BAB 4 METODE PENELITIAN
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada orang tua dan siswa Sekolah Dasar Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014.
Adapun alasan pemilihan penelitian seperti tertera di atas disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Sekolah berada di kaki gunung Sinabung dan berada di lingkungan pertanian dan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.
2. Pada saat survei lapangan, peneliti mendapatkan bahwa siswa-siswi SD Negeri 040470 banyak menghabiskan aktivitas bermain di area terbuka dan tidak memakai alas kaki ketika bermain.
3. Belum adanya data penelitian mengenai enterobiasis di wilayah tersebut, sehingga dengan adanya penelitian ini dapat menjadi sumbangsih untuk melengkapi data Soil Transmitted Helminths di Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Karo.
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah orang tua dan siswa kelas I hingga kelas VI SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jumlah populasi yang telah terdata oleh peneliti pada saat survei lapangan tanggal 17 Mei 2014 adalah sebanyak 142 orang.
4.3.2 Sampel
Sampel untuk penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah sampel yang merupakan anak-anak yang diperiksa secara anal swab untuk melihat angka kejadian enterobiasis yaitu sebanyak 30 orang. Kelompok kedua adalah sampel (responden) yang merupakan orang tua dari anak-anak yang diperiksa tersebut untuk melihat pengetahuan orang tua tentang enterobiasis.
Kriteria inklusi sampel kelompok pertama pada penelitian ini adalah siswa/siswi yang bersekolah di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, bersedia menjadi sampel dengan menandatangani informed consent penelitian, dan siswa/i yang tidak mengkonsumsi obat antihelminthes dalam rentang waktu seminggu.
Kriteria inklusi sampel kelompok kedua pada penelitian ini adalah orang tua dari siswa/siswi yang telah diperiksa secara anal swab, yang menandatangani informed consent penelitian.
Perhitungan jumlah sampel per setiap kelompok dilakukan dengan menggunakan rumus:
𝑛 =1+𝑁 (𝑑)𝑁 2 Keterangan :
n = jumlah sampel N = jumlah populasi d = tingkat kepercayaan
Dengan jumlah populasi sebanyak 142 orang dan tingkat ketepatan relatif sebesar 10%, maka jumlah sampel yang diperoleh dengan menggunakan rumus adalah sebanyak 60 orang per setiap kelompok sampel.
Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik stratified random sample yang didistribusikan secara merata pada siswa SD Negeri 040470 sebagai berikut:
a. Siswa kelas I, II dan III : 12× 60 = 30 orang b. Siswa kelas IV, V dan VI : 1
2× 60 = 30 orang
4.4 Teknik Pengumpulan Data
4.4.1 Pengetahuan orang tua tentang enterobiasis
Data mengenai pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dikumpulkan dengan memberikan kuesioner seputar pengetahuan tentang enterobiasis. Peneliti akan menjelaskan kepada responden tentang tujuan penelitian kemudian meminta persetujuan responden (informed consent) secara lisan dan tulisan. Selanjutnya, responden diminta mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti dimana sebelumnya akan dilakukan uji validitas dan reabilitas terhadap kuesioner yang akan diajukan. Kuesioner berisi 12 pertanyaan yang bersifat close ended question, yakni peneliti memberikan pernyataan dan responden hanya menjawab pertanyaan “ya” dan
“tidak”.
Kuesioner yang akan diujikan terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dilakukan untuk memastikan kuesioner ini dapat dipercaya. Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur, maka dilakukan pengujian terhadap item-item pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan memiliki korelasi bermakna (contruct validity) berarti semua
pertanyaan yang ada di dalam kuesioner tersebut telah mampu mengukur konsep yang kita ukur.
Sementara itu, uji reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran lebih dari satu kali terhadap gejala dan kondisi yang sama.
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan kepada orang tua yang merukapan penduduk Desa Lingga Julu yang memiliki anak SD, namun tidak bersekolah di SD Negeri 040470. Jumlah peserta uji validitas dan reliabilitas sebanyak 30 orang.
Uji reliabilitas dilakukan pada seluruh pertanyaan yang valid dengan koefisien realibilitas Alpha berdasarkan aplikasi program pengolah data komputer. Adapun hasil uji validitas dan reliabilitas ditampilkan pada Tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis.
