• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

Penelitian ini berjudul Analisis Gaya Bahasa Najwa Shihab dalam Wawancara Ekslusif bersama Presiden Jokowi “Jokowi Diuji Pandemi” di Youtube Tahun 2020 (Kajian Stilistika Pragmatik). Penelitian ini mengkaji sesuai dengan rumusan masalah peneliti adalah wujud gaya bahasa dan makna pragmatik terhadap tuturan Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi. Sumber data pada penelitian ini berupa tuturan yang terdapat pada acara salah satu Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi. Selain itu, Alamat link pada acara Najwa Shihab https://www.youtube.com/watch?v=rqCUk4UyFeg dan peneliti mengunduh pada tanggal 13 Mei 2020. Dalam acara Najwa terdapat video ini menyajikan

52

gaya bahasa yang digunakan oleh Najwa Shihab saat berwawancara bersama Presiden Jokowi yang bertema “Jokowi Diuji Pandemi”. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tuturan berupa kalimat dialog percakapan antara Najwa Shihab bersama Presiden Jokowi yang mengandung aneka jenis majas atau gaya bahasa. Data penelitian ini didapatkan melalui metode teknik catat dan metode simak. Peneliti melakukan menyimak suatu tuturan dari video yang telah diunduh tersebut, tuturannya dibuatkan dengan menggunakan transkip data tuturan percakapan. Kemudian transkip data tersebut dianalisis kalimat yang diduga atau dicurigai yang mengandung aneka jenis majas. Teknik mencatat tuturan yang dilakukan oleh peneliti sekitar 2 bulan dari tanggal 29 Juni –25 Agustus 2020.

Data yang diperoleh sekaligus terkumpul peneliti kurang lebih 74 tuturan yang berasal dari 5 orang terlibat dalam percakapan wawancara eksklusif bersama Najwa Shihab serta bapak Presiden Jokowi, menteri sosial dan dua orang korban PHK, yaitu bapak Miptah dan ibu Neneng. Data penelitian ini berupa frasa, klausa, dan kalimat yang mengandung ungkapan majas perbandingan, majas pertautan, majas pertentangan, dan majas perulangan dalam tuturan percakapan Najwa Shihab saat wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi. Dalam penelitian ini, peneliti memilih pendapat Tarigan sebagai teori jenis majas/ gaya bahasa dalam penelitian tersebut. Jenis majas menurut Moeliono (dalam Laksana, 2010:6) terdapat empat aneka macam majas, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas pertautan, dan majas perulangan. Pertama, Majas perbandingan dapat

diungkapkan menjadi beberapa gaya bahasa, seperti gaya perumpamaan, gaya metafora, gaya personifikasi, gaya alegori, antitesis, pleonasme dan tautologi, koreksi atau epanortosis dsb. Kedua, Majas pertentangan dapat diungkapkan menjadi beberapa gaya bahasa, seperti gaya hiperbola, gaya litotes, gaya ironi, gaya oksimoron, gaya paronomasia, gaya paralipsis, gaya innuendo, gaya antifasis, gaya klimaks, gaya antiklimaks, gaya apostrof, gaya apofasis, gaya zeugma dsb. Ketiga, Majas pertautan dapat diungkapkan menjadi beberapa gaya bahasa, seperti gaya metonimia, gaya sinekdoke, gaya alusi, gaya ellipsis, gaya eufemisme, gaya eponim, gaya epitet, gaya erotesis atau pertanyaan retoris, gaya asidenton, gaya polisidenton dsb. Keempat, Majas perulangan dapat diungkapkan menjadi beberapa gaya bahasa, seperti gaya anafora, gaya asonansi, gaya mesodiplosis, epifora dsb.

