BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Deskripsi Permasalahan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang dikaji, yaitu mengenai efektivitas pelaksanaan kurikulum dan program pengajaran mata pelajaran ekonomi dalam rangka penerapan manajemen berbasis sekolah, maka berikut ini peneliti paparkan deskripsi hasil penelitian berdasarkan dokumentasi, observasi dan wawancara yang telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Surakarta. Guna memperoleh data yang valid dan menghilangkan bias dalam penelitian ini, peneliti menggunakan trianggulasi metode dan trianggulasi sumber untuk menguji validitas data dari responden.
commit to user
Berdasarkan trianggulasi metode maka setelah peneliti mengadakan wawancara dengan responden, peneliti membandingkan informasi dari responden dengan data yang ada seperti dokumen KTSP, silabus, RPP, dan sebagainya yang relevan dengan informasi responden. Apabila informasi dari responden tersebut didukung dengan dokumen yang ada maka informasi dari responden tersebut dinyatakan valid. Sedangkan menurut metode trianggulasi sumber, peneliti memberikan pertanyaan yang sama pada beberapa responden. Apabila jawaban tiap-tiap responden mengarah pada jawaban yang sama maka informan tersebut valid.
Deskripsi data hasil penelitian tersebut meliputi: (1) Pelaksanaan kurikulum dan program pengajaran mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 1 Surakarta, (2) Efektivitas pelaksanaan kurikulum dan program pengajaran mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 1 Surakarta, (3) Hambatan pelaksanaan kurikulum dan program pengajaran mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 1 Surakarta.
1. Pelaksanaan Kurikulum dan Program Pengajaran Mata Pelajaran Ekonomi
SMA Negeri 1 Surakarta
Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu level sekolah yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Kurikulum sebagai suatu sistem keseluruhan memiliki komponen-komponen yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya, komponen-komponen tersebut, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama menjadi dasar utama dalam upaya mengembangan sistem pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 1 Surakarta, KTSP merupakan kurikulum yang ditetapkan dari pusat, garis-garis besar dalam pelaksaan kurikulum sudah diatur dan ditetapkan oleh Badan Standar Nasional pendidikan. Kurikulum yang ditetapkan oleh pusat kemudian dikembangkan oleh daerah yang sesuaikan dengan potensi sekolah masing-masing, sehingga SMA
commit to user
Negeri 1 Surakarta mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi yang ada di SMA Negeri 1 Surakarta. Ini dapat dilihat dari pernyataan Wakasek Kurikulum sebagai berikut:
“… SMA 1 menggunakan KTSP itu dari pusat, nasional sudah membuat garis-garis besar kaitannya dengn kurikulum …, dari pusat diberikan kepada daerah, itu juga di daerah ada revisi ada pembenahan-pembenahan disesuaikan dengan potensi daerah atau disesuaikan dengan lingkungan yang ada di SMA 1.” (Lihat field Note No. 40 dan 43).
Pelaksanaan kurikulum di SMA Negeri 1 Surakarta sesuai dengan susunan kurikulum dalam panduan BSNP, terdiri dari beberapa komponen antara lain: landasan kurikulum tingkat sekolah, terdapat visi dan misi, tujuan dan motto sekolah dan terdapat standar kompetensi lulusan. Selain hal tersebut, kurikulum di SMA Negeri 1 Surakarta telah memenuhi empat komponen wajib kurikulum, yaitu: terdapat tujuan, bahan pelajaran, proses belajar mengajar dan terdapat penilaian atau evaluasi. Dengan adanya kriteria yang telah ditetapkan tersebut maka akan membantu dan mempermudah dalam pelaksanaan kurikulum (Lihat Field Note No. 50).
