PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG ENTEROBIASIS DAN ANGKA KEJADIAN ENTEROBIASIS PADA SISWA SD NEGERI 040470 DESA LINGGA JULU, KECAMATAN SIMPANG EMPAT, KABUPATEN
KARO, SUMATERA UTARA
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh :
JENNI FRISKA BR. KARO 110100316
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2014
ABSTRAK
Enterobiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh Enterobius vermicularis (pinworm/cacing kremi). Enterobiasis memiliki gejala sensasi gatal serta iritasi di sekitar perianal. Diperkirakan 209 juta orang di seluruh dunia terinfeksi Enterobius vermicularis. Di Indonesia, prevalensi infeksi Enterobius vermicularis belum diketahui secara pasti. Desa Lingga Julu berada pada dataran tinggi Karo dengan sanitasi personal yang kurang dan aktivitas bermain utama anak-anak berada di luar rumah sehingga memiliki resiko terinfeksi Enterobius vermicularis.Kurangnya penyuluhan tentang infeksi kecacingan pada masyarakat Desa Lingga Julu menyebabkan pentingnya diadakan penelitian tentang pengetahuan orang tua tentang enterobiasis di desa ini.
Penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu tentang pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara tahun 2014. Sampel anak-anak pada penelitian ini sebanyak 60 orang dan responden orang tua pada penelitian ini sebanyak 60 orang. Pengambilan sampel dan responden berdasarkan stratified random sampling. Pengumpulan data untuk responden dilakukan dengan kuesioner secara wawancara. Pengumpulan data untuk sampel dilakukan dengan cara adhesive tape anal swab.
Hasil penelitian ini menunjukkan paling banyak orang tua memiliki pengetahuan Sedang tentang enterobiasis, yaitu sebanyak 48 orang (80%). Angka kejadian untuk kasus enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu adalah sebanyak 4 orang (6,7%). Dari 4 orang yang positif telur E. vermicularis didapatkan 100% pada anak laki-laki. Di dalam pemeriksaan mikroskopis juga didapatkan temuan positif telur A. lumbricoides sebanyak 9 orang (15%) dan temuan positif telur T. trichiura sebanyak 1 orang (1,7%).
Diharapkan agar seluruh pihak yang terkait dalam penelitian ini dapat memberikan pengetahuan tentang enterobiasis kepada anak dan orang tua dalam rangka pencegahan dan pengeliminasian kasus enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu.
Kata kunci: enterobiasis, pengetahuan orang tua
ABSTRACT
Enterobiasis is a disease caused by Enterobius vermicularis (pinworm) infection. The main symptoms are itching and irritation of the anal area. Almost 209 people around the world are infected by Enterobius vermicularis. In Indonesia, the prevalence of enterobiasis hasn’t been known well. Lingga Julu Village is on the KaroPlateau with its personal hygiene is still poor and the children who live in have their playing activity mostly outdoor so it become a risk to be infected by Enterobius vermicularis. Minimal education about worm infection among the village society be the reason for importance this study was done in this village.
This study was a descriptive cross-sectional study to know about the parents’ knowledge about enterobiasis and its case number in 040470 elementary state school students Lingga Julu Village, Simpang Empat Sub district, Karo District, North of Sumatera Province, 2014. The sample was chategorized into two groups. First group was 60 students for anal swab samples. The second group was 60 mothers/fathers for questionnerre’s respondents. Those samples werechosen by stratified random sampling method.
The result showed that most parents had knowledge about enterobiasis in
‘Moderate’ level (80%). Case number of enterobiasis in 040470 elementary school students was four students (6,7%). From those students, 100% were boys.
In the examination of microscopic slide was also found the case number for A.
lumbricoides is 9 students (15%) and case number for T. trichiura is one student (1,7%)
We hope that all participants related to this study have a knowledge about enterobiasis and share it to the students and their parents due to prevention and elimination of enterobiasis case number in 040470 elementary state school students in Lingga Julu Village.
Keywords : enterobiasis, parents’ knowledge
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur, penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus karena atas berkat dan anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis dan Angka Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Tahun 2014”.
Adapun maksud dan tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Selama mengerjakan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran berharga terutama dalam bidang akademik dan juga banyak pelajaran berharga dengan masyarakat.
Penulis juga meyakini bahwa banyak terdapat kesalahan dalam proses penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. Untuk itu, penulis memohon maaf atas segala kekurangan, karena kesempurnaan adalah milik Tuhan Yang Maha Esa.
Karya Tulis Ilmiah ini dipersembahkan secara terutama kepada kedua orang tua penulis, Bapak (Alm) Ngena Malem Karo-Karo dan Mamak, Ny. Karo- Karo br. Pane, yang sungguh luar biasa dalam memperjuangkan kami sebagai single parent. Begitu bermakna karena saaat penulisan Karya Tulis Ilmiah ini mamak menderita stroke dan penulis berharap mamak dapat sehat selalu sampai penulis menjadi dokter. Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Kak Yessi Theresia br. Karo yang telah banyak membantu dalam bentuk moral dan materil selama penulis kuliah di Fakultas Kedokteran. Tidak lupa juga kepada Josua Banta Karo-Karo, penulis juga berpesan untuk dapat berjuang mencapai cita-citanya di Fakultas Hukum UR.
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk, itu dengan segala kerendahan hati dan penghargaan yang tulus, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
2. Dr. Nurfida Khairina Arrasyid, M.Kes, selaku dosen pembimbing yang telah penulis rasakan sebagai Ibu penulis di kampus, yang telah
memberikan waktu, pikiran, masukan, dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
3. Dr. Ruly Hidayat, Sp. M sebagai dosen pembimbing akademik
4. Dr. dr. M. Fidel Ganis Siregar, M.Ked(OG), Sp.OG(K) dan dr. Yetty Machrina, M.Kes sebagai dosen penguji Proposal dan Hasil Karya Tulis Ilmiah penulis.
5. Seluruh dosen dan staf pengajar fakultas Kedokteran USU.
6. Bapak Sinuhaji selaku Kepala Sekolah SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu yang telah menerima penulis untuk dapat melaksanakan penelitian di sekolah tersebut.
7. Bapak Ginting selaku Plt. Kepala Desa Lingga Julu yang telah banyak membantu dalam menemani penulis ke rumah-rumah warga sampai larut malam untuk membagikan kuesioner kepada responden.
8. Bang Dian selaku analis Laboratorium Parasitologi FK USU yang telah membantu dan mengajari dalam pemeriksaan mikroskopis.
9. Keluarga Besar Karo-Karo dan Pane yang telah menyemangati dalam doa.
10. Teman-teman seperjuangan calon dokter: Naufal Anhari, M. Shafiq, Helena, Handayani, Ida Katarina, Jose Verdi, Theodora, Rani, kelompok praktikum B-2,dll.
11. Teman-teman Naposobulung GKPA Medan Timur. Hidup BOANERGES.
12. Seluruh teman-teman yang menyayangi Penulis dan yang Penulis sayangi.
Semoga Tuhan memberkati kita dalam mencapai seluruh cita-cita kita.
Akhir kata, semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran.
Medan, Desember 2014 Penulis,
Jenni Friska br. Karo (110100316)
DAFTAR ISI
Halaman Persetujuan ……… i
Abstrak ……… ii
Abstract ………... iii
Kata Pengantar ……….. iv
Daftar isi……….. vi
Daftar gambar ……… viii
Daftar Tabel ………... ix
BAB 1 PENDAHULUAN……….. 1
1.1.Latar Belakang ………. 1
1.2.Rumusan Masalah………. 4
1.3.Tujuan Penelitian .….……… 5
1.4.Manfaat Penelitian ……… 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ………... 6
2.1. Pengetahuan ……… 6
2.1.1. Definisi Pengetahuan ……… 6
2.1.2. Proses Pembentukan Pengetahuan ……… 7
2.1.3. Ilmu Pengetahuan ………. 7
2.2. Enterobiasis ………. 8
2.2.1. Enterobius vermicularis.………. 8
2.2.2. Patofisiologi……… 10
2.2.3. Gejala dan Tanda ....………... 13
2.2.4. Diagnosa Laboratorium……….. 14
2.2.5. Pengobatan ……… 15
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL 16 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ………... 16
3.2. Defenisi Operasional ………... 16
BAB 4 METODE PENELITIAN ………... 19
4.1. Jenis Penelitian ……… 19
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian ………. 19
4.3. Responden, Populasi dan Sampel ...……… 20
4.3.1. Responden ………. 20
4.3.2. Populasi ………. 20
4.3.3. Sampel ………... 20
4.4. Teknik Pengumpulan Data ……….. 21
4.4.1. Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis ……... 21
4.4.2. Angka Kejadian Enterobiasis ……… 22
4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data ………... 23
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ………. 24
5.1. Hasil Penelitian ………. 24
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ………. 24
5.1.2. Deskripsi Subjek Penelitian ……… 24
5.1.3. Hasil Analisa Data ……….. 31
5.2. Pembahasan ……….. 31
5.2.1. Karakteristik Responden ………. 33
5.2.2. Karakteristik Sampel ………... 36
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 37
6.1. Kesimpulan ……… 37
6.2. Saran ……….. 37
DAFTAR PUSTAKA ………. ix
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 2.1 E. vermicularis jantan dan betina 9
Gambar 2.2 Telur E. vermicularis 10
Gambar 2.3 Siklus Hidup E. vermicularis 11
Gambar 2.4 Tanda Infeksi E. vermicularis di Anus 12
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian 16
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
Tabel 4.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis
22
Tabel 5.1. Distribusi Orang Tua berdasarkan Jenis Kelamin 25 Tabel 5.2. Distribusi Orang Tua berdasarkan Umur 25 Tabel 5.3. Distribusi Orang Tua berdasarkan Tingkat
Pendidikan
25
Tabel 5.4. Distribusi Orang Tua berdasarkan Pekerjaan 26 Tabel 5.5. Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis 26 Tabel 5.6. Kategori Pengetahuan Orang Tua tentang
Enterobiasis
28
Tabel 5.7. Kategori Pengetahuan Orang Tua terhadap Enterobiasis
28
Tabel 5.8. Distribusi Sampel berdasarkan Kelas 29 Tabel 5.9. Distribusi Sampel berdasarkan Jenis Kelamin 30 Tabel 5.10. Distribusi Sampel berdasarkan Umur 30 Tabel 5.11. Angka Kejadian Enterobiasis berdasarkan
Karakteristik Enterobiasis
30
Tabel 5.12. Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 31 Tabel 5.13 Infeksi Parasit Lain pada Siswa SD Negeri 040470 33
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di seluruh dunia lebih dari sejuta orang terinfeksi parasit usus.
Daerah yang paling sering untuk menjadi tempat infeksi parasit usus adalah di daerah tropis dan juga sub tropis, terlebih apabila wilayah tersebut memiliki higinis yang buruk (Ronald, 2006).
Parasit usus tersebut dapat berupa cacing STH (Soil Transmitted Helminths) dan cacing non-STH. Soil Transmitted Helminths (STH) yaitu kelompok cacing yang siklus hidupnya memerlukan tanah dengan kondisi tertentu untuk mencapai stadium infektif. Jenis cacing dalam kelompok ini antara lain Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan beberapa spesies Trichostongylus. (Safar, 2009) Adapun cacing usus yang tidak termasuk STH adalah Oxyuris vermicularis dan Trichinella spiralis.
Enterobius vermicularis, atau cacing kremi, adalah parasit yang paling umum dijumpai di negara tropis dan diperkirakan menginfeksi >10%
anak-anak. (Ronald, 2006)
Enterobiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh Enterobius vermicularis (pinworm/cacing kremi). Pada sebagian besar kasus enterobiasis gejala yang ditimbulkan berupa sensasi gatal serta iritasi di sekitar perianal. Selain itu enterobiasis juga mengakibatkan nafsu makan berkurang, berat badan turun, enuresis, dan insomnia. Komplikasi enterobiasis dapat berupa apendisitis, infeksi pada traktus urinarius pada pria dan pernah dilaporkan dapat menginfeksi orbita mata pada anak usia 14 tahun di Korea (Babady, 2011).
Enterobius vermicularis dilaporkan sebagai parasit yang kosmopolit, namun lebih banyak ditemukan di daerah dingin daripada daerah panas. Cacing ini bersifat nematoda yang suka bermigrasi dan dapat berada di mana-mana (Kim et al, 2010).
Infeksi yang disebabkan oleh Enterobius vermicularis ini banyak menghasilkan gejala klinis yang asimptomatik. Pruritus perianal adalah salah satu tanda penting. Gatal-gatal yang diperburuk saat malam hari adalah hasil dari migrasi nokturnal cacing betina dewasa, yang akhirnya akan mengakibatkan ekskoriasi dan superinfeksi bakteri. Infeksi dalam tahap yang berat akan mengakibatkan sakit perut dan juga penurunan berat badan. (Fauci, 2012)
Pruritus perianal yang sangat buruk, pasien akan menggaruk daerah perianal sehingga akhirnya menimbulkan infeksi lain seperti infeksi bakteri Eschericia coli. Pasien juga sering mengeluhkan gemeretak pada giginya dan insomnia / fase tidur yang terganggu oleh karena pruritus anal pada malam hari. Selain itu, gejala klinis yang umum adalah sakit perut.
Apendisitis dan infeksi saluran kelamin wanita telah banyak dilaporkan.
(CDC, 2013)
Presentasi ekstraintestinal juga sangat jarang. Bagian ekstraintestinal yang paling sering adalah saluran reproduksi wanita (vagina, uterus, ovarium, dan tuba falopi) yang berhubungan dengan migrasi cacing E. vermicularis dari anus. Cacing betina juga bisa masuk traktus urinarius, ginjal, saluran bilier dan juga hati. Akhir-akhir ini telah dilaporkan kasus tentang infeksi yang mengenai kelenjar saliva, mukosa hidung, kulit dan paru-paru. Ini diperkirakan oleh karena autoinokulasi organ-organ ini dengan telur dan cacing dewasa yang ada di traktus urinarius. Dalam review literature yang dilakukan sejak tahun 1976 hanya ditemukan satu kasus E.vermicularis menginfeksi bola mata. (Babady, 2011)
Diperkirakan 209 juta orang di seluruh dunia terinfeksi Enterobius vermicularis(Stepek, 2006). Hasil survey yang dilakukan Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu pada tahun 2008 di 6 kabupaten terpilih, didapatkan 189 anak (20,7%) yang positif menderita kecacingan, dan untuk infeksi Enterobius vermicularis sendiri, angka kejadiannya sebanyak 15 orang yaitu (7,9%). Penyakit kecacingan ini umumnya menyerang masyarakat di
negara yang sedang berkembang, terutama pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah di pedesaan (Hairani, 2012).
Menurut penelitian yang dilakukan Hiarani et al. mengenai prevalensi parasit pencernaan pada anak sekolah dasar di perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan tahun 2012, prevalensi spesies cacing yang ditemukan di daerah pedesaan yaitu Ascaris lumbricoides (8,0%), Hemynolepis nana (0,9%) dan Enterobius vermicularis (2,7%). Prevalensi kecacingan anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Prevalensi kecacingan pada kelompok umur 6-9 tahun lebih tinggi dibandingkan pada anak kelompok umur 10-15 tahun, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.
Di Indonesia, prevalensi infeksi Enterobius vermicularis belum diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan oleh karena penyakit enterobiasis ini terselubung (neglected tropical disease)(GlaxoSmithKline, 2012). Infeksi cacing kremi pada sebagian orang jarang menimbulkan gejala eosinofilia atau peningkatan serum IgE. Parasit ini adalah organisme intraluminal sehingga tidak menimbulkan manifestasi sistemik . (Ronald,2006).
Epidemiologi untuk infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) oleh nematoda di Indonesia dilaporkan bahwa sebanyak 70% untuk Ascaris lumbricoides (di Pulau Sumatera ditemukan prevalensi sebanyak 78%), sebanyak 30-50% untuk Strongiloides stercoralis, sedangkan untuk infeksi kecacingan oleh Enterobius vermicularis tidak diberikan angka prevalensi yang jelas (Sutanto, 2008). Hasil penelitian di Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya pada tahun 2009 dengan jumlah sampel 46 orang didapatkan prevalensi infeksi cacing Enterobius vermicularis sebesar 45,7%(Putri, 2009).
Infeksi dapat terjadi dengan berbagai cara yaitu autoinfeksi (makan dengan menggunakan tangan yang telah tercemar oleh larva infeksius), retroinfeksi (migrasi larva yang baru menetas dari dinding dalam anus ke
rectum), telur yang terinhalasi, dan lingkungan yang terkontaminasi. (Lee, 2011).
Kim et al (2010) mengatakan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan penularan infeksi Enterobius vermicularis kepada manusia yaitu : sanitasi personal, pengobatan antihelminthes, dan pengetahuan orang tua. Dalam penelitian tersebut dievaluasi bahwa korelasi antara pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dan insiden enterobiasis.
Pengetahuan orang tua tentang siklus hidup sangat rendah, metode tatalaksana juga rendah dibandingkan dengan sanitasi personal. Hasil ini menunjukkan bahwa walaupun banyak orang tua tahu bagaimana sanitasi personal yang baik untuk anak mereka dapat mengurangi resiko enterobiasis, mereka tidak tahu tentang bagaimana metode yang tepat untuk tatalaksana enterobiasis.
Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo, Berastagi, Sumatera Utara merupakan daerah dataran tinggi dengan sanitasi yang masih kurang dan aktivitas bermain utama anak-anak berada di luar rumah sehingga memiliki resiko terinfeksi Enterobius vermicularis.
Selain itu, rata-rata orang tua yang merupakan masyarakat yang berdomisili pada desa tersebut bermata pencaharian sebagai petani.
Sampai saat ini dilaporkan tidak adanya penyuluhan terhadap masyarakat tentang infeksi kecacingan
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti ingin mengetahui tentang pengetahuan orang tua akan infeksi Enterobius vermicularis (enterobiasis) dan angka kejadian enterobiasis pada anak SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo, Berastagi, Sumatera Utara.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara tahun 2014?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan orang tua siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu tentang enterobiasis dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara tahun 2014.
1.3.2 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui infeksi parasit lain pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara tahun 2014.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:
a. Bagi penulis bermanfaat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berpikir dalam menganalisa pengetahuan orang tua dan hubungannya dengan infeksi E.vermicularis pada anak dan sebagai sarana berlatih untuk menyelesaikan tugas akhir pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
b. Bagi anak SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu beserta orang tua bermanfaat meningkatkan rasa peduli dan pengetahuan terhadap infeksi cacing kremi (E.vermicularis) beserta gejala dan komplikasi yang ditimbulkannya.
c. Bagi pemerintah menjadi sumbangan pemikiran untuk meningkatkan data survei epidemiologi prevalensi enterobiasis di Sumatera Utara.
d. Bagi Universitas Sumatera Utara hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai bahan referensi bagi suatu karya ilmiah
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengetahuan
2.1.1 Definisi Pengetahuan
Manusia adalah makhluk berpikir yang selalu ingin tahu tentang sesuatu. Rasa ingin tahu mendorong manusia mengemukakan pertanyaan.
Bertanya tentang dirinya, lingkungan dan sekelilingnya, ataupun berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Dengan bertanya, manusia mengumpulkan segala sesuatu yang diketahuinya. Begitulah cara manusia mengumpulkan pengetahuan. Dalam KBBI (1990) dikatakan bahwa pengetahuan adalah produk dari tahu, yakni mengerti sesudah melihat, menyaksikan dan mengalami.
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah hasil dari tahu apa yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Objek dalam pengetahuan adalah benda atau hal yang diselidiki oleh pengetahuan tersebut. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera raba, rasa, penglihatan dan penciuman.
Dengan kata lain, prinsip pengetahuan dicapai apabila: “subyek itu memandang objek sebagai suatu yang diketahuinya.” Hatta di dalam buku Filsafat Ilmu dan Penelitian (Lubis, 2012) membedakan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman, dan pengetahuan yang diperoleh dari keterangan. Orang yang mengetahui sesuatu karena pengalaman menjadikan pengalaman itu sebagai pedoman. Orang yang biasa memikirkan sesuatu hal yang dilihatnya tidak puas dengan kenyataan itu saja dan ia mencari keterangan tentang bagaimana duduknya dan apa sebabnya. Orang yang hanya mengetahui sesuatu oleh karena pengalaman dan penglihatan tidak mencari keterangan dari pengalaman itu. Orang yang memikirkan sesuatu masalah yang dilihatnya mengetahui perhubungan sebab dan akibatnya (causaliteits verband), dan sebab itu ia dapat mempergunakan pengetahuan itu untuk mencapai tujuannya (Lubis, 2012)
2.1.2. Proses Pembentukan Pengetahuan
Proses pengetahuan timbul pertama sekali oleh karena sifat manusia yang selalu ingin tahu. Seseorang yang ingin tahu akan menggunakan pertanyaan secara sederhana untuk mengupas kejadian/peristiwa yang dilihat, didengar, dirasa, diraba dan dicium.
Namun di samping itu, ada kalanya pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman yang berulang-ulang terhadap suatu peristiwa atau kejadian.
Contohnya, masyarakat petani yang berdiam di wilayah kaki gunung berapi juga mengantisipasi bencana letusan gunung atas dasar gejala alam.
Ada juga pengetahuan diperoleh dari usaha dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan kebutuhan hidup. Ada kalanya juga pengetahuan diperoleh dengan percobaan-percobaan sederhana atau dikenal dengan trial and error (Jalaluddin, 2013).
2.1.3. Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan dibedakan dari ilmu pengetahuan. Pengetahuan alamiah hanya terbatas pada rangkaian informasi tentang sesuatu benda, fakta, peristiwa, dan lainnya. Melalui pengetahuan alamiah, seseorang hanya dapat “mengetahui” atau “tahu” (Robiyanto, 2010). Ilmu pengetahuan ternyata tidak sesederhana itu. Tidak hanya sekedar pengetahuan terhadap realitas seperti apa adanya melainkan ingin mengetahui secara mendalam terhadap semuanya itu. Untuk memperolehnya, maka perlu dilakukan beberapa pendekatan yang terpercaya yang mampu untuk mengungkapkan kebenaran secara sahih (valid). Pendekatan yang dimaksud adalah berupa:
1. pendekatan ilmiah, yang bersifat sistematis dan terkontrol.
2. pendekatan bersifat empiris, yang terkait dengan dengan validasi 3. pendekatan bersifat self-correcting, yang menyangkut proses kontrol
terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan (Rahmat, 2011).
Pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan, apabila dalam proses memperolehnya digunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan dapat
merupakan gabungan antara penalaran induktif dan deduktif (Jalauddin, 2013).
2.2. Enterobiasis
Cacing kremi atau Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis adalah parasit yang hanya menyerang manusia, penyakitnya kita sebut oxyuriasis atau enterobiasis. Oleh awam, kita sering mendengar disebut sebagai kremian. Enterobiasis memang bukanlah penyakit yang serius, akan tetapi enterobiasis dapat berdampak buruk. Namun, eliminasi parasit dari tubuh pasien dan lingkungan keluarga, kelompok dan institusi sering menjadi masalah yang rumit. Salah satunya disebabkan oleh perawatan yang tidak lengkap dan juga re-infeksi.
Infeksi oleh Enterobius vermicularis biasanya terjadi karena termakan telur dari tangan yang terkontaminasi, makanan dan juga air.
Iritasi lokal pada anus disebabkan cacing yang bermigrasi menimbulkan gejala pruritus ani. Penyebaran lebih lanjut kepada lingkungan berasal dari tangan yang terkontaminasi dan auto-infeksi dengan garukan lokal pada anus (Gut, 1994)
2.2.1. Enterobius vermicularis
Enterobius vermicularis pertama sekali ditemukan oleh Linnaeus pada tahun 1758 (Muller, 2002). Cacing kremi atau Enterobius vermicularis (Oxyuris vermicularis) diklasifikasikan dalam Kingdom Metazoa, Phylum Nemathelminthes, class Nematoda, Sub class plasmodia, Ordo Oxyurida, Sub family Oxyuroidae, family Oxyuridae, Genus Enterobius, Spesies Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis (Lubis , 2002)
Cacing betina berukuran 8 – 13 mm x 0,3 – 0,5 mm. Cacing ini memiliki ekor yang panjang dan runcing yang panjangnya sepertiga dari panjang total tubuh cacing. Pada ujung anterior pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae.Vulva terbuka di pertengahan ventral.
Selain itu, cacing betina memiliki sepasang uterus yang biasanya berisi
dengan ribuan telur dan yang akan membuat tubuhnya melebar (Muller, 2002)
Cacing jantan berukuran 2 – 5 mm x 0,2 mm. Ujung posteriornya berbentuk melengkung pada bagian ventral dan memiliki sebuah spikula kopulasi (copulatory spicule) yang panjangnya 100-140 µm. Cacing jantan tidak memiliki gubernakulum. Bursanya pendek dan ada variasi pada papilla kaudal. E. vermicularis jantan akan mati setelah kopulasi dan sering muncul dalam feses (Muller, 2002)
Gambar 2.1. E.vermicularis jantan dewasa (atas) dan
E. vermicularis betina dewasa (bawah) (Chiodini, 2003)
Ukuran telur E. vermicularis yaitu 50-60 µm x 20-30 µm (rata-rata 55 x 26 mikron). Telur berbentuk asimetris, tidak berwarna, mempunyai dinding yang tembus sinar dan salah satu sisinya datar. Telur ini mempunyai kulit yang terdiri dari dua lapis yaitu : lapisan luar berupa lapisan albuminous, translusen, bersifat proteksi mekanik.
Di dalam telur terdapat bentuk larvanya. Seekor cacing betina memproduksi telur sebanyak 11.000 butir setiap harinya selama dua sampai tiga minggu, sesudah itu cacing betina akan mati (Asafa, 2004)
Gambar 2.2. Telur E.vermicularis
(Sumber : http://www.asm.org/division/c/photo/pinworm2.JPG)
2.2.2. Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya enterobiasis tergantung kepada siklus hidup dari E.vermicularis sendiri. Daur hidupnya berlangsung di dalam lumen gastrointestinal, tidak menyerang struktur viscera pencernaan seperti yang dilakukan oleh cacing tambang (hookworm) dan Ascaris lumbricoides.
Telur-telur tersebut biasanya berisi larva yang berembrio parsial dan mengandung larva rhabditiform infektif dalam empat sampai tujuh jam pada suhu 35°C. Telur-telur tersebut membutuhkan oksigen untuk mendukung lingkungan kehidupannya dan tidak akan berkembang pada suhu 22° C. Cacing betina membuat telur-telurnya hanya boleh dalam tahap empat sel (four-celled stage) dan membutuhkan waktu sekitar 48 jam dalam suhu 25°C untuk menjadi infektif (Muller, 2002)
Lapisan luar albumin dari telur sangat kaku dan bersifat sensitif pada hostnya sehingga mennyebabkan pruritus yang hebat. Pruritus ini mengakibatkan host menggaruk dan telur-telurnya akan tertinggal di dalam kuku host. Telur-telur tersebut juga dapat terbawa melalui debu, dan ketika tertelan, larvanya akan menetas di duodenum. Larva akan bersarang di dalam kripta usus halus dan dua kali moulting (Muller,2012).
Cacing dewasa muda akan turun ke bawah menuju kolon, dan menetas di dalam mukosa dan menjadi dewasa dalam jangka waktu 15 – 43 hari. Retroinfeksi akan terjadi jika larva menetas di kulit perianal dan
bermigrasi naik ke atas menuju anus. Cacing dewasa betina hidup selama 5 – 13 minggu dan yang jantan akan hidup selama tujuh minggu, tetapi infeksi pada manusia biasanya dipertahankan lebih lama oleh karena reinfeksi berulang. Retroinfeksi lebih umum dijumpai kasusnya pada orang dewasa daripada anak-anak dan hasil dari infeksi rekuren dengan beberapa cacing kita temui setiap 40-50 hari (Muller, 2002)
Gambar 2.3. Siklus hidup E.vermicularis (Sumber : http://www.dpd.cdc.gov/dpdx)
2.2.3. Gejala dan Tanda
Enterobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang berarti. Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi di sekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang berimigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menyebabkaan pruritus lokal. Karena cacing berimigrasi ke daerah anus dan menyebabkan pruritus ani, maka penderita menggaruk daerah sekitar anus sehingga timbul luka garuk di sekitar anus.
Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari hingga penderita terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Kadang kadang cacing dewasa mudah dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung,
esofagus dan hidung sehingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut.
Cacing betina gravid mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba fallopii sehingga menyebabkan radang di saluran telur. (Sutanto I dkk, 2008)
Beberapa gejala infeksi Enterobius vermikularis yaitu kurang nafsu makan, berat badan turun, aktivitas meninggi, cepat marah, gigi menggeretak, insomnia dan masturbasi. (Sutanto I dkk, 2008)
Gambar 2.4 Tanda infeksi Enterobius vermicularis di anus berupa gambaran seperti parutan kelapa (Huh, 2004)
2.2.4. Diagnosa Laboratorium
1. Teknik Diagnosa Laboratorium
Teknik diagnosa laboratorium untuk enterobiasis memiliki perbedaan yang berarti khususnya pada saat pengambilan spesimen pemeriksaan.
Cara pemeriksaan enterobiasis yaitu dengan menemukan cacing dewasa atau telur dari Enterobius vermicularis. Adapun caranya sebagai berikut :
a. Cacing Dewasa 1) Makroskopis
Cacing kremi dapat dilihat secara makroskopis atau dengan mata telanjang pada anus penderita,terutama dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi berwarna putih dan setipis rambut mereka aktif bergerak (Asafa, 2004)
2) Mikroskopis
Cacing dewasa dapat ditemukan di feses, dengan syarat harus dilakukan enema terlebih dahulu, yaitu memasukan cairan kedalam rektum agar cacing dewasa keluar dari rektum (Soejoto dan Soebari,1996)
Cacing dewasa yang ditemukan dalam feses,dicuci dengan NaCl agak panas, kemudian dikocok sehingga cacing menjadi lemas, selanjutnya diperiksa dalam keadaan segar atau dimatikan dengan larutan fiksasi untuk mengawetkan.
Nematoda kecil, seperti Enterobius vermicularis dapat juga difiksasi dan diawetkan dengan alkohol 70% yang agak panas.(Soejoto dan Soebari,1996)
b. Telur Cacing
Telur Enterobius vermicularis jarang ditemukan di dalam feses, hanya ditemukan 5% yang positif pada orang-orang yang menderita infeksi ini (Soejoto dkk,1996) Telur Enterobius vermicularis lebih mudah ditemukan dengan tehnik pemeriksaan khusus, yaitu dengan menghapus daerah sekitar anus dengan
“Scotch adhesive tape swab” menurut Graham (Asafa, 2004) Pada metode ini bahan yang diperiksa berupa perianal swab oleh karena cacing betina yang banyak mengandung telur pada waktu malam hari melakukan migrasi ke daerah perianal. Dengan pemeriksaan perianal swab lebih banyak ditemukan
telur cacing tersebut (Asafa, 2004).
2. Metode Pemeriksaan Enterobiasis
Dalam pelaksanaan diagnosis untuk enterobiasis terdapat bermacam- macam metode pada cara pengambilan spesimen :
a. Metode N-I-H (National Institude of Heatlh)
Pengambilan spesimen menggunakan kertas selofan yang didibungkuskan pada ujung batang gelas dan diikat dengan karet
gelang pada bagian sisi kertas selofan. Kemudian batang gelas pada ujung lainnya dimasukkan kedalam tutup karet yang sudah ada lubang dibagian tengahnya. Bagian batang gelas yang mengandung selofan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang kemudian ditutup karet. Hal ini dimaksudkan agar bahan pemeriksaan tidak hilang dan tidak mudah terkontaminasi (Hadidjaja, 1994)
b. Metode pita plastik perekat (cellophane tape atau adhesive tape) Pengambilan spesimen menggunakan alat berupa spatel lidah atau batang gelas yang ujungnya dilekatkan adhesive tape, kemudian ditempelkan di daerah perianal. Adhesive tape diratakan dikaca objek dan bagian yang berperekat menghadap ke bawah. Pada waktu pemeriksaan mikroskopis, salah satu ujung adhesive tape ditambahkan sedikit toluol atau xylen pada perbesaran rendah dan cahayanya di kurangi (Gracia & Brackner,1996)
c. Metode anal swab
Pengambilan spesimen menggunakan swab yang pada ujungnya terdapat kapas yang telah dicelupkan pada campuran minyak dengan parafin yanng telah dipanaskan hingga cair. Kemudian swab disimpan dalam tabung berukuran 100x13 mm dan disimpan dalam lemari es. Jika akan di gunakan untuk pengambilan spesimen, swab diusapkan didaerah permukaan dan lipatan perianal, swab diletakkan kembali dalam tabung. Pada saat pemeriksaan, tabung yang berisi swab diisi dengan xylen dan dibiarkan 3 – 5 menit, kemudian disentrifugasi pada kecepatan 500 rpm selama 1 menit. Ambil sedimen lalu periksa dalam mikroskop (Gracia & Brackner, 1996)
d. Graham Scotch tape
Alat dari batang gelas atau spatel lidah yang pada ujungnya dilekatkan adhesive tape (Gandahusada , 1998). Teknik penggunaan alat ini ditemukan oleh Graham (1941). Teknik alat ini termasuk sederhana dalam penggunaannya. Untuk pengambilan spesimen dilakukkan sebelum pasien defekasi atau mandi, pengambilan spesimen dapat dilakukan di rumah.
Sedangkan untuk membantu dalam pemeriksaan di laboratorium di gunakan mikroskop dan sedikit penambahan toluen atau xylen.
2.2.5. Pengobatan
Enterobiasis adalah satu penyakit infeksi kecacingan yang paling mudah untuk dirawat dan penggunaan antihelmintik spektrum luas adalah cara yang efektif. Namun, apapun obat yang mereka konsumsi, kita harus meenasehati pasien untuk merawat keluarga pasien terkait atau kelompok untuk beberapa situasi, seperti dijumpai kemungkinan untuk menularkan E.
vermicularis atau reinfeksi dari pasien. Menurut guideline CDC, obat-obat yang digunakan adalah :
a. Albendazole b. Mebendazole c. Pyrantel pamoat
BAB 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
3.2 Definisi Operasional
Berdasarkan kerangka konsep di atas, definisi operasional adalah:
1. Pengetahuan cara penularan adalah pengetahuan orang tua tentang cara infeksi dan penularan enterobiasis kepada manusia.
2. Pengetahuan tanda dan gejala adalah pengetahuan orang tua tentang manifestasi klinis enterobiasis.
3. Pengetahuan pengobatan adalah pengetahuan orang tua tentang cara pengobatan enterobiasis.
4. Pengetahuan komplikasi adalah pengetahuan orang tua tentang akibat yang timbul akibat dari enterobiasis dalam jangka waktu yang lama.
5. Pengetahuan pencegahan adalah pengetahuan orang tua tentang cara mencegah penyakit enterobiasis.
6. Orang tua adalah ibu kandung atau pengganti ibu bagi siswa.
Pengetahuan orangtua : - Cara penularan
- Manifestasi klinis - Pengobatan - Komplikasi - Pencegahan
Angka kejadian pada siswa
Enterobiasis
7. Angka kejadian enterobiasis adalah jumlah siswa yang terinfeksi Enterobius vermicularis.
8. Enterobiasis adalah ditemukannya Enterobius vermicularis pada pemeriksaan makroskopis atau ditemukannya telur Enterobius vermicularis ada hasil pemeriksaan laboratorium dengan metode adhesive tape.
3.2.1 Cara ukur
- Pengetahuan orang tua : kuesioner
- Angka kejadian enterobiasis : metode adhesive tape
3.2.2 Alat ukur
Alat ukur untuk pengetahuan adalah kuesioner yang dinilai dengan menggunakan jumlah skor. Penilaian dibagikan dalam 3 kategori, yaitu pengetahuan tinggi, sedang dan rendah. Penilaian terhadap pengetahuan orangtua tentang enterobiasis dilakukan dengan mengajukan 18 pertanyaan tentang pengetahuan kepada responden dengan skoring 1 untuk setiap jawaban yang benar, 0 untuk jawaban yang salah , dengan total skor sebanyak 18 dari 18 pertanyaan.
Untuk angka kejadian enterobiasis dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode adhesive tape.
3.2.3 Hasil ukur
Terdapat beberapa pertanyaan yang akan dijawab oleh responden yang merangkumi pengetahuan tentang enterobiasis. Menurut Pratomo dikategorikan atas baik, sedang dan kurang, dengan definisi sebagai berikut:
1. Baik, apabila skor jawaban responden >75% dari nilai tertinggi.
2. Sedang, apabila skor jawaban responden 40% - 75% dari nilai tertinggi.
3. Kurang, apabila skor jawaban responden < 40% dari nilai tertinggi.
Siswa dinyatakan menderita enterobiasis jika dari hasil anal swab ditemukan telur Enterobius vermicularis atau dalam pemeriksaan laboratorium ditemukan telur Enterobius vermicularis dengan metode adhesive tape.
3.2.4 Skala pengukuran
- Pengetahuan orangtua : skala ordinal.
- Angka kejadian enterobiasis pada siswa : skala interval.
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu tentang pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara tahun 2014. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu keadaan melalui variabel-variabel pengukuran.
Disebut cross sectional karena pengukuran terhadap variabel-variabel dilakukan pada waktu tertentu.
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada orang tua dan siswa Sekolah Dasar Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014.
Adapun alasan pemilihan penelitian seperti tertera di atas disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Sekolah berada di kaki gunung Sinabung dan berada di lingkungan pertanian dan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.
2. Pada saat survei lapangan, peneliti mendapatkan bahwa siswa-siswi SD Negeri 040470 banyak menghabiskan aktivitas bermain di area terbuka dan tidak memakai alas kaki ketika bermain.
3. Belum adanya data penelitian mengenai enterobiasis di wilayah tersebut, sehingga dengan adanya penelitian ini dapat menjadi sumbangsih untuk melengkapi data Soil Transmitted Helminths di Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Karo.
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah orang tua dan siswa kelas I hingga kelas VI SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jumlah populasi yang telah terdata oleh peneliti pada saat survei lapangan tanggal 17 Mei 2014 adalah sebanyak 142 orang.
4.3.2 Sampel
Sampel untuk penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah sampel yang merupakan anak-anak yang diperiksa secara anal swab untuk melihat angka kejadian enterobiasis yaitu sebanyak 30 orang. Kelompok kedua adalah sampel (responden) yang merupakan orang tua dari anak-anak yang diperiksa tersebut untuk melihat pengetahuan orang tua tentang enterobiasis.
Kriteria inklusi sampel kelompok pertama pada penelitian ini adalah siswa/siswi yang bersekolah di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, bersedia menjadi sampel dengan menandatangani informed consent penelitian, dan siswa/i yang tidak mengkonsumsi obat antihelminthes dalam rentang waktu seminggu.
Kriteria inklusi sampel kelompok kedua pada penelitian ini adalah orang tua dari siswa/siswi yang telah diperiksa secara anal swab, yang menandatangani informed consent penelitian.
Perhitungan jumlah sampel per setiap kelompok dilakukan dengan menggunakan rumus:
𝑛 =1+𝑁 (𝑑)𝑁 2 Keterangan :
n = jumlah sampel N = jumlah populasi d = tingkat kepercayaan
Dengan jumlah populasi sebanyak 142 orang dan tingkat ketepatan relatif sebesar 10%, maka jumlah sampel yang diperoleh dengan menggunakan rumus adalah sebanyak 60 orang per setiap kelompok sampel.
Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik stratified random sample yang didistribusikan secara merata pada siswa SD Negeri 040470 sebagai berikut:
a. Siswa kelas I, II dan III : 12× 60 = 30 orang b. Siswa kelas IV, V dan VI : 1
2× 60 = 30 orang
4.4 Teknik Pengumpulan Data
4.4.1 Pengetahuan orang tua tentang enterobiasis
Data mengenai pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dikumpulkan dengan memberikan kuesioner seputar pengetahuan tentang enterobiasis. Peneliti akan menjelaskan kepada responden tentang tujuan penelitian kemudian meminta persetujuan responden (informed consent) secara lisan dan tulisan. Selanjutnya, responden diminta mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti dimana sebelumnya akan dilakukan uji validitas dan reabilitas terhadap kuesioner yang akan diajukan. Kuesioner berisi 12 pertanyaan yang bersifat close ended question, yakni peneliti memberikan pernyataan dan responden hanya menjawab pertanyaan “ya” dan
“tidak”.
Kuesioner yang akan diujikan terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dilakukan untuk memastikan kuesioner ini dapat dipercaya. Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur, maka dilakukan pengujian terhadap item-item pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan memiliki korelasi bermakna (contruct validity) berarti semua
pertanyaan yang ada di dalam kuesioner tersebut telah mampu mengukur konsep yang kita ukur.
Sementara itu, uji reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran lebih dari satu kali terhadap gejala dan kondisi yang sama.
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan kepada orang tua yang merukapan penduduk Desa Lingga Julu yang memiliki anak SD, namun tidak bersekolah di SD Negeri 040470. Jumlah peserta uji validitas dan reliabilitas sebanyak 30 orang.
Uji reliabilitas dilakukan pada seluruh pertanyaan yang valid dengan koefisien realibilitas Alpha berdasarkan aplikasi program pengolah data komputer. Adapun hasil uji validitas dan reliabilitas ditampilkan pada Tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis.
Nomor Pertanyaan
Total Pearson Correlation
Status Alpha Status
1 0,584 Valid 0,828 Reliabel
2 0,570 Valid 0,829 Reliabel
3 0,500 Valid 0,832 Reliabel
4 -0,557 Valid 0,877 Reliabel
5 0,642 Valid 0,825 Reliabel
6 0,571 Valid 0,829 Reliabel
7 0,557 Valid 0,830 Reliabel
8 0,598 Valid 0,827 Reliabel
9 0,557 Valid 0,830 Reliabel
10 0,570 Valid 0,829 Reliabel
11 0,668 Valid 0,823 Reliabel
12 0,543 Valid 0,830 Reliabel
13 0,503 Valid 0,833 Reliabel
14 0,720 Valid 0,820 Reliabel
15 0,528 Valid 0,832 Reliabel
16 0,641 Valid 0,825 Reliabel
17 0,612 Valid 0,827 Reliabel
18 0,475 Valid 0,834 Reliabel
4.4.3. Angka kejadian enterobiasis
Data mengenai angka kejadian enterobiasis dikumpulkan dengan metode pita plastik perekat (adhesive tape). Spesimen diambil pagi-pagi sekali sebelum anak-anak mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Pengambilan spesimen menggunakan alat berupa batang gelas yang ujungnya dilekatkan adhesive tape, kemudian ditempelkan di daerah perianal. Adhesive tape diratakan di kaca objek dan bagian yang berperekat menghadap ke bawah.
(Broke & Melvin, 1996) Semua specimen dikumpulkan dan segera dibawa dalam waktu 24 jam ke Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran USU untuk segera diperiksa untuk penegakan diagnosa enterobiasis.
4.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Semua data yang dikumpulkan dicatat, diolah, dan disajikan dalam bentuk tabel sesuai dengan kebutuhan penelitian dengan bantuan program komputer.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang terletak pinggir jalan Katabua. SD Negeri 040470 ini memiliki 9 ruangan yang terdiri dari enam ruangan kelas, satu kantor guru, satu ruang olahraga dan satu ruang perpustakaan. Tidak ditemukan tempat sampah pada setiap ruangan, namun hanya ditemukan satu tempat tumpukan sampah sebagai tempat bakaran sampah di tengah lapangan di mana lapangan yang merupakan sarana bermain anak-anak dengan hasil pengamatan anak-anak bermain di lapangan tanpa memakai alas kaki. Menurut pengamatan peneliti, ruangan setiap kelas masih tergolong tidak bersih dan tata kelas yang masih kurang. Selain kelas, ditemukan juga dua ruangan lain yaitu kantin dan kamar mandi. Kamar mandi dapat dikatakan tergolong tidak higienis disebabkan di dalam pengamatan tidak ada ketersediaan air di dalam kamar mandi.
5.1.2 Deskripsi Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 60 orang siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu untuk pemeriksaan anal swab dan 60 orang ayah atau ibu dari anak- anak yang diperiksa tersebut sebagai responden.
a. Orang Tua
Orangtua siswa yang dapat disertakan sebagai responden. Sesuai dengan apa yang tertera pada definisi operasional pada penelitian yaitu orangtua adalah ibu, ayah atau wali anak. Adapun distribusi orang tua berdasarkan jenis kelamin tertera pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Distribusi Orang Tua berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin
Responden
Frekuensi (orang) %
Laki-laki 14 23,3
Perempuan 46 76,7
60 100
Dari Tabel 5.1. didapatkan bahwa orang tua yang berperan banyak sebagai responden dalam penelitian ini adalah berasal dari kaum ibu yaitu sebanyak 46 orang (76,7%)
Adapun distribusi orang tua berdasarkan umur di dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.2. berikut ini.
Tabel 5.2. Distribusi Orang Tua berdasarkan Umur
Rentang Umur Responden Frekuensi (orang)
%
21 – 30 tahun 2 3,3
31 – 40 tahun 42 70
41 – 50 tahun 14 23,4
>50 tahun 2 3,3
60 100
Umur dari 60 orang tua siswa yang disertakan sebagai responden paling banyak berumur 31-40 tahun yaitu sebesar 70%. (Tabel 5.2)
Tingkat pendidikan orang tua diklasifikasikan menjadi lima yaitu: SD, SMP, SMA/SMK dan Diploma. Adapun distribusi orang tua berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat dalam Tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.3. Distribusi Orang Tua berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Frekuensi (orang) %
SD 22 36,7
SMP 18 30
SMA/SMK 19 31,7
DIPLOMA 1 1,7
60 100
Jenjang pendidikan dari 60 orangtua siswa yang disertakan sebagai responden paling banyak pada tingkat SD yaitu sebanyak 22 orang (36,7%)
Pekerjaan orang tua yang terlibat di dalam penelitian ini terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu petani, wiraswasta dan pedangang. Adapun responden
penelitian berdasarkan pekerjaan orang tua terdistribusi dalam Tabel 5.4. berikut : Tabel 5.4. Distribusi Orang Tua berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi (orang) %
Petani 55 91,7
Wiraswasta 4 6,7
Pedagang 1 1,7
60 100
Dari Tabel 5.4. didapatkan bahwa sebagian besar responden bermata pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 55 orang (91,7%).
Orang tua tersebut kemudian mengisi kuesioner yang berisi pengetahuan diagnosa, gejala klinis, pengobatan, pencegahan enterobiasis. Adapun penilaian terhadap setiap pertanyaan disajikan dalam Tabel 5.5 berikut ini.
Tabel 5.5. Pengetahuan Orang Tua Siswa tentang Enterobiasis
No Pertanyaan
Pertanyaan Responden Benar Salah
n % n %
1. Apakah infeksi cacing kremi lebih sering pada anak-anak daripada orang tua?
56 93,3 4 6,7
2. Apakah gatal-gatal pada anus adalah gejala yang paling sering terjadi pada infeksi cacing kremi?
53 88,3 7 11,7
3. Apakah pemeriksaan tinja adalah cara terbaik untuk mengetahui seseorang terinfeksi cacing kremi?
14 23,3 46 76,7
4. Apakah cacing kremi dewasa akan bergerak- gerak di sekitar anus?
51 85 9 15
5. Apakah cacing kremi dapat berpindah ke saluran kelamin?
30 50 30 50
6. Apakah perilaku anak yang lasak bisa disebabkan karena terinfeksi cacing kremi?
47 78,3 13 20
7. Apakah sakit infeksi cacing kremi disebabkan karena tertelan telur cacing kremi melalui tangan, bukan dari udara atau kaki?
48 80 12 20
Apakah infeksi cacing kremi juga akan terjadi pada air yang kotor?
9 15 51 85
9. Apakah bila seseorang terinfeksi cacing kremi, maka anggota keluarga lain juga harus diobati?
31 51,7 29 48,3
10. Apakah pengobatan infeksi cacing kremi perlu diulang dengan pemberian obat anti-cacing dengan waktu 2 minggu setelah pengobatan yang pertama?
15 25 45 75
11. Apakah infeksi cacing kremi dapat dicegah dengan cara menjemur tempat tidur di bawah sinar matahari?
36 60 24 40
12. Apakah cuci tangan dengan air saja dan punya kuku panjang bisa menghindarkan diri dari infeksi cacing kremi?
48 80 12 20
13. Apakah sakit infeksi cacing kremi selama bertahun-tahun dapat mengakibatkan penurunan berat badan?
45 75 15 25
14. Apakah sakit infeksi cacing kremi dapat menyebabkan sakit usus buntu?
27 45 33 55
15. Apakah cacing kremi berasal dari daging yang mentah?
18 30 42 70
16. Apakah orang yang sakit infeksi cacing kremi sulit tidur pada malam hari?
54 90 6 10
17. Apakah cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang?
24 40 36 60
18. Apakah sakit infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri?
12 20 48 80
Dari penilaian berdasarkan kuesioner di atas, dapat disimpulkan bahwa paling banyak orang tua menjawab benar pada pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 56 orang (93,3%) dan paling banyak orang tua menjawab salah pada pertanyaan nomor 8 yaitu sebanyak 51 orang (85%)
Setelah dilakukan scoring, pengetahuan responden tentang enterobiasis tersebut dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu: Berpengetahuan Baik, Sedang atau Kurang. Adapun kategori pengetahuan orang tua tentang enterobiasis tertera pada pada Tabel 5.5. di bawah ini.
Tabel 5.6 Kategori Pengetahuan Orang Tua terhadap Enterobiasis
Kategori Pengetahuan n %
Baik 4 6,7
Sedang 48 80
Kurang 8 13,3
60 100
Dari Tabel 5.6. tersebut dapat dilihat bahwa orang tua paling banyak memiliki pengetahuan „Sedang‟ tentang enterobiasis, yaitu sebanyak 48 orang (80%).
Adapun karakteristik orang tua berdasarkan variabel dan kategori pengetahuan orang tua dapat diringkas dalam Tabel 5.7. berikut ini.
Tabel 5.7. Kategori Pengetahuan Orang Tua berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Kurang Sedang Baik
n % n % n %
Jenis Kelamin
Laki-Laki 1 7,1 13 92,9 0 0
Perempuan 7 15,2 35 76,1 4 8,7
Umur
21 – 30 tahun 0 0 2 100 0 0
31 – 40 tahun 6 14,3 32 76,2 4 9,5
41 – 50 tahun 1 7,1 13 92,9 0 0
>50 tahun 1 50 1 50 0 0
Tingkat Pendidikan
SD 5 22,7 15 68,2 2 9,1
SMP 2 11,1 16 88,9 0 0
SMA / SMK 1 5,3 16 84,2 2 10,5
Diploma 0 0 1 100 0 0
Pekerjaan
Petani 7 12,7 44 80 4 7,3
Wiraswasta 1 25 3 75 0 0
Pedagang 0 0 1 100 0 0
B. Siswa/Siswi SD
Seperti telah diuraikan di atas bahwa subjek pada penelitian ini tidak hanya orangtua siswa melainkan siswa itu sendiri juga disertakan sebagai sampel yang diperiksa apakah menderita enterobiasis atau tidak.
Tabel 5.8. Distribusi Sampel berdasarkan Kelas
Kelas Frekuensi (orang) %
I 6 10.0
II 8 13.3
III 16 26.7
IV 10 16.7
V 8 13.3
VI 12 20.0
Total 60 100
Pada Tabel 5.8 tampak bahwa dari 60 orang siswa yang diperiksa 26,7%
berasal dari kelas III.
Tabel 5.9. Distribusi Sampel berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Sampel Frekuensi (orang) %
Laki-laki 30 50
Perempuan 30 50
60 100
Tabel 5.9. menunjukkan bahwa di SD Negeri 040470 berdasarkan jenis kelamin, jumlah siswa laki-laki yang diperiksa sama dengan jumlah siswa perempuan yang diperiksa yaitu 30 orang siswa laki-laki dan 30 orang siswa perempuan.
Tabel 5.10. Distribusi Sampel berdasarkan Umur Umur Sampel Frekuensi
(orang)
%
6 – 8 tahun 21 35
9 – 11 tahun 26 43,3
12 – 14 tahun 13 21,7
60 100
Tabel 5.10. menunjukkan bahwa siswa berdasarkan umur tersebar dari umur 6 tahun – 14 tahun. Siswa terbanyak yang ikut dalam penelitian berada pada kelompok umur 8 tahun, yaitu sebanyak 14 orang (23,3%)
Adapun angka kejadian enterobiasis (egg positive rate) pada sampel berdasarkan karakteristik siswa dapat dilihat dalam Tabel 5.11. berikut ini.
Tabel 5.11. Angka Kejadian Enterobiasis berdasarkan Karakteristik Siswa
Karakteristik EPR + EPR -
N % n %
Jenis Kelamin
Laki-Laki 4 13,3 26 86,7
Perempuan 0 0 30 100
Umur
6 – 8 tahun 1 4,8 20 95,2
9 – 11 tahun 2 7,7 24 92,3
12 – 14 tahun 1 7,1 13 92,9
Kelas
I SD 0 0 6 100
II SD 0 0 8 100
III SD 1 5,3 18 94,7
IV SD 1 10 9 90
V SD 1 12,5 7 87,5
VI SD 1 8,3 11 91,7
Pengetahuan Orang Tua
Rendah 0 0 4 100
Sedang 4 8,3 44 91,7
Baik 0 0 8 100
5.1.3. Hasil Analisa Data 5.1.3.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Telah dilakukan pemeriksaan anal swab pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu. Sebelum pengambilan sampel telah terlebih dahulu diinformasikan agar jangan membilas daerah anal setelah buang air besar bila belum dilakukan pengambilan sampel terhadap dirinya. Setelah pengambilan sampel dilakukan pemeriksaan mikroskopis di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran USU dan mendapatkan hasil seperti yang tertera pada tabel 5.12.
Tabel 5.12. Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu
Siswa Enterobius vermicularis Jumlah Persentase (%)
Perempuan Positif 0 0
Negatif 30 50
Laki-laki Positif 4 6,7
Negatif 26 43,3
Total 60 100
Penelitian ini memperoleh hasil bahwa dari 60 orang siswa yang diperiksa hanya 4 orang siswa laki-laki yang menderita enterobiasis (6,7%)
Penelitian ini tidak hanya mendapatkan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu tetapi juga mendapatkan adanya parasit lain yang menginfeksi siswa tersebut (tabel 5.11.
Tabel 5.13. Infeksi Parasit Lain pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu
Jenis Parasit
Infeksi
Total Positif Negatif
n % n % n %
Ascaris lumbricoides 9 15 51 85 60 100
Trichuris trichiura 1 1,7 59 98,3 60 100
Bila dilihat pada tabel 5.11. infeksi oleh Ascaris lumbricoides lebih banyak ditemukan pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu yaitu sebesar 15%. Untuk ke-3 jenis parasit yang ditemukan dari hasil anal swab siswa seperti tertera pada tabel 5.6. dan tabel 5.10. kejadian enterobiasis masih lebih tinggi daripada infeksi oleh Trichuris trichiura.
5.2. Pembahasan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini memperlihatkan Gambaran Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis. Kuesioner yang dibagikan kepada orang tua terdiri dari 18 pertanyaan yang berisi tentang pengenalan tentang Enterobius vermicularis serta tentang epidemiologi, diagnose, manifestasi klinis, pengobatan dan pencegahan enterobiasis.
Setelah dlakukan penelitian, didapatkan bahwa berdasarkan Tabel 5.5.
bahwa orang tua paling banyak menjawab dengan benar pada pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 56 orang (93,3%), sedangkan orang tua yang paling banyak menjawab pertanyaan yang salah pada pertanyaan nomor 8 yaitu sebanyak 51 orang (85%). Hal ini menunjukkan suatu perbedaan dengan penelitian Kim dkk, 2010 bahwa orang tua terbanyak menjawab perntanyaan dengan benar tentang pencegahan enterobiasis 96,9%, yaitu tentang pentingnya peran mencuci tangan dan kuku yang pendek untuk mencegah infeksi E. vermicularis. Selain itu, orang
tua yang menjawab pertanyaan yang salah paling banyak adalah pertanyaan tentang siklus hidup E. vermicularis (27,5%) yaitu tentang cacing dewasa E.
vermicularis yang dapat bermigrasi ke daerah kelamin.
Hal ini juga menunjukkan bahwa antara tingkat pendidikan orang tua dengan pengetahuan tentang enterobiasis terdistribusi secara bervariasi. (Tabel 5.3)
Hasil ini sesuai dengan teori diungkapkan Green et al. (1999) bahwa kesehatan individu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor perilaku dan faktor di luar perilaku (non perilaku). Faktor perilaku ditentukan oleh faktor predisposisi, faktor pemungkinan dan faktor penguat. Pengetahuan adalah tercakup di dalam faktor predisposisi, sehingga apabila faktor pengetahuan sesorang tersebut dalam batas baik mengenai enterobiasis, maka belum tentu seseorang tersebut absen dari penyakit enterobiasis, bila tidak didukung dari faktor-faktor lainnya.
Selain itu, baik dilihat dari karakteristik responden/ orang tua pada Tabel 5.7., distribusi pengetahuan orang tua paling banyak pada kelas usia 31 – 40 tahun dan berada pada kelompok berpengetahuan “Sedang” yaitu sebanyak 31 orang (76,2%).
Menurut Notoadmojo (2010) umur merupakan karakteristik atau komponen yang berhubungan dengan kematangan seseorang baik fisik maupun mental.
Namun, hal tersebut tidak mutlak, karena faktor intern dan faktor ekstern yang mempengaruhinya. Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikiran sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik. Umur merupakan ciri dari kedewasaan fisik dan kematangan kepribadian yang erat kaitannya dalam pengambilan keputusan.
Menurut penulis, umur mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan, sedangkan tingkat pengetahuan seseorang merupakan multifaktorial, dapat dipengaruhi oleh karena pengalaman dan juga tidak pengalaman. Hal ini didukung oleh pendapat dari Kant (Jalaluddin, 2013) pengetahuan dibagi menjadi dua jenis, yakni “apriori” dan “a-posteriori”. Pengetahuan “apriori” ialah pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman, sedangkan pengetahuan a-posteriori adalah pengetahuan yang terjadi akibat pengalaman.(Aceng Rahmat, 2011:140)
Adapun karakteristik orang tua untuk tingkat pendidikan digambarkan pada Tabel 5.7. Dapat dilihat bahwa pengetahuan orang tua paling baik bukan berada pada tingkat pendidikan tertinggi yaitu Diploma, melainkan berada pada tingkat SMA / SMK yaitu sebanyak 2 orang (10,5%). Hasil penelitian ini memperlihatkan perbedaan dengan responden orang tua yang berada di Kelurahan Padang Bulan Kota Medan yang menunjukkan tingkat pendidikan yang tinggi, yaitu SMA (37,4%) dan Perguruan Tinggi (21,2%)
Menurut penulis, pendidikan orang tua di tempat penelitian berhubungan dengan mata pencaharian yang digeluti oleh orang tua, yaitu bertani. Berdasarkan data Kependudukan Kabupaten Karo bahwa tingkat melek huruf pada tahun 2012 sebesar 98%. Artinya, masih ada beberapa penduduk yang belum mengecap pendidikan yang berpengaruh juga terhadap pengetahuan tentang kesehatan, khususnya enterobiasis. Menurut Kasnodiharjo (2009), pendidikan seseorang yang berbeda akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, tingkat pendidikan yang tinggi belum tentu mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang suatu penyakit infeksi kecacingan, khususnya enterobiasis.
Pekerjaan orang tua di Desa Lingga Julu tidak begitu heterogen. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.7., di mana terdapat tiga jenis pekerjaan yang menjadi sumber ekonomi orang tua, yaitu petani, wiraswasta dan pedagang. Dari responden yang diperiksa, orang tua yang berpengetahuan baik adalah yang bermata pencaharian sebagai petani yaitu 4 orang (7,3%) dan dominasi pengetahuan di setiap kelompok adalah berpengetahuan sedang.
Hasil penelitian yang didapat menunjukkan sebuah perbedaan dengan penelitian Jusuf, dkk. tentang Tingkat Pengetahuan Petani terhadap Soil Transmitted Helminths. Berdasarkan Penelitian Jusuf, dkk. di Desa Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon tahun 2012, tingkat pengetahuan petani sebanyak 54,7% berpengetahuan rendah terhadap keberadaan STH.
Petani di Kabupaten Karo, berdasarkan data BPS 2012, sebagian besar petani telah digolongkan pada petani modern. Artinya, cara bertaninya telah profit oriented, yaitu mereka tidak lagi memakai cara tradisional dan hasil produksi lebh ditujukan untuk mencari keuntungan. Oleh sebab itu, beberapa orang tua memiliki
pengetahuan yang lebih baik di dalam menjaga kesehatan dan pengetahuan terhadap enterobiasis.
Pada penelitian ini, diteliti juga angka kejadian enterobiasis dan kasus dan kasus infeksi kecacingan yang teridentifikasi dalam pemeriksaan anal swab dengan metode adhesive tape. Pada tabel 5.12. untuk angka kejadian enterobiasis, didapatkan sebanyak 4 anak (6,7%) dan keseluruhan anak yang terinfeksi adalah anak laki-laki.
Hasil penelitian ini menunjukkan keseseuaian dengan data Penelitian Lee et.
All (2011) yang mengatakan bahwa prevalensi infeksi Enterobius vermicularis pada siswa Sekolah dasar antara anak laki-laki dan anak perempuan yaitu 12,3%
dan 8,4%.
Menurut analisis penelitian, enterobius lebih sering menyerang anak laki- laki dibandingkan anak perempuan karena anak laki-laki lebih banyak terpapar terhadap faktor resiko, salah satunya sanitasi perorangan. Menurut pengamatan peneliti, rata-rata anak laki-laki memiliki perilaku sanitasi yang lebih buruk dibandingkan anak perempuan.
Berdasarkan karakteristik anak yang positif enterobiasis terhadap kelompok umur (Tabel 5.11) didapatkan bahwa paling banyak pada kelompok umur 9 – 11 tahun yaitu sebanyak 2 orang (7,7%). Hal tersebut berkorelasi dengan tingkatan kelas anak, di mana dari 4 orang anak yang terinfeksi enterobiasis berasal dari kelas III – VI SD. (Tabel 5.11) Hal ini menunjukkan kesesuaian dari penelitian Kim dkk (2010) bahwa dari 1.646 sampel anak yang diperiksa, banyak anak yang positif enterobiasis sebanyak 177 orang (10,8%) berada pada kelompok umur >=
6 tahun.
Menurut penulis, tingkat infeksi enterobiasis yang terjadi pada kelompok umur median (middle childhood) disebabkan bahwa pada tingkat umur tersebut terjadi suatu fase untuk meningkatkan kebebasan, belajar dan sosialisasi (Kaplan, 2007). Hal ini yang menyebabkan pada tingkat umur ini anak-anak kurang memperhatikan sanitasi, dari yang paling sederhana adalah kuku. Sementara pada kompok umur early childhood, adanya peran orang tua dalam memerhatikan kebersihan dalam rangka menjaga kesehatan anak yang belum mandiri.