• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Sastra, Realitas, dan Budaya Rakyat

Dalam dokumen metodologi antropologi sastra (Halaman 158-162)

Memandang Pengalaman Sastra

D. Pengalaman Sastra, Realitas, dan Budaya Rakyat

Keunikan Budiman (1994:46–47) keika memandang teks Sri Sumarah karya Umar Kayam, patut diapresiasi. Dia telah membukikan bagaimana ideologi Jawa pengarang menjadi roh cerpen tersebut. Yang dikembangkan Budiman (1994) adalah konsep Geertz (1973) tentang world view (pandangan dunia) tentang alam, diri sendiri, dan masyarakat. Kemampuan penelii

antropologi sastra menangkap pandangan dunia dalam teks diharapkan muncul. Pandangan dunia adalah sebuah konteks yang menyertai teks sastra.

Belakangan, Ratna (2011:357–361) juga menguraikan pandangan dunia novel Layar Terkembang dengan antropologi sastra. Biarpun pada awalnya isilah pandangan dunia banyak muncul dalam sosiologi sastra—yang dipelopori Goldmann— antropologi sastra perlu melirik itu. Jika sosiologi sastra lebih menganalisis pandangan dunia dalam kaitannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, antropologi sastra lebih dari itu. Antropologi sastra akan lebih akurat lagi mengaitkan pandangan dunia dengan aspek budaya. Pandangan dunia adalah ideologi yang dapat menggiring manusia melakukan sesuatu. Lebih jelasnya, kita lihat kisah ikif yang disampaikan Ridington (1993) sebagai berikut.

Saya merasa sangat terhormat dan sangat rendah hai karena telah diberi kesempatan untuk berbicara di arena suci di hari ini. Saya berdoa bahwa kata-kata yang saya sampaikan akan menerima berkat dari lingkaran ini. Arena anda terbuka ke Timur seperi menuju ke arah tunggal. Ini terbuka ke imur seperi lingkaran kamping besar. Di situ ada Huthuga di mana orang tua anda datang bersama-sama untuk ikut upacara

berburu kerbau tahunan mereka.

Arena semakin terbuka ke imur seperi altar bumi lama tempat yang disebut Uzhin’ei. Mereka menawarkan daging dan lemak kerbau untuk memberi makan Kutub Suci Anda. Jadi saya akan mulai kata-kata saya dengan ucapan salam kepada Anda dilakukan orang tua, “Aho Instashunda, Hongashenu i

Agathon kahon:” Itu berari, “Hello fastashunda, Sky People, Hongashenu, saya menyambut anda sebagai kedua sisi rumah

tunggal bergabung di sini bersama-sama sebagai satu orang. Salah satu suku di arena suci, seperi yang mereka lakukan, di

kamping lingkaran Huthuga.

Anda mungkin bertanya-tanya, seperi yang kadang-kadang saya lakukan sendiri. Bisnis apa yang saya miliki di Indian, adalah

sebuah bangsa yang besar yang asli di tanah nenek moyang

yang hidup bertahun-tahun lalu. Ceritanya seperi ini. Pada Januari 1962 saya mulai belajar menjadi seorang antropolog di Museum Peabody dari Harvard University di Cambridge, Massachusets. Di sana, Kutub Suci Anda (yang namanya kemudian dipelajari adalah Waxthexe, atau Washabegle di penampilan. Pada awalnya, saya idak tahu apa-apa. Aku idak tahu apa arinya itu. Aku bahkan idak tahu apakah Rakyat Omaha masih bersama-sama di tanah mereka. Tapi memang tahu, bahkan kemudian, bahwa Kutub harus mewakili kekuatan hidup, dan kekuatan gerak-kekuatan persatuan bagi orang yang

pernah membawanya bersama mereka dari tempat ke tempat.

Saya tahu juga bahwa Kutub telah menyentuh dan memindah hidup saya sendiri. Saya akan memberikan contoh dari hal ini. Hampir seiap hari aku belajar di Peabody, Museum perpustakaan. Saya melakukan pekerjaan sebagai mahasiswa dan juga merasa bosan. Anda pun boleh merasa gelisah, lelah, ingin pergi untuk berjalan dan entah bagaimana aku tertarik ke arah Man Mulia yang sakral. Keika saya masih di jalan-jalan kecil jauh dari perpustakaan, saya akan pergi ke Kutub dan saya akan berdiri serta melihatnya. Itu dipamerkan pada waktu itu. Aku hanya akan merenungkan hal itu. Saya akan berpikir tentang kali ini diwakili Kutub, meskipun aku idak tahu banyak tentang hal itu pada saat itu. Menjadi dekat dengan Man Mulia yang Suci. Kutub ternyata sama peningnya dengan pendidikan saya keika mengambil kursus antropologi di Harvard University. Jadi itulah cerita tentang bagaimana kehidupan saya datang ke dalam simbol-simbol sakral.

Sekarang saya ingin menceritakan beberapa dari apa yang saya pelajari tentang Kutub. Sebagian besar akan memberitahu tentang apa yang telah saya pelajari dari apa yang ada di

rekaman secara tertulis. Saya berharap untuk belajar lebih banyak dari Anda, dari tradisi lisan, dari para tetua yang telah menyampaikan informasi dan pengetahuan dan ajaran dari generasi ke generasi. Jadi, apa yang saya berikan kepadamu

hari ini hanyalah manfaat dari apa yang telah ditulis tentang

tradisi Anda.

Pengalaman pribadi ternyata dapat berubah menjadi teks sastra. Pengalaman adalah guru esteika yang utama. Untuk memahami pengalaman pribadi dalam teks, boleh melebihi yang dibayangkan teks asli. Teks asli hanyalah milik pencerita. Kisah di atas adalah sastra realitas, maksudnya karya sastra yang mengungkapkan kejadian nyata. Biarpun demikian, permainan imajinasi tentu idak mungkin terhindarkan. Oleh sebab itu, penafsiran antropologi sastra dapat menjembataninya. Secara antropologis, manusia menyimpan pengalaman dalam dua hal, yaitu (1) pengalaman yang menyenangkan tentang dirinya, membahagiakan, dan menenteramkan dan (2) pengalaman pahit yang menyakitkan. Kedua pengalaman pribadi itu dapat menjadi teks sastra setelah muncul ke publik.

Tugas dan kewenangan penelii antropologi sastra adalah menafsirkan teks. Menurut Ratna (2004:317), penafsiran sastra akan melipui dua hal, yaitu (1) penafsiran mendahului hakikat fakta dan (2) penafsiran menentukan kenyataan. Dari dua gaya tafsir ini, seorang penelii antropologi sastra dapat memahami teks sastra sebagai pengalaman pribadi. Penelii bebas menafsirkan teks. Boleh saja ia mendahului dan melebihi yang dibayangkan teks. Penafsiran yang melebihi porsi pun sah dan akan melairkan realitas baru. Realitas itulah sebuah budaya baru yang diciptakan antropolog sastra. Dengan demikian, peneliian antropologi sastra

akan membangun budaya baru yang tepercaya.

E. Pengalaman Imajinatif dan Permainan Politik

Dalam dokumen metodologi antropologi sastra (Halaman 158-162)