• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen : JENNI FRISKA BR. KARO (Halaman 15-0)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:

a. Bagi penulis bermanfaat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berpikir dalam menganalisa pengetahuan orang tua dan hubungannya dengan infeksi E.vermicularis pada anak dan sebagai sarana berlatih untuk menyelesaikan tugas akhir pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

b. Bagi anak SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu beserta orang tua bermanfaat meningkatkan rasa peduli dan pengetahuan terhadap infeksi cacing kremi (E.vermicularis) beserta gejala dan komplikasi yang ditimbulkannya.

c. Bagi pemerintah menjadi sumbangan pemikiran untuk meningkatkan data survei epidemiologi prevalensi enterobiasis di Sumatera Utara.

d. Bagi Universitas Sumatera Utara hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai bahan referensi bagi suatu karya ilmiah

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan

2.1.1 Definisi Pengetahuan

Manusia adalah makhluk berpikir yang selalu ingin tahu tentang sesuatu. Rasa ingin tahu mendorong manusia mengemukakan pertanyaan.

Bertanya tentang dirinya, lingkungan dan sekelilingnya, ataupun berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Dengan bertanya, manusia mengumpulkan segala sesuatu yang diketahuinya. Begitulah cara manusia mengumpulkan pengetahuan. Dalam KBBI (1990) dikatakan bahwa pengetahuan adalah produk dari tahu, yakni mengerti sesudah melihat, menyaksikan dan mengalami.

Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah hasil dari tahu apa yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Objek dalam pengetahuan adalah benda atau hal yang diselidiki oleh pengetahuan tersebut. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera raba, rasa, penglihatan dan penciuman.

Dengan kata lain, prinsip pengetahuan dicapai apabila: “subyek itu memandang objek sebagai suatu yang diketahuinya.” Hatta di dalam buku Filsafat Ilmu dan Penelitian (Lubis, 2012) membedakan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman, dan pengetahuan yang diperoleh dari keterangan. Orang yang mengetahui sesuatu karena pengalaman menjadikan pengalaman itu sebagai pedoman. Orang yang biasa memikirkan sesuatu hal yang dilihatnya tidak puas dengan kenyataan itu saja dan ia mencari keterangan tentang bagaimana duduknya dan apa sebabnya. Orang yang hanya mengetahui sesuatu oleh karena pengalaman dan penglihatan tidak mencari keterangan dari pengalaman itu. Orang yang memikirkan sesuatu masalah yang dilihatnya mengetahui perhubungan sebab dan akibatnya (causaliteits verband), dan sebab itu ia dapat mempergunakan pengetahuan itu untuk mencapai tujuannya (Lubis, 2012)

2.1.2. Proses Pembentukan Pengetahuan

Proses pengetahuan timbul pertama sekali oleh karena sifat manusia yang selalu ingin tahu. Seseorang yang ingin tahu akan menggunakan pertanyaan secara sederhana untuk mengupas kejadian/peristiwa yang dilihat, didengar, dirasa, diraba dan dicium.

Namun di samping itu, ada kalanya pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman yang berulang-ulang terhadap suatu peristiwa atau kejadian.

Contohnya, masyarakat petani yang berdiam di wilayah kaki gunung berapi juga mengantisipasi bencana letusan gunung atas dasar gejala alam.

Ada juga pengetahuan diperoleh dari usaha dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan kebutuhan hidup. Ada kalanya juga pengetahuan diperoleh dengan percobaan-percobaan sederhana atau dikenal dengan trial and error (Jalaluddin, 2013).

2.1.3. Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan dibedakan dari ilmu pengetahuan. Pengetahuan alamiah hanya terbatas pada rangkaian informasi tentang sesuatu benda, fakta, peristiwa, dan lainnya. Melalui pengetahuan alamiah, seseorang hanya dapat “mengetahui” atau “tahu” (Robiyanto, 2010). Ilmu pengetahuan ternyata tidak sesederhana itu. Tidak hanya sekedar pengetahuan terhadap realitas seperti apa adanya melainkan ingin mengetahui secara mendalam terhadap semuanya itu. Untuk memperolehnya, maka perlu dilakukan beberapa pendekatan yang terpercaya yang mampu untuk mengungkapkan kebenaran secara sahih (valid). Pendekatan yang dimaksud adalah berupa:

1. pendekatan ilmiah, yang bersifat sistematis dan terkontrol.

2. pendekatan bersifat empiris, yang terkait dengan dengan validasi 3. pendekatan bersifat self-correcting, yang menyangkut proses kontrol

terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan (Rahmat, 2011).

Pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan, apabila dalam proses memperolehnya digunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan dapat

merupakan gabungan antara penalaran induktif dan deduktif (Jalauddin, 2013).

2.2. Enterobiasis

Cacing kremi atau Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis adalah parasit yang hanya menyerang manusia, penyakitnya kita sebut oxyuriasis atau enterobiasis. Oleh awam, kita sering mendengar disebut sebagai kremian. Enterobiasis memang bukanlah penyakit yang serius, akan tetapi enterobiasis dapat berdampak buruk. Namun, eliminasi parasit dari tubuh pasien dan lingkungan keluarga, kelompok dan institusi sering menjadi masalah yang rumit. Salah satunya disebabkan oleh perawatan yang tidak lengkap dan juga re-infeksi.

Infeksi oleh Enterobius vermicularis biasanya terjadi karena termakan telur dari tangan yang terkontaminasi, makanan dan juga air.

Iritasi lokal pada anus disebabkan cacing yang bermigrasi menimbulkan gejala pruritus ani. Penyebaran lebih lanjut kepada lingkungan berasal dari tangan yang terkontaminasi dan auto-infeksi dengan garukan lokal pada anus (Gut, 1994)

2.2.1. Enterobius vermicularis

Enterobius vermicularis pertama sekali ditemukan oleh Linnaeus pada tahun 1758 (Muller, 2002). Cacing kremi atau Enterobius vermicularis (Oxyuris vermicularis) diklasifikasikan dalam Kingdom Metazoa, Phylum Nemathelminthes, class Nematoda, Sub class plasmodia, Ordo Oxyurida, Sub family Oxyuroidae, family Oxyuridae, Genus Enterobius, Spesies Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis (Lubis , 2002)

Cacing betina berukuran 8 – 13 mm x 0,3 – 0,5 mm. Cacing ini memiliki ekor yang panjang dan runcing yang panjangnya sepertiga dari panjang total tubuh cacing. Pada ujung anterior pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae.Vulva terbuka di pertengahan ventral.

Selain itu, cacing betina memiliki sepasang uterus yang biasanya berisi

dengan ribuan telur dan yang akan membuat tubuhnya melebar (Muller, 2002)

Cacing jantan berukuran 2 – 5 mm x 0,2 mm. Ujung posteriornya berbentuk melengkung pada bagian ventral dan memiliki sebuah spikula kopulasi (copulatory spicule) yang panjangnya 100-140 µm. Cacing jantan tidak memiliki gubernakulum. Bursanya pendek dan ada variasi pada papilla kaudal. E. vermicularis jantan akan mati setelah kopulasi dan sering muncul dalam feses (Muller, 2002)

Gambar 2.1. E.vermicularis jantan dewasa (atas) dan

E. vermicularis betina dewasa (bawah) (Chiodini, 2003)

Ukuran telur E. vermicularis yaitu 50-60 µm x 20-30 µm (rata-rata 55 x 26 mikron). Telur berbentuk asimetris, tidak berwarna, mempunyai dinding yang tembus sinar dan salah satu sisinya datar. Telur ini mempunyai kulit yang terdiri dari dua lapis yaitu : lapisan luar berupa lapisan albuminous, translusen, bersifat proteksi mekanik.

Di dalam telur terdapat bentuk larvanya. Seekor cacing betina memproduksi telur sebanyak 11.000 butir setiap harinya selama dua sampai tiga minggu, sesudah itu cacing betina akan mati (Asafa, 2004)

Gambar 2.2. Telur E.vermicularis

(Sumber : http://www.asm.org/division/c/photo/pinworm2.JPG)

2.2.2. Patofisiologi

Patofisiologi terjadinya enterobiasis tergantung kepada siklus hidup dari E.vermicularis sendiri. Daur hidupnya berlangsung di dalam lumen gastrointestinal, tidak menyerang struktur viscera pencernaan seperti yang dilakukan oleh cacing tambang (hookworm) dan Ascaris lumbricoides.

