HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta. Masing-masing deskripsi lokasi penelitian tentang SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta akan adalah sebagai berikut a. Sejarah SMA N 1 Yogyakarta
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta. Semula SMA Negeri 1 Yogyakarta bernama
“Algernere Midlebaar School” (AMS) Afdelling Yogyakarta yang kemudian menjadi SMA A. Pada Tahun 1957 oleh Pemerintah Republik Indonesia (dengan surat keputusan Nomor 12607/a/c tertanggal 16 Desember 1957) SMA I/A dan SMA 2 A dilikuidasi menjadi SMA Teladan yang menempati gedung di Jalan Pakuncen atau Jalan H.O.S. Cokroaminoto 10 Yogyakarta.
Berdasarkan SK Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 097atL13/QIKpts11995 tanggal 24 Mei 1995 SMA I Yogyakarta ditunjuk sebagai Sekolah Unggulam yang kemudian tahun 1998 disempurnakan dengan sebutan SMA Berwawasan Keunggulan. Mulai tahun 2001/2002 berdasarkan SK Dirjen Dikdasmen Depdiknas RI Nomor 511/ C/ Kp/ MN 2002
52
melaksanakan program percepatan akselerasi pendidikan. Dengan SK 4180/ ditunjuk sebagai Sekolah Model Budi Pekerti. (http:sman1yogya.sch.id/html/profil = Sejarah Singkat, diakses pada hari Kamis tanggal 1 Mei 2016 pukul 08.00).
b. Visi Misi SMA Negeri 1 Yogyakarta
Adapun Visi dan Misi SMA Negeri 1 Yogyakarta dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Visi
Terwujudnya sekolah yang mampu menghasilkan keluaran yang berakar budaya bangsa, berwawasan kebangsaan, dan bercakrawala global.
2) Misi
a) Mengembangkan kemampuan akademik berstandar internasional dengan menerapkan dan mengembangkan kurikulum yang berlaku, baik kurikulum lokal, nasional maupun internasional.
b) Mengembangkan sikap kedisiplinan, kepemimpinan, serta ketaqwaan melalui organisasi siswa, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan keagamaan, maupun kegiatan lain yang berakar budaya bangsa.
c) Mengembangkan sikap berkompetensi yang sportif melalui berbagai bidang dan kesempatan dengan mengedepankan aspek kebangsaan.
53
d) Menanamkan nilai keteladanan dan budi pekerti luhur melalui pengembangan kultur sekolah sesuai dengan norma agama, sosial kemasyarakatan, dan kebangsaan.
c. Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang terdapat di SMA Negeri 1 Yogyakarta adalah terdiri dari :
1) Komite Sekolah 2) Kepala Sekolah
3) Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum 4) Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan
5) Wakil Kepala Sekolah bagian Sarana dan Prasarana 6) Wakil Kepala Sekolah bagian Humas
7) Wakil Kepala Sekolah bagian Litbang 8) Guru
9) Bimbingan dan Konseling (BK) 10)Program Akselerasi
11)Pengembangan SDM 12)Perpustakaan
13)UKS
14)Siswa SMA N 1 Yogyakarta
Struktur organisasi di SMA N 1 Yogyakarta saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Sehingga menciptakan sinergi
54
yang baik dalam menghasilkan sekolah yang unggul dan menjadi sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lain.
d. Fasilitas dan Sarana Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan fasilitas pendukung untuk menunjang jalannya proses pembelajaran agar bisa berjalan efektif dan kondusif. Segala bentuk sarana dan prasarana di sekolah bisa di nikmati semua pihak. Pengadaan sarana dan prasarana ini digunakan untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik. Tanpa sarana dan prasrana, proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalan tidak maksimal. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sarana dan prasarana sebagai penunjang di lembaga pendidikan. Keadaan sarana dan prasarana yang ada di SMA Negeri 1 Yogyakarta sebagai berikut :
1) Ruang Belajar 23 Kelas 2) Lab. Multimedia
3) Lab. IPA (Fisika, Kimia, Biologi) 4) Lab. Bahasa
5) Lab. Komputer 6) Sarana Internet 7) Perpustakaan
8) Ruang Kegiatan Kesiswaan
9) Kantin dan Rumah Penjaga Sekolah 10)Ruang Pertemuan/ Ruang Sidang
55 11)Aula
12)UKS
13)Ruang Bimbingan dan Konseling 14)Ruang Kepsek
15)Ruang Guru
16)Masjid dan Ruang Agama lainnya
17)Lapangan Olahraga (Basket, Volley, Badminton, Tenis Meja, dll)
e. Keadaan Guru dan Siswa SMA N 1 Yogyakarta
Data guru pengajar yang ada di SMA Negeri 1 Yogyakarta pada tahun 2016 berjumlah sebanyak 81 orang. Sedangkan siswa yang ada di SMA Negeri 1 Yogyakarta pada tahun pelajaran 2015/ 2016 adalah berjumlah 1081 siswa.
f. Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta 1) Komunikasi
Sebagai salah satu sekolah favorit yang sering berprestasi di Kota Yogyakarta dan sebagai sekolah eks-RSBI, pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta memutuskan untuk menunjuk SMA Negeri 1 Yogyakarta sebagai salah satu sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 merupakan sebuah Kurikulum yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter yang dapat
56
membekali peserta didik dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi. Selain itu, kurikulum 2013 lebih mengutamakan pemahaman, dan skill. Siswa dituntut untuk paham dengan materi pembelajaran yang disampaikan, aktif dalam proses pembelajaran, aktif dalam berdiskusi dan presentasi, serta memiliki sopan santun dan disiplin yang tinggi.
Kurikulum 2013 yang baru disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013 dan belum semua sekolah melaksanakan kurikulum 2013 tentunya perlu persiapan yang diantaranya sosialisasi. Di SMA N 1 Yogyakarta proses sosialisasi berjalan secara berkala dan periodik. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SMA N 1 Yogyakarta :
“ya berjalan baik lewat workshop, setiap tahun baik awal tahun pelajaran maupun tahun akhir pelajaran selalu di workshop tentang Kurikulum 2013, gitu.”(RP/16/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah dapat diketahui bahwa proses sosialisasi mengenai Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta sudah dilaksanakan melalui workshop dan dilaksanakan secara berkala dan periodik.
Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan oleh 3 guru di SMA N 1 Yogyakarta yaitu sebagai berikut :
57
Guru 1: “oh ya sering. Secara periodik sekolah melakukan sosialisasi, disamping dari dinas juga ada. Secara internal sekolah secara periodik selalu ada sosialisasi.” (SB/13/04/2016) Guru 2: “jelas..iya..dulu kan pertamanya Kurikulum 2013 itu kan hanya 3 mapel ya, hanya 3 guru yang didiklat. Nah terus dari 3 guru yang didiklat itu, karena waktu itu harus dilakukan untuk semua mata pelajaran. Itu semua guru disosialisasikan.” (HR/13/04/2016)
Guru 3: ““iya..kita melakukan sosialisasi kepada guru-guru kepada siswa, pada orang tua juga..pas rapat orang tua disampaikan, karena ada beberapa perubahan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya.” (AS/13/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru yang ada di SMA N 1 Yogyakarta, peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses sosialisasi sudah dilaksanakan di SMA N 1 Yogyakarta secara berkala dan periodik, melalui workshop yang diselenggarakan pihak internal sekolah dengan mengundang narasumber maupun yang di selenggarakan oleh Dinas Pendidikan.
Selain sosialisasi kurikulum 2013, pada aspek komunikasi adalah bentuk kerjasama dan koordinasi di SMA Negeri 1 Yogyakarta antara kepala sekolah dan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolahnya, menurut kepala sekolah SMA N 1 Yogyakarta adalah, sebagai berikut :
“Itu ada briefing, ada rapat sosialisasi, dilakukan secara periodik.” (RP/16/04/2016)
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa bentuk kerjasama dan koordinasi antara kepala sekolah dan guru terkait
58
dengan implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta adalah berupa briefing, ada rapat tentang kurikulum 2013, yang kesemuanya itu dilakukan secara periodik.
Aspek terakhir yang dilihat pada variabel komunikasi adalah melihat bagaimana partisipasi warga sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Di SMA Negeri 1 Yogyakarta partisipasi warga sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 secara umum bagus. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA N 1 Yogyakarta, sebagai berikut :
“hmmmm bagus, mereka semua saling kompak, karena memiliki pemikiran bahwa Kurikulum 2013 itu cara untuk menigkatkan kualitas pendidikan maupun bagaimana menghebatkan dalam proses pembelajaran. Karena inti dari pendidikan itu adalah bagaimana proses pembelajaran itu bisa berjalan dengan baik dan terjadi pembelajaran yang sesungguhnya dan itu dibutuhkan oleh siswa.” (RP/16/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA N 1 Yogyakarta, peneliti dapat menyimpulkan bahwa seluruh komponen yang ada di SMA N 1 Yogyakarta sudah memiliki kesamaan berpikir bahwa kurikulum 2013 itu merupakan cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan dengan adanya kurikulum 2013 ini merupakan cara untuk meningkatkan pembelajaran yang ada di SMA N 1 Yogyakarta.
59 2) Sumber daya
Pada aspek sumber daya ini terdiri dari 3 komponen yang diamati antara lain; 1) kepemimpinan kepala sekolah, 2) kesiapan guru, dan 3) sarana prasarana.
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor penentu yang dapat menggerakkan semua sumber daya sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap, terutama kepemimpinan kepala sekolah dalam menggerakkan, mengkoordinasikan, dan menyelaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah.
Bentuk kepala sekolah dalam menyelaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 melalui pendekatan secara personal dengan guru-guru yang ada di sekolah, hal ini terdapat dalam wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Yogyakarta, sebagai berikut :
“Ya dalam briefing, setiap senin kita melakukan proses penguatannya, kemudian dalam rapat-rapat dinas kita juga melakukan satu proses sinkronisasi terhadap apa yang dilakukan oleh bapak ibu guru kemudian dalam supervisi akademik yang itu dilakukan secara personal di setiap guru yang dibantu oleh guru senior kita juga melihat sinkronisasi dan efektifitas dari itu. Dan juga dalam aktifitas PKG (Penilaian Kinerja Guru) itu didalamnya juga ada satu mekanisme untuk bagaimana kita mendeteksi Kurikulum 2013.” (RP/16/04/2016)
60
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Yogyakarta di atas terkait dengan bagaimana menyelaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah, dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, kepala sekolah menghendaki adanya briefing yang secara rutin dilaksanakan antara kepala sekolah dan guru di tingkat internal SMA Negeri 1 Yogyakarta untuk meninjau bagaimana proses implementasi kurikulum 2013 itu berjalan.
Selain itu, pada rapat di tingkat dinas pendidikan terdapat adanya proses sinkronisasi terhadap apa yang dilakukan para guru dalam melaksanakan kurikulum 2013 di kelas untuk kemudian ditinjau bagaimana keefektifan dari hal tersebut yang nantinya bisa berpengaruh dalam penilaian kinerja guru (PKG).
Terkait dengan kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, ada pelatihan bagi guru untuk melaksanakana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta. Berikut informasi yang bisa diketahui berdasarkan hasil wawancara kepala sekolah dan 3 guru di SMA Negeri 1 Yogyakarta terkait dengan kesiapan mereka dan keefektifan dari pelatihan ataupun diklat yang dilaksanakan untuk kurikulum 2013.
Kepsek : “bagus, iya bagus. Di SMA 1 semua siap kaitan dengan itu dan mereka sudah sesuaikan dengan RPP, sesuai dengan yang ada di Permendikbud No. 65 atau No. 64 kaitan dengan bagaimana standar pengelolaan RPP dan disesuaikan dengan Permendikbud yang lain yang itu mendukung untuk dijalankannya Kurikulum 2013.” (RP/16/04/2016)
61
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA N 1 Yogyakarta mengenai kesiapan guru, beliau menyatakan bahwa guru sudah siap untuk melaksanakan kurikulum 2013 sesuai dengan peraturan dari Kemendikbud. Namun disisi lain guru menyatakan bahwa guru menerima untuk melaksanakan kurikulum 2013, tapi disisi lain guru merasakan pelatihan ataupun diklat tentang kurikulum 2013 belum efektif karena masih banyak perubahan yang sering terjadi. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan 3 guru tersebut :
Guru 1: “Relatif ya, sekarang kan lebih banyak, orientasinya pada aplikasi, mungkin dengan eksperimen, dengan inovasi atau siswa melakukan sendiri. “Ya sedikit banyak sudah cukup membantu. Pas sosialisasi tanpa penataran kan, guru sendiri sudah belum begitu paham. Adanya sosialisasi penataran bisa memahami Kurikulum 2013 lebih dalam walaupun masih banyak hambatan juga.” (SB/22/03/2016)
Guru 2: “Oke kita untuk Kurikulum 2013 itu kan diawali di diklat. Bagaimana kita membuat perencanaan pembelajaran, yang dulu tidak ada 5M, sekarang ada 5M seperti itu. Terus juga apa, setelah didiklat kita mengaplikasikan di sekolah, seperti itu, terus juga dalam pelaksanaanya kan SMA 1 itu kan menjadi sekolah model waktu itu ya, ada monitoring juga dari guru-guru pendamping cluster, dari masukan beliaunya, terus kita perbaiki apa proses pembelajaran yang mungkin dianggap kurang, seperti itu. Nah ini yang saya nggak begitu anu ya, nggak begitu sreg dengan penataran itu, artinya beberapa hal dalam penataran sih, gak semuanya. Jadi karena kemarin yang yang saya lihat diklat dua kali itu, apasih bedanya pertama dengan yang kedua, gak jauh beda. Kan lucu ya, artinya kan harus ada progres dimananya. Jadi selalu hal yang sama, analisis buku, macem-macem, yang kita inginkan itu bagaimana sih proses pembelajarannya. Ya tadi selalu diklat itu apa ya, analisis, ya memang administrasi itu penting ya, tapi kan perlu waktu bagaimana membuat model pembelajarannya, seperti itu yang menarik seperti apa, nah sesi yang seperti itu sedikit sekali. Kita
62
lebih banyak ke hal yang sifatnya administratif.”(HR13/04/2016)
Guru 3: “Kalau itu kita ada diklat, terus kita mengikuti apa yang ada di diklat itu. Bagaimana perencanaan pelaksanaan sampai evaluasi, ya seperti apa yang kita peroleh dari diklat itu. Terus kita aplikasikan ke dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Cukup membantu tapi sedikit karena itu kan selalu berkembang, selalu berubah-ubah. Dalam diklat itu yang kita dapatkan dengan tema kedua yang nanti diterima itu berubah. Jadi selalu berubah, pada periode diklat yang satu dengan yang lain selalu ada perubahan-perubahan itu yang kadang menjadi tidak efektif.” (SP/13/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan guru di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru pada dasarnya menerima dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Namun masih perlu adanya pelatihan terkait dengan kurikulum 2013, karena guru di SMA Negeri 1 Yogyakarta merasa adanya pelatihan guru tersebut di rasa belum cukup efektif. Karena selalu ada perubahan yang terjadi dalam setiap pelatihan itu. Selain itu guru merasa pelatihan tersebut hanya bersifat administrasi saja. Guru menginginkan bahwa materi diklat seharusnya perlu di kembangkan lagi.
Fasilitas dan sarana dan prasarana yang perlu dikembangkan dalam mendukung suksesnya implementasi kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Yogyakarta antara lain laboratorium, pusat sumber belajar, perpustakaan serta tenaga pengelola dan peningkatan kemampuan pengelolaannya. Fasilitas dan sarana prasarana tersebut didaya gunakan
63
seoptimal mungkin, di pelihara dan di simpan dengan sebaik-baiknya.
Fasilitas dan sarana dan prasarana di SMA Negeri 1 Yogyakarta sudah lengkap dan mencukupi untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang kondusif dan nyaman. Kaitannya dengan pelaksanaan implementasi Kurikulum 2013 pada aspek sarana dan prasarana tidak menjadi suatu permasalahan untuk SMA N 1 Yogyakarta. Peneliti mendapatkan data dari hasil wawancara dengan 3 guru SMA N 1 Yogyakarta, sebagaimana berikut ini,.
Guru 1: “Ya dikatakan cukup ya cukup, kurang ya kurang, relatif, kalau dikatakan kurang ya memang kurang untuk mapel saya (fisika). Tapi secara keseluruhan ya baik.” (SB/13/04/2016) Guru 2: “Ya kalau dari sisi sarana sudah cukup ya. Dari buku-bukunya juga sudah ada. Akses internetnya juga sudah ada. Nggak masalah kalau dari sisi sarana dan prasarana.”(HR/13/04/2016)
Guru 3: “Ya sudah memadai disini ada internet. Ada perpustakaan, lingkungan sekolah juga mendukung.” (SP/13/04/2016)
Dari hasil wawancara di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa untuk sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 untuk di SMA N 1 Yogyakarta sudah sangat memadai sehingga tidak menganggu pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta.
64 3) Disposisi
Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
Tanggapan kepala sekolah, guru dan siswa di SMA N 1 Yogyakarta mengenai di laksanakannya kurikulum 2013 di sekolahnya berdasarkan hasil wawancara adalah dengan kepala sekolah, guru dan siswa adalah, sebagai berikut:
“secara riil, bagus. Anak menjadi sangat aktif dan guru menjadi memilik tantangan untuk dia mencoba untuk memiliki tingkat materi yang lebih luas dan juga pemahaman materi yang bagus. Yang ketiga bagaimana dia (siswa) mengimplementasi ke kehidupan nyata, contextual learning, yang ada dimasyarakat dengan pembelajaran yang ada dikelas. Sehingga siswa memiliki kesesuaian kondisi nyata di lapangan, di lingkungan mereka dengan pembelajaran di kelas.” (RP/16/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA N 1 Yogyakarta terkait dengan respon mengenai implementasi kurikulum 2013 adalah mendapat repson yang positif. Hal ini diperkuat dengan pendapat 3 guru di SMA N 1 Yogyakarta dan 3 siswa yaitu, sebagai berikut:
65
Guru 1: “pelaksanannaya yo, sementara yang berjalan di SMA 1 ini, udah bagus kayaknya, ya sudah lumayan sekalipun mungkin masih ada kekurangan di sana sini tapi aman. Kan SMA 1 kan mengawali lebih awal Kurikulum 2013 ini dibandingkan dengan sekolah lain. Ini udah jalan tahun ketiga. Saya pikir responnya ya bagus untuk guru maupun siswa.” (SB/13/04/2016)
Guru 2: “Oke, Kurikulum 2013 itu dari sisi konsep pembelajaran itu bagus ya, jadi anak didesain untuk proses berpikir 5M, kalau dulu kan guru-guru menjelaskan materi terlebih dahulu. Jadi dari konsep pembelajaran Kurikulum 2013 itu sudah bagus.”(HR/13/04/2016)
Guru 3: “Emmm, yang pertama responnya karena Kurikulum 2013 itu merupakan aturan dari pemerintah, jadi ya kita harus mengikuti.”(SP/13/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan guru di SMA N 1 Yogyakarta peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru menanggapi positif terkait pelaksanaan kurikulum di sekolahnya, karena memang SMA N 1 Yogyakarta ditunjuk untuk melaksanakan kurikulum 2013.
Tanggapan siswa mengenai pelaksanaan kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta adalah sebagai berikut:
Siswa 1: “Emm, untuk Kurikulum 2013 sistemnya menurut saya sudah bagus. Lebih eeh apa ya, lebih bisa menumbuhkan kreativitas siswa. Tapi pada kenyataannya kadang-kadang belum dilaksanakan dilapangan. Maksud dari belum dilaksanakan dilapangan itu gimana ya, pembelajaran masih monoton biasa. Seperti metode ceramah gitu..hehe.” (IS/13/04/2016)
Siswa 2: “Terus kalo di Kurikulum 2013 itu siswanya mencari sendiri. Tapi malah kadang bingung, jadi harus nanya. Malah agak bingung, agak ruwet..haha tapi enaknya itu bisa bebas bisa browsing pakai HP.”(JG/13/04/2016)
Siswa 3: “ya cuman jadi agak lebih capek aja sih mas, karena suruh mencari sendiri.” (SK/13/04/2016)
66
Dari hasil wawancara dengan siswa yang ada di SMA Negeri 1 Yogyakarta peneliti menyimpulkan bahwa, implementasi kurikulum 2013 dirasa lebih membebaskan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Namun tentunya perlu arahan yang baik dari guru kepada siswa dalam hal materi. Siswa masih merasakan perlu adanya penjelasan dari guru dan tidak hanya sekedar mencari materi saja.