Metode Penelitian Antropologi Sastra
A. Desain, Paradigma, dan Pendekatan
D
esain adalah gambaran abstrak tentang indakan dalam peneliian. Desain adalah gambaran yang berupa langkah- langkah kerja analisis. Ada desain yang berbentuk gambar ikan, ular, dan binatang lain. Untuk menelii antropologi sastra, dibutuhkan desain yang utuh. Desain akan menentukan model dan pendekatan peneliian. Jadi, desain adalah rancangan besar tentang peneliian. Dari sisi epistemologi, desain peneliian akan mengarahkan jalannya peneliian. Peneliian antropologi sastra telah banyak dilakukan, tetapi yang secara strategis memanfaatkan epistemologi masih amat jarang. Epistemologi adalah ilmu tentang bagaimana membukikan sebuah peneliian secara benar. Banyak hal yang terkait dengan kunci-kunci epistemologi yang sering diabaikan hingga kerancuan sering muncul dalam berbagai hal.Desain adalah peta perjalanan peneliian, mulai dari perumusan masalah sampai kesimpulan. Kedua isilah ini banyak membangun keyakinan para penelii antropologi sastra. Desain dan paradigma akan membimbing penelii menelurkan ide-ide cemerlang tentang
apa saja yang dianalisis. Dalam buku Metodologi Peneliian Tradisi
Lisan (2011), sudah saya kemukakan panjang lebar tentang paradigma (desain), pendekatan, dan metode. Misalkan saja, desain peneliian kualitaif interpretaif, pendekatan emik, dan metode antropologi sastra untuk menelii sastra lisan. Pada bagian ini saya kuipkan secara detail. Hal ini pening untuk membimbing jalannya peneliian antropologi sastra lebih intensif. Kalau saya perhaikan, selama membimbing penulisan skripsi, ada beberapa kerancuan yang secara epistemologis harusnya telah dihilangkan. Beberapa isilah epistemologis yang banyak menggoda dan membutuhkan penjelasan antara lain masalah (1) paradigma (paradigm), (2) perspekif, (3) pendekatan, dan (4) metode. Keempat hal itu sering bertabrakan dalam penggunaannya. Kebingungan arah sering menjadi pemicu kesalahpahaman implementaif. Akibatnya, sering terjadi “pertengkaran” antara pembimbing dan terbimbing, antarpenguji, dan penilai. Yang menjadi korban tentu saja si terbimbing karena harus terombang-ambing.
Keidakjelasan isilah secara epistemologis, juga tercium oleh beberapa penulis buku metode peneliian. Secara sederhana, dalam peneliian sastra ada isilah epistemologi yang disebut etnograi. Etnograi ini dapat digolongkan sebagai metode, pendekatan, paradigma, dan atau pendekatan. Tanpa memahami isilah tersebut secara epistemologis, dapat terjadi hal-hal krusial dan akhirnya si penelii “mai konyol” dengan makna isilah itu. Supaya pemahaman terhadap isilah-isilah tersebut idak terlalu melantur, akan saya uraikan satu per satu.
Pertama, paradigma adalah isilah yang pertama kali digunakan oleh Thomas Kuhn (Sudikan, 2001:4) dalam bukunya,
The Structure of Scieniic Revoluion (1962). Berari paradigma telah bertahun-tahun ada dan mewarnai dunia peneliian kita. Saya memandang paradigma memang pening dikemukakan agar para penelii benar-benar mendapatkan pencerahan dalam menerapkan konsep tersebut. Menurut dia, paradigma adalah pandangan mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semesinya dipelajari dalam ilmu pengetahuan. Pandangan ini lebih menekankan adanya wawasan ilosoi terhadap suatu cabang ilmu pengetahuan.
Analog dengan peneliian sastra lisan, ada dua paradigma, yaitu (1) sastra lisan sebagai seni dan (2) sastra lisan sebagai produk budaya. Kedua paradigma ini memiliki penekanan yang berbeda. Peneliian sastra kiranya juga dapat terkait dengan dua hal ini. Maksudnya, sastra juga bermuara pada (a) sastra sebagai ekspresi esteis dan (b) sastra sebagai produk sosial budaya pendukungnya. Sebagai produk seni, sastra merupakan karya yang sering dibahas dalam konteks esteika. Misalnya, tulisan Kasidi yang membahas suluk pedalangan gaya Yogyakarta. Adapun sastra sebagai budaya ialah sebagaimana yang saya lakukan dalam disertasi tentang penghayat kepercayaan.
Jika demikian, seharusnya penelii idak keliru menerapkan paradigma. Paradigma adalah dasar ilosoi peneliian yang terkait dengan “arah peneliian”, apa yang hendak diungkap. Anehnya, yang terjadi adalah paradigma sering dikacaukan dengan pendekatan. Oleh karena itu, jika dalam sebuah peneliian ada kata-kata (a) kualitaif dan (b) deskripif, akan semakin rumit lagi. Kedua kata ini sering disebut pendekatan kualitaif di satu pihak, di lain pihak ada yang menyebut pendekatan. Sementara itu,
kita juga mengenal pendekatan eik dan emik, bahkan seringkali terdengar juga ada penyebutan “metode kualitaif” dan “metode deskripif”.
