STUDI KOMPARASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMA N 1 YOGYAKARTA DAN SMA N 8 YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyusun Skripsi Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh Agus Astono NIM 12110241034
PROGRAM STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN JURUSAN FILSAFAT DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
i
STUDI KOMPARASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMA N 1 YOGYAKARTA DAN SMA N 8 YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyusun Skripsi Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh Agus Astono NIM 12110241034
PROGRAM STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN JURUSAN FILSAFAT DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
v MOTTO
“Masa depan bangsa terletak pada tangan kreatif generasi muda, mutu bangsa di kemudian hari bergantung pada pendidikan yang dinikmati anak-anak saat ini, apapun yang akan dicapai di sekolah harus ditentukan oleh kurikulum sekolah. Jadi barang siapa yang menguasai kurikulum maka ia memegang peran penting dalam mengatur nasib bangsa dan negara kedepannya”. (Prof. Dr. S. Nasution, M.A)
vi
PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan dengan rasa cinta tanpa batas kepada :
1. Ayahanda Maryono, Ibunda Siyam, dan Kakak Retno Cahyani, terima kasih atas doa yang tak pernah putus, sayang dan cinta yang tanpa batas, serta motivasi yang luar biasa
vii
STUDI KOMPARASI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMA N 1 YOGYAKARTA DAN SMA N 8 YOGYAKARTA
Oleh Agus Astono NIM 12110241034
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan : (1) implementasi kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Yogyakarta, (2) implementasi kurikulum 2013 di SMA Negeri 8 Yogyakarta, dan (3) studi komparasi implementasi kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, dan siswa. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan langkah-langkah reduksi data,
display data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) implementasi kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Yogyakarta berjalan dengan semestinya dilihat dari aspek komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi sesuai dengan tujuan kurikulum 2013. Pelaksanaan kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta mampu memberikan dampak positif bagi siswa, (2) implementasi kurikulum di SMA N 8 Yogyakarta sudah berjalan, namun belum sempurna. Masih terdapat hambatan pada pembelajaran yang bersifat saintifik. (3) Komparasi implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta dilihat dari aspek komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi secara umum berjalan sama. Namun, kedua sekolah mempunyai karakteristik tersendiri dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Di SMA N 1 Yogyakarta kepala sekolah menginginkan adanya forum tingkat internal sekolah yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan implementasi kurikulum 2013. Sedangkan di SMA N 8, kepala sekolah memberi motivasi kepada guru berusaha secara optimal dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia, dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Studi Komparasi Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta”.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan yang penulis capai ini bukanlah karena kerja individu semata, tetapi berkat bantuan semua pihak yang ikut mendukung dalam penyelesaian proposal skripsi ini. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terimakasih yth:
1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di kuliah.
2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kemudahan administrasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar.
3. Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kemudahan dalam perizinan.
4. Ketua Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan yang telah mendukung kelancaran penyelesaian skripsi ini.
5. Dr. Rukiyati, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing Akadamik yang telah memotivasi selama kegiatan perkuliahan.
6. L. Hendrowibowo, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Kepala Sekolah dan seluruh komponen SMA N 1 Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian dan bersedia menjadi subjek penelitian.
8. Kepala Sekolah dan seluruh komponen SMA N 8 Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian dan bersedia menjadi subjek penelitian.
9. Orang tua dan kakak penulis yang selalu memberikan dukungan doa, kasih sayang dan semangat yang tiada hentinya.
x
DAFTAR ISI
hal
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Batasan Masalah ... 10
D. Rumusan Masalah ... 10
E. Tujuan Penelitian ... 10
F. Manfaat Penelitian ... 11
BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Studi Komparasi 1. Pendidikan Komparatif ... 12
2. Kedudukan Pendidikan Komparatif ... 15
3. Tujuan Studi Pendidikan Komparatif ... 16
4. Cakupan Studi Pendidikan Komparatif ... 19
xi
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi ... 21
a. Teori George C. Edwards ... 21
b. Teori Merilee S. Grindle ... 23
c. Teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier... 24
d. Teori Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn ... 25
e. Teori G. Shabbir dan Dennid A. Rondinelli ... 26
f. Teori David L. Weimer dan Aidan R. Vining ... 27
3. Implementasi Kurikulum ... 28
C. Kurikulum 2013 ... 29
1. Landasan Kurikulum 2013 ... 31
a. Landasan Yuridis ... 31
b. Landasan Filosofis ... 32
c. Landasan Empiris... 33
d. Landasan Teoritik ... 34
2. Hakikat Kurikulum 2013 ... 35
D. Penelitian yang Relevan ... 36
E. Kerangka Pikir Penelitian ... 38
F. Pertanyaan Penelitian ... 39
BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 40
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 41
C. Sumber Data ... 41
D. Teknik Pengumpulan Data ... 42
E. Instrumen Penelitian ... 45
F. Teknik Analisis Data... 47
G. Keabsahan Data ... 49
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 51
a. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 51
xii
2. Visi Misi SMA N 1 Yogyakarta ... 52
3. Struktur Organisasi ... 53
4. Fasilitas dan Sarana Prasarana ... 54
5. Keadaan Guru dan Siswa SMA N 1 Yogyakarta... 55
6. Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta ... 55
b. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 69
1. Sejarah SMA N 8 Yogyakarta ... 69
2. Visi Misi SMA N 8 Yogyakarta ... 71
3. Struktur Organisasi ... 72
4. Fasilitas dan Sarana Prasarana ... 73
5. Keadaan Guru dan Siswa SMA N 8 Yogyakarta... 74
6. Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 8 Yogyakarta ... 74
c. Tabel Komparasi ... 87
B. Pembahasan ... 97
1. Komparasi Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta ... 97
a. Komunikasi ... 99
b. Sumber daya ... 105
c. Disposisi ... 112
d. Struktur Birokrasi ... 116
e. Hambatan Implementasi Kurikulum 2013 ... 120
C. Keterbatasan Penelitian ... 122
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 123
B. Saran ... 125
DAFTAR PUSTAKA ... 126
xiii
DAFTAR TABEL
hal Tabel 1. Kisi-kisi observasi ... 46 Tabel 2. Kisi-kisi wawancara ... 46 Tabel 3. Komparasi Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta
xiv
DAFTAR GAMBAR
xv
DAFTAR LAMPIRAN
hal
Lampiran 1.Kisi-kisi Instrumen ... 129
Lampiran 2. Catatan Lapangan ... 130
Lampiran 3. Pedoman Observasi ... 149
Lampiran 4. Pedoman Wawancara ... 159
Lampiran 5. Transkip Wawancara Kepala Sekolah ... 162
Lampiran 6. Transkip Wawancara Guru ... 185
Lampiran 7. Transkip Wawancara Siswa... 194
Lampiran 8. Reduksi Data... 200
Lampiran 9. Dokumentasi ... 208
Lampiran 10. Surat Izin Penelitian Fakultas ... 219
Lampiran 11. Surat Izin Penelitian Dinas Perizinan Kota Yogyakarta ... 220
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Di era global sekarang ini, pendidikan merupakan sesuatu yang penting bagi semua orang. Bagi setiap orang tua, masyarakat, dan bangsa, pemenuhan akan pendidikan menjadi kebutuhan pokok. Pendidikan dijadikan sebagai institusi utama dalam upaya pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas dan juga untuk menjawab tantangan kehidupan.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional: Pasal 36 Ayat (2) menyebutkan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Ayat (3) menyebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan memperhatikan : peningkatan iman dan taqwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
2
Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.
Kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan yang berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yang akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional.
Kurikulum merupakan komponen sistem pendidikan yang paling rentan terhadap perubahan. Terdapat tiga faktor yang membuat kurikulum harus selalu dirubah atau diperbaharui. Pertama, karena adanya perubahan filosofi tentang manusia dan pendidikan, khususnya mengenai hakikat kebutuhan peserta didik terhadap pendidikan. Kedua, cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga subject matter yang harus disampaikan kepada peserta didik pun semakin banyak dan beragam. Ketiga, adanya perubahan masyarakat baik secara sosial, politik, ekonomi, maupun daya dukung lingkungan alam, baik pada tingkat lokal maupun global.
3
Seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum mengalami perkembangan yang signifikan. Dengan keadaan yang semakin berkembang, teknologi yang semakin canggih, dan perkembangan sains pada zaman sekarang, maka kurikulum disusun menyesuaikan dengan perkembangan. Dari perkembangan maka kurikulum mengalami perubahan dengan bertahap untuk menyesuaikan dengan keadaan dan perubahan agar menjadi lebih baik.
Pengembangan kurikulum merupakan keniscayaan bagi institusi pendidikan agar proses dan hasil pendidikan tidak menyimpang dengan harapan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sesuai tuntutan zaman. Untuk mewujudkannya, pemangku kepentingan harus mematangkan kurikulum sedemikian rupa sejak perencanaan, implementasi, hingga evaluasi.
Konsep kurikulum menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 pada Bab 1 Pasal 1 ayat 19 yaitu “kurikulum adalah seperangkat dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
4
dari landasan, komponen, evaluasi, prinsip, metode, maupun model pengembangan kurikulum.
Kurikulum bersifat dinamis, artinya kurikulum berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Kurikulum Indonesia mengalami berbagai dinamika perubahan. Perubahan kurikulum tersebut dilaksanakan dengan melihat perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, karena kurikulum di tuntut untuk mengikuti perkembangan zaman dan dapat mewujudkan apa yang masyarakat harapkan dari pendidikan yang ada pada saat itu. Perubahan kurikulum yang baru saja terjadi adalah kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan merupakan kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. Oleh sebab itu, kurikulum ini merupakan penyempurna dari kurikulum berbasis kompetensi atau yang biasa disebut dengan KBK (Kurikulum 2004). Kurikulum tingkat satuan pendidikan lahir dari semangat otonomi daerah, dimana urusan pendidikan tidak semuanya tanggung jawab pusat, akan tetapi, sebagian menjadi tanggung jawab daerah.
5
Oleh sebab itu, pemerintah merasa perlu melakukan perubahan kurikulum. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh pada dalam berbagai kesempatan menegaskan perlunya perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2013. Mendikbud mengungkapkan bahwa perubahan dan pengembangan kurikulum merupakan persoalan yang sangat penting, karena kurikulum harus senantiasa disesuaikan dengan tuntutan zaman.
Dengan adanya pengembangan kurikulum 2013 ini diharapkan akan menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif, melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam hal ini, pengembangan kurikulum difokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa panduan pengetahuan keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara kontekstual.
6
Pengembangan dan penguatan kerja sama antar warga sekolah perlu dilakukan sehingga pelaksanaan kurikulum dapat berjalan dengan baik. Pemerintah juga perlu melakukan strategi penerapan kurikulum dengan sosialisasi dan pelatihan yang memadai agar kurikulum 2013 tidak hanya menjadi program yang sia-sia.
Dikutip dari Kompasiana, Dedeh Tresnawati tentang pandangan tentang Kurikulum 2013, beliau menyatakan bahwa “Keunggulan kurikulum 2013, a) siswa dituntut aktif, kreatif, dan inovatif dalam pemecahan masalah; b) penilaian didapat dari semua aspek; c) ada pengembangan karakter dan pendidikan budi pekerti yang telah diintegrasikan ke dalam semua program studi; d) beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metode pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills
dan hard skills, kewirausahaan); e) Kurikulum 2013 tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global. Untuk tingkat SD, penerapan sikap masih dalam ruang lingkup lingkungan sekitar, sedangkan untuk tingkat SMP penerapan sikap dituntut untuk diterapkan pada lingkungan pergaulannya dimanapun ia berada. Sementara itu untuk SMA/SMK dituntut memiliki sikap kepribadian yang mencerminkan kepribadian bangsa dalam pergaulan dunia; f) sifat pembelajaran kontekstual; g) meningkatkan motivasi mengajar dengan meningkatkan profesi pedagogi, sosial dan personal; i) buku dan kelengkapan dokumen disiapkan lengkap sehingga memicu dan memacu guru untuk membaca dan menerapkan budaya literasi, dan membuat guru memiliki keterampilan membuat RPP, dan menerapkan pendekatan
scientific secara benar.”
7
Upaya penyempurnaan kurikulum demi mewujudkan sistem pendidikan nasional yang kompetitif dan selalu relevan dengan perkembangan zaman ini terus dilakukan. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan bermutu, menghasilkan produk pendidikan yang kreatif, mandiri, produktif, dan juga memiliki karakter yang kuat.
Implementasi Kurikulum 2013 menuntut kerjasama yang optimal diantara para guru, sehingga memerlukan pembelajaran berbentuk tim dan menuntut kerjasama yang kompak diantara para anggota tim. Kerjasama antara guru sangat penting dalam proses pendidikan yang akhir-akhir ini mengalami perubahan yang sangat pesat.
Implementasi Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas dan bertahap, mulai tahun ajaran 2013 (Juli 2013) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, dimulai di kelas I dan IV untuk SD, kelas VII SMP, dan kelas X SMA. Semula, Kurikulum 2013 akan diimplementasikan pada 30% SD, dan 100% untuk SMP, SMA dan SMK, sehingga tahun 2016 semua sekolah diharapkan sudah menggunakan dan mengembangkan kurikulum baru, baik negeri maupun swasta. Kurikulum ini tidak dapat digunakan untuk memecahkan seluruh permasalahan pendidikan, namun memberi makna yang signifikan kepada perbaikan pendidikan.
8
memadatkan pelajaran sehingga tidak membebani siswa, lebih fokus pada tantangan masa depan bangsa. Selain itu bagi yang mendukung adanya kurikulum 2013 beralasan bahwa kurikulum lama berbasis kompetensi (KBK) yang diterjemahkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dianggap sudah tidak lagi up to date. Bahkan cenderung memberatkan peserta didik.
