• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan desentralisasi di Indonesia mulai dilaksanakan pada tahun 2001, setelah dilakukan ujicoba pada beberapa kabupaten pada dua tahun sebelumnya. Implementasi kebijakan desentralisasi ini sebenarnya lebih dominan didasarkan pada dorongan politik dibandingkan dengan pertimbangan ekonomi. Wilayah Indonesia yang luas dengan begitu besar keragaman sumberdaya, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakatnya mendukung justifikasi dilaksanakannya desentralisasi. Desakan politik yang besar, seiring dengan perubahan kondisi politik, menyebabkan desentralisasi fiskal terkesan dilaksanakan dengan terburu-buru, tanpa persiapan yang memadahi, sehingga banyak pihak menyebutnya sebagai fenomena big bang desentralisasi. Kebijakan desentralisasi di Indonesia merupakan kebijakan yang melalui proses persiapan yang sangat cepat, deadline implementasi yang ketat dan perubahan yang sangat besar dalam cakupan kebijakan. Pada kondisi waktu yang terbatas, draft UU (otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah), hanya dibahas secara terbatas oleh beberapa institusi pemerintah dan akademisi yang condong terhadap pelaksanaan desentralisasi, dengan masukan yang terbatas dari politisi dan kurang berkonsultasi dengan daerah. Hasilnya dalam kurun waktu dua tahun, pemerintah pusat akan mentransfer semua tanggung jawab (kecuali urusan luar negeri, pertahanan, kebijakan perdagangan, kebijakan moneter, neraca keuangan dan agama) termasuk sebagian besar pegawai (sekitar 2 juta orang atau 2/3 pegawai pemerintah) kepada pemerintah daerah. Dalam proses transfer tanggung jawab ini, pemerintah daerah juga mendapat sumber pembiayaan baru. Meskipun secara politik dapat dikatakan perubahan

yang relatif mendadak dan mendasar sekaligus besar ini dapat dipandang berhasil, dalam arti tidak terjadi konflik dan krisis yang besar, namun tujuan ekonomi, dan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih belum sesuai harapan.

Landasan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang merupakan penyempurnaan dari UU No 22 dan 25 tahun 1999. Kedua UU ini mengatur pokok-pokok penyerahan kewenangan kepada pemerintah daerah serta pendanaan bagi pelaksanaan kewenangan tersebut. Selain itu, terdapat juga Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang mengatur tentang kewenangan Pemerintah Daerah dalam melakukan pemungutan kepada masyarakat daerah guna mendapatkan sumber pendanaan bagi pembangunan daerah.

Prinsip dasar yang digunakan dalam penetapan otonomi daerah dan juga desentralisasi fiskal adalah bahwa anggaran menyertai fungis (money follows function). Dengan prinsip ini, maka fungsi pemerintahan yang telah diserahkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, sesuai dengan UU 32 Tahun 2004, akan diikuti dengan pendanaan untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi dimaksud, yang kemudian diatur dalam UU No 33 tahun 2004 dan kemudian disusul dengan UU No 28 tahun 2009, yang mengatur tentang kewenangan pemerintah daerah dalam memungut pajak (taxing power). Pengembangan taxing power daerah ini dalam kerangka desentralisasi dari aspek penerimaan.

Dengan adanya kewenangan ini, maka penerimaan asli daerah (PAD) akan dapat meningkat, meskipun masih relatif terbatas. Daerah dapat menggali potensi penerimaan daerah dari sumber pajak dan retribusi. Pajak daerah dibedakan atas pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota. Tabel 3 menunjukkan berbagai jenis pajak yang dapat dipungut oleh pemerintah provinsi dan kabupaten sesuai denga UU No 28 tahun 2009. Jenis obyek pajak daerah kabupaten/kota lebih banyak dibandingkan dengan pajak daerah provinsi, yang menunjukkan bahwa bobot desentralisasi lebih besar pada tingkat kabupaten/kota.

Tabel 3. Jenis-Jenis Pajak Daerah menurut UU No 28, Tahun 2009

Provinsi Kabupaten/Kota

1. Pajak kendaraan bermotor 1. Pajak hotel 2. Bea balik nama kendaraan

bermotor

2. Pajak restoran 3. Pajak bahan bakar kendaraan

bermotor

3. Pajak hiburan 4. Pajak air permukaan 4. Pajak reklame

5. Pajak rokok 5. Pajak penerangan jalan 6. Pajak parkir

7. Pajak mineral bukan logam dan batuan

8. Pajak air tanah

9. Pajak sarang burung walet 10. PBB pedesaan dan perkotaan 11. Bea perolehan hak atas tanah dan

bangunan

Sumber: UU Nomor 28 tahun 2009

Selain pengenaan pajak, daerah juga diberikan kewenangan untuk memungut retribusi dari jasa dan layanan yang diberikan, baik berupa jasa umum, jasa usaha daerah, maupun dari berbagai perijinan. Tabel 4 menunjukkan beragam jenis retribusi yang dapat dipungut sebagai sumber penerimaan daerah. Pengaturan pajak dan retribusi daerah ini dilakukan untuk menjaga tidak terjadi pemungutan pajak dan retribusi daerah yang membebani perekonomian sehingga terjadi ekonomi biaya tinggi yang berdampak kontra produktif terhadap perkembangan ekonomi daerah.

Tabel 4. Jenis Retribusi Daerah menurut UU No 28, Tahun 2009

Jasa Umum Jasa Usaha Perizinan Tertentu 1. Retribusi pelayanan

kesehatan

2. Retribusi kebersihan 3. Retribusi KTP dan akte

capil 4. Retribusi

pemakaman/pengabua n mayat

5. Retribusi parkir di tepi jalan umum 6. Retribusi pelayanan dasar 1. Retribusi pemakaian kekayaan daerah 2. Retribusi pasar grosir/pertokoan

3. Retribusi tempat pelelangan 4. Retribusi terminal

5. Retribusi tempat khusus parkir

6. Retribusi tempat

penginapan/pesanggrahan/ villa

7. Retribusi rumah potong

1. Retribusi izin

mendirikan bangunan 2. Retribusi izin tempat

penjualan minuman beralkohol

3. Retribusi izin ganggunan

4. Retribusi izin trayek 5. Retribusi izin usaha

Jasa Umum 7. Retribusi pengujian kendaraan bermotor 8. Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran 9. Retribusi penggantian biaya cetak peta 10. Retribusi pelayanan

tera/ tera ulang 11. Retribusi penyedotan kakus 12. Retribusi pengolahan limbah cair 13. Retribusi pelayanan pendidikan 14. Retribusi pengendalian menara telekomunikasi Sumber: UU Nomor 28 tahun

Gambar 3 menunju pemerintah daerah yang b dan dana perimbangan dar

Sumber: Kementerian Keuang Gambar 5. Perkembangan

Penyesuaian),

Dalam konteks yang ke daerah lebih besar d kerangka pelaksanaan oto umum, bagi hasil, aloka mengalokasikan dana unt

0 50 100 150 200 250 300 350 2005 LKPP 2006 LKP 143.22 222.13 7.24 Dana Perim Trilyun rupiah

Jasa Usaha Perizinan Terte hewan

8. Retribusi pelayanan pelabuhan

9. Retribusi tempat rekreasi dan olahraga

10. Retribusi penyeberangan di air

11. Retribusi penjualan produksi usaha daerah

n 2009

njukkan perkembangan besarnya dana tra berupa dana perimbangan dan dana otono ari tahun 2005-2010.

ngan, 2010

n Transfer ke Daerah (Dana Perimbangan, Otsus, , Tahun 2005-2010

g lebih luas, sebenarnya dana Pemerintah yan dari dana yang dialokasikan melalui APB tonomi dan desentralisasi fiskal. Selain mela kasi khusus, dan insentif daerah, Pemeri ntuk membiayai program dan kegiatan yan

