M
aghrib baru saja meram-bat menuju isya. Saya masih di kendaraan, meluncur meninggalkan istana negara. Malam itu, Kamis, 11 Juli 2013, kami baru saja berbuka puasa dengan Presiden SBY di hari kedua ramadhan.Tiba-tiba hape saya bergetar. Nama Dirjen Pe-masyarakatan muncul di layar. “Pak, ada musibah,” terdengar suara Pak Mochamad Sueb. “Ada pemberontakan napi di Lapas Tanjung Gusta,” suara Pak Sueb bergetar. “Sekitar 150-an orang melarikan diri.” Men-dengar hal itu, saya berusaha tenang.
“Apa penyebabnya?” saya bertanya.
“Menurut laporan Kakanwil Sumut karena listrik mati sedari pagi dan berpengaruh dengan pasokan air,” Dirjenpas menjelaskan.
“Apakah ada korban jiwa, luka-luka?” saya mulai kha-watir.
“Tidak ada, Pak.”
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
164
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR165
164 165
Saya menarik nafas lega. Lalu, saya meminta Pak Sueb agar bersiap-siap untuk pergi ke Medan, memantau langsung situasi lapangan. Ketika telepon kami selesai, saya segera me-laporkan kondisi tersebut kepada Menkumham dan Menko-polhukam sekaligus meminta arahan dan izin untuk melaku-kan wawancara dengan remelaku-kan-remelaku-kan media.
Sepanjang perjalanan hingga di rumah, hingga Pkl. 1 Ju-mat dini hari, telepon genggam saya tidak berhenti menerima panggilan. Rekan-rekan dari media cetak maupun elektronik menanyakan kondisi Tanjung Gusta, beberapa bahkan datang ke rumah kontrakan kami.
Saya memutuskan untuk terus berkoordinasi dengan Ka-kanwil Sumut dan Dirjenpas sembari memberikan wawancara kepada media massa. Agar lebih efisien dan tidak memberi-kan pernyataan berulang, saya kirimmemberi-kan rilis singkat kepada media cetak, menjelaskan langkah-langkah pengamanan yang dilakukan, termasuk menginfokan komunikasi saya dengan Kapolri via telepon.
Setiap kali tersambung baik dengan Kakanwil atau Dirjen-pas, saya selalu bertanya, “Apakah ada korban?” Saya mulai khawatir, terutama setelah melihat pemberitaan dan mengeta-hui bahwa Lapas Tanjung Gusta sudah membara, bagian kan-tornya telah dibakar. Sepanjang malam itu, saya tidak tenang, meskipun terus diinfokan bahwa tidak ada korban jiwa.
Kekhawatiran saya terbukti. Jumat setelah imsak, tepat ketika sahur ditutup adzan subuh, Dirjenpas mengabarkan, “Pak ada korban jiwa, lima orang meninggal. Dua di antaranya petugas kita.” Saya setengah berteriak, berulang kali mengu-capkan, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Bibir saya tak henti
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
164
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR165
164 165
mengucapkan istighfar. Apa yang saya takutkan terjadi. Korban jiwa jatuh. Berita duka itu segera saya kabarkan ke Pak Amir Syamsudin. Kami berdua terpukul, sedih dan luka mendalam. Pak Amir dan saya terdiam cukup lama di telepon. Kami me-nahan haru. Jangankan 5 nyawa, 1 jiwa pun bagi kami sudah terlalu banyak.
Subuh itu, saya dengan pak menteri berbagi tugas. Dite-mani Dirjenpas, Sekjen, dan Irjen, beliau meninjau lokasi di Medan, sedangkan saya diperintahkan untuk tetap tinggal di Jakarta. Jumat itu, Pak Menteri bertemu dengan perwakil-an narapidperwakil-ana. Sementara itu, menjelperwakil-ang sholat Jumat, saya melakukan rapat koordinasi bersama Menkopolhukam, Ka-polri, dan Kepala BNPT.
Sejak malam kejadian, isu bahwa PP 99 Tahun 2012 yang menjadi penyebab kerusuhan sudah berembus. Semakin siang, isu itu semakin kuat. PP itu memang mengetatkan, bukan menghapuskan, pemberian hak-hak remisi, pembebasan ber-syarat kepada narapidana tindak pidana khusus, utamanya ko-rupsi, bandar narkoba dan teroris. Saya dan Pak Menkumham punya segudang alasan mengapa PP tersebut dikeluarkan. Na-mun, untuk kali ini, izinkan saya untuk tidak membahasnya secara detail. Saya ingin mendedikasikan tulisan ini bagi para korban yang tewas, termasuk dua petugas kami yang gugur dalam menjalankan tugas.
Kedua petugas kami yang gugur adalah: Bona Situngkir dan Hendra Naibaho. Bona, 38 tahun, adalah ayah dua orang anak. Sementara itu, Hendra, 27 tahun, akan menikah dalam waktu dekat. Bona adalah Kepala Seksi Registrasi, Hendra adalah stafnya. Keduanya terperangkap dalam kobaran api
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
166
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR167
166 167
justru ketika bekerja untuk menyiapkan pemberian remisi Idul Fitri dan 17 Agustus bagi para napi. Selaku seksi registrasi, mereka telah lembur beberapa hari dan di hari tragedi jiwanya melayang di tengah tumpukan usulan remisi, di tengah kobar-an api.
