• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Lokasi Penelitian

Dalam dokumen : JENNI FRISKA BR. KARO (Halaman 34-0)

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang terletak pinggir jalan Katabua. SD Negeri 040470 ini memiliki 9 ruangan yang terdiri dari enam ruangan kelas, satu kantor guru, satu ruang olahraga dan satu ruang perpustakaan. Tidak ditemukan tempat sampah pada setiap ruangan, namun hanya ditemukan satu tempat tumpukan sampah sebagai tempat bakaran sampah di tengah lapangan di mana lapangan yang merupakan sarana bermain anak-anak dengan hasil pengamatan anak-anak bermain di lapangan tanpa memakai alas kaki. Menurut pengamatan peneliti, ruangan setiap kelas masih tergolong tidak bersih dan tata kelas yang masih kurang. Selain kelas, ditemukan juga dua ruangan lain yaitu kantin dan kamar mandi. Kamar mandi dapat dikatakan tergolong tidak higienis disebabkan di dalam pengamatan tidak ada ketersediaan air di dalam kamar mandi.

5.1.2 Deskripsi Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 60 orang siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu untuk pemeriksaan anal swab dan 60 orang ayah atau ibu dari anak-anak yang diperiksa tersebut sebagai responden.

a. Orang Tua

Orangtua siswa yang dapat disertakan sebagai responden. Sesuai dengan apa yang tertera pada definisi operasional pada penelitian yaitu orangtua adalah ibu, ayah atau wali anak. Adapun distribusi orang tua berdasarkan jenis kelamin tertera pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Distribusi Orang Tua berdasarkan Jenis Kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.2. berikut ini.

Tabel 5.2. Distribusi Orang Tua berdasarkan Umur

Rentang Umur Responden Frekuensi banyak berumur 31-40 tahun yaitu sebesar 70%. (Tabel 5.2)

Tingkat pendidikan orang tua diklasifikasikan menjadi lima yaitu: SD, SMP, SMA/SMK dan Diploma. Adapun distribusi orang tua berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat dalam Tabel 5.3 berikut.

Tabel 5.3. Distribusi Orang Tua berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Frekuensi (orang) %

SD 22 36,7

SMP 18 30

SMA/SMK 19 31,7

DIPLOMA 1 1,7

60 100

Jenjang pendidikan dari 60 orangtua siswa yang disertakan sebagai responden paling banyak pada tingkat SD yaitu sebanyak 22 orang (36,7%)

Pekerjaan orang tua yang terlibat di dalam penelitian ini terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu petani, wiraswasta dan pedangang. Adapun responden

penelitian berdasarkan pekerjaan orang tua terdistribusi dalam Tabel 5.4. berikut : Tabel 5.4. Distribusi Orang Tua berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Frekuensi (orang) %

Petani 55 91,7 pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 55 orang (91,7%).

Orang tua tersebut kemudian mengisi kuesioner yang berisi pengetahuan diagnosa, gejala klinis, pengobatan, pencegahan enterobiasis. Adapun penilaian terhadap setiap pertanyaan disajikan dalam Tabel 5.5 berikut ini.

Tabel 5.5. Pengetahuan Orang Tua Siswa tentang Enterobiasis

No Pertanyaan

2. Apakah gatal-gatal pada anus adalah gejala yang paling sering terjadi pada infeksi cacing kremi?

53 88,3 7 11,7

3. Apakah pemeriksaan tinja adalah cara terbaik untuk mengetahui seseorang terinfeksi cacing kremi?

14 23,3 46 76,7

4. Apakah cacing kremi dewasa akan bergerak-gerak di sekitar anus?

51 85 9 15

5. Apakah cacing kremi dapat berpindah ke saluran karena tertelan telur cacing kremi melalui tangan, bukan dari udara atau kaki?

48 80 12 20

Apakah infeksi cacing kremi juga akan terjadi pada air yang kotor?