Pihak yang kontra menyatakan, kurikulum 2013 kurang fokus karena menggabungkan beberapa mata pelajaran. Ini terlalu ideal karena tidak mempertimbangkan kemampuan dari setiap masing-masing guru. Kurikulum 2013 dianggap bukan solusi terbaik untuk mengatasi masalah di negeri ini. Sebab, kurikulum bukan satu-satunya kunci mengatasi masalah pendidikan.
Pihak yang kontra menyatakan, penerapan kurikulum 2013 dinilai tidak akan berpengaruh pada peningkatan mutu pendidikan di beberapa derah dari Sabang sampai Merauke. Apalagi secara substansial, didalam Kurikulum 2013 ada poin yang meniadakan mata pelajaran muatan lokal (mulok), yang bisa berdampak terhapusnya pelajaran bahasa daerah di Indonesia.
9
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta (19 Januari 2016), dapat diketahui bahwa beberapa sekolah pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah kota Yogyakarta sudah menggunakan dan menerapkan Kurikulum 2013. Jumlah sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 di Kota Yogyakarta terdiri dari 7 sekolah, terdiri dari 4 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 3 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta ditunjuk sebagai
piloting project implementasi kurikulum 2013 untuk Kota Yogyakarta, kedua sekolah itu merupakan sekolah eks-RSBI dan paling unggul untuk Kota Yogyakarta, sehingga nantinya diharapkan bisa dijadikan sebagai contoh dalam menerapkan implementasi kurikulum 2013 di sekolah lain.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang studi komparasi implementasi di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diidentifikasikan beberapa hal, yaitu sebagai berikut :
1. Kurikulum yang berubah-ubah seiring dengan perkembangan zaman menyebabkan kebingungan bagi peserta didik .
10
3. Masih terjadi pro dan kontra terkait dengan implementasi kurikulum 2013.
4. Dinamika proses pembelajaran dalam implementasi kurikulum 2013. C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan diatas, maka tidak semua masalah dibahas karena keterbatasan kemampuan dan juga untuk memperdalam hasil penelitian. Peneliti membatasi penelitian pada masalah “Studi Komparasi Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta”.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta? 2. Bagaimana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 8 Yogyakarta? 3. Bagaimana komparasi implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1
Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta? E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
11
2. Untuk memperoleh deskripsi tentang implementasi kurikulum 2013 di SMA N 8 Yogyakarta.
3. Untuk mengetahui komparasi implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini dibagi menjadi manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1. Manfaat Teoritis
Sebagai sumbangan pemikiran secara teoritis yang berguna untuk dasar atau landasan dalam penelitian selanjutnya dibidang yang sama atau sejenis.
2. Manfaat Praktis
12 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Studi Komparasi
1. Pendidikan Komparatif
Pendidikan Komparatif sering dilafalkan dengan istilah Pendidikan Perbandingan. Secara harfiah istilah pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan mendidik dan perbandingan diartikan sebagai keadaan yang berkaitan dengan usaha membandingkan atau komparatif merupakan kata yang berasal dari kata bahasa Inggris “to compare” yang artinya membandingkan sehingga “comparative” diartikan bersifat membandingkan. Maka pendidikan komparatif secara harfiah dimaksudkan sebagai ilmu yang mendidik bagaimana cara membandingkan. Tentu saja yang diperbandingkan dalam ilmu ini adalah praktek dan hasil-hasil penyelenggaraan pendidikan yang terjadi di masyarakat.
13
Pemaknaan lain selain secara harfiah (etymological) sebagaimana disebutkan tadi adalah pemaknaan secara istilah (conceptual). Pemaknaan Pendidikan Komparatif secara istilah ini telah mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan historis kemunculan ilmu ini.
Secara historis, Pendidikan Komparatif sebagai suatu studi telah memiliki sejarah yang amat panjang. Menurut William W. Brickman dalam Postlethwate (1988:3) disebutkan bahwa umat manusia telah saling bertukar informasi tentang pendidikan sudah berlangsung sejak jaman kuno, yaitu sejak manusia antar bangsa di dunia ini saling berinteraksi dan melakukan kontak sosial dalam suatu wadah yang disebut perdagangan, peperangan, dan misi-misi keagamaan.
14
Memperhatikan dua pendapat diatas dapat dicermati bahwa I.L. Kandel lebih menitikberatkan kepada objek apa yang perlu dijadikan studi, sedangkan Carter V. Good lebih menekankan apa tujuan studi Pendidikan Komparatif yaitu memperluas wawasan dan pengetahuan keadaan pendidikan. Dua hal pokok yang menjadi fokus dan menurut I.L Kandel adalah :
1. Objek utama studinya berupa teori dan praktek penyelenggaraan pendidikan yang sedang berlangsung sekarang, bukan yang telah terjadi atau akan terjadi.
2. Faktor-faktor lain di luar objek utama tetapi yang mempunyai pengaruh kuat terhadap objek utama tadi. Seperti faktor sosial, ekonomi, politik, ideologi, kultural yang disebut intangible factors.
15
bahwa definisi yang dirumuskan Nicholas Hans lebih bersifat substantif sedangkan rumusan Suryati Sudharto bersifat deskriptif.
“Dari berbagai pendapat para ahli, akhirnya dapat diambil benang merah yang dapat mewadahi keseluruhan makna yang dikandung dalam pendidikan komparatif ini. Sehingga secara lengkap dapat dijelaskan bahwa pendidikan komparatif adalah disiplin ilmu yang mempelajari sistem-sistem pendidikan baik dalam suatu negara maupun antar dua atau lebih negara yang berbeda yang menyangkut: a) sistem-sistem pendidkan formal, non-formal dan informal, b) teori dan praktek pendidikannya, serta c) latar belakang sosial, ekonomi, politik, ideologi, kultural dan sejarah yang mempengaruhinya. (Arif Rohman, 2003: 3)”
2. Kedudukan Pendidikan Komparatif
Pendidikan komparatif merupakan salah satu ilmu fondasi dari ilmu pendidikan. Sebagai ilmu fondasi, pendidikan komparatif ini dapat memberikan kontribusi berupa hasil temuan pengkajian pengkajian antar sistem-sistem pendidikan yang berupa dua hal, yaitu: pola-pola penyelenggaraan pendidikan sebagai trend dan aneka tipologi pendidikan yang ada di dunia. Kesemua hasil temuan pengkajiannya tersebut dapat memperkaya the body of knowledge dari ilmu pendidikan.
