JENIS LOMBA
1. Derajad Kesehatan a Mortalitas
Kejadian kematian dalam masyarakat digunakan sebagai indikator dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan pembangunan kesehatan lainya :
- Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup (KH), di Kota Semarang tahun
2015, sebesar 9.37/1.000KH (253 kasus dengan jumlah kelahiran hidup 26.992), jika dibandingkan tahun 2014 mengalami penurunan, angka kematian bayi sebesar 9,37/1.000 hidup
- Angka kematian Balita mengalami kenaikan yaitu di tahun 2013 sebesar
11,26/1.000 KH (299 kasus dengan jumlah kelahiran hidup 26.547) menjadi 11,32/1.000 KH di tahun 2014 (306 kasus dengan jumlah kelahiran hidup 26.992) dan pada tahun 2015 sebesar 10,35/1.000 KH
- Angka kematian Ibu (AKI) mengalami kenaikan di tahun 2013 karena jumlah
h a l | 5 8
ibu 33 kasus (122,25/100.000 KH ).dan pada tahun 2015 sebesar 128,04/100.000 KH. NO MORTALITAS SATUAN TARGET TAHUN 2015 TAHUN 2014 TAHUN 2015 1 Angka Usia harapan hidup Th 72,53 72,53 72,53 2 Angka Kematian bayi per
1000 kelahiran bayi
/1.000 KH 13,5 9,37 8,38
3 Angka Kematian Balita per 1000 kelahiran hidup
/1.000 KH 20 11,32 10,35
4 Angka Kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup
/100.000KH 70 122,25 128,04
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Semarang Tahun 2015
b. Morbiditas
Adalah keadaan sakit, terjadinya penyakit atau kondisi yang mengubah kesehatan dan kualitas hidup. Hal ini dapat dilihat dari data angka prevalensi, angka kematian dan angka penanganan penyakit :
- Jumlah penderita DBD pada tahun 2013 sebanyak 2.364 kasus
(IR 134,09/100.000 pddk) dengan angka kematian 27 orang (CFR 1,1%) pada tahun 2014 jumlah penderita sebanyak 1.628 kasus (IR 92,2/100.000 pddk) dengan angka kematian 27 orang (CFR 1,7%) telah terjadi penurunan kasus sebanyak 19 % pada tahun 2015 jumlah penderita 1.729 kasus ( IR 98,2/100.000 dengan angka kematian 20 orang ( CFR 1,2 % )
- Jumlah penderita TB Paru BTA (+) yang ditemukan mengalami penurunan dari
1.132 penderita ditahun 2012 menjadi 1.120 ditahun 2013 dan 1.183 ditahun 2014. Pada tahun 2015 sebesar 1.222 penderita.
- Jumlah HIV positif mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 terdapat 430
penderita baru dengan jumlah penderita asli penduduk Kota Semarang sebesar 174 orang (40%). Sedangkan pada tahun 2014 meningkat menjadi 453 orang dengan jumlah penderita penduduk asli Kota Semarang 102 orang (22,5%) dan pada tahun 2015 turun menjadi ( 0,85 /100.000 pddk )
- Jumlah penderita baru AIDS mengalami penurunan dari 104 orang ditahun
ditahun 2012 menjadi 75 orang ditahun 2013 dan menurun menjadi 40 orang pada tahun 2014. Sedangkan untuk angka kematian meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu dari 9,3% menjadi 12,5% pada tahun 2014.dan tahun 2015 turun menjadi 1,98 %
- Angka kasus AFP ( Acute Flacid Paralysis ) atau biasa disebut lumpuh layu di
tahun 2014 adalah 2,2/10.000 penduduk mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu 2,7 per/10.000 penduduk. Dan pada tahun 2015 masih tetap sebesar 2,2/10.000 pddk
h a l | 5 9 MORBIDITAS SATUAN TARGET TAHUN 2015 TAHUN 2014 TAHUN 2015