9 15 51 85

9. Apakah bila seseorang terinfeksi cacing kremi, maka anggota keluarga lain juga harus diobati?

31 51,7 29 48,3

10. Apakah pengobatan infeksi cacing kremi perlu diulang dengan pemberian obat anti-cacing dengan waktu 2 minggu setelah pengobatan yang pertama? kuku panjang bisa menghindarkan diri dari infeksi cacing kremi?

48 80 12 20

13. Apakah sakit infeksi cacing kremi selama bertahun-tahun dapat mengakibatkan penurunan berat badan?

18. Apakah sakit infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri?

12 20 48 80

Dari penilaian berdasarkan kuesioner di atas, dapat disimpulkan bahwa paling banyak orang tua menjawab benar pada pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 56 orang (93,3%) dan paling banyak orang tua menjawab salah pada pertanyaan nomor 8 yaitu sebanyak 51 orang (85%)

Setelah dilakukan scoring, pengetahuan responden tentang enterobiasis tersebut dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu: Berpengetahuan Baik, Sedang atau Kurang. Adapun kategori pengetahuan orang tua tentang enterobiasis tertera pada pada Tabel 5.5. di bawah ini.

Tabel 5.6 Kategori Pengetahuan Orang Tua terhadap Enterobiasis

Kategori Pengetahuan n % memiliki pengetahuan „Sedang‟ tentang enterobiasis, yaitu sebanyak 48 orang (80%).

Adapun karakteristik orang tua berdasarkan variabel dan kategori pengetahuan orang tua dapat diringkas dalam Tabel 5.7. berikut ini.

Tabel 5.7. Kategori Pengetahuan Orang Tua berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Kurang Sedang Baik

n % n % n %

31 – 40 tahun 6 14,3 32 76,2 4 9,5

41 – 50 tahun 1 7,1 13 92,9 0 0

>50 tahun 1 50 1 50 0 0

Tingkat Pendidikan

SD 5 22,7 15 68,2 2 9,1

SMP 2 11,1 16 88,9 0 0

SMA / SMK 1 5,3 16 84,2 2 10,5

Diploma 0 0 1 100 0 0

Pekerjaan

Petani 7 12,7 44 80 4 7,3

Wiraswasta 1 25 3 75 0 0

Pedagang 0 0 1 100 0 0

B. Siswa/Siswi SD

Seperti telah diuraikan di atas bahwa subjek pada penelitian ini tidak hanya orangtua siswa melainkan siswa itu sendiri juga disertakan sebagai sampel yang diperiksa apakah menderita enterobiasis atau tidak.

Tabel 5.8. Distribusi Sampel berdasarkan Kelas

Kelas Frekuensi (orang) %

I 6 10.0

II 8 13.3

III 16 26.7

IV 10 16.7

V 8 13.3

VI 12 20.0

Total 60 100

Pada Tabel 5.8 tampak bahwa dari 60 orang siswa yang diperiksa 26,7%

berasal dari kelas III.

Tabel 5.9. Distribusi Sampel berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Sampel Frekuensi (orang) %

Laki-laki 30 50

Perempuan 30 50

60 100

Tabel 5.9. menunjukkan bahwa di SD Negeri 040470 berdasarkan jenis kelamin, jumlah siswa laki-laki yang diperiksa sama dengan jumlah siswa perempuan yang diperiksa yaitu 30 orang siswa laki-laki dan 30 orang siswa perempuan.

Tabel 5.10. Distribusi Sampel berdasarkan Umur Umur Sampel Frekuensi

Tabel 5.10. menunjukkan bahwa siswa berdasarkan umur tersebar dari umur 6 tahun – 14 tahun. Siswa terbanyak yang ikut dalam penelitian berada pada kelompok umur 8 tahun, yaitu sebanyak 14 orang (23,3%)

Adapun angka kejadian enterobiasis (egg positive rate) pada sampel berdasarkan karakteristik siswa dapat dilihat dalam Tabel 5.11. berikut ini.