Sebaliknya wujud tuturan gaya bahasa Najwa Shihab saat wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi sebagai dasar pengklasifikasian data, ialah gaya asindeton, gaya metafora, gaya polisindeton, gaya innuendo, gaya koreksio atau epanortosis, gaya paronomasia, gaya asonansi, gaya pleonasme dan tautologi, gaya prolepsis atau antisipasi, gaya antiklimaks, gaya apofasis atau preterisio, gaya litotes, gaya anafora, gaya antitesis, gaya erotesis, gaya sinekdoke, gaya perumpaman atau simile, gaya klimaks, gaya mesodilopsis, gaya epifora, dan gaya eufemisme. Selain itu, makna pragmatik tuturan Najwa Shihab saat wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi yang muncul di antaranya ialah menggambarkan, menanyakan, menegaskan, menjelaskan, mengkritik, menginformasikan, menunjukkan, memberikan

pujian, memberitahukan, menyatakan, memperbaiki kata, menyetujui, menasehati, perintah, mendengarkan. Data yang diperoleh sekaligus terkumpul peneliti sekurang-kurang 74 data tuturan yang telah diklasifikasi dalam wujud gaya bahasa dan makna pragmatik yang digunakan Najwa Shihab saat wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi.

4.2 Analisis Data

Pada sub bab ini, peneliti akan membahas hasil analisis gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi “Jokowi Diuji Pandemi” di youtube tahun 2020 (Kajian Stilistika Pragmatik). Analisis gaya bahasa yang dilakukan untuk menemukan gaya bahasa berdasarkan konteksnya dalam pragmatik. Pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang mewadahi dan melatarbelakangi bahasa itu Rahardi (2005:49).

Berdasarkan penjelasan di atas, hal yang akan dipaparkan dari peneliti pada bagian analisis adalah gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi “Jokowi Diuji Pandemi” di youtube tahun 2020 (kajian stilistika pragmatik) sehingga menginterprestasikan makna oleh peneliti sendiri yang menggunakan gaya bahasa jenis tertentu dalam video wawancara eksklusif. Analisis lengkapnya akan dilampirkan sebagai berikut.

4.2.1 Wujud Gaya Bahasa

Dalam gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi “Jokowi Diuji Pandemi” di youtube, peneliti menemukan kurang lebih sepuluh data dari macam majas atau gaya bahasa berdasarkan konteksnya.

1) Gaya Bahasa Asindeton

Dalam gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi, peneliti menemukan kalimat yang mengandung gaya bahasa asidenton yang dianalisis berjumlah 16 buah. Berikut ini akan dipaparkan 2 dari data tersebut.

No Data Tuturan

A : “Bertanya soal alasan pilihan kebijakan PSBB dibanding lockdown, terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang harus dibiayai pemerintah, dan efektivitas untuk mengurangi jumlah korban COVID?”

B : “Karantina wilayah itu sama dengan lockdown, artinya masyarakat harus hanya di rumah, bus, taksi, ojek, pesawat, kereta, KRL, semua berhenti. Di Jakarta saja per hari membutuhkan 550 M, kalau Jabodetabek itu 3 kali lipat.”

1A

Konteks :Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Jokowi (59 tahun) ditanya mengenai alasan pilihan kebijakan PSBB dibanding lockdown.

No Data Tuturan

B : "Perlu saya sampaikan, sekarang yang namanya APD, PCR, rapid test, masker, semua jadi rebutan 213 negara yang terpapar.

Kebijakan yang terjadi secara grusah-grusuh semua ingin mendapatkan.”

1B

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut diungkapkan ketika Jokowi (59 tahun) ditanya mengenai APD, PCR, rapid test, masker.

Data tuturan (1A), kalimat yang mengandung gaya bahasa asindeton adalah karantina wilayah pekerjaan maupun belajar secara online, bus, taksi, ojek, pesawat, kereta, KRL, semua berhenti. Kalimat ini adalah gaya bahasa adanya tanda koma (,) yang digunakan sebagai penjedaan antar kalimat, tetapi penggunaan tanda koma dapat ditemukan dari perkataan yang disampaikan oleh Bapak Jokowi saat ditanyakan Najwa. Alasan Bapak Jokowi menghentikan sementara waktu seperti sama dengan lockdown yang artinya aktivitas masyarakat melakukannya hanya di rumah serta transportasi kendaraan semua berhenti juga. Bahkan untuk Jakarta saja bisa mencapai per-harinya membutuhkan 550 miliaran, sedangkan kalau untuk Jabodetabek itu juga bisa 3 kali lipat dengan Jakarta. Gaya bahasa asidenton yang tidak dihubungkan dengan kata sambung, tetapi diberikan dengan tanda koma.