Pelaksanaan kurikulum yang dilakukan SMA Negeri 1 Surakarta secara bertahap mengalami perubahan kearah yang lebih baik, melihat fenomena pendidikan Indonesia yang telah berulang kali mengalami perubahan kurikulum. Berdasarkan hasil penelitian di SMA Negeri 1 Surakarta, pada saat KTSP mulai diberlakukan banyak guru mengalami hambatan. Hambatan tersebut disebabkan karena guru belum memahami aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KTSP, antara lain hambatan dan kebingungan dalam menentukan KKM, kurang paham dalam pembuatan RPP, dan hambatan dalam membuat dan menyiapkan media pembelajaran. Namun setelah KTSP terlaksana selama kurang lebih empat tahun, pelaksanaan KTSP di SMA Negeri 1 Surakarta dapat menyesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan dari pusat. Ini dapat dilihat dari pernyataan para guru ekonomi dan Wakasek kurikulum yang menyatakan:
“Sudah lebih baik sekarang dari pada dulu, awal bingung, tuntutan macam-macam, anak-anak harus tuntas walaupun lamanya berbeda-beda …” dan “… Pada awal KTSP kurang begitu dipahami oleh guru, contohnya bagaimana cara menentukan KKM, bagaimanan cara membuat
commit to user
RPP, bagimana membuat, menyiapkan media pembelajaran sekaligus penggunaannya. Tapi untuk tahap demi tahap SMA 1 mengalami sosialisasi bisa mengalami penyesuaian, sekarang katakanlah sudah 80 % guru sudah bisa menjalankan mengajar kurikulum KTSP sesuai ketentuan dari pusat.” (Lihat Field Note No. 1, 3 dan 41).
Perubahan tersebut tidak luput dari partisipasi sekolah dalam membekali pengetahuan guru tentang KTSP, yang dilakukan dengan memberikan sosialisasi berupa seminar, workshop disekolah, melibatkan guru dalam penataran di propinsi dan penataran di kota, keterlibatan dalam MGMP, dan mendatangkan dosen dari perguruan tinggi untuk memberikan sosialisasi tentang pelaksanaan KTSP. Sehingga pada akhirnya guru merasa paham dan mengalami kemudahan dalam pembuatan perangkat pembelajaran. Ini dapat dilihat dari pernyataan Wakasek Kurikulum yang menyatakan:
“Pengembangan kurikulum itu diantaranya ada timnya, itu meliputi dari steak holder yang ada dari SMA kepala sekolah Wakil kepala sekolah, ditambah lagi guru-guru senior dan dilibatkan juga komite….. adanya sosialisasi ada dari sekolah adanya seminar atau workshop di sekolahan…” (Lihat Field Note No. 42 dan 45).
Perangkat pembelajaran merupakan bagian dari proses pelaksanaan pembelajaran di kelas, karena tugas utama guru adalah memberikan pelajaran kepada siswa, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas harus bersumber pada kurikulum yang dikembangkan dalam bentuk silabus dan RPP, dengan silabus dan RPP tersebut guru-guru ekonomi di SMA Negeri 1 Surakarta memiliki pedoman dalam mengajar. Ini dapat dilihat dari pernyataan para guru dan Wakasek Kurikulum sebagai berikut “…kurikulum yang dikembangkan dalam bentuk silabus, kemudian silabus yang ada diberikan kepada guru, guru mengajarkan silabus yang ada di KTSP, Bagi guru kurikulum sebagai acuan...” (Lihat Field Note No. 2, 4 dan 44).
Berdasarkan gambaran tersebut di atas, pada dasarnya pelaksanaan kurikulum di SMA Negeri 1 Surakarta sudah sesuai dengan alurnya dan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan sekolah telah mengembangkan kurikulum (mata pelajaran ekonomi) yang telah ditetapkan dari pusat dengan garis-garis besar pelaksanaan kurikulum sebagai pedomannya.
commit to user
Pelaksanaan kurikulum di SMA Negeri 1 Surakarta telah mengalami perubahan kearah yang lebih baik, hal tersebut didukung dengan pemberian soaialisasi yang berupa seminar, workshop, penataran baik tingkat propinsi maupun kota dan terdapat MGMP bagi para guru.
2. Efektivitas Pelaksanaan Kurikulum dan Program Pengajaran
Mata Pelajaran Ekonomi SMA Negeri 1 Surakarta
Berdasarkan hasil penelitian, efektivitas pelaksanaan kurikulum dan program pengajaran sangat dipengaruhi oleh kinerja guru di sekolah tersebut. Efektivitas pelaksanaan kurikulum dan program pengajaran yang dimiliki guru yang berkinerja baik sangat berbeda dengan efektivitas kurikulum dan program pengajaran dari guru yang kurang memiliki potensi dalam mengajar, karena para guru tersebut memiliki cara mengajar yang berbeda-beda sesuai dengan gaya masing-masing dalam mengajar. Untuk lebih jelasnya berikut hasil penelitian mengenai efektivitas pelaksanaan kurikulum dan program pengajaran mata pelajaran ekonomi.
