Metode Penelitian Antropologi Sastra
B. Realitas, Fakta, dan Data
Realitas, fakta, dan data masih sering dipahami secara simpang siur. Peneliian antropologi sastra akan berhadapan dengan iga hal
tentang pembukian hasil peneliian. Pembukian yang dimaksud idak seperi peneliian ilmu eksata, melainkan lebih cenderung pada aspek klariikasi. Keiga hal itu sering dinamakan (1) realitas, (2) fakta, dan (3) data. Keiga hal ini sering digunakan secara campur aduk dalam peneliian sastra. Apa yang dimaksud dengan realitas atau kenyataan? Secara sederhana ke nyataan dapat dideinisikan sebagai “segala sesuatu yang dianggap ada”. Konsep “ada” juga termasuk segala sesuatu yang “diadakan.” Konsep “dianggap” menandai sebuah dunia mungkin yang dibayangkan, diargumentasikan, dan diimajinasikan oleh penelii sastra. Kata dianggap di sini menduduki posisi pening sebab kata tersebut mencerminkan relaivitas. Asumsi (anggapan) sering muncul dari proses imajinasi, apalagi sastra adalah dunia imajinasi yang sarat dengan anggapan-anggapan sehingga relaivitas selalu ada. Relaivitas itu ada karena asumsi tentang segala sesuatu. Sastra banyak memuncul ribuan anggapan, terlebih kalau berdampingan dengan budaya.
Realitas itu dunia mungkin yang kadang-kadang bersifat subjekif. Arinya, apa yang “ada” bagi seseorang belum tentu “ada” bagi yang lain karena masing-masing memiliki pandangan yang berbeda tentang suatu hal. Dalam sastra, seringkali dijumpai seseorang menolak bandingan orang lain karena memiliki argumen realitas yang berbeda. “Ada” di sini idak harus bersifat empiris atau dapat diketahui lewat panca indra sebab banyak hal yang kita anggap ada tanpa kita pernah menga laminya secara empiris. Ada juga yang sering dialami orang, tetapi belum tentu diketahui, misalkan kelahiran bayi. Banyak orang tahu kelahiran dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Oleh karena “ada” juga
menyangkut hal ihwal metaisika, amat mungkin terjadi silang pendapat terhadap cakrawala bandingan. “Ada” di sini juga bisa berari ada di dunia, di jagat raya ini, baik secara empiris maupun dalam pikiran kita. Sastra adalah ekspresi pemikiran, keinginan, dan perasaan yang sering memunculkan pemikiran tentang realitas pula.
Yang unik, dalam peneliian sastra sering ada yang berpendapat bahwa realitas itu sama halnya dengan fakta. Fakta seringkali disamakan dengan kenyataan. Akan tetapi, kalau kita mela kukan ini, imbul pertanyaan, “Mengapa kita harus menggunakan dua kata yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama?” Atas dasar hal ini tentu kedua hal itu memiliki implikasi yang berlainan. Jika ada dua kata yang berbeda, keduanya harus menunjuk dua hal yang berbeda. Bahkan, apa yang kita sebut sinonim pada dasarnya idak dapat menunjuk kepada dua hal yang persis sama. Ada pengerian-pengerian tertentu yang terdapat pada satu kata, tetapi idak kita temukan pada sinonimnya. Jadi, fakta harus kita bedakan dengan “realitas” atau kenyataan. Fakta belum tentu realitas sebab dalam sastra, pengarang semakin bebas mengemukakan realitas. Ungkapan pengarang itu sudah amat imajinaif dari realitas. Realitas tersebut mungkin merupakan kamulase dari fakta-fakta. Jadi, ada tumpukan fakta, disusun menjadi realitas, dan kelak akan menjadi sebuah data.
