BAB V MODAL SOSIAL MENGALAMI DESRUSPSI
5.1.2. Desrupsi Nilai dan Norma
Ekonomi masyarakat juga terganggu akibat tidak dapat menanam tanaman yang menjadi sumber kehidupan mereka. Sisi positifnya, mereka mempercayai bahwa kejadian letusan Gunung Sinabung ini memiliki hal positif, yaitu tanah
akan subur setelah disiram oleh debu vulkanik yang memberikan dampak kesuburan bagi tanah mereka.
“...Sewaktu dipengungsian untuk hal-hal sosial masih kurang karena masalah utama kami adalah ekonomi keluarga. Contohnya, ada orang meninggal, pesta adat, perkawinan, yang melahirkan semua dikunjungi. Kalau yang sakit dikunjungi semua. Selain itu tempat
tinggal kami juga berjauhan yang sesama desa kami...”
(Wawancara Nasanto Sitepu) Hal ini juga dikatakan oleh:
“...Dulu sebelum erupsi Gunung Sinabung rasa kekeluargaan di desa lama masih sangat erat, masih saling mengerti, saling menghargai.
Kalau ada tetangga yang kesusahan di Desa Bekerah dahulu, tetangga itu kayak keluarga sendiri. Kalau disini sudah seperti orang lain, sudah tidak ada rasa peduli sama sekali antara yang satu dengan yang lain, sudah acuh tak acuh. Kalau sekarang hanya di jambur saja untuk bertemu itupun karena ada adat-istiadat. Sudah tak ada lagi rasa saling segan...”(Wawancara yuni)
Selain dari itu, dampak positif lainnya bahwa dibalik dari letusan ini menciptakan rasa gotong royong, sepenanggungan dan saling menolong ketika melihat sesamanya sedang mengalami kesusahan. Sikap ini berimbas pada sikap saling memiliki yang menjadikan ciri khas dan budaya Suku Karo.
“...Secara normatif tidak banyak perubahan budaya Karo dari dahulu dan sekarang masih seperti itu. Namun ada beberapa pergeseran-pergeseran kalau tidak segera dipulihkan itu sudah menjadi tradisi baru. Misalnya kebiasaan mereka dulu menyelesaikan masalah dengan musyawarah/runggu bisa hilang karena sejak awal mereka mengungsi sampai dengan sekarang kebanyakan dengan menerima bantuan. Ada masalah sedikit selalu minta dengan pemerintah karena mereka selalu merasa sebagai korban lalu selesai dengan bantuan. Kemampuan mereka untuk memunculkan kemampuan/modal sosial itu, sebenarnya modal sosial di masyarakat ada tapi tidak mereka lakukan, sisi lain pihak-pihak diluar merekapun tidak mendorong itu secara maksimal.
Pada hal di tanah Karo itu ada prinsip sosial yang dianut mereka kekerabatan marga itu 10 orang menanggung 1, misalnya 10 marga ginting menanggung 1 marga ginting. Kalau prinsip ini digunakan maka seluruh pengungsi dapat teratasi. Kalau ada orang yang karikatif melakukan pendampingan secara intens menolong yang terkena
bencana semangat itu selalu ada. Akhirnya masyarakat yang mengungsi ini manja dengan bantuan, kalau terlambat mereka protes, kemudian air macet mereka protes, rusak sedikit fasilitas mereka protes. Apa hal hal itu bisa dilakukan oleh masyarakat, sehingga itu akan terbawa ke lokasi yang baru/siosar. Pada prinsipnya kalau tidak
ada bantuan maka masalah yang dihadapi akan terselesaikan...”
(Wawancara Thoib) 5.1.3 Desrupsi Jaringan Sosial
Bantuan yang diberikan juga mengalami kendala saat di posko pengungsian, baik bantuan dari pemerintah maupun pihak swasta. Bantuan-bantuan yang diberikan kepada pengungsi dapat memecah belah masyarakat sehinga mengalami pergesekan. Karena masyarakat memiliki pertanyaan kenapa dia dapat saya tidak dapat karena sama-sama pengungsi. Akhirnya kebutuhan dasar dipenuhi oleh pemerintah, namun kemudian bantuan-bantuan yang datang ini tidak terkoordinir dan secara tidak langsung mengalami gesekan sosial dalam
“Manja”, hasilnya dan dampaknya masih ada sampai sekarang.
Bantuan yang diberikan badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) dianggap masyarakat kurang efektif bagi kelangsungan hidup sehari-hari, sebelum mereka menepati rumah di Hunian Tetap Siosar diposko pengungsian sebelumnya para warga mendapat bantuan sebesar Rp. 1,8 juta per 6 bulan. Kemudian 2 juta untuk sewa lahan selama setahun, serta bantuan 5 ribu per hari untuk jaminan hidup tiap orang. Bantuan dana sejumlah itu, sejumlah pengugsi mengaku sulit untuk mendapatkan rumah apalagi mendapatkan lahan pertanian.
“...Disaat pengungsian itu kami menderita sangat menderita sekali, istilahnya kalau makanan itu-itu saja dari pemerintah (seperti mie instant). Sedangkan kami dahulu nggak pernah makan mie instant.
Gizi mie isntant itu apalah...” (Wawancara yuni)
Peneliti melihat beberapa hal pemberlajaran saat masyarakat berada di posko pengungsian yaitu:
1. Kapasitas badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Kab Karo juga belum bisa diandalkan.
2. Semua bantuan tidak dapat dikoordinir dengan baik
3. Adanya posko pengungsian yang resmi atau tidak resmi membuat muncul rasa simpati orang yang mengantarkan bantuan. Sehingga banyak pengungsi yang tetap bertahan diposkonya
4. Keterlibatan masyarakat untuk pembersihan lingkungan selama di posko pengungsian sangat kurang. Sehingga pemerintah memberlakukan bayar jasa kepada masyarakat untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka. Sehingga terjadi konflik horizontal sesama pengungsi.
5. Ketika ada keputusan pemerintah kepada pengungsi tentang sewa rumah lahan yang akan digunakan. Karena sewa yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat.
6. Pemberdayaan masyarakatnya yang tidak terjadi ketika mulai proses perpindahan dari posko pengungsian ke relokasi Siosar masyarakat tidak dilibatkan
5.2. Kondisi di Relokasi Siosar
Bencana meletusnya gunung berapi seringkali diikuti dengan kerusakan yang terjadi pada daerah sekeliling gunung api tersebuit. Salah satunya adalah pemukiman dan perkebunan warga yang ada di sekitar gunung. Kerusakan ini sering kali sangat parah sehingga wilayah ini tidak dapat lagi dihuni. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah pemukiman relokasi untuk warga. Seperti yang terjadi pada
pemukiman di sekitar Gunung Sinabung. Maka ditetapkan sebuah area lokasi di sebuah daerah relokasi Siosar.
5.2.1 Kriteria Permukiman Baru Menurut Masyarakat
Masyarakat Desa Suka Meriah sangat mengharapkan agar pada saat direlokasi, mereka tidak hanya diberi rumah untuk tempat tinggal tetapi juga diberikan lahan pertanian dimana nantinya akan dijadikan sebagai lapangan pekerjaan utama mereka mengingat masyarakat Desa Suka Meriah notabene merupakan petani. Masyarakat Desa Suka Meriah merasa tidak akan ada gunanya apabila hanya diberikan rumah tanpa lahan pertanian karena tidak akan adanya lapangan pekerjaan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari mereka.
Masyarakat Desa Suka Meriah secara umum tidak memiliki permintaan khusus terhadap pembangunan permukiman baru tersebut, mereka menerima bagaimanapun jenis dan bentuk perumahan yang akan diberikan kepada mereka. Tidak ada kriteria permukiman secara signifikan yang dituntut oleh masyarakat Desa Suka Meriah yang artinya segala bentuk maupun jenis permukiman yang ditawarkan oleh pemerintah diterima dengan baik oleh masyarakat Desa Suka Meriah. Namun penekanan selalu pada permintaan terhadap lahan pertanian, bilamana mereka merasa tidak ada gunanya apabila mereka hanya diberi rumah tanpa lahan pertanian, karena sebagian besar mereka tumbuh dan hidup dari pertanian. Seperti yang dikatakan oleh Beren Sitepu, salah satu masyarakat Desa Suka Meriah “Kami tidak mau pindah kalau tidak diberi ladang”
Secara umum masyarakat Desa Suka Meriah sangat ingin sekali agar relokasi tersebut dapat segera terealisasi dan mereka dapat dengan segera dipindahkan ke Kawasan Siosar. Pada saat ini masyarakat yang akan direlokasi terkhusus masyarakat Desa Suka Meriah tidak lagi berada di lokasi pengungsian yang tersebar di beberapa titik di Kabupaten Karo, melainkan sudah menentukan tempat tinggalnya sendiri secara mandiri (sekitar 96 KK sudah pindah ke Kawasan Siosar pada Januari 2016). Pemerintah telah memberikan dana bantuan kepada para pengungsi agar mereka dapat melanjutkan hidup dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari walaupun tidak berada di lokasi pengungsian lagi.
5.3. Kondisi Lokasi Tujuan Relokasi Permukiman
Relokasi merupakan proses pembangunan yang tepat untuk bencana sinabung dengan harapan mampu mengatasi permasalahan daerah yang terkena bencana. Dalam proses pembangunan tersebut tentu beberapa strategi disiapkan untuk membangun bukan hanya infrastruktur tapi yang lebih penting ialah sumber daya manusia. Karena relokasi merupakan proses memindahkan segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar masyarakat. Jadi bisa diketahui bahwa hal tersebut pasti membutuhkan waktu untuk kemudian kehidupan masyarakat setelah direlokasi berjalan dengan normal.
5.3.1. Kondisi Fisik
Luas total seluruh permukiman yang akan direlokasi ditargetkan sekitar 250 Ha. Permukiman yang akan direlokasi merupakan permukiman yang berasal dari beberapa desa yang meliputi : Desa Suka Meriah, Desa Bekerah, Desa Simacem, Desa Gurukinayan, Desa Kutatonggal, Desa Berastepu dan Desa Gamber. Kemudian untuk luas total pertanian yang akan diberikan kepada
masyarakat yang akan direlokasi ke siosar dan yang telah disetejui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia adalah sekitar 416 Ha. Namun, Pemerintah Kabupaten Karo masih mengusahakan untuk meminta izin agar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dapat memberikan lahan sekitar 700 Ha lagi untuk lahan pertanian.
Jumlah rumah yang akan dibangun di lokasi relokasi permukiman baru disesuaikan dengan jumlah kepala keluarga ( KK) per desa. Desa Suka Meriah memiliki 128 jumlah kepala keluarga ( KK) yang berarti akan memiliki 128 unit rumah di lokasi permukiman baru. Begitu juga dengan Desa Simacem dan Desa Bekerah masing-masing memiliki 130 dan 112 jumlah kepala keluarga ( KK) yang berarti akan memiliki 130 dan 112 jumlah unit rumah di lokasi permukiman baru. Pada saat observasi lapangan dilakukan, rumah yang telah selesai dibangun berjumlah 103 unit yang diperuntukkan untuk Desa Bekerah.
Selanjutnya penomoran terhadap rumah yang telah terbangun sudah dilakukan, sehingga nantinya akan mempermudah dalam pembagian rumah kepada masing- masing individu masyarakat yang akan direlokasi. Kemudian sampai saat ini proses pembangunan permukiman tersebut masih terus berjalan hingga Desa Bekerah, Desa Simacem dan Desa Suka Meriah yang termasuk dalam pembangunan tahap I dapat selesai. Pembangunan ketiga desa tersebut yang termasuk pembangunan tahap I akan ditargetkan selesai pada Juli tahun 2015 ini. Maka dari itu saat ini Tentara Nasional Indonesia masih terus berjuang keras guna mempercepat penyelesaian pembangunan tahap I ini agar masyarakat dapat dengan segera direlokasi dan juga akan mempercepat pembangunan permukiman baru tahap II dengan segera.
Jenis rumah yang dibangun pada permukiman baru tersebut adalah rumah tipe 36. Rumah ini memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Jika ditinjau dari segi kekurangannya, rumah ini memiliki ruang yang tidak terlalu luas dan sangat terbatas. Rumah ini terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan juga hanya memiliki satu ruang utama yang digunakan untuk berbagai kegiatan.
Rata- rata dalam satu keluarga berjumlah 4-5 orang, dengan keadaan rumah seperti itu tentunya sangat membatasi ruang gerak dari keluarga tersebut.