Asindeton adalah suatu gaya yang bersifat padat dan mampat dimana beberapa kata yang sederajat berurutan atau klausa-klausa yang sederajat, tidak dihubungkan dengan kata sambung Keraf (1984:131).

Data tuturan (1B), kalimat yang mengandung gaya bahasa asindeton adalah sekarang yang namanya APD, PCR, rapid test, masker. Kalimat di atas, terdapat penggunaan tanda koma (,) yang digunakan sebagai penjedaan antar kalimat, tetapi penggunaan tanda koma dapat ditemukan dari perkataan yang disampaikan oleh Bapak Jokowi saat ditanyakan oleh Najwa sendiri.

Penyampaian dari Bapak Jokowi tersebut, yakni perlu saya sampaikan sekarang dengan adanya muncul virus berbahaya ini menjadi rebutan dari 213 negara bahkan ada negara yang kekurangan. Semua dari 213 negara sangat

memerlukan peralatan alat-alat medis guna untuk membantu para dokter dalam membasmi virus corona ini seperti APD, PCR, Rapid Test, masker.

Semua negara ingin mendapatkannya alat tersebut maka dari itu negara Indonesia sendiri sedang mengupayakan untuk menemukan alat tersebut.

Selain itu juga, Bapak jokowi sering menyampaikan kepada masyarakat untuk terus melakukan 3M, yaitu selalu memakai masker, selalu mencuci tangan dengan air mengalir pakai sabun, dan jaga jarak dengan yang lain.

2) Gaya Bahasa Metafora

Dalam gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi, peneliti menemukan kalimat yang mengandung gaya bahasa metafora yang dianalisis berjumlah 1 buah. Berikut ini akan dipaparkan 1 dari data tersebut.

No Data Tuturan

A : “Corona jelas batu ujian bagi kepala negara, bagaimanakah kepala negara menyikapinya?”

2A

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Najwa (43) selaku pembawa acara menanyakan mengenai keadaan yang dihadapi oleh kepala negara dalam menangani virus bahaya tersebut.

Data tuturan (2A), kalimat yang mengandung gaya bahasa metafora adalah “Corona jelas batu ujian bagi kepala negara, bagaimanakah kepala negara menyikapinya?”. Ungkapan batu ujian pada kutipan di atas mengandung perbandingan dua hal yang berbeda secara implisit yaitu „batu‟

dengan ujian‟. Batu adalah benda keras dan padat yg berasal dari bumi atau

planet lain, tetapi bukan logam, sedangkan ujian adalah sesuatu yang dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan, hasil belajar) ataupun bisa dikatakan juga sebagai pencobaan. Ungkapan batu ujian berarti menggambarkan manusia mengalami keadaan yang musibah atau cobaan.

Gaya bahasa metafora adalah pemakaian kata-kata buka arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan Poerwadarminta (1976:648)

3) Gaya Bahasa Polisindeton

Dalam gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi, peneliti menemukan kalimat yang mengandung gaya bahasa polisindeton yang dianalisis berjumlah 18 buah. Berikut ini akan dipaparkan 2 dari data tersebut.

No Data Tuturan

A : “Bapak saya ingin bertanya, bagaimana evaluasi bapak Presiden atas kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar di sejumlah wilayah?”

B : “Ya. Saya melihat di lapangan, pasar masih ramai kemudian saya kemarin berkeliling ke Jakarta bagian utara terminal masih ramai. Di Bogor juga mirip-mirip sama. Tetapi yang penting aktivitas bisa dilakukan, jaga jarak, physical dan social distancing. Pakai masker dan jauhi kerumunan itu penting sekali. Jangan lupa setiap kegiatan apapun, dan habis itu cuci tangan. Saya sampaikan berulang-ulang.”

3A

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara bertanya kepada Bapak Jokowi (59 tahun) mengenai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar di sejumlah wilayah

No Data Tuturan

A : kerapkali alasan yang diungkapkan oleh mereka yang tidak bisa berada dirumah saja pak. Mereka harus keluar untuk mencari nafkah jadi menjadi seperti simalakama keluar kemungkinan terkena corona tetapi dalam mereka tidak bisa mencari penghasilan sehingga tidak bisa makan.

B : “Itu memang pilihan yang semuanya tidak enak dan kita semuanya juga harus menyadari. Bahwa di luar itu masih banyak buruh harian, pekerja harian, pedagang-pedagang, asongan pedagang dan memikul yang hidupnya harian. Ini yang harus menjadi hitungan dan kalkulasi. Kita jangan sampai kita menyelesaikan ingin menyelesaikan sebuah masalah tapi muncul masalah baru yang lain yang mungkin bisa lebih besar kalau kita tidak hitung dengan kalkulasi. Soal warga yang terpaksa bekerja di luar rumah.

3B

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Jokowi (59 tahun) ditanya mengenai kita ingin menyelesaikan sebuah masalah tapi muncul masalah baru yang lain yang mungkin bisa lebih besar kalau kita tidak hitung dengan kalkulasi.

Data tuturan (3A), kalimat yang mengandung gaya bahasa polisindeton dengan kata-kata penghubung (dan) pada kalimat Tetapi yang penting aktivitas bisa dilakukan, jaga jarak, physical dan social distancing. Pakai masker dan jauhi kerumunan itu penting sekali. Jangan lupa setiap kegiatan apapun, dan habis itu cuci tangan. Penggunaan kata dan digunakan sebagai penghubung kalimat-kalimat yang berurutan antara satu sama lain sehingga semakin memperjelas kata-kata yang diucapkan. Polisindeton adalah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi, yang mengandung kata-kata sejajar dan dihubungan dengan kata-kata penghubung.

Data tuturan (3B), kalimat yang mengandung gaya bahasa polisindeton dengan kata penghubung (dan) yang terletak setelah Itu memang pilihan yang

semuanya tidak enak dan kita semuanya juga harus menyadari. Bahwa di luar itu masih banyak buruh harian, pekerja harian, pedagang-pedagang, asongan pedagang dan memikul yang hidupnya harian. Ini yang harus menjadi hitungan dan kalkulasi. Penggunaan kata (dan) digunakan sebagai penghubung kalimat-kalimat yang berurutan antara satu sama lain sehingga memperjelas kata-kata yang diucapkan. Gaya bahasa polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asidenton. Beberapa kata, frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung Keraf (1984:131).

4) Gaya Bahasa Innuendo

Dalam gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi, peneliti menemukan kalimat yang mengandung gaya bahasa innuendo yang dianalisis berjumlah 6 buah. Berikut ini akan dipaparkan 2 dari data tersebut.

No Data Tuturan

A : “Imbauan itu sudah disampaikan jauh-jauh hari kampanye intensif soal bagaimana harus di rumah saja, belajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah. Tetapi dalam praktiknya, sekedar imbauan tidak cukup. Apakah ada instrumen lain yang akan digunakan oleh pemerintah agar PSBB ini efektif?

B : “Instrumen di lapangan yang kita gunakan sudah TNI dan Polri sudah awal menegur dalam transisi, memberi tahu. Tetapi ini kalau kita anggap masih belum cukup ya mungkin ada step berikutnya. Soal langkah lebih tegas dari sekedar imbauan, termasuk sanksi pidana.”

4A

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Najwa (43 tahun) bertanya kepada Bapak Jokowi (59

tahun) mengenai instrument yang digunakan oleh pemerintah supaya PSBB berjalan efektif dengan kegiatan aktivitas belajar daring, work from home (wfh) maupun ibadah secara daring.

No Data Tuturan

A : “Apakah sanksi itu sampai sejauh kurungan dan denda seperti diatur dalam UU Karantina Kesehatan?

B : “Iya. Kalau nanti dalam sosialisasi kita anggap sudah cukup dan di lapangan masih belum ada perbaikan, bisa saja kita kan masuk ke sana (sanksi kurungan dan denda).”

4B

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara bertanya kepada Bapak Jokowi (59 tahun) mengenai sanksi kurungan dan denda yang diatur dalam UU Karantina Kesehatan.

Data tuturan (4A), kalimat yang mengandung gaya bahasa innuendo adalah Tetapi ini kalau kita anggap masih belum cukup ya mungkin ada step berikutnya. Innuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya Keraf (1984:144). Artinya, gaya bahasa ini menciptakan ungkapan yang mengecilkan kenyataan yang sebenarnya dimaksud. Innuendo termasuk gaya bahasa yang unik karena mengecilkan fakta dan tidak malah melebih-lebihkannya. Tuturan di atas dapat disimpulkan bahwa dari tuturan itu terlihat adanya sindiran ataupun kritik secara halus atas jawaban yang disampaikan oleh Bapak Jokowi terkait pertanyaan dari Najwa tentang instrumen lain yang akan digunakan oleh pemerintah agar PSBB efektif. Pada dasarnya Bapak Jokowi sudah memberikan instrumen kepada pemerintah secara langsung di lapangan, yang kita gunakan telah bersangkutan oleh TNI dan Polri dengan di awal-awal sudah menegur dalam transisi. Ibarat pemerintah sudah memberi tahu kepada

masyarakat. Tetapi kalau kita anggap masih belum cukup, iya mungkin ada step berikutnya. Soal langkah lebih tegas dari sekedar imbauan, termasuk adanya sanksi pidana yang berdasarkan pelanggarannya.

Data tuturan (4B), kalimat yang mengandung gaya bahasa innuendo adalah kalau nanti dalam sosialisasi kita anggap sudah cukup dan di lapangan masih belum ada perbaikan merupakan bahwa dari tuturan itu terlihat adanya sindiran ataupun kritik secara halus dari jawaban tuturan Bapak Jokowi terkait pertanyaan dari Najwa tentang apakah itu sampai sejauh kurungan dan denda yang diatur dalam UU karantina kesehatan. Dapat ditegaskan penyampaian jawaban dari Bapak Jokowi bahwa iya sampai sejauh ini ia memberikan sanksi yang sudah diatur dalam UU karantina kesehatan, kasarannya jika ada masyarakat yang melanggarnya akan mendapatkan sanksi tertentu. Kalau nanti kita dalam bersosialisasikan dengan tiap-tiap daerah, jika sekiranya kita anggap sudah cukup tetapi realitas di lapangan terlihat masih belum ada perbaikan segera mungkin bisa saja kita kan masuk arah sana, yaitu sanksi kurungan dan denda. Gaya bahasa Innuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Innuendo termasuk gaya bahasa yang unik karena mengecilkan fakta dan tidak malah melebih-lebihkannya Keraf (1984:144).

5) Gaya Bahasa Koreksi atau Epanortosis

Dalam gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi, peneliti menemukan kalimat yang mengandung gaya bahasa koreksio atau epanortosis yang dianalisis berjumlah 4 buah. Berikut ini akan dipaparkan 2 dari data tersebut.

No Data Tuturan

A : “Jadi apakah karena hitungan-hitungan itu, budget kita tidak menjamin kebutuhan hidup rakyatnya, maka pilihan karantina wilayah tidak diambil?"

B : “Bukan masalah budget. Kita juga belajar dari negara lain apa lockdown itu berhasil menyelesaikan masalah, kan tidak. Coba tunjukkan negara mana yang berhasil melakukan lockdown dan menghentikan masalah ini, nggak ada menurut saya.”