Fakta di sini kita deinisikan sebagai pernyataan tentang realitas, tentang kenyataan. Seseorang yang menceriterakan suatu kejadian pada dasarnya adalah orang yang sedang mengemukakan fakta-fakta, mengemukakan pernyataan- pernyataan tentang suatu kenyataan. Biarpun kejadian itu dalam bentuk iksi dan puisi,
itulah fakta. Oleh karena itu, suatu fakta selalu bersifat “subjekif”, dalam ari bahwa fakta tersebut selalu dihasilkan lewat sudut pandang orang tertentu. Pengarang yang telah terjun ke dunia absurditas seperi Danarto, Jayus Pete, Sutardji Calzoum Bachri, Seno Gumira Ajidarma, Krishna Miharja, Suwardi Endraswara, Andy Casiyem Sudin, Triyanto Triwikromo tentu memiliki wawasan berbeda keika menyimak realitas kemiskinan dan korupsi di negeri ini. Maka dari itu, suatu kenyataan yang sama dapat saja dikemukakan dengan cara-cara yang berbeda. Ini terlihat jelas dalam berbagai macam berita mengenai suatu kejadian yang dimuat oleh berbagai surat kabar yang berbeda. Keika gempa bumi melanda Yogyakarta, Aceh, Tasikmalaya, iap pengarang boleh menanggapinya berbeda. Walaupun perisiwanya sama, berita mengenai perisiwa ini idak akan pernah persis bisa sama. Faktanya ada gempa, tetapi realitasnya berbeda dalam menghadapinya. Fakta cenderung dimaknai sebagai kejadian atau perisiwa yang mungkin dapat dikisahkan.
Di pihak lain, suatu fakta juga dapat dikatakan “objekif” karena selalu didasarkan pada suatu kenyataan. Pernyataan yang idak didasarkan pada suatu kenyataan idak dapat dikatakan sebagai fakta. Dia lebih tepat disebut sebagai “karangan” atau hasil dari sebuah khayalan, hasil imajinasi. Kini, sastra akan berhadapan dengan “dua dunia”, yaitu dunia fakta objekif karena melukiskan kenyataan dan dunia imajinaif yang mungkin jauh dari kenyataan. Sampai di sini, akan muncul fakta imajinaif. Fakta cerita biasanya merupakan hasil kamulase dari realitas. Fakta- fakta imajinaif yang merupakan pancaran realitas itu baru akan berubah statusnya menjadi “objekif” keika menjadi sebuah data.
Dalam peneliian antropologi sastra, fakta dapat menjadi data, tetapi idak semua fakta adalah data. Peneliian antropologi sastra jelas akan berhadapan dengan data yang merupakan potret dari fakta-fakta dan realitas. Data di sini dikatakan sebagai fakta yang relevan, yang berkaitan secara logis dengan (a) masalah yang ingin dijawab atau masalah peneliian dan dengan (b) kerangka teori atau paradigma yang di gunakan untuk menjawab masalah tersebut. Jadi, data adalah fakta yang te lah dipilih, diseleksi berdasarkan atas relevansinya. Untuk itu penelii akan membuat rumusan, kategori, klasiikasi, pemaknaan, dan akhirnya membandingkan data-data. Data-data yang ditemukan diangkat, dipahami, dan dibandingkan satu sama lain hingga menemukan simpulan. Itulah kerja ilmiah sastra.
Data yang dibutuhkan dalam suatu peneliian sastra bisa berupa data kualitaif atau data kuanitaif, atau kedua-duanya, dan sebuah peneliian bisa saja memerlukan dan memanfaatkan dua jenis data ini untuk menjawab masalah-masalahnya. Hanya saja, sejauh pengalaman saya, hampir seluruh data sastra cenderung berupa data kualitaif. Data dapat berupa potongan teks atau teks utuh. Data yang terseleksi akan diproses, disesuaikan dengan permasalahan yang hendak dirunut. Jika data kuanitaif cenderung berupa angka-angka, data kualitaif idak berupa angka, tetapi pernyataan-pernyataan yang memberikan keterangan, informasi, mengenai isi, sifat, ciri, keadaan dari sesua tu atau hubungan- hubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain.