H
itung mundur masa kerja saya menunjukkan angka cantik, 456 hari menuju 20 Oktober 2014. Artinya, kepemimpin-an Pak Amir Syamsudin sudah berjalkepemimpin-an 1 tahun 9 bulkepemimpin-an. Nkepemimpin-anti, 19 Oktober 2013, tepat dua tahun beliau memimpin di Kemen-terian Hukum & HAM. Dalam rentang waktu yang relatif sing-kat tersebut, kami sudah berjalan bersama-sama meng hadapiBhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
158
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR159
158 159
berbagai dinamika di Kemenkumham yang penuh romantika. Izinkan saya untuk berbagi sekelumit cerita tentang hal-hal tersebut kepada Anda.
Dalam ikhtiar kami bekerja bersama, satu–dua orang me-nyuarakan bahwa ada matahari kembar di Kemenkumham. Hal ini keliru. Di mana pun, tak terkecuali di Kemenkumham, hanya ada satu Matahari. Pimpinan di Kemenkumham hanya ada satu: Menkumham Amir Syamsudin. Saya selalu memo-sisikan diri selaku Wamen. Keputusan dan kebijakan strategis pada tahap akhir selalu diputuskan oleh Pak Amir. Saya ha-nya bagian dari pelaksana yang menjalankan perintah. Dalam satu–dua kesempatan, saya pernah memberikan usulan, tetapi jika tidak disetujui Pak Menteri, saya patuh. Di lebih banyak kesempatan, saya menjalankan perintah Pak Amir yang sangat jelas dan sejalan dengan visi kami yang lebih antikorupsi dan meningkatkan pelayanan publik antipungli.
Misalnya, banyak apresiasi atas penerimaan CPNS Ke-menkumham tahun 2012 yang dianggap lebih baik, bersih dari setoran dan titipan. Kesuksesan itu berawal dari arahan Pak Amir kepada saya agar menjaga tidak ada pungutan dalam bentuk apa pun dalam seleksi CPNS. Demikian juga halnya dengan kebijakan pengetatan pemberian hak remisi, pembe-basan bersyarat kepada narapidana korupsi, narkoba (khusus-nya bandar dan produsen), terorisme, serta kejahatan teror-ganisir dan transnasional lainnya. Selain pengetatan remisi yang jelas-jelas ada dalam Instruksi Presiden dan Peraturan Presiden terkait pemberantasan korupsi, Pak Amir dengan te-gas memerintahkan saya untuk menyiapkan draft peraturan pemerintahnya.
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
158
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR159
158 159
Dalam proses pembahasannya, “PP Asmaul Husna” (Per-aturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012) melibatkan selu-ruh pemangku kepentingan, utamanya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, KPK, BNN, BNPT, LSM antikorupsi, dan para ahli dari perguruan tinggi terkait masalah pidana dan tata negara. Segera setelah PP itu disusun, sosialisasi dilakukan ke seluruh stakeholder. Banyak yang setuju, tetapi tentu saja be-berapa narapidana yang terkena kebijakan pengetatan menolak aturan demikian.
Terkait kebijakan pengetatan remisi, dalam satu kesem-patan di DPR, salah seorang anggota DPR mengatakan bah-wa saya “tidak ganteng”. Pada kesempatan lain, di salah satu acara diskusi di TV, saya dikatakan “penjaga masjid”. Dalam diskusi yang lain, saya dikatakan “malaikat azab”. Semua itu kami hadapi dengan senyum, memahami bahwa perjuangan melawan korupsi, narkotika, dan terorisme pasti tidak mudah. Saya dan Pak Amir selalu berdiskusi dan berpandangan bahwa kebijakan pengetatan tetap harus dipertahankan, meskipun kami berdua harus menghadapi berbagai serangan.
Kami dikesankan tidak kompak, ada matahari kembar, dan seterusnya. Padahal, kami justru selalu berdiskusi sebe-lum mengambil keputusan. Saya beruntung mempunyai Men-kumham Pak Amir. Beliau memberi kepercayaan yang luar biasa. Dalam banyak kesempatan, sebelum keputusan diambil, kami duduk berdua dan berdiskusi secara mendalam. Namun, kata putus, tentu saja, tetap ada pada Menkumham.
Beberapa orang menduga bahwa saya berjalan sendiri, padahal tidaklah demikian. Semua yang saya lakukan adalah atas persetujuan atau berdasarkan perintah Menkumham.
Keti-Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
160
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR161
160 161
ka saya berkunjung ke daerah, lalu melakukan sidak di Lapas, Rutan atau kantor-kantor imigrasi, hal pertama yang saya lakukan adalah meminta persetujuan Menteri. Ketika beberapa waktu lalu, saya melakukan sidak ke Lapas Sukamiskin, yang dijadikan lapas khusus koruptor, izin sidak saya peroleh dari Pak Amir. Beliau meminta agar Najwa Shihab (Mata Najwa) dilibatkan untuk membuktikan bahwa tidak ada napi korupsi yang jalan-jalan di mal atau tidur di rumah.
Pak Menteri memang sosok yang sangat low profile dan meminta saya yang lebih banyak memberikan keterangan ke-pada rekan-rekan wartawan. “Pak Denny saja yang menjelas-kan. Yang muda yang harus lebih banyak muncul,” kata Pak Amir dalam banyak kesempatan. Akibatnya, dalam beberapa kasus saya lebih banyak memberikan penjelasan kepada pub-lik, meskipun hal itu saya lakukan atas izin atau perintah Men-kumham.
Dalam hal agenda pemberantasan korupsi pun, kami serin g kali dianggap tidak sejalan. Saya sering diasumsikan le-bih kuat dan Pak Menteri lele-bih lemah. Asumsi ini juga keliru. Kami berdua nyaris tidak pernah berbeda setiap kali memu-tuskan kebijakan-kebijakan antikorupsi. Ambil contoh ketika pertama kali berkantor di Kuningan, di hari pertama kami ber-sepakat—tanpa perdebatan—untuk mengetatkan pemberian remisi bagi koruptor. Saya mempunyai beberapa usulan anti-korupsi, anti pungli, dan pembenahan pelayanan publik yang tidak akan mungkin berjalan, jika saja Pak Amir tidak setuju. Namun, setiap kali ada pemikiran antikorupsi, Pak Amir selalu mendukung, nyaris tanpa catatan.
Demikian juga dengan PP 99, alias PP Asmaul Husna. Ketika dirumuskan, kami berdua saling mendukung. Dan,
ke-Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
160
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR161
160 161
tika hal itu dipermasalahkan, Pak Amir dan saya juga intens bertukar pikiran hingga akhirnya muncul Surat Edaran Men-kumham tertanggal 12 Juli 2013, yang pada intinya member-lakukan PP Asmaul Husna sejak 12 November 2012. Sebelum PP itu diberlakukan, Pak Amir mendapat serangan gencar ka-rena dianggap mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan koruptor. Di salah satu diskusi TV, seorang aktivis antikorup-si menyataan bahwa edaran tersebut dikeluarkan karena Pak Amir, sebagai mantan advokat, mempunyai beberapa mantan klien kasus korupsi di penjara. Tentu saja, hal ini tidak benar.
Saya tahu persis, dan berkewajiban menjelaskan bahwa kebijakan dikeluarkannya Surat Edaran tersebut adalah kepu-tusan yang kami ambil setelah menimbang berbagai aspek secara mendalam. Tragedi di Lapas Tanjung Gusta sangat memilukan bagi kami. Dua putra terbaik kami, staf di Tan-jung Gusta, gugur dalam tugas, tiga warga binaan pun wafat. Bagi kami, jangankan lima nyawa, satu jiwa melayang sudah terlalu ba nyak. Maka, untuk emergency response, menjaga keamanan dan ketertiban lapas/rutan di seluruh Indonesia, serta menghindari kemungkinan menjalarnya insiden Tanjung Gusta, kebijakan melalui Surat Edaran Menkumham itu pun diberlakukan.
Bagi kami, keputusan demikian, tentu saja, tidak mudah dan, tentu saja, tidak populer. Namun, keputusan tidak hanya didasarkan pada populernya suatu isu. Tak jarang keputusan yang benar tetap harus dilakukan, meskipun kurang populer. Surat Edaran Menkumham 12 Juli 2013 bukan hanya keputus-an Menkumham, melainkkeputus-an juga saya support. “Pak Wamen, tolong dukung saya untuk kebijakan melalui surat edaran ini,”
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR
162 163
kata Pak Amir. Saya tidak perlu berpikir panjang untuk me-mahami bahwa ini adalah keputusan yang tidak populer, tetapi sebaiknya dilakukan dan tepat untuk menjawab situasi pasca-tragedi Tanjung Gusta.
Singkat cerita, jika saja Menkumham bukan Pak Amir, mungkin banyak usulan antikorupsi dan pembenahan di Ke-menkumham yang saya usung tidak akan berjalan. Jadi, dalam hal PP Asmaul Husna, memosisikan Pak Amir sebagai pro-ko-ruptor karena Surat Edaran adalah keliru. Kami justru menge-luarkan kebijakan itu untuk membuat PP 99 tidak semakin di bawah tekanan. Kami sepakat bahwa PP Asmaul Husna yang semakin diperjelas harus dipertahankan untuk memperketat pengurangan hukuman bagi koruptor, bandar narkoba, teror-isme, dan penjahat terorganisir lainnya. Demi Indonesia yang lebih antikorupsi, demi Indonesia yang lebih bermartabat. Keep on fighting for the better Indonesia. (*)
* Dimuat di Sindo dan Banjarmasin Post, 23 Juli 2013.
Bhuana
No WAmEN No CRy BAB 3: PENjARA ANTIhAlINAR