5A

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Jokowi (59 tahun) ditanya mengenai budget kita tidak menjamin kebutuhan hidup rakyatnya sedangkan pilihan karantina wilayah saja tidak diambil.

No Data Tuturan

A : “Karenanya sangat penting koordinasi dan memastikan efektivitas kebijakan-kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh presiden. Saya ingin meminta tanggapan bapak soal yang sempat ramai, perbedaan permenkes dan pergub DKI? Ojek online tidak boleh bawa penumpang hanya boleh bawa barang.

Kemudian keluar peraturan Kemenhub, boleh bawa penumpang.

Sempat simpang siur tentang ini. Apakah presiden sempat mengamati atau bahkan menegur?”

B : “Saya undang. Menteri saya undang dan disampaikan bahwa kenapa ojol dibolehkan dari Kementerian Perhubungan, jangan sampai menimbulkan permasalahan baru,” jawab jokowi soal simpang siur aturan ojek daring. Menteri menyampaikan kepada saya bahwa (ojol) tidak dilarang pun mereka sudah tidak ada penumpang, kalau dilarang justru akan menjadi masalah yang baru.”

5B

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Najwa (43 tahun) bertanya kepada Jokowi mengenai

kebijakan-kebijakan peraturan kemenhub ojek online.

Data tuturan (5A), kalimat yang mengandung gaya bahasa koreksio atau epanortosis dalam kutipan terletak pada kata tidak dan nggak. Pada saat mengucapkan di awal kata tidak sudah tepat tetapi di akhir kalimat ia keliru mengucapkan kata nggak menyadari kesalahanya dalam waktu bersamaan.

Dalam berbicara atau menulis, ada kalanya kita ingin menegaskan sesuatu, tetapi kita memperbaikinya atau mengoreksinya kembali. Gaya bahasa seperti ini biasa disebut koreksio atau epanortosis. Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaiki Keraf (1984:135).

Data tuturan (5B), kalimat yang mengandung gaya bahasa koreksio atau epanortosis dalam kutipan terletak pada kata ojol dan ojek. Saat mengucapkan kata ojol Bapak Jokowi menyadari kesalahannya itu dan memperbaikinya menjadi kata ojek dalam waktu yang bersamaan. Bila Bapak Jokowi tidak memperbaiki kata tersebut, pendengar tentu tidak akan memahami apa yang sebenarnya arti dari yang dituturkan oleh Bapak Jokowi. Kata ojek orang pada umumnya mengatakan ojek ialah sepeda motor yang ditambangkan dengan cara memboncengkan penumpang atau penyewanya sedangkan ojol menjadikan singkatan dari ojek online. Dalam berbicara atau menulis, ada kalanya kita ingin menegaskan sesuatu, tetapi kemudian kita memperbaikinya atau mengoreksinya kembali. Gaya bahasa seperti ini biasa disebut koreksio atau epanortosis. Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud

mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaiki Keraf (1984:135).

6) Gaya Bahasa Klimaks

Dalam gaya bahasa Najwa Shihab dalam wawancara eksklusif bersama Presiden Jokowi, peneliti menemukan kalimat yang mengandung gaya bahasa klimaks yang dianalisis berjumlah 1 buah. Berikut ini akan dipaparkan 1 dari data tersebut.

No Data Tuturan

B : “Saya ingin optimis, Juli sudah masuk pada posisi ringan.

Sehingga kita harapkan pada bulan Mei, betul-betul pada puncaknya, kemudian turun. Tetapi dengan catatan, masyarakat memiliki kedisiplinan yang kuat. Itu, kuncinya di situ.”

6A

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut diungkapkan ketika Jokowi (59 tahun) ditanya mengenai optimis bahwa Mei adalah puncak dan Juli

Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut diungkapkan ketika Jokowi (59 tahun) ditanya mengenai optimis bahwa Mei adalah puncak dan Juli

Dokumen terkait