1 Angka Prevalensi penyakit :
Angka Prevalensi Penyakit Malaria /100.000 < 1 0,01 0,006 Angka Prevalensi Penyakit TBC /100.000 107 192 247 /100.000 Angka Prevalensi Penyakit DBD /100.000 < 210 134 98,2 Angka Prevalensi Penyakit HIV/
AIDS
/10.000 < 2 2.76 0,85 /10.000 2 Angka Acute Flaccid Paralysis
(AFP)
% 2,7 2.2 2,2
3 Angka Kematian :
Angka Kematian karena Penyakit TBC
% < 1 0.45 1,7
Angka Kematian karena Penyakit DBD
% < 1,5 1.6 1,2
Angka Kematian karena Penyakit HIV /AIDS
% 9.3 9.3 1,98
4 Angka Kesembuhan
Angka kesembuhan penderita TB Paru BTA
% 85 61 56
Cakupan penemuan dan
penanganan penderita TBC BTA
% 100 100 100
Cakupan penemuan dan penanganan penderita DBD
% 100 100 100
Cakupan penemuan dan
penanganan penderita HIV /AIDS
% 100 100 100
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Semarang Tahun 2015
c. Status Gizi
Hasil pemantauan status gizi masyarakat dapat memberikan gambaran terhadap derajad kesehatan masyarakat disuatu wilayah.
- Pada tahun 2014 telah dilakukan upaya penurunan persentase balita gizi buruk
yaitu di tahun 2013 sebesar 0,87 % dan ditahun 2014 menjadi 0,38 %.
- Pada tahun 2014 prevalensi balita gizi buruk 0,38 % dan di tahun 2015
menjadi 0,40 %.
- Prevalensi gizi kurang pada anak balita ditahun 2014 sebesar 2,73 % menjadi
3,54 % ditahun 2015.
- Penanganan gizi buruk yang ada telah 100% tertangani secara komprehensif.
STATUS GIZI SATUA
N TARGET TAHUN 2015 TAHUN 2014 TAHUN 2015
1 Penurunan Persentase balita gizi buruk % 1,57 0.38 0,40 2 Prevalensi gizi kurang pada balita % 13,2 2,73 3,54 3 Prevalensi anak dibawah berat badan
normal (BGM)
% 2,6 1.74 1,18
4 Penanganan gizi buruk % 100 100 100
h a l | 6 0
2. PARADIGMA SEMARANG SEHAT
a. Keadaan Lingkungan
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ) terbukti efektif dalam upaya mempercepat akses terhadap sanitasi yang layak. Hal ini dikarenakan STBM merupakan pendekatan dan paradigma pembangunan sanitasi di Indonesia yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan perubahan prilaku. Saat ini STBM dilaksanakan melalui berbagai program pembangunan sanitasi.
Di Kota Semarang persentase kelurahan yang melaksanakan STBM tahun 2014 sebesar 86% dan tahun 2015 sebesar 86,5 %.
Disamping persediaan air bersih dan air minum, keberadaan jamban sehat dan pemanfaatannya juga merupakan barrier bagi penularan penyakit melalui fecal oral, berdasar data tahun 2014 dan 2015, didapatkan pemanfaatan jamban sehat oleh kepala keluarga di kota Semarang telah menunjukkan peningkatan secara signifikan yaitu berturut turut tahun 2014 sebesar 91 % dan pada tahun 2015 meningkat sebesar 92%.
Air limbah rumah tangga dapat menjadi sumber penularan penyakit, hal ini dapat dicegah melalui suatu pengelolaan sederhana terhadap air limbah tersebut. Pengelolaan tersebut berupa saluran pembuangan air limbah (SPAL) yang memenuhi syarat kesehatan, dimana cakupannya mengalami peningkatan dari tahun 2014 dan 2015, adalah sebagai berikut 85 % dan 85 %. Berbagai upaya penyehatan lingkungan tersebut memerlukan kerjasama dan kontribusi lintas sektor terkait antara lain dinas pekerjaan umum berbagai pengembang perumahan dan lain-lain.
