• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen : JENNI FRISKA BR. KARO (Halaman 42-0)

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini memperlihatkan Gambaran Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis. Kuesioner yang dibagikan kepada orang tua terdiri dari 18 pertanyaan yang berisi tentang pengenalan tentang Enterobius vermicularis serta tentang epidemiologi, diagnose, manifestasi klinis, pengobatan dan pencegahan enterobiasis.

Setelah dlakukan penelitian, didapatkan bahwa berdasarkan Tabel 5.5.

bahwa orang tua paling banyak menjawab dengan benar pada pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 56 orang (93,3%), sedangkan orang tua yang paling banyak menjawab pertanyaan yang salah pada pertanyaan nomor 8 yaitu sebanyak 51 orang (85%). Hal ini menunjukkan suatu perbedaan dengan penelitian Kim dkk, 2010 bahwa orang tua terbanyak menjawab perntanyaan dengan benar tentang pencegahan enterobiasis 96,9%, yaitu tentang pentingnya peran mencuci tangan dan kuku yang pendek untuk mencegah infeksi E. vermicularis. Selain itu, orang

tua yang menjawab pertanyaan yang salah paling banyak adalah pertanyaan tentang siklus hidup E. vermicularis (27,5%) yaitu tentang cacing dewasa E.

vermicularis yang dapat bermigrasi ke daerah kelamin.

Hal ini juga menunjukkan bahwa antara tingkat pendidikan orang tua dengan pengetahuan tentang enterobiasis terdistribusi secara bervariasi. (Tabel 5.3)

Hasil ini sesuai dengan teori diungkapkan Green et al. (1999) bahwa kesehatan individu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor perilaku dan faktor di luar perilaku (non perilaku). Faktor perilaku ditentukan oleh faktor predisposisi, faktor pemungkinan dan faktor penguat. Pengetahuan adalah tercakup di dalam faktor predisposisi, sehingga apabila faktor pengetahuan sesorang tersebut dalam batas baik mengenai enterobiasis, maka belum tentu seseorang tersebut absen dari penyakit enterobiasis, bila tidak didukung dari faktor-faktor lainnya.

Selain itu, baik dilihat dari karakteristik responden/ orang tua pada Tabel 5.7., distribusi pengetahuan orang tua paling banyak pada kelas usia 31 – 40 tahun dan berada pada kelompok berpengetahuan “Sedang” yaitu sebanyak 31 orang (76,2%).

Menurut Notoadmojo (2010) umur merupakan karakteristik atau komponen yang berhubungan dengan kematangan seseorang baik fisik maupun mental.

Namun, hal tersebut tidak mutlak, karena faktor intern dan faktor ekstern yang mempengaruhinya. Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikiran sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik. Umur merupakan ciri dari kedewasaan fisik dan kematangan kepribadian yang erat kaitannya dalam pengambilan keputusan.

Menurut penulis, umur mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan, sedangkan tingkat pengetahuan seseorang merupakan multifaktorial, dapat dipengaruhi oleh karena pengalaman dan juga tidak pengalaman. Hal ini didukung oleh pendapat dari Kant (Jalaluddin, 2013) pengetahuan dibagi menjadi dua jenis, yakni “apriori” dan “a-posteriori”. Pengetahuan “apriori” ialah pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman, sedangkan pengetahuan a-posteriori adalah pengetahuan yang terjadi akibat pengalaman.(Aceng Rahmat, 2011:140)

Adapun karakteristik orang tua untuk tingkat pendidikan digambarkan pada Tabel 5.7. Dapat dilihat bahwa pengetahuan orang tua paling baik bukan berada pada tingkat pendidikan tertinggi yaitu Diploma, melainkan berada pada tingkat SMA / SMK yaitu sebanyak 2 orang (10,5%). Hasil penelitian ini memperlihatkan perbedaan dengan responden orang tua yang berada di Kelurahan Padang Bulan Kota Medan yang menunjukkan tingkat pendidikan yang tinggi, yaitu SMA (37,4%) dan Perguruan Tinggi (21,2%)

Menurut penulis, pendidikan orang tua di tempat penelitian berhubungan dengan mata pencaharian yang digeluti oleh orang tua, yaitu bertani. Berdasarkan data Kependudukan Kabupaten Karo bahwa tingkat melek huruf pada tahun 2012 sebesar 98%. Artinya, masih ada beberapa penduduk yang belum mengecap pendidikan yang berpengaruh juga terhadap pengetahuan tentang kesehatan, khususnya enterobiasis. Menurut Kasnodiharjo (2009), pendidikan seseorang yang berbeda akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, tingkat pendidikan yang tinggi belum tentu mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang suatu penyakit infeksi kecacingan, khususnya enterobiasis.

Pekerjaan orang tua di Desa Lingga Julu tidak begitu heterogen. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5.7., di mana terdapat tiga jenis pekerjaan yang menjadi sumber ekonomi orang tua, yaitu petani, wiraswasta dan pedagang. Dari responden yang diperiksa, orang tua yang berpengetahuan baik adalah yang bermata pencaharian sebagai petani yaitu 4 orang (7,3%) dan dominasi pengetahuan di setiap kelompok adalah berpengetahuan sedang.

Hasil penelitian yang didapat menunjukkan sebuah perbedaan dengan penelitian Jusuf, dkk. tentang Tingkat Pengetahuan Petani terhadap Soil Transmitted Helminths. Berdasarkan Penelitian Jusuf, dkk. di Desa Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon tahun 2012, tingkat pengetahuan petani sebanyak 54,7% berpengetahuan rendah terhadap keberadaan STH.

Petani di Kabupaten Karo, berdasarkan data BPS 2012, sebagian besar petani telah digolongkan pada petani modern. Artinya, cara bertaninya telah profit oriented, yaitu mereka tidak lagi memakai cara tradisional dan hasil produksi lebh ditujukan untuk mencari keuntungan. Oleh sebab itu, beberapa orang tua memiliki

pengetahuan yang lebih baik di dalam menjaga kesehatan dan pengetahuan terhadap enterobiasis.

Pada penelitian ini, diteliti juga angka kejadian enterobiasis dan kasus dan kasus infeksi kecacingan yang teridentifikasi dalam pemeriksaan anal swab dengan metode adhesive tape. Pada tabel 5.12. untuk angka kejadian enterobiasis, didapatkan sebanyak 4 anak (6,7%) dan keseluruhan anak yang terinfeksi adalah anak laki-laki.

Hasil penelitian ini menunjukkan keseseuaian dengan data Penelitian Lee et.

All (2011) yang mengatakan bahwa prevalensi infeksi Enterobius vermicularis pada siswa Sekolah dasar antara anak laki-laki dan anak perempuan yaitu 12,3%

dan 8,4%.

Menurut analisis penelitian, enterobius lebih sering menyerang anak laki-laki dibandingkan anak perempuan karena anak laki-laki-laki-laki lebih banyak terpapar terhadap faktor resiko, salah satunya sanitasi perorangan. Menurut pengamatan peneliti, rata-rata anak laki-laki memiliki perilaku sanitasi yang lebih buruk dibandingkan anak perempuan.

Berdasarkan karakteristik anak yang positif enterobiasis terhadap kelompok umur (Tabel 5.11) didapatkan bahwa paling banyak pada kelompok umur 9 – 11 tahun yaitu sebanyak 2 orang (7,7%). Hal tersebut berkorelasi dengan tingkatan kelas anak, di mana dari 4 orang anak yang terinfeksi enterobiasis berasal dari kelas III – VI SD. (Tabel 5.11) Hal ini menunjukkan kesesuaian dari penelitian Kim dkk (2010) bahwa dari 1.646 sampel anak yang diperiksa, banyak anak yang positif enterobiasis sebanyak 177 orang (10,8%) berada pada kelompok umur >=

6 tahun.

Menurut penulis, tingkat infeksi enterobiasis yang terjadi pada kelompok umur median (middle childhood) disebabkan bahwa pada tingkat umur tersebut terjadi suatu fase untuk meningkatkan kebebasan, belajar dan sosialisasi (Kaplan, 2007). Hal ini yang menyebabkan pada tingkat umur ini anak-anak kurang memperhatikan sanitasi, dari yang paling sederhana adalah kuku. Sementara pada kompok umur early childhood, adanya peran orang tua dalam memerhatikan kebersihan dalam rangka menjaga kesehatan anak yang belum mandiri.

Sedangkan pada kelompok umur anak yang late childhood, kebersihan lebih diperhatikan dengan orientasi utama menarik perhatian lawan jenis.