Telur-telur tersebut biasanya berisi larva yang berembrio parsial dan mengandung larva rhabditiform infektif dalam empat sampai tujuh jam pada suhu 35°C. Telur-telur tersebut membutuhkan oksigen untuk mendukung lingkungan kehidupannya dan tidak akan berkembang pada suhu 22° C. Cacing betina membuat telur-telurnya hanya boleh dalam tahap empat sel (four-celled stage) dan membutuhkan waktu sekitar 48 jam dalam suhu 25°C untuk menjadi infektif (Muller, 2002)

Lapisan luar albumin dari telur sangat kaku dan bersifat sensitif pada hostnya sehingga mennyebabkan pruritus yang hebat. Pruritus ini mengakibatkan host menggaruk dan telur-telurnya akan tertinggal di dalam kuku host. Telur-telur tersebut juga dapat terbawa melalui debu, dan ketika tertelan, larvanya akan menetas di duodenum. Larva akan bersarang di dalam kripta usus halus dan dua kali moulting (Muller,2012).

Cacing dewasa muda akan turun ke bawah menuju kolon, dan menetas di dalam mukosa dan menjadi dewasa dalam jangka waktu 15 – 43 hari. Retroinfeksi akan terjadi jika larva menetas di kulit perianal dan

bermigrasi naik ke atas menuju anus. Cacing dewasa betina hidup selama 5 – 13 minggu dan yang jantan akan hidup selama tujuh minggu, tetapi infeksi pada manusia biasanya dipertahankan lebih lama oleh karena reinfeksi berulang. Retroinfeksi lebih umum dijumpai kasusnya pada orang dewasa daripada anak-anak dan hasil dari infeksi rekuren dengan beberapa cacing kita temui setiap 40-50 hari (Muller, 2002)

Gambar 2.3. Siklus hidup E.vermicularis (Sumber : http://www.dpd.cdc.gov/dpdx)

2.2.3. Gejala dan Tanda

Enterobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang berarti. Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi di sekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang berimigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menyebabkaan pruritus lokal. Karena cacing berimigrasi ke daerah anus dan menyebabkan pruritus ani, maka penderita menggaruk daerah sekitar anus sehingga timbul luka garuk di sekitar anus.

Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari hingga penderita terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Kadang kadang cacing dewasa mudah dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung,

esofagus dan hidung sehingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut.

Cacing betina gravid mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba fallopii sehingga menyebabkan radang di saluran telur. (Sutanto I dkk, 2008)

Beberapa gejala infeksi Enterobius vermikularis yaitu kurang nafsu makan, berat badan turun, aktivitas meninggi, cepat marah, gigi menggeretak, insomnia dan masturbasi. (Sutanto I dkk, 2008)

Gambar 2.4 Tanda infeksi Enterobius vermicularis di anus berupa gambaran seperti parutan kelapa (Huh, 2004)

2.2.4. Diagnosa Laboratorium

1. Teknik Diagnosa Laboratorium

Teknik diagnosa laboratorium untuk enterobiasis memiliki perbedaan yang berarti khususnya pada saat pengambilan spesimen pemeriksaan.

Cara pemeriksaan enterobiasis yaitu dengan menemukan cacing dewasa atau telur dari Enterobius vermicularis. Adapun caranya sebagai berikut :

a. Cacing Dewasa 1) Makroskopis

Cacing kremi dapat dilihat secara makroskopis atau dengan mata telanjang pada anus penderita,terutama dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi berwarna putih dan setipis rambut mereka aktif bergerak (Asafa, 2004)

2) Mikroskopis

Cacing dewasa dapat ditemukan di feses, dengan syarat harus dilakukan enema terlebih dahulu, yaitu memasukan cairan kedalam rektum agar cacing dewasa keluar dari rektum (Soejoto dan Soebari,1996)

Cacing dewasa yang ditemukan dalam feses,dicuci dengan NaCl agak panas, kemudian dikocok sehingga cacing menjadi lemas, selanjutnya diperiksa dalam keadaan segar atau dimatikan dengan larutan fiksasi untuk mengawetkan.

Nematoda kecil, seperti Enterobius vermicularis dapat juga difiksasi dan diawetkan dengan alkohol 70% yang agak panas.(Soejoto dan Soebari,1996)

b. Telur Cacing

Telur Enterobius vermicularis jarang ditemukan di dalam feses, hanya ditemukan 5% yang positif pada orang-orang yang menderita infeksi ini (Soejoto dkk,1996) Telur Enterobius vermicularis lebih mudah ditemukan dengan tehnik pemeriksaan khusus, yaitu dengan menghapus daerah sekitar anus dengan

“Scotch adhesive tape swab” menurut Graham (Asafa, 2004) Pada metode ini bahan yang diperiksa berupa perianal swab oleh karena cacing betina yang banyak mengandung telur pada waktu malam hari melakukan migrasi ke daerah perianal. Dengan pemeriksaan perianal swab lebih banyak ditemukan

telur cacing tersebut (Asafa, 2004).

2. Metode Pemeriksaan Enterobiasis

Dalam pelaksanaan diagnosis untuk enterobiasis terdapat bermacam-macam metode pada cara pengambilan spesimen :

a. Metode N-I-H (National Institude of Heatlh)

Pengambilan spesimen menggunakan kertas selofan yang didibungkuskan pada ujung batang gelas dan diikat dengan karet

gelang pada bagian sisi kertas selofan. Kemudian batang gelas pada ujung lainnya dimasukkan kedalam tutup karet yang sudah ada lubang dibagian tengahnya. Bagian batang gelas yang mengandung selofan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang kemudian ditutup karet. Hal ini dimaksudkan agar bahan pemeriksaan tidak hilang dan tidak mudah terkontaminasi (Hadidjaja, 1994)

b. Metode pita plastik perekat (cellophane tape atau adhesive tape) Pengambilan spesimen menggunakan alat berupa spatel lidah atau batang gelas yang ujungnya dilekatkan adhesive tape, kemudian ditempelkan di daerah perianal. Adhesive tape diratakan dikaca objek dan bagian yang berperekat menghadap ke bawah. Pada waktu pemeriksaan mikroskopis, salah satu ujung adhesive tape ditambahkan sedikit toluol atau xylen pada perbesaran rendah dan cahayanya di kurangi (Gracia & Brackner,1996)

c. Metode anal swab

Pengambilan spesimen menggunakan swab yang pada ujungnya terdapat kapas yang telah dicelupkan pada campuran minyak dengan parafin yanng telah dipanaskan hingga cair. Kemudian swab disimpan dalam tabung berukuran 100x13 mm dan disimpan dalam lemari es. Jika akan di gunakan untuk pengambilan spesimen, swab diusapkan didaerah permukaan dan lipatan perianal, swab diletakkan kembali dalam tabung. Pada saat pemeriksaan, tabung yang berisi swab diisi dengan xylen dan dibiarkan 3 – 5 menit, kemudian disentrifugasi pada kecepatan 500 rpm selama 1 menit. Ambil sedimen lalu periksa dalam mikroskop (Gracia & Brackner, 1996)

d. Graham Scotch tape

Alat dari batang gelas atau spatel lidah yang pada ujungnya dilekatkan adhesive tape (Gandahusada , 1998). Teknik penggunaan alat ini ditemukan oleh Graham (1941). Teknik alat ini termasuk sederhana dalam penggunaannya. Untuk pengambilan spesimen dilakukkan sebelum pasien defekasi atau mandi, pengambilan spesimen dapat dilakukan di rumah.

Sedangkan untuk membantu dalam pemeriksaan di laboratorium di gunakan mikroskop dan sedikit penambahan toluen atau xylen.

2.2.5. Pengobatan

Enterobiasis adalah satu penyakit infeksi kecacingan yang paling mudah untuk dirawat dan penggunaan antihelmintik spektrum luas adalah cara yang efektif. Namun, apapun obat yang mereka konsumsi, kita harus meenasehati pasien untuk merawat keluarga pasien terkait atau kelompok untuk beberapa situasi, seperti dijumpai kemungkinan untuk menularkan E.

vermicularis atau reinfeksi dari pasien. Menurut guideline CDC, obat-obat yang digunakan adalah :

a. Albendazole b. Mebendazole c. Pyrantel pamoat

BAB 3

KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

3.2 Definisi Operasional

Berdasarkan kerangka konsep di atas, definisi operasional adalah:

1. Pengetahuan cara penularan adalah pengetahuan orang tua tentang cara infeksi dan penularan enterobiasis kepada manusia.

2. Pengetahuan tanda dan gejala adalah pengetahuan orang tua tentang manifestasi klinis enterobiasis.

3. Pengetahuan pengobatan adalah pengetahuan orang tua tentang cara pengobatan enterobiasis.

4. Pengetahuan komplikasi adalah pengetahuan orang tua tentang akibat yang timbul akibat dari enterobiasis dalam jangka waktu yang lama.

5. Pengetahuan pencegahan adalah pengetahuan orang tua tentang cara mencegah penyakit enterobiasis.

6. Orang tua adalah ibu kandung atau pengganti ibu bagi siswa.

Pengetahuan orangtua : - Cara penularan

- Manifestasi klinis - Pengobatan - Komplikasi - Pencegahan

Angka kejadian pada siswa

Enterobiasis

7. Angka kejadian enterobiasis adalah jumlah siswa yang terinfeksi Enterobius vermicularis.

8. Enterobiasis adalah ditemukannya Enterobius vermicularis pada pemeriksaan makroskopis atau ditemukannya telur Enterobius vermicularis ada hasil pemeriksaan laboratorium dengan metode adhesive tape.

3.2.1 Cara ukur

- Pengetahuan orang tua : kuesioner

- Angka kejadian enterobiasis : metode adhesive tape

3.2.2 Alat ukur

Alat ukur untuk pengetahuan adalah kuesioner yang dinilai dengan menggunakan jumlah skor. Penilaian dibagikan dalam 3 kategori, yaitu pengetahuan tinggi, sedang dan rendah. Penilaian terhadap pengetahuan orangtua tentang enterobiasis dilakukan dengan mengajukan 18 pertanyaan tentang pengetahuan kepada responden dengan skoring 1 untuk setiap jawaban yang benar, 0 untuk jawaban yang salah , dengan total skor sebanyak 18 dari 18 pertanyaan.

Untuk angka kejadian enterobiasis dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode adhesive tape.

3.2.3 Hasil ukur

Terdapat beberapa pertanyaan yang akan dijawab oleh responden yang merangkumi pengetahuan tentang enterobiasis. Menurut Pratomo dikategorikan atas baik, sedang dan kurang, dengan definisi sebagai berikut:

1. Baik, apabila skor jawaban responden >75% dari nilai tertinggi.

2. Sedang, apabila skor jawaban responden 40% - 75% dari nilai tertinggi.

3. Kurang, apabila skor jawaban responden < 40% dari nilai tertinggi.

Siswa dinyatakan menderita enterobiasis jika dari hasil anal swab ditemukan telur Enterobius vermicularis atau dalam pemeriksaan laboratorium ditemukan telur Enterobius vermicularis dengan metode adhesive tape.

3.2.4 Skala pengukuran

- Pengetahuan orangtua : skala ordinal.

- Angka kejadian enterobiasis pada siswa : skala interval.

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu tentang pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dan angka kejadian enterobiasis pada siswa SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara tahun 2014. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu keadaan melalui variabel-variabel pengukuran.

Disebut cross sectional karena pengukuran terhadap variabel-variabel dilakukan pada waktu tertentu.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada orang tua dan siswa Sekolah Dasar Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014.

Adapun alasan pemilihan penelitian seperti tertera di atas disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

1. Sekolah berada di kaki gunung Sinabung dan berada di lingkungan pertanian dan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.

2. Pada saat survei lapangan, peneliti mendapatkan bahwa siswa-siswi SD Negeri 040470 banyak menghabiskan aktivitas bermain di area terbuka dan tidak memakai alas kaki ketika bermain.

3. Belum adanya data penelitian mengenai enterobiasis di wilayah tersebut, sehingga dengan adanya penelitian ini dapat menjadi sumbangsih untuk melengkapi data Soil Transmitted Helminths di Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Karo.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah orang tua dan siswa kelas I hingga kelas VI SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jumlah populasi yang telah terdata oleh peneliti pada saat survei lapangan tanggal 17 Mei 2014 adalah sebanyak 142 orang.

4.3.2 Sampel

Sampel untuk penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah sampel yang merupakan anak-anak yang diperiksa secara anal swab untuk melihat angka kejadian enterobiasis yaitu sebanyak 30 orang. Kelompok kedua adalah sampel (responden) yang merupakan orang tua dari anak-anak yang diperiksa tersebut untuk melihat pengetahuan orang tua tentang enterobiasis.

Kriteria inklusi sampel kelompok pertama pada penelitian ini adalah siswa/siswi yang bersekolah di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu, bersedia menjadi sampel dengan menandatangani informed consent penelitian, dan siswa/i yang tidak mengkonsumsi obat antihelminthes dalam rentang waktu seminggu.

Kriteria inklusi sampel kelompok kedua pada penelitian ini adalah orang tua dari siswa/siswi yang telah diperiksa secara anal swab, yang menandatangani informed consent penelitian.

Perhitungan jumlah sampel per setiap kelompok dilakukan dengan menggunakan rumus:

𝑛 =1+𝑁 (𝑑)𝑁 2 Keterangan :

n = jumlah sampel N = jumlah populasi d = tingkat kepercayaan

Dengan jumlah populasi sebanyak 142 orang dan tingkat ketepatan relatif sebesar 10%, maka jumlah sampel yang diperoleh dengan menggunakan rumus adalah sebanyak 60 orang per setiap kelompok sampel.

Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik stratified random sample yang didistribusikan secara merata pada siswa SD Negeri 040470 sebagai berikut:

a. Siswa kelas I, II dan III : 12× 60 = 30 orang b. Siswa kelas IV, V dan VI : 1

2× 60 = 30 orang

4.4 Teknik Pengumpulan Data

4.4.1 Pengetahuan orang tua tentang enterobiasis

Data mengenai pengetahuan orang tua tentang enterobiasis dikumpulkan dengan memberikan kuesioner seputar pengetahuan tentang enterobiasis. Peneliti akan menjelaskan kepada responden tentang tujuan penelitian kemudian meminta persetujuan responden (informed consent) secara lisan dan tulisan. Selanjutnya, responden diminta mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti dimana sebelumnya akan dilakukan uji validitas dan reabilitas terhadap kuesioner yang akan diajukan. Kuesioner berisi 12 pertanyaan yang bersifat close ended question, yakni peneliti memberikan pernyataan dan responden hanya menjawab pertanyaan “ya” dan

“tidak”.

Kuesioner yang akan diujikan terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dilakukan untuk memastikan kuesioner ini dapat dipercaya. Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur, maka dilakukan pengujian terhadap item-item pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan memiliki korelasi bermakna (contruct validity) berarti semua

pertanyaan yang ada di dalam kuesioner tersebut telah mampu mengukur konsep yang kita ukur.

Sementara itu, uji reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran lebih dari satu kali terhadap gejala dan kondisi yang sama.

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan kepada orang tua yang merukapan penduduk Desa Lingga Julu yang memiliki anak SD, namun tidak bersekolah di SD Negeri 040470. Jumlah peserta uji validitas dan reliabilitas sebanyak 30 orang.

Uji reliabilitas dilakukan pada seluruh pertanyaan yang valid dengan koefisien realibilitas Alpha berdasarkan aplikasi program pengolah data komputer. Adapun hasil uji validitas dan reliabilitas ditampilkan pada Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengetahuan Orang Tua tentang Enterobiasis.

Nomor

12 0,543 Valid 0,830 Reliabel

13 0,503 Valid 0,833 Reliabel

14 0,720 Valid 0,820 Reliabel

15 0,528 Valid 0,832 Reliabel

16 0,641 Valid 0,825 Reliabel

17 0,612 Valid 0,827 Reliabel

18 0,475 Valid 0,834 Reliabel

4.4.3. Angka kejadian enterobiasis

Data mengenai angka kejadian enterobiasis dikumpulkan dengan metode pita plastik perekat (adhesive tape). Spesimen diambil pagi-pagi sekali sebelum anak-anak mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Pengambilan spesimen menggunakan alat berupa batang gelas yang ujungnya dilekatkan adhesive tape, kemudian ditempelkan di daerah perianal. Adhesive tape diratakan di kaca objek dan bagian yang berperekat menghadap ke bawah.

(Broke & Melvin, 1996) Semua specimen dikumpulkan dan segera dibawa dalam waktu 24 jam ke Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran USU untuk segera diperiksa untuk penegakan diagnosa enterobiasis.

4.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Semua data yang dikumpulkan dicatat, diolah, dan disajikan dalam bentuk tabel sesuai dengan kebutuhan penelitian dengan bantuan program komputer.

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang terletak pinggir jalan Katabua. SD Negeri 040470 ini memiliki 9 ruangan yang

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 040470 Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang terletak pinggir jalan Katabua. SD Negeri 040470 ini memiliki 9 ruangan yang

Dalam dokumen : JENNI FRISKA BR. KARO (Halaman 15-0)

Dokumen terkait