Tabel 5.11. Angka Kejadian Enterobiasis berdasarkan Karakteristik Siswa

Karakteristik EPR + EPR -

Kelas

I SD 0 0 6 100

II SD 0 0 8 100

III SD 1 5,3 18 94,7

IV SD 1 10 9 90

V SD 1 12,5 7 87,5

VI SD 1 8,3 11 91,7

Pengetahuan Orang Tua

Rendah 0 0 4 100

Sedang 4 8,3 44 91,7

Baik 0 0 8 100

5.1.3. Hasil Analisa Data 5.1.3.1 Deskripsi Hasil Penelitian

Telah dilakukan pemeriksaan anal swab pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu. Sebelum pengambilan sampel telah terlebih dahulu diinformasikan agar jangan membilas daerah anal setelah buang air besar bila belum dilakukan pengambilan sampel terhadap dirinya. Setelah pengambilan sampel dilakukan pemeriksaan mikroskopis di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran USU dan mendapatkan hasil seperti yang tertera pada tabel 5.12.

Tabel 5.12. Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu

Siswa Enterobius vermicularis Jumlah Persentase (%)

Perempuan Positif 0 0

Negatif 30 50

Laki-laki Positif 4 6,7

Negatif 26 43,3

Total 60 100

Penelitian ini memperoleh hasil bahwa dari 60 orang siswa yang diperiksa hanya 4 orang siswa laki-laki yang menderita enterobiasis (6,7%)

Penelitian ini tidak hanya mendapatkan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu tetapi juga mendapatkan adanya parasit lain yang menginfeksi siswa tersebut (tabel 5.11.

Tabel 5.13. Infeksi Parasit Lain pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu

Jenis Parasit banyak ditemukan pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu yaitu sebesar 15%. Untuk ke-3 jenis parasit yang ditemukan dari hasil anal swab siswa seperti tertera pada tabel 5.6. dan tabel 5.10. kejadian enterobiasis masih lebih tinggi daripada infeksi oleh Trichuris trichiura.

5.2. Pembahasan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini memperlihatkan Gambaran Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis. Kuesioner yang dibagikan kepada orang tua terdiri dari 18 pertanyaan yang berisi tentang pengenalan tentang Enterobius vermicularis serta tentang epidemiologi, diagnose, manifestasi klinis, pengobatan dan pencegahan enterobiasis.

Setelah dlakukan penelitian, didapatkan bahwa berdasarkan Tabel 5.5.

bahwa orang tua paling banyak menjawab dengan benar pada pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 56 orang (93,3%), sedangkan orang tua yang paling banyak menjawab pertanyaan yang salah pada pertanyaan nomor 8 yaitu sebanyak 51 orang (85%). Hal ini menunjukkan suatu perbedaan dengan penelitian Kim dkk, 2010 bahwa orang tua terbanyak menjawab perntanyaan dengan benar tentang pencegahan enterobiasis 96,9%, yaitu tentang pentingnya peran mencuci tangan dan kuku yang pendek untuk mencegah infeksi E. vermicularis. Selain itu, orang

tua yang menjawab pertanyaan yang salah paling banyak adalah pertanyaan tentang siklus hidup E. vermicularis (27,5%) yaitu tentang cacing dewasa E.

vermicularis yang dapat bermigrasi ke daerah kelamin.

Hal ini juga menunjukkan bahwa antara tingkat pendidikan orang tua dengan pengetahuan tentang enterobiasis terdistribusi secara bervariasi. (Tabel 5.3)

Hasil ini sesuai dengan teori diungkapkan Green et al. (1999) bahwa kesehatan individu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor perilaku dan faktor di luar perilaku (non perilaku). Faktor perilaku ditentukan oleh faktor predisposisi, faktor pemungkinan dan faktor penguat. Pengetahuan adalah tercakup di dalam faktor predisposisi, sehingga apabila faktor pengetahuan sesorang tersebut dalam batas baik mengenai enterobiasis, maka belum tentu seseorang tersebut absen dari penyakit enterobiasis, bila tidak didukung dari faktor-faktor lainnya.

Selain itu, baik dilihat dari karakteristik responden/ orang tua pada Tabel 5.7., distribusi pengetahuan orang tua paling banyak pada kelas usia 31 – 40 tahun dan berada pada kelompok berpengetahuan “Sedang” yaitu sebanyak 31 orang (76,2%).

Menurut Notoadmojo (2010) umur merupakan karakteristik atau komponen yang berhubungan dengan kematangan seseorang baik fisik maupun mental.

Namun, hal tersebut tidak mutlak, karena faktor intern dan faktor ekstern yang mempengaruhinya. Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikiran sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik. Umur merupakan ciri dari kedewasaan fisik dan kematangan kepribadian yang erat kaitannya dalam pengambilan keputusan.

Menurut penulis, umur mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan, sedangkan tingkat pengetahuan seseorang merupakan multifaktorial, dapat dipengaruhi oleh karena pengalaman dan juga tidak pengalaman. Hal ini didukung oleh pendapat dari Kant (Jalaluddin, 2013) pengetahuan dibagi menjadi dua jenis, yakni “apriori” dan “a-posteriori”. Pengetahuan “apriori” ialah pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman, sedangkan pengetahuan a-posteriori adalah pengetahuan yang terjadi akibat pengalaman.(Aceng Rahmat, 2011:140)

Adapun karakteristik orang tua untuk tingkat pendidikan digambarkan pada Tabel 5.7. Dapat dilihat bahwa pengetahuan orang tua paling baik bukan berada pada tingkat pendidikan tertinggi yaitu Diploma, melainkan berada pada tingkat SMA / SMK yaitu sebanyak 2 orang (10,5%). Hasil penelitian ini memperlihatkan perbedaan dengan responden orang tua yang berada di Kelurahan Padang Bulan Kota Medan yang menunjukkan tingkat pendidikan yang tinggi, yaitu SMA (37,4%) dan Perguruan Tinggi (21,2%)

Menurut penulis, pendidikan orang tua di tempat penelitian berhubungan dengan mata pencaharian yang digeluti oleh orang tua, yaitu bertani. Berdasarkan data Kependudukan Kabupaten Karo bahwa tingkat melek huruf pada tahun 2012 sebesar 98%. Artinya, masih ada beberapa penduduk yang belum mengecap pendidikan yang berpengaruh juga terhadap pengetahuan tentang kesehatan, khususnya enterobiasis. Menurut Kasnodiharjo (2009), pendidikan seseorang yang berbeda akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, tingkat pendidikan yang tinggi belum tentu mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang suatu penyakit infeksi kecacingan, khususnya enterobiasis.

Pekerjaan orang tua di Desa Lingga Julu tidak begitu heterogen. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.7., di mana terdapat tiga jenis pekerjaan yang menjadi sumber ekonomi orang tua, yaitu petani, wiraswasta dan pedagang. Dari responden yang diperiksa, orang tua yang berpengetahuan baik adalah yang bermata pencaharian sebagai petani yaitu 4 orang (7,3%) dan dominasi pengetahuan di setiap kelompok adalah berpengetahuan sedang.

Hasil penelitian yang didapat menunjukkan sebuah perbedaan dengan penelitian Jusuf, dkk. tentang Tingkat Pengetahuan Petani terhadap Soil Transmitted Helminths. Berdasarkan Penelitian Jusuf, dkk. di Desa Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon tahun 2012, tingkat pengetahuan petani sebanyak 54,7% berpengetahuan rendah terhadap keberadaan STH.

Petani di Kabupaten Karo, berdasarkan data BPS 2012, sebagian besar petani telah digolongkan pada petani modern. Artinya, cara bertaninya telah profit oriented, yaitu mereka tidak lagi memakai cara tradisional dan hasil produksi lebh ditujukan untuk mencari keuntungan. Oleh sebab itu, beberapa orang tua memiliki

pengetahuan yang lebih baik di dalam menjaga kesehatan dan pengetahuan terhadap enterobiasis.

Pada penelitian ini, diteliti juga angka kejadian enterobiasis dan kasus dan kasus infeksi kecacingan yang teridentifikasi dalam pemeriksaan anal swab dengan metode adhesive tape. Pada tabel 5.12. untuk angka kejadian enterobiasis, didapatkan sebanyak 4 anak (6,7%) dan keseluruhan anak yang terinfeksi adalah anak laki-laki.