Mayoritas masyarakat Desa Suka Meriah merupakan petani. Jenis-jenis tanaman mereka meliputi jagung, kopi, cengkeh, kentang, cabai, bawang maupun tomat. Oleh karena itu setidaknya masyarakat tersebut memerlukan ruang yang cukup luas untuk menyimpan hasil tanaman mereka untuk nantinya akan dipasarkan keluar Area taman atau area hijau pun terbatas sehingga tidak memaksimalkan estetika untuk keindahan rumah. Rumah bertipe 36 tersebut dapat dilihat berikut ini:
Gambar 5. Rumah bantuan kepada masyarakat Siosar tipe 36
Jika dilihat dari konstruksi bangunannya, rumah yang telah di bangun di Kawasan Siosar ini merupakan rumah yang tergolong permanen. Dapat dilihat dari rumah yang telah dibangun memiliki pondasi. Kemudian rumah di Kawasan Siosar tersebut memiliki atap rumah yang berbahan dasar seng. Pemilihan atap rumah sangat berpengaruh pada kenyamanan masyarakat yang akan menjalani aktivitas sehari-hari di dalam rumah. Dinding rumah sudah berbahan dasar batu bata dan semen sehingga sudah kelihatan bahwa bangunan ini bersifat permanen.
Lantai rumah memiliki bahan dasar yang berupa beton dan semen. Lantai adalah bagian dasar sebuah ruang yang memiliki peran penting untuk memperkuat eksistensi obyek yang berada di dalam ruang. Sanitasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan. Beberapa komponen dalam sanitasi dapat berupa penyediaan air bersih, sistem drainase, persampahan dan juga mandi cuci kakus (MCK).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.416 Tahun 1990 dan Keputusan Menteri Kesehatan No.907 Tahun 2002 air bersih yang digunakan selain harus mencukupi dalam arti kuantitas untuk kehidupan sehari-hari juga harus memenuhi persyaratan kualitas fisik, kimia, mikrobiologi dan radioaktif.
Sumber air bersih yang digunakan pada permukiman baru ini didapatkan langsung dari mata air pegunungan. Air dari mata air pegunungan ditampung dalam suatu bangunan penangkap air. Dari bangunan penangkap air tersebut dibuat pipa-pipa yang terhubung langsung ke tiap-tiap rumah masyarakat. Air tersebut dapat langsung tersalurkan ke masing-masing rumah sehingga kebutuhan masyarakat akan air bersih dapat terpenuhi. mandi cuci kakus (MCK) pada permukiman baru ini sudah terdapat disetiap unit rumah dengan ukuran sekitar
1,5 m x 2 m. Kebersihan mandi cuci kakus (MCK) yang berada di setiap rumah tersebut nantinya akan dipengaruhi oleh masing- masing individu pemilik rumah.
Pada kegiatan pembangunan ini saluran drainase yang dibangun berupa selokan.
Drainase dibangun untuk mengurangi kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Kemudian drainase berfungsi dalam menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal dan juga mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada. Hanya saja pada saat observasi lapangan, saluran drainasenya belum terbangun secara sempurna karena masih dalam tahap proses pembangunan. Pada saat observasi lapangan, tempat pembuangan sampah belum dibangun tetapi rencananya tempat pembuangan sampah tersebut pasti akan dibangun. Hal ini sangat penting agar tingkat sanitasi pada permukiman ini tinggi, sehingga kebersihan dan kesehatan pada lingkungan permukiman ini terjaga.
Untuk saat ini, listrik sudah tersedia di dalam permukiman baru tersebut.
Energi listrik merupakan salah satu faktor pendukung penting bagi kehidupan manusia karena banyak sekali peralatan yang dapat digunakan sebagai penunjang kegiatan kehidupan manusia sehari- hari dengan listrik. Listrik yang berada di permukiman baru tersebut bersumber langsung dari perusahan listrik negara (PLN).
