BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4. Makna Menjelaskan
Makna pragmatik „menjelaskan‟ yang muncul dari Najwa Shihab dalam Wawancara Eksklusif bersama Presiden Jokowi “Jokowi Diuji Pandemi” di Youtube tahun 2020 (Kajian Stilistika Pragmatik). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjabarkan bahwa kata menjelaskan adalah menerangkan atau menguraikan secara terang tentang sesuatu hal yang terjadi kepada pendengarnya. Berikut ini adalah paparan data yang mengandung makna menjelaskan sebagai berikut.
No Data Tuturan
A : “Bertanya soal alasan pilihan kebijakan PSBB dibanding lockdown, terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang harus dibiayai pemerintah, dan efektivitas untuk mengurangi jumlah korban COVID?”
B : “Karantina wilayah itu sama dengan lockdown, artinya masyarakat harus hanya di rumah, bus, taksi, ojek, pesawat, kereta, KRL, semua berhenti. Di Jakarta saja per hari membutuhkan 550 M, kalau Jabodetabek itu 3 kali lipat.”
6
Konteks :Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata
Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Jokowi (59 tahun) ditanya mengenai alasan pilihan kebijakan PSBB dibanding lockdown.
Data (6) di atas adalah tuturan bergaya bahasa mengandung asindeton yang memiliki makna menjelaskan. Hal tersebut terlihat dari tuturan dalam menjelaskan bahwa masyarakat harus hanya di rumah, bus, taksi, ojek, pesawat, kereta, KRL, semua berhenti. Makna dari tuturan pernyataan penutur A menjelaskan mengenai kebijakan psbb yang sudah berlakukan sejumlah wilayah tetapi masyarakat juga diminta harus displin mematuhi protokol kesehatan. Jadi, makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar.
No Data Tuturan
A : “Salah satu yang menjadi sorotan tumpang tindih kebijakan, ego sektoral yang diakui oleh Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo. Wewenang sudah diatur dalam kepres tapi dalam prakteknya di lapangan tumpang tindih dan tidak efektif.”
B : “Tidak ada hal yang sempurna. Saya kira yang selalu saya evaluasi mana yang kurang dan saya perintahkan untuk segera diperbaiki. Plus minus mana yang baik itu yang kita pakai.”
7
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Najwa (43 tahun) bertanya kepada Jokowi mengenai tumpang tindih kebijakan, ego sektoral yang diakui oleh Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo dalam prakteknya di lapangan tidak efektif.
Data (7) di atas adalah tuturan bergaya bahasa mengandung asindeton yang memiliki makna menjelaskan. Hal tersebut terlihat dari tuturan dalam menjelaskan bahwa Tidak ada hal yang sempurna. Saya kira yang selalu saya
evaluasi mana yang kurang saya perintahkan untuk segera diperbaiki, plus minus mana yang baik itu yang kita pakai. Makna dari tuturan pernyataan penutur penegasan menjelaskan bahwa pelaksanaan keppres terhadap ego sektoral yang dianggap tidak fokus dalam prakteknya di lapangan disertai berjalannya tidak efektif. Jadi, makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar.
No Data Tuturan
A : “Bapak Presiden selama ini melihat pandemi ini dari sudut pandang yang mana? Apa aspek ekonomi yang lebih diprioritaskan atau aspek kesehatan masyarakat?”
B : “Saya kira virus ini sangat berbahaya sehingga yang diutamakan tetap kesehatan. Tetapi antara kesehatan dan ekonomi ini ada relevansinya. Tidak mungkin kita hilangkan salah satunya, tidak mungkin. Hanya yang didahulukan yang mana.”
8
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Najwa (43 tahun) bertanya kepada Jokowi mengenai lebih prioritaskan antara aspek ekonomi atau aspek kesehatan masyarakat.
Data (8) di atas adalah tuturan bergaya bahasa mengandung asindeton yang memiliki makna menjelaskan. Hal tersebut terlihat dari tuturan dalam menjelaskan bahwa masyarakat harus hanya di rumah, bus, taksi, ojek, pesawat, kereta, KRL, semua berhenti. Makna dari tuturan pernyataan penutur menjelaskan mengenai selama masa pandemi ini kepala Negara menekankan pada sudut mana yang lebih diutamakan dari sisi kesehatan atau sisi ekonomi dalam penduduknya. Virus corona barang baru serta sangat berbahaya
sehingga dipilih yang diutamakan terlebih dahulu kesehatan masyarakat ataupun pasien yang terkena Corona tersebut. Antara kesehatan dan ekonomi yang tidak mungkin kita hilangkan salah satunya. Jadi, makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar.
No Data Tuturan
A : “Soal kontroversi mudik yang sempat di awal-awal komunikasi publiknya sempat simpang siur. Sesungguhnya saya bertanya secara langsung, mudik itu diperbolehkan atau dilarang oleh pemerintah?”
B : “Semua kementrian pro dan kontra soal mudik. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Sejak awal sudah saya sampaikan kepada menteri, suatu saat pasti akan saya larang. Bisa saja besok pagi, bisa saja minggu depan, dan pasti akan saya larang.”
9
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di siaran langsung mata Najwa. Tuturan tersebut dilakukan oleh Najwa (43 tahun) selaku pembawa acara dengan Bapak Presiden Jokowi (59 tahun) selaku narasumber. Najwa (43 tahun) bertanya kepada Jokowi mengenai semua kementrian pro dan kontra soal kontroversi mudik. Dilakukan larangan bisa terjadi besok pagi, bisa saja minggu depan.
Data (9) di atas adalah tuturan bergaya bahasa mengandung polisindeton yang memiliki makna menjelaskan. Hal tersebut terlihat dari tuturan dalam menjelaskan bahwa Semua kementrian pro dan kontra soal mudik. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Sejak awal sudah saya sampaikan kepada menteri, suatu saat pasti akan saya larang. Bisa saja besok pagi, bisa saja minggu depan, dan pasti akan saya larang. Makna dari tuturan pernyataan penutur A menanyakan sekaligus menjelaskan pertentangan mengenai persoalan simpang siur terjadi miskomunikasi yang tidak berjalan dengan baik kepada masyarakat, pemerintah memperbolehkan atau
dilarangnya mudik sudah diberlakukan sejumlah wilayah. Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca) Yule (2006:3). Jadi, makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar.