• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tafsir Antropologi Sastra

Dalam dokumen metodologi antropologi sastra (Halaman 120-124)

Interpretasi dalam Penelitian Antropologi Sastra

A. Tafsir Antropologi Sastra

T

afsir selalu lekat dalam peneliian antropologi sastra. Tafsir dilakukan secara proporsional. Melalui tafsir, antropologi sastra diharapkan mampu mengungkap fenomena simbolik dalam sastra. Sastra itu sebuah fenomena simbolis tentang hidup manusia. Tafsir tersebut merupakan strategi untuk mencermai kedekatan sastra dan antropologi.

Antropologi dan sastra sama-sama memperhaikan indakan manusia. Antropologi memandang indakan manusia yang cenderung berubah-ubah secara simbolis. Sastra pun demikian, senaniasa memandang indakan manusia yang ditampilkan secara imajinaif dan simbolis. Hidup manusia yang penuh simbol banyak menarik perhaian ilmu sastra dan antropologi. Kata Michel de Montaigne (Brady, 1993:249), mereka yang membandingkan indakan manusia idak pernah bingung keika mencoba menempatkan mereka dalam cahaya yang sama karena mereka sering bertentangan satu sama lain sehingga yang aneh, yang tampaknya idak mungkin, ternyata dapat menjadi realitas.

Realitas budaya senaniasa muncul secara simbolis dalam sastra. Realitas pun perlu ditafsirkan. Penafsiran juga dapat dilaksanakan dengan cara perbandingan antarteks sastra.

Pendapat itu memberikan isyarat bahwa perbandingan merupakan bagian dari sebuah peneliian cermat di bidang antropologi dan sastra. Membandingkan indakan manusia, ada yang aneh dan sekaligus ada hal yang idak mungkin menjadi mungkin. Antropolog dan ahli sastra mewujudkan indakan manusia dalam bentuk wacana atau teks. Teks merupakan bagian pening yang memuat aneka makna. Teks tersebut ditafsirkan lewat perbandingan agar hasilnya semakin bagus. Dilakukan perbandingan antardata dalam teks, pengelompokan, dan akhirnya dapat dilakukan penyimpulan. Hasil tafsir antropologi sastra sering mengungkapkan berbagai oposisi.

Dalam kaitan itu, gagasan kriis James A. Boon (Brady, 1993:249) layak diperimbangkan. Menurutnya, sastra sering terjebak keika melakukan kerja lapangan dalam bentuk berbicara, berprokreasi, dan menjelaskan dengan persoalan etnologi dalam bentuk menulis, memesan sebagai kriik perbandingan. Pada kerja lapangan dan penulisan etnograi seringkali terjadi pertentangan. Keadaan itu oposisinya ibarat api dan es. Keduanya memiliki karakterisik yang berbeda, yang satu panas dan yang lain dingin. Maksudnya, fakta di lapangan sering berbeda dalam karya sastra dan tulisan etnograis. Apa yang dibicarakan dalam fakta, keika disentuh sastrawan dan etnogafer akan berbeda wujudnya.

Sejarah intelektual antropologi yang membicarakan fakta di lapangan menunjukkan bahwa antropolog idak dapat memberikan pemikiran dengan cara simultan, sadar diri, dan kriis. Lebih jarang

lagi, antropologi yang melibatkan diri pada ilsafat hermeneuika, strukturalisme, dan kriik, sering repot melakukan tafsir. Dengan pengecualian karya terbaru oleh Cliford Geertz, Paul Rabinow, James Cliford, dan beberapa orang lainnya, antropologi semacam ini secara ilosois sedikit demi sedikit, dan bahkan kemudian lebih sering berada di Departemen Sastra, Agama, dan Filsafat daripada di Departemen Antropologi. Itulah sebabnya, tafsir antropologi sastra semakin kompleks, perlu melibatkan berbagai hal yang mengitarinya. Lewat tafsir, antropologi sastra juga membantu pengembangan teori sastra. Tafsir tanpa memanfaatkan teori sastra tentu hasilnya kurang bagus. Teori sastra yang berkiblat pada hal- hal ekstrinsik pantas dikembangkan lewat peneliian mendalam. Dengan demikian, antropologi sastra akan mendekatkan hubungan antara sastra dan budaya.

Menurut Budiman (2003:114–115), nama-nama antropolog seperi Geertz, Turner, Douglas, Levi-Strauss, dan Leach sudah banyak menaruh perhaian pada teori-teori sastra. Bahkan, dengan cara masing-masing, mereka telah mengaburkan batas-batas antara karya ilmiah dan sastra melalui prakik penulisan etnograi yang diwarnai kesadaran literer inggi. Pendapat ini sebenarnya hendak meneguhkan pandangan terbaru bahwa antropologi sastra sudah saatnya berkembang. Antropologi sastra sudah mulai ada dan menunjukkan eksistensinya. Antropologi sastra adalah peneliian interdisipliner antara sastra dan antropologi. Kekuatan antropologi sastra terletak pada upaya mengungkap aspek budaya melalui karya sastra.

Kekuatan interdisipliner antropologi dengan ilmu lain seperi sastra tampaknya menarik perhaian pembaca. Interdisiplin itu

muncul melalui perbandingan luas untuk menemukan perbedaan dan persamaan budaya dalam antropologi dan sastra. Prinsip- prinsip yang jauh lebih besar menyangkut interdisiplin ini adalah mengenai keterkaitan antara alam dan sejarah pemikiran etnograis sejak Zaman Pencerahan. Gaya antara etnograi dan sastra hampir sama. Keduanya senaniasa berkaitan dengan sebuah teks. Terlebih jika sudah merambah dunia eksperimental, masuk ke lapangan pembaca, sastra hampir sulit dipisahkan dengan peneliian etnograi. Di era posmodern, antropologi sering hadir sebagai seni, sastra, dan ilmu. Keiga hal ini sering mewarnai peta antropologi. Begitu pula dalam sastra, seringkali terdapat karya-karya sastra etnograis. Itulah sebabnya, batas- batas antropologi dan sastra memang amat ipis dan semesinya idak perlu diperdebatkan.

Setelah membuat beberapa catatan awal tentang proyek di tempat lain, antropolog memiliki tujuan utama, yaitu (1) untuk mengevaluasi argumen Boon mengenai pemikiran uniformitarian dalam antropologi; (2) untuk menemukan beberapa ironi, kontradiksi, dan paradoks bahwa ia telah ditemukan dan dikembangkan dalam kerangka kerja lapangan; dan (3) untuk mengideniikasi apa yang terjadi secara struktural dan hermeneuik. Untuk memahami pra-posmodern, teori etnologis, terutama “interpretaif”, dalam antropologi kontemporer amat diperlukan.

Konsep interpreive turn (Budiman, 2003:113) banyak digugah oleh Geertz. Geertz lebih menawarkan peneliian reigurasi pemikiran sosio kultural. Lewat karya sastra, interpretasi semakin mendapat tempat strategis. Oleh karena dunia sastra penuh

mulitafsir, pandangan itulah yang mengubah mindset para penelii antropologi sastra menjadi ke arah literary turn atau textual turn. Teks sastra menjadi acuan tafsir antropologi sastra. Begitu pula keika antropologi sastra mencoba memahami etnograi yang berbentuk seperi roman atau novel, selalu membutuhkan tafsir. Tafsir antropologi sastra berusaha menjembatani keterkaitan interdisiliner antara sastra, antropologi, dan budaya.

Lewat tafsir, penelii antropologi sastra akan tertantang untuk menggali makna yang semakin beragam. Tafsir dilaksanakan secara terbuka dan kreaif. Tafsir lebih meniikberatkan prinsip relaivitas. Dengan kreaivitas, penelii dapat melakukan tafsir yang idak harus ini dan harus itu. Hal ini dilandasi asumsi bahwa karya sastra senaniasa hadir secara simbolis. Simbol budaya dalam sastra bukan harga mai, melainkan tergantung kemampuan seorang penafsir.

Dalam dokumen metodologi antropologi sastra (Halaman 120-124)