a. Efektivitas Pelaksanaan Kurikulum Mata Pelajaran Ekonomi
Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan kurikulum mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Surakarta terdapat ranah kognitif, afektif, psikomotorik dan terdapat pengembangan kecakapan hidup karena dalam pengembangan silabus berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan dibawah dinas pendidikan Kabupaten/Kota dan sesuai dengan panduan Standar Nasional Pendidikan (Lihat Field Note No. 5 dan 9). Selain itu untuk mendukung pelaksanaan kurikulum, maka materi yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan silabus, oleh karena itu materi yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dapat diperoleh dari berbagai sumber yang relevan dengan tuntutan kurikulum, relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman, mengandung unsur ilmiah, dan saling berkaitan untuk membentuk suatu kompetensi. Ini dapat dilihat dari salah satu pernyataan yang dinyatakan oleh sebagai berikut:
commit to user
“…memahami materi ekonomi yang ada di kurikulum sesuai dengan materi pokoknya…materi ada beberapa buku. Ada dari penerbit Rosda, Cempaka putih, Darma Kalokatama, yang penting materinya relevan dengan panduan silabus… Untuk tujuannya selain siswa tahu diharapkan siswa dapat menerapkan dimasyarakat…” (Lihat Field Note No. 6, 10, 11, 14, 15, 46 dan 51).
Kurikulum selain dipandang sebagai sebuah program mata pelajaran juga dipandang sebagai keadaan lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa. SMA Negeri 1 Surakarta mempunyai keadaan dan potensi sekolah yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, dengan lingkungan sekolah yang diatur sedemikian rupa diharapkan siswa merasa nyaman dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar (Lihat Field Note No. 52).
Berdasarkan pada gambaran tersebut pada dasarnya pelaksanaan kurikulum mata pelajaran ekonomi sudah baik, hal tersebut ditunjukkan dengan kurikulum mata pelajaran ekonomi terdapat ranah kognitif, afektif, psikomotorik, dan terdapat pengembangan kecakapan hidup. Kurikulum mata pelajaran ekonomi mengandung unsur ilmiah, relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman, karena materi yang diajarkan sesuai dengan silabus yang bersumber dari kurikulum. Selain dipandang dari sudut isi dan materi pelajaran kurikulum juga dapat dipandang dari sudut lingkungan dan perkembangna siswa, dari sudut lingkungan dan perkembangna siswa, SMA Negeri 1 Surakarta mempunyai keadaan dan potensi sekolah yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut ditunjukkan dengan letak SMA Negeri 1 Surakarta yang strategis, fasilitas di ruang kelas yang memadai, tata letak bangunan sekolah yang baik dan didukung beberapa fasilitas sekolah yang tersedia.
b. Efektivitas Pelaksanaan Program Pengajaran Mata Pelajaran Ekonomi
Pelaksanaan program pengajaran merupakan bagian dari pelaksanaan kurikulum tingkat kelas, sebelum melaksanakan pengajaran tugas utama guru kaitannya dengan dokumen kurikulum adalah membuat rencana pelaksanaan
commit to user
pembelajaran yang akan dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik. Oleh karena itu, dalam kondisi dan situasi apapun guru harus membuat RPP, karena perencanaan merupakan pedoman pengajaran. Berdasarkan hasil penelitian di SMA Negeri 1 Surakarta guru merupakan bagian terpenting dalam pelaksanaan kurikulum tingkat kelas, namun para guru mata pelajaran ekonomi tidak perpartisipasi secara maksimal dalam pelaksanaan kurikulum tingkat kelas. Hal tersebut terbukti dari para guru tidak membuat RPP berdasarkan karakteristik peserta didik, pembuatan RPP dilakukan berdasarkan pembagian materi pelajaran pada masing-masing guru. Pembuatan RPP digunakan sebagai pemenuhan administrasi sekolah saja yang berakibat pembelajaran di kelas berjalan monoton dan kurang bervariasi (Lihat Field note no. 53).
Pelaksanaan pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Surakarta dibagi menjadi dua yaitu pelajaran ekonomi dan akuntansi, bagi kelas dua dan tiga mendapat pelajaran ekonomi dan akuntansi, sedangkan kelas satu hanya mendapat beban belajar ekonomi saja. Berdasarkan kesepakatan bersama pelajaran ekonomi dan akuntansi dilaksanakan mulai semester pertama hingga semerter kedua pada kelas dua dan tiga. Pelaksanan tersebut merupakan perubahan dari ketentuan awal yang berupa pelajaran ekonomi dilaksanakan di semester satu dan akuntansi di semester dua bagi kelas dua dan tiga (Lihat Field Note No. 17). Sehingga guru memiliki waktu yang lebih dari sekedar cukup untuk menyampaikan beban materi kepada siswa dengan menggunakan media dan metode pembelajaran yang bervariasi, karena guru diberikan kewenangan dalam mengembangkan RPP dengan mengkolaborasikan ide-ide baru. Ini dapat dilihat dari pernyataan guru ekonomi sebagai berikut:
“Kalau sebaiknya metodenya kan anak suka yang aktif. Itukan langsung pengamatan langsung aja, ndak itu kalau saya lho ya ,kan istilahnya bisa personal terus pendekatan perseorangan…, anak-anak yang aktif, mereka mencari, anak-anak mencari di internet hanya pokok-pokonya kemudian dipresentasikan” (Lihat Field Note No. 8). Pelaksanaan di lapangan menunjukkan fenomena yang berbeda dari harapan yang telah ditetapkan, sebagian besar guru ekonomi mengajar dengan
commit to user
menggunakan metode tradisional (konvensional). Hal ini berdasarkan pada informasi yang diperoleh dari siswa yang menyatakan
“Siswa lebih banyak mengerjakan soal di buku, trus dikumpulkan dinilai dan diparaf atau ditandatangani …, Biasanya ngantuk, lha cara ngajarnya tradisional jadi cepet bosan …, Gurunya ceramah, sama saja dengan yang di LKS. Yang guru gunakan hanya papan tulis dan Boardmarker aja …” (Lihat Field Note No. 26).
Fenomena tersebut berbeda dengan pernyataan guru, yang menyatakan bahwa “…untuk ekonomi waktunya cukup, bahkan bisa untuk menggunakan bermacam-macam model…” (Lihat Field Note No. 17) dan diperkuat dengan Field Note No. 18 yang menyatakan “…sebelum pelajaran berakhir guru merangkum kembali yang sudah dipelajari tetapi apabila dalam proses presentasi antar siswa yang menjelaskan ntar kalau siswa tidak bisa menjelaskan baru kemudian guru yang menjelaskan…”. Selain metode, penggunaan media dalam pembelajaran ekonomi kurang bervariasi, sebagian besar guru hanya melakukan pembelajaran dengan menggunkan papan tulis dan ceramah, hal ini sesuai dengan pernyataan para siswa yang menyatakan “….Tidak pernah menggunakan, gurunya hanya menggunkan papan tulis saja mba….Gurunya agak gaptek mba….”(Lihat Field Note No. 25). Fenomena tersebut sesuai dengan pernyataan guru ekonomi yang memaparkan bahwa dirinya tidak pernah menggunakan media yang bervariasi dalam pembelajaran dan hanya sedikit guru yang menggunakan media pembelajaran yang bervariasi, hal ini sesuai dengan pernyataan guru ekonomi “Saya tidak pernah pakai... ya tidak saja, ya seperti tadi bisa diamati langsung…” (Lihat Field Note No. 12). Dan guru tidak menggunakan fasilitas yang disediakan sekolah secara maksimal, padahal sekolah menyediakan fasilitas pokok yang memadai (Lihat Field Note No. 7 dan 52)
Berdasarkan uraian di atas mengakibatkan berbagai respon sikap dari para siswa, respon tersebut antara lain: terdapat siswa yang mengantuk atau tidur, bercakap-cakap dengan teman, mengerjakan soal, malas memperhatikan pelajaran, menyepelekan guru ketika mengajar, dan hanya sebagian kecil siswa yang memperhatikan ketika guru mengajar dikelas (Lihat Field Note
commit to user
No. 29). Selain hal tersebut terdapat sebagian kecil siswa yang meninggalkan pelajaran ekonomi ketika pelajaran sedang berlangsung di dalam kelas. Ini sesuai dengan pernyataan siswa yang menyatakan bahwa ““Ada mba, ada beberapa anak…., Ada yang ninggalin kelas biasanya maksimal 5 anak mba…., Beliau terkadang disepelekan….” (Lihat Field Note No. 30). Dampak dari pelaksanaan pembelajaran tersebut adalah banyak siswa yang kurang paham terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru, hal tersebut di sebabkan metode mengajar guru yang kurang mengandung unsur PAIKEM. Ini dapat dilihat dari pernyataan siswa sebagai berikut:
“Tidak, Karena siswanya hanya gojeg dan cerita, untuk
memperhatikan jadi males, gurunya menjelaskan yang tidak sesuai dengan materi. Sebenarnya kalau benar-benar memperhatikan ya paham, tapi karena ada faktor ngantuk jadi bosan jadi malas untuk memperhatikan bu guru. Jadinya ya tidak tahu….” (Lihat Field Note No. 28)
Penilaian merupakan bagian dalam pelaksanaan kurikulum, setelah siswa mengalami proses pembelajaran maka penilaian dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Berdasarkan hasil penelitian, penilaian yang dilakukan guru mata pelajaran ekonomi sebagian besar sangat bervariasi, setiap guru memiliki cara penilaian masing-masing untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. Penilaian tersebut antara lain dilakukan dengan cara: memberikan ulangan, tugas kelompok dan individu, presentasi, mengerjakan LKS, kuis, debat, ulangan tengah semester dan ulangan semesteran. Selain itu penilain dilakukan sesuai dengan materi yang telah diajarkan, secara berkelanjutan dan bentuk tagihan mudah dipahami oleh siswa (Lihat Field Note No. 13 dan 34). Hasil dari penilain berupa nilai yang berhak siswa ketahui, diantara lima guru ekonomi tidak semua guru transparan terhadap nilai siswa, terdapat guru yang tidak memberitahukan nilai kepada peserta didiknya (Lihat Field Note No. 36), seharusnya semua guru harus transparan terhadap hasil pembelajaran yang dilakukan oleh siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi pada diri siswa. Seperti pernytaan dari guru akuntansi “Emang diharuskan, jadi kalau ada
commit to user
ulangan atau tugas harus dikembalikan ke siswa bila sudah dikoreksi” (Lihat Field Note No. 21)
Hasil penilaian dapat dijadikan pedoman guru dalam melaksanakan program pengayaan dan program perbaikan. Program pengayaan ekonomi dilakukan dengan membentuk tim lomba mata pelajaran ekonomi, sedangkan program perbaikan dilakukan dengan cara memberikan remidi kepada siswa yang belum mamapu memenuhi KKM ekonomi di SMA Negeri 1 Surakarta. Ini sesuai dengan pernyataan para guru ekonomi, siswa dan Wakasek Kurikulum sebagai berikut:
“Kalau ada yang dibawah KKM biasanya gurunya memberi motivasi biar besok semangat lagi diperbaiki. Biasanya remidinya dalam bentuk tugas saja…, Ada mba, ada tim akuntansi yang kenggotaanya diambil dari XII IS 1-3 ada 5 anak…, Ada, jadi misalkan untuk SMA untuk kompetensi dasar tertentu diajarkan, setelah diajarkan diadakan evaluasi, kalau nilanya belum memenuhi KKM diadakan remidi…., Sedangkan untuk tambahan-tambahan yang lain kita juga berikan pada anak-anak yang berpotensi. (Lihat Field Note No. 22, 35, 37, dan 47). Pelayanan yang diberikan guru kepada siswa, merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam proses belajar mengajar, berdasarkan hasil
penelitian di SMA Negeri 1 Surakarta para guru ekonomi bersikap sosio
culture terhadap para siswa, hal tersebut nampak dari para guru yang tidak membedakan karakteristik siswa dari status sosial, guru sering memberikan motivasi kepada siswa agar rajin dalam belajar, guru memiliki semangat dalam bekerja, dan guru bersedia memberikan penjelasan kepada siswa yang belum paham terhadap sebuah materi. Ini dapat dilihat dari pernyataan beberapa siswa yang menyatakan bahwa:
“Kalau murid gaduh biasanya saya tunjuk maju…, Kalau sudah selesai pelajaran sekitar sepuluh menit sebelum pelajaran berakhir guru merangkum kembali yang sudah dipelajari…, Memperlakukan murid dengan sama tidak membeda-bedakan dari satatus social, kepinteran, Cuma kalau ada murid yang rame sering dipehatikan karena guru menjelaskan…, Kalau motivasi hampir setipa guru memberi walupun intensitasnya sedikit atau banyak, ya memberi motivasilah…, Gurunya sering masuk belum pernah kosong…, Datangnya normal kurang lebih 5 menit setelah bel gurunya sudah masuk….” (Lihat Field Note No. 18, 31, 32, dan 33).
commit to user
Berdasarkan pada gambaran tersebut pada dasarnya pelaksanaan proses belajar mengajar mata pelajaran ekonomi belum efektif, sedangkan pelaksanaan penilaian, sikap guru dan tindak lanjut sudah baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan guru belum membuat RPP sesuai dengan karakteristik peserta didik, metode mengajar yang konvensional, media pemebelajara yang belum memadai sehingga proses belajar mengajar kurang kondusif dan monoton yang berakibat terjadi aktivitas siswa diluar materi yang diajarkan oleh guru. Sedangkan penilain, sikap guru dan tindak lanjut ditunjukkan dengan bentuk dan jenis tagihan guru yang bervariasi, berkelanjutan, penilaian sesuai dengan materi yang diajarkan dan mudah dipahami oleh siswa. Dari penilain tersebut apabila terdapat siswa yang belum memenuhi KKM maka siswa akan mendapatkan program perbaikan dari guru berupa remidi, dan apabila siswa memiliki kompetensi lebih maka akan diseleksi untuk mengikuti program pengayaan sekolah. Sedangkan sikap guru yang baik ditunjukkan
dengan sikap sosio culture yang tidak membeda-bedakan karakteristik siswa,
sering memberikan motivsi, dan memiliki semasssngat bekerja.
3. Hambatan dan Pemecahan Masalah Pelaksanaan Kurikulum dan Program
Pengajaran Mata Pelajaran Ekonomi SMA Negeri 1 Surakarta
a. Hambatan dan Pemecahan Masalah Pelaksanaan Kurikulum Mata Pelajaran
Ekonomi
Hambatan dalam pelaksanaan KTSP adalah adanya kebingunan yang dialami oleh sebagian besar guru ekonomi pada saat diberlakukan KTSP, kebingungan tersebut antara lain dalam menentukan KKM, cara membuat RPP dan tentang penyediaan dan penggunaan media pembelajaran. Sementara itu terdapat berbagai macam tuntutan yang harus dipenuhi oleh guru. Ini dapat dilihat dari pernyataan guru dan Wakasek kurikulum sebagai berikut:
“Sudah lebih baik sekarang dari pada dulu, awal bingung, tuntutan macam-macam…, Pada awal ya maklum ya, dari pengenalan yang baru, pihak yang menjalankan aturan yang ada di KTSP kurang begitu dipahami oleh guru, contohnya bagaimana cara menentukan KKM, bagaimanan cara membuat RPP, bagimana membuat, menyiapkan
commit to user
media pembelajaran sekaligus penggunaannya…” (Lihat Field Note No. 3 dan 41).
Namun hambatan tersebut dapat diatasi dengan diadakan sosialisasi baik berupa seminar, workshop di sekolah, penataran di tingkat propinsi dan ditingkat kota, serta dengan diadakannya pertemuan-pertemuan guru dalam MGMP, hal ini berdasarkan pada pernyataan dari Wakasek kurikulum yang menyatakan bahwa “Langkahnya ada beberapa adanya sosialisasi ada dari sekolah adanya seminar atau workshop di sekolahan, adanya workshop…, ada penataran di tingkat propinsi, penataran dikota guru-guru dikirim kesana dan tidak kalahnya masing-masing MGMP berusaha untuk meningkatkan kualitas” (Lihat Field Note No. 45).
Kendala lain dalam pelaksanaan KTSP adalah bertambahnya beban guru dari segi administrasi yaitu tugas guru dalam penyusunan silabus, penjabaran dalam bentuk RPP dan tugas guru untuk mencari materi kompetensi yang belum lengkap.
Berdasarkan pada gambaran tersebut pada dasarnya hambatan pelaksanaan kurikulum dapat diatasi, hal tersebut ditunjukkan dengan adanya sosialisasi KTSP kepada guru maka guru semakin paham dan mengalami kejelasan tentang pelaksanaan KTSP. Pada akhirnya guru mengalami kemudahan dalam pembuatan perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, dan menentukan KKM siswa.
b. Hambatan dan Pemecahan Masalah Pelaksanaan Program Pengajaran Mata
Pelajaran Ekonomi
Implementasi KTSP di SMA Negeri 1 Surakarta sudah dilaksanakan