Bila dikaitkan dengan pengetahuan orang tua, dari empat orang anak yang positif enterobiasis, keseluruhan (100%) memiliki orang tua yang berpengetahuan

„Sedang‟ tentang enterobiasis. Hal ini menunjukkan angka kejadian tidak mutlak dipengaruhi oleh pengetahuan orang tua tentang enterobiasis. Keadaan pada penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Kim et all (2010) di mana dikatakan bahwa pengetahuan orang tua memiliki pengaruh penting untuk terjadinya enterobiasis.

Selain enterobiasis, didapatkan pula kasus ascariasis dan trichuriasis dalam pemeriksaan anal swab secara adhesive tape. Dari hasil pemeriksaan, anak yang terinfeksi ascariasis 9 orang (15%) dan trichuriasis 1 orang (1,7%).

Menurut analisa penulis, dalam pengambilan anal swab, kita dapat menjumpai telur parasit lain yang dapat keluar melalui feces, seperti telur Soil Transmitted Helminths, protozoa, dll. Adanya keratin kulit juga dapat terambil melalui anal swab dan tampak pada pemeriksaan mikroskopis.

Ditemukannya positif telur cacing lebih dari satu spesies cacing membuktikan bahwa anak tersebut membutuhkan pengobatan anti-cacing untuk eradikasi cacing dan meningkatkan Qol (Quality of Life).

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dan hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:

1. Pengetahuan orang tua tentang enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu mayoritas berpengetahuan Sedang yaitu sebanyak 48 orang (80%) dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu adalah sebanyak 4 orang (6,7%) 2. Pada pemeriksaan anal swab, terdeteksi pula telur cacing Soil

Transmitted Helminths yaitu telur Ascaris lumbricoides (15%) dan telur Trichuris trichiura (1,7%).

6.2. Saran

Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh penulis dalam menyelesaikan penelitian ini, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada orang tua untuk mencari informasi tentang penyebaran, diagnosa, gejala klinis, pengobatan, terlebih pencegahan tentang enterobiasis agar penyakit ini tidak menyebar secara luas di dalam keluarga dan masyarakat.

2. Diharapkan kepada anak-anak untuk bisa menjaga kebersihan diri dimulai dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di sekolah dan rumah untuk menghindarkan diri dari enterobiasis dan penyakit kecacingan lainnya.

3. Diharapkan kepada Pihak Sekolah SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu untuk dapat melakukan pengajaran tentang pengetahuan dasar penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit cacing dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari siswa-siswi. Selain itu, pihak sekolah mengadakan program makan obat cacing secara berkala, untuk menghindarkan diri dari infeksi kecacingan yang ada di anak-anak Desa Lingga Julu.

4. Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Karo untuk dapat memberikan penyuluhan berkala kepada para petani yang ada di Kabupaten Karo untuk menambah pengetahuan dan melakukan proteksi kesehatan terhadap penyakit infeksi yang disebabkan oleh kecacingan, khususnya enterobiasis.

DAFTAR PUSTAKA

Asafa, D., Kibbu, E., Nagesh, S, 2004. Medical Parasitology. Ethiopia: Ethiopia Public Health Training Initiative.

Babady N.E., Awender E., Geller R., 2011. Enterobius vermicularis in a 14-year-old Girls’s Eye. Dalam: Journal of Clinical Microbiology, Dec 2011. P:

4369 – 4370.

BPS Karo, 2012. Survei Sosial Ekonomi Nasional Statistik Kesejahteraan Rakyat, Kabupaten Karo, 2012.

Chadijah, S., Anastasia, H., Widjaja, J., Nurjana, MA., 2013. Intestinal worm disease in Palu and Donggala, Central Sulawesi. Dalam: Jurnal Buski.

Sulteng: Balai Litbang P2B2 Donggala Kementerian Kesehatan RI.

Gandahusada S., Herry D.I., Eita Pribadi, 1998. Parasitologi Kedktoeran. Ed III.

Jakarta: Penerbit FK UI.

Garcia, Lynne and Brucker, D.A., 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran.

Jakarta: EGC.

GlaxoSmithKleine, 2012. The campaign to control soil-transmitted helminthes.

Green, Lawrence W., Marchel W.K., 1999. Health Promoting Planning an Educational and Environment Approach. 2nd edition. Mayfield Publishing Company: Mountain View.

Gut, 1994. Enterobius vermicularis infection. Dalam: Leading Article – Tropical infection of the GI tract and liver series, 1159 – 1162

Hadijaja P., 1994. Masalah Penyakit Kecacingan di Indonesia dan Penanggulangannya. Majalah Kedkteran Vol.44: 215-216.