Detik-detik terakhir wafatnya almarhum Bona dan Hen-dra diceritakan oleh Kepala Pengamanan Tanjung Gusta, Asep Sutandar, dia menulis di antaranya:
“Saya merasakan duka yang sangat dalam, mengingat kedua korban sangat dekat dengan saya. Canda dan tawa di sela-sela situasi yang selalu mencekam tetap menghiasi hari-hari sebelum peristiwa terjadi. Yang lebih menyakitkan: pada saat mereka bekerja untuk anak-anak binaannya, di saat itu pula mereka harus terbunuh oleh anak-anak yang mereka per-juangkan. Yang lebih menyesal lagi, saat merenggang nyawa, dengan suara yang sudah sangat tidak berdaya mereka berka-li-kali memanggil nama saya, ‘Pak Asep minta tolong, saya terkurung.’ Dengan kaki terpincang-pincang setelah melom-pak tembok setinggi 4 meter, saya tidak dapat meraih mereka. Suara api menghilang ditelan kobaran api yang mengganas. Allahu Akbar. Saya pun terduduk lemas. Mengapa kebijakan dalam rangka menciptakan rasa keadilan masyarakat harus ditebus dengan nyawa petugas-petugas terbaik kita.”
Saya tercenung, terdiam, menangis membaca tulisan hati Pak Asep tersebut. Kebijakan kami untuk menegaskan upaya pemberantasan korupsi, narkoba, dan teroris telah menjadi salah satu penyebab jatuhnya korban jiwa. Pedih di hati tak terperi. Pak Menteri mengambil langkah cepat. Beliau me-nelepon saya dari Medan, menginfokan hasil dialog dengan para napi dan keputusan yang telah diambilnya. Beliau
me-Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
166
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR167
166 167
minta dukungan saya untuk PP 99 hanya berlaku bagi napi yang keputusannya telah berkekuatan hukum tetap pasca 12 November 2012.
Tentu saja, bagi kami berdua keputusan itu tidak mudah, tetapi kami menyadari, potensi Tanjung Gusta merembet ke Lapas dan Rutan lain harus diantisipasi. Maka, untuk menghin-dari korban jiwa lebih banyak, kami sepakat bahwa untuk napi yang telah berkekuatan hukum tetap sebelum 12 November 2012, syarat-syarat peringanan hukumannya berlaku PP 28 Ta-hun 2006. Langkah mengamankan ketertiban itu perlu diambil karena berbagai alasan tantangan nyata di lapangan.
Secara nasional, per 12 Juli 2013, jumlah napi dan tahanan adalah 161.917 orang—kapasitas seharusnya hanya 107.925 orang. Artinya ada over lebih dari 150%. Dengan kelebihan demikian, jumlah tenaga pengamanan untuk seluruh Indonesia adalah 11.868 orang, yang dibagi dalam 4 regu jaga. Artinya, dalam setiap regu jaga rasio penjagaan dengan narapidana ada-lah 1 berbanding 55 orang. Rasio ini sudah melampaui batas ideal yang seharusnya, yaitu: 1 petugas menjaga maksimal 5 orang warga binaan.
Dengan situasi demikian, over crowded tingkat hunian dan minimnya petugas penjagaan, mau tidak mau, kami harus menjadikan potensi gangguan keamanan sebagai pertimbang-an dalam pelakspertimbang-anapertimbang-an PP 99 Tahun 2012. Maka, pemberlakupertimbang-an PP 99 pasca 12 November 2012 adalah peluang solusi kami. Di satu sisi, tidak mencabut PP tersebut; di lain sisi tetap men-jawab potensi gangguan keamanan.
Kami tegaskan lagi, pasca 12 November 2012, PP 99 berlaku tanpa terkecuali. Komitmen antikorupsi, antinarkoba, khususnya untuk bandar, dan antiteroris adalah perjuangan
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
168 169
yang tidak bisa ditawar lagi. Korban sudah jatuh, kami sa-ngat terluka. Namun, jiwa yang sudah gugur, darah yang telah terkucur tidak akan kami balas dengan sikap menyerah.
Dalam perjuangan melawan korupsi, narkotika, teroris dan kejahatan luar biasa lainnya, menyerah yang berarti kalah, bukan pilihan. Justru dengan telah gugurnya para korban, ter-masuk Bona Situngkir dan Hendra Naibaho, kami harus terus maju. Pengorbanan jiwa mereka untuk Indonesia yang lebih bermartabat tidak boleh sia-sia. Demi Bona dan Hendra, me-nyerah bukan pilihan; untuk Indonesia yang lebih antikorupsi, lebih antinarkoba, lebih antiteroris. Keep on fighting for the better Indonesia. (*)
* Dimuat di Sindo dan Banjarmasin Post, 16 Juli 2013.
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR