VI. SIMULASI DAN PERAMALAN
6.6. Peramalan Simulasi Kebijakan
6.6.3. Perekonomian Daerah
Simulasi kebijakan dengan skenario 1, 2, 3, 4, dan 5 cenderung menambah kemampuan keuangan daerah, karena meningkatkan komponen penerimaan daerah baik dari PAD maupun komponen dana perimbangan, sehingga respon terhadap jumlah pegawai negeri sipil (PNS) daerah juga positif. Sekenario kombinasi peningkatan pajak daerah dan DAU paling besar berdampak pada peningkatan jumlah PNS. Kecenderungan menambah pengeluaran rutin yang lebih besar daripada pembangunan, terkonfirasi juga dari adanya kecenderungan peningkatan jumlah pegawai negeri sipil di daerah sejalan dengan peningkatan daerah (Tabel 76). Pada Tabel 76, dengan skenario yang berdampak pada penerimaan daerah yang lebih kecil, peningkatan jumlah PNS juga lebih kecil. Dengan demikian, jumlah PNS di daerah akan meningkat seiring meningkatnya keuangan daerah, baik dari dana pusat maupun PAD.
Dari Tabel 76 dapat dilihat bahwa dampak pengeluaran pemerintah daerah terhadap sektor riil dapat dilihat dari ramalan peningkatan PDRB dari berbagai simulasi kebijakan yang dari bahasan sebelumnya akan meningkatkan pengeluaran pemerintah. Sesuai dengan hasil estimasi, bahwa secara umum
7,500,000 7,700,000 7,900,000 8,100,000 8,300,000 8,500,000 8,700,000 8,900,000 9,100,000 9,300,000 2013 2014 2015 2016 2017 R p J u ta
pengeluaran pemerintah berdampak positif terhadap produk domestik regional bruto, maka secara umum juga skenario peningkatan DAU dan dana bagi hasil akan meningkatkan PDRB daerah. Peningkatan terbesar terjadi pada scenario 5, yaitu peningkatan dana alokasi khusus sebesar 15 persen, diikuti dengan skenario kebijakan 4, yaitu peningkatan dana bagi hasil.
Pada skenario kebijakan peningkatan DAU (sim 1, 2, dan 3), yang memberikan dampak terhadap PDRB terbesar adalah DAU dengan keberpihakan pada wilayah Timur Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan untuk mendorong pertumbuhan pada daerah-daerah yang relatif belum berkembang melalui tambahan alokasi anggaran pusat dapat menjadi alternatif kebijakan untuk mendorong perecepatan pemerataan pembangunan antara wilaya Barat dan Timur Indonesia. Peningkatan DAU yang disertai dengan peningkatan pajak daerah akan mengurangi dampak positif DAU terhadap peningkatan PDRB. Artinya peningkatan pajak daerah itu sendiri akan membawa dampak negatif terhadap perekonomian, kecuali pada sektor industri.
Tabel 76. Peramalan Dampak Skenario Kebijakan Peningkatan DAU, DBH, dan DAK terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Vaiabel
Nilai Dasar
Perubahan (%)
Sim 1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5
Jml PNS 175 742 0.65 0.99 0.82 0.18 0.02 PDB Tan Pang Horti 5 895 826 0.27 0.15 0.33 0.14 0.30 PDB Perkebun 1 873 393 1.51 0.87 1.89 0.78 1.69 PDB Pertanian 8 834 755 0.55 0.32 0.68 0.28 0.61 PDB Industri 22 860 342 0.03 0.08 0.04 0.21 1.76 PDB Jasa 15 100 542 0.94 0.55 1.18 0.57 -0.03 PDB Pang hort, Bun 7 769 219 0.57 0.33 0.71 0.29 0.63 PDB Non Pert 48 820 535 0.31 0.20 0.38 0.27 0.81 PDB Total 57 655 290 0.34 0.22 0.43 0.27 0.78 Keterangan:
Sim 1 : Dana Alokasi Umum Naik 10 persen
Sim 2 : Dana Alokasi Umum dan Pajak Daerah Naik 10 persen
Sim 3 : Dana Alokasi Umum untuk Jawa dan Sumatera Naik 5% dan Lainnya naik 15% Sim 4 : Dana Bagi Hasil SD dan Pajak Naik 10 persen
Sim 5 : Dana Alokasi Khusus Naik 15 persen
Pada skenario keempat, dengan peningkatan dana bagi hasil sebesar 10 persen, yang sebenarnya secara nominal perubahannya lebih jauh lebih kecil dibandingkan peningkatan DAU 10 persen, namun memberikan dampak terhadap pertumbuhan perekonomian selama lima tahun kedepan yang relatif
besar, mampu menyaingi peningkatan DAU. Pada sisi lain, sebagaimana diulas sebelumnya bahwa peningkatan bagi hasil akan meningkatkan performa keuangan daerah, yaitu meningkatnya kapasitas fiskal sehingga mengurangi ketergantungan fiskal kepada pemerintah pusat.
Relatif rendahnya dampak peningkatan DAU terhadap PDRB pada semua sektor ekonomi disebabkan karena respon pengeluaran daerah terhadap peningkatan DAU lebih dominan pada peningkatan pengeluaran rutin dibandingkan dengan alokasi pembangunan, sehingga dampak multiplier terhadap peningkatan kinerja pereknomian menjadi rendah. Hal ini yang menjadi salah satu faktor rendahnya efektivitas pengeluaran pemerintah daerah. Untuk itu, disamping aspek penerimaan daerah yang diperhatikan dalam rangka mendukung kapasitas fiskal daerah untuk menjalankan tugas pemerintah daerah dengan baik, aspek kualitas pengeluaran daerah juga perlu mendapat perhatian. Kecenderungan pemerintah yang lebih mengutamakan meningkatkan kesejahteraan pegawai daerah dengan tunjangan daerah dan juga fasilitas pejabat daerah akan menyebabkan pemborosan pengeluaran dan ketidak efektifan pengeluaran daerah dalam mendorong ekonomi daerah.
Untuk melihat dampak dari peningkatan kualitas pengeluaran, pada skenario kebijakan berikutnya disimulasikan adanya realokasi pengeluaran rutin sebesar 10 persen ke pengeluaran pembangunan pada semua sektor ekonomi secara merata (skenario 6). Meskipun tanpa menambah anggaran daerah,dengan realokasi pengeluaran rutin ternyata akan positif terhadap PDRB, bahkan lebih besar dari skenario peningkatan DAU dan bagi hasil, ataupun DAK. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan penerimaan daerah baik melalui peningkatan pendapatan asli daerah maupun peningkatan dana perimbangan, bila tidak diikuti dengan peningkatan kualitas belanja daerah, maka dampaknya akan relatif kecil terhadap perekonomian.
Dari hasil ini, dapat dimengerti mengapa peningkatan pajak daerah akan berdampak negatif terhadap perekonomian daerah, yaitu lebih dikarenakan penggunaan anggaran yang kurang efektif mendorong perekonomian sehingga dampak negatif pajak daerah (crowding out) tidak dapat dikompensasi oleh pertumbuhan ekonomi akibat peningkatan pengeluaran pemerintah daerah. Dengan demikian, bila anggaran dari hasil peningkatan pajak daerah lebih banyak digunakan untuk kegiatan pembangunan maka dampak negatif terhadap perekonomian akan dapat minimum, atau bahkan tidak terjadi. Hasil ini juga
mempertegas bahwa pengeluaran rutin atau dapat disebut sebagai konsumsi pemerintah akan berdampak lebih kecil terhadap perekonomian dibandingkan dengan investasi pemerintah.
Tabel 77 Peramalan Dampak Skenario Kebijakan Realokasi Anggaran Peningkatan Dana Dekonsetrasi terhadap Produk Domestik Regional Bruto
Vaiabel
Nilai Dasar Perubahan (%)
Sim 6 Sim 7 Sim 8 Sim 9
Jml PNS 175 742 -0.05 0.00 0.00 0.00 PDB Tan Pang Horti 5 895 826 0.44 0.26 0.04 0.31 PDB Perkebunan 1 873 393 2.52 0.87 0.25 1.13 PDB Pertanian 8 834 755 0.91 0.43 0.09 0.53 PDB Industri 22 860 342 1.80 0.00 0.00 0.00 PDB Jasa 15 100 542 1.19 0.00 0.00 0.00 PDB Pang hort, Bun 7 769 219 0.95 0.41 0.09 0.51 PDB Non Pert 48 820 535 1.21 0.00 0.00 0.00 PDB Total 57 655 290 1.17 0.07 0.01 0.08 Keterangan:
Sim 6: Realokasi 10 persen anggaran rutin ke anggaran pembangunan semua sektor Sim 7: Dana dekonsentasi Kementan Naik 10 persen
Sim 8: Anggaran pembangunan daerah pada sektor pertanian naik 10 persen Sim 9: kombinasi simulasi 7& 8
Bila dampak realokasi anggaran runtin ini dilihat lebih detail pada masing- masing sektor, nampak bahwa dengan peningkatan persentase yang sama pada alokasi pembangunan, peningkatan PDRB terbesar terjadi pada sub sektor perkebunan dan sektor industri. Secara keseluruhan peningkatan PDRB sektor pertanian lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan sektor non pertanian yaitu 0.91 persen berbanding 1.21 persen. Pertumbuhan sektor pertanian terutama didorong oleh sub sektor perkebunan. Sementara untuk sekton non pertanian, sektor industri secara relatif lebih responsif terhadap peningkatan alokasi anggaran pembangunan daerah.
Peningkatan dana dekonsentrasi pada sektor pertanian (skenario 7) dan peningkatan anggaran pembangunan sektor pertanian (skenario 8), keduanya akan membawa dampak positif terhadap PDRB sektor pertanian maupun PDRB secara total, namun peningkatan pengeluaran anggaran daerah akan memiliki dampak peningkatan PDRB sektor pertanian yang lebih rendah dibandingkan peningkatan dana dekonsentrasi. Hasil ini mengindikasikan bahwa efektivitas pengeluaran pemerintah daerah pada sektor pertanian lebih rendah
dibandingkan dengan dana dekonsentrasi dari Kementan, sebagaimana diuraikan pada bahasan hasil estimasi di atas. Simulasi kombinasi antara peningkatan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan dengan anggaran daerah pada sektor pertanian tentu akan memberikan dampak yang lebih besar lagi.
Gambar 31 menunjukkan dampak berbagai kebijakan terhadap peningkatan PDRB total dari tahun 2013-2017. Nampak bahwa skenario peningkatan pendapatan daerah meskipun berdampak positif terhadap PDRB, namun besarannya relatif kecil.. Secara relatif, peningkatan DAK cenderung memiliki dampak yang lebih tinggi. Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa hal ini ada kaitannya dengan kualitas pengeluaran daerah yang relatif rendah sehingga efektivitas anggaran daerah terhadap pertumbuhan ekonomi juga rendah. Peningkatan PDRB dari peningkatan DAK dapat dipahami, karena alokasi DAK memang secara spesifik untuk program-program pembangunan tertentu, sementara peningkatan DAU dan Bagi hasil, dapat dialokasikan pada pengeluaran rutin. Bahkan respon pengeluaran rutin terhadap peningkatan DAU atau dana bagi hasil lebih besar daripada peningkatan pengeluaran pembangunan.
Gambar 33. Peramalan PDRB dengan Skenario Kebijakan Peningkatan Penerimaan Daerah
Sementara itu, realokasi anggaran rutin menunjukkan dampak yang paling besar terhadap peningkatan PDRB. Gambar 32 menunjukkan simulasi kebijakan pengeluaran anggaran daerah. Peningkatan anggaran sektor pertanian dan dana dekonsentrasi sektor pertanian ataupun kombinasi keduanya akan
51,000,000 53,000,000 55,000,000 57,000,000 59,000,000 61,000,000 63,000,000 65,000,000 2013 2014 2015 2016 2017 R p J u ta
meningkatkan PDRB sektor pertanian, namun dampak terhadap PDRB total relatif kecil, karena pangsa PDRB sektor pertanian relatif kecil dan cenderung menurun.