Kedua, pendekatan adalah isilah yang sering melebar dan mudah diucapkan oleh penelii. Sungguh idak mudah untuk meletakkan dasar pemikiran yang dapat diterima semua pihak. Untuk itu, pendekatan perlu diperjelas, terkait dengan pemahaman sastra. Pendekatan saya pikir sejajar (equal) dengan perspekif. Arinya, sebuah sisi pandang atau sudut pandang peneliian. Pendekatan, menurut hemat saya, terkait dengan “bagaimana data diungkap dan bagaimana analisis diproses”, dari sudut pandang apa data peneliian hendak diolah hingga memperoleh kesimpulan yang handal.
Kalau berkiblat pada pemikiran Harris, ada pendekatan eik dan emik dalam peneliian sastra. Eik itu sudut pandang penelii dan emik sudut pandang informan. Kalau berpijak pada gagasan Abrams (1976) dalam bukunya, The Mirror and the Lamp, muncul empat pendekatan, yaitu (a) mimeik, (b) pragmaik, (c) ekspresif, dan (d) objekif. Biarpun penamaan Abrams ini idak terlalu tepat dan sering mengundang perdebatan, kiranya dapat dipergunakan sementara. Bahkan, beberapa ilmuwan sastra lisan telah terbius terhadap pendekatan ini. Padahal, kalau dicermai, isilah objekif itu tentu idak begitu tepat sebab ada isilah lain yang disebut subjekif. Sementara itu, Wellek dan Warren menawarkan hadirnya pendekatan (1) instrinsik dan (2) ekstrinsik. Atas dasar hal itu, silakan saja para penelii sastra memilih dan memilah pendekatan. Ketepatan pendekatan akan mengarahkan bagaimana penelii mencelupkan diri di lapangan, memproses
data, dan menyimpulkannya. Pendekatan tersebut harus sejalan dengan paradigma yang diambil.
Keiga, cara memproses data dan menyimpulkan. Dalam berbagai ranah peneliian, sering muncul pendekatan fenomenologi. Peneliian sastra yang memanfaatkan fenomenologi terkait pula dengan data yang diambil. Fenomenologi adalah peneliian sastra yang menekankan hadirnya fenomena di lapangan apa adanya. Memang ada sejumlah fenomenologi, tetapi yang paling pening di sini, kehidupan sastra dapat dipotret sebagai fenomena nyata. Fenomenologi sering bersebelahan dengan pendekatan naturalisik, yakni cara penyajian data (data display) secara apa adanya. Naturalisik adalah pendekatan yang tanpa menambah dan mengurangi data.
Pendekatan fenomenologi dan naturalisik sering dipertentangkan dengan pendekatan posiivisik. Posiivisik dalah paham proses analisis yang bersifat hipoteis. Seakan-akan ke lapangan sastra, penelii akan menguji konsep yang telah mapan. Paham posiivisik ini biasanya menggunakan cara penyimpulan secara dedukif. Maksudnya, kesimpulan diambil dari hal-hal khusus ke umum dan ada kesan “memaksakan”. Lawan dari ini adalah teknik menyimpulkan secara indukif, arinya dari hal-hal umum menuju ke sesuatu yang spesiik.
Keempat, metode adalah langkah atau strategi peneliian yang hendak dilakukan. Langkah ini terkait dengan proses analisis data, maka akan muncul metode kualitaif dan kualitaif. Metode kualitaif berkaitan dengan analisis data yang idak mempergunakan perhitungan staisik, tetapi berupa kata-kata. Kualitas kata ditentukan oleh pengambilan data secara mendalam.
Adapun metode kuanitaif adalah cara peneliian dengan mengandalkan data staisik berupa perhitungan angka-angka. Jika metode kuanitaif cenderung mencari generalisasi, metode kualitaif idak demikian, tetapi sekadar transferabilitas.
Pemaparan data sastra juga dapat dilakukan secara deskripif dan etnograis. Deskripsi ini juga sering dikaitkan dengan pendekatan, bahkan ada yang menyebut pendekatan deskripif. Padahal, deskripif ini merupakan cara penyajian data. Penyajian data secara deskripif boleh menggunakan angka, sekadar untuk membantu saja. Namun, yang paling pening, biasanya pemanfaatan kata-kata secara akurat. Deskripsi adalah penggambaran suatu fenomena. Deskripsi dapat dilakukan secara naturalisik, komprehensif, dan holisik. Deskripif naturalisik arinya penggambaran apa adanya dari lapangan. Ada pula yang memanfaatkan deskripif etnograis, terutama isilah ini hadir dari cabang antropologi. Sastra juga dapat dilakukan secara etnograik, arinya melukiskan kehidupan seni sebagai eskpresi kehidupan sosio kultural suatu bangsa.
Masalah paradigma, pendekatan, metode tersebut, kelak akan memengaruhi penggunaan teori. Teori peneliian sastra ada yang memang sudah baku, dipegang teguh selama peneliian, dan ada pula yang longgar. Teori atau konseptual merupakan pegangan penelii. Teori itu bisa dari satu orang ahli yang telah teruji atau dari beberapa orang yang diramu. Biasanya teori-teori sastra lebih longgar sehingga penelii boleh berspekulasi.