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga akan memberikan sumbangan berupa Lentera pada lokasi relokasi ini yakni bantuan berupa program lampu hemat energi. Jalan sangat berpengaruh pada tingkat mobilitas manusia di dalam kehidupan sehari- hari. Misalnya saja kegiatan relokasi tersebut tidak akan berjalan sejauh ini apabila tidak adanya jalan yang terhubung langsung ke lokasi
tujuan relokasi permukiman. Maka dari itu pembangunan yang pertama dilakukan pada kawasan siosar ini adalah pembukaan lahan untuk pembangunan jalan. Jalan ini memiliki lebar sekitar 12 meter Jalan yang telah dibangun di area permukiman baru ini masih dalam tahap pengerasan pada saat observasi lapangan dilakukan. Rencana selanjutnya bahwa jalan tersebut akan segera diaspal, walaupun untuk sementara jalan tersebut belum diaspal setidaknya kendaraan roda dua maupun roda empat sudah dapat mengakses jalan ini hingga sampai ke lokasi tujuan relokasi.
5.3.2. Kondisi Ekonomi
Dalam kasus ini, status kepemilikan lahan rumah yang baru bagi masyarakat yang akan direlokasi adalah hak milik. Hak milik adalah hak turun- temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah dimana semua hak atas tanah memiliki fungsi sosial. Hak milik sebagai hak terkuat berarti hak tersebut tidak mudah terhapus dan mudah dipertahankan terhadap gangguan dari pihak lain. Terpenuh berarti hak milik memberikan wewenang yang paling luas dibandingkan dengan hak- hak lain. Dalam hal ini pemerintah memberikan sertifikat kepada masyarakat yang merupakan tanda atau keterangan tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang sebagai bukti kepemilikan.
Kemudian rencananya setiap kepala keluarga (KK) akan diberikan lahan pertanian seluas 0,5 Ha. Status kepemilikan lahan pertanian yang akan diberikan kepada masyarakat yang akan direlokasi tersebut adalah sistem pinjam pakai. Hal ini berarti hak yang digunakan masyarakat dalam mengelola lahan pertanian yang diberikan tersebut adalah hak pakai. Menurut Pemerintah Kabupaten Karo,
rencananya sistem pinjam pakai ini ditargetkan mencapai 20 tahun lamanya, setelah itu akan dilakukan kajian ulang terhadap kebijakannya.
5.3.3. Kondisi Sosial
Rencananya di Kawasan Siosar ini juga akan dibangun fasilitas umum dan sosial yang meliputi: sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), Gereja, Mesjid, Puskesmas, maupun balai desa.
Hal ini bertujuan untuk melengkapi kebutuhan dasar pada masyarakat,dengan lengkapnya berbagai fasilitas yang terbangun di lokasi ini diharapkan masyarakat merasa lebih nyaman untuk dapat tinggal di lokasi ini. Secara keseluruhan pembangunan permukiman baru di Kawasan Siosar ini belum terbangun secara sempurna karena pada saat observasi lapangan pembangunan ini masih dalam tahap proses.
5.3.4. Kondisi Budaya Karo
Prinsip kebersamaan pada orang karo adalah merupakan kekuatan spiritual yang mengatur kehidupan bermasyarakat dan sosial orang karo. Maka tidak heran prinsip kebersamaan ini masih dipertahankan dalam hubungan kekerabatan orang karo. Sikap empati dan toleransi menjadi wujud nyata dari prinsip nilai kebersamaan. Masyarakat karo dalam budaya karo dipahami sebagai masyarakat yang berjiwa prososial, menjaga dan memelihara kebersamaan dengan sikap saling mengerti, menghargai, toleransi dan berempati pada orang lain. Munculnya dapur umum dan berfungsinya kelompok sosial yang ada di lingkungan seperti karang taruna, dan persatuan/organisasi masyarakat perantauan yang ikut bersama-sama membantu secara materil maupun moril pada masyarakat yang menjadi penyintas bencana. Dukungan nyata tersebut terlihat sangat memengaruhi
sikap dan perilaku penyintas sehingga menimbulkan keyakinan dan kekuatan pada diri mereka untuk mengendalikan lingkungan terutama pasca trauma kejadian.
Hal-hal yang dapat terjadinya desrupsi di relokasi Siosar dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 5. Desrupsi modal sosial pada masyarakat di relokasi Siosar
Faktor Desrupsi Modal Sosial
a.Kriteria
Permukiman Baru Menurut
Masyarakat
Dengan berdekatan rumah masyarakat antara yang satu dengan yang lain dapat mengakibatkan kecemburuan sosial karena tidak semua masyarakat yang akan dilibatkan setiap program baik yang dilakukan pemerintah ataupun pihak lembaga lain.
b.Kondisi Sosial Karena masing-masing keluarga tidak kompak dalam keterlibatan setiap kegiatan di desa. Setiap keluarga masing terdapat ketergantungan bantuan baik dari pemerintah maupun pihak swasta. Karena mereka masih merasa sebagai pengungsi korban erupsi sinabung.