LKPP 2007 LKPP 2008 LKPP 2009 LKPP 2010 APBNP .13 243.97 278.71 287.25 314.36 4.05 9.3 13.72 21.33 30.

erimbangan Dana Otsus dan Penyesuaian

rtentu transfer ke omi khusus s, dan Dana ang bergulir BD, dalam lalui alokasi rintah juga ng menjadi 30.25

kewenangan Pemerintah pusat di daerah dalam bentuk Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Selain itu juga terdapat yang digulirkan ke daerah melalui program nasional yang menjadi Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), serta program nasional melalui subsidi yang sebagian besar juga dibelanjakan di daerah, seperti subsidi energi dan subsidi non-energi. Besarnya dana yang bergulir ke daerah, baik yang dikelola dalam APBD maupun APBN pada tahun 2010 mencapai hingga 60.62 persen dari total pengeluaran dalam APBN-P Tahun 2010 (Nota Keuangan RI, 2011).

Sumber pendanaan lain yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah adalah dana hibah dan pinjaman daerah. Tabel 5 menunjukkan besaran penerimaan daerah dari hibah. Meskipun cukup banyak lembaga yang memberikan hibah kepada daerah, namun akumulasi dananya tidak terlalu besar, dan hanya diberikan pada daerah-daerah tertentu sesuai dengan program kerja masing-masing pemberi hibah.

Tabel 5. Besaran Pembiayaan di Daerah dari Sumber Dana Hibah Daerah, Tahun 2009 dan 2010 No Kegiatan Sumber 2009 2010 Jmlh (Rp M) Daerah Penerim a Jmlh (Rp M) Daerah 1 Mass rapid transit (MRT)

Pinjaman dari JICA 34.38 1

2 Local basic education capacity (L- BEC) Hibah dari pemerintah Belanda dan Uni Eropa (dikelola World Bank) 22.50 25 80.08 50 3 Support to community health services (SCHS)

Hibah dari Uni Eropa (dikelola World Health Organization)

9.10 10

4 Hibah air minum Hibah dari AusAid 106.15 22 5 Hibah air limbah Hibah dari AusAid 10.00 1 6 WASAP-D Hibah dari World

Bank

12.60 6 Sumber: Kementerian Keuangan, 2010

Untuk menutup defisit APBD, pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah, pemerintah daerah lain, lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, dan masyarakat dalam bentuk obligasi daerah. Berdasarkan grafik tersebut, dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010, kontribusi pinjaman daerah terhadap pembiayaan

defisit APBD relatif kecil, y persen. Defisit APBD pa Anggaran (SILPA) tahun Gambar 4 menunjukkan ko APBD.

Sumber : Kementerian Keuan Gambar 6. Perkembangan

APBD, Tahun 2

Sebagaimana tercan 2011, transfer ke daerah daerah dan mengurangi k fiscal imbalance) dan menyelaraskan kebutuhan urusan pemerintahan a meningkatkan kualitas pela pelayanan publik antar da (fiscal sustainability) dalam daya saing daerah; (6) m potensi ekonomi daerah; ( nasional; dan (8) mening nasional dengan rencana ditransfer ke daerah pada Dengan jumlah ini, berarti dianding besaran anggara triliun). Peningkatan an 0 1 2 3 4 5 6 7 2007 5.32 Persen

yaitu hanya berkisar antara 4 persen sampai pada umumnya ditutup dari Sisa Lebih Pe

n sebelumnya masing-masing Pemerintah kontribusi pinjaman daerah terhadap pembiay

angan, 2010 (diolah)

n Kontribusi Pinjaman Daerah Terhadap Pembiay 2007-2010

cantum dalam rancangan anggaran pemerin h diarahkan untuk (1) meningkatkan kapasi kesenjangan fiskal antara pusat dan daera antar daerah (horizontal fiscal imbala an pendanaan di daerah sejalan dengan p antara pusat, provinsi, dan kabupaten/ layanan publik di daerah dan mengurangi ke aerah; (4) mendukung kesinambungan fiska m rangka kebijakan ekonomi makro; (5) men meningkatkan kemampuan daerah dalam ; (7) meningkatkan efisiensi pemanfaatan sum ingkatkan sinkronisasi antara rencana pem a pembangunan daerah. Alokasi anggaran y

a tahun 2011 sebesar Rp 378.4 triliun, (5. rti terdapat peningkatan sebesar Rp 33.8 triliu

ran transfer ke daerah pada tahun 2010 ( anggaran Transfer tersebut, terutama ter

2008 2009 2010 6.13 4.63 4.21 ai dengan 7 Pembiayaan ah Daerah. yaan defisit iayaan Defisit rintah tahun asitas fiskal rah (vertical lance); (2) pembagian n/kota; (3) esenjangan kal nasional eningkatkan m menggali sumber daya mbangunan yang akan .4% PDB). iliun, (9.8%) (Rp 344.6 erjadi pada

komponen transfer pada Dana Perimbangan, juga karena adanya peningkatan Dana Otsus dan Penyesuaian (terutama BOS).

Komposisi dana perimbangan mencapai 87 persen (Rp 329.1 trilyun) dari dana yang ditransfer sementara dana Otsus dan penyesuaian sekitar 13 persen. Bila dicermati, dana perimbangan meningkat sebesar 14.7 persen dibandingkan tahun 2010. Dari total dana perimbangan sebesar Rp 329.1 trilyun, bagian terbesar berupa dana alokasi umum (DAU), yaitu 67.4 persen, dan 24.9 persen merupakan DBH, serta 7.7 persen berupa DAK. Alokasi DAK, terutama untuk bidang-bidang: (1) pendidikan; (2) kesehatan, (3) keluarga berencana, (4) infrastruktur jalan, (5) infrastruktur irigasi, (6) infrastruktur air minum, (7) infrastruktur sanitasi, (8) prasarana pemerintahan daerah, (9) kelautan dan perikanan, (10) pertanian, (11) lingkungan hidup, (12) kehutanan, (13) sarana dan prasarana daerah tertinggal, (14) sarana perdagangan, (15) transportasi perdesaan, (16) sarana dan prasarana kawasan perbatasan, (17) listrik perdesaan, (18) perumahan dan permukiman, serta (19) keselamatan transportasi darat. Sementara untuk dana otonomi khusus sebesar Rp 10.3 trilyun, terdiri dari: (1) Dana Otonomi Khusus untuk Papua sebesar Rp 4.4 triliun, untuk Provinsi Papua dan Papua Barat, (2) Dana Otsus Provinsi NAD sebesar Rp 4.4 triliun, dan (3) Dana Tambahan Otsus Infrastruktur Provinsi Papua dan Papua Barat sebesar Rp 1.4 triliun.

Sedangkan untuk dana penyesuaian berupa dana tambahan penghasilan guru PNSD sebesar Rp 3.7 triliun, Dana Insentif Daerah sebesar Rp 1.4 triliun, dana tambahan untuk tunjangan profesi guru (TPG) sebesar Rp 17.1 triliun, dan bantuan operasional sekolah (BOS) sebesar Rp 16.8 triliun. Dana Insentif Daerah terutama ditujukan kepada daerah berprestasi yang memiliki kriteria keuangan dan kriteria kinerja ekonomi dan kesejahteraan yang baik, serta tetap mengupayakan terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik.

Dengan melihat kondisi desentralisasi politik, administrasi dan fiskal yang semakin besar, dan cenderung meningkat, terutama alokasi anggaran yang didesentralisasikan, maka diharapkan peran daerah dalam pembangunan akan semakin meningkat dan membawa pada kesejahteraan rakyat. Namun dari berbagai hasil penelitian, nampaknya hal ini belum bisa dicapai sepenuhnya. Aziz (2009), menyatakan bahwa desentralisasi fiskal di Indonesia belum menghasilkan pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini terjadi bukan saja karena kurangnya persiapan implementasi dan kebijakan yang

kurang tepat, namun juga disebabkan karena rendahnya kapasitas daerah, rendahnya tingkat partisipasi masyarakat, lemahnya kepemimpinan lokal, dan juga sistem kelembagaanya.

Brodjonegoro (2003), melakukan penelitian dengan menggunakan model interregional social accounting matrix, dengan membagi daerah secara makro menjadi dua, yaitu Pulau Jawa dan luar Jawa, serta secara mikro menjadi 7 wilayah, yaitu Jawa Barat (termasuk DKI), Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia bagian Timur, menghasilkan kesimpulan bahwa perekonomian Indonesia masih terkonsentrasi di wilayah Jawa, baik dilihat dari aspek output, tenaga kerja, maupun modal. Hasil lain menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah daerah memiliki efek yang lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah pusat, disamping akan meningkatkan dan sekaligus men-generate pendapatan antar daerah. Penelitian ini juga menunjukkan adanya efek positif dari kebijakan desentralisasi fiskal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan menurunkan kesenjangan antar wilayah, melalui transfer antar wilayah (DAU, DAK, dan dana bagi hasil).

Ismail, et.al. (2004) melakukan penelitian pengaruh desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi di beberapa negara muslim, yaitu Indonesia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Malaysia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mendorong pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh diungkapkan bahwa desentralisasi sumber pendapatan pemerintah memiliki daya dorong terhadap pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan desentralisasi pengeluaran pemerintah.

Penelitian Darsono dkk, (2008) menunjukkan hasil yang serupa, bahwa terdapat hubungan positif antara desentralisasi fiskal dengan pertumbuhan ekonomi, khususnya agroindustri. Penelitian ini menguji efektifitas kebijakan fiskal pada sektor pertanian, dengan menekankan pada agroindustri di Indonesia, dengan menggunakan model Vector Autoregresive (VAR). Hasil analisis menunjukkan bahwa instrumen kebijakan fiskal yang mempengaruhi kinerja sektor pertanian dan agroindustri dalam jangka panjang adalah anggaran sektor pertanian, penelitian dan pengembangan pertanian, infrastruktur dan kebijakan desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiskal juga secara efektif meningkatkan kinerja sektor pertanian dan agroindustri di Indonesia.

Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan Azis (2009), dengan mengambil kasus pada beberapa daerah, menyimpulkan bahwa pemimpin lokal sangat

menentukan hasil dari kebijakan desentralisasi fiskal dan meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat. Manfaat dari desentralisasi fiskal akan sangat tergantung pada akuntabilitas lokal dan seting kelembagaan yang tepat. Dengan demikian maka direkomendasikan bahwa reformasi kelembagaan sangat diperlukan.

Armas, et.al. (2010) melakukan analisis time series terhadap pengeluaran pemerintah pada sektor pertanian di Indonesia, dari tahun 1976-2006, dan menyimpulkan bahwa secara keseluruhan, pengeluaran pemerintah pada sektor pertanian berpengaruh positif terhadap pertumbuhan GDP per kapita sektor pertanian. Namun ketika pengeluaran pemerintah dipisahkan antara pengeluaran untuk barang publik, seperti infrastruktur irigasi dan subsidi barang private seperti pupuk dan benih, dihasilkan bahwa pengeluaran untuk barang publik berpengaruh positif terhadap pertumbuhan GDP perkapita sektor pertanian, sebaliknya pengeluaran pemerintah untuk subsidi pupuk dan benih, justru berpengaruh negatif. Dengan demikian Armas menyarankan untuk melakukan realokasi pengeluaran pemerintah dari subsidi barang private ke subsidi barang publik.