Hasil penelitian ini menunjukkan keseseuaian dengan data Penelitian Lee et.

All (2011) yang mengatakan bahwa prevalensi infeksi Enterobius vermicularis pada siswa Sekolah dasar antara anak laki-laki dan anak perempuan yaitu 12,3%

dan 8,4%.

Menurut analisis penelitian, enterobius lebih sering menyerang anak laki-laki dibandingkan anak perempuan karena anak laki-laki-laki-laki lebih banyak terpapar terhadap faktor resiko, salah satunya sanitasi perorangan. Menurut pengamatan peneliti, rata-rata anak laki-laki memiliki perilaku sanitasi yang lebih buruk dibandingkan anak perempuan.

Berdasarkan karakteristik anak yang positif enterobiasis terhadap kelompok umur (Tabel 5.11) didapatkan bahwa paling banyak pada kelompok umur 9 – 11 tahun yaitu sebanyak 2 orang (7,7%). Hal tersebut berkorelasi dengan tingkatan kelas anak, di mana dari 4 orang anak yang terinfeksi enterobiasis berasal dari kelas III – VI SD. (Tabel 5.11) Hal ini menunjukkan kesesuaian dari penelitian Kim dkk (2010) bahwa dari 1.646 sampel anak yang diperiksa, banyak anak yang positif enterobiasis sebanyak 177 orang (10,8%) berada pada kelompok umur >=

6 tahun.

Menurut penulis, tingkat infeksi enterobiasis yang terjadi pada kelompok umur median (middle childhood) disebabkan bahwa pada tingkat umur tersebut terjadi suatu fase untuk meningkatkan kebebasan, belajar dan sosialisasi (Kaplan, 2007). Hal ini yang menyebabkan pada tingkat umur ini anak-anak kurang memperhatikan sanitasi, dari yang paling sederhana adalah kuku. Sementara pada kompok umur early childhood, adanya peran orang tua dalam memerhatikan kebersihan dalam rangka menjaga kesehatan anak yang belum mandiri.

Sedangkan pada kelompok umur anak yang late childhood, kebersihan lebih diperhatikan dengan orientasi utama menarik perhatian lawan jenis.

Bila dikaitkan dengan pengetahuan orang tua, dari empat orang anak yang positif enterobiasis, keseluruhan (100%) memiliki orang tua yang berpengetahuan

„Sedang‟ tentang enterobiasis. Hal ini menunjukkan angka kejadian tidak mutlak dipengaruhi oleh pengetahuan orang tua tentang enterobiasis. Keadaan pada penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Kim et all (2010) di mana dikatakan bahwa pengetahuan orang tua memiliki pengaruh penting untuk terjadinya enterobiasis.

Selain enterobiasis, didapatkan pula kasus ascariasis dan trichuriasis dalam pemeriksaan anal swab secara adhesive tape. Dari hasil pemeriksaan, anak yang terinfeksi ascariasis 9 orang (15%) dan trichuriasis 1 orang (1,7%).

Menurut analisa penulis, dalam pengambilan anal swab, kita dapat menjumpai telur parasit lain yang dapat keluar melalui feces, seperti telur Soil Transmitted Helminths, protozoa, dll. Adanya keratin kulit juga dapat terambil melalui anal swab dan tampak pada pemeriksaan mikroskopis.

Ditemukannya positif telur cacing lebih dari satu spesies cacing membuktikan bahwa anak tersebut membutuhkan pengobatan anti-cacing untuk eradikasi cacing dan meningkatkan Qol (Quality of Life).

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dan hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:

1. Pengetahuan orang tua tentang enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu mayoritas berpengetahuan Sedang yaitu sebanyak 48 orang (80%) dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu adalah sebanyak 4 orang (6,7%) 2. Pada pemeriksaan anal swab, terdeteksi pula telur cacing Soil

Transmitted Helminths yaitu telur Ascaris lumbricoides (15%) dan telur Trichuris trichiura (1,7%).

6.2. Saran

Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh penulis dalam menyelesaikan penelitian ini, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada orang tua untuk mencari informasi tentang penyebaran, diagnosa, gejala klinis, pengobatan, terlebih pencegahan tentang enterobiasis agar penyakit ini tidak menyebar secara luas di dalam keluarga dan masyarakat.

2. Diharapkan kepada anak-anak untuk bisa menjaga kebersihan diri dimulai dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di sekolah dan rumah untuk menghindarkan diri dari enterobiasis dan penyakit kecacingan lainnya.

3. Diharapkan kepada Pihak Sekolah SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu untuk dapat melakukan pengajaran tentang pengetahuan dasar penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit cacing dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari siswa-siswi. Selain itu, pihak sekolah mengadakan program makan obat cacing secara berkala, untuk menghindarkan diri dari infeksi kecacingan yang ada di anak-anak Desa Lingga Julu.

4. Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Karo untuk dapat memberikan penyuluhan berkala kepada para petani yang ada di Kabupaten Karo untuk menambah pengetahuan dan melakukan proteksi kesehatan terhadap penyakit infeksi yang disebabkan oleh kecacingan, khususnya enterobiasis.

DAFTAR PUSTAKA

Asafa, D., Kibbu, E., Nagesh, S, 2004. Medical Parasitology. Ethiopia: Ethiopia Public Health Training Initiative.

Babady N.E., Awender E., Geller R., 2011. Enterobius vermicularis in a 14-year-old Girls’s Eye. Dalam: Journal of Clinical Microbiology, Dec 2011. P:

4369 – 4370.

BPS Karo, 2012. Survei Sosial Ekonomi Nasional Statistik Kesejahteraan Rakyat, Kabupaten Karo, 2012.

Chadijah, S., Anastasia, H., Widjaja, J., Nurjana, MA., 2013. Intestinal worm disease in Palu and Donggala, Central Sulawesi. Dalam: Jurnal Buski.

Sulteng: Balai Litbang P2B2 Donggala Kementerian Kesehatan RI.

Gandahusada S., Herry D.I., Eita Pribadi, 1998. Parasitologi Kedktoeran. Ed III.

Jakarta: Penerbit FK UI.

Garcia, Lynne and Brucker, D.A., 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran.

Jakarta: EGC.

GlaxoSmithKleine, 2012. The campaign to control soil-transmitted helminthes.

Green, Lawrence W., Marchel W.K., 1999. Health Promoting Planning an Educational and Environment Approach. 2nd edition. Mayfield Publishing Company: Mountain View.

Gut, 1994. Enterobius vermicularis infection. Dalam: Leading Article – Tropical infection of the GI tract and liver series, 1159 – 1162

Hadijaja P., 1994. Masalah Penyakit Kecacingan di Indonesia dan Penanggulangannya. Majalah Kedkteran Vol.44: 215-216.

Hairani, B., Annida, 2012. Intestinal parasite incidence on elementary school students in town and village at Tanah Bumbu District. Dalam: Jurnal Buski, 102-108

Hidayat F., Khamidi T., Wijyono S., 2010. Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Petani di Kabupaten Tegal dalam Penggunaan Pestisida dan Kaitannya dengan Tingkat Keracunan Terhadap Pestisida. Dalam: Jurnal Bumi Lestari, Vol. 10, 1 – 12

Huh, S. 2004. Pinworm.

Diunduh dari http://www.emedcine.com/med/topic1837.htm

Jalaudin, H., 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Jusuf A., Ruslan, Selomo M., 2012. Gambaran Parasit Soil Transmitted Helmints dan Tingkat Pengetahuan, Sikap Serta Tindakan Petani Sayur di Desai Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon.

Kasnodihardjo, PrasodjoR., Musadad D.A., 2009. Gambaran Perilaku Masyarakat Kaitannya dengan Penularan dan Upaya Pegendalian Penyakit Berbasis Lingkungan di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawab Barat. Dalam: Jurnal Ekologi Kesehatan Vol.8, 1084 - 1093

Kim D.H., Son H.M., Kim J.Y., 2010. Parent’s Knowledge about Enterobiasis Might Be One of the Most Important Risk Factors for Enterobiasis in Children. Dalam: Korean J Parasitol Vol.48, No.2: 121-126.