Hairani, B., Annida, 2012. Intestinal parasite incidence on elementary school students in town and village at Tanah Bumbu District. Dalam: Jurnal Buski, 102-108

Hidayat F., Khamidi T., Wijyono S., 2010. Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Petani di Kabupaten Tegal dalam Penggunaan Pestisida dan Kaitannya dengan Tingkat Keracunan Terhadap Pestisida. Dalam: Jurnal Bumi Lestari, Vol. 10, 1 – 12

Huh, S. 2004. Pinworm.

Diunduh dari http://www.emedcine.com/med/topic1837.htm

Jalaudin, H., 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Jusuf A., Ruslan, Selomo M., 2012. Gambaran Parasit Soil Transmitted Helmints dan Tingkat Pengetahuan, Sikap Serta Tindakan Petani Sayur di Desai Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon.

Kasnodihardjo, PrasodjoR., Musadad D.A., 2009. Gambaran Perilaku Masyarakat Kaitannya dengan Penularan dan Upaya Pegendalian Penyakit Berbasis Lingkungan di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawab Barat. Dalam: Jurnal Ekologi Kesehatan Vol.8, 1084 - 1093

Kim D.H., Son H.M., Kim J.Y., 2010. Parent’s Knowledge about Enterobiasis Might Be One of the Most Important Risk Factors for Enterobiasis in Children. Dalam: Korean J Parasitol Vol.48, No.2: 121-126.

Lee S.E, Lee J.H., Jung J.W. 2011. Prevalence of Enterobius vermicularis among Preschool Children in Gimhae-si, Gyeongsangnam-do, Korea. Dalam:

Korean J Parasitol Vol.49, No. 2:183-185

Lubis, M.S., 2012. Filsafat Ilmu dan Penelitian. Jakarta: PT Sofmedia.

Muller, R., 2002. Worms and Human Disease. Wailling Ford: CABI Publishing.

Notoatmodjo, S., 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Dalam: Notoatmodjo, S., ed. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT RINEKA CIPTA

Pratomo, H. 1986. Defenisi Operasional dan Variabel. Dalam Pratomo, H.

Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian Bidang Kesehatan Masyarakat dan Keluarga Berencana/Kependudukan. Jakarta : Departemen Pendidikan &

Kebudayaan RI PMU. Pengembangan FKM di Indonesia.

Putri, 2009. Faktor yang Berhubungan dengan Enterobiasis pada Anak SD di Problem. Dalam The Canadian Journal of CME (October, 2006): 20-21 Rudolph, C.D., Rudolph, A.M., penyunting. Rudolph‟s pediatric, ed.21.

Soedarto, 1995. Nematoda. Dalam: Helmintologi Kedokteran. Jakarta: Gaya Baru.

Soejoto dan Soebari, 1996. Penuntun Praktek Parasitologi Medik Jilid3.

Protozoologi dan Helminthologi. Solo: EGC.

Stepek G., Buttle D.J., Duce I.R., 2006. Human Gastrointestinal Nematode Infection: are New Control Methods Required. Dalam: Int. J. Exp. Path (2006), 87, 325-341

Sutanto, I., dkk., 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran UI

FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Program StudiPendidikanDokter

FakultasKedokteranUniversitas Sumatera Utara

SURAT PERSETUJUAN Yang bertandatangandibawahini :

Nama : ……….

Umur : ……….

Setelah mendapatkan keterangan secukupnya serta menyadari manfaat dari penelitian tersebut di bawah ini yang berjudul :

Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis dan Angka Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Dengan sukarela menyetujui anak saya diikutsertakan sebagai „sampel‟ dalam penelitian di atas dengan catatan bila suatu waktu merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan persetujuan ini serta berhak untuk mengundurkan diri.

Medan, Agustus 2014 Mengetahui Yang Menyetujui Peneliti Peserta

(Jenni Friska br. Karo) ( )

FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Program StudiPendidikanDokter

FakultasKedokteranUniversitas Sumatera Utara

SURAT PERSETUJUAN Yang bertandatangandibawahini :

Nama : ……….

Umur : ……….

Setelah mendapatkan keterangan secukupnya serta menyadari manfaat dari penelitian tersebut di bawah ini yang berjudul :

Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis dan Angka Kejadian Enterobiasis pada Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Dengan sukarela menyetujui diikutsertakan sebagai „Responden‟ dalam penelitian di atas dengan catatan bila suatu waktu merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan persetujuan ini serta berhak untuk mengundurkan diri.

Medan, Agustus 2014 Mengetahui Yang Menyetujui Peneliti Peserta

(Jenni Friska br. Karo) ( )

KUESIONER PENELITIAN

Pengetahuan Orang Tua Siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu tentang Enterobiasis

2. Apakah gatal-gatal pada anus adalah gejala yang paling sering terjadi pada infeksi cacing kremi?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah pemeriksaan tinja (tai) adalah cara untuk mengetahui seseorang terinfeksi cacing kremi?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah cacing kremi dewasa akan bergerak-gerak di daerah sekitar anus?

a. Ya b. Tidak

5. Apakah cacing kremi dapat berpindah ke saluran kelamin?

a. Ya

7. Apakah infeksi cacing kremi disebabkan karena tertelan telur cacing kremi lewat tangan,bukan dari udara atau kaki?

a. Ya b. Tidak

8. Apakah infeksi cacing kremi juga akan terjadi pada air yang kotor?

a. Ya b. Tidak

9. Apakah bila seorang sakit cacing kremi, maka anggota keluarga lain juga harus diobati?

a. Ya b. Tidak

10. Apakah pengobatan infeksi cacing kremi perlu diulang dengan pemberian obat anti-cacing dengan waktu 2 minggu setelah pengobatan yang pertama?

a. Ya b. Tidak

11. Apakah infeksi cacing kremi dapat dicegah dengan cara menjemur tempat tidur di bawah sinar matahari?

a. Ya b. Tidak

12. Apakah cuci tangan dengan air saja dan punya kuku panjang bisa menghindarkan diri dari sakit cacing kremi?

a. Ya b. Tidak

13. Apakah sakit infeksi cacing kremi selama bertahun-tahun dapat mengakibatkan penurunan berat badan?

a. Ya b. Tidak

14. Apakah sakit infeksi cacing kremi dapat membuat sakit usus buntu?

a. Ya b. Tidak

15. Apakah cacing kremi berasal dari daging yang mentah?

a. Ya b. Tidak

16. Apakah orang yang sakit infeksi cacing kremi sulit tidur pada malam hari?

a. Ya b. Tidak

17. Apakah cacing kremi dapat dilihat sendiri dengan mata telanjang?

a. Ya b. Tidak

18. Apakah sakit infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri?

a. Ya b. Tidak

Correlations

Sig. (2-tailed) .063 .800 .112 .444 .285 .001 .063 .471 .444 .285 .800 .678 .010 .678 .036 .063 .924 .009

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

LAMPIRAN

50 38.00

Frequency Percent

JENISKEL

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Perempuan 30 50.0 50.0 50.0

Laki-Laki 30 50.0 50.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

LAMPIRAN NILAI KUESIONER PENGETAHUAN ORANG TUA

Lampiran Gambar

1. Pengambilan Apusan Anal dengan Metode Adhesive Tape

2. Telur Enterobius vermicularis pada Slide no. 6 (5F)

3. Telur Enterobius vermicularis pada Slide no. 15 (4G)

4. Telur Enterobius vermicularis pada Slide no. 25 (3M)

5. Telur Enterobiasis vermicularis pada Slide no.41 (6G)

6. Anak-Anak SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu

CURRICULUM VITAE

DATA PRIBADI

Nama Lengkap : Jenni Friska br. Karo

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/ Tanggal Lahir : Dumai, 27 Februari 1993

Warga Negara : Indonesia

Status : Belum Menikah

Status dalam Keluarga : Anak kedua dari tiga bersaudara

Agama : Kristen Protestan

Alamat asal : Jalan Pertemuan no. 3 Medan

Mobile phone : 085276476427

2 SD Swasta Methodist-2 Medan 1999 s.d. 2005

3 SMP Swasta Methodist-2 Medan 2005 s.d. 2008

4 SMA Negeri 1 Medan 2008 s.d. 2011

1. Juara Harapan 1 Olimpiade Sains Mata Pelajaran BIOLOGI tingkat kota Medan tahun 2007

2. Juara 1 Lomba Esai Ilmiah Pekan Ilmiah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Sumatera Utara tahun 2012

3. Finalis Lomba Esai Ilmiah Scripta Research Festival Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera tahun 2013

4. Finalis Lomba Cerpen Gebyar Medifka Children of Universe Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya tahun 2013

Dalam dokumen : JENNI FRISKA BR. KARO (Halaman 42-0)

Dokumen terkait