3 METODE PENELITIAN
3.2 Deskripsi Lokasi Penelitian
Seluruh penelitian dilakukan di Kabupaten Tabanan (Gambar 3.1 dan 3.2). Lokasi penelitian dibedakan menjadi dua strata, antara lain: (1)
Ekosistem subak yang dalam kawasan WBD Catur Angga Batukaru, di kecamatan Penebel meliputi: (a) Subak Jati-luwih, (b) Subak Wangaya Betan dan (c) Subak Tengkudak; (2) Ekosistem
subak di luar kawasan WBD di kecamatan Tabanan, meliputi: (a) Subak Gede Subamia, (b) Subak Babakan Wanasari dan (c) Subak Empas Kubontingguh.
Deskripsi lokasi penelitian adalah seperti Tabel 3.1. Dari Tabel 3.1 nampak bahwa dari tiga subak yang ada di kawasan Catur Angga Batukaru, maka subak Jatluwih yang terdiri dari 7 tempek
memiliki luas sawah sebanyak 303 ha, dan anggota sebanyak 497 orang, dengan pola tanam padi varietas unggul (VUB)-padi lokal (Spesies: Oryza sativavar Barac Cenana
Jatiluwih). Pola tanam untuk subak Wangaya Betan dan
subak Tengkudak tidak berbeda dengan pola tanam yang diterapkan oleh subak Jatiluwih, yaitu padi varietas unggul-padi lokal. Namun luas subak Wangaya Betan yang memiliki aggota sebanyak 90 orang, adalah 75 ha atau sekitar 30% dari luas subak Jatiluwih. Sedangkan subak Tengkudak memiliki luas 81 ha dengan jumlah anggota sebanyak 242 orang. Pola tanam yang diterapkan oleh subak Jatiluwih, Wangaya Betan dan subak Tengkudak dalam setahun adalah dua kali tanam padi. Untuk tanaman padi pertama adalah padi varietas unggul (VUB) yang umumnya memerlukan waktu selama 110-120 hari dalam satu musim tanam. Padi VUB umumnya di tanam pada bulan Juli atau Agustus dan panen sekitar bulan Oktober atau Nopember. Sedangkan untuk tanaman padi berikutnya adalah padi varietas lokal, seperti padi beras merah, beras hitam atau padi mansur. Tanaman padi lokal tersebut umumya memerlukan waktu yang lebih lama yaitu sekitar 5 bulan. Padi lokal umumnya ditanam pada bulan Desember atau Januari dan akan panen sekitar bulan Juni atau Juli. Dengan demikina nampak dengan jelas bahwa dalam setahun umumnya petani di kawasan WBD, akan menanam padi sebanyak dua kali. Sekali menanam VUB dan sekali padi lokal. Harga padi lokal umumnya lebih mahal dibandingkan dengan padi VUB. Namun produktivitas padi lokal umumnya lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas padi VUB. Saat
ini harga beras merah lokal berkisar antara Rp.18.000,- hingga Rp.20.000,- per kg. Sedangkan harga beras padi VUB maksimal adalah Rp.8.000,- per kg. Pola tanam yang diterapkan oleh subak di kawasan WBD merupakan keputusan masing-masing subak, melalui musyawarah anggota subak.
Tabel 3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
No Status Nama Subak Luas
(ha) Anggota (orang) Pola tanam setahun 1 Dalam WBD
Jatiluwih 303 497 VUB-Padi lokal
Wangaya Betan 75 90 VUB-Padi lokal
Tengkudak 81 242 VUB-Padi lokal
2 Luar WBD Gede Subamia 99 181 VUB-VUB-Palawija Babakan Wanasari 47 159 VUB-VUB-Palawija Empas Kubontingguh 112 160 VUB-VUB-Palawija
Sedangkan VUB yang ditanam petani di kawasan WBD, umumnya adalah varietas ciherang (Oryza sativa L). Varietas padi ciherang umumnya berumur antara 116-125 hari, dengan produktivitas antara 5-6 ton per ha. Beras padi varietas ciherang sangat disukai konsumen, karena memiliki rasa yang enak dengan tekstur nasi yang pulen. Sesungguhnya padi ciherang ini kurang cocok ditanam pada kawasan WBD yang umumnya memiliki ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi yang
paling cocok untuk padi ciherang adalah pada ketinggian tempat kurang dari 500 mdpl.
Selanjutnya subak di luar kawasan WBD, juga terdiri dari 3 subak seperti telah dijelaskan sebelumnya. Subak Gde Subamia, merupakan salah satu subak di luar kawasan WBD yang memiliki luas sebanyak 99 ha dengan jumlah anggota sebanyak 181 orang. Pola tanam setahun di subak Gde Subamia adalah VUB-VUB-palawija. Selain itu juga terdapat dua subak lainnya yang menjadi lokasi penelitian yaitu subak Babakan Wanasari dan subak Empas Kebontingguh. Subak Babakan Wanasari, memiliki luas 47 ha dengan jumlah anggota sebanyak 159 orang dan pola tanam setahun adalah VUB-VUB-palawija. Selanjutnya subak Empas Kebontingguh, adalah subak yang berbatasan dengan subak Babakan Wanasari, memiliki luas 112 ha dengan jumlah anggota sebanyak 160 orang. Pola tanam setahun yang dilakukan oleh subak Empas Kebontingguh adalah padi-padi-padi. Ketiga subak yang ada di luar kawasan WBD hanya menanam padi varietas unggul saja yaitu padi ciherang, sedangkan subak yang ada di kawasan WBD menanam dua jenis tanaman padi yaitu padi varietas unggul (VUB) baru dan padi varietas lokal. Padai VUB ditanam pada bulan Juli-Agustus, sedangkan padi lokal yang umumnya merupakan padi merah ditanam pada bulan Desember-Januari.
Padi ciherang yang ditanam di luar kawasan WBD umumnya memiliki produktivitas lebih tinggi, mencapai 8-9 ton per ha, dibandingkan dengan yang ditanam di dalam kawasan WBD yang hanya sekitar 5-6 ton per ha. Karena kawasan subak di luar kawasan WBD umumnya memiliki ketinggian yang
kurang dari 500 mdpl, sehingga sesuai dengan kebutuhan padi ciherang. Harga beras padi ciherang lebih murah dibandingkan dengan beras padi lokal. Normalnya harga beras padi VUB berkisar antara Rp.7.000 hingga Rp.8.000 per kg.
Sekalipun produktivitas padi VUB yang ditanam di kawasan WBD lebih rendah dibandingkan apabila ditanam di luar kawasan WBD, namun petani tetap menanam jenis padi VUB tersebut, karena tidak cukup waktu untuk menanam padi lokal. Selain itu, petani tidak menanam palawija, seperti sebelum dikenalkannya jenis padi VUB oleh pemerintah. Berbeda dengan petani di luar kawasan WBD, yang menerapkan pola tanam VUB-VUB-palawija. Umumnya petani menanam palawija selain untuk memutus siklus hama penyakit tanaman, juga untuk mengisi kekosongan waktu yang sempit, yaitu sekitar 3 bulan, terutama di musim kering, sekitar bulan Juni-September. Beberapa jenis palawija yang ditanam petani antara lain: jagung, kedele, dan berbagai jenis sayuran.