16
3. Tujuan Studi Pendidikan Komparatif
“Pendidikan komparatif pada saat ini merupakan studi yang lebih berorientasi pada daya guna, mengingat sekarang ini semakin meningkatnya masalah-masalah pendidikan yang disebabkan oleh perubahan sosial yang ada. Orientasi pada daya guna ini terjadi oleh karena pada saat ini masalah pendidikan semakin lama semakin kompleks dan mendesak ditangani baik yang terjadi di negara-negara yang sudah maju, negara yang sedang berkembang, maupun negara-negara yang terbelakang. (Arif Rohman, 2003 : 6)”
Beberapa masalah tersebut menurut buku Arif Rohman, 2003 : 6, antara lain :
a. Aneka persoalan dehumanisasi akibat pembangunan dan proses industrialisasi baik di negara maju yang sudah berlangsung lama maupun negara-negara berkembang. Misalnya kemiskinan, gelandangan, kriminalitas, pelecehan seksual dan lain-lain yang kesemuanya itu telah berimplikasi dan mengimbas pada dunia pendidikan.
b. Tuntutan akselerasi pada pemerataan pendidikan sebagaimana telah diresolusikan pada KTT 9 negara berpenduduk padat pada bulan Desember 1993 di New Delhi, ternyata dalam beberapa tahun berakibat pada terjadinya peningkatan partisipasi penduduk dalam pendidikan juga di sisi lain berakibat pada turunnya kualitas pendidikan.
17
upaya pemerataan pendidikan lebih-lebih upaya penigkatan mutu pendidikan secara agregatif.
d. Adanya aneka kendala sosio-kultural pada masing-masing masyarakat/ bangsa seperti: ketimpangan gender dan diskriminasi perempuan dalam perlakuan dan pemerolehan kesempatan pendidikan, baik yang terjadi di dalam keluarga maupun di sekolah. Masih adanya nilai-nilai di masyarakat yang menganggap sekolah dianggap tidak penting ataupun sebaliknya yang menganggap terlalu berlebihan terhadap sekolah. Kesemuanya kendala sosio-kultural tersebut menjadikan upaya-upaya peningkatan dan perbaikan pendidikan menjadi semakin rumit dan kompleks.
Hal-hal diatas sesungguhnya membutuhkan suatu ikhtiar terbaik untuk membangun pendidikan ke arah yang lebih efektif dan lebih bermutu. Dalam upaya membangun pendidikan dan meningkatkan perbaikan pendidikan diperlukan adanya skala prioritas kepentingan meskipun juga terkadang proses penentuan prioritas tersebut amat sulit dilakukan.
18
dari kondisi-kondisi pendidikan yang sangat rumit dan kompleks tersebut studi-dtudi pendidikan komparatif dilaksanakan.
Berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai dari studi komparatif ini, I. L Kandel menyebutkan ada 3 (tiga) tujuan, yaitu: 1) Repertorial-deskriptif, 2) Historik-Fungsional, dan 3) Melioristik.
1) Reportorial-deskriptif
Studi dalam pendidikan komparatif berusaha mengungkapkan data-data yang bersifat informatoris tentang sistem pendidikan pada umumnya ataupun persekolahan pada khususnya. Misalnya data tentang angka partisipasi, jumlah anak putus sekolah, jumlah angka buta huruf, jumlah sekolah negeri dan swasta baik dalam lingkup satu negara maupun dua/lebih negara yang berbeda.
2) Historik-Fungsional
Studi-studi yang telah dilakukan dalam pendidikan komparatif umumnya disamping untuk mengungkap data-data yang bersifat informatoris, juga mencari kaitan data-data informatoris pendidikan dengan bidang lain seperti filsafat dan pandangan hidup, sistem politik, sistem ekonomi, dan sosial-budaya dari masyarakat itu. Hal ini harus dimengerti mengingat pendidikan itu tidak berdiri sendiri dan terlepas dari bidang kehidupan lain.
3) Melioristik
19
Setelah mengetahui persamaan dan perbedaan keadaan pendidikan antar negara termasuk dengan negaranya sendiri, dapat diambil manfaat dari kebaikan-kebaikan negara lain tersebut yaitu kebaikan-kebaikan itu sebisa mungkin dapat diterapkan di negara sendiri-sendiri dengan beberapa penyesuaian kritis.
4) Cakupan Studi Pendidikan Komparatif
Kajian-kajian studi mempelajari ilmu pendidikan komparatif menurut Arif Rohman (2003: 6) secara umum mencakup dua hal penting, yaitu: studi kawasan dan studi tematik dalam bidang pendidikan.
a. Studi Kawasan
Studi ini diarahkan pada suatu kawasan tertentu yang berusaha mempelajari sistem pendidikan di kawasan tersebut. Misalnya studi sistem pendidikan di Malaysia, Philiphina, Thailand, atau kawasan-kawasan tertentu lainnya.
b. Studi Tematik
20
Dua cakupan studi diatas merupakan keluasan batas-batas kajian yang umumnya dilakukan para ahli pendidikan komparatif. Kedua cakupan tersebut bukan merupakan pilihan, akan tetapi, juga bisa dilakukan secara bersamaan untuk studi studi komparatif dalam pendidikan.
B. Implementasi 1. Pengantar
Kebijakan yang telah direkomendasikan untuk dipilih oleh policy makers bukanlah jaminan bahwa kebijakan tersebut pasti berhasil dalam implementasinya. Ada banyak variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan baik yang bersifat individual maupun kelompok atau institusi. Implementasi dari suatu program melibatkan upaya-upaya policy makers untuk mempengaruhi perilaku birokrat pelaksana agar bersedia memberikan pelayanan dan mengatur perilaku kelompok sasaran.
Implementasi melibatkan usaha dari policy makers untuk memengaruhi apa yang oleh Lipsky disebut “street level bureaucrats”
untuk memberikan pelayanan atau mengatur perilaku kelompok sasaran
21
Kompleksitas implementasi bukan saja ditunjukkan oleh banyaknya aktor atau unit organisasi yang terlibat, tetapi juga dikarenakan proses implementasi dipengaruhi oleh berbagai variabel yang kompleks, baik variabel yang individual maupun variabel organisasional, dan masing masing variabel pengaruh tersebut juga saling berinteraksi satu sama lain, sebagaimana akan diuraikan berikut ini.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi
Keberhasilan implementasi kebijakan akan ditentukan oleh banyak variabel atau faktor, dan masing-masing variabel tersebut saling berhubungan satu sama lain. Untuk memperkaya pemahaman tentang berbagai variabel yang terlibat di dalam implementasi, maka dalam bab ini akan dibahas beberapa teori implementasi, seperti dari George C. Edwards III (1980), Merilee S. Grindle (1980), dan Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier (1983), Van Meter dan Van Horn (1975), dan Cheema dan Rondinelli (1983), dan David L. Weimar dan Aidan R. Vining (1999). a. Teori George C. Edwards III (1980)
22 1) Komunikasi
Keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran suatu kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.
2) Sumberdaya
Walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumber daya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan secara efektif. Sumberdaya tersebut dapat berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor, dan sumberdaya financial. Sumberdaya adalah factor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumberdaya, kebijakan hanya tinggal dikertas menjadi dokumen saja.
3) Disposisi
23
yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
4) Struktur Birokrasi
Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi standar (standar operating procedures atau SOP). SOP menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak.
Stuktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan real-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini pada gilirannya menyebabkan aktifitas organisasi tidak fleksibel.
b. Teori Merilee S. Grindle (1980)
Keberhasilan implementasi menurut Merilee S. Grindle (1980) dalam Subarsono (2005: 93) dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan implementasi
24
sejauhmana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan, apakah letak program sudah tepat, apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implementornya dengan rinci, dan apakah sebuah program didukung oleh sumber daya yang memadai.
Selanjutnya, variabel lingkungan kebijakan mencakup tentang seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan, karakteristik institusi yang berkuasa, dan tingkat kepatuhan kelompok sasaran. c. Teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier (1983)
Menurut Mazmanian dan Sabatier (1983) dalam Subarsono (2005: 94), ada tiga kelompok variabel yang memengaruhi keberhasilan implementasi, yakni (a) karakteristik masalah; (b) karakteristik kebijakan, dan (c) lingkungan kebijakan. Lebih lanjut dapat dikaji sebagai berikut:
Karakteristik masalah merupakan variabel yang terdiri tingkat kesulitan masalah yang bersangkutan, tingkat kemajemukan dari kelompok sasaran, proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi, dan cakupan perubahan perilaku yang diharapkan.
25
akses kelompok luar untuk berpartisipasi dalam implementasi kebijakan.
Selain karakteristik masalah dan karakteristik kebijakan seperti yang diatas, lingkungan kebijakan juga termasuk faktor penting dalam implementasi kebijakan. Dalam teori ini, lingkungan kebijakan terdiri dari kondisi sosial ekonomi masyarakat, dukungan publik terhadap sebuah kebijakan, sikap dari kelompok pemilih, tingkat komitmen dan keterampilan dari implementor.
d. Teori Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn (1975)
Menurut Meter dan Horn dalam Subarsono (2005: 99), ada enam komponen yang memengaruhi kinerja implementasi, yakni (a) standar dan sasaran kebijakan; (b) sumber daya; (c) hubungan antar organisasi; (d) karakteristik agen pelaksana; (e) kondisi lingkungan sosial, politik, dan ekonomi, dan (f) disposisi implementor. Lebih lanjut dapat dikaji sebagai berikut:
26
Dalam banyak program, implementasi sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu program. Sehingga, komponen hubungan antar organisasi dalam teori ini juga sangat diperlukan dalam mendukung keberhasilan implementasi kebijakan.
Komponen selanjutnya yang berpengaruh dalam implementasi kebijakan dalam teori ini adalah kondisi lingkungan sosial, politik, dan ekonomi. Komponen ini mencakup sumber daya ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan, sejauh mana kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan, karakteristik para partisipan, sifat opini publik yang ada di lingkungan dan dukungan elite politik dalam implementasi kebijakan.
Selain karena adanya kelima komponen diatas, disposisi implementor juga mempunyai pengaruh terhadap implementasi kebijakan. Dalam teori ini, Disposisi implementor mencakup tiga hal yang penting, yakni respons implementor terhadap kebijakan, pemahaman implementor terhadap kebijakan, dan preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor.
e. Teori G.Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli (1983)
27
hubungan antar organisasi; (3) sumberdaya organisasi untuk implementasi program; (4) karakteristik dan kemampuan agen pelaksana.
f. Teori David L. Weimer dan Aidan R.Vining (1999)
Dalam pandangan Weimer dan Vining (1999,396) ada tiga kelompok variabel besar yang dapat memengaruhi keberhasilan implementasi suatu program, yakni (1) logika kebijakan; (2) lingkungan tempat kebijakan dioperasikan; dan (3) kemampuan implementor kebijakan.
Logika dari suatu kebijakan. Ini dimaksudkan agar suatu kebijakan yang ditetapkan masuk akal (reasonable) dan mendapat dukungan teoritis. Lingkungan tempat kebijakan tersebut dioperasikan akan memengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan. Kemampuan implementor. Keberhasilan suatu kebijakan dapat dipengaruh oleh tingkat kompetensi dan ketrampilan dari para implementor kebijakan.
28
Alasan peneliti menggunakan teori dari George C. Edward III adalah dalam teori George C. Edward III ini terdapat salah satu aspek yaitu aspek struktur birokrasi. Dapat diketahui bahwa kurikulum 2013 merupakan kebijakan dalam bidang pendidikan yang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kebijakan kurikulum 2013 merupakan kebijakan yang bersifat top-down sehingga besar harapan peneliti untuk bisa mengungkap bagaimana kurikulum 2013 ini diimplementasikan di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta dilihat dari teori George C. Edward III.
3. Implementasi Kurikulum
Implementasi dalam Oxford Advance Learner’s Dictionary
dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect”
yang berarti penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak (Mulyasa, 2009: 178). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan.
Menurut Mulyasa (2009: 178) implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap.
29
peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
“Berdasarkan Miller dan Seller (1985: 13) seperti dikutip dari Mulyasa (2009: 179) menyebutkan bahwa implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis (written curriculum) dalam bentuk pembelajaran. Lebih lanjut dijelaskan bahwa implementasi kurikulum merupakan suatu penerapan proses, ide, program, atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. Dikemukakannya juga bahwa implementasi kurikulum merupakan proses interaksi antara fasilitator sebagai pengembangan kurikulum, dan peserta didik sebagai subjek belajar.”
Memahami uraian diatas, dapat dikemukakan bahwa implementasi kurikulum adalah pelaksanaan dari konsep kurikulum yang masih bersifat tertulis menjadi aktual dalam bentuk proses pembelajaran yang dipengaruhi faktor-faktor yang ada di sekolah.
C. Kurikulum 2013
30
penilaian yaitu, aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku.
“Menurut (Mulyasa, 2013: 6-7), Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter (competency and character based curriculum), yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi. Melalui pengembangan Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, kita berharap bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat, dan masyarakatnya memiliki nilai tambah (added value) dan nilai jual yang bisa ditawarkan kepada orang lain dan bangsa lain di dunia, sehingga kita bisa bersaing, bersanding, bahkan bertanding dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan global. Hal ini dimungkinkan, kalau implementasi Kurikulum 2013 betul-betul dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter”
Kurikulum 2013 menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (19) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengembangan kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu.
31
Dalam jurnal yang dibuat oleh Mistar, S.Ag., MA (Widyaswara BDK Medan) yang berjudul “Implementasi Kurikulum 2013 Konsep Dasar dalam Proses Pembelajaran di Madrasah” pada tahun 2014 dikemukakan kajian mengenai berbagai landasan Kurikulum 2013. Masing-masing landasan tersebut akan dijelaskan secara mendalam dan mendetail.
1. Landasan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru, landasan filosofis dan landasan empirik. Landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum dan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. Landasan filosofis adalah landasan yang mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang dihasilkan kurikulum. Landasan teoritik memberikan dasar-dasar teoritik pengembangan kurikulum sebagai dokumen dan proses. Landasan empirik memberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang ada dilapangan.
a. Landasan Yuridis
Landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
2) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentanf Sistem Pendidikan Nasional,
32
ketentuan yang dituangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional; dan
4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telag diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
b. Landasan Filosofis
33 c. Landasan Empiris
Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis, suku bangsa, potensi, ekonomi dan beragamnya kemajuan pembangunan dari suatu daerah ke daerah lain, sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Maka, kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia.
Dewasa ini, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian misal. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum, namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar dan keterkungkungan peserta didik diruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum perlu diorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini.
34
kasat mata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. Beban belajar ini salah satunya berhulu dari banyaknya mata pelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Maka, kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan tiga kemampuan dasar, baca, tulis, hitung dan pembentukan karakter. d. Landasan Teoritik
Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar” (standar-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara untuk suatu jenjang pendidikan. Standar bukan kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional diatasnya. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan, Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI, SMP/MTS. SMA/MA, SMK/MAK.
35
dalam SKL. Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan manusia yang dinyatakan dalam SKL.
2. Hakikat Kurikulum 2013
36 D. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian relevan yang dilakukan oleh Riska Wahyu R pada tahun 2014 yang berjudul “Peranan Kultur Sekolah dalam Mendukung Pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Sedayu Bantul pada Tahun 2013/2014”. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kultur sekolah yang sudah lama terbentuk di SMA N 1 Sedayu Bantul meliputi kultur religious, kultur bersahabat atau komunikatif, dan kultur lingkungan. Kemudian berkaitan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMA N 1 Sedayu Bantul pada tahun ajaran 2013/2014, siswa-siswa di kelas regular melaksanakan Kurikulum 2013 sesuai dengan Dokumen Kurikulum 2013, sedangkan siswa-siswa di kelas layanan cerdas istimewa (CI) mendapat eskalasi dari pihak sekolah, terutama dalam hal kedalaman materi pembelajaran dan ranah berpikir siswa. Selanjutnya, keberadaan kultur religious, kultur bersahabat atau komunikatif, dan kultur peduli lingkungan di SMA N 1 Sedayu Bantul, mampu mendukung pencapaian K-1 berupa sikap spiritual dan KI-2 berupa sikap sosial sebagai bagian dari pelaksanaan Kurikulum 2013. Adapun peranan yang dimaksud yaitu mampu meningkatkan sikap religious dan sikap sosial para siswa.
37
38
belajar secara utuh. Seluruh guru juga menyatakan belum merencanakan program perbaikan, pengayaan, atau pelayanan konseling. Untuk proses pengawasan pembelajaran yang seharusanya dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas, hanya dilaksanakan oleh pengawas saja dikarenakan posisi jabatan kepala sekolah yang kosong. Hambatan yang paling dikeluhkan guru adalah hambatan dalam proses penilaian di samping harus menyampaikan pembelajaran pada saat yang sama.
E. Kerangka Pikir Penelitian
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian KURIKULUM 2013
KOMUNIKASI SUMBER DAYA DISPOSISI STRUKTUR
BIROKRASI
39 F. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta dilihat dari aspek komunikasi?
2. Bagaimana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta dilihat dari aspek sumber daya?
3. Bagaimana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta dilihat dari aspek disposisi?
4. Bagaimana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta dilihat dari aspek struktur birokrasi?
40 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena data yang disajikan berupa kata-kata. Seperti yang disebutkan oleh Lexy J. Moleong (2007: 6) tentang pengertian penelitian kualitatif yaitu, “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”.
Bogdan dan Biklen sebagaimana dikutip dari Lexy J. Moleong (2007: 3) mengemukakan bahwa ada beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnografi, interaksionis simbolik, perspektif ke dalam, etnometodologi, the Chicago School, fenomenologis, studi kasus,
interpretative, ekologis, dan deskriptif. Apabila dilihat dari permasalahan yang diteliti, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.
41
mendeskripsikan keadaan lapangan, melukiskan atau menggambarkan dan memaparkan situasi sosial dan peristiwa yang terjadi di lapangan tersebut (Nurul Ulfatin, 2013: 45).
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, karena dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan suatu keadaan, melukiskan atau menggambarkan dan memaparkan situasi sosial dan peristiwa yang terjadi di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta terkait implementasi Kurikulum 2013 dan komparasi implementasi Kurikulum 2013 tersebut.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat dalam penelitian ini adalah di SMA N 1 Yogyakarta yang beralamat di Jalan HOS Cokroaminoto Nomor 10 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta yang beralamat di Jalan Sidobali Nomor 1 Yogyakarta. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari-April 2016.
C. Sumber Data
42 1. Data Primer
Data primer merupakan sumber-sumber dasar yang merupakan bukti atau saksi utama (Moh Nazir, 2005: 50). Adapun sumber data primer dalam penelitian ini didapatkan melalui wawancara terhadap kepala sekolah, guru dan siswa tentang implementasi kurikulum 2013 secara umum dan hambatan yang dialami dalam implementasi kurikulum 2013.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang digunakan untuk mendukung pembahasan-pembahasan yang ada dalam penelitian ini. Adapun data sekunder meliputi dokumen-dokumen yang berupa berita atau artikel dari berbagai media pemberitaan baik cetak maupun elektronik dan dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan implementasi Kurikulum 2013.
Wujud data sekunder dalam penelitian ini adalah seperti mencari data tentang artikel jurnal tentang implementasi kurikulum 2013, dan tentang profil sekolah SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta yang bisa didapatkan dari alamat web masing-masing sekolah tersebut.
D. Teknik Pengumpulan Data
43
dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah pengumpulan data. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alami (natural setting), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut.
1. Observasi
Menurut Sugiyono (2007: 204) dalam pelaksanaan pengumpulan data observasi dibedakan menjadi observasi berperan serta (participant observation) dan non-partisipan, selanjutnya dari segi instrumen yang digunakan observasi dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
Peneliti menggunakan observasi non-partisipan dalam pelaksanaan pengumpulan data, yaitu peneliti tidak terlibat dengan aktifitas yang diamati dan hanya sebagai pengamat independen. Sedangkan dalam segi instrumen peneliti menggunakan observasi terstruktur yaitu observasi yang dirancang secara sistematis tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya.
44 2. Wawancara
Menurut Lexy J. Moleong (2007: 186), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Sugiyono (2009: 194) menyebutkan bahwa wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil.
Dalam proses wawancara ini, peneliti mencari data yang terkait dengan implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta dengan informannya adalah kepala sekolah, guru dan siswa.
3. Dokumentasi
45
Dokumentasi yang dicari dalam hal ini adalah dokumentasi foto terkait dengan kondisi sekolah dan dokumentasi foto saat melakukan kegiatan penelitian. Peneliti memiliki keterbatasan untuk mengolah dokumen-dokumen yang terkait dengan kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta.
E. Instrumen Penelitian
Menurut Nasution (Sugiyono, 2007: 306) menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, manusia adalah instrumen utama, karena segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, semuanya belum dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Oleh karena itu, yang menjadi instrumen adalah peneliti sendiri, yang bisa bertindak sebagai alat yang adaptif serta responsif. Penelitian ini dibantu dengan instrumen pedoman wawancara, pedoman observasi, serta dokumentasi.
46
Penelitian ini dibantu dengan instrumen pedoman wawancara, pedoman observasi, serta dokumentasi.
Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan pedoman observasi dan pedoman wawancara. Berikut adalah kisi-kisi pedoman observasi dan pedoman wawancara :
a. Kisi-kisi Pedoman Observasi
Tabel 1. Kisi-kisi Pedoman Observasi Aspek yang diamati Indikator Lingkungan Fisik Sekolah Alamat/ Lokasi Sekolah.
Bangunan Sekolah. Kebersihan Sekolah. Akses Sekolah.
Unit Kantor/ Ruang Kerja Kebersihan Ruang Kantor. Kerapihan Ruang Kantor.
Struktur Organisasi di Sekolah Struktur Organisasi yang ada di Sekolah.
Ruang Kelas Kebersihan.
Kerapihan.
Peralatan dan perlengkapan kelas. Laboratorium Kelengkapan Laboratorium.
Kebersihan. Kerapihan.
Suasana dan Iklim di Sekolah Komunikasi antar siswa dan guru. Komunikasi antar siswa dan siswa.
Komunikasi antar guru dengan guru.
b. Kisi-kisi Pedoman Wawancara
Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Wawancara
No. Sumber Aspek
1. Kepala Sekolah a. Komunikasi.
1) Kesiapan dan Sosialisasi Kurikulum 2013.
47
dengan guru. b. Sumberdaya.
1) Kepemimpinan kepala sekolah.
2) Kesiapan guru. 3) Fasilitas dan Sarana
Prasarana. c. Disposisi.
1) Respon kepala sekolah tentang kurikulum 2013. d. Struktur Birokrasi/
1) Kerjasama yang melibatkan instansi lain dalam
pelaksanaan kurikulum 2013.
2. Guru a. Komunikasi.
1) Sosialisasi kurikulum 2013. 2) Pelatihan kurikulum 2013. 3) Koordinasi dan kerjasama
dengan kepala sekolah. b. Sumberdaya
1) Kesiapan guru. 2) Fasilitas dan sarana
prasarana. c. Disposisi
1) Respon guru tentang kurikulum 2013.
3. Siswa a. Komunikasi
1) Sosialisasi kurikulum 2013. b. Sumberdaya
1) Fasilitas dan sarana prasarana
c. Disposisi
1) Respon siswa tentamg kurikulum 2013.
F. Teknik Analisis Data
48
pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diinformasikan kepada orang lain (Bogdan dan Biklen seperti dikutip dari Lexy J. Moleong, 2007: 248).
Miles dan Hubberman sebagaimana dikutip dari Sugiyono (2010: 337) menyatakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data collection, data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan atau menghimpun data.
2. Reduksi Data
49
3. Penyajian Data
Penyajian data sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman, 1992: 17). Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian deskriptif sesuai dengan aspek yang diamati sehingga lebih mudah dipahami.
4. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh (Matthew B. Miles dan A. Michael Hubberman, 1992: 19). Setelah dilakukan penyajian data, maka langkah yang selanjutnya adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi. Penarikan kesimpulan dilakukan sesuai masalah yang diangkat dalam penelitian. G. Keabsahan Data
Menurut Lexy. J. Maleong (2010: 320-321), menyatakan bahwa setiap keadaan harus dapat mendemonstrasikan nilai yang benar, menyediakan dasar yang dapat diterapkan, dan memperoleh keputusan luar yang dapat dilihat konsistensinya dengan prosedurnya, dan kenetralan temuan yang di dapat dengan keputusan-keputusannya.
50
negatif, dan member check. Dalam pengujian kredibilitas penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi teknik, analisis kasus negatif, member check, dan kecukupan bahan referensi.
1. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan
menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk
mendapatkan data dari sumber yang sama. Dalam penelitian ini, data
diperoleh dengan observasi, lalu dilengkapi dengan wawancara, kemudian
dengan dokumentasi. Tujuan dari triangulasi bukan untuk mencari
kebenaran tentang beberapa fenomena, tetapi lebih pada peningkatan
pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan (Sugiyono, 2007:
330)
2. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan
cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
Peneliti menggali informasi dari guru kelas A lalu triangulasi ke guru
kelas B serta melebar ke guru kelas C. Data dari sumber-sumber tersebut
dideskripsikan, dikategorisasikan, mana yang memiliki pandangan sama,
51 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta. Masing-masing deskripsi lokasi penelitian tentang SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta akan adalah sebagai berikut a. Sejarah SMA N 1 Yogyakarta
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Yogyakarta dan SMA N 8 Yogyakarta. Semula SMA Negeri 1 Yogyakarta bernama
“Algernere Midlebaar School” (AMS) Afdelling Yogyakarta yang kemudian menjadi SMA A. Pada Tahun 1957 oleh Pemerintah Republik Indonesia (dengan surat keputusan Nomor 12607/a/c tertanggal 16 Desember 1957) SMA I/A dan SMA 2 A dilikuidasi menjadi SMA Teladan yang menempati gedung di Jalan Pakuncen atau Jalan H.O.S. Cokroaminoto 10 Yogyakarta.
52
melaksanakan program percepatan akselerasi pendidikan. Dengan SK 4180/ ditunjuk sebagai Sekolah Model Budi Pekerti. (http:sman1yogya.sch.id/html/profil = Sejarah Singkat, diakses pada hari Kamis tanggal 1 Mei 2016 pukul 08.00).
b. Visi Misi SMA Negeri 1 Yogyakarta
Adapun Visi dan Misi SMA Negeri 1 Yogyakarta dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Visi
Terwujudnya sekolah yang mampu menghasilkan keluaran yang berakar budaya bangsa, berwawasan kebangsaan, dan bercakrawala global.
2) Misi
a) Mengembangkan kemampuan akademik berstandar internasional dengan menerapkan dan mengembangkan kurikulum yang berlaku, baik kurikulum lokal, nasional maupun internasional.
b) Mengembangkan sikap kedisiplinan, kepemimpinan, serta ketaqwaan melalui organisasi siswa, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan keagamaan, maupun kegiatan lain yang berakar budaya bangsa.
53
d) Menanamkan nilai keteladanan dan budi pekerti luhur melalui pengembangan kultur sekolah sesuai dengan norma agama, sosial kemasyarakatan, dan kebangsaan.
c. Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang terdapat di SMA Negeri 1 Yogyakarta adalah terdiri dari :
1) Komite Sekolah 2) Kepala Sekolah
3) Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum 4) Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan
5) Wakil Kepala Sekolah bagian Sarana dan Prasarana 6) Wakil Kepala Sekolah bagian Humas
7) Wakil Kepala Sekolah bagian Litbang 8) Guru
9) Bimbingan dan Konseling (BK) 10)Program Akselerasi
11)Pengembangan SDM 12)Perpustakaan
13)UKS
14)Siswa SMA N 1 Yogyakarta
54
yang baik dalam menghasilkan sekolah yang unggul dan menjadi sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lain.
d. Fasilitas dan Sarana Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan fasilitas pendukung untuk menunjang jalannya proses pembelajaran agar bisa berjalan efektif dan kondusif. Segala bentuk sarana dan prasarana di sekolah bisa di nikmati semua pihak. Pengadaan sarana dan prasarana ini digunakan untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik. Tanpa sarana dan prasrana, proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalan tidak maksimal. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sarana dan prasarana sebagai penunjang di lembaga pendidikan. Keadaan sarana dan prasarana yang ada di SMA Negeri 1 Yogyakarta sebagai berikut :
1) Ruang Belajar 23 Kelas 2) Lab. Multimedia
3) Lab. IPA (Fisika, Kimia, Biologi) 4) Lab. Bahasa
5) Lab. Komputer 6) Sarana Internet 7) Perpustakaan
8) Ruang Kegiatan Kesiswaan
55 11)Aula
12)UKS
13)Ruang Bimbingan dan Konseling 14)Ruang Kepsek
15)Ruang Guru
16)Masjid dan Ruang Agama lainnya
17)Lapangan Olahraga (Basket, Volley, Badminton, Tenis Meja, dll)
e. Keadaan Guru dan Siswa SMA N 1 Yogyakarta
Data guru pengajar yang ada di SMA Negeri 1 Yogyakarta pada tahun 2016 berjumlah sebanyak 81 orang. Sedangkan siswa yang ada di SMA Negeri 1 Yogyakarta pada tahun pelajaran 2015/ 2016 adalah berjumlah 1081 siswa.
f. Implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta 1) Komunikasi
Sebagai salah satu sekolah favorit yang sering berprestasi di Kota Yogyakarta dan sebagai sekolah eks-RSBI, pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta memutuskan untuk menunjuk SMA Negeri 1 Yogyakarta sebagai salah satu sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum 2013.
56
membekali peserta didik dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi. Selain itu, kurikulum 2013 lebih mengutamakan pemahaman, dan skill. Siswa dituntut untuk paham dengan materi pembelajaran yang disampaikan, aktif dalam proses pembelajaran, aktif dalam berdiskusi dan presentasi, serta memiliki sopan santun dan disiplin yang tinggi.
Kurikulum 2013 yang baru disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013 dan belum semua sekolah melaksanakan kurikulum 2013 tentunya perlu persiapan yang diantaranya sosialisasi. Di SMA N 1 Yogyakarta proses sosialisasi berjalan secara berkala dan periodik. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SMA N 1 Yogyakarta :
“ya berjalan baik lewat workshop, setiap tahun baik awal tahun pelajaran maupun tahun akhir pelajaran selalu di workshop tentang Kurikulum 2013, gitu.”(RP/16/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah dapat diketahui bahwa proses sosialisasi mengenai Kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta sudah dilaksanakan melalui workshop dan dilaksanakan secara berkala dan periodik.
57
Guru 1: “oh ya sering. Secara periodik sekolah melakukan sosialisasi, disamping dari dinas juga ada. Secara internal sekolah secara periodik selalu ada sosialisasi.” (SB/13/04/2016) Guru 2: “jelas..iya..dulu kan pertamanya Kurikulum 2013 itu kan hanya 3 mapel ya, hanya 3 guru yang didiklat. Nah terus dari 3 guru yang didiklat itu, karena waktu itu harus dilakukan untuk semua mata pelajaran. Itu semua guru disosialisasikan.” (HR/13/04/2016)
Guru 3: ““iya..kita melakukan sosialisasi kepada guru-guru kepada siswa, pada orang tua juga..pas rapat orang tua disampaikan, karena ada beberapa perubahan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya.” (AS/13/04/2016)
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru yang ada di SMA N 1 Yogyakarta, peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses sosialisasi sudah dilaksanakan di SMA N 1 Yogyakarta secara berkala dan periodik, melalui workshop yang diselenggarakan pihak internal sekolah dengan mengundang narasumber maupun yang di selenggarakan oleh Dinas Pendidikan.
Selain sosialisasi kurikulum 2013, pada aspek komunikasi adalah bentuk kerjasama dan koordinasi di SMA Negeri 1 Yogyakarta antara kepala sekolah dan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolahnya, menurut kepala sekolah SMA N 1 Yogyakarta adalah, sebagai berikut :
“Itu ada briefing, ada rapat sosialisasi, dilakukan secara periodik.” (RP/16/04/2016)
58
dengan implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta adalah berupa briefing, ada rapat tentang kurikulum 2013, yang kesemuanya itu dilakukan secara periodik.
Aspek terakhir yang dilihat pada variabel komunikasi adalah melihat bagaimana partisipasi warga sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Di SMA Negeri 1 Yogyakarta partisipasi warga sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 secara umum bagus. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA N 1 Yogyakarta, sebagai berikut :
“hmmmm bagus, mereka semua saling kompak, karena memiliki pemikiran bahwa Kurikulum 2013 itu cara untuk menigkatkan kualitas pendidikan maupun bagaimana menghebatkan dalam proses pembelajaran. Karena inti dari pendidikan itu adalah bagaimana proses pembelajaran itu bisa berjalan dengan baik dan terjadi pembelajaran yang sesungguhnya dan itu dibutuhkan oleh siswa.” (RP/16/04/2016)
59 2) Sumber daya
Pada aspek sumber daya ini terdiri dari 3 komponen yang diamati antara lain; 1) kepemimpinan kepala sekolah, 2) kesiapan guru, dan 3) sarana prasarana.
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor penentu yang dapat menggerakkan semua sumber daya sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap, terutama kepemimpinan kepala sekolah dalam menggerakkan, mengkoordinasikan, dan menyelaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah.
Bentuk kepala sekolah dalam menyelaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 melalui pendekatan secara personal dengan guru-guru yang ada di sekolah, hal ini terdapat dalam wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Yogyakarta, sebagai berikut :
60
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Yogyakarta di atas terkait dengan bagaimana menyelaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah, dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, kepala sekolah menghendaki adanya briefing yang secara rutin dilaksanakan antara kepala sekolah dan guru di tingkat internal SMA Negeri 1 Yogyakarta untuk meninjau bagaimana proses implementasi kurikulum 2013 itu berjalan.
Selain itu, pada rapat di tingkat dinas pendidikan terdapat adanya proses sinkronisasi terhadap apa yang dilakukan para guru dalam melaksanakan kurikulum 2013 di kelas untuk kemudian ditinjau bagaimana keefektifan dari hal tersebut yang nantinya bisa berpengaruh dalam penilaian kinerja guru (PKG).
Terkait dengan kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, ada pelatihan bagi guru untuk melaksanakana implementasi kurikulum 2013 di SMA N 1 Yogyakarta. Berikut informasi yang bisa diketahui berdasarkan hasil wawancara kepala sekolah dan 3 guru di SMA Negeri 1 Yogyakarta terkait dengan kesiapan mereka dan keefektifan dari pelatihan ataupun diklat yang dilaksanakan untuk kurikulum 2013.