Gambar 34. Peramalan PDRB dengan Skenario Kebijakan Peningkatan Pengeluaran Daerah
Penyerapan tenaga kerja dipengaruhi oleh PDRB. Dengan demikian, semua skenario kebijakan yang berdampak pada peningkatan PDRB akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Tabel 78 dan 79 menyajikan dampak berbagai skenario kebijakan terhadap penyerapan tenaga kerja dan juga kemiskinan pada lima tahun kedepan. Dampak penyerapan tenaga kerja pada sector pertanian cenderung lebih besar pada skenario peningkatan penerimaan daerah baik dari PAD maupun dari dana perimbangan, meskipun persentase perubahannya relatif kecil, kecuali pada simulasi peningkatan DAK. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan sektor pertanian yang relatif lebih tinggi dibandingkan sektor non pertanian pada berbagai simulasi kebijakan tersebut, dan kecenderungan sektor pertanian bersifat padat karya. Meskipun demikian, dari bahasan sebelumnya, pertumbuhan PDRB sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor industri, namun akan menyerap tenaga jauh lebih besar. Hal ini akan berdampak pada penurunan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian. 50,000,000 52,000,000 54,000,000 56,000,000 58,000,000 60,000,000 62,000,000 64,000,000 66,000,000 2013 2014 2015 2016 2017 R p J u ta
Tabel 78. Peramalan Dampak Skenario Kebijakan Peningkatan DAU, DBH, dan DAK terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Indikator Kesejahteraan Masyarakat
Vaiabel
Nilai Dasar, Perubahan (%)
Sim 1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5
TK tan pangan, horti dan bun
1 418 299 0.20 0.11 0.25 0.10 0.22 TK Peternakan 128 367 0.26 0.15 0.32 0.13 0.27 TK Pertanian 1 566 700 0.20 0.11 0.25 0.10 0.22 TK Industri 437 530 0.01 0.02 0.01 0.06 0.45 TK Jasa 1 001 495 0.06 0.03 0.07 0.03 0.00 TK Total 3 250 587 0.12 0.07 0.14 0.07 0.17 Pengangguran 528 792 -0.71 -0.42 -0.89 -0.42 -1.02 Indek Pemb Manusia 72.03 0.02 0.02 0.02 0.01 0.02 Jml Pend miskin 881 -0.18 -0.11 -0.23 -0.11 -0.26 P1 Kemiskinan 2.03 -0.15 -0.09 -0.19 -0.09 -0.20 P1 Kemiskinan 0.59 -0.20 -0.12 -0.25 -0.12 -0.26 Keterangan:
Sim 1 : Dana Alokasi Umum Naik 10 persen
Sim 2 : Dana Alokasi Umum dan Pajak Daerah Naik 10 persen
Sim 3 : Dana Alokasi Umum untuk Jawa dan Sumatera Naik 5% dan Lainnya naik 15% Sim 4 : Dana Bagi Hasil SD dan Pajak Naik 10 persen
Sim 5 : Dana Alokasi Khusus Naik 15 persen
Sejalan dengan dampak peningkatan terhadap PDRB, simulasi realokasi pengeluaran rutin ke pembangunan memiliki dampak terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja paling besar, diikuti dengan simulasi peningkatan DAK. Demikian halnya dengan dampak alokasi pengeluaran pemerintah daerah pada sektor pertanian yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan dalam presentase yang sama. Dampak terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja sejalan dengan dampak terhadap pengurangan jumlah pengangguran. Dengan demikian simulasi kebijakan yang meningkatkan penyerapan tenaga kerja paling tinggi, dengan sendirinya akan mampu mengurangi pengangguran paling besar.
Dari Tabel 78 dan 79 juga nampak bahwa indeks pembangunan manusia akan meningkat relatif sama pada semua skenario kebijakan, kecuali pada skenario 6 yaitu realokasi pengeluaran rutin ke pembangunan yang akan memberikan dampak pada peningkatan IPM yang relatif lebih besar dibandingkan dengan skenario lainnya. Terkait dengan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan berdampak positif terhadap pengurangan jumlah penduduk miskin. Sejalan dengan dampak terhadap jumlah
penduduk miskin, kondisi kemiskinan yang diindikasikan dengan tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan juga semakin membaik dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan demikian secara umum simulasi yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja lebih tinggi akan mampu mengurangi jumlah penduduk miskin paling besar dan juga memperbaiki kondisi kemiskinan, dengan menurunnya tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.
Secara khusus, pertumbuhan ekonomi pada sektor pertanian ternyata mampu memberikan dampak pengurangan kemiskinan lebih besar. Hal ini nampak dari simulasi kebijakan 7, 8, 9, yang secara khusus mendorong pertumbuhan sektor pertanian, ternyata mampu menurunkan jumlah penduduk miskin relatif besar, meskipun kontribusi terhadap pertumbuhan PDRB secara keseluruhan relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang berpihak pada sektor pertanian, disamping akan meningkatkan pertubuhan ekonomi sebagaimana diuraikan di atas, juga akan mempercepat pengentasan kemiskinan, karena sebagian penduduk miskin berada pada sektor pertanian. Tabel 79. Peramalan Dampak Skenario Kebijakan Realokasi Anggaran
Peningkatan Dana Dekonsetrasi terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Indikator Kesejahteraan Masyarakat
Vaiabel
Nilai Dasar tahun
Perubahan (%)
Sim 6 Sim 7 Sim 8 Sim 9 TK tan pangan,
horti dan bun
1 418 299 0.42 0.20 0.04 0.24 TK Peternakan 128 367 0.54 0.68 0.05 0.73 TK Pertanian 1 566 700 0.43 0.24 0.04 0.28 TK Industri 437 530 0.50 0.00 0.00 0.00 TK Jasa 1 001 495 0.08 0.00 0.00 0.00 TK Total 3 250 587 0.30 0.11 0.02 0.14 Penganggur 528 792 -1.82 -0.70 -0.12 -0.83 Indek Pemb Manusia 72.03 0.05 0.00 0.00 0.00 Jml Pend miskin 881 -0.53 -0.22 -0.04 -0.26 P1 Kemiskinan 2.03 -0.43 -0.19 -0.03 -0.23 P2 kemiskinan 0.59 -0.57 -0.25 -0.04 -0.30 Keterangan:
Sim 6: Realokasi 10 persen anggaran rutin ke anggaran pembangunan semua sektor Sim 7: Dana dekonsentasi Kementan Naik 10 persen
Sim 8: Anggaran pembangunan daerah pada sektor pertanian naik 10 persen Sim 9: kombinasi simulasi 7& 8
Pada Gambar 33 dan 34 ditunjukkan secara lebih terinci dinamika ramalan dampak berbagai skenario kebijakan terhadap indikator indeks pembangunan manusia. Indeks pembangunan manusia nampak ada kecenderungan peningkatan sampai tahun 2017. Namun demikian berbagai simulasi peningkatan pendapatan daerah relatif kecil mendorong indeks pembangunan manusia. Berbagai skenario kebijakan peningkatan pendapatan daerah dampaknya relatif sama terhadap perubahan indeks pembangunan manusia. Hanya simulasi ke 6, yaitu realokasi pengeluaran rutin ke pembangunan yang menghasilkan dampak relatif besar. Hal ini menunjukkan perbaikan kualitas pengeluaran pemerintah daerah lebih memiliki dampak terhadap ekonomi dan kemiskinan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Gambar 35 Peramalan IPM dengan Skenario Kebijakan Peningkatan Penerimaan Daerah
Gambar 36 Peramalan IPM dengan Skenario Kebijakan Pengeluaran Daerah
71.80 71.85 71.90 71.95 72.00 72.05 72.10 72.15 72.20 72.25 72.30 2013 2014 2015 2016 2017
Dasar Sim1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5
71.80 71.85 71.90 71.95 72.00 72.05 72.10 72.15 72.20 72.25 72.30 2013 2014 2015 2016 2017
Pada Gambar 35 nampak bahwa jumlah penduduk miskin akan cenderung menurun. Dengan kebijakan tertentu, penurunan jumlah penduduk miskin akan relatif lebih besar. Penigkatan DAK akan menghasilkan dampak terhadap penurunan jumlah penduduk miskin lebih besar dibandingkan dengan simulasi penerimaan daerah lainnya. Realokasi anggaran rutin akan memberikan dampak paling besar terhadap penurunan jumlah penduduk miskin. Keberpihakan kepada pembangunan pertanian juga akan memberikan dampak pengurangan kemiskinan lebih besar.
Gambar 37 Peramalan Jumlah Penduduk Miskin dengan Skenario Kebijakan Peningkatan Penerimaan Daerah
Gambar 38 Peramalan Jumlah Penduduk Miskin dengan Skenario Kebijakan Pengeluaran Daerah 850 860 870 880 890 900 910 2013 2014 2015 2016 2017 1 0 0 0 o ra n g
Dasar Sim1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5
850 860 870 880 890 900 910 2013 2014 2015 2016 2017 1 0 0 0 o ra n g