Sumber:Diolah oleh Peneliti
BAB VI
PROGRAM REHABILITASI OLEH PEMERINTAH
DAN LEMBAGA NON PEMERINTAH DI WILAYAH RELOKASI SIOSAR
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana.
Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan: perbaikan lingkungan daerah bencana, perbaikan prasarana dan sarana umum, pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat, pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan, rekonsiliasi dan resolusi konflik, pemulihan sosial ekonomi budaya, pemulihan keamanan dan ketertiban, pemulihan fungsi pemerintahan, dan pemulihan fungsi pelayanan publik.
Perencanaan rehabilitasi dapat dilakukan kepada hunian tetap, pemukiman penduduk. Status kesehatan fisik dan psikis korban juga harus diperhatikan selama fase recovery pasca bencana. Pembangunan yang baik haruslah bertahap serta terintegrasi. Kesuksesan tidak hanya disebabkan formulasi kebijakan yang tepat, tetapi juga disebabkan karena perencanaan yang baik dan matang.
Perencanaan yang baik akan menghasilkan pembangunan yang optimal.
Partisipasi warga masyarakat dalam rehabilitasi dan rekontruksi akan mempengaruhi keberhasilan dalam program rehabilitasi dan rekontruksi seperti rehabilitasi yang melibatkan masyarakat dan stakeholder terkait dalam rehabilitasi dan rekontruksi daerah. Penanggulangan bencana berbasis komunitas merupakan suatu upaya untuk mengkolaborasikan penanggulangan bencana sebagai upaya
bersama antara masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), swasta dan Pemerintah pada saat pra bencana, bencana dan pasca bencana.
6.1. Peran Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana Gunung Sinabung Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan setelah mendapatkan instruksi langsung dari Presiden Republik Indonesia pada kunjungan kerjanya ke pengungsian Gunung Sinabung di Kabanjahe pada tanggal 29 Oktober 2014, mempercepat ijin pinjam pakai lokasi dari Kawasan Hutan Sibuatan Utara pada Kawasan Siosar, register 3/K Kabupaten Karo Sumatera Utara seluas sekitar 458 hektar menjadi kawasan relokasi bagi pengungsi Sinabung yang saat ini masih mencapai 3.284 jiwa atau 1.018 kepala keluarga (KK) yang berada di 12 titik pengungsian.
Kunjungan kerja Presiden Jokowi ke pengungsi Sinabung tersebut mengeluarkan empat intruksi yakni: (1). Memerintahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar segera mempercepat ijin pinjam pakai lahan relokasi seluas 458 hektar di Kacinambun Puncak 2000 dan akses jalan menuju lokasi hunian relokasi sepanjang 3,8 km dan lebar 12 meter. Surat ijin harus selesai dalam 2 hari; (2). Pemkab Karo segera mempercepat pembangunan jalan menuju lokasi relokasi sepanjang 3,8 km dan lebar 12 meter dengan melibatkan pasukan Zeni Tentara Nasional Indonesia (TNI); (3). Untuk mengantisipasi ancaman Erupsi Gunung Sinabung.
Menurut Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Erupsi Sinabung Tahun 2010-2015, kerusakan yang diakibatkan oleh erupsi berdampak pada sektor permukiman, infrastruktur, telekomunikasi, listrik, dan energi
serta air bersih. Di sektor permukiman, erupsi Gunung Sinabung telah mengubur sejumlah dusun di Kabupaten Karo dan mengakibatkan ribuan rumah kepala keluarga dalam kondisi yang rawan. Tercatat 28.112 kepala keluarga (KK) mengungsi dengan jumlah desa yang dalam kondisi rawan sebanyak 75 Desa.
serta air bersih. Di sektor permukiman, erupsi Gunung Sinabung telah mengubur sejumlah dusun di Kabupaten Karo dan mengakibatkan ribuan rumah kepala keluarga dalam kondisi yang rawan. Tercatat 28.112 kepala keluarga (KK) mengungsi dengan jumlah desa yang dalam kondisi rawan sebanyak 75 Desa.