Nomor
12 0,543 Valid 0,830 Reliabel
13 0,503 Valid 0,833 Reliabel
14 0,720 Valid 0,820 Reliabel
15 0,528 Valid 0,832 Reliabel
16 0,641 Valid 0,825 Reliabel
17 0,612 Valid 0,827 Reliabel
18 0,475 Valid 0,834 Reliabel
4.4.3. Angka kejadian enterobiasis
Data mengenai angka kejadian enterobiasis dikumpulkan dengan metode pita plastik perekat (adhesive tape). Spesimen diambil pagi-pagi sekali sebelum anak-anak mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Pengambilan spesimen menggunakan alat berupa batang gelas yang ujungnya dilekatkan adhesive tape, kemudian ditempelkan di daerah perianal. Adhesive tape diratakan di kaca objek dan bagian yang berperekat menghadap ke bawah.
(Broke & Melvin, 1996) Semua specimen dikumpulkan dan segera dibawa dalam waktu 24 jam ke Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran USU untuk segera diperiksa untuk penegakan diagnosa enterobiasis.
4.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Semua data yang dikumpulkan dicatat, diolah, dan disajikan dalam bentuk tabel sesuai dengan kebutuhan penelitian dengan bantuan program komputer.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang terletak pinggir jalan Katabua. SD Negeri 040470 ini memiliki 9 ruangan yang terdiri dari enam ruangan kelas, satu kantor guru, satu ruang olahraga dan satu ruang perpustakaan. Tidak ditemukan tempat sampah pada setiap ruangan, namun hanya ditemukan satu tempat tumpukan sampah sebagai tempat bakaran sampah di tengah lapangan di mana lapangan yang merupakan sarana bermain anak-anak dengan hasil pengamatan anak-anak bermain di lapangan tanpa memakai alas kaki. Menurut pengamatan peneliti, ruangan setiap kelas masih tergolong tidak bersih dan tata kelas yang masih kurang. Selain kelas, ditemukan juga dua ruangan lain yaitu kantin dan kamar mandi. Kamar mandi dapat dikatakan tergolong tidak higienis disebabkan di dalam pengamatan tidak ada ketersediaan air di dalam kamar mandi.
5.1.2 Deskripsi Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 60 orang siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu untuk pemeriksaan anal swab dan 60 orang ayah atau ibu dari anak-anak yang diperiksa tersebut sebagai responden.
a. Orang Tua
Orangtua siswa yang dapat disertakan sebagai responden. Sesuai dengan apa yang tertera pada definisi operasional pada penelitian yaitu orangtua adalah ibu, ayah atau wali anak. Adapun distribusi orang tua berdasarkan jenis kelamin tertera pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Distribusi Orang Tua berdasarkan Jenis Kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.2. berikut ini.
Tabel 5.2. Distribusi Orang Tua berdasarkan Umur
Rentang Umur Responden Frekuensi banyak berumur 31-40 tahun yaitu sebesar 70%. (Tabel 5.2)
Tingkat pendidikan orang tua diklasifikasikan menjadi lima yaitu: SD, SMP, SMA/SMK dan Diploma. Adapun distribusi orang tua berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat dalam Tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.3. Distribusi Orang Tua berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Frekuensi (orang) %
SD 22 36,7
SMP 18 30
SMA/SMK 19 31,7
DIPLOMA 1 1,7
60 100
Jenjang pendidikan dari 60 orangtua siswa yang disertakan sebagai responden paling banyak pada tingkat SD yaitu sebanyak 22 orang (36,7%)
Pekerjaan orang tua yang terlibat di dalam penelitian ini terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu petani, wiraswasta dan pedangang. Adapun responden
penelitian berdasarkan pekerjaan orang tua terdistribusi dalam Tabel 5.4. berikut : Tabel 5.4. Distribusi Orang Tua berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi (orang) %
Petani 55 91,7 pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 55 orang (91,7%).
Orang tua tersebut kemudian mengisi kuesioner yang berisi pengetahuan diagnosa, gejala klinis, pengobatan, pencegahan enterobiasis. Adapun penilaian terhadap setiap pertanyaan disajikan dalam Tabel 5.5 berikut ini.
Tabel 5.5. Pengetahuan Orang Tua Siswa tentang Enterobiasis
No Pertanyaan
2. Apakah gatal-gatal pada anus adalah gejala yang paling sering terjadi pada infeksi cacing kremi?
53 88,3 7 11,7
3. Apakah pemeriksaan tinja adalah cara terbaik untuk mengetahui seseorang terinfeksi cacing kremi?
14 23,3 46 76,7
4. Apakah cacing kremi dewasa akan bergerak-gerak di sekitar anus?
51 85 9 15
5. Apakah cacing kremi dapat berpindah ke saluran karena tertelan telur cacing kremi melalui tangan, bukan dari udara atau kaki?
48 80 12 20
Apakah infeksi cacing kremi juga akan terjadi pada air yang kotor?
9 15 51 85
9. Apakah bila seseorang terinfeksi cacing kremi, maka anggota keluarga lain juga harus diobati?
31 51,7 29 48,3
10. Apakah pengobatan infeksi cacing kremi perlu diulang dengan pemberian obat anti-cacing dengan waktu 2 minggu setelah pengobatan yang pertama? kuku panjang bisa menghindarkan diri dari infeksi cacing kremi?
48 80 12 20
13. Apakah sakit infeksi cacing kremi selama bertahun-tahun dapat mengakibatkan penurunan berat badan?
18. Apakah sakit infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri?
12 20 48 80
Dari penilaian berdasarkan kuesioner di atas, dapat disimpulkan bahwa paling banyak orang tua menjawab benar pada pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 56 orang (93,3%) dan paling banyak orang tua menjawab salah pada pertanyaan nomor 8 yaitu sebanyak 51 orang (85%)
Setelah dilakukan scoring, pengetahuan responden tentang enterobiasis tersebut dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu: Berpengetahuan Baik, Sedang atau Kurang. Adapun kategori pengetahuan orang tua tentang enterobiasis tertera pada pada Tabel 5.5. di bawah ini.
Tabel 5.6 Kategori Pengetahuan Orang Tua terhadap Enterobiasis
Kategori Pengetahuan n % memiliki pengetahuan „Sedang‟ tentang enterobiasis, yaitu sebanyak 48 orang (80%).
Adapun karakteristik orang tua berdasarkan variabel dan kategori pengetahuan orang tua dapat diringkas dalam Tabel 5.7. berikut ini.
Tabel 5.7. Kategori Pengetahuan Orang Tua berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Kurang Sedang Baik
n % n % n %
31 – 40 tahun 6 14,3 32 76,2 4 9,5
41 – 50 tahun 1 7,1 13 92,9 0 0
>50 tahun 1 50 1 50 0 0
Tingkat Pendidikan
SD 5 22,7 15 68,2 2 9,1
SMP 2 11,1 16 88,9 0 0
SMA / SMK 1 5,3 16 84,2 2 10,5
Diploma 0 0 1 100 0 0
Pekerjaan
Petani 7 12,7 44 80 4 7,3
Wiraswasta 1 25 3 75 0 0
Pedagang 0 0 1 100 0 0
B. Siswa/Siswi SD
Seperti telah diuraikan di atas bahwa subjek pada penelitian ini tidak hanya orangtua siswa melainkan siswa itu sendiri juga disertakan sebagai sampel yang diperiksa apakah menderita enterobiasis atau tidak.
Tabel 5.8. Distribusi Sampel berdasarkan Kelas
Kelas Frekuensi (orang) %
I 6 10.0
II 8 13.3
III 16 26.7
IV 10 16.7
V 8 13.3
VI 12 20.0
Total 60 100
Pada Tabel 5.8 tampak bahwa dari 60 orang siswa yang diperiksa 26,7%
berasal dari kelas III.
Tabel 5.9. Distribusi Sampel berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Sampel Frekuensi (orang) %
Laki-laki 30 50
Perempuan 30 50
60 100
Tabel 5.9. menunjukkan bahwa di SD Negeri 040470 berdasarkan jenis kelamin, jumlah siswa laki-laki yang diperiksa sama dengan jumlah siswa perempuan yang diperiksa yaitu 30 orang siswa laki-laki dan 30 orang siswa perempuan.
Tabel 5.10. Distribusi Sampel berdasarkan Umur Umur Sampel Frekuensi
Tabel 5.10. menunjukkan bahwa siswa berdasarkan umur tersebar dari umur 6 tahun – 14 tahun. Siswa terbanyak yang ikut dalam penelitian berada pada kelompok umur 8 tahun, yaitu sebanyak 14 orang (23,3%)
Adapun angka kejadian enterobiasis (egg positive rate) pada sampel berdasarkan karakteristik siswa dapat dilihat dalam Tabel 5.11. berikut ini.
Tabel 5.11. Angka Kejadian Enterobiasis berdasarkan Karakteristik Siswa
Karakteristik EPR + EPR -
Kelas
I SD 0 0 6 100
II SD 0 0 8 100
III SD 1 5,3 18 94,7
IV SD 1 10 9 90
V SD 1 12,5 7 87,5
VI SD 1 8,3 11 91,7
Pengetahuan Orang Tua
Rendah 0 0 4 100
Sedang 4 8,3 44 91,7
Baik 0 0 8 100
5.1.3. Hasil Analisa Data 5.1.3.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Telah dilakukan pemeriksaan anal swab pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu. Sebelum pengambilan sampel telah terlebih dahulu diinformasikan agar jangan membilas daerah anal setelah buang air besar bila belum dilakukan pengambilan sampel terhadap dirinya. Setelah pengambilan sampel dilakukan pemeriksaan mikroskopis di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran USU dan mendapatkan hasil seperti yang tertera pada tabel 5.12.
Tabel 5.12. Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu
Siswa Enterobius vermicularis Jumlah Persentase (%)
Perempuan Positif 0 0
Negatif 30 50
Laki-laki Positif 4 6,7
Negatif 26 43,3
Total 60 100
Penelitian ini memperoleh hasil bahwa dari 60 orang siswa yang diperiksa hanya 4 orang siswa laki-laki yang menderita enterobiasis (6,7%)
Penelitian ini tidak hanya mendapatkan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu tetapi juga mendapatkan adanya parasit lain yang menginfeksi siswa tersebut (tabel 5.11.
Tabel 5.13. Infeksi Parasit Lain pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu
Jenis Parasit banyak ditemukan pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu yaitu sebesar 15%. Untuk ke-3 jenis parasit yang ditemukan dari hasil anal swab siswa seperti tertera pada tabel 5.6. dan tabel 5.10. kejadian enterobiasis masih lebih tinggi daripada infeksi oleh Trichuris trichiura.
5.2. Pembahasan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini memperlihatkan Gambaran Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis. Kuesioner yang dibagikan kepada orang tua terdiri dari 18 pertanyaan yang berisi tentang pengenalan tentang Enterobius vermicularis serta tentang epidemiologi, diagnose, manifestasi klinis, pengobatan dan pencegahan enterobiasis.
Setelah dlakukan penelitian, didapatkan bahwa berdasarkan Tabel 5.5.
bahwa orang tua paling banyak menjawab dengan benar pada pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 56 orang (93,3%), sedangkan orang tua yang paling banyak menjawab pertanyaan yang salah pada pertanyaan nomor 8 yaitu sebanyak 51 orang (85%). Hal ini menunjukkan suatu perbedaan dengan penelitian Kim dkk, 2010 bahwa orang tua terbanyak menjawab perntanyaan dengan benar tentang pencegahan enterobiasis 96,9%, yaitu tentang pentingnya peran mencuci tangan dan kuku yang pendek untuk mencegah infeksi E. vermicularis. Selain itu, orang
tua yang menjawab pertanyaan yang salah paling banyak adalah pertanyaan tentang siklus hidup E. vermicularis (27,5%) yaitu tentang cacing dewasa E.
vermicularis yang dapat bermigrasi ke daerah kelamin.
Hal ini juga menunjukkan bahwa antara tingkat pendidikan orang tua dengan pengetahuan tentang enterobiasis terdistribusi secara bervariasi. (Tabel 5.3)
Hasil ini sesuai dengan teori diungkapkan Green et al. (1999) bahwa kesehatan individu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor perilaku dan faktor di luar perilaku (non perilaku). Faktor perilaku ditentukan oleh faktor predisposisi, faktor pemungkinan dan faktor penguat. Pengetahuan adalah tercakup di dalam faktor predisposisi, sehingga apabila faktor pengetahuan sesorang tersebut dalam batas baik mengenai enterobiasis, maka belum tentu seseorang tersebut absen dari penyakit enterobiasis, bila tidak didukung dari faktor-faktor lainnya.
Selain itu, baik dilihat dari karakteristik responden/ orang tua pada Tabel 5.7., distribusi pengetahuan orang tua paling banyak pada kelas usia 31 – 40 tahun dan berada pada kelompok berpengetahuan “Sedang” yaitu sebanyak 31 orang (76,2%).
Menurut Notoadmojo (2010) umur merupakan karakteristik atau komponen yang berhubungan dengan kematangan seseorang baik fisik maupun mental.