Lee S.E, Lee J.H., Jung J.W. 2011. Prevalence of Enterobius vermicularis among Preschool Children in Gimhae-si, Gyeongsangnam-do, Korea. Dalam:

Korean J Parasitol Vol.49, No. 2:183-185

Lubis, M.S., 2012. Filsafat Ilmu dan Penelitian. Jakarta: PT Sofmedia.

Muller, R., 2002. Worms and Human Disease. Wailling Ford: CABI Publishing.

Notoatmodjo, S., 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Dalam: Notoatmodjo, S., ed. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT RINEKA CIPTA

Pratomo, H. 1986. Defenisi Operasional dan Variabel. Dalam Pratomo, H.

Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian Bidang Kesehatan Masyarakat dan Keluarga Berencana/Kependudukan. Jakarta : Departemen Pendidikan &

Kebudayaan RI PMU. Pengembangan FKM di Indonesia.

Putri, 2009. Faktor yang Berhubungan dengan Enterobiasis pada Anak SD di Problem. Dalam The Canadian Journal of CME (October, 2006): 20-21 Rudolph, C.D., Rudolph, A.M., penyunting. Rudolph‟s pediatric, ed.21.

Soedarto, 1995. Nematoda. Dalam: Helmintologi Kedokteran. Jakarta: Gaya Baru.

Soejoto dan Soebari, 1996. Penuntun Praktek Parasitologi Medik Jilid3.

Protozoologi dan Helminthologi. Solo: EGC.

Stepek G., Buttle D.J., Duce I.R., 2006. Human Gastrointestinal Nematode Infection: are New Control Methods Required. Dalam: Int. J. Exp. Path (2006), 87, 325-341

Sutanto, I., dkk., 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran UI

FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Program StudiPendidikanDokter

FakultasKedokteranUniversitas Sumatera Utara

SURAT PERSETUJUAN Yang bertandatangandibawahini :

Nama : ……….

Umur : ……….

Setelah mendapatkan keterangan secukupnya serta menyadari manfaat dari penelitian tersebut di bawah ini yang berjudul :

Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis dan Angka Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Dengan sukarela menyetujui anak saya diikutsertakan sebagai „sampel‟ dalam penelitian di atas dengan catatan bila suatu waktu merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan persetujuan ini serta berhak untuk mengundurkan diri.

Medan, Agustus 2014 Mengetahui Yang Menyetujui Peneliti Peserta

(Jenni Friska br. Karo) ( )

FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Program StudiPendidikanDokter

FakultasKedokteranUniversitas Sumatera Utara

SURAT PERSETUJUAN Yang bertandatangandibawahini :

Nama : ……….

Umur : ……….

Setelah mendapatkan keterangan secukupnya serta menyadari manfaat dari penelitian tersebut di bawah ini yang berjudul :

Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis dan Angka Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Dengan sukarela menyetujui diikutsertakan sebagai „Responden‟ dalam penelitian di atas dengan catatan bila suatu waktu merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan persetujuan ini serta berhak untuk mengundurkan diri.

Medan, Agustus 2014 Mengetahui Yang Menyetujui Peneliti Peserta

(Jenni Friska br. Karo) ( )

KUESIONER PENELITIAN

Pengetahuan Orang Tua Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu tentang Enterobiasis

2. Apakah gatal-gatal pada anus adalah gejala yang paling sering terjadi pada infeksi cacing kremi?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah pemeriksaan tinja (tai) adalah cara untuk mengetahui seseorang terinfeksi cacing kremi?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah cacing kremi dewasa akan bergerak-gerak di daerah sekitar anus?

a. Ya b. Tidak

5. Apakah cacing kremi dapat berpindah ke saluran kelamin?

5. Apakah cacing kremi dapat berpindah ke saluran kelamin?

Dalam dokumen : JENNI FRISKA BR. KARO (Halaman 34-0)

Dokumen terkait