HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN
4) Deskripsi hasil pemecahan masalah peserta didik yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung
Berdasarkan data pada Tabel 4.12 di atas maka dapat diketahui bahwa ada 2 orang yang nilai gainnya berada pada kategori rendah, 21 0rang siswa yang nilai gainnya berada pada ketegori sedang, dan 19 orang siswa yang nilai gainnya berada pada kategori tinggi. Jika rata-rata N- Gain siswa sebesar 0,66 di konversi ke dalam 3 kategori diatas, maka rata-rara N- Gain siswa berada pada kategori sedang.
4) Deskripsi hasil pemecahan masalah peserta didik yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung
71
Hasil analisis yang berkaitan dengan skor variabel yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung dalam tabel 4.13 berikut
Tabel 4.13 Deskripsi Skor Rata-Rata Hasil Belajar Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas Kontrol
Statistik Nilai Statistik
Pretest Posttest N-Gain
Ukuran Sampel 40 40 40 Nilai Terendah 8.33 16.66 -0.19 Nilai Tertinggi 62.50 91.66 0.80 Niali Rata-rata 33.83 50.30 0.2737 Standar Deviasi 15.65 22.98 0.280 Variansi 245.007 528.300 0.79 Range 54.17 75.00 0.99
Dari tabel 4.13 dapat dilihat bahwa rata-rata pemecahan masalah hasil belajar peserta didik kelas VII B SMP Negeri 5 Pallangga yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung adalah 33.83 untuk pretest dan setelah dilakukan pembelajaran meningkat menjadi 50.30 dari skor ideal 100,00 yang mungkin di capai oleh peserta didik.
Hal ini menunjukkan bahwa skor rata-rata pemecahan masalah hasil belajar peserta didik berada pada kategori rendah dan salah satu yang menyebabkan hal ini adalah karena penggunaan model pembelajaran langsung pada kelas tersebut. Standar deviasi 15.65 untuk pretest dan 22.98 untuk posttest dan skor rata-rata N- Gain yang di peroleh peserta didik adalah 0,27. Jika hasil pemecahan masalah
matematika peserta didik dalam hal ini pretest dan posttest dikelompokkan dalam 5 kategori maka diperoleh distribusi dan persentase sebagai berikut
Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas Kontrol
Interval Skor Kategori Penguasaan Peserta didik Pretest Posttest Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%) 0 – 54 Sangat Rendah 36 90 26 65 55 – 74 Rendah 4 10 4 10 75 – 84 Sedang 0 0 6 15 85 – 94 Tinggi 0 0 4 10 95 – 100 Sangat Tinggi 0 0 0 0 Jumlah 40 100 40 100
Tabel 4.14 diatas menunjukkan bahwa kemampuan awal peserta didik terhadap materi pelajaran pada kelas kontrol menggunakan model pembelajaran langsung ditinjau dari hasil belajar peserta didik yang tergolong dalam kategori rendah dengan jumlah 4 (10 %), dan 36 (90 %) peserta didik yang tergolong pada kategori sangat rendah. Ini berarti bahwa sebelum diajarkan materi bentuk aljabar pada peserta didik kelas VII B SMP Negeri 5 Pallangga mereka memiliki pengetahuan yang masih kurang tentang materi bentuk aljabar.
Sedangkan hasil belajar kemampuan akhir peserta didik yang tergolong dalam kategori tinggi dengan jumlah 4 (10 %), peserta didik yang tergolong kategori sedang dengan jumlah 6 (15 %), peserta didik yang tergolong kategori rendah
73
dengan jumlah 4 (10 %), serta hasil belajar peserta didik yang tergolong pada kategori sangat rendah dengan jumlah 26 (65 %).
Jika skor rata-rata pemecahan masalah hasil belajar peserta didik sebesar 50.30 dikonversi kedalam 5 kategori diatas, maka skor rata-rata pemecahan masalah hasil belajar matematika peserta didik kelas VII B SMP Negeri 5 Pallangga yang dijadikan kelas kontrol memiliki nilai dengan kategori sangat rendah.
Selanjutnya data skor rata-rata pemecahan masalah hasil belajar yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung dianalisis berdasarkan kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang diterapkan oleh sekolah adalah sebagai berikut :
Tabel 4.15 Kriteria Ketuntasan Minimum Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol Interval
Skor
Kategori Pretest Posttest
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Pesertase (%) 0 – 74,9 Tidak Tuntas 40 100 30 75 75 – 100 Tuntas 0 10 25
Dari tabel 4.15 diatas menunjukkan bahwa pada hasil pretest terdapat 40 peserta didik yang memiliki nilai yang tidak tuntas dengan persentase 100 % Jika dikaitkan dengan indikator ketuntasan hasil belajar peserta didik kelas VII SMP Negeri 5 Pallangga belum memenuhi indikator ketuntasan hasil belajar peserta didik secara klasikal.
Sedangkan pada hasil Posttest terdapat 30 peserta didik yang memiliki nilai yang tidak tuntas dengan persentase 75 %, sedangkan terdapat 10 peserta didik yang memiliki nilai yang tuntas dengan persentase 25 %. Jika dikaitkan dengan indikator
ketuntasan hasil belajar peserta didik maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik kelas VII B SMP Negeri 5 Pallangga juga belum memenuhi indikator ketuntasan hasil belajar peserta didik secara klasikal.
Adapun klasifikasi peningkatan pemecahan masalah hasil belajar peserta didik di kelas eksperimen disajikan pada tabel 4. 16 berikut.
Tabel 4.16 Klasifikasi Frekuensi N – Gain Kelas Kontrol Koefisien N–Gain Jumlah Peserta
Didik Persentase (%) Klasifikasi 𝒈 < 𝟎, 𝟑 23 57.5 Rendah 𝟎, 𝟑 ≤ 𝒈 < 𝟎, 𝟕 13 32,5 Sedang 𝒈 ≥ 𝟎, 𝟕 4 10 Tinggi Jumlah 40 100
Berdasarkan data pada Tabel 4.16 di atas maka dapat diketahui bahwa ada 123 orang yang nilai gainnya berada pada kategori rendah, 13 0rang siswa yang nilai gainnya berada pada ketegori sedang, dan 4 orang siswa yang nilai gainnya berada pada kategori tinggi. Jika rata-rata N- Gain siswa sebesar 0,27 di konversi ke dalam 3 kategori diatas, maka rata-rara N- Gain siswa berada pada kategori rendah.
Berdasarkan data pada Tabel 4.12 dan Tabel 4.16 dapat diketahui bahwa persentase rata-rata peningkatan pemecahan masalah hasil belajar peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Dapat dilihat dari nilai rata-rata N – Gain pada kelas eksperimen 0,66 dan nilai rata-rata N – Gain pada kelas kontrol 0,27.
75
Data keterlaksanaan pembelajaran dalam penerapan model pembelajaran Personalized System of Instruction (PSI) dengan mengoptimalkan keterampilan metakognitif diperoleh dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang diamati selama 3 pertemuan. Observasi terhadap keterlaksanaan model pembelajaran dalam penelitian ini dimulai dari kegiatan awal pembelajaran, kegiatan inti dan kegiatan akhir pembelajaran. Setiap aspek dinyatakan dengan memberikan tanda cek (✓) dan kemudian diberikan skor 1 – 5, dimana untuk penentuan skor tersebut berdasarkan indikator yang telah ditetapkan.
1) Keterlaksanaan Model Pembelajaran Personalized System of Instruction (PSI) Pada tabel berikut akan menguraikan hasil observasi keterlakasanaan model pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.
Tabel 1.17. Hasil observasi keterlaksanaan model pembelajaran Personalized System of Instruction (PSI).
No Aspek yang Diamati Pertemuan Rata-rata
1 2 3
Kegiatan Awal