T
anggal 30 Januari 2012 adalah tepat 100 hari sejak Men-teri Amir Syamsudin dan saya menjejakkan kaki dan ber-kantor di Kementerian Hukum dan HAM. Masih tersisa waktu 2 tahun, 8 bulan, dan 20 hari hingga 20 Oktober 2014—saat mana waktu tugas kami berakhir, bersamaan dengan berak-hirnya masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yu-dhoyono. Dalam waktu yang tersisa tersebut, tidak ada pilih-an lain bagi kami selain tetap fokus dpilih-an bekerja keras. Fokus bukanlah suatu pilihan, melainkan suatu keharusan. Dengan rentang tugas Kemenkumham yang merambah hampir seluruh sisi persoalan hukum dan hak asasi manusia, tanpa fokus dan prioritas kerja, setiap orang bisa dengan mudah tersesat di te-ngah tumpukan persoalan yang tak pernah berhenti mengalir.Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB
20
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB21
20 21
Untuk itu, Menkumham dan saya selalu menjadikan em-pat arahan Presiden SBY sebagai pegangan dalam menjalan-kan amanah yang diembanmenjalan-kan kepada kami berdua. Keempat arahan itu adalah: menciptakan dan menegakkan hukum yang sesuai dengan rasa keadilan; menjamin penghormatan dan perlindungan HAM, termasuk berupaya keras menyelesaikan persoalan HAM masa lalu; memegang teguh dan melaksana-kan prinsip dasar antikorupsi; serta melaksanamelaksana-kan semuanya dengan percepatan. Akselerasi diperlukan karena masa kerja kami tidaklah panjang, hanya 3 tahun. Dalam bahasa Presiden, ibarat lomba marathon, maka menjelang garis finish harus ada percepatan, harus dilakukan sprint.
Itulah yang coba kami lakukan dalam 100 hari tugas di Kemenkumham, dan itu pula yang akan terus kami lakukan dalam rentang waktu yang tersisa: fokus dan terus bekerja keras. Dalam 100 hari ini sebenarnya ada beberapa langkah kebijakan dasar yang kami lakukan, tetapi mungkin tidak se-muanya diketa hui oleh publik . Yang secara luas sempat diberitakan adalah kebijakan pengetatan pembe rian hak nara-pidana kasus kejahat-an luar biasa seperti korupsi, terorisme, peredarkejahat-an narkoba, dan kejahatan transnasional terorganisir lainnya, meskipun ke-banyakan pemberitaan hanya terfokus pada narapidana kasus
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB
20
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB21
20 21
korupsi—suatu hal yang sangat aneh. Seakan-akan kebijakan pengetatan hak napi untuk mendapat remisi dan pembebasan bersyarat boleh dilakukan, tetapi tidak boleh bagi narapidana kasus korupsi. Tentu saja, argumentasi demikian kami terima sebagai masukan, meskipun dengan tetap menjalankan kebi-jakan pengetatan, yang menurut kami sangat sejalan dengan agenda Indonesia yang lebih bersih dan lebih antikorupsi.
Di luar kebijakan pengetatan pemberian remisi, pembe-basan bersyarat, asimilasi dan hak narapidana lainnya, Ke-menkumham sebenarnya juga telah menggariskan beberapa program unggulan 100 hari yang luput dari perhatian publik. Beberapa di antaranya akan saya paparkan dalam kolom sing-kat ini.
Setelah Menkumham dan saya melaporkan harta keka-yaan kepada KPK pada kesempatan pertama, kami mewajib-kan seluruh pejabat yang wajib lapor untuk memenuhi keten-tuan LHKPN. Hasilnya menggembirakan, jika di tahun 2010, pejabat yang melaporkan kekayaannya hanya berkisar pada angka 7%, pada tahun 2011 angka itu meningkat menjadi 88% per data Januari 2012. Tentu saja peningkatan LHKP demikian sangat penting sebagai salah satu ikhtiar pencegahan korupsi di lingkungan Kemenkumham.
Masih dalam konteks pencegahan korupsi, sekaligus melaksanakan reformasi birokrasi, perpanjangan batas usia pensiun secara otomatis tidak lagi dilakukan. Ketentuan pe-rundangan yang memberikan persyaratan ketat bagi perpan-jangan pensiun akan diterapkan secara lebih konsisten. Hal itu lebih memberikan kepastian pola jenjang karier dan regenerasi di kementerian. Pada saat yang sama, pengisian jabatan di
ke-Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB
22
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB23
22 23
menterian dilakukan dengan sistem lebih terbuka.
Untuk posisi yang kosong, setiap pegawai kemenkumham yang memenuhi syarat dapat menyampaikan lamaran dan se-cara bersama mengikuti tahap seleksi administrasi dan tes ke-mampuan, sebelum dilakukan seleksi akhir oleh tim Baper-jakat. Sistem seleksi yang lebih kompetitif tersebut diterapkan untuk lebih menjamin terpilihnya orang yang lebih mempu-nyai integritas dan kapasitas untuk menduduki posisi-posisi strategis—utamanya pada level eselon I dan eselon II—di kementerian. Saat ini proses tes masih berlangsung dan akan kami kawal agar berjalan dengan baik.
Percepatan dan fokus lain, tentu saja, harus dilakukan pada unit kerja pemasyarakatan yang sering menjadi sorotan masyarakat. Saat ini proses penanggulangan over capacity hunian lapas dan rutan terus dilakukan. Salah satunya dengan melakukan pemindahan warga binaan dari Jakarta ke beberapa wilayah yang masih memungkinkan untuk dilaksanakannya perpindahan. Pada saat yang sama, Menkumham juga terus mengawasi proses pembangunan lapas dan rutan baru, yang tentu sangat diperlukan bagi penanggulangan masalah over capacity.
Terkait pelayanan publik di Kemenkumham yang masih menjadi sorotan, utamanya masih terjadinya praktik pungli, bekerja sama dengan KPK, BPKP dan instansi terkait lain-nya, Kemenkumham terus meletakkan sistem antipungli yang lebih efektif. Ikhtiar ini pasti tidak mudah. Namun, kami tidak punya pilihan selain terus melanjutkan ikhtiar tersebut, de-ngan kerja sama berbagai pihak yang punya visi dan misi yang sama. Maka, beberapa waktu lalu, ditandatanganilah nota kesepaham an dengan KPK dan BPKP untuk menjamin
Ke-Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB
22
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB23
22 23
menkumham sebagai zona yang lebih antikorupsi.
Tentu, deklarasi zona antikorupsi saja tidak cukup, harus ada sistem reward and punishment yang menjadi salah satu pi-lar utama untuk ditegakkannya wilayah bebas korupsi demiki-an. Maka, kepada jajaran Inspektorat Jenderal, Menkumham telah menegaskan bahwa tidak boleh ada toleransi sedikit pun kepada wilayah-wilayah yang telah menetapkan unit kerjanya sebagai zona antikorupsi, karena kami tidak ingin antikorupsi berhenti pada tataran deklarasi, tetapi juga harus sampai pada tahap implementansi yang zero tolerance terhadap berbagai jenis penyimpangan, utamanya yang bersifat koruptif.
Masih terkait dengan pemasyarakatan, kerja sama untuk menciptakan lapas dan rutan sebagai bebas narkoba makin di-galakkan. Maka, kerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) makin dikuatkan. Tidak hanya dengan penandatangan-an nota kesepahampenandatangan-an pada Desember tahun lalu, namun ypenandatangan-ang lebih penting adalah dengan upaya pencegahan, penindakan dan rehabilitasi bersama. Operasi bersama di Lapas Wanita Tanjung Gusta, Medan, serta di Lapas Narkotika Cipinang, Jakarta, yang menemukan beberapa napi yang diduga seba-gai jejaring peredaran narkoba, hanya dua langkah kecil un-tuk mewujudkan lapas dan rutan yang bebas dari peredaran narkoba.
Tentu saja, beberapa catatan lepas di atas belum menye-lesaikan berbagai tantangan mendasar yang masih melingkupi Kemenkumham. Saya memang hanya ingin berbagi informasi bahwa Kemenkumham telah, sedang, dan terus melakukan ikhtiar perbaikan sebagai pusat reformasi hukum (law reform center) di tanah air. Waktu kami tidak banyak, hanya kurang dari 2 tahun 9 bulan. Utamanya, bagi saya, waktu kerja itu
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB
24 25
pun sedang dalam tahap uji materi di Mahkamah Konstitusi. Banyak rekan media yang menanyakan saya terkait uji kon-stitusionalitas wakil menteri itu. Jawaban saya singkat dan sederhana: kita hormati saja proses yang sedang berjalan di MK. Kami, para wamen, sepakat untuk terus dan fokus be-kerja, melaksanakan amanah tidak ringan yang saat ini sedang diletakkan pada pundak kami. Akhirul kalam, keep on fighting for the better Indonesia. (*)
* Dimuat di Sindo dan Banjarmasin Post, 31 Januari 2012.
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 1: BluSuKAN mAlAIKAT AzAB