Berdasar profil kesehatan cakupan tempat umum dan tempat pengelolaan makanan sehat dari tahun 2014 sampai 2015 sebesar : 86 % dan 87%. Upaya penyehatan tempat pengelolaan makanan tidak hanya mengawasi sanitasi dan pengelolaan makanan di restoran/rumah makan serta jasa boga yang sangat mendesak dan penting adalah upaya pengawasan terhadap penggunaan bahan tambahan makanan yang dilarang.
KEADAAN LINGKUNGAN SATUA
N TARGET TAHUN 2014 TAHUN 2014 TAHUN 2015
1 Persentase rumah tangga sehat % 60 90,90 90,94
2 Persentase tempat tempat umum sehat % 86 92,01 87
h a l | 6 1 b. Perilaku hidup Masyarakat
Perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehinga anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan beperan aktif dalam kegatan – kegiatan masyarakat Pemberdayaan masyarakat dimulai dari tingkat individu dan keluarga melalui perilaku yang bersih sehat.
Perilaku sehat oleh masyarakat dapat dilihat dari program Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS). Perkembangan PHBS dari tahun ke tahun belum memperlihatkan kecenderungan peningkatan yang berarti.
Hal ini dapat dilihat dari indikator rumah tangga sehat (utama dan paripurna) yang memperlihatkan kecenderungan peningkatan tahun 2014 sampai 2015 yaitu 90,90 % dan 90,94%. Pencapaian cakupan rumah tangga sehat tersebut didapatkan dari survei PHBS yang dilakukan rutin setiap tahun kemitraan TP PKK Kecamatan dan Kelurahan.
Perilaku sehat masyarakat yang dapat mempengaruhi status gizi diantaranya adalah keluarga sadar gizi dan pemberian air susu ibu eksklusif selama 6 bulan.
Berdasar survei, capaian keluarga sadar gizi tahun 2014 sebesar 96,77% dan tahun 2015 sebesar 95,27%. Sedangkan pemberian ASI eksklusif tahun 2014 sebesar 82,79% dan tahun 2015 sebesar 83 %.
Disamping perilaku, peran serta masyarakat sangat mempengaruhi derajad kesehatan masyarakat. Peran serta masyarakat yang dikaitkan langsung dengan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit demam berdarah terlihat dalam angka bebas jentik.
Angka bebas jentik (ABJ) dari tahun 2014 dan 2015 menunjukkan peningkatan tetapi masih dibawah target nasional (95%), yaitu 85,67% dan 86%. Melihat angka bebas jentik ini dapat dikatakan bahwa peran serta masyarakat masih rendah dalam melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk yang menambah kompleksitas upaya penanggulangan demam berdarah.
Bentuk peran serta masyarakat yang lain dalam pembangunan kesehatan adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). UKBM yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kota Semarang salah satunya adalah dalam bentuk posyandu.
Sampai tahun 2015 tercatat ada 1.575 buah posyandu, yang terbagi dalam empat katagori yaitu pratama, madya, purnama dan mandiri. Dari keempat strata posyandu tersebut, dapat dikatakan posyandu purnama dan mandiri yang memiliki mutu pelayanan yang baik karena didukung oleh kader posyandu yang aktif maupun jenis kegiatan yang memadai secara kuantitas maupun kualitasnya.
h a l | 6 2
Posyandu purnama dan mandiri ini yang disebut posyandu aktif dengan jumlah 1.219 buah (77,4%)
Selain posyandu, kelompok usia lanjut merupakan salah satu bentuk peran serta dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari para lanjut usia. Pada tahun 2015 jumlah kelompok lanjut usia aktif sebanyak 776 buah.
PERILAKU HIDUP MASYARAKAT SATUA
N TARGET