Namun, hal tersebut tidak mutlak, karena faktor intern dan faktor ekstern yang mempengaruhinya. Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikiran sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik. Umur merupakan ciri dari kedewasaan fisik dan kematangan kepribadian yang erat kaitannya dalam pengambilan keputusan.
Menurut penulis, umur mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan, sedangkan tingkat pengetahuan seseorang merupakan multifaktorial, dapat dipengaruhi oleh karena pengalaman dan juga tidak pengalaman. Hal ini didukung oleh pendapat dari Kant (Jalaluddin, 2013) pengetahuan dibagi menjadi dua jenis, yakni “apriori” dan “a-posteriori”. Pengetahuan “apriori” ialah pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman, sedangkan pengetahuan a-posteriori adalah pengetahuan yang terjadi akibat pengalaman.(Aceng Rahmat, 2011:140)
Adapun karakteristik orang tua untuk tingkat pendidikan digambarkan pada Tabel 5.7. Dapat dilihat bahwa pengetahuan orang tua paling baik bukan berada pada tingkat pendidikan tertinggi yaitu Diploma, melainkan berada pada tingkat SMA / SMK yaitu sebanyak 2 orang (10,5%). Hasil penelitian ini memperlihatkan perbedaan dengan responden orang tua yang berada di Kelurahan Padang Bulan Kota Medan yang menunjukkan tingkat pendidikan yang tinggi, yaitu SMA (37,4%) dan Perguruan Tinggi (21,2%)
Menurut penulis, pendidikan orang tua di tempat penelitian berhubungan dengan mata pencaharian yang digeluti oleh orang tua, yaitu bertani. Berdasarkan data Kependudukan Kabupaten Karo bahwa tingkat melek huruf pada tahun 2012 sebesar 98%. Artinya, masih ada beberapa penduduk yang belum mengecap pendidikan yang berpengaruh juga terhadap pengetahuan tentang kesehatan, khususnya enterobiasis. Menurut Kasnodiharjo (2009), pendidikan seseorang yang berbeda akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, tingkat pendidikan yang tinggi belum tentu mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang suatu penyakit infeksi kecacingan, khususnya enterobiasis.
Pekerjaan orang tua di Desa Lingga Julu tidak begitu heterogen. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.7., di mana terdapat tiga jenis pekerjaan yang menjadi sumber ekonomi orang tua, yaitu petani, wiraswasta dan pedagang. Dari responden yang diperiksa, orang tua yang berpengetahuan baik adalah yang bermata pencaharian sebagai petani yaitu 4 orang (7,3%) dan dominasi pengetahuan di setiap kelompok adalah berpengetahuan sedang.
Hasil penelitian yang didapat menunjukkan sebuah perbedaan dengan penelitian Jusuf, dkk. tentang Tingkat Pengetahuan Petani terhadap Soil Transmitted Helminths. Berdasarkan Penelitian Jusuf, dkk. di Desa Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon tahun 2012, tingkat pengetahuan petani sebanyak 54,7% berpengetahuan rendah terhadap keberadaan STH.
Petani di Kabupaten Karo, berdasarkan data BPS 2012, sebagian besar petani telah digolongkan pada petani modern. Artinya, cara bertaninya telah profit oriented, yaitu mereka tidak lagi memakai cara tradisional dan hasil produksi lebh ditujukan untuk mencari keuntungan. Oleh sebab itu, beberapa orang tua memiliki
pengetahuan yang lebih baik di dalam menjaga kesehatan dan pengetahuan terhadap enterobiasis.
Pada penelitian ini, diteliti juga angka kejadian enterobiasis dan kasus dan kasus infeksi kecacingan yang teridentifikasi dalam pemeriksaan anal swab dengan metode adhesive tape. Pada tabel 5.12. untuk angka kejadian enterobiasis, didapatkan sebanyak 4 anak (6,7%) dan keseluruhan anak yang terinfeksi adalah anak laki-laki.
Hasil penelitian ini menunjukkan keseseuaian dengan data Penelitian Lee et.
All (2011) yang mengatakan bahwa prevalensi infeksi Enterobius vermicularis pada siswa Sekolah dasar antara anak laki-laki dan anak perempuan yaitu 12,3%
dan 8,4%.
Menurut analisis penelitian, enterobius lebih sering menyerang anak laki-laki dibandingkan anak perempuan karena anak laki-laki-laki-laki lebih banyak terpapar terhadap faktor resiko, salah satunya sanitasi perorangan. Menurut pengamatan peneliti, rata-rata anak laki-laki memiliki perilaku sanitasi yang lebih buruk dibandingkan anak perempuan.
Berdasarkan karakteristik anak yang positif enterobiasis terhadap kelompok umur (Tabel 5.11) didapatkan bahwa paling banyak pada kelompok umur 9 – 11 tahun yaitu sebanyak 2 orang (7,7%). Hal tersebut berkorelasi dengan tingkatan kelas anak, di mana dari 4 orang anak yang terinfeksi enterobiasis berasal dari kelas III – VI SD. (Tabel 5.11) Hal ini menunjukkan kesesuaian dari penelitian Kim dkk (2010) bahwa dari 1.646 sampel anak yang diperiksa, banyak anak yang positif enterobiasis sebanyak 177 orang (10,8%) berada pada kelompok umur >=
6 tahun.
Menurut penulis, tingkat infeksi enterobiasis yang terjadi pada kelompok umur median (middle childhood) disebabkan bahwa pada tingkat umur tersebut terjadi suatu fase untuk meningkatkan kebebasan, belajar dan sosialisasi (Kaplan, 2007). Hal ini yang menyebabkan pada tingkat umur ini anak-anak kurang memperhatikan sanitasi, dari yang paling sederhana adalah kuku. Sementara pada kompok umur early childhood, adanya peran orang tua dalam memerhatikan kebersihan dalam rangka menjaga kesehatan anak yang belum mandiri.
Sedangkan pada kelompok umur anak yang late childhood, kebersihan lebih diperhatikan dengan orientasi utama menarik perhatian lawan jenis.
Bila dikaitkan dengan pengetahuan orang tua, dari empat orang anak yang positif enterobiasis, keseluruhan (100%) memiliki orang tua yang berpengetahuan
„Sedang‟ tentang enterobiasis. Hal ini menunjukkan angka kejadian tidak mutlak dipengaruhi oleh pengetahuan orang tua tentang enterobiasis. Keadaan pada penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Kim et all (2010) di mana dikatakan bahwa pengetahuan orang tua memiliki pengaruh penting untuk terjadinya enterobiasis.
Selain enterobiasis, didapatkan pula kasus ascariasis dan trichuriasis dalam pemeriksaan anal swab secara adhesive tape. Dari hasil pemeriksaan, anak yang terinfeksi ascariasis 9 orang (15%) dan trichuriasis 1 orang (1,7%).
Menurut analisa penulis, dalam pengambilan anal swab, kita dapat menjumpai telur parasit lain yang dapat keluar melalui feces, seperti telur Soil Transmitted Helminths, protozoa, dll. Adanya keratin kulit juga dapat terambil melalui anal swab dan tampak pada pemeriksaan mikroskopis.
Ditemukannya positif telur cacing lebih dari satu spesies cacing membuktikan bahwa anak tersebut membutuhkan pengobatan anti-cacing untuk eradikasi cacing dan meningkatkan Qol (Quality of Life).
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pengetahuan orang tua tentang enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu mayoritas berpengetahuan Sedang yaitu sebanyak 48 orang (80%) dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu adalah sebanyak 4 orang (6,7%) 2. Pada pemeriksaan anal swab, terdeteksi pula telur cacing Soil
Transmitted Helminths yaitu telur Ascaris lumbricoides (15%) dan telur Trichuris trichiura (1,7%).
6.2. Saran
Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh penulis dalam menyelesaikan penelitian ini, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan kepada orang tua untuk mencari informasi tentang penyebaran, diagnosa, gejala klinis, pengobatan, terlebih pencegahan tentang enterobiasis agar penyakit ini tidak menyebar secara luas di dalam keluarga dan masyarakat.
2. Diharapkan kepada anak-anak untuk bisa menjaga kebersihan diri dimulai dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di sekolah dan rumah untuk menghindarkan diri dari enterobiasis dan penyakit kecacingan lainnya.
3. Diharapkan kepada Pihak Sekolah SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu untuk dapat melakukan pengajaran tentang pengetahuan dasar penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit cacing dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari siswa-siswi. Selain itu, pihak
3. Diharapkan kepada Pihak Sekolah SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu untuk dapat melakukan pengajaran tentang pengetahuan dasar penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit cacing dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari siswa-siswi. Selain itu, pihak