajak pembaca untuk membaca lebih jauh untuk mengetahui apa atau siapa yang dimaksud.
Permasalahan yang dikaji dalam luar-tuturan atau eksoforis dan dalam-tuturan atau endoforis adalah pada labuhan “setting anchorange”. Permasalahan dalam eksoforis adalah bidang semantik leksikal. Sementara, permasalahan pada endoforis adalah masalah sintaksis.106
Menurut Lakoff (1970)107, pengkaitan persona dan waktu deiksis disebabkan adanya peran serta tindak ujaran dalam menentukan pilihan kala (tenses) yang tidak dapat diabaikan. Referen yang ditunjuk oleh kata ganti persona, waktu, dan ruang yang berganti-ganti tergantung pada peranan yang dibawakan oleh peserta tindak ujaran.108 Berikut pemaparan deiksis dapat meliputi 3 (tiga) macam, yaitu: